Anda di halaman 1dari 104

ANALISIS POTENSI PENERIMAAN TUNGGAKAN PAJAK KENDARAAN BERMOTOR PADA KANTOR SISTEM ADMINISTRASI MANUNGGAL DIBAWAH SATU ATAP

(SAMSAT) MAKASSAR
Andi Marlinah *)
Abstract : Motor vehicle tax revenue from year to year fluctuations, which at the beginning of the semester to second semester in 2007 increased by 7.89%, but in the first half of 2008 has decreased by 20.77% of tax revenue. This is due to the lack of public awareness of the obligation to pay taxes, lack of good service to the level of long queues and long enough or because the vehicle is lost or damaged but not yet reported. Level of realization of arrears of PKB (motorcycle) was 22.69% with the potential revenues that can be invoiced in arrears in the amount of Rp1.896.510.096. While the realization of arrears of CLA (car) of 53.26%, and the potential revenue arrears PKB (cars) in semesters to come to be collectible by Rp1.463.836.453,5. Key Words : Motor Vehicle Tax, Arrears, Potential

PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Dalam era otonomi daerah dan modernisasi, banyak tantangan yang dihadapi oleh suatu daerah. Terlebih bagi Dinas Pendapatan Daerah, yang senantiasa dituntut untuk memaksimalkan kemam-puanya dalam pengelolaan daerah. Tantangan-tantangan akibat perkembangan yang dihadapi Dinas Pendapatan Daerah dari Pajak Daerah yaitu: meningkatkan jumlah obyek/subyek Pajak, meningkatnya target Pajak Daerah, meningkatnya kom-pleksitas administrasi perpajakan, mening-katnya pengawasan eksternal, mening-katnya penghindaran pajak yang meng-akibatkan piutang pajak semakin meningkat. Dengan perubahan peraturan perundang-undangan pada Pajak Daerah di tahun 2000, maka ditentukan empat jenis pajak daerah yang bisa dipungut peme-rintah Provinsi, yaitu: Pajak Kendaraan Bermotor, Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor, Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor, dan Pajak Air Permukaan. Pajak kendaraan bermotor saat ini merupakan pajak yang memberikan hasil paling besar dibandingkan dengan jenis pajak daerah yang lainnya. Dalam rangka pelaksanaan pungut-an Pajak Kendaraan Bermotor dengan penerbitan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) dilakukan secara terpadu melalui Kantor Bersama Sistem Administrasi Manunggal Dibawah Satu Atap (SAMSAT) antara Pemerintah Daerah Tingkat 1, Kepala Daerah Kepolisian dan Aparat Departemen Keuangan dalam rangka peningkatan pelayanan kepada masyarakat serta peningkatan pendapatan daerah khususnya mengenai Pajak Kendaraan Bermotor (PKB). Namun masyarakat prihatin ter-hadap banyaknya pajak daerah yang bermasalah karena tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Faktor penyebab timbulnya pajak daerah yang bermasalah disebabkan karena kurangnya pemahaman mengenai tata cara pemungutan pajak daerah yang lebih baik, kurangnya ketaatan terhadap pemenuhan kewajiban di bidang pajak daerah. Kurangnya pembinaan yang dilakukan oleh pemerintah pusat, tidak adanya sanksi bagi daerah yang melanggar ketentuan mengenai pajak daerah. Salah satu upaya untuk mengatasi kelemahan ini adalah melalui penerbitan pedoman Nasional Pajak Daerah.

Wajib pajak yang umumnya ber-domisili di perkotaan disurati, oleh Dinas Pendapatan Daerah melalui PT. Pos Indonesia dengan harapan wajib pajak akan merespon pemberitahuan sehingga tunggakan pajak yang mengendap di masyarakat dapat diperkecil, namun usaha ini tidak dipedulikan oleh masyarakat. Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama merupakan primadona pendapatan asli daerah (PAD) Sulsel. Hampir 90% pajak yang diperoleh Sulsel berasal dari pajak kendaraan ini. Pen-dapatan provinsi dari sektor pajak kendaraan tahun ini diprediksi bertambah, mengingat angka pertambahan kendaraan sangat signifikan. Kenyataan menunjukkan bahwa pendapatan daerah sangat besar dari pajak kendaraan bermotor, buktinya pada penerimaan pajak kendaraan yang berasal dari kota Makassar saja sebesar Rp. 10.186.256.240 Pada bulan Desember 2009, ditambah lagi pendapatan dari tunggakan dari Pajak Kendaraan Bermotor yang tercatat pada Dinas Pendapatan Daerah kota Makassar pada bulan Desember tahun 2009 dari kendaraan sepeda motor sebesar Rp. 3.412.182.040 dan mobil sebesar Rp. 6.327.192.260. Namun tunggakan yang ada pada kota Makassar pada bulan Desember tahun 2009 sebesar Rp. 2.092.919.687, dari tunggakan sepeda motor sebesar Rp. 1.948.355.080 dan mobil sebesar Rp. 144.564.607. Dengan mengamati latar belakang diatas, maka peneliti mencoba menganalisa potensi penerimaan tunggakan Pajak Kendaraan Bermotor pada kantor Sistem Administrasi Manunggal dibawah Satu Atap kota Makassar dengan harapan dapat membantu pihak Dinas Pendapatan Daerah untuk memberikan pengetahuan dan dorongan kepada Masyarakat agar membayar pajak sesuai ketentuan yang ada dan tepat pada waktunya sehingga tidak menimbulkan tunggakan bagi wajib pajak.

Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, maka yang menjadi pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah : Berapa besar Potensi Penerimaan tunggakan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) pada Kantor Sistem Administrasi Manunggal dibawah Satu Atap (SAMSAT) Kota Makassar bisa tertagih pada setiap tahunnya. Tujuan dan Manfaat Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk : Mengetahui berapa besar penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor pada kota Makassar tahun 2007-2009. Mengetahui penyebab terjadinya tunggakan Pajak Kendaraan Bermotor pada tahun 20072009. Mengetahui seberapa besar potensi penerimaan tunggakan Pajak Kendaraan Bermotor pada SAMSAT kota Makassar. Sedangkan manfaat dari penelitian ini adalah untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat pengguna kendaraan tentang pentingnya pembayaran pajak dilakukan tepat waktu sehingga tidak menimbulkan tunggakan bagi wajib pajak serta manfaat dari hasil pembayaran pajak tersebut.

