Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN ILMIAH KELOMPOK TUTORIAL SKENARIO 2 BLOK 2

OLEH : KELOMPOK E FASILITATOR KETUA SEKRETARIS ANGGOTA : : : : WIDYA ANGGRAINI FEBRISALLY PURBA FADLUN KARIMAH AMALIA VIRGITA ATIKA SAMY K. KHAIRUNNISA PUTRI AJRI M. ESSYA NOVA R. R. ATIEKA ULLI SANDRA MARIA SANDIKA P. (NIM. 04111004056) (NIM. 04111004058) (NIM. 04111004059) (NIM. 04111004060) (NIM. 04111004061) (NIM. 04111004062) (NIM. 04111004063) (NIM. 04111004066) (NIM. 04111004067) (NIM. 04111004068) (NIM. 04111004069) drg. DANICA ANASTASIA EKA WAHYUNI REISHA MERSITA (NIM. 04111004065) (NIM. 04111004057)

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS SRIWIJAYA

BAB I PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Ibu Warsinem datang ke puskesmas karena giginya sakit bila dipakai mengunyah makanan. Jadwal pelayanan poli gigi puskesmas hanya Senin, Selasa, dan Rabu. Karena Ibu Warsinem datang hari Jumat maka perawat gugu hanya memberinya obat pereda rasa sakit dan kembali hari Senin untuk bertemu dokter gigi. Pada hari Senin, dokter gigi tersebut datang terlambat kurang lebih 3 jam. Dokter gigi panik melihat pasien yang sudah menumpuk sehingga terburu-buru dalam melakukan perawatan gigi Ibu Warsinem. Dokter gigi tidak melakukan komunikasi yang baik terhadap pasien sehingga terburu-buru dalam melakukan perawatan gigi Ibu Warsinem. Ibu Warsinem merasa menyesal menggunakan fasilitas pembiayaan kesehatan gratis dari pemerintah daerah setempat melihat pelayanan dokter gigi yang tidak empati.

I. 1. 2. 3. 4. 5. 6.

KLARIFIKASI ISTILAH Obat pereda rasa sakit Empati Komunikasi Fasilitas pembiayaan kesehatan gratis Perwatan gigi Pelayanan poli gigi

II. 1.

IDENTIFIKASI MASALAH Karena dokter gigi datang terlambat selama tiga jam, sehingga terburuburu dalam melakukan perawatan sehingga tidak melakukan komunikasi yang baik dan tidak menunjukkan sikap empati terhadap pasien.

2.

Jadwal pelayanan poli gigi puskesmas yang terbatas dan tidak sesuai standar.

III. ANALISIS MASALAH 1. 2. 3. Bagaimana komunikasi antara pasien dan dokter gigi yang baik Bagaimana standar pelayanan puskesmas yang baik? Apa sanksi dan bagaimana prosedur penanganan pelanggaran pelayanan puskesmas?

IV. HIPOTESIS Dokter gigi dan puskesmas telah melakukan pelanggaran etika karena kurangnya komunikasi dokter-pasien dan tidak sesuai dengan standar pelayanan puskesmas.

V. 1.

LEARNING ISSUE Puskesmas a. b. c. d. Definisi Struktur organisasi serta tugas dan wewenang Visi dan misi Standar pelayanan puskesmas

2.

Etika komunikasi dokter-pasien a. b. c. d. Definisi Komunikasi efektif Landasan hukum Sanksi pelanggaran Disiplin Kedokteran

3.

Sistem Pembiayaan Pelayanan Kesehatan

BAB II PEMBAHASAN

1. PUSKESMAS a. Pengertian puskesmas Puskesmas adalah unit pelaksana pembngunaan kesehatan pada wilayah kecamatan. Unit pelaksana adalah unit pelaksan teknis yang disebut UPTD. Pembangunan kesehatan adalah penyelenggaraan upaya kesehatan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, & kemampuan untuk meningkatkan & mewujudkan derajat kesehatan yang optimal . Wilayah kecamatan adalah batas wilayah kerja puskesmas hasil dari analisis diatas bahwa puskesmas adalah satu- satuan organisasi yang diberikan kewenangan kemandirian oleh dinas kesehatan kabupaten/ kota untuk melaksanakan tugas-tugas operasional pembangunan kesehatan diwilayah kecamatan.

