Anda di halaman 1dari 21

III.

ARAD (Small Bottom Trawl)

3.1.

Pengertian Umum dan Klasifikasi Arad

3.1.1. Pengertian Umum Menurut sejarahnya asal mula trawl adalah dari laut tengah dan pada abad ke 16 dimasukkan ke Inggris, Belanda, Perancis, Jerman, dan negara-negara Eropa lainnya. Bentuk trawl pada waktu itu bukanlah seperti trawl yang dipakai sekarang yang mana sesuai dengan perkembangannya telah mengalami banyak perubahanperubahan, tetapi semacam trawl yang dalam bahasa Belanda disebut schrob net (Subani, 1989). Jaring Arad merupakan salah satu alat tangkap yang termasuk di dalam klasifikasi jaring trawl, karena ukurannya kecil mini trawl dan bekerjanya di dasar perairan sama seperti trawl yang lain sehingga disebut small bottom trawl. Pengoperasian jaring arad ini dikhususkan untuk menangkap ikan demersal, karena adanya sistem membuka dan menutupnya mulut jaring karena adanya papan otter (otter board) yang dipasang pada bagian depan ujung sayap (wing), otter trawl ini merupakan trawl dasar yang bagian mulutnya tidak kaku karena tidak di pasang beam (Ayodhya, 1981). Arad atau dikenal dengan nama otter trawl dapat didefinisikan sebagai trawl dasar bagian mulutnya membuka tidak kaku dan terbukanya mulut jaring karena adanya dua buah papan atau otter board yang dipasang di ujung muka kaki atau tali sayap jaring yang prinsipnya menyerupai layang-layang. Tali guci yang ada pada

layang-layang yang dihubungkan dengan tali penarik (towing warp) ke kapal, sedang pada pangkal otter board itu akan menyibak ke kanan dan ke kiri, dan pinggiran mulut atas di ikatkan pengapung. Sehingga semuanya itu diharapkan bahwa di dalam penangkapan mulut jaring terbuka bait. Arad dibuat dari rajutan benang katun (cotton twine) dengan nomor benang 20/6, 20/8, dan 20/12, ukuran mata jaringnya bervariasi antara 1-2 cm. Bagian kantong terbuat dari PE 0,65 mm, berukuran mata 12,70 mm, dan panjang 1,05 m. Bagian badan terbuat dari PE 0,60-0,75 mm, berukuran mata 45,60 mm. Tali pelampung (float Line) terbuat dari PE 8,0 mm, dan panjang 8,45. Tali Pemberat (sinkerline) terbuat dari PE 5,0 mm dan panjang 9,0 m (Mulyono, 1986). Pada jaring arad sisi bawah mulut biasanya dilindungi dengan ground rope yang kuat dan diberi pemberat dan sering ditutup dengan roda atau piringan karet. Alat ini pengoperasiannya ditarik menggunakan sebuah kapal, bukaan horizontalnya diperoleh dari papan rentang (otter board) yang relatif berat dan dilengkapi logam baja untuk menandai gesekan dasar (Puslitbang, 1996). Perairan Indonesia yang beriklim panas dengan dasar perairan benua yang subur terbatas pada pantai-pantai yang langsung mendapatkan pengaruh aliran sungai, oleh karena itu sudah sewajarnya bila operasi yang dilakukan oleh kapal-kapal cenderung di perairan pinggir. Bagi arad yang penangkapannya selain untuk ikan demersal juga ditunjukkan untuk penangkapan udang maka perairan yang dipilih adalah perairan yang mempunyai kedalaman sekitar 10-35 meter (Mulyono, 1986).

3.1.2. Klasifikasi Arad Berdasarkan klasifikasi Brandt (1972) arad termasuk ke dalam kelompok alat tangkap Seine Nets, yaitu kelompok dari alat tangkap yang dioperasikan dengan cara melingkari jaring pada suatu daerah tertentu (encircling net) dan dari cara penarikannya termasuk boat seine. Sedangkan menurut Ayodhyoa (1967) menyebutkan bahwa arad termasuk Danish seine, karena dalam pengoperasianya membatasi gerak renang ikan dan menarik jaring dari atas perahu sehingga ikan masuk ke dalam kantong jaring. Alat ini adalah jaring yang ditarik, terdiri dari kantong berbentuk kerucut, tertutup ke arah ujung oleh kantong atau codend dan melebar ke arah depan dengan adanya sayap. Alat ditarik oleh satu atau dua kapal sesuai jenisnya dan dipakai di dasar atau air pertengahan (mid water). Dalam hal tertentu, seperti untuk udang dan ikan sebelah, kapal trawl dapat dilengkapi dengan out ringer (boom) untuk menarik dua sampai empat jaring sekaligus (double rigging). Menurut International Standart Statistical Classification of Fishing Gears (ISSCFG) yang dikeluarkan oleh FAO dalam BBPPI (2008), jaring arad termasuk dalam klasifikasi botom otter trawls.

