Anda di halaman 1dari 12

OBOK OBOK

Naskah : Puput Vianna

// Ide Cerita : Buku Teater demokrasi, Demokrasi Teater LKK Team

Aluanan musik cukup menyayat hati. Lampu merah redam perlahan menyala. Terlihat beberapa orang berjubah hitam (teatrikal). Ada yang tertawa, menangis, dan marah. Lampu padam. Musik berhenti. BABAK 1 Narator (lampu on) saudara-saudara sekalian, terimakasih saya ucapkan karena anda telah menyempatkan waktu untuk menonton pertunjukan kami. Terlebih dahulu saya mohonkan kepada anda semua, janganlah anda berpikiran yang tidak-tidak dalam menonton lakon kami. Sebab kalau anda negative thinking, anda tidak akan menikmati tontonan yang kami berikan. Apalagi kalau anda sampai punya niat untuk menghentikan pertunjukan ini, wah itu tandanya anda tidak bisa menerima dan menghargai orang lain. Jadi... (tiba-tiba lampu padam) Hei!! Siapa yang mematikan lampu?!! Nggak punya etika ya. Orang lagi ngomong kok disabot! Baru aja diomongin udah kejadian. Tersinggung ya?? Seseorang kamu terlalu banyak bicara! Narator loh apa pulak ini. Kalau mau ngomong jangan main gelap-gelapan lah. Masak ngomong beraninya di tempat gelap. Seseorang akkhh biarin!! (suara riuh beberapa saat. lampu perlahan menyala) Narator (dengan tampang acakadul) huff... biasa, mereka itu beraninya gelap-gelapan dan keroyokan. Baiklah saudara-saudara, siapkan diri anda dan nikmatilah pertunjukan kami (lampu padam). BABAK 2 (musik on, lampu on) Setting di dalam kelas. Tampak seorang guru dan beberapa orang murid. Suasana ujian (musik off). Guru ayo anak-anak waktu hampir habis Para murid aduh bentar bu. Guru Makanya belajar. Omas Saya belajar kok bu, mereka nih yang gak belajar (melirik Paino dan Tarjo)

Guru Paino, Tarjo ngapain kalian?!! Paino anu, gotong royong bu. Guru gotong royong apa?! Dilarang kerja sama pada waktu ujian! Tarjo tapi kan bu gotong royong itu adalah budaya bangsa kita. Guru iya kalau gotong royong melakukan hal yang benar, itu baru baik. Kalau gotong royong melakukan hal yang salah, itu sesat. Jadilah bangsa yang berkarakter! Paino ini kan karakter juga namanya bu. Guru bukan karakter yang seperti itu. Itu karakter yang buruk. Tarjo jadi karakter yang bagaimana bu? Yang jelaslah, karakter itu kan bermacam-macam jenisnya. Guru (berpikir beberapa saat) hmm. Sudah sudah, waktu kalian sudah habis (guru mengambil semua lembar jawaban siswa). Noni bu, sampai kapan kami belajar dilantai? Guru sampai rayap berhenti memakan kayu. Noni kalau gitu selamanya gak punya meja lah bu. Guru makanya kalian harus belajar dengan benar. Jadilah orang jujur agar kalian berhasil jadi generasi yang bersih, cerdas dan bijaksana, setelah itu kalian bisa memperbaiki semua budaya yang salah. Baiklah, sekarang kita masuk ke palajaran berikutnya. Ayo sebutkan masalah-masalah sosial di Negara kita yang kalian ketahui.

Omas saya bu. Guru ya, Omas. Omas masalah lampu bu. Guru ada apa dengan lampu? Omas lampu jalan di depan gang saya baru 3 hari nyala udah mati bu. Padahal kami senang sekali dengan adanya penerangan itu. Guru sabar ya Omas, beginilah kebanyakan fasilitas yang dibangun di negara kita, baru dipasang, udah error. Memang terkadang masyarakat kurang cerdas dalam merawat fasilitas yang diberikan negara. Namun, fasilitas yang diberikan oleh pemerintah juga seringkali kualitasnya odong-odong. Asal ada aja. Huff... Oke siapa lagi? Tina saya bu. Guru ya, Tina. Tina kemarin saya dengar bapak saya ngomong tentang perbaikan toilet gedung DPR yang mencapai 1,4 miliar, lalu dana untuk pekan olah raga nasional yang baru terkumpul masih lima belas miliar, kurang tujuh miliar lagi. Kok mahal betul ya bu? Padahal kan rakyat masih banyak sekali yang miskin, apa mereka tidak tau? Guru mereka tau, tetapi tidak mau tau. Mereka seolah melupakan kondisi rakyat yang masih sangat memprihatinkan. Itulah yang namanya prioritas negara. Harusnya mereka bijak, mana dulu yang mau dibereskan. Tindakan yang seperti itu sama saja seperti tidak sadar diri. Oke, ada lagi? Paino Saya bu! Guru Ya, silahkan Paino