Kewenangan puskesmas Kewenangan menyelenggarakan perencanaan, pelaksanaan, & evaluasi pembangunan kesehatan diwilayah kecamatan yang disesuaikan dengan situasi kondisi, kultur budaya, & potensi setempat. Kewenangan mencari menggali & mengelola sumber pembiayaan yang berasal dari pemerintah, masyarakat, swasta, & sumber lain dengan sepengetahuan dinas kesehatan kabupaten / kota yang kemudan

dipertanggung jawabkan untuk pembangunan kesehatan diwilayah kerjanya. Kewenangan untuk mengangkat instusi / honorer, pemindahan tenaga, & pendayagunaan tenaga kesehatan diwilayah kerjayadengan sepengetahuan dinaskesehatan kabupaten / kota. Kewenangan untuk melengkap sarana / prasarana termasuk peralatan medis & non medis yang dibutuhkan.

Fungsi puskesmas a. Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan b. c. Memberdayakan masyarakat & memberdayakan keluarga Memberikan pelayan kesehatan tingkat pertama

Azas puskesmas Azas pertanggung jawaban wilayah puskesmas harus bertanggung jawab atas pembangunan kesehatan diwilaah kejanya. Untuk dapat memantau seluruh wilayah kerjanya, puskesmas harus bekerja secara proaktif kelapangan mengadakan pemantauan, pembinaan, & pemberdayaan masyarakat dibidang kesehatan. Azas peran masyarakat Dalam melakasanakan kegiatannya, puskesmas harus memandang masyarakat sebagai subjek pembangunan kesehatan sehingga puskesmas bukan hanya bekerja untuk mereka namun untuk masyarakat juga.oleh karena itu, puskesmas harus bekerja sama dengan masyarakat mulai dari tahap identifikasi masalah, menggali sumberdaya setempat, merumuskan dan merencanakan penangulagannya, melaksanakan program kesehatan tersebut, serta mengevaluasinya. Azas keterpaduan Puskesmas dalam melaksanakan kegiatan pembangunan kesehatan diwilayah kerjanya harus melakukan kerjasama dengan berbagi pihak ,bermitra dengan berbagai BPKM/BPP &organisasi masyarakat lainnya. Berkoordinasi dengan bebagai sektor, agar terjadi perpaduan kegiatan dilapangan sehingga leih berhasil & berdayaguna. Salah satu cara memadukan berbagaimacam kegiatan untuk menyehatkan masyarakat. Dari asalah kesehatan setempat akan diketu intervensi apasaja apa yang perlu & program apa yang lebih dahulu masuk dan program apa yang belakangan dilakukan. Azas rujukan Puskesmas merupakan fasilitas pelayanaan kesehatan tigkat prtama , bila tidak mampu mengatasi masalah karna berbagai keterbatasaan , bisa

melakukan rujukan baik secaa vertikal ketingkat yang lebih tinggi atau secara horizontal ke Puskesmas lainnya.

DEPATEMEN KESEHATAN

RUMAH SAKIT KELAS A

KANTOR / WILAYAH /DINKES PROVINSI KANTOR DEPARTEMEN/ DINKESKABUPATE N/ KOTAMADYA PUSKESMAS/ PUSKESMAS PEMBANTU

RUMAH SAKIT KELAS B

RUMAH SAKIT KELAS C

Kedudukan puskesmas dari segi fungsional Dibidang pelayanaan masyarakat pusksmas merupakan unit pelaksana pelayanaan kesehatan masyarakat tingkat pertama yang dibina oleh kesehatan kabupaten/ kota. Dibidang pelayanaan medik pusksmas merupakan unit pelaksana pelayanaan kesehatan masyarakat tingkat pertama yang secara teknis dapat berkoordinasi & kerjasama dengan RSUD kabupaten/ kota. Dibidang sistem kesehatan nasional pusksmas merupakan unit pelaksana pelayanaan kesehatan masyarakat tingkat pertama merupakan ujung tombak sistem pelayanaan kesehatan

Bentuk-bentuk puskesmas a. Puskesmas prkotaan

b. c. d.

Puskesmas daerah wisata Puskesmas daerah industri Puskesmas daerah terpencil

Kegiatan puskesmas a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. l. m. n. o. p. q. Usaha pelayanaan rawat jalan Usaha kesehatan ibu & anak Usaha keluarga berencana Usaha kesehatan gigi Usaha kesehatan gizi Usaha kesehatan sekolah Usaha kesehatan lingkungan Usaha ksehatan jiwa Usaha kesehatan lanjut usia Usaha pendidikan kesehatan Usaha perawatan kesehatan masyarakat usaha pencegahaan & pemberantasan penyakit menular Usaha kesehatan olahraga Usaha kesehatan mata Usaha kesehatan kerja Usaha pencatatan & pelaporan Usaha laboratorium keshatan masyarakat.

b.