Berikut ini adalah tabel klasifikasi jaring trawl menurut ISSCFG : Tabel. 3.1. Klasifikasi Jaring Trawl Menurut ISSCFG-FAO PENGGOLONGAN SINGKATAN KODE ISSCFG TRAWL 03.0.0 Bottom Trawls 03.1.0 Beam trawls TBB 03.1.1 Otter trawls OTB 03.1.2 Pair trawls PTB 03.1.3 Nephrops trawls TBN 03.1.4 Shrimp trawls TBS 03.1.5 Bottom trawls (not specified) TB 03.1.6 Midwater Trawls 03.2.0 Otter trawls OTM 03.2.1 Pair trawls PTM 03.2.2 Shrimp trawls TMS 03.2.3 Midwater trawls (not specified) TM 03.2.9 Otter Twin Trawls OTT 03.3.0 Otter Trawls (not specified) OT 03.4.9 Pair Trawls (not specified) PT 03.5.9 Other Trawls (not specified) TX 03.9.0

3.2. Metode dan Teknik Pengoperasian Arad 3.2.1. Metode Pengoperasian Arad Jaring arad dengan kelengkapan alat pembuka mulut jaring dioperasikan menyelusuri dasar perairan, menyapu dasar perairan sehingga ikan atau biota laut didasar dapat terjaring. Yang menjadi tujuan penangkapan pada jarring arad adalah

ikan-kan dasar ( bottom fish ) ataupun demersal fish. Termasuk juga jenis-jenis udang ( shrimp trawl, double ring shrimp trawl ) dan juga jenis-jenis kerang. Contohnya untuk periran laut jawa, komposisi hasil penangkapan antara lain terdiri dari jenis ikan patek, kuniran, ikan pe, manyung, utik, ngangas, bawal, tigawaja, gulamah, kerong-kerong, patik, sumbal, layur, remang, kembung, cumi, kepiting, rajungan, cucut dan lain sebagainya Besar jaring arad yang dipakai mempunyai ukuran yang berbeda-beda dan untuk menyatakan besar jaring dipakai penunjuk panjang dari head rope yang biasanya dengan satuan feet atau meter. 3.2.2. Teknik Pengoprasian Arad Dalam mengoperasikan Small Bottom Trawl hal-hal yang harus diperhatikan yaitu: 1. Persiapan Sebelum operasi penangkapan ikan, segala sesuatunya peralatan mulai dari perlengkapan operasional agar dipersiapkan secara teliti, seperti penyusunan alat di tempatnya agar mudah diturunkan. Pemeriksaan mesin-mesin, pemeriksaan palka, perbekalan es dan sebagainya.

2.

Daerah Penangkapan Setelah segala persiapan dilakukan dengan sempurna, barulah kapal dapat di layarkan menuju tempat atau daerah penangkapan yang telah direncanakan. Daerah penangkapan yang cocok untuk trawl adalah daerah perairan yang mempunyai dasar rata pada umumnya.

3.

Setting Penurunan jaring dengan menggunakan trawl dapat dilakukan pada setiap saat baik itu siang maupun malam hari asalkan ruang cukup baik dan memungkinkan untuk penurunan jaring. Setelah kapal sampai pada daerah penangkapan , penurunan jaring mula-mula dari bagian belakang (cod end), belly, sayap, otter board dan yang terakhir kali penarik (warp).

4.

Dragging Selang operasi jaring tersebut terus ditarik selama kira-kira 40 menit, kemudian baru dinaikkan kembali keatas kapal untuk mengambil ikannya. Lama waktu penarikan jaring arad didasarkan pada pengalaman sebelumnya, dugaan ikan pada fishing ground, pekerjaan di dek, jam kerja kru kapal dan sebagainya. Pada umumnya waktu penarikan berkisar antara 3-4 jam, bahkan terkadang 1-2 jam saja (Sudirman dan Mallawa, 2004).