Paino Semalamkan bu, saya ke kantor pak nunah sama ibu saya mau ngurus surat keterangan miskin. Pak nunahnya baik skali bu. Dia minta uang administrasi dua puluh ribu, ibu saya gak cuma punya uang sepuluh ribu, ibu saya kasihlah sepuluh ribu sama pak nunahnya. Pak nunahnya terima aja bu. Guru Wah, itulah salah satu budaya bangsa kita yang salah, yang sudah tumbuh berakar dari dulu dan entah sampai kapan. Mereka itu kan petugas pemerintahan. Tugasnya melayani masyarakat. Seharusnya ibu kamu tidak perlu membayar mereka. Mereka sudah dibayar oleh negara. Kalau masih minta bayaran juga dari masyarakat, untuk apa negara menggaji mereka. Hal sangat salah. Namun sudah membudaya dan dianggap biasa oleh bangsa. Kebanyakan dari mereka tidak paham akan fungsi mereka. Untung sekarang ibukota punya pemimpin Jakawi-ehok, jadi masih ada contoh baik profil pemerintah yang biasa ditiru. Nah anak-anak sekarang ibu ingin mengajak kalian berkeliling negeri ini, untuk melihat kehidupan bangsa kita dalam begaram aktifitasnya. Bagaimana, kalian siap? Para murid siap bu guruuu. Guru lets go.... BABAK 3 (musik on, lampu on) Seorang anak lelaki naik sepeda dengan riang gembira sambil menyanyikan lagu Maju Tak Gentar. Tiba-tiba ia dihadang oleh seorang polisi. Polisi PRRIIIIITTTT.........!! (musik off) tolong tunjukkan SIM dan STNK anda. Pemuda lah saya kan naik sepeda pak. Polisi oh iya... Mana helm dan kaca spion anda? Pemuda ya gak ada toh pak. Polisi ya sudah kalau begitu anda saya tilang. Pemuda loh loh kok gitu pak, saya kan ndak... Polisi

(memotong pembicaraan) anda tidak memikirkan keselamatan. Helm dan spion itu kan untuk keselamatan anda juga. Pemuda tapi jangan ditilang toh pak. Polisi tidak bisa, anda sudah melanggar peraturan. Pemuda aduh... damai aja ya pak (mengeluarkan uang 10.000 rupiah). Polisi maaf saya tidak bisa disogok. Saya harus menegakkan hukum. Pemuda jangan gitu lah pak (mengeluarkan uang 20.000 rupiah). Polisi anda jangan mempermainkan saya ya. Pemuda tolonglah pak (mengeluarkan uang 20.000 rupiah). Polisi op..op.. hmm.. ya sudah karena anda memaksa. Lain kali jangan begitu lagi ya. Pemuda makasih pak (cium tangan polisi). Orang asing (berlalu sambil berdoa) ya Allah, berikanlah mereka kesadaran, kiranya mereka dapat memiliki hikmat dan kebijaksanaan. Jangan biarkan kekuasaan membuat mereka buta, jangan biarkan kelemahan membuat yang lain tertindas. (lampu off). BABAK 4 Terdengar lantunan lagu baris-berbaris. Lampu menyala di sisi panggung yang lain.tampak beberapa orang yang berpakaian seragam masuk membentuk barisan. (music off) Komandan prajurit! Prajurit embeeeee.... Komandan

