Anda di halaman 1dari 11

Sistem Mekanisme Dasar Penyakit Kelas Reguler TUGAS KELOMPOK PATOMEKANISME VIRUS DENGUE

KELOMPOK A-8 Albert Lyono (C111 11 005) Hajratul Aswad (C111 11 023) Muh. Fudail (C111 11 122) Raymond Liem (C111 11 166) Hara Tri Yudhistiara (C111 11 186) Uswah Hasanuddin (C111 11 206) Rita Amir (C111 11 265) Sinta (C111 11 290)

Andi Darfianto (C111 11 302) Ruwaeda Nasruddin (C111 11 320) Musdalifah Rifai (C111 11 339) Tria Ike Safitri (C111 11 358) Ariandi (C111 11 147) Sri Wahyuni K (C111 11 377) M. Sahrul (C111 07 265)

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR 2012 VIRUS DENGUE PENDAHULUAN


Virus dengue adalah virus yang memiliki envelope, positive-strand RNA dan merupakan bagian dari genus Flavivirus dari family Flaviviridae. Beberapa virus dengue yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia yaitu Yellow fever virus, West Nile virus (WNV), Japanese encephalitis virus dan Tickborne encephalitis virus. Virus ini ditransmisikan oleh nyamuk Aedes aegypti dan A.albopictus serta dapat menyebabkan sakit pada manusia diantaranya menyebabkan dengue fever (DF) dan dengue hemorrhagic fever/dengue shock syndrome (DHF/DSS). Penyakit infeksi virus dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue I,II III dan IV. Perjalanan penyakit infeksi dengue sulit diramalkan. Pasien yang pada waktu masuk keadaan umumnya tampak baik, dalam waktu singkat dapat memburuk dan tidak tertolong (stadium Sindrome Syok Dengue=SSD). Sampai saat ini masih sering dijumpai penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) yang semula tidak tampak berat secara klinis dan laboratoris, namun mendadak syok sampai meninggal dunia. Sebaliknya banyak pula penderita DBD yang klinis maupun laboratoris nampak berat namun ternyata selamat dan sembuh dari penyakitnya. Kenyataan diatas membuktikan bahwa sesungguhnya masih banyak misteri di dalam imunopatogenesis infeksi dengue yang belum terungkap.

Struktur virus dengue

KEJADIAN INFEKSI VIRUS DENGUE


Penyakit infeksi virus Dengue merupakan hasil interaksi multifaktorial, yang pada saat ini mulai diupayakan memahami keterlibatan faktor genetik pada penyakit infeksi virus, yaitu: kerentanan yang dapat diwariskan. Konsep ini merupakan salah satu teori

kejadian infeksi berdasarkan adanya perbedaan kerentanan genetik ( genetic susceptibility ) antar individu terhadap infeksi yang mengakibatkan perbedaan interaksi antara faktor genetik dengan organisme penyebab serta lingkungannya.

Penyakit demam berdarah dengue (DBD) dapat menyerang semua orang dan dapat mengakibatkan kematian, terutama pada anak serta sering menimbulkan wabah. Jika nyamuk Aedes aegypti menggigit orang dengan demam berdarah, maka virus dengue masuk ke tubuh nyamuk bersama darah yang diisapnya. Di dalam tubuh nyamuk, virus berkembang biak dan menyebar ke seluruh bagian tubuh nyamuk, dan sebagian besar berada di kelenjar liur. Selanjutnya waktu nyamuk menggigit orang lain, air liur bersama virus dengue dilepaskan terlebih dahulu agar darah yang akan dihisap tidak membeku, dan pada saat inilah virus dengue ditularkan ke orang lain. Di dalam tubuh manusia, virus berkembang biak dalam sistem retikuloendotelial, dengan target utama virus dengue adalah APC ( Antigen Presenting Cells ) di mana pada umumnya berupa monosit atau makrofag jaringan seperti sel Kupffer dari hepar dapat juga terkena. Viremia timbul pada saat menjelang gejala klinik tampak hingga 5 - 7 hari setelahnya. Virus bersirkulasi dalam darah perifer di dalam sel monosit/makrofag, sel limfosit B dan sel limfosit T. Manifestasi klinis infeksi virus dengue

tergantung dari berbagai faktor yang mempengaruhi daya tahan tubuh penderita. Terdapat berbagai keadaan mulai dari tanpa gejala ( asimptomatik ) demam ringan yang tidak spesifik (undifferentiated febrile illness), Demam Dengue, Demam Berdarah Dengue dan Sindrom Syok Dengue.

PATOGENESIS
Virus ditransmisikan ke dalam tubuh manusia melalui gigitan nyamuk tersebut (saliva nyamuk tersebut mengandung virus penyebab dengue). Saat masuk ke dalam tubuh manusia, virus bereplikasi di organ target dan menginfeksi sel darah putih dan jaringan limfatik. Virus yang telah bereplikasi akan dilepaskan sel inang dan bersirkulasi di dalam darah.

