Anda di halaman 1dari 7

PELURUHAN GAMMA ( ) Peluruhan inti yang memancarkan sebuah partikel seperti partikel alfa atau beta, selalu meninggalkan

inti pada keadaan tereksitasi. Seperti halnya atom, inti akan mencapai keadaan dasar (stabil)

dengan memancarkan foton (gelombang elektromagnetik) yang dikenal dengan sinar gamma ( ). Dalam proses pemancaran ini, baik nomor atom atau nomor massa inti tidak berubah.

Energi gelombang ini ditentukan oleh panjang gelombang ( ) atau oleh frekuensinya (f) sesuai persamaan

Dengan h adalah tetapan plank yang besarnya 6,63 10-34 Js. Energi yang tersedia untuk peluruhan selanjutnya menjadi lebih rendah atau dapat mencapai energi pada keadaan dasar yang tidak cukup untuk menyebabkan pemancaran partikel lain, atau peluruhan dengan pemancaran partikel. Hal ini menyebabkan terjadinya transisi dari keadaan energi yang lebih tinggi E i menuju keadaan energi yang lebih rendah Ef , dan ini mengeluarkan kelebihan energi E = Ei - Ef . Secara fisis dapat dijelaskan bahwa transisi tersebut dapat terjadi karena jika suatu inti dalam keadaan tidak stabil maka akan mencapai tingkat kestabilan/menuju ke tingkat dasar

Di mana jika energi yang dilepaskan dalam bentuk sinar gamma, maka inti yang berada pada tingkat dasar tidak mengalami perubahan nomer massa dan nomer atom. Seperti pada kasus spektrum atomik, spektrum sinar gamma sebuah inti menunjukkan garis-garis tajam. Hal ini berarti bahwa inti memiliki tingkat energi yang diskrit. Energi dari pancaran sinar gamma diberikan oleh persamaan berikut. hf = E = Ei - Ef Jika Ef sama dengan keadaan dasar, pada keadaan ini inti tidak akan memancarkan foton.

Sebaliknya inti akan memancarkan satu atau lebih foton sebelum menuju ke keadaan dasar, seperti yang tampak pada Gambar 2 berikut ini.

Diagram Tingkat Energi Inti Energi sinar gamma yang dipancarkan sama dengan selisih antara tingkat tingkat energi diantara mana inti melakukan transisi

Secara umum E = E Perhitungan yang lebih teliti harus melibatkan adanya pentalan inti. Jadi energi yang dilepaskan dalam transisi diberikan kepada gamma serta sebagai energi kinetik inti yang terpental.

Pi = momentum inti yang terpental = momentum gamma (dari kekekalan momentum)

Sehingga :

Maka :

Dalam menghitung energi partikel alfa dan beta yang dipancarkan dalam peluruhan radioaktif di depan dianggap tidak ada sinar gamma yang dipancarkan. Jika ada sinar gamma yang dipancarkan, maka energi yang ada (Q) harus dibagi bersama antara partikel dengan sinar gamma. Sinar gamma merupakan gelombang elektromagnetik dengan kekuatan penetrasi yang cukup tinggi. Sinar gamma tidak menyebabkan banyak ionisasi dan tidak dipengaruhi oleh medan listrik atau medan magnet, dan kenyataanya interaksi sinar gamma dengan zat yang berbeda tergantung dari muatan partikel penyusunnya zat tersebut. Biasanya sinar gamma menyertai proses peluruhan beta ataupun alpha. 1. Absorbsi Sinar Gamma Sinar gamma merupakan gelombang elektromagnetik yang membawa energi dalam bentuk paketpaket yang disebut foton. Jika sinar gamma masuk ke dalam suatu bahan, juga mengahsilkan ionisasi, hanya saja ionisasi yang dihasilkan sebagian besar melalui proses ionisasi sekunder. Jadi, sinar gamma berinteraksi dengan materi hanya beberapa pasang ion primer saja yang terbentuk. Ion-ion primer itu selanjutnya melakukan proses ionisasi sekunder sehingga diperoleh pasangan ion yang lebih banyak dibandingkan yang terbentuk pada proses ionisasi primer. Apabila (gelombang elektromagnetik) memasuki perisai, sedangkan energi tetap tidak berubah.
0