5.

Hauling Urutan penarikan alat adalah kebalikan dari penurunan jaring, bila seluruh bagian jaring telah naik ke atas kapal, maka pengambilan ikan dapat segera dilakukan.

Tabel. 3. 2. Hasil pengamatan pengoprasian arad No Kegiatan Posisi GPS Lama waktu 1. Setting S 063329,7 1467 2. 3. Dragging Hauling E 110 37 33,5 S 03324,3 E 110 37 28,6 S 063358,5 3127 514

Kondisi perairan Baik Baik Baik

E 110 37 36,3 Daerah pengoperasian jaring arad yang kami lakukan pada saat praktikum mata kuliah Metode Penangkapan Ikan adalah di sekitar perairan pulau Panjang, Jepara (antara pulau Panjang dengan pantai Kartini 1mil dari pantai Kartini) karena selain jarak yang relatif dekat, daereh ini juga memenuhi kriteria untuk

pengoperasian jaring arad. Kedalaman perairan ini berkisar antara 4 17 meter. Pada waktu posisi perendaman jaring arad, kapal mengitari beberapa sisi pulau panjang. Setelah beberapa saat proses perendaman, jaring arad mulai ditarik dan dinaikkkan ke atas kapal. Hasil yang kami dapatkan pada operasi penangkapan ini cukup bervariasi, di antaranya : Lobster, rajungan, cumi-cumi, petek, teri, juwi, gurita, gerabah, kuniran, todak dan beberapa jenis ikan lain. Hasil ini menunjukkan bahwa daerah operasi penangkapan ini merupakan fishing ground yang masih menjanjikan, mengingat hasil yang lumayan dengan waktu pengoperasian yang relatif singkat (BPPL, 1989).

3.3. Analisis Alat Bantu (Fish Finder, Current Meter, Anemometer) 3.3.1. Fish Finder

Gambar 3.1. Fish finder Teknologi fishfinder sebenarnya bukan diciptakan utama untuk mencari ikan di dalam laut tapi sebenarnya untuk safety boating. Zaman dahulu banyak kapal karam karena belum ada fishfinder atau depth sounder. Sebagaimana diketahui bahwa teknologi akustik bawah air atau hydroacoustic atau underwater acoustic merupakan kajian ilmu mengenai pemanfaatan gelombang suara dan perambatannya pada medium air. Kecepatan suara di udara sekitar 322 m/s, tetapi dalam air sekitar 1.500 m/s dan akan bertambah dengan meningkatnya temperatur dan salinitas perairan. Hal ini yang menjadi dasar berkembangnya teknologi akustik bawah air. Beberapa peralatan yang digunakan yaitu Sonar, Echosounder, dan Fishfinder. Fishfinder adalah alat untuk melacak keberadaan ikan di laut, danau maupun sungai. Fishfinder dilengkapi dengan tranducher yang dipasang dibawah kapal, alat inilah yang akan mengirim signal ke dasar laut sehingga bisa dideteksi berapa kedalaman, keberadaan ikan, topografi bawah laut dan kita bisa melihatnya dari monitor yang dipasang di kapal kita. Alat ini sangat cocok untuk nelayan, hoby memancing

Fishfinder merupakan pelacak ikan dengan teknologi sonar, alat ini sangat membantu untuk nelayan dalam melakukan pemancingan di laut maupun didanau, terutama di air yang jernih. Informasi keberadaan ikan ditampilkan dengan jelas sehingga memudahkan dalam pencarian ikan. Untuk mendapatkan penangkapan yang optimal diperlukan teknologi yang modern seperti fish finder yang mampu menampilkan adanya ikan dan tumbuhan laut didalam laut yang sangat menunjang nelayan Indonesia. Fishfinder merupakan alat navigasi kapal yang berguna untuk mendeteksi ikan serta bentuk atau relief dasar laut.kelebihan fishfinder dengan alat navigasi lain ialah kita dapat mengambil data yang akurat karena fish finder dilengkapi white line untuk membatasi antara ikan dan relief dasar laut. Dalam penggunaannya, air keruh tidak ada efeknya terhadap fishfinder tetapi air bubble dari body kapal sangat berpengaruh krn gelombang ultra sonic terrefleksikan oleh gelembung udara dan kembali ke transducer mengakibatkan clutter dan noise dalam terminology fishfinder .