Tata kerja puskesmas

BUPATI/ WALIKOTA DINKES KAB / KOTA CAMAT

RSUD

BKPM/ BPP

PUSKESMAS

UNIT FUNGSIONAL PUSTU / BDD

:Garis lini : Garis koordinasi fungsional : Garis konsultasi

Tata kerja puskesmas diatur sebagai berikut : Koordinasi fungsional antara PUSKESMAS dengan RSUD dalam bidang pelayanaan medik. Koordinasi fungsional antara PUSKESMAS dengan camat dalam bidang pembangunan kesehatan diwilayah kecamatan. Koordinasi fugsional antara PUSKESMAS & BPP dalam pemberdayaan masyarakat & keluarga dalam rangka meningkatkan program

PUSKESMAS.

Model manajemen puskesmas 1. Model PIE Model ini merupakan model yang paling sederhana, karna meliputi 3 fungsi yaitu : P I E : Planning (perencanaan) : implementing (implementasi) : Evaluatin (evaluasi)

2. Model POAC Fungsi dati model ini adalah : P O A C : planning (perencanaan) : organizing (organisasi) : Actuating (penggerakan) : controlling(konrol)

3. Model P1-P2-P3 Model ini digunakan oleh jajaran kesehatan, yang dijabarkan dengan: P1 P2 P3 : perencanaan bentuk perencanaan tingkat puskesmas(PTP) : penggerakkanpelaksanaan berbentuk lokakarya mini : pengawasaan, penilaina, & pengendaliam yang berbentuk

stratifikasi permanen yang kelak berubah enjadi penilain kerja puskesmas.

4. Model ARRIF (Analisi, rumusan, rencana, implementasi, & foum komunikasi) Model ini digunakan oleh jajaran DEPKES khususnya yag bergerak dalam bidang pertisipasi masyarakat. Menajemn arif menghasikan model PSM baik tingkat kecamatan/ kabupaten/ provinsi maupun pusat/ nasional.

5. Model ARRIME Pada dasrnya arrime sama dengan arrif, hanya hasil monitoring da evaluasi secara tegas terpsah, karna aspek yang dikelola meliput # fungsi puskesmas, sehingga fungsi onitoring & evaluasi harus terpisah.

b. Struktur Organisasi serta Tugas dan Wewenang Dinas Kesehatan kabupaten/kota memiliki tugas untuk menetapkan struktur organisasi puskesmas dengan pertimbangan beban kerja dan sumber daya yang tersedia di tiap puskesmas di daerah. Struktur organisasi tersebut adalah sebagai berikut.

1. Unsur pimpinan (Kepala Puskesmas) Tugas pokok : Memimpin, mengawasi, dan mengoordinasi seluruh kegiatan puskesmas. 2. Unsur Pembantu pimpinan Tugas pokok : Bidang kepegawaian, keuangan, perlengkapan, surat-menyurat,

pencatatan, dan pelaporan. 3. Unsur Pelaksana Tugas pokok : Merupakan unit-unit yang terdiri dari tenaga pegawai. Jumlah unit tergantung pada kegiatan, tenaga, dan fasilitas di tiap daerah. Secara umum unsur pelaksana terdiri atas unit I, II, III, IV, V, VI, dan VII.

Keterangan Unit Pelaksana Teknis

Unit I

: mempunyai fungsi dan tugas pokok

melaksanakan kegiatan

kesejahteraan ibu dan anak, program keluarga berencana, dan perbaikan gizi. Unit II : mempunyai fungsi dan tugas pokok melaksanakan kegiatan pencegahan dan pemberantasan penyakit khususnya imunisasi dan penjagaan kesehatan lingkungan. Unit III : Mempunyai fungsi dan tugas pokok untuk melaksanakan kegiatan kesehatan gigi dan mulut serta kesehatan tenaga kerja dan lanjut usia. Unit IV : mempunyai tugas pokok dan fungsi untuk melaksanakan kegiatan perawatan kesehatan masyarakat, kesehatan sekolah dan olahraga, kesehatan jiwa, kesehatan mata, dan kesehatan khusus lainnya. Unit V : mempunyai tugas pokok dan fungsi untuk melaksanakan kegiatan di bidang pembinaan dan pengembangan upaya kesehatan masyarakat dan penyuluhan kesehatan masyarakat. Unit VI : Mempunyai tugas pokok dan fungsi untuk melaksanakan Kegiatan pengobatan rawat jalan dan rawat inap. Unit VII : mempunyai tugas poko dan fungsi untuk melaksanakan Pengelolaan farmasi.

c.