LANDASAN TEORI Pajak Daerah Pajak Daerah adalah iuran wajib yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan kepada daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang, yang dapat dipaksakan berdasarkan peraturan per-undang-undangan yang berlaku, yang digunakan untuk membiayai penyeleng-garaan Pemerintah daerah dan pem-bagunan daerah.(Marihot,2005:10) Pajak Daerah ialah pajak yang dipungut oleh Daerah-daerah Swantara seperti Propinsi, Kabupaten dan Kota Praja untuk pembiayaan rumah tangga daerah masing-masing. Misalnya: Pajak Reklame, Pajak Kendaraan Bermotor, Pajak Rumah Tangga, Pajak Tontonan, Pajak Jalan, Pajak Radio dan Televisi, Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor, dan Pajak Pembangunan. Kriteria Pajak Daerah Dalam berbagai literatur, disebutkan bahwa tidak semua jenis pajak cocok untuk dijadikan sebagai pajak daerah, dalam kegiatannya dengan pelaksanaan otonomi daerah, maka pemberian kewenangan untuk mengadakan pemungutan pajak selain mempertimbangkan kriteria-kriteria perpajakan yang berlaku secara umum, juga harus mempertimbangkan ketetapan suatu pajak sebagai pajak daerah. pajak daerah yang baik merupakan pajak yang akan mendukung pemberian kewenangan kepada daerah dalam rangka pembiayaan desentralisasi. Adapun kriteria pajak daerah dapat digolongkan menjadi Tujuh bagian, yaitu sebagai berikut: Bersifat pajak, dan bukan retribusi Objek dan dasar pengenaan pajak tidak bertentangan dengan kepentingan umum. Objek pajak terletak atau terdapat di wilayah daerah kabupaten/kota yang bersangkutan dan mempunyai mobilitas yang cukup rendah serta hanya melayani masyarakat di wilayah daerah kabupaten/kota yang bersangkutan. Objek pajak bukan merupakan objek pajak provinsi dan/atau obyek pajak pusat. Tidak memberikan dampak ekonomi yang negatif Memperhatikan aspek keadilan dan kemampuan masyarakat. Menjaga kelestarian lingkungan. Dari segi pelayanan tantangan yang dihadapi adalah meningkatnya penyediaan infrastruktur pelayanan sebagai konse-kuensi meningkatnya obyek/subyek pajak, meningkatnya tuntutan masyarakat akan pelayanan prima, meningkatnya kom-pleksitas sistem dan prosedur pelayanan dan meningkatnya kompleksitas koordinasi dan singkronisasi. Bagi sumber daya manusia pada Dinas Pendapatan Daerah perlu ditingkatkan budaya pelayanan yang ramah, tegur sapa, simpati dan empati. Strategi yang dapat dilakukan dalam meningkatkan Pajak Daerah adalah dengan: Peningkatan Basis Pajak (Tax Base). Meningkatkan Pengawasan (Controlling). Pemenuhan Persyaratan Pemungutan Pajak (Tax Collection Requirement). Pajak Kendaraan Bermotor Yang menjadi dasar hukum pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor adalah Ordonansi Pajak Kendaraan Bermotor tahun 1934 sebagaimana telah beberapakali ditambah terakhir dengan Undang-undang Nomor 8 PP tahun 1959 (Lembaran Negara Tahun 1959 Nomor 101). Berdasarkan Undang-undang nomor 32 Tahun 1957 Pajak Kendaraan Ber-motor diserahkan

kepada Daerah Tingkat 1. Atas dasar penyerahan dimaksud, melalui beberapa kali perubahan dan penyempurnaan, terakhir ditempatkan dengan Peraturan Daerah No, 40 Tahun 2000 tentang Pajak Kendaraan Bermotor dan dengan Sistem Administrasi Manung-gal dibawah Satu Atap yang terkenal dengan SAMSAT. Menurut Undang-undang nomor 34 tahun 2000 tentang Pajak Daerah, bahwa yang dimaksud dengan Kendaraan Bermotor adalah semua kendaraan beroda dua/atau lebih, beserta gandengannya yang digunakan di semua jenis jalan darat dan digerakkan oleh peralatan teknik, berupa motor atau peralatan lain yang berfungsi untuk mengubah suatu sumber daya energy tertentu menjadi tenaga gerak kendaraan bermotor yang bersangkutan, termasuk alat-alat berat dan alat-alat besar yang bergerak. Sedangkan Pajak Kendaraan bermotor adalah pajak atas kepemilikan dan/atau penguasa kendaraan bermotor. Cakupan objek pajak kendaraan bermotor adalah kendaraan bermotor yang digunakan di semua jenis jalan darat antara lain: di kawasan bandara, pelabuhan laut, perkebunan, pertanian, kehutanan, per-tambangan, industry, perdagangan, dan sarana olah raga dan rekreasi. Hal ini sesuai dengan pengertian dari Objek Pajak Kendaraan Bermotor, yaitu kepemilikan dan/atau penguasaan kendaraan bermotor oleh BUMN dan BUMD. Dasar Pengenaan Pajak Berdasarkan Peraturan Daerah No.1 Tahun 2003, Dasar Pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor dihitung sebagai perkalian dari dua unsur pokok berikut: Nilai jual kendaraan bermotor Bobot yang mencerminkan secara relative kadar kerusakan jalan dan pencemaran lingkungan akibat penggunaan Kendaraan Bermotor. Nilai jual kendaraan bermotor diperoleh berdasarkan harga pasaran umum atas suatu kendaran bermotor. Dalam hal harga pasaran umum atas suatu kendaraan bermotor yang tidak diketahui, nilai jual kendaraan bermotor ditentukan berdasarkan faktor-faktor berikut : Isi silinder dan/atau satuan daya Penggunaan kendaraan bermotor Jenis kendaraan bermotor Tahun pembuatan kendaraan bermotor Berat total kendaraan bermotor dan banyaknya penumpang yang diizinkan Dokumen impor untuk jenis kendaraan bermotor tertentu Bobot sebagaimana dimaksud di atas dihitung berdasarkan faktor-faktor sebagai berikut: Tekanan gandar Jenis bahan bakar kendaraan bermotor Jenis, penggunaan, tahun pembuatan, dan ciri-ciri mesin dari kendaraan bermotor. Bobot dihitung berdasarkan faktor-faktor : Jenis Mobil Penumpang (MOPEN) seperti: Sedan, Jeep, Minibus/ St.wagom, Mobil Bus, Microbus & Sepeda Motor (termasuk alat-alat berat) bobotnya ditetapkan 1.00 Jenis Mobil Barang (MOBAN) seperti: Pick-up, Lightruck, Truck, Box, Tangki, dll bobotnya ditetapkan 1.30. Nilai Jual dan Tarif Pajak Kendaraan Bermotor