jalan ditempat gerak! (prajurit diam) kenapa diam? Prajurit 1 gerakannya gitu-gitu aja, membosankan! (semua prajurit duduk) Komandan (marah) bah, terus mau kalian apa?!! Prajurit 2 pukuli orang. Komandan apa? Prajurit 1 Ia, gebukin orang Prajurit 3 biar bervariasi komandan Komandan bervariasi, jidat kau bervariasi. Gila. Kalian ini pengayom masyarakat bukan tukang pukul. Berdiri gerak! (prajurit masih diam)Bah kalo gini ceritanya kalian yang kupukuli! (prajurit berdiri dengan malas). Sepertinya kalian ini terlalu banyak makan uang haram ya? (prajurit diam) hoi, jawab aku! Prajurit Embeeee Komandan makanya kalau dapat sitaan jangan dimakan sendiri, serahkan semuanya pada negara. Prajurit Embeeee Komandan dasar kambing. Dengar ya, mulai detik ini kalian harus insaf. Paham? Prajurit embeeee Komandan oke. Baris-berbaris gaya baru gerak! (semua prajurit jalan ditempat dengan gaya yang beragam) Majuuuu jalan! (prajurit berjalan tetap mempertahankan gaya masing-masing. Terlihat seseorang di sudut panggung) Komandan prajurit! Pasukan embeee

Komandan sasaran telah ditemukan. Itu dia. Tanpa berperikemanusiaan, serbuuuuuuu!!!! (seluruh prajurit menyerang orang itu. Ia menjerit dan meronta) Orang asing ya Allah. Ampunilah mereka. Jangan biarkan mereka hidup dalam kegelapan. Tuntun mereka ke jalanmu ya Allah (lampu padam). BABAK 5 Musik on, Lampu perlahan menyala disisi panggung yang lain. Tampak seorang wanita berpenampilan high class duduk diatas sofa mahal sambil merias diri. Wanita 1 (bernyanyi)

aduh aduh enaknya. Dipenjara aduh enaknya. Semua fasilitas ada. Tinggal uang yang atur semuanya. Aduh aduh betahnya. Dipenjara aduh betahnya. Yang kumau lengkap semua. Dipenjara tak ada artinya. (music off) Hahaha.....hahahahahaaa..... bahagianya hidupku. Walaupun dikurung tapi serasa hidup di alam bebas. semua bisa dibeli, you know. Harga diri mereka pun bisa kubeli. Hahaha...hahahahaaaa.... (telepon berdering) halo. Iya. Oh yayaya.... okey okey. Terimakasih.... (musik on. Beberapa orang wanita masuk, mereka adalah teman-teman si napi. Mereka bercengkerama dan tertawa-tawa, silent act. Musik perlahan mati) Orang asing ya Allah tegakkanlah keadilan di negeri kami, dan janganlah biarkan nafsu dunia merajai hati kami. (lampu off) BABAK 6 Musik menyayat hati perlahan terdengar. Lampu menyala disisi panggung yang lain. Tampak seorang pria gemuk berperut buncit duduk diatas sofa. Kepalanya memakai peci hitam. Bibirnya tersentum lebar. Diatas tangannya ada karung bertuliskan gaji. Disamping lelaki tersebut duduk lelaki lain yang kurus, berpenapmilan kumal, wajah penuh penderitaan. Dan disebelahnya ada seorang anak yang memegangi perutnya karena menahan lapar. Lelaki kurus andai disisihkan satu persen saja buat kami, itu sudah lebih dari cukup. Lelaki gemuk nilai rupiah naik aku makin kaya. Haha... Orang asing ya Allah, turunkanlah nilai rupiah agar masyarakat miskin dapat membeli sesuap nasi untuk perut mereka. (dipanggung digantung kertas besar yang bertuliskan Rupiah, rupiah tersebut kemudian turun) Lelaki gemuk woi! Macam-macam doa kau ya, turun pulak jadinya rupiah! Naik, naik!! (rupiah kembali naik) Orang asing turun, turun (rupiah turun).