Visi dan Misi Puskesmas Visi puskesmas ialah : Tercapainya Kecamatan Sehat Menuju Indonesia Sehat Adapun indikator kecamatan sehat : 1. Lingkungan sehat 2. Perilaku sehat 3. Cakupan pelayanan kesehatan yang bermutu 4. Derajat kesehatan penduduk kecamatan

Misi puskesmas ialah : 1. Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan di wilayah kerjanya. 2. Mendorong kemandirian hidup sehat bagi keluarga dan masyarakat di wilayah kerjanya. 3. Memelihara dan meningkatkan mutu , pemerataan, dan keterjangkauan pelayanan kesehatan yang diselenggarakan. 4. Memeliharan dan meningkatkan kesehatan perorangan, keluarga, dan masyarakat beserta lingkungannya.

STANDAR PELAYANAN PUSKESMAS 1. Promosi kesehatan a.Pelaksanaan posyandu dan Pembinaan kader b.Penyuluhan kesehatan c.Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) d.Advokasi program kesehatan dan program prioritas e.Promosi kesehatan tentang narkoba f.Promosi tentang kepesertaan jamkesmas g.Pembinaan dana sehat/jamkesmas 2. Kesehatan Lingkungan a.inspeksi sanitasi rumah sehat b.pengawasan dan pembinaan tempat-tempat umum (ttu) c.pengawasan dan pembinaan tempat pengolahan dan penyajian makanan dan minuman/tpm d.pengawasan dan pembinaan industri e.pengawasan dan pembinaan pengolahan pestisida f.inspeksi sarana air bersih (sab) g.pemeriksaan jaga (inspeksi sanitasi jamban keluarga) h.frekuensi pemeriksaan spal (sanitasi sarana pembuangan air limbah) i.pemeriksaan tps (tempat pembuangan sampah)

3. Pemberantasan penyakit menular a.Program imunisasi b.Program TB paru dengan kegiatan penemuan penderita TBC c.Program malaria dengan angka insiden malaria (AMI) d.Program ISPA dengan frekuensi penemuan dan penaggulangan pneumonia e.Program diare meliputi frekuensi penanggulangan diare f.Program rabies g.Program Surveilans h.Pemberantasan P2B2 demam berdarah

4.Kesehatan ibu dan anak a.Kesehatan Ibu -Pembinaan kesehatan ibu -Pelayanan ibu hamil resti berupa cakupan pelayanan (konseling, penanganan dan rujukan) -Persalinan oleh nakes -Cakupan peserta KB aktif -Perawatan ibu nifas b.Kesehatan anak -Cakupan neonatus -Penyelenggaraan deteksi dini tumbuh kembang

5. Gizi -Penyelenggaraan kegiatan penanggulangan masalah kurang gizi -Penimbangan balita -kelurahan UPGK -Pembinaan pemanfaatan ASI untuk pemberian ASI eksklusif -Penanggulangan gizi buruk -Distribusi pemberian Fe1 dan Fe2

6. Pengobatan - Pendistribusian vitamin dan obat-obatan

2. ETIKA KOMUNIKASI ANTARA DOKTER DAN PASIEN 2.1 Pengertian Komunikasi Efektif Dokter-Pasien

Komunikasi adalah sebuah kata seperti organisasi, semua orang tahu apa artinya, namun apabila ada yang bertanya apa definisi formalnya, barulah dirasa perlu untuk member batasan yang jelas. Definisi secara umum: Komunikasi adalah sebuah proses penyampaian pikiran-pikiran atau informasi dari seseorang kepada orang lain melalui suatu cara tertentu sehingga orang lain tersebut mengerti betul apa yang dimaksud oleh penyampai pikiran-pikiran atau informasi. (Kommarudin, 1994:schermerhom, Hunt & Osborn.1994:koontz &weihrich, 1988) Selanjutnya definisi tersebut menjadi dasar model proses komunikasi yang berfokus pada pengirim pikiran-pkiran atau informasi (sender/source), saluran yang dipakai (channel) untuk menyampaikan pikitan-pikiran atau informasi dan penerima pikian-pikiran atau informasi (receiver).