Nilai Jual Kendaraan Bermotor (NJKB) ditetapkan berdasarkan Harga Pasaran Umum (HPU) atas suatu Kendaraan Bermotor pada minggu pertama bulan desember tahun pajak sebelumnya oleh Menteri Dalam Negeri RI (Peraturan Pemerintah 65/2001). Sedangkan tarif pajak kendaraan bermotor ditetapkan sebesar : 1,5% untuk kendaraan bermotor bukan umum 1% untuk kendaraan bermotor umum, dan 0,5% untuk kendaraan bermotor alat-alat berat dan alat-alat besar. Cara perhitungan tarif pajak kendaran bermotor: a. PKB untuk kendaraan bermotor bukan umum
PKBter = Tarif x DPP Kendaraan Bermotor = Tarif x (NJ kendaraan bermotor x bobot) = 1,5% x (NJ kendaraan bermotor x 1,00)

Jika mobil bukan umum tersebut berupa mobil barang/ beban, maka bobot tidak 1,00, tapi bobotnya sebesar 1,3 sehingga rumus menjadi:
PKBter = Tarif x DPP Kendaraan Bermotor = Tarif x (NJ kendaraan bermotor x bobot) = 1,5% x (NJ kendaraan bermotor x 1,30)

b. PKB untuk kendaraan bermotor umum


PKBter = Tarif x DPP Kendaraan Bermotor = Tarif x (NJ kendaraan bermotor x bobot) = 1% x (NJ kendaraan bermotor x 1,30)

c. PKB untuk kendaraan bermotor alat-alat berat dan alat-alat besar


PKBter=0,5% x(NJ kendaraan bermotor x 1,00)

Walaupun tarif pajak kendaraan bermotor dinaikkan, tapi ini tidak mempengaruhi tunggakan pajak kendaraan bermotor karena rata-rata wajib pajak yang memiliki kendaraan bermotor itu mampu sehingga mereka bisa membeli kendaraan. Yang mempengaruhi besarnya tunggakan yang ada, itu dipengaruhi oleh tingkat kesadaran wajib pajaknya sendiri. Hak dan Kewajiban Pajak Di bawah ini akan dijelaskan apa yang menjadi hak dan kewajiban bagi seorang wajib pajak, yaitu: Hak wajib pajak: Mengisi formulir permohonan yang telah disediakan, dengan jelas dan benar serta ditanda tangani. Melampirkan STNK yang lampau dan KTP (sesuai dengan tertulis pada STNK) Melampirkan tanda bukti pemeriksaan kendaraan bermotor dan DLLAJR (bagi angkutan umum dan pick up). Meneliti kebenaran pajak yang tertera pada Notice pajak, kemudian melunasi pajak yang terutang dengan melakukan pembayaran ke Kantor Cabang Kas Daerah di SAMSAT atau tempa lain yang ditunjuk. Kewajiban wajib pajak: a. Menerima STNK asli dan Plat Nomor Kendaraan Bermotor. b. Menggunakan kendaraan bermotor di jalan umum.

c. Mengajukan permohonan pembebasan atas Pajak Kendaraan Bermotor kepada Pemda masing-masing, jika kendaraan bermotor yang bersangkutan musnah atau tidak lagi berada Makassar. Tata Cara Pembayaran dan Pengenaan Pajak Tata cara pembayaran dan pengena-an dan restitusi pajak kendaraan bermotor adalah sebagai berikut: Pajak kendaraan bermotor dikenakan untuk masa pajak dua belas bulan berturut-turut terhitung mulai saat pendaftaran kendaraan bermotor. Pajak kendaraan bermotor yang terutang dibayar sekaligus dimuka. Pajak kendaraan bermotor karena suatu hal dan lain hal masa pajaknya tidak sampai dua belas tahun, maka dapat dilakukan restitusi. Tata cara pelaksanaan restitusi ditetapkan oleh Gubernur. Kerangka Pikir Kantor Bersama Sistem Admi-nistrasi Manunggal Dibawah Satu Atap (SAMSAT) bertugas untuk memungut pajak kendaraan bermotor atas kepemilikan kendaraan bermotor. Namun tunggakan pajak kendaraan bermotor yang belum diterima pada saat jatuh tempo oleh SAMSAT sangat besar. Maka Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu: metode deskriptif dan rasio pertumbuhan, dimana metode deskriptif menjelaskan penerimaan PKB dan tunggakan PKB yang terjadi pada kota Makassar dan menjelaskan penyebab ter-jadinya perubahan penerimaan, sedangkan rasio pertumbuhan untuk menjelaskan berapa besar volume kenaikan penerimaan PKB dan tunggakan PKB pada setiap tahunnya pada SAMSAT kota Makassar. Besarnya potensi penerimaan tunggakan yaitu, seberapa besar potensi pemerintah untuk menerima tunggakan yang mengendap pada masyarakat. Hipotesis Berdasarkan masalah pokok yang telah dikemukakan sebelumnya, maka hipotesis yang diajukan sebagai berikut: Diduga bahwa potensi untuk penerimaan tunggakan pajak kendaraan bermotor itu besar, mengingat jumlah kendaraan bermotor sekarang ini sangat meningkat. METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Dinas Pendapatan Daerah khususnya pada kantor Satuan Administrasi Manunggal dibawah Satu Atap kota Makassar, yang dilaksanakan pada bulan Maret sampai April 2010. Metode Pengumpulan Data Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Penelitian Lapangan Penelitian Kepustakaan Metode Analisis Adapun metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

Metode Analisis Deskriptif, yaitu untuk menjelaskan mengenai penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor yang diperoleh dan seberapa besar potensi penerimaan tunggakan yang masih bisa tertagih. Rasio Pertumbuhan menurut (Halim,2007)
Rasio pertumbuhan Ket: X = Data tahun terbaru Y = Data tahun sebelumnya.

Persentase Tingkat Realisasi


Tingkat Realisasi Ket: RT = Jumlah realisasi Tunggakan DT = Jumlah data tunggakan