Lelaki gemuk (marah) aarrgghhh!!! Kumatikan kau ya! (orang asing berlari meninggalkan panggung. Musik off, lampu off) BABAK 7 Lampu on. Terlihat seorang lelaki sedang tertawa bahagia sambil memegang uang. Ahmed Potona Hahaha... untung, untuuung. Yang kaya makin kaya, yang miskin mati aja, wek! Memang mereka bodoh. Gampang saja ku bodoh-bodohi. Sapi kadaluarsa dimakan. Duit ngalir trooss.... (sambil menghitung-hitung uangnya) ini untuk Sifty, ini untuk Lala, ini untuk Nona, ini untuk Rani, dan ini untuk... hmm, Doni. Hehehe (Terdengar suara pintu diketuk). Masuk! Kpk Selamat siang pak Ahmed Potona, anda didakwa tersangka kasus korupsi danging sapi impor, anda harus ikut kami. Ahmed Potona loh, pak saya nggak korupsi. Kpk anda jelaskan semuanya nanti. (kpk memborgol Ahmed Potona dan menggiringnya. Di ujung panggung terdapat sebuah ruangan, tampak sebuah pintu di bagian depannya. Diatas pintu tersebut ada tulisan kandang sapi, Ahmed Potona dimasukkan kesana). Orang asing ya Allah jangan biarkan hak-hak orang kecil dirampas oleh para penguasa, jangan biarkan perampok berdasi itu merajalela. Kiranya kebenaran bisa ditegakkan ya Allah BABAK 8 Panggung digunakan untuk tempat debat calon raja. Tampak beberapa orang juru kampanye (lampu on) Partai 1 saudara-saudara yang saya banggakan, pilihlah partai emocrazy. Partai emocrazy adalah partai yang menjunjung tinggi aspirasi rakyat. Kami akan memperjuangkan hak-hak rakyat. Mari hidup sejahtera bersama kami. Ayo kita maju. Merdeka! Merdeka! Merdeka! Partai 2 saya selaku ketua umum Partai Kebangkitan Para Wanita alias PaKePaW dengan tegas menyatakan bahwa hak-hak perempuan harus diperjuangkan. Tindak tegas pelaku KDRT, tindak tegas para lelaki yang mengawini perempuan dibawah umur. Perempuan harus dilindungi, perempuan harus diberdayakan, perempuan harus mempunyai penghargaan yang sama dengan laki-laki. Perempuan pasti bisa. Ayo semua perempuan, kita maju tak gentar. Partai 3 saudara-saudara, disini saya selaku ketua umum partai PAPW (Partai Antara Pria dan Wanita) akan berjuang keras untuk mendapatkan persamaan hak dan derajat kita semua. Kita juga manusia yang punya hak, kita punya perasaan, dan kita tidak boleh direndahkan dan diasingkan dalam kehidupan

bermasyarakat. Kita tidak boleh lemah, kita tunjukkan kita bisa. Ayo dukung kami, agar kita mendapatkan hak yang sama seperti masyarakat lain. Orang asing Ya Allah, telinga ini telah bosan mendengar kerusuhan dan kecurangan di negeri ini. Sampai kapankah perderitaan ini. Berikan kami pemimpin yang baik, yang mengerti akan fungsinya yang sebenar-benarnya. (lampu off) BABAK 9 Music on, lampu on tampak sebuah partai yang sedang membagi-bagi baju partai kepada beberapa orang penduduk. Masyarakat langsung mengenakan baju tersebut. (musik perlahan mati) Partai ayo pak silahkan diambil, ini untuk kita semua, inilah bukti kepedulian kami. Penduduk wah terimakasih pak, bapak memang baik. Dari dulu kami selalu dibagi-bagikan baju yang cuma bisa dipake dua hari, abis itu jadi lap keringat, hihi... Partai lain yang melihatnya seperti kebakaran jenggot. Mereka ikut membagi-bagikan sembako kepada penduduk (silent act). Orang asing ya Allah, berikanlah kejujuran dan ketulusan dihati kami semua, lapangkanlah dada kami. Jangan biarkan kami tenggelam dalam kemunafikan (lampu off). BABAK 10 Musik on, lampu on. Dipanggung tampak sebuah papan tulis. Dipapan tulis ditempel kertas partai yang ditutupi kain. Tampak beberapa orang ketum (ketua umum) partai disana. (seperti bermain lotre) mereka menebak-nebak kertas yang nantinya akan terpilih (musik off). Orang 1 Bang bang tut keladi uwo uwo. Siapa yang tinggi partainya oye oye (sambil menunjuk satu kertas partai yang masih ditutupi. Kertasnya dibuka yang menang adalah partai emocrazy). Partai PAPW Hah?!! Kenapa itu yang menang. Harusnya saya yang menang! saya membayar paling mahal. Uang saya paling banyak keluar. Saya sampai jual tanah dan jual sorum untuk ini. Kenapa saya tidak menang!! Partai emocrazy Hahaa... terima nasib aja bung. Kalo kalah ya kalah aja. Ikhlas dong... Partai PAPW Diam kau (mencekik orang 3). Kau gak pantas menang! Kau curang! Partai emocrazy Emang kau gak curang! (terjadi kerusuhan beberapa saat. Lampu off) BABAK 11 Lampu on, musik on. Tampak ketum dari partai PAPW yang sudah gila karena tidak bisa menerima

