Anda di halaman 1dari 17

BAB I ILUSTRASI KASUS

I.

Identitas Pasien

Nama Jenis Kelamin Umur Agama Suku Pekerjaan Alamat

: Tn. Mahfudz : Laki- laki : 58 tahun : Islam : Jawa : Pensiunan : Jalan Tegal Gundil RT 04 RW 02 Bogor Utara

II.

Anamnesis Autoanamnesis dilakukan pada tanggal 25 Juli 2013 pukul 14.30 WIB di Poliklinik Mata RSMM Bogor. a. Keluhan Utama Mata kiri terasa pegal apabila sedang membaca menggunakan kacamata.

b. Keluhan tambahan Mata kiri terasa berdenyut, pusing, penglihatan terasa agak lebih buram dari sebelumnya.

c. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang ke Poliklinik Mata RSMM dengan keluhan mata kiri terasa pegal apabila membaca menggunakan kacamata baca sejak 2 hari terakhir ini. Selain itu, OS mengaku mata kirinya terasa berdenyut namun tidak nyeri. OS mengaku lebih nyaman apabila tidak memakai kacamata sejak 2 hari yang lalu. Karena apabila memakai kacamata keluhan ini akan timbul. OS juga mengaku penglihatannya dirasakan agak lebih buram dari sebelumnya. Namun, os
1

mengaku apabila melihat jauh masih bisa melihat jelas, tetapi apabila melihat dekat penglihatannya terganggu menjadi buram. OS mengaku juga sejak 2 hari yang lalu kepala OS sering terasa pusing apabila membaca dekat. OS mengaku sudah 6 tahun ini berkacamata dan terakhir control ke dokter mata sekitar 2 tahun yang lalu. OS menyangkal ada perih pada mata, mata merah, berair serta banyak kotoran pada mata. OS mengaku belum memeriksakan ke dokter sebelumnya sejak keluhannya ini timbul.

d. Riwayat Penyakit Dahulu Pasien mengaku memiliki riwayat penyakit kencing manis sejak 4 tahun terakhir. Namun, Os mengaku tidak berobat ke dokter. Os menyangkal memiliki riwayat darah tinggi, riwayat trauma pada mata sebelumnya. Os juga menyangkal memiliki riwayat alergi terhadap makanan maupun obat-obatan. Os mengaku telah memakai kacamata selama 6 tahun terakhir ini.

e. Riwayat Kebiasaan Os mengaku tidak memiliki kebiasaan seperti menonton dengan jarak yang dekat, bermain computer berlama-lama, dan merokok.

f. Riwayat Keluarga Os mengaku dalam keluarganya tidak ada anggota keluarga yang mengalami gejala yang serupa, berkacamata, menderita darah tinggi kencing manis dan alergi.

III.

Pemeriksaan Fisik

a. Status Generalis Keadaan umum Kesadaran Tanda vital Frekuensi nadi Frekuensi napas : 88x per menit : 20x per menit
2

: sakit ringan : compos mentis

Suhu tubuh Tekanan Darah

: 36,7oC :120/70 mmHg

Kepala : 1. Bentuk 2. Mata 3. Telinga 4. Hidung 5. Bibir 6. Mulut 7. Lidah 8. Faring Leher Toraks: 1. Dinding toraks : Bentuk normal, retraksi sela iga (-), iga vertikal, simetris dalam : Normocephali : Lihat status oftalmologi : Normotia, tidak tampak serumen dan tidak tampak sekret. : Tidak ada deformitas, septum deviasi (-), sekret (-) : Tidak kering, tidak sianosis : Stomatitis (-), mukosa mulut tidak kering : tidak kotor, tidak tremor : tidak hiperemis : KGB tidak teraba Trakea lurus di tengah

keadaan statis dan dinamis 2. Paru Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi : Simetris dalam keadaan statis dan dinamis : Vokal fremitus simetris : Sonor pada paru kedua lapang paru : Suara nafas vesikuler di kedua lapang paru, ronkhi -/-, wheezing -/-

3. Jantung Inspeksi Palpasi : Ictus cordis tidak tampak : Ictus cordis teraba pada ICS V 1 cm medial garis midclavicularis sinistra,

tidak teraba thrill Auskultasi : BJ I normal, BJ II normal, regular, tidak ada splitting, tidak ada murmur,

tidak ada gallop

Abdomen: Inspeksi : buncit, tidak tampak distensi, tidak tampak vena collateral
3

