Anda di halaman 1dari 37

LAPORAN TUGAS MATA KULIAH PENYEHATAN UDARA

Pemeriksaan Kepadatan Kendaraan, Fisika (Kebisingan, Partikel Debu, Suhu, Kelembaban), dan Kimia (SO2) Jalan Godean Km.4 Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta

Disusun Oleh : 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Fajar Dian Wasisti P07133111048 Faradela Novita Sari P07133111049 Farah Debby Pangestika P07133111050 Galih Pandu Nuswantoro P07133111053 Ginanjar Atmaja P07133111054 Juni Purwati P07133111057 Lukas Andrianus Nugroho P07133111059 Maya Oktavia P07133111062 M. Arifin Dicki N P07133111065 Novita Dwi Kurnia Sari P07133111069 Nur Rohmad P07133111070 Prita Wahyuni P07133111071 Ratna Ariandini P07133111072

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN YOGYAKARTA JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN 2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat-Nya, sehingga Laporan Praktikum Mata Kuliah Penyehatan Udara ini dapat selesai tepat waktu. Terwujudnya makalah Laporan Praktikum Mata Kuliah Penyehatan Udara ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak maka kami mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada : 1 2 3 4 Tuntas Bagyono SKM, M.Kes selaku ketua jurusan kesehatan lingkungan Sigid Sudaryanto, SKM.MPd selaku pengampu mata kuliah Penyehatan Udara Ayah dan ibu tercinta yang selalu memberi motivasi dan bantuan baik secara moril maupun spiritual. Semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan Laporan Praktikum Mata Kuliah Penyehatan Udara ini.

Kami sadar bahwa Laporan Praktikum Mata Kuliah Penyehatan Udara ini belum sempurna, masih banyak terdapat berbagai kekurangan di sana sini, masih membutuhkan bantuan yang dapat menyempurnakan makalah ini, untuk itu kami sangat mengharap kritik saran yang membangun. Demikian yang dapat kami tulis, kami berharap Laporan Praktikum Mata Kuliah Penyehatan Udara ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa Poltekkes Kemenkes Yogyakarta pada umumnya dan bagi mahasiswa jurusan kesehatan lingkungan. Yogyakarta, Desember 2012

Penyusun

DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ..........................................................................................i KATA PENGANTAR .......................................................................................ii DAFTAR ISI ....................................................................................................iii BAB I PENDAHULUAN A ................................................................................ Latar Belakang ...........................................................................................................1 B .............................................................................Tujuan Penelitian BAB II TINJAUAN PUSTAKA A ...................................................................Kepadatan Kendaraan B ........................................................................................Kebisingan C ................................................................................... Partikel Debu D ....................................................................Suhu dan Kelembaban E ......................................................................................................SO2 BAB III PELAKSANAAN KEGIATAN A B C D Menyiapkan Alat dan Bahan........................................................... Sterilisasi Alat................................................................................... Pengambilan Sampel........................................................................ Pemeriksaan......................................................................................

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A B Hasil................................................................................................... Pembahasan......................................................................................

BAB V PENUTUP A ................................................................................KESIMPULAN

B ..............................................................................................SARAN LAMPIRAN

BAB I PENDAHULUAN A Latar Belakang Kepadatan Kendaraan Kemajuaan teknologi dan pertambahan jumlah penduduk meningkatkan jumlah kendaraan bermotor di jalan raya. Kendaraan bermotor menghasilkan gas buangan yang merupakan polutan yang menyebabkan penurunan kualitas udara. Kegiatan pembakaran yang berlangsung tidak sempurna dari bahan bakar yang dipakai sebagai sumber energi bagi kendaraan bermotor terintroduksi ke udara dalam bentuk gas dan partikel. Gas buang kendaraan bermotor tersebut mengeluarkan bahan pencemar (polutan) yang berupa gas seperti Karbon monoksida (CO), Nitrogen oksida (NOx), Sulfur oksida (SOx), dan Hidrokarbon (HC) dan berupa seperti partikel debu, aerosol, timah hitam. Udara yang tercemar oleh polutan ini dapat menyebabkan gangguan pada kehidupan manusia, hewan dan tumbuhan. Gangguan kesehatan pada manusia dapat berupa iritasi, infeksi saluran pernapasan, gangguan pembentukan sel darah merah dan sebagainya (Moestikahadi, 2001). Jumlah kendaraan bermotor yang cenderung meningkat, merupakan indikator semakin tingginya kebutuhan masyarakat terhadap sarana transportasi yang memadai sejalan dengan mobilitas penduduk yang semakin tinggi. Kendaraan bermotor merupakan salah satu sarana angkutan / transportasi darat yang dapat meningkatkan kecepatan arus lalu lintas orang maupun barang antar daerah. Jumlah kendaraan umum maupun milik pribadi yang semakin meningkat akan mengurangi tingkat kenyamanan masyarakat kota dalam melakukan segala aktivitasnya. Lebih jauh salah satu penyebab meningkatnya suhu udara adalah polusi udara yang makin meningkat, maka efek lain yang muncul adalah gangguan kesehatan masyarakat (Widiati, 1999 dalam Cahyani 1999). Kebisingan Kebisingan merupakan salah satu masalah kesehatan lingkungan di kota-kota besar. Bising adalah bunyi yang tidak dikehendaki yang dapat mengganggu dan atau membahayakan kesehatan. Laporan WHO tahun 1988 sebagaimana yang disampaikan oleh Ditjen PPM & PLP, Depkes RI (1995),

menyatakan bahwa 8 - 12% penduduk dunia telah menderita dampak kebisingan dalam berbagai bentuk dan diperkirakan angka tersebut terus akan meningkat, dan pada tahun 2001 diperkirakan 120 juta penduduk dunia mengalami gangguan pendengaran. Suara yang tidak diinginkan akan memberikan efek yang kurang baik terhadap kesehatan. Suara merupakan gelombang mekanik yang dihantarkan oleh suatu medium yaitu umumnya oleh udara. Kualitas dan kuantitas suara ditentukan antara lain oleh intensitas (loudness), frekuensi, periodesitas (kontinyu atau terputus) dan durasinya. Faktor-faktor tersebut juga ikut mempengaruhi dampak suatu kebisingan terhadap kesehatan (Mansyur, 2003). Lalulintas jalan merupakan sumber utama kebisingan yang mengganggu sebagian besar masyarakat perkotaan. Salah satu sumber bising lalulintas jalan antara lain berasal dari kendaraan bermotor, baik roda dua, tiga maupun roda empat, dengan sumber penyebab bising antara lain dari bunyi klakson saat kendaraan ingin mendahului atau minta jalan dan saat lampu lalulintas tidak berfungsi. Gesekan mekanis antara ban dengan badan jalan pada saat pengereman mendadak dan kecepatan tinggi; suara knalpot akibat penekanan pedal gas secara berlebihan atau knalpot imitasi; tabrakan antara sesama kendaraan; pengecekan perapian di bengkel pemeliharaan; dan frekuensi mobilitas kendaraan, baik dalam jumlah maupun kecepatan (Depkes, 1995). Pengaruh buruk kebisingan, didefinisikan sebagai suatu perubahan morfologi dan fisiologi suatu organisma yang mengakibatkan penurunan kapasitas fungsional untuk mengatasi adanya stress tambahan atau peningkatan kerentanan suatu organisma terhadap pengaruh efek faktor lingkungan yang merugikan, termasuk pengaruh yang bersifat sementara maupun gangguan jangka panjang terhadap suatu organ atau seseorang secara fisik, psikologis atau sosial. Pengaruh khusus akibat kebisingan berupa gangguan pendengaran, gangguan kehamilan, pertumbuhan bayi, gangguan komunikasi, gangguan istirahat, gangguan tidur, psikofisiologis, gangguan mental, kinerja, pengaruh terhadap perilaku permukiman, ketidak nyamanan, dan juga gan gguan berbagai aktivitas sehari-hari (Mansyur, 2003). Dampak dari kebisingan di lingkungan perumahan terhadap kesehatan masyarakat antara lain gangguan komunikasi,gangguan psikologis, keluhan dan tindakan demonstrasi, sedangkan keluhan somatik, tuli sementara dan tuli permanen merupakan dampak yang dipertimbangkan dari kebisingan dilingkungan kerja/ industri. Sedangkan gangguan kesehatan