Model tersebut juga bisa mengilustrasikan adanya penghambat pikiran-pikiran atau infomasi sampai menerima (noise) dan umpan balik (feedback) yang memfasilitsi kelancaran komunikasi itu sendiri. Sender, channel, receiver, noise dan feeback akan dibahas pada subbab elemen-elemen komunikasi. 2.2 Aplikasi Komunikasi Efektif Dokter-Pasien Komunikasi efektif dokter pasien merupakan pengembangan hubungan dokter-pasien secara efektif yang berlangsung secara efisien, dengan tujuan utama penyampaian informasi atau pemberian penjelasan yang diperlukan dalam rangka membangun kerja sama antara dokter dengan pasien. Komunikasi yang dilakukan secara verbal dan non-verbal menghasilkan pemahaman pasien terhadap keadaan kesehatannya, peluang dan kendalanya, sehingga dapat bersama-sama dokter

mencari alternatif untuk mengatasi permasalahannya. Komunikasi yang dilakukan secara verbal dan non-verbal menghasilkan pemahaman pasien terhadap keadaan kesehatannya, peluang dan kendalanya, sehingga dapat bersama-sama dokter mencari alternatif untuk mengatasi permasalahannya.

Kurtz (1998) menyatakan bahwa komunikasi efektif justru tidak memerlukan waktu lama. Komunikasi efektif terbukti memerlukan lebih sedikit waktu karena dokter terampil mengenali kebutuhan pasien (tidak hanya ingin sembuh). Dalam pemberian pelayanan medis, adanya komunikasi yang efektif antara dokter dan pasien merupakan kondisi yang diharapkan sehingga dokter dapat melakukan manajemen pengelolaan masalah kesehatan bersama pasien, berdasarkan kebutuhan pasien.

Tujuan dari komunikasi efektif antara dokter dan pasiennya adalah untuk mengarahkan proses penggalian riwayat penyakit lebih akurat untuk dokter, lebih memberikan dukungan pada pasien, dengan demikian lebih efektif dan efisien bagi keduanya (Kurtz, 1998).

Berdasarkan hari penelitian, manfaat komunikasi efektif dokter-pasien di antaranya: 1) Meningkatkan kepuasan pasien dalam menerima pelayanan medis dari dokter atau institusi pelayanan medis. 2) Meningkatkan kepercayaan pasien kepada dokter yang merupakan dasar hubungan dokter-pasien yang baik. 3) 4) Meningkatkan keberhasilan diagnosis terapi dan tindakan medis. Meningkatkan kepercayaan diri dan ketegaran pada pasien fase terminal dalam menghadapi penyakitnya.

Menurut Kurzt (1998), dalam dunia kedokteran ada dua pendekatan komunikasi yang digunakan: - Disease centered communication style atau doctor centered communication style. Komunikasi berdasarkan kepentingan dokter dalam usaha menegakkan

diagnosis, termasuk penyelidikan dan penalaran klinik mengenai tanda dan gejala-gejala. - Illness centered communication style atau patient centered communication style. Komunikasi berdasarkan apa yang dirasakan pasien tentang penyakitnya yang secara individu merupakan pengalaman unik. Di sini termasuk pendapat pasien, kekhawatirannya, harapannya, apa yang menjadi kepentingannya serta apa yang dipikirkannya.

Sementara, Bylund & Makoul (2002) mengembangkan 6 tingkat empati yang dikodekan dalam suatu sistem (The Empathy Communication Coding System (ECCS) Levels).

Sesi penggalian informasi terdiri dari: 1. 2. Mengenali alasan kedatangan pasien Penggalian riwayat penyakit (Van Thiel, 2000)

Ada empat langkah yang terangkum dalam satu kata untuk melakukan komunikasi, yaitu SAJI (Poernomo, Ieda SS, Program Family Health Nutrition, Depkes RI, 1999). S = Salam A = Ajak Bicara J = Jelaskan I = Ingatkan

Secara rinci penjelasan mengenai SAJI adalah sebagai berikut. Salam: Beri salam, sapa dia, tunjukkan bahwa Anda bersedia meluangkan waktu untuk berbicara dengannya. Ajak Bicara: Usahakan berkomunikasi secara dua arah. Jangan bicara sendiri. Dorong agar pasien mau dan dapat mengemukakan pikiran dan perasaannya. Tunjukkan bahwa dokter menghargai pendapatnya, dapat memahami kecemasannya, serta mengerti