Potensi Penerimaan tunggakan Potensi penerimaan tunggakan = Persentase tingkat realisasi x Sisa tunggakan.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Realisasi Target Pendapatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), menargetkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang berasal dari Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) pada bulan Desember 2009 sebesar Rp. 192.974.971.246, namun realisasi PKB yang didapat sebesar Rp. 205.989.882.571, dengan persentase 106,84%. Itu artinya pendapatan yang berasal dari PKB UPTD SAMSAT kota Makassar itu memperoleh penerimaan lebih besar dari yang ditargetkan. Dan target pendapatan dari Tunggakan PKB sebesar Rp. 3922.266.049 sedangkan relisasi yang diperoleh sebesar Rp. 5.061.742.687 dengan persentase 129,05% pada tahun 2009 dan hingga akhir bulan Desember, capaian yang diperoleh sudah memenuhi syarat. Artinya, untuk Tahun Anggaran (TA) yang sudah berjalan 1 (satu) semester pencapaian target sudah berada pada posisi lebih dari 50% dari yang ditargetkan. Faktor-faktor pendorong tersebut diantaranya adalah: Proses sosialisasi; Pembinaan kelembagaan dan organisasi; Upaya penerbitan kendaraan; Upaya kerjasama dengan pihak ketiga dalam mendekatkan pelayanan, serta sarana dan prasarana pendukung untuk lembaga pelayanan khusus UPTD. Mekanisme yang ada dalam Samsat dalam proses penerbitan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK), tahapan awalnya adalah kendaraan tersebut harus didaftar dan diregistrasi, apakah itu kendaraan baru atau ulang. Nanti setelah pendaftaran tersebut masuk ketahap penetapan jumlah pajak sebagai salah satu syarat menerbitkan STNK oleh pihak kepolisian. Jadi dari sisi pajak, sudah menetap-kan besarnya indeks berapa yang mesti dibayar Pajaknya terhadap kendaraan bermotor menurut jenis dan kapasitasnya. Tetapi tentunya tetap dilandasi bahwa Pungutan pajak janganlah memberatkan masyarakat. Sehingga hubungan antara pajak dengan masyarakat tidak menjadi beban terlalu berat kepada masyarakat. Maka upaya yang perlu dilakukan adalah peningkatan kemampuan dari masyarakat itu sendiri. Artinya apa yang menjadi sumber pendapatan mereka harus secara makro diupayakan peningkatan. Besar Penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor

Sebelum mengetahui hasil penelitian, maka terlebih dahulu akan dijabarkan mengenai data yang digunakan dalam penelitian ini. Dengan tekhnik pengam-bilan sampel menggunakan data sekunder yang di dapat dari pengelolaan penerimaan Sistem Administrasi Manunggal dibawah Satu Atap kota Makassar antara tahun 2007 sampai tahun 2009. Berikut ini merupakan data yang digunakan dalam penelitian, yaitu data mengenai Realisasi Penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor dan data Penerimaan Tunggakan Pajak Kendaraan Bermotor dari tahun 2007 sampai tahun 2009.
Tabel 1. Realisasi Penerimaan Asli Daerah Provinsi Sul-Sel Kantor UPTD SAMSAT Kota Makassar Tahun 2007-2009 Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) (Rp) 100.279.899.606 108.878.363.168 90.146.345.098 94.364.361.320 73.708.637.170 80.366.500.757 Perubahan (%) 7,89 -20,77 4,47 -28,02 8,28

Tahun 2007

Sem I II I II I II

2008

2009

Sumber : Kantor UPTD Samsat kota Makassar

Dari tabel diatas, dapat disimpulkan bahwa pendapatan Pajak Kendaraan Bermotor yang ada pada UPTD Samsat kota Makassar itu pada semester pertama tahun 2007 sebesar Rp100.279.899.606 dan semester kedua sebesar Rp108.878.363.168 mengalami peningkatan sebesar Rp8.598.463.562 atau 7,89 %. Tetapi pada semester pertama pada tahun 2008 itu justru mengalami penurunan penerimaan Pajak sebesar Rp18.732.018.070 atau 20,77 %, yang semulanya Rp108.878.363.168 menjadi Rp 90.146.345.098. Selanjutnya meningkat lagi pada semester kedua tahun 2008 sebesar Rp4.218.016.222 atau 4,47 %. Hal ini berlanjut terus sampai tahun 2009 jika semester pertama mengalami penurunan penerimaan, maka pada semester kedua akan mengalami peningkatan lagi, misalnya pada semester pertama 2009 menurun sebesar Rp20.655.724.150 atau 28,02 % tapi semester kedua meningkat sebesar Rp6.657.863.587 atau 8,28 % dari semester yang lalu. Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor, antara lain : Dukungan peraturan Perundang-undangan dibidang pendapatan; Potensi (obyek pendapatan); Pendapatan masyarakat semakin meningkat; Sektor kebutuhan masyarakat yang terkait dengan jasa; Frekuensi koordinasi dengan pengelola pendapatan; Hubungan antara Lembaga baik tingkat Pemerintah Pusat maupun di daerah; Suku bunga perbankan; Tingkat sosialisasi kepada masyarakat; Kesadaran masyarakat atas kewajibannya; Penyebab terjadinya Tunggakan Pajak

Sub Dinas Penagihan telah banyak melakukan kegiatan, khususnya dalam pengelolaan tunggakan. Diantaranya Tunggakan Pajak Kendaraan Bermotor yang ada pada kota Makassar. Hal-hal yang mengakibatkan tung-gakan Pajak Kendaraan Bermotor adalah sebagai berikut: Kurangnya kesadaran masyarakat akan kewajibannya membayar pajak; Masyarakat mengalami perekonomian yang sulit maka mereka enggan membayar pajaknya; Faktor kebiasaan masyarakat pedesaan yang membeli kendaraannya untuk kendaraan transportasi antara desa yang jarang tersentuh pengawasan kelengkapan pajak dari pihak terkait sehingga merasa tidak perlu membayar pajak; Faktor teknis seperti jauhnya kantor pembayaran pajak kendaraan; Kurangnya pelayanan yang didapatkan pada saat mereka memmbayar pajak; Kendaraan yang dimilik oleh wajib pajak hilang, rusak dan tidak bisa terpakai lagi, dan kendaraan keluar negeri tapi wajib pajak tersebut tidak melaporkan kendaraannya sehingga masih tetap tercatat; Pemilik kendaraan berada di luar Negeri; Wajib pajak lupa akan kewajibannya. Dalam hal ini pihak UPTD SAMSAT kota Makassar melakukan upaya untuk menekan tunggakan tersebut. Di tahun 2009 ini, kembali dicanangkan SAMSAT keliling yang telah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga mampu men-jangkau daerah-daerah pelosok, demikian juga untuk tahun-tahun kedepannya. Mengenai harapan kedepannya, Kepala Sub Dinas Penagihan tetap menggiatkan penyuluhan utamanya yang diberikan kepada aparat pemerintahan dan masyarakat umum. Dengan tujuan, agar mereka dapat menyampaikan informasi tersebut secara berjenjang kepada masya-rakat lain bahwa pentingnya membayar pajak. Sehingga kendaraan-kendaraan yang selama ini menunggak akan kembali terjaring. Untuk itu, penyuluhan yang dilakukan bisa menyebarkan informasi keseluruh masyarakat sehingga angka tunggakan bisa ditekan seminimal mungkin. Akumulasi Tunggakan Pajak Kendaraan Bermotor Unit Pelaksana Teknis Dinas Pendapatan Daerah kota Makassar yang biasa disebut dengan UPTD SAMSAT kota Makassar pada tahun 2009 lalu, merupakan pemberi kontribusi terbesar di Sulawesi Selatan pada sektor Pajak Kendaraan Bermotor bagi PAD. Namun demikian permasalahan tunggakan PKB khususnya tunggakan sepeda motor tetap menjadi fokus perhatian dari UPTD Samsat kota Makassar. Berdasarkan tabel 2, dapat dilihat bahwa tunggakan Pajak Kendaraan Bermotor jenis kendaraan sepeda motor dari tahun ketahun sudah mulai menurun. Mulai dari tahun 2007 pada semester pertama sebesar Rp. 27.432.023.512 semester kedua sebesar Rp. 20.041.672.880 artinya mengalami penurunan sebesar Rp. 7.390.350.632 tapi 2008 semester pertama naik lagi sebesar Rp. 6.578.709.480 tapi semester kedua turun sebesar Rp. 10.288.415.980. Tapi semester kedua naik sebesar Rp. 4.333.023.840 begitupun selanjutnya pada tahun 2009 kalau semester pertama turun tapi semester dua naik, namun pada semester kedua tahun 2009 tunggakan Pajak Kendaraan Bermotor dengan jenis kendaraan sepeda motor sudah berjumlah Rp. 8.358.352.120. Dan pada tahun 2009 ini, tunggakan Pajak Kendaraan Bermotor yang ada di kota Makassar sudah rendah, ini semua disebabkan karena Masyarakat sudah mulai menyadari kewajibannya akan pentingnya pembayaran pajak tersebut, dan dari pihak UPTD SAMSAT