Palpasi

: Tidak ada nyeri tekan, undulasi (-), hepar dan lien tidak teraba, turgor

kulit baik, lemas Perkusi Auskultasi : Timpani, shifting dullness (-) : bising usus (+) normal : Tidak teraba : atas : akral hangat, deformitas (-), sianosis (-), oedem (-)

Kelenjar getah bening Anggota gerak

bawah : akral hangat, deformitas (-), sianosis (-), oedem (-)

b. Status Oftalmologi Okular Dextra a. Palpebra 1. Skuama 2. Oedem 3. Luka Robek b. Konjungtiva i. ii. iii. iv. v. 1. Injeksi 2. Warna 3. Penebalan 4. Sekret 5. Benda Asing c. Kornea 1. Jernih 2. Benda Asing 3. Infiltrat 4. Sikatrik 5. Arkus Senilis d. COA 1. Isi 2. Volume Normal Normal Normal Normal + + Jernih Jernih Okular Sinistra

e. Iris
4

1. 2.

Warna Kripta

Coklat + 3.

Coklat +

f. Pupil 1. Besar 2. Warna 3. Bentuk 4. RCL/RCTL 5. Posisi 3 mm Hitam Bulat, regular +/+ Ortoposisi 6. g. Visus h. Gerakan Bola Mata i. Lensa 1,0 F Ke segala arah Jernih 0,5 F Ke segala arah Jernih 3 mm Hitam Bulat, regular +/+ Ortoposisi

IV.

Pemeriksaan Penunjang Pada kacamata lama OS ditemukan : OD : S + 0,75 OS : S + 1,25 ADD : + 2,25 Dengan menggunakan kartu Snellen, ditemukan : OD: S + 0,50 OS : S + 1,00 ADD ODS : + 2,75

V.

Resume Seorang laki-laki, 58 tahun datang ke poliklinik mata RSMM dengan keluhan mata kiri terasa pegal apabila membaca menggunakan kacamata baca sejak 2 hari terakhir ini. Selain itu, OS mengaku mata kirinya terasa berdenyut namun tidak nyeri. OS mengaku lebih nyaman apabila tidak memakai kacamata sejak 2 hari yang lalu. OS juga mengaku penglihatannya dirasakan agak lebih buram dari sebelumnya. Namun, os mengaku apabila melihat jauh masih bisa melihat jelas, tetapi apabila
5

melihat dekat penglihatannya terganggu menjadi buram. OS mengaku juga sejak 2 hari yang lalu kepala OS sering terasa pusing apabila membaca dekat. OS mengaku sudah 6 tahun ini berkacamata dan terakhir control ke dokter mata sekitar 2 tahun yang lalu. Pada pemeriksaan fisik, status generalis dalam batas normal. Pada pemeriksaan oftalmologi didapatkan : visus 1,0 F / 0,5 F. Pada kacamata lama OS ditemukan OD : S + 0,75 , OS : S + 1,25 dan ADD : + 2,25. Dengan menggunakan kartu Snellen, ditemukan : OD: S + 0,50, OS : S + 1,00 dengan ADD ODS : + 2,75.

VI.

Diagnosa Kerja Presbiopi Hipermetropi ODS

VII.

Penatalaksanaan ODS Pemakaian Kacamata VOD : 1.0 F S + 0,50 1,0 VOS : 0,5 F S + 1,00 1,0 ADD : + 2,75 PD : 60/62 Medikamentosa 1. 2. Protagent A Ed 4 x 1 tetes/ hari ODS Vitanorm 2 x 1

VIII. Prognosis Ad Vitam : bonam Ad Visam : dubia ad bonam

IX.