psikologis berupa gangguan belajar, gangguan istirahat, gangguan sholat, gangguan tidur dan gangguan lainnya (Depkes, 1995) Partikel Debu Debu merupakan partikel padat yang terbentuk karena adanya kegiatan alami atau mekanik seperto penghalusan (grinding) penghancuran (cruhsing) , peledakan (blasting), pengayakan (shaking) atau pengeboran (drilling). Adanya partikel debu di tempat kerja dapat memberikan efek ketidak nyamanan dalam bekerja dan debu-debu dari jenis tertentu dapat memberikan pengaruh negatif terhadap kesehatan tenaga kerja. Debu total terdiri dari bermacam-macam elemen dan senyawa dengan berbagai ukuran partikel, mulai dari ukuran yang terkecil sampai dengan ukuran 100 micron. Pengukuran kadar debu total dilakukan dengan teknik gravimetri. Pengambilan sample (sampling) dilakukan pada zona pernafasan pekerja (breathing zone). Media sampling yang digunakan adalah filter yang bersifat hidrofobik dengan ukuran pori 0,5 micron (misalnya dari jenis PVC, fiberglass). Pencemaran udara oleh partikel dapat disebabkan karena peristiwa alamiah dan dapat pula disebabkan karena ulah manusia, lewat kegiatan industri dan teknologi. Partikel yang mencemari udara banyak macam dan jenisnya, tergantung pada macam dan jenis kegiatan industri dan teknologi yang ada. Mengenai macam dan jenis partikel pencemar udara serta sumber pencemarannya telah banyak Secara umum partikel yang mencemari udara dapat merusak lingkungan, tanaman, hewan dan manusia. Partikel-partikel tersebut sangat merugikan kesehatan manusia. Pada umumnya udara yang telah tercemar oleh partikel dapat menimbulkan berbagai macam penyakit saluran pernapasan atau pneumoconiosis. Pada saat orang menarik nafas, udara yang mengandung partikel akan terhirup ke dalam paru-paru. Ukuran partikel (debu) yang masuk ke dalam paru-paru akan menentukan letak penempelan atau pengendapan partikel tersebut. Partikel yang berukuran kurang dari 5 mikron akan tertahan di saluran nafas bagian atas, sedangkan partikel berukuran 3 sampai 5 mikron akan tertahan pada saluran pernapasan bagian tengah. Partikel yang berukuran lebih kecil, 1 sampai 3 mikron, akan masuk ke dalam kantung udara paru-paru, menempel pada alveoli. Partikel yang lebih kecil lagi, kurang dari 1 mikron, akan ikut keluar saat nafas dihembuskan. Pneumoconiosis adalah penyakit saluran pernapasan yang disebabkan oleh adanya partikel (debu) yang masuk atau mengendap di dalam

paru-paru. Penyakit pnemokoniosis banyak jenisnya, tergantung dari jenis partikel (debu) yang masuk atau terhisap ke dalam paru-paru. Beberapa jenis penyakit pneumoconiosis yang banyak dijumpai di daerah yang memiliki banyak kegiatan industri dan teknologi, yaitu Silikosis, Asbestosis, Bisinosis, Antrakosis dan Beriliosis. Berat debu yang tersampling dibagi dengan volume udara saat pengambilan contoh dinyatakan sebagai kadar debu total di udara tempat kerja. Untuk menghitung kadar debu total di tempat kerja selama 8 jam kerja/hari, digunakan rumus sebagai berikut: Suhu dan Kelembaban Kelembaban udara adalah kadar uap air yang ada di udara. Dimana kelembaban udara merupakan bagian dari komponen iklim yang memiliki pengaruh terhadap lingkungan. Dalam atmosfer (lautan udara) senantiasa dapat uap air, kadar uap air dalam udara disebut kelembaban udara, kadar ini selalu berubah-ubah tergantung pada temperatur udra setempat. Kelembaban udara adalah persentase kandungan uap air dalam udara. Penguapan adalah perubahan air dari keadaan cair keadaan gas, agar supaya air dimana-mana dapat menguap, maka diperlukan satuan jumlah panas yang terbuka saja, tetapi dapat juga terjadi langsung dari tanah dan lebih-lebih dari tumbuhtumbuhan. Seperti halnya daun tumbuh-tumbuhan dapat menguapkan air banyak sekali. Jumlah uap air dalam udara tidaklah tetap atau konstan. Kesanggupan udara untuk menampung uap air juga berubah-ubah, udara tidak dapat memuat air tampa batas. Kesanggupan udara menampung uap air ditemukan oleh temperature massa udara. Massa yang panas dapat mengandung lebih banyak uap air dibandingkan dengan massa udara yang dingin, apabila kesanggupan itu telah sampai pada puncaknya atau maxsimumnya, maka hal ini disebut dengan udara itu kenyang. Jika suatu sebab terjadi lagi penurunan temperatur maka jumlah uap air tersebut maka dapat dipertahankan lagi, artinya air yang berlebihan dipisahkan sebagai titik air. SO2 Udara adalah unsur yang sangat penting untuk mempertahankan kehidupan manusia, binatang, dan tumbuh-tumbuhan di mana semuanya ini membutuhkan udara untuk tetap dapat mempertahankan hidupnya. Udara ambien yang dihirup oleh makhluk hidup dikenal dengan kualitas udara ambien merupakan hal pokok yang harus tetap dijaga kualitasnya, agar dapat dimanfaatkan sesuai dengan fungsinya. Udara yang tercemar mempunyai

tingkat konsentrasi bahan pencemar baik dalam bentuk gas maupun padat lebih tinggi dari yang umumnya terdapat di lingkungan alam.

Tujuan 1 Mengetahui kepadatan kendaraan yang melintasi jalan Godean Km.4 Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta pada Hari Senin tanggal 3 Desember 2012. Mengetahui tingkat kebisingan jalan Godean Km.4 Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta pada Hari Senin tanggal 3 Desember 2012. Mengetahui kadar partikel debu jalan Godean Km.4 Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta pada Hari Senin tanggal 3 Desember 2012. Mengetahui suhu dan kelembaban jalan Godean Km.4 Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta pada Hari Senin tanggal 3 Desember 2012. Mengetahui kepadatan SO2 jalan Godean Km.4 Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta pada Hari Senin tanggal 3 Desember 2012.