juga itu sendiri selalu mengupayakan agar Tunggakan Pajak Kendaraan Bermotor yang ada pada kota Makassar terus menurun sampai tidak ada lagi tunggakan walupun itu sangat sulit Dalam hal ini upaya yang dilakukan UPTD SAMSAT untuk memaksimalkan pelayanannya kepada masyarakat dalam hal meningkatkan pendapatan , yaitu : Peningkatan peran dan kemampuan aparatur dalam mengolah pene-rimaan pendapatan daerah dan pelayanan masyarakat yang diper-sentasikan melalui kemampuan manajemen Pemerintahan daerah yang responsive, akuntabilitas, transparansi, dan profensional; Mengoptimalkan peranan UPTD SAMSAT dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai koordinator pendapatan Daerah dan pelayan pada masyarakat melaui peningkatan sumber Daya Aparatur; Meningkatkan sarana dan prasarana penunjang bagi peningkatan pen-dapatan daerah melalui pem-bangunan wadah pelayanan kepada masyarakat; Meningkatkan penerimaan Pen-dapatan Asli Daerah; Melakukan pembenahan manaje-men pemungutan dengan menggunakan sistem informasi; Berdasarkan data penerimaan tunggakan yang ada maka dapat dipersentasekan perubahannya sebagai berikut :
Tabel 3. Persentase Perubahan Relisasi Penerimaan Tunggakan Sepeda Motor UPTD Samsat Kota Makassar Tahun 2007-2009
TH Realisasi Penerimaan SEM. Unit 2007 2008 2009 I II I II I II 6.234 7.461 7.783 8.979 8.483 14.789 Tunggakan Nilai (Rp) 1.053.399.858 1.368.615.568 1.560.036.860 1.852.145.180 1.724.575.700 2.453.746.000 Unit 16,44 4,13 13,31 (5,84) 42,63 Nilai 23,03 12,27 15,77 (7,39) 29,71 Perubahan (%)

Sumber; Kantor UPTD Samsat dan Data olahan.

Berdasarkan tabel penerimaan tunggakan diatas maka dapat disimpulkan bahwa penerimaan yang berasal dari tunggakan Pajak Kendaraan Bermotor pada Samsat kota Makassar itu sangat besar jumlahnya yang diberikan kepada Daerah karena pada tahun 2007 semester pertama sebesar Rp. 1.053.399.858, semester kedua sebesar Rp 1.368.615.568 mengalami peningkatan sebesar 23,03 %. Rata-rata Satu Miliar lebih penerimaan yang diperoleh dari tunggakan Pajak kendaraan Bermotor pada setiap semesternya. Hal ini disebabkan karena adanya tunggakan Pajak Kendaraan Bermotor yang tidak terbayar mengingat masyarakat pada saat sekarang ini masih banyak yang belum menyadari kewajibannya. Adapun persentase perubahan unit kendaraan sepeda motor pada semester kedua tahun 2007 sebesar 16,44%, semester pertama tahun 2008 menurun menjadi 4,13%, meningkat lagi pada semester dua menjadi 13,31%. Namun semester pertama pada tahun 2009 persentase unit kendaraan yang ada menurun menjadi 5,84%, tapi pada semeter kedua meningkat lagi menjadi 42,68%.

Selanjutnya data tunggakan pajak mobil pada tahun 2007 sampai 2009 yang ada pada Unit Pelaksana Teknis Dinas SAMSAT kota Makassar, dari tahun ketahun juga sudah mulai menurun, berdasarkan data tabel 4. Mulai dari tahun 2007 pada semester pertama sebesar Rp9.292.684.866,- semester kedua sebesar Rp24.126.680.136 artinya mengalami penurunan sebesar Rp15.166.004.730 tapi 2008 semester pertama naik lagi sebesar Rp. 3.476.949.586 tapi semester kedua turun lagi menjadi Rp18.573.999.160. Tapi semester kedua naik sebesar Rp 650.912.538 begitupun selanjutnya pada tahun 2009 kalau semester pertama turun, tapi semester dua naik, namun pada semester kedua tahun 2009 tunggakan Pajak Kendaraan Bermotor dengan jenis kendaraan sepeda motor sudah berjumlah Rp6.932.070.600. Walaupun setiap semester kedua mengalami peningkatan tapi itu tidak terlalu berpengaruh karena kalau dibandingkan pada tahun 2007 semester kedua dengan semester kedua 2009 maka sudah mengalami penurunan tunggakan sebesar Rp36.544.212.366 dari Rp39.292.684.866 menjadi Rp2.748.472.500. Pada tahun 2009 ini tunggakan pajak yang ada di kota Makassar sudah rendah, ini semua disebabkan karena Masyarakat sudah mulai menyadari kewajibannya akan pentingnya pembayaran pajak tersebut dan dari pihak UPTD SAMSAT juga itu sendiri selalu mengupayakan agar Tunggakan Pajak Kendaraan Bermotor yang ada pada kota Makassar terus menurun sampai tidak ada lagi tunggakan Pajak. Dalam hal mencapai keberhasilan dimasa-masa mendatang, perlu diadakan berbagai upaya dalam bentuk kegiatan operasional pemungutan yang lebih baik, sehingga hasil yang akan dicapai dapat lebih meningkat. Disamping itu, akurasi data obyek dan subyek pajak atau yang sering disebut dengan pemutakhiran data sangat dibutuhkan untuk mengetahui potensi yang dimiliki. Berdasarkan data penerimaan tunggakan yang ada maka dapat dipersentasekan perubahannya sebagai berikut :
Tabel 5 Persentase Perubahan Relisasi Penerimaan Tunggakan Mobil UPTD Samsat Kota Makassar Tahun 2007-2009
Realisasi Penerimaan Tunggakan Unit I (2007) II(2007) I (2008) II(2008) 1.927 1.926 2.079 1.973 Nilai (Rp) 2.382.767.990 2.562.510.690 3.190.813.600 3.136.378.660 (0,05) 7,35 (5,37) 12,46 19,61 Perubahan (%) Unit Nilai - 7,01 19,69 (1,73) 0,66 (0,79)

SMTR

I (2009) 2.254 3.157.372.000 II(2009) 2.804 3.132.545.000 Sumber; Data olahan.