Anjuran Bila membaca atau menonton TV lama, usahakan agar sesekali berhenti untuk mengistirahatkan mata. Hindari posisi membaca terlalu dekat atau membungkuk .
6

Bila membaca dan bekerja, gunakan penerangan yang baik Gunakan kacamata Periksakan mata secara berkala (kontrol teratur)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA HIPERMETROPIA

2.1

HIPERMETROPIA

2.1.1 Definisi Hipermetropia juga dikenal dengan istilah hyperopia atau rabun dekat. Hipermetropia adalah keadaan mata yang tidak berakomodasi memfokuskan bayangan di belakang retina.(1,2) Pasien dengan hipermetropia mendapat kesukaran untuk melihat dekat akibat sukarnya berakomodasi. Keluhan akan bertambah dengan bertambahnya umur yang diakibatkan melemahnya otot siliar untuk akomodasi dan berkurangnya kekenyalan lensa.(1) Pada perubahan usia lensa berangsur-angsur tidak dapat memfokuskan bayangan pada selaput jala (retina) sehingga akan lebih terletak di belakangnya. Sehingga diperlukan penambahan lensa positif atau konveks dengan bertambahnya usia.(1)

2.1.2 Etiologi Kekuatan optik mata terlalu rendah (biasanya karena mata terlalu pendek) dan sinar cahaya paralel mengalami konvergensi pada titik di belakang retina. Penyebab utama hipermetropia adalah panjangnya bola mata yang lebih pendek. Akibat bola mata yang lebih pendek bayangan benda akan difokuskan di belakang retina atau selaput jala.(1,3) Sebab atau jenis hipermetropia:(1) Hipermetropia sumbu atau hipermetropia aksial merupakan kelainan refraksi akibat bola mata pendek atau sumbu anteroposterior yang pendek. Hipermetropia kurvatur, dimana kelengkungan kornea atau lensa kurang sehingga bayangan difokuskan di belakang retina.

Hipermetropia indeks refraktif, dimana terdapat indeks bias yang kurang pada system optik mata, misalnya pada usia lanjut lensa mempunyai indeks refraksi lensa yang berkurang.

2.1.3 Bentuk Hipermetropia Hipermetropia dikenal dalam bentuk:(1) 1. Hipermetropia manifes, ialah hipermetropia yang dapat dikoreksi dengan kaca mata positif maksimal yang memberikan tajam penglihatan normal. Hipermetropia ini terdiri atas hipermetropia absolut ditambah dengan hipermetropia fakultatif. 2. Hipermetropia absolute, dimana kelainan refraksi tidak diimbangi dengan akomodasi dan memerlukan kaca mata positif untuk melihat jauh. 3. Hipermetropia fakultatif, dimana kelainan hipermetropia dapat diimbangi dengan akomodasi ataupun dengan kaca mata positif. Pasien yang hanya mempunyai hipermetropia fakultatif akan melihat normal tanpa kaca mata. Bila diberikan kaca mata positif yang memberikan penglihatan normal maka otot akomodasinya akan mendapatkan istirahat. Hipermetropia manifest yang masih memakai tenaga akomodasi disebut sebagai hipermetropia fakultatif. 4. Biasanya hipermetropia laten yang ada berakhir dengan hipermetropia absolut ini. Hipermetropia manifes yang tidak memakai tenaga akomodasi sama sekali disebut sebagai hipermetropia absolut, sehingga jumlah hipermetropia fakultatif dengan hipermetropia absolut adalah hipermetropia manifest. 5. Hipermetropia laten, dimana kelainan hipermetropia tanpa siklopegia (atau dengan obat yang melemahkan akomodasi) diimbangi seluruhnya dengan akomodasi. Hipermetropia laten hanya dapat diukur bila diberikan siklopegia. Makin muda makin besar komponen hipermetropia laten seseorang. Makin tua seseorang akan terjadi kelemahan akomodasi sehingga hipermetropia laten menjadi hipermetropia fakultatif dan kemudian menjadi hipermetropia absolut. Hipermetropia laten sehari-hari diatasi pasien dengan akomodasi terus-menerus, terutama bila pasien masih muda dan daya akomodasinya masih kuat. 6. Hipermetropia total, hipermetropia yang ukurannya didapatkan sesudah diberikan siklopegia.
9