2 3 4 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A Kepadatan Kendaraan 1 Definisi Kemacetan Pengertian mengenai kemacetan yang telah dikutip dari dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Transportasi dikatakan bahwa Kemacetan merupakan situasi atau keadaan tersendatnya atau bahkan terhentinya lalu lintas yang disebabkan oleh banyaknya jumlah kendaraan melebihi kapasitas jalan. Kemacetan banyak terjadi di kota-kota besar, terutamanya yang tidak mempunyai transportasi umum yang baik atau memadai ataupun juga tidak seimbangnya kebutuhan jalan dengan kepadatan penduduk.[1] Dapat dikatakan bila kemacetan merupakan suasana menumpuknya kendaraan yang ada di jalan raya yang disebabkan oleh kapasitas jalan yang tidak sepadan dengan jumlah kendaraan yang ada. Angka dari jumlah kendaraan yang terus bertambah dan kapasitas jalan yang tetap menyebabkan terjadinya penumpukan julah kendaraan di dalam jala raya. 2 Pengertian lalu lintas Pengertian mengenai lalu lintas seperti yang diungkapakan dalam dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Lalu_lintas, dikatakan bahwa pengertian lalu lintas di dalam Undang-undang No 22 tahun 2009 didefinisikan sebagai gerak kendaraan dan orang di ruang lalu lintas jalan, sedang yang dimaksud dengan ruang lalu lintas jalan adalah prasarana yang diperuntukkan bagi gerak pindah kendaraan, orang, dan atau barang yang berupa Jalan dan fasilitas pendukung. Dalam hal ini, kaitan antara kendaraan dan orang dengan ruang lalu lintas jalan merupakan entitas yang keberadaannya selalu berdampingan. Dalam hal ini pemerintah memiliki tujuan untuk mewujudkan lalu lintas dan angkutan jalan yang selamat, aman, cepat, lancar, tertib dan teratur, nyaman dan efisien melalui manajemen lalu lintas dan rekayasa lalu lintas. Tata cara berlalu lintas di jalan diatur dengan peraturan perundangan menyangkut arah lalu lintas, perioritas menggunakan jalan, lajur lalu lintas, jalur lalu lintas dan pengendalian arus di persimpangan. [2] Dalam kaitannya dengan hal ini sebenarnya peran pemerintah dalam mengatur lalu lintas sudah optimal. Akan tetapi karena para pengguna jalan yang semakin bertambah seiring dengan berjalannya waktu, sudah

tetntu menjadi kewajiban bagi pemerintah untuk terus memberikan kontribusinya dalam menyediakan suasana lalu lintas yang baik. 3 Pengertian Transportasi Transportasi adalah pemindahan manusia atau barang dari satu tempat ke tempat lainnya dengan menggunakan sebuah kendaraan yang digerakkan oleh manusia atau mesin. Transportasi digunakan untuk memudahkan manusia dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Di negara maju, mereka biasanya menggunakan kereta bawah tanah dan taksi. Penduduk disana jarang yang mempunyai kendaraan pribadi karena mereka sebagian besar menggunakan angkutan umum sebagai transportasi mereka. Transportasi sendiri dibagi 3 yaitu, transportasi darat, laut, dan udara. 4 Pengertian Perkotaan Menurut Cristaller perkotaan merupakan wilayah yang memiliki fungsi menyelenggarakan penyediaan jasa-jasa bagi daerah lingkungannya. Kota tidak diartikan sebagai pusat pelayanan. Dalam pandangan ini, dapat dikatakan bila perkotaan merupakan daerah penyedia jasa bagi daerah-daerah yang ada disekitarnya. Jika ini ditarik kearah permasalahan tentang kemacetan lalu lintas yang ada. Bisa dikatakan kepadatan daerah perkotaan terjadi karena kota menyediakan penyelenggaraan jasa-jasa bagi daerah-daerah yang ada disekitarnya. Kemacetan yang terjadi di wilayah perkotaan merupakan akibat dari menumpuknya kendaraan dari daerah sekitar perkotaan yang mengadakan aktivitas di wilayah perkotaan[4].

Kebisingan 1 Pengertian Kebisingan di definisakan sebagai suara yang tidak dikehendaki yang timbul dari berbagai peralatan peralatan, baik peralatan industri ataupun rumah tangga yang dapat menimbulkan gangguan pada kesahatan, kenyamanan, dan gangguan pada pendengaran bahkan dapt dapat menimbulkan ketulian. Bising dalam kesehatan kerja diartiakan sebagai suara yang dapat menurunkan pendengaran baik secara kuantitatif (peningkatan ambang pendengaran) maupun secara kualitatif (penyempitan spektrum pendengaran), berkaitan dengan faktor intensitas, frekuensi, durasi dan

pola waktu. Intensitas diartikan sebagai banyaknya arus energi yang diterima oleh pendengaran per satuan luas, biasanya disebut desibel atau ditulis dBA. Frekuensi diartikan sebagai jumlah getaran dalamtekanan suara yang diterima oleh pendengaran per satuan waktu (Hertz per detik). Durasi diartikan sebagai waktu dari suatu sumber suara atau bunyi yang diterima oleh pendengaran. Sedangkan pola waktu adalah seberapa sering pendengaran menerima suara atau bunyi. Namun secara sederhana kebisingan dapat didefinisikan sebagai suatu suara yang menggangu orang yang sedang membaca atau mendengarkan musik, maka suara itu adalah kebisingan bagi orang itu meskipun mungkin orang lain tidak terganggu oleh suara tersebut. 2 Jenis-Jenis Kebisingan a Kebisingan Kontinyu (Steady state noise): kebisingan dengan fluktuasi dari intensitasnya tidak lebih dari 6 dB. b Kebisingan Impulsif (impulse noise): kebisingan dimana waktu yang dibutuhkan untuk mencapai puncak intensitasnya kurang 35 milidetik dan untuk penurunan sampai 20 dB adalh 500 milidetik c Kebisingan terputus putus (Intermitten noise) adalah kebisingan dimana suara keras dan kemudian melemah secara perlahan lahan. 3 Dampak Kebisingan a Pengaruh pada Indera pendengaran ( auditory Effect ) dibedakan menjadi 3 : 1 Trauma akustik : gangguan pendengaran yang disebabkan oleh pemaparan tunggal yang sangat tinggi dan terjadi secara tiba tiba 2 Kenaikan ambang pendengaran sementara (temporery Thresholt Shift) yaitu gangguan pendengaran yang bersifat sementara karena perubahan intensitas bunyi dan stl keluar dari lingk akan pulih kembali 3 Kenaikan ambang pendengaran tetap : gangguan pendengaran yang tidak bisa dipulihkan/ketulian menetap. b Pengaruh Non Auditory 1 Gangguan perasaan biasanya menjadi mudah tersinggung (annoyance) 2 Gangguan pembicaraan (speech Interverence) 3 Gangguan tidur (sleep Interverence) 4 Gangguan kesehatan 4 Nilai Ambang Batas Kepampuan setiap orang berbeda beda untuk menerima kebisingan, biasanya dipengaruhi umur, tingkat pendidikan, kesukaan, dll.