Berdasarkan tabel penerimaan tung-gakan diatas maka dapat disimpulkan bahwa penerimaan yang berasal dari tunggakan Pajak Kendaraan Bermotor pada Samsat kota Makassar sangat besar jumlahnya yang diberikan kepada Daerah, pada tahun 2007 semester pertama sebesar Rp2.382.767.990, semester kedua pene-rimaan tunggakannya bertambah lagi sebesar Rp2.562.510.690 atau mengalami peningkatan sebesar 7,01 %, semester pertama pada tahun 2008 mengalami peningkatan lagi sebesar Rp. 3.190.813.600 karena kesadaran masyarakat yang

sudah paham akan pentingnya pelunasan tunggakannya, dan rata-rata penerimaan tunggakan yang diperoleh pada kantor Samsat terus meningkat pada tahun 2009 jika dibandingkan dengan penerimaan tunggakan pada tahun 2007. Adapun persentase perubahan jumlah unit kendaraan yang menunggak pada kendaraan mobil pada tahun 2001 semester kedua sebesar 0,05 %, semester pertama tahun 2008 naik menjadi 7,35 %, pada semester kedua jumlah unit kendaraan yang menunggak yang ada pada kota Makassar menurun menjadi 5,37 %, semester pertama dan semester kedua terus meningkat Untuk lebih jelasnya mengenai perubahan data mengenai tunggakan sepeda motor, maka ditunjukkan dengan grafik sebagai berikut : Berdasarkan data di atas maka dapat dikelompokkan data tunggakan kendaraan bermotor yang ada pada UPTD SAMSAT kota Makassar, untuk mengetahui berapa besar potensi penerimaan tunggakan Pajak Kendaraan Bermotor pada UPTD SAMSAT kota Makassar yang akan datang dengan jenis kendaraan sepeda motor dan mobil maka akan ditampilkan tabel tunggakan PKB sebagai berikut :
Tabel 6. Daftar Tunggakan Pajak Kendaraan Bermotor Jenis Kendaraan Sepeda Motor dan Mobil pada UPTD SAMSAT kota Makassar Sejak Tahun 2007-2009
SMSTR Tunggakan Sepeda Motor Unit Nilai (Rp) Tunggakan Mobil Unit Nilai (Rp) 39,292,684,866 24,126,680,136 27,603,629,722 9,029,630,562 968,0543,100 2.748.472.500

I 214,535 27,432,023,512 43,957 (2007) II 172,727 20,041,672,880 32,288 (2007) I 268,641 26,620,382,360 43,348 (2008) II 218,513 16,331,966,380 31,455 (2008) I 292,452 20,664,990,220 36,986 (2009) II 227,052 8,358,352,120 22,872 (2009) Sumber : Kantor UPTD Samsat kota Makassar

Berdasarkan tabel diatas, untuk menghitung potensi penerimaan pajak kendaraan bermotor adalah sebagai berikut: Menghitung besarnya potensi penerimaan tunggakan Pajak Kendaraan Bermotor jenis kendaraan sepeda motor pada semester yang akan datang yang bisa tertagih:
Persentase Tingkat Realisasi Tingkat Realisasi = = 0,226944 x100 % = 22,69 % Potensi penerimaan (PP) : PP = Tkt Realisasi x Sisa Tunggakan = 22,69 % x 8.358.352.120 = 1.896.510.096

Tingkat realisasi tunggakan Pajak Kendaraan Bermotor dengan jenis kendaraan sepeda motor yang ada pada Samsat kota Makassar sebesar 22,69 % dan besar potensi penerima-

an tunggakan Pajak Kendaraan Bermotor yang masih bisa tertagi pada semester pertama tahun 2010 mendatang yaitu sebesar Rp. 1.896.510.096. Menghitung besarnya potensi penerimaan tunggakan Pajak Kendaraan Bermotor jenis kendaraan mobil pada semester yang akan datang yang bisa tertagih :
Persentase Tingkat Realisasi Tingkat Realisasi = = 0,5326535 x 100% = 53,26 % Potensi penerimaan (PP) : PP = Tkt Realisasi x Sisa Tunggakan = 53,26 % x 2.748.472.500 = 1.463.836.453,5

Tingkat realisasi tunggakan Pajak Kendaraan Bermotor dengan jenis kendaraan mobil yang ada pada Samsat kota Makassar sebesar 53,26 % dan besar potensi penerimaan tunggakan Pajak Kendaraan Bermotor yang masih bisa tertagi pada semester pertama tahun 2010 mendatang yaitu sebesar Rp1.463.836.453,5 atau bisa melebihi, mengingat pada saat sekarang ini kesadaran wajib pajak akan kewajibannya untuk membayar pajaknya mulai meningkat. Untuk memudahkan masyarakat dalam membayar pajak maka dari pihak UPTD Samsat membuka sistem pembayaran On Line dan pihak Samsat juga terus menerus meningkatkan pelayanannya kepada masyarakat.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan terhadap fokus penelitian ini, maka ditarik kesimpulan sebagai berikut : Penerimaan pajak kendaraan bermotor dari tahun ke tahun berfluktuasi, yaitu pada tahun 2007, pada semester awal ke semester kedua mengalami pening-katan sebesar 7,89%, tetapi pada semester pertama tahun 2008 meng-alami penurunan penerimaan pajak sebesar 20,77%. Demikian pula untuk tahun-tahun selanjutnya. Penerimaan yang berfluktuasi ini disebabkan karena kurangnya kesa-daran masyarakat akan kewajiban membayar pajak, jauhnya kantor pembayaran pajak kendaraan, kurang bagusnya pelayanan yang didapatkan pada saat membayar pajak dengan kondisi antrian yang cukup panjang dan lama. Kendaraan yang dimiliki wajib pajak hilang atau rusak namun WP tidak melaporkannya sehingga masih tetap tercatat. Tingkat realisasi tunggakan PKB (sepeda motor) sebesar 22,69% dengan potensi penerimaan tunggakan yang bisa tertagih yaitu sebesar Rp1.896.510.096. Sedangkan tingkat realisasi tunggakan PKB (mobil) sebesar 53,26%, dan potensi penerimaan tunggakan PKB (mobil) pada semester yang akan datang yang bisa tertagih sebesar Rp1.463.836.453,5. Saran Berdasarkan kesimpulan dari hasil penelitian yang telah dilakukan diatas, maka saran adalah sebagai berikut : Dalam hal pengetatan saksi, sebaiknya SAMSAT kota Makassar melakukan upaya penegakan hukum yang tegas, memberikan tindakan pidana yang menyangkut harta