2.1.4 Gejala Hipermetropia Biasanya seseorang dengan hipermetropia tidak menyukai keramaian dan lebih senang sendiri. Hipermetropia sukar melihat dekat dan tidak sukar melihat jauh. Melihat dekat akan lebih kabur dibandingkan dengan melihat sedikit lebih dijauhkan. Biasanya pada usia muda tidak banyak menimbulkan masalah karena dapat diimbangi dengan melakukan akomodasi.(1) Bila hipermetropia lebih dari + 3.00 dioptri maka tajam penglihatan jauh akan terganggu. Sesungguhnya sewaktu kecil atau baru lahir mata lebih kecil dan hipermetropia. Dengan bertambahnya usia maka kemampuan berakomodasi untuk mengatasi hipermetropia ringa berkurang. Pasien hipermetropia hingga + 2.00 dengan usia muda atau 20 tahun masih dapat melihat jauh dan dekat tanpa kaca mata dengan tidak mendapatkan kesukaran. Pada usia lanjut dengan hipermetropia, terjadi pengurangan kemampuan untuk berakomodasi pada saat melihat dekat ataupun jauh.(1) Pasien dengan hipermetropia apapun penyebabnya akan mengeluh matanya lelah dan sakit karena terus-menerus harus berakomodasi untuk melihat atau memfokuskan bayangan yang terletak di belakang makula agar terletak di daerah makula lutea. Keadaan ini disebut astenopia akomodatif. Akibat terus-menerus berakomodasi, maka bola mata bersama-sama melakukan konvergensi dan mata akan sering terlihat mempunyai kedudukan esotropia atau juling ke dalam.(1) Pasien muda dengan hipermetropia tidak akan memberikan keluhan karena matanya masih mampu melakukan akomodasi kuat untuk melihat benda dengan jelas. Pada pasien yang banyak membaca atau mempergunakan matanya, terutama pada usia yang telah lanjut, akan memberikan keluhan kelelahan setelah membaca. Keluhan tersebut berupasakit kepala, mata terasa pedas dan tertekan.(1) Keluhan mata yang harus berakomodasi terus untuk dapat melihat jelas adalah:(1) Mata lelah Sakit kepala Penglihatan kabur melihat dekat

Pada usia lanjut seluruh titik fokus akan berada di belakang retina karena berkurangnya daya akomodasi mata dan penglihatan akan berkurang.

10

2.1.5 Pemeriksaan Hipermetropia 2.1.5.1 Tujuan Pemeriksaan bertujuan mengetahui derajat lensa positif yang diperlukan untuk memperbakir tajam penglihatan sehingga tajam penglihatan menjadi normal atau tercapai tajam penglihatan yang terbaik.(4)

2.1.5.2 Dasar Mata hipermetropia mempunyai kekuatan lensa positif kurang sehingga sinar sejajar tanpa akomodasi di fokus di belakang retina. Lensa positif menggeser bayangan benda ke depan sehingga pada mata hipermetropia lensa positif dapat diatur derajat kekuatannya untuk mendapatkan bayangan jatuh tepat pada retina.(4) 2.1.5.3 Alat (4) 1. Kartu Snellen 2. Gagang lensa coba 3. Satu set lensa coba 2.1.5.4 Teknik(4) * Pasien duduk menghadap kartu Snellen pada jarak 6 meter. * Pada mata dipasang gagang lensa coba. * Satu mata ditutup, biasanya mata kiri ditutup terlebih dahulu untuk memeriksa mata kanan. * Pasien diminta membaca kartu Snellen mulai huruf terbesar (teratas) dan diteruskan pada baris bawahnya sampai pada huruf terkecil yang masih dapat dibaca

11

* Lensa positif terkecil ditambah pada mata yang diperiksa dan bila tampak lebih jelas oleh pasien lensa positif tersebut ditambah kekuatannya perlahan-lahan dan diminta membaca huruf-huruf pada baris lebih bawah. * Ditambah kekuatan lensa sampai terbaca huruf-huruf pada baris 6/6. * Ditambah lensa positif + 0.25 lagi dan ditanyakan apakah masih dapat melihat huruf-huruf di atas. Mata yang lain dilakukan dengan cara yang sama.

2.1.5.5 Nilai(4) * Bila dengan S + 2.00 tajam penglihatan 6/6, kemudian dengan S + 2.25 tajam penglihatan 6/6 sedang. * Dengan S + 2.50 tajam penglihatan 6/6-2 maka pada keadaan ini derajat hipermetropia yang diperiksa S + 2.25 dan kaca mata dengan ukuran ini diberikan pada pasien. * Pada pasien hipermetropia selamanya diberikan lensa sferis positif terbesar yang memberikan tajam penglihatan terbaik.