sinar

gamma

maka intensitas radiasi saja yang akan berkurang,

Dengan Io adalah intensitas mula-mula, I Intensitas yang diteruskan, d adalah ketebalan bahan perisasi dan adalah koefisien serapan linier bahan perisai. Karena d tidak memiliki satuan, maka satuan dan d menyesuaikan. Jika d dalam cm, maka dalam 1/cm. Nilai untuk setiap bahan sangat bergantung pada nomor atom bahan dan juga pada radiasi gamma. Untuk beberapa tujuan tertentu, seringkali tabel bahan perisai tidak dinyatakan dalam tebal linier dengan satuan panjang, tetapi dinyatakan dalam tebal kerapatan (gr/cm ). Jika besaran itu yang dipakai maka koefisien serapan bahan dinyatakan dalam koefisien serapan massa m dengan satuan cm /gr. Hubungan keduanya dinyatakan dalam: ( r) x (gr/ )

Selain kedua koefisien serapan tersebut, juga digunakan koefisien serapan atomik ( a), yaitu fraksi berkas radiasi gamma yang diserap oleh atom . Koefisien serapan atomik dirumuskan :

Dengan N adalah jumlah atom penyerap per cm . Koefisien serapan atomik ini selalu menunjukkan tampang lintang (cross section) dengan satuan barn 1barn = Koefisien serapan atomik seringkali disebut microscopic cross section (), sedangkan koefisien serapan linier dikenal dengan istilah macroscopic cross section )

Nilai tebal paro atau half value thickness (HVT) adalah tebal bahan perisai yang diperlukan radiasi gelombang elektromagnetik untuk mengurangi intensitas radiasinya, sehingga tinggal setengah dari semula. Jika setengahnya penurunan intensitas dirumuskan
0

dan pada saat intensitasnya menjadi

maka HVT = 0,693

Dilihat dari daya tembusnya, radiasi gamma memiliki daya tembus paling kuat dibandingkan dengan radiasi partikel yang dipancarkan inti radioaktif lainnya. Sebaliknya, daya ionisasinya paling lemah. Karena sinar gamma termasuk gelombang elektromagnetik, maka kecepatannyasama dengan kecepatan cahaya. 2. Interaksi Sinar Gamma dengan Materi Dalam interaksi sinar gamma dengan suatu materi terdapat tiga proses utama di mana foton kehilangan energinya berdasarkan interaksi dengan bahan yang terjadi antara lain melalui a. Efek fotolistrik b. Efek compton c. Produksi pasangan Ketiga proses tersebut melepaskan elektron yang selanjutnya dapat mengionisasi atom-atom lain dalam bahan. Peluang terjadinya interaksi antara radiasi gamma dengan bahan ditentukan oleh koefisien absorbsi linier (). Karena penyerapan intensitas gelombang elektromagnetik melalui tiga proses utama, maka nilai juga ditentukan oleh peluang terjadinya ketiga proses tersebut, yaitu f untuk fotolistrik, c untuk hamburan Compton dan pp untuk produksi pasangan. Koefisien absorbsi total (t) dari ketiga koefisien tersebut yaitu t = f + c + pp a. Efek Fotolistrik Efek foto listrik adalah peristiwa diserapnya energi foton seluruhnya oleh elektron yang terikat kuat oleh suatu atom sehingga elektron tersebut terlepas dari ikatan atom. Dengan kata lain, efek fotolistrik timbul karena adanya interaksi antara radiasi elektromagnetik dengan electron-elektron