NAB Adalah intensitas kebisingan dimana manusia sanggup menerima tanpa menunjukkan gejala sakit atau kelainan pada pemaparan 8 jam. Untuk bidang industri di indonesia ditetapkan NAB ditetapkan 80 dB (SK Menaker No 01/1978. Baku tingkat kebisingan adalah batas maksimal tingkat kebisingan yang diperbolehkan dibuang ke lingkungan dari usaha atau kegiatan sehingga tidak menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan (KepMenLH No.48 Tahun 1996). Baku tingkat kebisingan (Nilai Ambang Batas,NAB) peruntukan kawasan/lingkungan dapat dilihat pada tabel dibawah ini (KepMenLH No.48 Tahun 1996) :

Pengukuran Kebisingan Dilakukan untuk membandingkan hasil pengukuran dengan NAB yang ditetapkan. Pengukuran untuk pengendalian dilakukan di tempat kerja pada pagi,siang dan sore. Pengukuran untuk mengetahu efek kebisingan dilakukan secara intenif selama jam kerja, bila pekerja berpindah maka pengukuran mengikuti perpindahan. Alat yang dipergunakan adalah Sound Level Meter

6 Tk Bising Tenang Awal Bising Bising Sangat Bsng Amat sangat Menulikan Sangt

Tingkat Kebisingan Int (dB) Keterangan 0-50 60 70 80 90 100 110 Ruang kantor R Pendingin Pasar,jalan raya Suara pabrik Mesin diesel Pesawat Meriam

Waktu 8 jam 5 jam 20 menit 12 menit

Amat sangat

120 >120

Klakson Roket

5 menit -

Prinsip Pengukuran Pengukuran tingkat kebidingan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu : a Cara sederhana Dengan sound level meter bisa diukur tingkat tekanan bunyi dB (A) selama 10 menit untuk tiap pengukuran. Pemcaan dilakukan setiap 5 detik. b Cara Langsung Dengan sebuah integrating sound level meter yang mempunyai fasilitas pengukuran LTM5 yaitu Leq dengan waktu ukur tiap 5 detik, dilakukan pengukuran selama 10 menit. Keterangan 1 Leq : Equivalent Continous Noise Level atau Tingkat kebisingan sinambung setara ialah nilai tingkat kebisingan dari kebisingan yang berubah ubah (fluktuatif) selama waktu tertentu, yang setara dengan tingkat kebisingan dari kebisingan continue (steady) 2 LTm5 : Leq dengan waktu sampling 5 detik 3 LS : Leq selama siang hari 4 LM : Leq selama malam hari 5 LSM : Leq selama siang dan malam hari 7 a 1 2 3 b 1 Pengendalian Kebisingan Dalam ruangan Pengendalian sumber (simpul I ) : Meredam getaran,mengurangi luas perm getaran,mengatur waktu operasional Pengendalian Media (Simpul II) : memasang peredam, memperbesar jarak. Pengendalian Penerima (Simpul III & IV ) : APD, Diklat kerja, Perbaikan perilaku kerja, Perawatan Penderita. Pengendalian di Lingkungan Bebas Penanaman pohon sepanjang jalan : Dimaksudkan untuk menyerap bunyi yang ditimbulkan oleh kendaraan, hal ini bisa terjadi karena daun daun sebagai benda lunak (tidak memantulkan suara) Pengaturan Lokasi Industri

Industri merupakan sumber bising yang berpotensi menimbulkan gangguan suara, karena mesin produksi yang dipergunakan. Penempatan Industri pada suatu lokasi tertentu dapat mengurangi kebisingan bagi masyarakat 3 Pengautran arus lalu lintas. Pengaturan jalur kendaraan selain dapat mengurangi kemacetan, Mesin kendaraan dan bunyi klakson merupakan sumber bising utama di jalur lalu lintas. Partikel Debu 1 Pengertian Debu merupakan salah satu bahan yang sering disebut sebagai partikel yang melayang di udara (Suspended Particulate Matter / SPM) dengan ukuran 1 mikron sampai dengan 500 mikron. Dalam kasus pencemaran udara, baik dalam maupun di ruang gedung ( Indoor and Out Door Pollution) debu sering dijadikan salah satu indikator pencemaran yang digunakan untuk menunjukan tingkat bahaya baik terhadap lingkungan maupun terhadap kesehatan dan keselamatan kerja. Partikel debu akan berada di udara dalam waktu yang relatif lama dalam keadaan melayang layang di udara kemudian masuk ke dalam tubuh manusia melalui pernafasan. Selain dapat membahayakan terhadap kesehatan juga dapat mengganggu daya tembus pandang mata dan dapat mengadakan berbagai reaksi kimia sehingga komposisi debu di udara menjadi partikel yang sangat rumit karena merupakan campuran dari berbagai bahan dengan ukuran dan bentuk yang relatif berbeda beda. Macam-Macam Debu Dari sifatnya debu dikategorikan pada: a b c Sifat pengendapan, yaitu debu yang cenderung selalu mengendap karena gaya gravitasi bumi. Sifat permukaan basah, sifatnya selalu basah dilapisi oleh lapisan air yang sangat tipis. Sifat penggumpalan, karena sifat selalu basah maka debu satu dengan yang lainnya cenderung menempel membentuk gumpalan. Tingkat kelembaban di atas titik saturasi dan adanya turbelensi di udara mempermudah debu membentuk gumpalan. Debu listrik statik, debu mempunyai sifat listrik statis yang dapat menarik partikel lain yang berlawanan dengan demikian partikel dalam larutan debu mempercepat terjadinya penggumpalan.

Sifat opsis, partikel yang basah/lembab lainnyadapat memancarkan sinar yang dapat terlihat dalam kamar gelap. Dari macamnya debu juga dapat dikelompokan kedalam Debu Organik (debu kapas, debu daun-daunan, tembakau dan sebagainya)., Debu Mineral (merupakan senyawa komplek : SiO2, SiO3, arang batu dll) dan Debu Metal (Debu yang mengandung unsur logam: Pb, Hg, Cd, Arsen, dll). Dari segi karakter zatnya debu terdiri atas Debu fisik (debu tanah, batu, mineral, fiber) Kimia (Mineral organik dan inorganik) Biologis ( Virus, bakteri, kista) dan debu radio aktif. Ditempat kerja jenis jenis debu ini dapat ditemui di kegiatan pertanian, pengusaha keramik, batu kapur, batu bata, pengusaha kasur, pasar tradisional, pedagang pinggir jalanan dan lain lain. 3 Ambang Batas Debu Ukuran debu sangat berpengaruh terhadap terjadinya penyakit pada saluran pernafasan.Dari hasil penelitian ukuran tersebut dapat mencapai target organ sebagai berikut: a b c d e 5-10 mikron = akan tertahan oleh saluran pernafasan bagian atas 3-5 Mikron akan tertahan oleh saluran pernafasan bagian tengah 1-3 mikron sampai dipermukaan alveoli 0,5-0,1 mikron hinggap dipermukaan alveoli/selaput lendir sehingga menyebabkanvibrosis paru

0,1-0,5 mikron melayang dipermukaan alveoli. Menurut WHO 1996 ukuran debu partikel yang membahayakn adalah berukuran 0,1 5 atau 10 mikron. Depkes mengisaratkan bahwa ukuran debu yang membahayakan berkisar 0,1 sampai 10 mikron. 4 Dampak Pencemaran Oleh Debu Partikel debu selain memiliki dampak terhadap kesehatan juga dapat menyebabkan gangguan sebagai berikut: a Gangguan aestetik dan fisik seperti terganggunya pemandangan dan pelunturan warna bangunan dan pengotoran. b Merusak kehidupan tumbuhan yang terjadi akibat adanya penutupan pori pori tumbuhan sehingga mengganggu jalannya photo sintesis. c Merubah iklim global regional maupun internasional d Menganggu perhubungan/ penerbangan yang akhirnya menganggu kegiatan sosial ekonomi di masyarakat. e Menganggu kesehatan manusia seperti timbulnya iritasi pada mata, alergi, gangguan pernafasan dan kanker pada paru-paru. Efek