Tabel. 3. 3. Hasil pengukuran fishfinder No. Operasi Suhu Kedalaman

Setting Menit ke 1 29oC 14,4 m o Menit ke 2 29 C 6,6 m Menit ke 3 29,1oC 5,6 m o Menit ke 4 29,1 C 14,3 m Menit ke 5 29,4oC 5,2 m Menit ke 6 29,2oC 5,3 m o Menit ke 7 29,2 C 15 m Menit ke 8 29,2oC 16 m o Menit ke 9 29,2 C 4,5 m Menit ke 10 29,2oC 18 m 2. Dragging Menit ke 1 29,2oC 189m o Menit ke 2 29,2 C 13,5 m Menit ke 3 29,3oC 5,5 m Menit ke 4 29,2oC 17,5 m o Menit ke 5 29,2 C 17,5 m Menit ke 6 29,3oC 14,6 m o Menit ke 7 29,3 C 15,5 m Menit ke 8 29,3oC 14,3 m o Menit ke 9 29,3 C 14,9 m Menit ke 10 29,3oC 14,3 m o Menit ke 11 29,4 C 13,7 m Menit ke 12 29,4oC 11,2 m o Menit ke 13 29,5 C 11,1 m Menit ke 14 29,5oC 11,9 m Menit ke 15 29,4oC 14,1 m o Menit ke 16 29,5 C 11,1 m Lanjutan. Tabel 3. 3. Hasil pengukuran fish finder No. Operasi Suhu Kedalaman o Menit ke 17 29,4 C 10,5 m Menit ke 18 29,4oC 10,4 m Menit ke 19 29,4oC 10,3 m o Menit ke 20 29,4 C 12,1 m Menit ke 21 29,4oC 12,6 3. Hauling Menit ke 1 29,4oC 13,6 m o Menit ke 2 29,5 C 11,3 m Menit ke 3 29,4oC 13,5 m o Menit ke 4 29,4 C 12,5 m

1.

Dalam penggunaan fish finder dilakukan pada saat kapal melakukan pengitaran mencari gerombolan ikan dengan mengitari perairan sekitar pulau panjang Jepara yang bertujuan mengetahui ada atau tidaknya ikan di dalam suatu perairan. Fish finder juga dapat mengukur suhu air pada kedalaman tertentu. Alat ini sangat membantu dalam kegiatan penangkapan ikan. Cara penggunaanya dengan menjatuhkan semacam sensor di dalam suatu perairan, dan selanjutnya melihat layar fish finder. Di dalam layar akan muncul keterangan dan gambar ikan, tumbuhan laut, kedalaman perairan dan suhu airnya. Hasil pengukuran dicatat tiap 1 menit sekali, hingga kapal melakukan Hauling.

3.3.2. Current Meter

Gambar 3.2. Current meter

Current meter merupakan alat pengukur kecepatan dan arus air permukaan. Ada dua tipe current meter yaitu tipe baling-baling (proppeler type) dan tipe canting (cup type). Alat ini digunakan sebagai alat ukur untuk keperluan navigasi dalam pelayaran maupun penelitian arus pantai/laut dan saluran irigasi. Arus permukaan adalah arus yang ditimbulkan oleh Angin di permukaan lautan. sebuah current meter menggunakan"resistance body" sebagai sensornya, Gaya drag dart aliran arus Akan mendorong sensor sehingga menyimpang dart keseimbangannya dan penyimpangan ini merupakan ukuran untuk kecepatan dan arah arus pads suatu seat. Teori drag dipakai sebagai penunjang di mana besar gaya drag tergantung pada koefisien tahanan sensor, masse jenis air, luas permukaan bidang sentuh dan kecepatan arusnya. Persamaan kecepatan diturunkan dari keseimbangan antara drag dan beret sensor dengan sumbu horizontal kemudian dibandingkan dengan kompas sebagai acuannya. Untuk mengubah besaran mekenis menjadi besaran elek tris digunakan transduser tahanan berubah L.D.R dan piringen bersandi yang bekerja secara foto elektris, kemudian sinyal tersebut setelah melalui bagian pembanding dan penggerak dapat diperagakan secara digital. Tabel. 3. 4. Hasil pengukuran Currenmeter : No. Jenis Pengukuran Kecepatan Arus 1. Arus Permukaan 0,09 m/s 2. Arus Pertengahan 0,05 m/s Pengukuran dilakukan selama 6 48 Penggunaan alat current meter pada saat patikum metode penangkapan ikan dilakukan di perairan dekat dengan pulau panjang, Jepara. Saat kapal dalam posisi perahu bergerak ke depan dengan kecepatan dikurangi current meter dijatuhkan pada