kekayaan melalui penahanan dan hukuman penjara serta melakukan penyitaan dan penjualan langsung atas kendaraan bermotor bagi wajib pajak yang menunggak dalam membayar pajaknya. Perlu juga dilakukan perbaikan sistem administrasi perpajakan, yaitu : Penyederhanaan prosedur dan sistem serta pengelompokan pajak yang efisien; meningkatkan kualitas SDM aparat pajak dengan melakukan pelatihan yang secara kontinyu; serta menciftakan jaringan pelaksana pungutan yang tersebar disetiap wilayah kerja. Sebaiknya pihak SAMSAT selalu meng up-date kendaraan bermotor yang ada pada kota Makassar sehingga data tunggakan yang ada bisa diketahui, apakah masih bisa tertagih atau tidak karena kendaraan tersebut sudah hilang,rusak atau tidak terpakai lagi, sehingga tidak tercatat lagi sebagai tunggakan pada Dispenda. Dan sebaiknya diadakan penghapusan atau pemutihan pada tunggakan kendaraan yang tidak dapat diterima lagi.

DAFTAR PUSTAKA Abdullah, Ahmad. September 2009, Hal 46-50, Intern Dispenda Provinsi Sulsel, Potensi. Bastian, Indra. 2006, Sistem Informasi Akuntansi Sektor Publik, Edisi 2. Yogyakarta: Penerbit Salemba Empat. Burton, Richard. And Wirawan B.ilyay. 2007, Hukum Pajak, Edisi 3. Jakarta: Penerbit Salemba Empat Elmi, Bachrul. 2002, Keuangan Pemerintah Daerah Otonomi di Indonesia, Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia Prees. Prakosa, Bambang Kesit. 2005, Pajak dan Retribusi Daerah,. Yogyakarta: UII Prees. Perda No.1 Tahun 2003 tentang Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama kendaraan Bermotor. Perda No. 13 tahun 2001 tentang Pajak Kendaraan Bermotor. Republik Indonesia, Peraturan Pemerintah Nomor 65 Pasal 2 Tahun 2001, tentang Pajak Daerah. Republik Indonesia, Peraturan Pemerintah Nomor 65 Pasal 3 Tahun 2001, tentang Pajak Daerah. Resmi, Siti. 2007, Perpajakan Teori dan Kasus,.Jakarta: Penerbit Salemba, Republik Indonesia, Undang-undang Tahun 2000, Tentang Pajak dan Retribusi Daerah. Jakarta 20 Desember 2000. Sitepu, Budi. 2007, Pedoman Nasional- Pajak daerah dan retribusi Daerah, Yogyakarta.

shttp://Www.Tunggakan Pajak Kendaraan Bermotor.Com 2009.html,2009. ` *) Penulis adalah Dosen Tetap Yayasan pada STIE Nobel Indonesia.

Home Makassar Hari Ini Yang Lain Sabtu, 24 November 2012 | 19:38:47 WITA | 134 HITS 1,2 Juta Kendaraan Beroperasi di Makassar Int Ilustrasi MAKASSAR, FAJAR -- Kota Makassar tak pernah sepi dari macet. Setiap saat dan di mana-mana dijumpai penumpukan kendaraan. Soalnya, jumlah kendaraan bermotor di kota ini terus bertambah. Dari total 2,2 juta unit kendaraan di Sulsel, 1,2 juta unit ada di Makassar. Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) Sulsel terpaksa menambah layanan Samsat dengan meresmikan kantor baru di Jalan AP Pettarani, Kamis 22 November lalu. Kantor pembantu Samsat Makassar tersebut untuk melayani pembayaran pajak kendaraan bermotor yang mencapai 1,2 juta unit kendaraan setiap tahun di Makassar. Sedangkan di Sulsel mencapai 2,2 juta unit kendaraan roda dua maupun empat. Kepala Dispenda Sulsel Azikin Sulthan mengatakan, pertumbuhan kendaraan di Sulsel, khususnya Makassar di atas 12-15 persen per tahunnya. Tahun 2011 lalu jumlah 1,7 juta unit dengan rata-rata pertambahan 12 persen sejak 2008 hingga 2011. Namun khusus Makassar pertumbuhannya mencapai 15 persen. "Diperlukan fasilitas tambahan pelayanan pajak kendaraan demi memperlancar kontribusi masyarakat lewat pajak. Saat ini jumlah kendaraan di Sulsel mencapai 2,2 juta unit. Pelayanan Samsat Utama di Jalan Mappanyukki sudah krodit sehingat perlu dibuat layanan pajak yang lebih cepat," kata Azikin, Jumat 23 November. Dispenda Sulsel membuka kantor layanan Samsat di Jalan Mappanyukki tahun 2009 lalu. Tahun pertama hanya melayani 527 ribu unit kendaraan. Tahun 2010 nai mencapai 600 ribu unit dan tahun 2012 sudah menembus angka 1,2 juta unit kendaraan. Jumlah ini hanya beredar di Makassar. "Target pajak kendaraan bermotor tahun ini mencapai Rp623 milair. Sementara terealisasi hingga triwulan III mencapai Rp534 miliar atau 85 persen lebih. Angka ini akan terus bergerak seiring dengan pertumbuhan ekonomi Sulsel," jelas Azikin. Kapolda Sulselbar Irjen Pol Mudji Waluyo, menambahkan, dibukanya layanan kantor Samsat yang baru ini diharapkan bisa memberi kenyamanan bagi pembayar pajak atau masyarakat. "Ini langkah maju yang diberikan pemerintah. Masa untuk membayar pajak saja masyarakat harus susah. Kantor Samsat pembantu ini harus didesain senyaman mungkin agar mereka puas," kata Kapolda.