perasaannya. Dokter dapat menggunakan pertanyaan terbuka maupun tertutup dalam usaha menggali informasi. Jelaskan: Beri penjelasan mengenai hal-hal yang menjadi perhatiannya, yang ingin diketahuinya, dan yang akan dijalani/dihadapinya agar ia tidak terjebak oleh pikirannya sendiri. Luruskan persepsi yang keliru. Berikan penjelasan mengenai penyakit, terapi, atau apapun secara jelas dan detil. Ingatkan: Percakapan yang dokter lakukan bersama pasien mungkin memasukkan berbagai materi secara luas, yang tidak mudah diingatnya kembali. Di bagian akhir percakapan, ingatkan dia untuk hal-hal yang penting dan koreksi untuk persepsi yang keliru. Selalu melakukan klarifikasi apakah pasien telah mengerti benar, maupun klarifikasi terhadap hal-hal yang masih belum jelas bagi kedua belah pihak serta mengulang kembali akan pesan-pesan kesehatan yang penting.

2.3

Landasan Hukum Komunikasi Efektif Dokter-Pasien

Secara yuridis timbulnya hubungan hukum antara dokter dengan pasien bisa berdasarkan dua hal, yaitu : a. Perjanjian b. Undang-undang

a.

Berdasarkan perjanjian

Timbulnya hubungan hukum antara dokter dengan pasien berdasarkan perjanjian mulai terjadi saat pasien datang ketempat praktek dokter atau ke rumah sakit dan dokter menyanggupinya dengan dimulai anamnesa (tanya-jawab) dan

pemeriksaan oleh dokter. Dari seorang dokter harus dapat diharapkan bahwa ia akan berusaha sebaik mungkin untuk menyembuhkan pasiennya. Dokter tidak bisa menjamin bahwa ia pasti akan dapat menyembuhkan penyakit pasiennya, karena hasil suatu pengobatan sangat tergantung kepada banyak faktor yang berkaitan (usia, tingkat keseriusan penyakit, macam penyakit, komlikasi dan lain-

lain). Dengan demikian maka perjanjian antara dokter - pasien itu secara yuridis dimasukkan ke dalam golongan inspanningsverbitenis.

b.

Berdasarkan Undang-Undang

UU Praktik Kedokteran No.29 tahun 2009 pasal 52 a dan c. Hak dan kewajiban pasien Pasal 52 Pasien, dalam menerima pelayanan pada praktik kedokteran, mempunyai hak : a. Mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis sebagaimana dimaksud dalam pasal 45 ayat (3) b. Meminta pendapat dokter dan dokter gigi lain. c. Mendapat pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis. d. Menolak tindakan medis, dan e. Mendapat isi rekam medis.

2.4

Bentuk Pelanggaran Disiplin Kedokteran dan Sanksi Pelanggaran

Disiplin Kedokteran Pelanggaran disiplin adalah pelanggaran terhadap aturan aturan dan/atau ketentuan penerapan keilmuan dalam pelaksanaan pelayanan yang seharusnya diikuti oleh dokter dan dokter gigi. Sebagian dari aturan dan ketentuan tersebut terdapat dalam UU Praktik Kedokteran, dan sebagian lagi tersebar didalam Peraturan Pemerintah, Permenkes, Peraturan KKI, Pedoman Organisasi Profesi, KODEKI, Pedoman atau ketentuan lain. Pelanggaran disiplin pada hakikatnya dibagi menjadi tiga, yaitu: 1. 2. Melaksanakan praktik kedokteran dengan tidak kompeten. Tugas dan tanggung jawab profesional pada pasien tidak dilaksanakan dengan baik. 3. Berperilaku tercela yang merusak martabat dan kehormatan profesi kedokteran.

Sanksi Pelanggaran Disiplin Kedokteran Sesuai UU Praktik Kedokteran, sanksi yang diberikan kepada dokter/dokter gigi yang dinyatakan melanggar disiplin kedokteran/ kedokteran gigi dalam keputusan MKDKI dapat berupa: a. Pemberian peringatan tertulis b. Rekomendasi pencabutan Surat Tanda Registrasi (STR) atau Surat Izin Praktik (SIP); dan/atau c. Kewajiban mengikuti pendidikan atau pelatihan di institusi pendidikan kedokteran atau kedokteran gigi (reschooling) Sanksi-sanksi yang diberikan juga disesuaikan dengan derajat kesalahan yang dilakukan oleh seorang dokter/dokter gigi dalam pelanggaran disiplin kedokteran. Contoh kasus yang berhubungan dengan kurang efektifnya komunikasi yang dilakukan dokter/dokter gigi : "Dalam satu kasus, bayi meninggal di ruang Neonatus Intensive Care Unit (NICU). Pada saat itu, dokter hanya menyampaikan kepada keluarga pasien bahwa telah terjadi kekurangan oksigen, sehingga keluarga pasien tidak terima. Padahal maksud si dokter adalah ketidakmampuan paru-paru si bayi untuk menerima oksigen." Seandainya yang terjadi adalah pasokan oksigen di ruang NICU habis, maka MKDKI bisa menilainya sebagai pelanggaran disiplin sehingga dokter yang bersangkutan bisa dikenai sanksi mulai dari peringatan tertulis, rekomendasi pencabutan Surat Tanda Registrasi (STR) atau Surat Ijin Praktik (SIP) sampai dengan mengikuti pendidikan/pelatihan ulang atau reschooling. Namun karena yang terjadi hanya kurang komunikasi, MKDKI hanya memberikan teguran dan pembinaan.