Virus DEN mampu bertahan hidup dan mengadakan multifikasi di dalam sel tersebut. Infeksi virus dengue dimulai dengan menempelnya virus, genomnya masuk ke dalam sel, dengan bantuan organel-organel sel genom virus membentuk komponen-komponennya, baik komponen perantara maupun komponen struktural virus. Setelah komponen struktural dirakit, virus dilepaskan dari dalam sel. Proses perkembang biakan virus DEN terjadi di sitoplasma sel. Semua flavivirus memiliki kelompok epitop pada selubung protein yang menimbulkan cross reaction atau reaksi silang pada uji serologis, hal ini menyebabkan diagnosis pasti dengan uji serologi sulit ditegakkan. Kesulitan ini dapat terjadi diantara ke empat serotipe virus DEN. Infeksi oleh satu serotip virus DEN menimbulkan imunitas protektif terhadap serotip virus tersebut, tetapi tidak ada cross protektif terhadap serotip virus yang lain.

Proses masuknya virus dengue ke dalam sel

Siklus hidup intrasel virus dengue

A) genom virus dengue mengkode ORF tunggal ditranslasi membentuk poliprotein viral (B) daerah proteolitik dalam poliprotein virus dengue Virus dengue yang telah masuk ketubuh penderita akan menimbulkan viremia. Hal tersebut menyebabkan pengaktifan complement sehingga terjadi kompleks imun Antibodi virus. Pengaktifan tersebut akan membetuk dan melepaskan zat (3a, C5a, bradikinin, serotinin, trombin, Histamin), yang akan merangsang PGE2 di Hipotalamus sehingga terjadi termoregulasi instabil yaitu hipertermia yang akan meningkatkan reabsorbsi Na+ dan air sehingga terjadi hipovolemi. Hipovolemi juga dapat disebabkan peningkatkan permeabilitas dinding pembuluh darah yang menyebabkan kebocoran plasma. Adanya komplek imun antibodi virus juga menimbulkan agregasi trombosit sehingga terjadi gangguan fungsi trombosit, trombositopeni, dan koagulopati. Ketiga hal tersebut menyebabkan perdarahan berlebihan yang jika berlanjut terjadi syok dan jika syok tidak teratasi, maka akan terjadi hipoxia jaringan dan akhirnya terjadi Asidosis metabolik. Asidosis metabolik juga disebabkan karena kebocoran plasma yang akhirnya terjadi perlemahan sirkulasi sistemik

sehingga perfusi jaringan menurun dan jika tidak teratasi dapat menimbulkan hipoxia jaringan. Masa inkubasi virus dengue 3-15 hari, rata-rata 5-8 hari. Virus hanya dapat hidup dalam sel yang hidup, sehingga harus bersaing dengan sel manusia terutama dalam kebutuhan protein. Persaingan tersebut sangat tergantung pada daya tahan tubuh manusia. Sebagai reaksi terhadap adanya infeksi maka akan terjadi hal-hal berikut ini di antaranya, yaitu: (1) aktivasi sistem komplemen sehingga dikeluarkan zat anafilaktosin yang menyebabkan peningkatan permeabilitas kapiler sehingga terjadi perembesan plasma dari ruang intravaskular ke ruang ekstravaskular sehingga volum plasma ekstravaskuler bertambah, (2) agregasi trombosit menurun, apabila kelainan ini berlanjut akan menyebabkan kelainan fungsi trombosit sebagai akibatnya akan terjadi mobilisasi sel trombosit muda dari sumsum tulang. (3) kerusakan sel endotel pembuluh darah akan merangsang atau mengaktivasi faktor pembekuan.

PATOFISIOLOGI DEMAM DENGUE


Walaupun demam dengue (DD) dan demam berdarah dengue (DBD) disebabkan oleh virus yang sama, tapi mekanisme patofisiologisnya yang berbeda yang menyebabkan perbedaan klinis. Perbedaan yang utama adalah pada peristiwa renjatan yang khas pada DBD. Renjatan itu disebabkan karena kebocoran plasma yang diduga karena proses imunologi. Pada demam dengue hal ini tidak terjadi. Manifestasi klinis demam dengue timbul akibat reaksi tubuh terhadap masuknya virus. Virus akan berkembang di dalam peredaran darah dan akan ditangkap oleh makrofag. Segera terjadi viremia selama 2 hari sebelum timbul gejala dan berakhir setelah lima hari gejala panas mulai. Makrofag akan segera bereaksi dengan menangkap virus dan memprosesnya sehingga makrofag menjadi APC(Antigen Presenting Cell). Antigen yang menempel di makrofag ini akan mengaktifasi sel T-Helper dan menarik makrofag lain untuk memfagosit lebih banyak virus. T-helper akan mengaktifasi sel T sitotoksik yang akan melisis makrofag yang sudah memfagosit virus. Juga mengaktifkan sel B yang akan melepas antibodi. Ada 3 jenis antibodi yang telah dikenali yaitu antibodi netralisasi, antibodi hemagglutinasi, antibodi fiksasi komplemen.