2.1.6 Pengobatan Untuk memperbaiki kelainan refraksi adalah dengan mengubah system pembiasan dalam mata. Pada hipermetropia, mata tidak mampu mematahkan sinar terutama untuk melihat dekat. Mata dengan hipermetropia memerlukan lensa cembung atau konveks untuk mematah sinar lebih kuat ke dalam mata. Pengobatan hipermetropia adalah diberikan koreksi hipermetropia manifest dimana tanpa sikloplegia didapatkan ukuran lensa positif maksimal yang memberikan tajam penglihatan normal (6/6).(1) Bila terdapat juling ke dalam atau esotropia, diberikan kaca mata koreksi hipermetropia total. Bila terdapat tanda atau bakat juling keluar (eksoforia) maka diberikan kaca mata
12

koreksi positif kurang. Bila terlihat tanda ambliopia diberikan koreksi hipermetropia total. Mata ambliopia tidak terdapat daya akomodasi.(1) Koreksi lensa positif kurang berguna untuk mengurangkan berat kaca mata dan penyesuaian kaca mata. Biasanya resep kaca mata dikurangkan 1-2 dioptri kurang daripada ukuran yang didapatkan dengan pemberian sikloplegik.(1) Pada pasien dengan hipermetropia sebaiknya diberikan kaca mata sferis positif terkuat atau lensa positif terbesar yang masih memberikan tajam penglihatan maksimal. Bila pasien dengan + 3.0 ataupun dengan + 3.25 memberikan ketajaman penglihatan 6/6, maka diberikan kaca mata + 3.25. Hal ini untuk memberikan istirahat pada mata akibat hipermetropia fakultatifnya diistirahatkan dengan kaca mata (+).(1) Pada pasien dimana akomodasi masih sangat kuat atau pada anak-anak, maka sebaiknya pemeriksaan dilakukan dengan memberikan sikloplegik atau melumpuhkan otot akomodasi. Dengan melumpuhkan otot akomodasi, maka pasien akan mendapatkan koreksi kaca matanya dengan mata yang istirahat.(1) Pada pasien diberikan kaca mata sferis positif terkuat yang memberikan penglihatan maksimal.(1)

2.1.7 Penyulit Mata dengan hipermetropia sering akan memperlihatkan ambliopia akibat mata tanpa akomodasi tidak pernah melihat obyek dengan baik dan jelas. Bila terdapat perbedaan kekuatan hipermetropia antara kedua mata, maka akan terjadi ambliopia pada salah satu mata. Mata ambliopia sering menggulir ke arah temporal.(1) Penyulit lain yang dapat terjadi pada pasien dengan hipermetropia adalah esotropia dan glaukoma. Esotropia atau juling ke dalam terjadi akibat pasien selamanya melakukan akomodasi. Glaukoma sekunder terjadi akibat hipertrofi otot siliar pada badan siliar yang akan mempersempit sudut bilik mata.(5)

13

2.2 PRESBIOPIA 2.2.1 Definisi Makin berkurangnya kemampuan akomodasi mata sesuai dengan makin meningkatnya umur.7 Kelainan ini terjadi pada mata normal berupa gangguan perubahan kencembungan lensa yang dapat berkurang akibat berkurangnya elastisitas lensa sehingga terjadi gangguan akomodasi. 6 Berikut ini gambar ilustrasi pembentukan bayangan pada penderita presbiopia.

Diterangkan bahwa: terjadi kekakuan lensa seiring dengan bertambahnya usia, sehingga kemampuan lensa untuk memfokuskan bayangan saat melihat dekat. Hal tersebut menyebabkan pandangan kabur saat melihat dekat. 6 2.2.2 Etiologi Gangguan akomodasi pada usia lanjut dapat terjadi akibat: Kelemahan otot akomodasi Lensa mata yang tidak kenyal atau berkurang elastisitasnya akibat sklerosis lensa 6

2.2.3 Patofisiologi Pada mekanisme akomodasi yang normal terjadi peningkatan daya refraksi mata karena adanya perubahan keseimbangan antara elastisitas matriks lensa dan kapsul sehingga lensa menjadi cembung. Dengan meningkatnya umur maka lensa menjadi lebih keras (sklerosis)