3.
a.

SISTEM PEMBIAYAAN PELAYANAN KESEHATAN Pembiayaan kesehatan

Tingginya biaya pelayanan kesehatan di Indonesia saat ini merupakan masalah yang sangat serius karena sangat membebani masyarakat pengguna jasa pelayanan kesehatan , sehingga perlu dicarikan jalan keluarnya. Masalah tingginya biaya pelayanan kesehatan ini semakin dirasakan setelah krisis ekonomi melanda indonesia karena sebagian besar kemoponen perawatan seperti obat-obatan dan teknologi kedokteran masih di inmpor sementara nilai tukar rupiah masih belum tinggi. Disisi lain kemampuan dana pemerintah juga smakin terbatas sehingga subsidi pemerintah kepada masyarakat yang kurang mampu akan terganggu. Ada 4 (empat) sumber utama pembiayaan kesehatan : 1. 2. 3. 4. Pemerintah Swasta Masyarakat dalam bentuk pembayaran langsung (free for serviors) dan asuransi Sumber-sumber lain dalam bentuk hibah atau pinjaman dari luar negeri Pelayanan kesehatan yang bersumber dari asuransi kesehatan merupakan salah satu cara yang terbaik untuk mengatasi mahalnya pelyanan kesehatan . alasannya anatara lain karena : Pemerintah dapat mendiverifikasikan sumber-sumber pendapatan dari sektor kesehatan Meningkatkan efesiensi dengan membeikan kepada masyarakat dalam pembiayaan pelayanan kesehatan Memeratakan beban biaya kesehatan menurut waktu dan populasi yang lebih luas sehingga dapat mengurangi resiko secara individu

Asuransi Kesehatan Adalah suatu mekanisme pengalihan resiko (sakit) dari resiko perorangan menjadi resiko kelompok. Dengan cara mengalihkan resiko individu menjadi resiko kelompok, beban ekonomi yang harus dipikul oleh masing-masing peserta asuransi akan lebih ringan tetapi mengandung kepastian karena memperoleh jaminan. Unsur-unsur asuransi kesehatan Ada perjanjian Ada pembelian perlindungan

Ada pembayaran premi oleh masyarakat

Asuransi Kesehatan di Indonesia dan Pengelolahannya Secara universal, beberapa jenis asuransi kesehatan berkembang di Indonesia a. Asuransi kesehatan sosial (social health)

Asuransi kesehatan sosial memegang teguh prinsipnya bahwa kesehatan adalah sebuah pelayanan sosial,pelayanan kesehatan tidak boleh semata-mata diberikan berdasarkan status sosial masyarakat seingga semua lapisan berhak untuk memperoleh jaminan pelayanan kesehatan. Asuransi kesehatan sosial

dilaksanakan dengan menggunakan prinsip sebagai berikut Keikut sertaan bersifat wajib Menyertakan tenaga kerja dan keluarganya Iuran/premi berdasarkan persentasi gaji/pendapatan Premi tidak ditemukan oleh resiko perorangan Tidak di perlukan pemeriksaan kesehatan awal Jaminan pemeliharaan kesehtana yang diperoleh bersifat menyeluruh Peran pemerintah sangat besar

Di indonesia, asuransi kesehatan bagi pegawai negeri sipil dan penerima pensiun dikelola oleh PT.Askes. asuransi kesehatan bagi tenaga kerja dikelola oleh PT.Jamsostek

a.