Proses diatas menyebabkan terlepasnya mediator-mediator yang merangsang terjadinya gejala sistemik seperti demam, nyeri sendi, otot, malaise dan gejala lainnya. Dapat terjadi manifetasi perdarahan karena terjadi aggregasi trombosit yang menyebabkan trombositopenia, tetapi trombositopenia ini bersifat ringan.

PATOFISIOLOGI DBD
Sistim vaskuler Patofisiologi primer DBD dan DSS adalah peningkatan akut permeabilitas vaskuler yang mengarah ke kebocoran plasma ke dalam ruang ekstravaskuler, sehingga menimbulkan hemokonsentrasi dan penurunan tekanan darah. Volume plasma menurun lebih dari 20% pada kasus-kasus berat, hal ini didukung penemuan post mortem meliputi efusi pleura, hemokonsentrasi dan hipoproteinemi. Tidak terjadinya lesi destruktif nyata pada vaskuler, menunjukkan bahwa perubahan sementara fungsi vaskuler diakibatkan suatu mediator kerja singkat. Jika penderita sudah stabil dan mulai sembuh, cairan ekstravasasi diabsorbsi dengan cepat, menimbulkan penurunan hematokrit. Perubahan hemostasis pada DBD dan DSS melibatkan 3 faktor: perubahan vaskuler, trombositopeni dan kelainan koagulasi. Hampir semua penderita DBD mengalami peningkatan fragilitas vaskuler dan trombositopeni, dan banyak diantaranya penderita menunjukkan koagulogram yang abnormal. Sistim respon imun Setelah virus dengue masuk dalam tubuh manusia, virus berkembang biak dalam sel retikuloendotelial yang selanjutnya diikuiti dengan viremia yang berlangsung 5-7 hari. Akibat infeksi virus ini muncul respon imun baik humoral maupun selular, antara lain anti netralisasi, antihemaglutinin, anti komplemen. Antibodi yang muncul pada umumnya

adalah IgG dan IgM, pada infeksi dengue primer antibodi mulai terbentuk, dan pada infeksi sekunder kadar antibodi yang telah ada meningkat (booster effect).

Respon imun infeksi virus dengue Antibodi terhadap virus dengue dapat ditemukan di dalam darah sekitar demam hari ke-5, meningkat pada minggu pertama sampai dengan ketiga, dan menghilang setelah 60-90 hari. Kinetik kadar IgG berbeda dengan kinetik kadar antibodi IgM, oleh karena itu kinetik antibodi IgG harus dibedakan antara infeksi primer dan sekunder. Pada infeksi primer antibodi IgG meningkat sekitar demam hari ke-14 sedang pada infeksi sekunder antibodi IgG meningkat pada hari kedua. Oleh karena itu diagnosa dini infeksi primer hanya dapat ditegakkan dengan mendeteksi antibodi IgM setelah hari sakit kelima, diagnosis infeksi sekunder dapat ditegakkan lebih dini dengan adanya peningkatan antibody IgG dan IgM yang cepat.

GEJALA KLINIK INFEKSI VIRUS DENGUE

UJI LABORATORIUM
Pemeriksaan Serologis adalah salah satu alat untuk membantu membuat konfirmasi diagnosis infeksi virus dengue. Beberapa di antaranya yang sering digunakan ialah: 1. Hemaglutinasi Inhibisi prinsip metode ini ialah mengukur kadar IgM dan IgG melalui prinsip adanya kemampuan antibodi anti dengue menghambat reaksi hemaglutinasi darah. 2. Uji Eliza prinsip metode ini ialah mengukur kadar IgM dan IgG dalam serum penderita dengan cara menangkap antibodi yang beredar dalam darah penderita.

PENATALAKSANAAN
1. Periode febris Pengobatan yang dapat diberikan, yaitu: a. Antipiretik sesuai dosis

b. Antibiotik tidak dibutuhkan c. Makan sesuai nafsu makan penderita d. Apabila semakin parah sebaiknya dibawa ke rumah sakit e. Kebutuhan cairan harus dipenuhi. Apabila demam terlalu tinggi dan kehilangan cairan sangat cepat maka pemberian cairan secara intravena dilakukan f. Lakukan observasi secara cermat setiap 6 jam sekali untuk memantau kondisi penderita 2. Periode afebris Pemberian cairan intravena sebatas cukup untuk mempertahankan sirkulasi efektif selama periode plasma leakage, disertai pengamatan yang teliti dan cermat secara periodik. Cairan yang dapat dipakai dapat berupa kristaloid seperti D5 normal saline, ringer laktat, D5 ringer laktat, D5 ringer asetat, plasma pengganti (dextran, Haess dll).