permukaan dan pertengahan air, kemudian kita melihat skala yang ditunjukan dilayar current meter. Dengan melihat hasil kecepatan arus, yaitu pada permukaan air 0,09m/s dan pertengahan air didapat 0,05 m/s dapat disimpulkan bahwa distribusi kecepatan aliran di dalam arus tidak sama, baik arah horisontal maupun arah vertikal. Dengan kata lain kecepatan aliran pada tepi alur tidak sama dengan tengah alur, dan kecepatan aliran dekat permukaan air tidak sama dengan kecepatan pada dasar alur.

3.3.3. Anemometer

Gambar 3.3. Anemometer

Anemometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur arah dan kecepatan angin. Satuan meteorologi dari kecepatan angin adalah Knots (Skala Beaufort). Sedangkan satuan meteorologi dari arah angin adalah 0 360 dan arah mata angin. Anemometer harus di tempatkan di daerah terbuka. pada saat tertiup angin, baling-baling yang terdapat pada anemometer akan bergerak sesuai arah angin. Di dalam anemometer terdapat alat pencacah yang akan menghitung kecepatan angin. Hasil yang diperoleh alat pencacah dicatat, kemudian dicocokkan dengan Skala Beaufort. Selain menggunakan anemometer, untuk mengetahui arah mata angin, kita dapat menggunakan bendera angin. Anak panah pada baling-baling bendera angin akan menunjukkan ke arahmana angin bertiup. Cara lainnya dengan membuat kantong angin dan diletakkan di tempat terbuka.

Tabel. 3. 5. Hasil pengukuran Anemometer : No. Operasi Kecepatan Angin 1. Setting 2,03 m/s 2. Dragging 2, 42 m/s 3. Hauling 2, 26 m/s Kecepatan kapal : 13 km/jam Arah angin dari selatan ke utara

Suhu Udara 29,5C 29,4C 29,4C

Pengukuran kecepatan arus digunakan anemometer pada saat praktikum metode penangkapan ikan Anemometer dipasang dengan ketinggian 10 meter dan berada di tempat terbuka yaitu diatas kapal ancofi disekitar perairan dekat pulau panjang, Jepara yang memiliki jarak dari penghalang sejauh 10 kali dari tinggi

penghalang (pohon, gedung atau sesuatu yang menjulang tinggi). Hal itu dilakukan agar mempermudah dalam pengukuran kecepatan angin. Penggunaan anemometer dimulai dari awal kegiatan hingga akhir melakukan kegiatan. Hasil kecepatan angin yang diperoleh pada saat setting 2,03 m/s, dragging 2,42 m/s, sedangkan pada saat hauling didapat hasil 2,26 m/s.

3.4. Analisis Dugaan Bukaan Otter Board, Dugaan Mulut Jaring dan Swept Area Methods 3.4.1. Analisis Dugaan Bukaan Otter Board a b c

d a = 40 cm b = 8 cm

c = 36 m = 3600 m Maka, bukaan mulut jaring :


a c = b d

Di mana : a = Tali sampel b = Bukaan tali sampel c = Tali cabang atau selambar d = Bukaan otter board
40 3600 = 8 d

d=

3600 8 40

d = 720 cm = 7,2 m 3.4.2. Analisis Pendugaan Bukaan Mulut Jaring S=


d Lt Lt + Ls

Di mana, d = Pendugan Bukaan Otter Board Lt = Panjang jaring tanpa kantong Ls = Tali swept S=
7,2 12 12 +1

= 6,64 m 3.4.3. Analisis Swept Area Methods

Metoda sapuan dasar (swept area methods) bertujuan untuk menghitung kepadatan ikan damersal (dalam satuan berat atau ekor) pada luasan area tertentu. Alat yang biasanya digunakan adalah trawl dasar berpapan (otter bottom trawl) atau trawl dasar berpalang (beam bottom trawl). A E = Luas area yang disapu. = Escapment factor (Faktor Lolosnya ikan = 0,5).