14

dan kehilangan elastisitasnya untuk menjadi cembung, dengan demikian kemampuan melihat dekat makin berkurang. 6 2.2.4Gejala Klinis o Akibat gangguan akomodasi ini maka pada pasien berusia lebih dari 40 tahun, akan memberikan keluhan setelah membaca yaitu berupa mata lelah, berair dan sering terasa pedas. o Karena daya akomodasi berkurang maka titik dekat mata makin menjauh dan pada awalnya akan kesulitan pada waktu membaca dekat huruf dengan cetakan kecil. o Dalam upayanya untuk membaca lebih jelas maka penderita cenderung menegakkan punggungnya atau menjauhkan obyek yang dibacanya sehingga mencapai titik dekatnya dengan demikian obyek dapat dibaca lebih jelas. o Presbiopia timbul pada umur 45 tahun untuk ras Kaukasia dan 35 tahun untuk ras lainnya. 6

2.2.5 Pemeriksaan a. Alat - Kartu Snellen - Kartu baca dekat - Seuah set lensa coba - Bingkai percobaan8

b. Teknik - Penderita yang akan diperiksa penglihatan sentral untuk jauh dan diberikan kacamata jauh sesuai yang diperlukan (dapat poitif, negatif ataupun astigmatismat) - Ditaruh kartu baca dekat pada jarak 30-40 cm (jarak baca) - Penderita disuruh membaca huruf terkecil pada kartu baca dekat - Diberikan lensa positif mulai S +1 yang dinaikkan perlahan-lahan sampai terbaca huruf terkecil pada kartu baca dekat dan kekuatan lensa ini ditentukan - Dilakukan pemeriksaan mata satu per satu8

15

c. Nilai Ukuran lensa yang memberikan ketajaman penglihatan sempurna merupakan ukuran lensa yang diperlukan untuk adisi kacamata baca. Hubungan lensa adisi dan umur biasanya:6,8 40 sampai 45 tahun 1.0 dioptri 45 sampai 50 tahun 1.5 dioptri 50 sampai 55 tahun 2.0 dioptri 55 sampai 60 tahun 2.5 dioptri 60 tahun 3.0 dioptri 2.2.6 Penatalaksanaan Diberikan penambahan lensa sferis positif sesuai pedoman umur yaitu umur 40 tahun (umur rata rata) diberikan tambahan sferis + 1.00 dan setiap 5 tahun diatasnya ditambahkan lagi sferis + 0.50 Lensa sferis (+) yang ditambahkan dapat diberikan dalam berbagai cara: 1. kacamata baca untuk melihat dekat saja 2. kacamata bifokal untuk sekaligus mengoreksi kelainan yang lain 3. kacamata trifokus mengoreksi penglihatan jauh di segmen atas, penglihatan sedang di segmen tengah, dan penglihatan dekat di segmen bawah
4.

kacamata progressive mengoreksi penglihatan dekat, sedang, dan jauh, tetapi dengan perubahan daya lensa yang progresif dan bukan bertingkat.2,8

16

DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas, S. 2004. Hipermetropia dalam Kelainan Refraksi dan Koreksi Penglihatan. Jakarta: Penerbit FKUI. hal: 35-45. 2. Riordan, Paul, Whitcher, John P. 2000. Vaughan & Asbury Oftalmologi Umum. Jakarta: EGC. Hal: 401-402. 3. James, Bruce,Chris C., Anthony B..2005. Lecture Notes Oftalmologi. Jakarta : Erlangga. Hal: 35. 4. Ilyas, S. 2003. Pemeriksaan Hipermetropia dalam Dasar Teknik Pemeriksaan dalam Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Penerbit FKUI. hal: 31-34. 5. Ilyas, S. 2001. Penuntun Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Penerbit FKUI. hal: 6-8. 6. Ilyas, Sidarta, 2005. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Bagian Ilmu Penyakit Mata Fakultas Ilmu Kedokteran Universitas Indonesia. 7. Khurana A K. 2007. Chapter 3 Optics and Refraction,Comprehensive Ophtamology, fourth edition. New Age international, New Delhi 8. Ilyas, S. 2003. Uji Presbiopia dalam Dasar Teknik Pemeriksaan dalam Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Penerbit FKUI. hal: 38-39

17