Asuransi kesehatan komersial (private volextory health insurance)

Model asuransi kesehatan ini juga berkembang di indonesia, dapat di beli preminya baik oleh individu maupun masyarakat kelas menengah keatas. Asuransi kesehtan komersial perseorangan mempunyai prinsip kerja sebagai berikut : Kepesertaannya bersifat perseorangan dan sukarela Iuran/premi berdasarkan angka absolut Premi didasarkan atas resiko perorangan Dilakukan pemeriksa kesehatan awal Peranan pemerintah relatif real

Diindonesia produk asuransi kesehatan komersial dibuat oleh lipo life ,BM life, tugu mandiri

Asuransi kesehatan komersial kelompok (regulated privat health insurance) Jenis asuransi ini merupakan alternatif lain sistem asuransi kesehatan komersial dengan prinsip-prinsip dasar sebagai berikut : Keikut sertaannya bersifat sukarela tetapi berkelompok Iuran/preminya dibayar berdasarkan atas angka absolut Perhitungan premi bersifat comunity rating Santunan (jaminan pemeliharaan kesehatan) diberikan sesuai kontrak. Tidak diperlukan pemeriksaan Peran pemerintah cukup besar dengan membuat peraturan

JAMKESMAS merupakan program pemerintah untuk memberikan pelayanan / jaminan kesehatan gratis bagi masyarakat miskin. Merupakan upaya untuk mempercepat pencapaian sasaran pemmbangunan kesehatan dan peningkatan derajat kesehatan yang optimal Tujuan :

Tujuan Umum

Meningkatkan akses dan mutu kelayanan kesehatan terhadap seluruh masyarakat miskin dan tidak mampu agar tercapai kesehatan masyarakat yang optimal secara efektif dan efesien Tujuan Khusus

Meningkatkan cakupan masyarakat miskin dan tidak menigkatnya akses dan mutu pelayanan kesehatan terhadap seluruh masyarakat miskin dan tidak mampu agar tercapai drajat kesehatan masyarakat yang optimal secara efektif dan efesien 1. Tujuan Khusus Meningkatnya cakupan masyarakat miskin dan tidak mampu yang

mendapat pelayanan kesehatan di puskesmas serta jaringannya dan di rumah sakit 2. 3. Meiningkatnya kualitas pelayan kesehatan bagi masyarakat miskin Terselenggaranya pengelolaan keuangan yang transparan dan akuntabel

Program

Merupakan bantuan sosial untuk pelayanan kesehatan bagi masyarakat

miskin di seluruh Indonesia Program JAMKESNAS merupakan kebijakan yang sangat tepat guna

meningkatkan aksebilitas masyarakat miskin terhadap pelayanan kesehatan yang dibutuhkan Pelayanan kesehatan yang komperhensif promitive , prefentiv, kuratif ,

dan rehabilitative Berjenjang a riwayat jalan , rawat inap di puskesmas, rawat jalan

spesialistik , rawat inap di rumah sakit

Kelebihan dan Kekurangan Jamkesmas a. b. c. d. e. a. b. c. d. e. f. Kelebihan Program Dana amanah dan dikelola secara nirlaba Portabilitas dan ekuitas Pelayanan kesehatan dilaksanakan secara terstruktur Iuran dijamin pemerintah Dikelola secara transparan dan akuntabel

Kekurangan Program Pendataan sasaran miskin belum tuntas Peran/fungsi ganda dari penyelenggara, sebagai pengelola dan pembayar Rumah sakit melakukan kendali mutu pelayanan dan kendali biaya Verivikasi tidak berjalan optimal Paket pelayanan belum diimbangi kebutuhan dana yang memadai Penyelenggara tidak menanggung resiko

BAB III RANGKUMAN

Dokter gigi telah melakukan pelanggaran hukum terhadap Undang-Undang Praktik Kedokteran No.29 tahun 2004 pasal 52 a dan c karena terburu-buru dan tidak berkomunikasi dengan baik terhadap pasien. Dokter gigi juga melanggar Disiplin Kedokteran karena tugas & tanggung jawab profesional pada pasien tidak dilaksanakan dengan baik.

BAB IV RESENSI

1. http://dinkes.brebeskab.go.id/attachments/article/96/SOP%20Pelayanan%20Pu skesmas.pdf 2. Sulaeman, Endang Sutisna. 2009. Manajemen Kesehatan Teori dan Praktik. Surakarta : Universitas Negeri Solo. 3. http://ners.unair.ac.id/materikuliah/PUSKESMAS.pdf 4. Arrime Pedoman Manajemen Puskesmas. 2007. Jakarta : Dinas Kesehatan 5. http://inamc.or.id/download/Manual%20Komunikasi%20Efektif.pdf

Anda mungkin juga menyukai