5 a

debu terhadap kesehatan sangat tergantung pada: Solubity (mudah larut), Komposisi Kimia, Konsentrasi Debu, dan Ukuran partikel debu Jenis Penyakit akibat Kerja yang diAkibatkan oleh Debu Pneumokoniosis disebabkan oleh debu mineral pembentukan jaringan parut (Silikosis,antrakosilikosis, asbestosis) Gejala penyakit ini berupa sakit paru paru, namun berbeda dengan penyakit TBC paru. Silikosis adalah penyakit yang paling penting dari golongan penyakit Pneumokonioses. Penyebabnya adalah silika bebas (SiO2) yang terdapat dalam debu yang dihirup waktu bernafas dan ditimbun dalam paru paru dengan masa inkubasi 2-4 tahun. Pekerja yang sering terkena penyakit ini umumnya yang bekerja di perusahaan yang menghasilkan batu-batu untuk bangunan seperti granit, keramik, tambang timah putih, tambang besi, tambang batu bara, dan lain lain.Gejala penyakit ini dapat dibedakan pada tingkat ringan sedang dan berat. Pada tingkat Ringan ditandai dengan batuk kering, pengembangan paru-paru. Pada lansia didapat hyper resonansi karena emphysema.Pada tingkat sedang terjadi sesak nafas tidak jarang bronchial, ronchi terdapat basis paru paru. Pada tingkat berat terjadi sesak napas mengakibatkan cacat total, hypertofi jantung kanan, kegagalan jantung kanan. Anthrakosilikosis ialah pneumokomiosis yang disebabkan oleh silika bebas bersama debu arang batu. Penyakit ini mungkin ditemukan pada tambang batu bara atau karyawan industri yang menggunakan bahan batu bara jenis lain. Gejala penyakit ini berupa sesak nafas, bronchitis chronis batuk dengan dahak hitam (Melanophtys). Asbestosis adalah jenis pneumokoniosis yang disebabkan oleh debu asbes dengan masa latennya 10-20 tahun. Asbes adalah campuran berbagai silikat. Yang terpenting adalah campuran magnesium silikat pekerja yang umumnya terkena penyakit ini adalah pengelola asbes, penenunan, pemintalan asbes dan reparasi tekstil yang terbuat dari asbes. Gejala yang timbul berupa sesak nafas, batuk berdahak/riak terdengan rhonchi di basis paru, cyanosis terlihat bibir biru. Gambar radiologi menunjukan adanya titik titik halus yang disebut Iground glass appearance, batas jantung dengan diafragma tidak jelas seperti ada duri duri landak sekitar jantung (Percupine hearth), jika sudah lama terlihat penumpukan kapur pada jaringan ikat. Berryliosis, Penyebabnya adalah debu yang mengandung Berrylium, terdapat pada pekerja pembuat aliasi berrylium tembaga,

pada pembuatan tabung radio, pembuatan tabung Fluorescen pengguna sebagai tenaga atom. f Byssinosis disebabkan oleh debu kapas atau sejenisnya dikenal dengan : Monday Morning SyndromaatauMonday Fightnes Sebag gejala timbul setelah hari kerja sesudah libur, terasa demam, lemah badan, sesak nafas, baruk-batuk,Vital Capacity jelas menurun setelah 5-10 tahun bekerja dengan debu. Stannosis Penyebab debu bijih timah putih (SnO). Siderosis disebabkan oleh debu yang mengandung (Fe202). Pengendalian/Pencegahan Terhadap sumbernya Pengontrolan debu di ruang kerja terhadap sumbernya antara lain : 1 Isolasi sumber agar tidak mngeluarkan debu di ruang kerja dengan Local Exhausteratau Dengan melengkapi Water Sprayer pada cerobong asap 2 Subtitusi alat yang mengeluarkan debu dengan yang tidak mengeluarkan debu. Pencegahan terhadap transmisi 1 Memakai metoda basah yaitu, penyiraman lantai, pengeboran basah, (Wet Drilling) 2 Dengan alat (Scrubber, Electropresipitator, Ventilasi Umum) Pencegahan terhap tenaga kerjanya Antara lain menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) dengan menggunakan masker.

g h 6 a

Suhu dan Kelembaban 1 Suhu Suhu adalah besaran yang menyatakan derajat panas dingin suatu benda dan alat yang digunakan untuk mengukur suhu adalah thermometer. Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat untuk mengukur suhu cenderung menggunakan indera peraba. Tetapi dengan adanya perkembangan teknologi maka diciptakanlah termometer untuk mengukur suhu dengan valid. 2 Kelembaban

Kelembaban merupakan salah satu faktor lingkungan abiotik yang berpengaruh terhadap aktifitas organisme di alam. Kelembaban merupakan jumlah uap air di udara, sedangkan kelembaban mutlak adalah sejumlah uap air dalam udara yang dinyatakan sebagai berat per satuan udara (misalnya gram per kilogram udara). Jumlah upa air yang terdapat di udara (pada kejenuhan tertentu) dipengaruhi oleh temperature dan tekanan, sehingga kelembaban nisbi adalah persentase uap air sebenarnya ada dibandingkan dengan kejenuhan di bawah temperature dan tekanan tertentu. Kelembaban merupakan salah satu faktor ekologis yang mempengaruhi aktifitas organisme seperti penyebaran, keragaman harian, keragaman vertical dan horizontal (Umar, 2012). 3 Kelembaban Udara Kelembaban udara menyatakan banyaknya uap air dalam udara. Kandungan uap air ini penting karena uap air mempunyai sifat menyerap radiasi bumi yang akan menentukan cepatnya kehilangan panas dari bumi sehingga dengan sendirinya juga ikut mengatur suhu udara (Prabu, 2009). Kelembaban udara menggambarkan kandungan uap air di udara yang dapat dinyatakan sebagai kelembaban mutlak, kelembaban nisbi (relatif) maupun defisit tekanan uap air. Kelembaban mutlak adalah kandungan uap air (dapat dinyatakan dengan massa uap air atau tekanannya) per satuan volum. Kelembaban nisbi membandingkan antara kandungan/tekanan uap air aktual dengan keadaan jenuhnya atau pada kapasitas udara untuk menampung uap air (Dwi, 2011). Kelembaban udara yang lebih tinggi pada udara dekat permukaan pada siang hari disebabkan karena penambahan uap air hasil evapotranspirasi dari permukaan. Proses ini berlangsung karena permukaan tanah menyerap radiasi matahari selama siang hari tersebut. Pada malam hari, akan berlangsung proses kondensasi atau pengembunan yang memanfaatkan uap air yang berasal dari udara. Oleh sebab itu, kandungan uap air di udara dekat permukaan tersebut akan berkurang (Wiwik, 2012). Kelembaban relatif yang merupakan ukuran bagi kemampuan udara pada suhu yang ada untuk menyurap uap lebih lanjut. Kelembaban relative diukur dengan menghembuskan udara pada 2 buah thermometer, salah satu diantaranya dibungkus dengan kain basah (bola basah) dan lainnya kering (bola kering), thermometer tersebut dinamakan Psykrometer. Faktor lain yang mempengaruhi evaporasi adalah