dalam atom bahan. Pada peristiwa ini energi foton diserap seluruhnya oleh electron yang terikat kuat oleh suatu atom sehingga electron tersebut terlepas dari ikatan inti atom. Elektron yang terlepas dinamakan fotoelektron. Efek fotolistrik terutama terjadi antara 0,01 MeV hingga 0,5 MeV. Efek fotolistrik ini umumnya banyak terjadi pada materi dengan Z yang besar, seperti tembaga (Z = 29). Energi foton yang datang sebagian besar berpindah ke elektron fotolistrik dalam bentuk energi kinetik elektron dan sebagian lagi digunakan untuk melawan energi ikat elektron (W0). Besarnya energi kinetik fotoelektron (K) dalam peristiwa ini adalah: K = hf W0 Dari persamaan diatas terlihat bahwa agar efek fotolistrik terjadi, maka energi foton harus sekurang-kurangnya sama dengan energi ikat elektron yang berinteraksi. b. Efek Compton Proses ini merupakan proses di mana foton penembak berinteraksi dengan elektron bebas dan dihamburkan dengan energi yang lebih rendah, energi diam yang digunakan untuk menghamburkan elektron. Karena elektron yang terdapat pada atom terbebas dan energi foton penumbuk secara komparatif sangat tinggi, penghamburan foton dengan elektron pada atom ini disebut sebagai Penghamburan Compton. Foton penumbuk dengan energi hf menumbuk sebuah elektron bebas dengan massa diam m0. Hasil interaksi dihamburkan oleh foton dengan energi hf' (< hf) pada sudut sebuah elektron terhambur dengan energi kinetik Ke pada sudut berikut dan

seperti yang tampak pada gambar

Hamburan Compton terjadi apabila foton dengan energi hf berinteraksi dengan elektron bebas atau elektron yang tidak terikat dengan kuat oleh inti, yaitu elektron terluar dari atom. Elektron itu dilepaskan dari ikatan inti dan bergerak dengan energi kinetik tertentu disertai foton lain dengan energi lebih rendah dibandingkan foton datang. Foton lain ini dinamakan foton hamburan. Kemungkinan terjadinya hamburan Compton berkurang bila energi foton yang datang bertambah dan bila Z bertambah. Dalam hamburan Compton ini, energi foton yang datang yang diserap atom diubah menjadi energi kinetik elektron dan foton hamburan. Perubahan panjang gelombang foton hamburan dari menjadi ' dirumuskan

dengan memasukkan nilai-nilai h, m dan c diperoleh

Hamburan foton penting untuk radiasi elektromagnetik dengan energi 200 keV hingga 5 MeV dalam sebagian besar unsur-unsur ringan. c. Produksi pasangan Proses yang ketiga ini memiliki suatu syarat di mana foton haruslah memiliki energi ambang tertentu agar proses ini dapat berlangsung. Energi ambang adalah energi maksimal yang harus dimiliki elektron agar terjadinya proses pembentukan pasangan. Energi ambang untuk proses ini adalah sama dengan 2mec2. Hal ini mengungkapkan bahwa, jika foton energinya lebih besar dar 1,02 MeV menumbuk sebuah logam dengan Z yang tinggi, foton hilang dan pada posisinya pasangan elektron-positron. Produksi pasangan terjadi karena interaksi antara foton dengan medan listrik dalam inti atom berat. Jika interaksi itu terjadi, maka foton akan lenyap dan sebagai gantinya akan timbul sepasang elektron-positron. Karena massa diam elektron ekivalen dengan energi 0,51 MeV, maka produksi pasangan hanya dapat terjadi pada energi foton 1,02 MeV (2mec2). terbentuklah

Produksi pasangan terjadi pada inti dan kekekalan energinya dapat dinyatakan dengan persamaan berikut

dimana hf : Energi foton penumbuk 2m0c2 : Energi yang ekivalen dengan massa diam elektron dan positron E+ , E_ , Enuc : Energi kinetik elektron, positron, dan inti terhambur Oleh karena massa inti sangat besar, sehingga dihasilan energi kinetik yang sangat kecil, maka E nuc dapat diabaikan. Dengan demikian persamaan tersebut menjadi

Contoh Soal Inti


12

N meluruh Beta ke suatu keadaan eksitasi dari

12

C , yang sesudah itu meluruh ke keadaan dasarnya

dengan memancarkan sinar Gamma 4,43 Mev. Berapakah energi kinetik dipancarkan? Penyelesaian :

maksimum partikel Beta yang

Untuk menentukan nilai Q bagi peluruhan inti, pertama-tama kita perlu mencari massa inti dihasilkan dalam keadaan eksitasinya. Pada keadaan dasar, massanya dalam keadaan eksitasi adalah :
12,000000u + 4,43Mev =12,004756u 931,5Mev / u
12

12

C yang

C memiliki massa 12,000000 u, sehingga

Oleh karena itu, nilai Q nya adalah Q = ( 12,018613u 12,004756u 2x0,000549u ) 931,5Mev/u = 11,89 Mev