Kekalahan (musik off) Ketum Aku sudah berikan semua. aku jual hartaku. Aku korbankan segalanya. Kenapa aku kalah. Kenapaaa!!! Harusnya sekarang aku jadi raja. Bukan dia. Hahahaha... aku kalah, aku kalah, aku jatuh miskin, lalu aku gila. Hahahaaa.... (terlihat beberapa orang penduduk dan merasa prihatin melihat ketum yang sudah gila) Hei kalian! Kenapa aku kalah! Kalian tidak memilih aku ya! Ha?? Aku kan sudah kasih baju, sembako, uang. Semua sudah aku berikan. Kenapa aku kalah?!! Hhgggghhh.... (musik on) kembalikan uangku! (sambil mencekik penduduk) kembalikan uangkuuuu!!! Kembalikaaaannnnn....!!! (suasana riuh. Lampu dan musik perlahan mati). BABAK 10 Musik on, lampu menyala dengan redup. Setting didalam penjara. Nampak beberapa orang napi sedang gusar (musik perlahan berhenti). Napi 1 alamaakk, tiap hari mati lampu. Sengsara kalilah hidupku. Napi 2 terimalah nasibmu, kita memang hidup di Negara yang mengharukan Napi 3 makanya kalo maling jangan ketahuan. Napi 1 aku cuma maling jambu untuk makan anakku. Rencanapun aku mau jual ginjal, untuk sekolah anak-anakku, eh keburu ditangkap. Susah kali cari duit ah. Napi 4 aduh, aduh, lama kali si Bonar sana melapor! gak tahan lagi aku. Napi 5 (memasuki sel) akh, ntahapa pun! Napi 4 udah siap kau? Lama kali pun! Napi 5 udah siap apa? Gak ada air! Napi 4 bah, aihmak berak dicelanalah aku ini... Napi 3 aku aja udah satu bulan gak mandi. Napi 2 aku udah tiga bulan (tiba-tiba lampu padam) Para napi

alaaahhh... Napi 3 lagi-lagi mati lampu, arrgghh! Gak beres pun! Napi 1 lampu mati, air mati! Napi 4 kita bakar aja tempat ini!! Napi 2 ha, itu ide bagus! Para napi bakar, bakar! Musik on, para napi sibuk mencari korek api dan minyak. Lampu meredup. Beberapa saat kemudian terdengar suara rusuh dan keributan. Polisi datang (lampu on), para napi telah kabur (lampu off). BABAK 11 Musik on, lampu on. Tampak guru dan murid-muridnya (babak 2)

Guru Tapi ibu bangga punya anak-anak seperti kalian. Kalian anak-anak yang baik dan pintar. Ibu sangat berharap pada kalian. Kelak kalian harus tegakkan keadilan dan majukan bangsa ini. Berjanjilah dalam hati jangan kecewakan tanah air. Cukuplah selama ini ia menagis dan bersedih. Kalian harus membuat perubahan. Kalian paham? Para murid paham bu... Tarjo kami akan berusaha sekuat tenaga dan hati untuk memberikan yang terbaik bagi tanah air bu! Para murid (bersorak) (semuanya mematung, narator muncul) Narator Demikianlah pertunjukan kami, semoga bukan hanya sekedar menghibur , tetapi memberikan kesan yang mendalam untuk kita semua. Terimakasih atas partisipasi anda. Kita berjmpa lagi lain waktu. Orang asing Dari tadi saya capek berdoa, kok belum dibayar juga? Harusnya saya sudah dibayar mahal! Semua pemain (semua pemain masuk dan menyoraki orang asing)