kelembaban relative udara. Jika kelembaban relatif naik maka kemampuan udara untuk menyerap air akan berkurang (Soemarto, 1986) Kelembaban nisbi beragam secara terbaik dengan suhu, pengukuran-pengukuran yang lebih teliti dengan kelembaban sekilas diperoleh dengan psikrometer. Psikrometer yang lazim digunakan secara berkala untuk memeriksa ketelitian Higrometer rambut. Pengukuranpengukuran psikrometer secara sederhana terdiri atas pengukuranpengukuran suhu berpasangan yang satu dengan thermometer bola kering dan thermometer bola basah. Kelmbaban dapat dinyatakan dalam kwanitas-kwanitas mutlak/relatif untuk maksud-maksud tertentu. Neraca kelembaban merupakan suatu bagian intergral dari prosedur perencanaan komprehensif yang berskala besar (Richard, 19880). Kelembaban yang mutlak adalah bilangan yang menyatakan uapuap air yang ada dalam 1 meter kubit udara (gram uap air/m3 udara). Kelembaban spesifik adalah bilangan yang menyatakan berat uap air yang ada dalam 1 kg udara lembab atau basah (gram uap air/kg udara basah). Kelembaban spesifik pada gerakan vertikal tetap sam jika selama itu tidak terjadi pengembunan atau kondensasi. Kelembaban spesifik/ nisbi adarah ukuran untuk tingkat kekenyangan suatu massa udara dengan uap air. Kelembaban relative dinyatakan dengan perbandingan antara perbandingan antara jumlah uap air yang besar-besar ada dalam udara dengan jumlah uap air yang maxsimum dikali seratus dinyatakan dalam persen (%) (karim, 1986). E SO2 Gas sulfur dioksida (SO2) adalah gas yang tidak berbau bila berada pada konsentrasi rendah tetapi akan memberikan bau yang tajam pada konsentrasi pekat. Sulfur dioksida berasal dari pembakaran bahan bakar fosil, seperti minyak bumi dan batubara. Pembakaran batubara pada pembangkit listrik adalah sumber utama pencemaran SO2. Selain itu berbagai proses industri seperti pembuatan kertas dan peleburan logam-logam dapat mengemisikan SO2 dalam konsentrasi yang relatif tinggi. SO2 adalah kontributor utama hujan asam. Di dalam awan dan air hujan SO2 mengalami konveksi menjadi asam sulfur dan aerosol sulfat di atmosfer. Bila aerosol asam tersebut memasuki sistem pernafasan dapat terjadi berbagai penyakit pernafasan seperti gangguan pernafasan hingga kerusakan permanent pada paru-paru. Sumber-sumber SO2 buatan adalah pembakaran bahan bakar minyak, gas, dan batubara yang mengandung sulfur

tinggi. Sumber-sumber ini diperkirakan memberi kontribusi sebanyak sepertiganya saja dari seluruh SO2 atmosfir/tahun. Akan tetapi, karena hamper seluruhnya berasal dari buangan industri, maka hal ini dianggap cukup gawat. Apabila pembakaran bahan bakar fosil ini bertambah dikemudian hari, maka dalam waktu singkat sumber-sumber ini akan dapat memproduksi lebih banyak SO2 daripada sumber alamiah. Sulfur dioksida atau SO2 adalah bagian dari Sox. Gas ini dengan mudah larut dalam air. Sumber SO2 dapat berasal dari pembakaran batubara, industri, dan kendaraan umum. Pengaruh Sulfur dioksida terhadap kesehatan ialah memperberatpenyakit asma dan penyakit lain yang berhubungan dengan pernapasan,dapat menyebabkan penyakit-penyakit yang berhubungan denganpernapasan, menyebabkan kesukaran dalam bernapas bahkan sampai menimbulkan kematian (Philp, 2001). Pajanan jangka pendek terhadap sulfur dioksida dapat menyebabkan konstriksi saluran udara pernapasan pada penderita asthma dan individu sensitif lainnya. Sedangkan pajanan kronik dapat menyebabkan penebalan selaput lendir trachea, mirip dengan bronkhitis kronik. Penebalan tersebut dapat menyelimuti dan membuat tidak aktifnya getaran atau denyut lapisan rambut getar dari saluran pernapasan atas,yang pada keadaan normal berfungsi mengeluarkan agen infeksius danpartikel asing (Kusnoputranto, 1999).

BAB III PELAKSANAAN KEGIATAN A Menyiapkan Alat dan Bahan Alat : 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Bahan : 1 Glass fiber filter Counter Alat tulis Stopwacth Sound Level Meter Formulir B1 dan Bis 2 Pencatat Waktu LVAS (Low Volume Air Sampel) Sumber listrik Roll kabel Almari pengering Pinset Desikator Neraca analitik Box penyimpan sampel Petridish Sling Psychrometer Chart Psychrometer Midged impinger Pompa sampling udara

2 B

SO2 in air tes kit

Langkah Kerja 1 a b c d 2 Pengukuran Kepadatan Kendaraan Menentukan lokasi yang akan dijadikan tempat pemeriksaan Menyiapkan semua alat dan bahan yang dibutuhkan Menghitung jumlah kendaraan yang lewat di jalan Godean selama 15 menit (kendaraan yang dihitung meliputi kendaraan roda 2 dan roda 4) Mencatat hasil perhitungan jumlah kendaraan yang lewat selama 15 menit. Pengukuran Kebisingan a Menentukan titik sampling yang baik, b Memegang sound level meter pada ketinggian 1,00 1,20 meter c Mengarahkan mikrofon ke sumber suara d Menghidupkan SLM dengan menggeser tombol swicht On/Of e Menyetel respon F (fast) Dan filter A pada intensitas yang kontinue atau slow pada intensitas impulsive. f Menggeser range suara, sesuai dengan intensitas bunyi lingkungan g Mencatat angka yang muncul pada display setiap 5 detik pada form Bis 1 h Melakukan pengukuran selama 10 menit i Mengelompokkan hasil pengukuran dengan Formulir Bis 2 j Menghitung tingkat kebisingan dengan rumus sebagai berikut
P1 L = X + ( -------------------------------- ) C P1 + P2

3 a b

Keterangan : L : Tingkat Kebisingan X : Batas bawah kelas yang mengandung modus P1 : Beda frekuensi kelas modus dengan klas dibawahnya P2 : Beda frekuensi kelas modus dengan klas di atasnya C : Lebar Kelas Pengukuran Partikel Debu Glass filter di keringkan dalam almari pengering/oven dalam suhu 105 C selama 1 jam.
0

Kemudian mendinginkan dalam desikator selama 15 menit.

c d e

Menimbang glass filter tersebut dengan neraca analitik (sebagai berat glass filter A). Kemudian filter dipasang pada filter holder. Memasang inlet pada LVAS setinggi 1,5 meter, selanjutnya atur kecepatan udara sebesar 1 LPM, dengan menekan tombol ON, memutar tombol pengaturan LPM sampai bola berada pada angka 1. Kemudian dipaparkan selama 15 menitpada udara ambien. Setelah sampling selesai, gelas filter diambil dan dikeringkan dalam almari pengering /oven pada suhu 1050C selama 1 X 24 jam dan suhu distabilkan selama 30 menit dalam desikator. Kemudian menimbang dengan neraca analitik (sebagai berat glass filter B). Melakukan perhitungan berat partikel dengan rumus yang sudah ditentukan. Pengukuran Suhu dan Kelembaban

f g

h i 4 a b

Membasahi ujung benang sampai pada ujung termometer basah Memutar sling psychrometer hingga benang menjadi basah uap selama 15 menit ( dilakukan 3x pengulangan ), pada saat memutar dilakukan di atas kepala Membaca suhu pada termometer basah dan kering Menambahkan suhu basah dan kering kemudian dibagi 2, sebagai suhu ruang Mencocokkan dengan grafik suhu kelembaban Cara membaca grafik : 1 2 3 4 Menghitung / mengkonversikan suhu dari termometer (Celcius) menjadi suhu Fahrenheit Garis mendatar pada grafik menunjukkan suhu kering Garis diagonal menunjukkkan suhu basah Perpotongan antara suhu basah dan kering merupakan kelembaban

c d e f

5 g

Mengikuti garis melengkung sehingga diketahui kelembaban

Dilakukan untuk pembacaan kelembaban udara relatif dapat berdasarkan hasil pembacaan skala thermometer basah dan kering yang didempetkan pada skala yang terdapat pada Sling Psychrometer. Pengukuran SO2