Dimana A = C x HR x V x T C = Nilai konstanta membukanya mulut jaring pada saat dioperasikan (0,5).

HR = Panjang Head Rope. V T = Kecepatan kapal pada saat menarik jaring. = Lama waktu jaring ditarik.

C = 0,5 gr V = 4 km/jam = 1,11 m/s HR T = 6,64 m = 31 menit 27 detik = 1887 detik Maka, perhitungannya : A = 0,5 6,64 1887 1,11 A = 6953,9 m2

3.5. Analisis Hasil Tangkapan 3.5.1. Hasil Tangkapan Jaring yang digunakan pada alat tangkap arad harus terbuat dari bahan yang kuat, biasanya terbuat dari bahan Polyethylene karena pada saat pengoperasian arad ini ditarik oleh kapal di dasar perairan, sehingga tidak cepat rusak atau robek akibat bergesekan dengan dasar perairan dan bebatuan. Warna dari jaring penyesuaiaan dengan perairan yang jernih supaya tidak terlihat oleh ikan. Daerah operasi arad pada pantai dengan dasar lumpur, pasir, atau pasta campur lumpur dengan kedalaman relatif dangkal dan topografi dasarnya relatif datar,

selain itu kondisi angin, arus, dan gelembung harus diperhatikan. Waktu penangkapan dapat dilakukan baik pada waktu siang maupun malam hari. Sayap arad terdiri dari 6 bagian, tersusun dari jumlah mata jaring dan mesh size yang berbeda. Semakin menuju ke badan jumlah mata vertikal semakin banyak menunjukkan ukuran sayap semakin besar. Badan terdiri dari lima bagian yang tersusun jumlah mata jaring dan mesh size yang berbeda. Badan pada arad semakin menuju ke kantong justru semakin kecil jumlah mata jaring vertikal dan ukuran mesh sizenya. Ukuran terkecil dari semua bagian adalah terletak pada kantung, mesh size kantung tersebut kecil karena berfungsi untuk menampung hasil tangkapan supaya tidak mudah lolos. Hasil tangkapan jaring arad (Small Bottom Trawl) sebagian besar berasal dari ikan-ikan demersal dan sejenisnya, seperti ikan pari, udang, cumi-cumi, gurita dan ikan demersal lainnya. Hasil tangkapan jaring arad pada saat praktikum kebanyakan jenis ikan petek sehingga nilai biomassa ikan petek paling besar. Tabel. 3. 6. Analisis Hasil Tangkapan Small Bottom Trawl Alat Jenis Ikan Panjang standart Berat individu Min. Max. Min. Max. tangkap (Dominan) Arad Lobster (Panneus 5 cm 26 cm 1 gr 75 gr monodon) Cumi cumi (Loligo Sp.) Gerabah Gurita (Octopus Sp.) Petek (Leiognathus daura) 5,5 cm 7 cm 14 cm 3,5 cm 18 cm 17 cm 30 cm 9 cm 1 gr 3 gr 50 gr 1 gr 50 gr 50 gr 100 gr 20 gr Total Berat Ekor 150 gr 270 gr 260 gr 260 gr 850 gr 8 18 23 3 191

Munir 3.5.2 Analisis Stock Density

cm

cm

1 gr

gr

700 gr

154

Analisa stok density dengan menggunakan rumus : Sd =


CPUE A E

dengan, CPUE E

= Berat ikan hasil tangkapan = 0,5

CPUE total = 2490 gr A Sd total = 6953,9 m2 = 6953,9 0,5 = 0,716 gr/m2


2490

Maka perhitungannya : 1. Lobster, CPUE = 150 gr Sd = 6953,9 0,5 = 0,04 gr/m2 2. Cumi-cumi, CPUE = 270 gr Sd = 6953,9 0,5 = 0,077 gr/m2 3. Gerabah, CPUE = 260 gr
270 150

Sd = 6953,9 0,5 = 0,074 gr/m2 4. Gurita, CPUE = 260 gr Sd = 6953,9 0,5 = 0,074 gr/m2 5. Ikan Petek, CPUE = 850 gr Sd = 6953,9 0,5 = 0,24 gr/m2
850 260

260

6. Ikan Munir, CPUE = 700 gr Sd = 6953,9 0,5 = 0,2 gr/m2


700