5 a

Menuangkan 10 ml larutan penyerap SO2 ke dalam midget impinger. Midget impinger dihubungkan dengan pompa sampling udara. Lalu hidupkan dengan menekan tombol ON Memaparkan sampling selama 10 menit dengan kecepatan 1 Lpm Setelah selesai , larutan penyerap di tuang ke tabung kecil yang ada di SO2 kit dengan kode (0223) sampai tanda garis. Menambahkan satu sendok reagen #1 dengan menggunakan sendok ukuran 0,25 g (0645) , kemudian tabung ditutup dan di campur hingga bubuk larut. Menambahkan 1 ml NaOH 1 N dengan menggunakan pipet 1 ml (0354) ditutp dan di bolak-balik hingga tercampur . Ke dalam tabung besar (0204) diisikan 2 ml indicator SO2 dengan menggunakan pipet 1 ml yang lain. Menuangkan isi tabung kecil (0230) ke tabung besar (0204) yang telah diisi larutan indicator SO2. Menutup dan segera di bolak-balikan 6 x sambil memegangi tutup tabung tersebut kuat-kuat dengan jari telunjuk. Menunggu selama 15 menit selanjutnya tabung ditempatkan ke dalam komparator dan mencocokan warna sampel dengan indeks standar warna.

b c d

e f g

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A Hasil 1 Pengukuran Kepadatan Kendaraan Hasil Kendaraan Bermotor Kearah Timur a b Kendaraan bermotor roda 2 adalah sebanyak 619 buah Kendaraan bermotor roda 4 adalah sebanyak 120 buah Hasil Motor roda 2 x 0,5 = 619 x 0,5 = 354,5 Motor roda 4 x 1,0 = 120x 1,0 = 120 Jumlah total 474,5 per 15 menit Hasil Kendaraan Bermotor Kearah Barat a b Kendaraan bermotor roda 2 adalah sebanyak 561 buah Kendaraan bermotor roda 4 adalah sebanyak 127 buah Motor roda 2 x 0,5 = 561 x 0,5 = 280,5 Motor roda 4 x 1,0 = 127 x 1,0 = 127 Jumlah total 407,5 per 15 menit 2 Pengukuran Kebisingan FORMULIR BIS 1 Lokasi : Jalan Godean titik 2 Waktu : Senin, 3 November 2012 pukul 15.00 WIB-selesai 1 1 2 3 74,7 81,8 79,9 2 75,6 76,2 80,7 3 75,7 74,6 80,8 4 77,8 79,2 73,8 5 80,9 79,4 77,6 6 74,7 76,4 83,4 7 74,6 76,8 82,6 8 76,7 72,5 79,3 9 73,7 73,9 73,6 10 75,5 74,2 75,5

4 5 6 7 8 9 10 11 12

75,8 89,9 78,0 94,0 81,2 73,8 78,1 74,5 77,4

76,9 80,8 81,8 84,9 80,7 92,6 76,8 75,9 77,6

77,1 81,0 83,9 81,6 71,6 80,6 76,0 78,0 79,3

74,8 80,1 77,8 80,2 74,7 79,6 75,7 77,0 78,6

74,8 77,8 78,7 69,9 67,8 76,5 73,8 82,6 79,6

79,7 77,9 80,0 74,4 73,2 84,8 70,7 79,0 74,9

79,9 70,1 74,5 75,8 67,3 74,5 79,4 73,9 72,5

74,0 74,2 77,1 80,7 68,1 98,1 81,6 83,1 79,8

73,3 71,9 73,5 76,4 77,1 79,3 72,7 88,2 94,3

81,8 75,7 78,5 77,1 74,2 78,0 71,5 77,5 75,1

FORMULIR BIS 2 KELAS INTERVAL 30 34 35 39 40 44 45 49 50 54 55 59 60 64 65 69 70 74 75 79 80 84 85 89 4 34 52 24 2 3,33 28,33 43,33 20 1,66 4 38 90 114 116 3,33 31,66 74,99 94,99 96,65 JUMLAH PROSEN JUMLAH KOMULATIF PROSEN KOMULATIF

90 94 95 99 100 104 105 109 110 114

3 1

2,50 0,83

119 120

99,15 100

Hasil Pengukuran Kebisingan : P1 L = X + ( -------------------------------- ) C P1 + P2 52 34 L = 75 + ( -------------------------------- ) 5 (52 34) + (52 24) 18 L = 75 + ( -------------------------------- ) 5 18 + 28 18 L = 50 + (------- ) 5 46 L = 50 + 1,95 L = 76,95 dB 3 Pengukuran Partikel Debu Hasil pengambilan dan pemeriksaan sampel partikel debu udara Ambien di jalan Godean KM 4, diperoleh data sebagai berikut: a b Berat petridish = 46,9538 gram Berat awat glass filter (A gram) = 63,5057 c Berat akhir glass filter (B gram) = 63,70 Hasil perhitungan: Berat partikel = x 1000

= x 1000

= 4x 1000 = 12,95 gram 4 Pengukuran Suhu dan Kelembaban Suhu basah = 13 C Suhu kering = 26,5 C a Suhu ruang = (Suhu basah + Suhu Kering )/2 = (13+26,5)/2 = 14,75 o C b 1 Kelembaban : Suhu Basah (13 o celcius) = ( 9/5 x 13 o) + 32 = 55,4 o F 2 Suhu Kering (26,5 o celcius) = ( 9/5 x 28,5 ) + 32 = 83,3 o F 3 Kelembaban : Titik potong garis suhu kering dan suhu basah yaitu pada garis lengkung adalah 25 % 5 Pengukuran SO2 Dari pemeriksaan yang telah dilakukan di ketahui indeks standar warna menunjukkan angka 0 mg/m3, yang berarti kadar SO2 udara di pinggir jalan godean adalah netral.

Pembahasan

Kepadatan Kendaraan

Kendaraan yang berada di jalur sebelah utara ( menuju arah timur) dengan jumlah perhitungan total adalah sebanyak 474,5 per 15 menit. Jumlah ini terdiri dari kendaraan bermorot dengan roda 2 sebanyak 619 buah dan untuk roda 4 berjumlah 120 buah. Kendaraan yang berada pada jalur selatan (menuju arah barat )dengan jumlah total adalah sebanyak 407, 5 per 15 menit pengamatan. Jumlah tersebut terdiri dari kendaraan bermotor roda 2 berjumlah 280, 5 buah dan kendaraan bermotor roda 2 sejumlah 127 buah. Kepadatan lalu lintas ini sangat mempengaruhi dengan kegiatan pencemaran udara yang disebabkan oleh emisi gas buang yang dihasilkan dari setiap kendaraan bermotor.

Kebisingan

Kebisingan merupakan salah satu masalah kesehatan lingkungan di kota-kota besar. Bising adalah bunyi yang tidak dikehendaki yang dapat mengganggu dan atau membahayakan kesehatan. Untuk mengetahui tingkat kebisingan di suatu daerah, perlu dilakukan pengukuran dengan menggunakan alat Sound Level Meter. Dalam praktik ini, pengukuran kebisingan dilakukan di Jalan Raya Godean KM 4,5, Sleman, Yogyakarta dengan metode pengukuran sederhana. Penghitungan dilakukan setiap 5 detik sekali selama 10 menit, sehingga dalam formulir BIS 1 diperoleh 120 data. Dari data tersebut kemudian dikonversikan ke formulir BIS 2 untuk mengetahui jumlah dan prosentasenya. Dari formulir BIS 2 dapat diketahui interval kelas dengan jumlah terbesar, kemudian dapat dilakukan penghitungan tingkat kebisingan dengan rumus sebagai berikut P1 L = X + ( -------------------------------- ) C P1 + P2 Dari data diperoleh hasil penghitungan tingkat kebisingan L= 76,95. Berdasarkan penggolongannya, tingkat kebsingan di Jalan Godean tergolong bising.

Partikel Debu

Pengambilan sampel dilakukan di Jalan Godean KM 4 dengan menggunakan LVAS (Low Volume Air Sampel) setinggi 1,5 meter dan dipaparkan di udara ambient sekitar area pengambilan sampel selama 15 menit dengan kecepatan 1 LPM. Dan dilakukan langkah-langkah praktikum sesuai prosedur mulai dari penimbangan awal sampai penimbangan akhir. Dan didapatkan hasil akhir berat partikel pada glass filter sebesar 12,95 gram. Namun, saat penyimpanan di dalam box penyimpan sampel terjadi sedikit kesalahan teknis, yaitu terjatuhnya box penyimpan glass filter sampel. Jadi tidak menutup kemungkinan terjadinya kerancuan dalam hasil praktikum. Namun, dibalik itu semua kami selaku praktikan berusaha untuk melaksanakan kegiatan praktek sebaik mungkin. Dengan diketahuinya kadar debu dalam udara ambient dan adanya baku mutu yang ditetapkan oleh pemerintah, maka dapat diketahui batas atau ambang yang diperbolehkan bagi kesehatan. Sehingga upaya penyehatan udara dapat dilaksanakan sesuai dengan keadaan di lapangan.

Suhu dan Kelembaban

Pada pengamatan ini pengukuran dilakukan di Jalan Godean Km 4 Sleman DI. Yogyakarta. Suhu udara sangat berperan dalam kenyamanan bekerja karena tubuh manusia menghasilkan panas yang digunakan untuk metabolisme basal dan muskuler. Ada beberapa tipe dan prinsip kerja alat pengukur kelembaban udara. Pada umumnya alat yang digunakan adalah psikrometer. Alat ini terdiri dari dua termometer yang disebut termometer bola basah dan termometer bola kering. Kelembaban udara sebanding dengan selisih kedua termometer yang dapat dicari melalui tabel atau rumus. Kelembaban udara dapat didefinisikan yaitu tingkat kebasahan udara karena dalam udara air selalu terkandung dalam bentuk uap air. Kandungan uap air dalam udara hangat lebih banyak daripada kandungan uap air dalam udara dingin. Kalau udara banyak mengandung uap air didinginkan maka suhunya turun dan udara tidak

dapat menahan lagi uap air sebanyak itu. Uap air berubah menjadi titik-titik air. Kelembaban udara yang relatif rendah yaitu kurang dari 20 % dapat menyebabkan kekeringan selaput lendir membran, sedangkan kelembaban tinggi akan meningkatkan pertumbuhan mikroorganisme. Hasil pengukuran rata-rata kelembaban relatif pada Jalan Godean Km 4 Sleman DI. Yogyakarta adalah 25 % .Jika dibandingkan dengan Standar Baku Mutu sesuai KepMenkes No.261 dimana kelembaban ideal berkisar 40-60 %, maka kelembaban Jalan Godean Km 4 Sleman DI. Yogyakarta tidak memenuhi standar .

SO2

Praktikan melakukan percobaan untuk menentukan kadar SO2 di pinggir Jalan Godean Sleman Yogyakarta. Gas sulfur dioksida (SO2) merupakan salah satu parameter penting dalam analisis kualitas udara. Semakin besar kadar SO2 pada udara mengindikasikan lingkungan udara tersebut memiliki kualitas yang buruk atau tercemar. Dalam praktik ini sampling dilakukan selama 10 menit, kami memeriksa kadar SO2 udara dengan menambahkan satu sendok reagen #1 menggunakan sendok ukuran 0,25 g (0645), 1 ml NaOH 1 N. Setelah ditambahkan larutan indicator SO2, warna larutan tetap atau tidak terjadi perubahan warna. Hal itu menandakan tidak adanya kandungan SO2. Pengukuran SO2 dibantu dengan komparator. Pada saat dilakukan sampling dengan menggunakan midget impringer seharusnya bisa dilakukan dengan waktu yang maksimal, tetapi dalam prakteknya tidak demikian. Adapun Nilai Ambang Batas (NAB) SO2 yang normalnya berada dalam udara ialah sebesar 5,2 mg/m3. Apabila kadar SO2 dalam udara melebihi NAB maka dapat disimpulkan bahwa udara tersebut telah terjadi pencemaran udara yang dapat menimbulkan dampak terhadap kesehatan. Dalam praktikum ini dapat diketahui kualitas udara berdasarkan kadar SO2 di dalamnya dan didapatkan SO2 sebesar 0 mg/m3. Sehingga dapat diketahui bahwa kualitas udara di pinggir jalan godean tersebut masih di bawah standar baku mutu.

BAB VI PENUTUP A Kesimpulan 1 a b Hasil Kendaraan Bermotor Kearah Timur Kendaraan bermotor roda 2 adalah sebanyak 619 buah Kendaraan bermotor roda 4 adalah sebanyak 120 buah Hasil Motor roda 2 x 0,5 = 619 x 0,5 = 354,5 Motor roda 4 x 1,0 = 120x 1,0 = 120 Jumlah total 474,5 per 15 menit Hasil Kendaraan Bermotor Kearah Barat a b Kendaraan bermotor roda 2 adalah sebanyak 561 buah Kendaraan bermotor roda 4 adalah sebanyak 127 buah Motor roda 2 x 0,5 = 561 x 0,5 = 280,5 Motor roda 4 x 1,0 = 127 x 1,0 = 127 Jumlah total 407,5 per 15 menit 2 a b 3 Berdasarkan hasil , dapat disimpulkan : Hasil pengukuran kebisingan di Jalan Raya Godean, Sleman,

Yogyakarta adalah 76,95 dB. Tingkat kebisingan di Jalan Raya Godean, Sleman, Yogyakarta termasuk dalam kategori bising. Dari hasil pengambilan sampel dan perhitungan pertikel udara ambient di Jalan Godean KM 4 didapatkan hasil dengan berat partikel pada glass filter 12,95 gram. Setelah dilakukan pengukuran suhu dan kelembaban Jalan Godean Km 4 Sleman DI. Yogyakarta, disimpulkan bahwa hasil suhu rata-rata adalah sebesar 14,75 0C dan untuk kelembaban rata-ratanya adalah sebesar 25 %.

Setelah dilakukan pemeriksaan kandungan SO2 yang terdapat pada jalan godean adalah sama dengan 0 mg/m3, sehingga dapat disimpulkan bahwa kadar SO2 udara di pinggir jalan godean tersebut adalah netral. Waktu sampling selama 10 menit dengan kecepatan 1 Lpm dan warna sampel setelah dilakukan pemeriksaan SO2 adalah tetap / tidak berwarna.

Saran Sebaiknya dilakukan pengaturan arus lalu lintas atau pemberian jalur alternative agar Jalan Raya Godean, Sleman, Yogyakarta tidak terlalu ramai. Mungkin perlu ada tindakan berupa kebijakan dari pemerintah kabupaten maupun propinsi untuk menjaga agar susu dan kelembaban Jalan Godean Km 4 Sleman DI. Yogyakarta tetap nyaman dan aman bagi kesehatan pengguna jalan dan masyarakat di sekitar Jalan Godean Km 4 Sleman DI. Yogyakarta.