Pembelian kendaraan roda dua dan empat di Sulsel kata Kapolda, salah satu yang tertinggi di Indonesia. Dia menuturkan meski tak memiliki data resmi, namun kondisi rill bisa terlihat dengan kian macetnya ruas jalan di Makassar. "Itu menunjukkan kesejahteraan masyarakat sedang naik. Tabulasinya gampang dicari. Kalau pertumbuhan ekonomi 8,6 persen, maka itu artinya banyak uang beredar di sini," bebernya. (aci

KONTRIBUSI PAJAK KENDARAAN BERMOTOR (PKB) DAN BEA BALIK NAMA KENDARAAN BERMOTOR (BBNKB) TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) created by: Rahmat Hidayat di Jumat, November 02, 2012 . Label: kump.skripsi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam rangka penyelenggaraan Pemerintahan, Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah provinsi terdiri atas daerah-daerah kabupaten dan kota. Tiap daerah-daerah tersebut mempunyai hak dan kewajiban mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahannya untuk meningkatkan penyelenggaraan dan pelayanan kepada masyarakat. Untuk menyelenggarakan pemerintahan tersebut, daerah berhak mengenakan pungutan biaya kepada masyarakat berupa pajak. Berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Repulik Indonesia Tahun 1945 yang menempatkan perpajakan sebagai salah satu perwujudan kenegaraan, ditegaskan bahwa penempatan beban kepada rakyat, seperti pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa diatur dengan undang-undang. Undang-undang No. 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah dan Undang-undang No. 33 tahun 2004 tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintahan daerah yang berlaku, memberikan dampak yang sangat luas terhadap perkembangan pemerintahan di daerah. Otonomi yang diberikan kepada daerah merupakan otonomi yang luas, nyata dan bertanggung jawab. Adanya pemberian otonomi daerah memberikan implikasi timbulnya kewenangan dan kewajiban bagi daerah untuk melaksanakan berbagai kegiatan pemerintahan lebih mandiri. Pengalihan, pembagian dan pemanfaatan sumber daya alam, sumber daya manusia, kewenangan pemungutan jenis-jenis pajak daerah didasarkan atas prinsip keadilan berdasarkan kewenangan yang diberikan kepada daerah. Pendapatan Asli Daerah sebagai sumber pendapatan dalam membiayai pembangunan perlu dikelola dengan baik. Dalam hal ini dibutuhkan berbagai kebijakan yang lebih komprehensif, efektif dan efisien dalam mengelolanya. Provinsi sulawesi tengah merupakan salah satu provinsi yang ada dinegara Republik Indonesia. Kebijakan ekonomi yang dilancarkan Pemerintah Daerah Sulawesi Tengah dimaksudkan untuk memacu pertumbuhan ekonomi, meningkatkan pendapatan perkapita sampai pada pemerataan hasil pembangunan untuk mencapai tingkat kemakmuran yang diharapkan. Secara lebih nyata hasil pembangunan telah berhasil meningkatkan Produk Domestik Regional Bruto

(PDRB) Sulawesi Tengah dimana pada tahun 2000 sebesar Rp. 8.649.206 (Juta Rupiah) meningkat menjadi Rp. 36.124.486 (Juta Rupiah) pada tahun 2010. Berdasarkan APBD Sulawesi Tengah, Pendapatan Asli Daerah Sulawesi Tengah bersumber dari: Hasil pajak daerah, Hasil retribusi daerah, Hasil Perusahaan Milik Daerah dan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah , serta Lain-lain pendapatan daerah yang sah. Pajak Daerah Sulawesi Tengah yang potensial terdiri dari: Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN-KB), Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBB-KB), Pajak Kendaraan di Atas Air (PKA), Bea Balik Nama Kendaraan di Atas Air (BBN-KB), Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah, serta Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Permukaan. Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor merupakan sumber Pendapatan Asli Daerah terbesar di Sulawesi Tengah. Dalam hal ini penulis ingin mengetahui berapa besar kontribusi dari kedua pajak tersebut yang diberikan terhadap Pendapatan Asli Daerah provinsi Sulawesi Tengah. 1.2 Permasalahan Dari uraian latar belakang diatas, dapat dikemukakan beberapa permasalahan sebagai berikut : 1. Berapa Kontribusi Pajak Kendaraan Bermotor terhadap PAD Sulawesi Tengah tahun 2000 sampai dengan tahun 2010? 2. Berapa Kontribusi Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor terhadap PAD Sulawesi Tengah tahun 2000 sampai dengan tahun 2010? 1.3. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1.3.1 Tujuan Penelitian Adapun yang menjadi tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah : 1. Untuk mengetahui berapa besar Kontribusi Pajak Kendaraan Bermotor terhadap PAD Sulteng tahun 2000 sampai dengan tahun 2010 2. Untuk mengetahui berapa besar Kontribusi Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor terhadap PAD Sulteng tahun 2000 sampai dengan tahun 2010

1)

1.3.2 Kegunaan Penelitian Sebagai bahan masukan kepada Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Tengah dalam mengelolah penerimaan daerah khususnya yang bersumber dari penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor 2) Sebagai bahan referensi bagi peneliti selanjutnya di masa yang akan datang

BAB II LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Pengertian Pajak Secara umum, pajak merupakan pengalihan sumber-sumber yang wajib dilaksanakan oleh wajib pajak kepada negara tanpa imbalan langsung dari pembayaran pajak. Batasan atau definisi pajak bermacam-macam, antara lain : Prof.Dr.Rochmat Sumitro, SH, ( dalam Eko Lesmana 1992:4): Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal balik (kontra prestasi) yang langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum dan surplusnya digunakan untuk public saving yang merupakan sumber utama untuk membiayai public investmen. Selain definisi pajak di atas, Imam Wahyutomo (1994:1) mengemukakan bahwa : Pajak adalah peralihan kekayaan dari sektor swasta ke sektor publik (pemerintah) berdasarkan UU yang pemungutannya dapat dipaksakan dengan tidak mendapat imbalan yang secara langsung ditunjukkan, yang berfungsi sebagai alat pendorong, penghambat/pencegah untuk mencapai tujuan yang ada. Di sisi lain Summer (dalam Anwar Nasution 1984:3) mengemukakan bahwa : Pajak adalah sesuatu pengalihan sumber-sumber yang wajib dilakukan dari sektor swasta kepada sektor pemerintah berdasarkan peraturan tanpa mendapat imbalan kembali yang langsung dan seimbang agar pemerintah dapat melaksanakan tugas-tugasnya menjalankan pemerintahan. Menurut Undang-undang No. 6 tahun 1983 tentang ketentuan umum dan tata cara perpajakan Indonesia, yang telah disempurnakan menjadi Undang-undang Nomor 16 tahun 2000, pajak adalah iuran wajib yang dibayar oleh wajib pajak berdasarkan normanorma hukum untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran kolektif guna meningkatkan kesejahteraan umum yang balas jasanya tidak diterima secara langsung. Dari berbagai definisi di atas dapat disimpulkan mengenai unsur dan ciri yang melekat pada pengertian pajak, ialah : 1. Unsur-unsur pada pengertian pajak, sebagai berikut : a)Ada Masyarakat b) Berdasarkan Undang-undang c)Ada pemungut pajaknya d) Ada wajib pajaknya e)Ada obyek pajaknya 2. Ciri-ciri pada pengertian pajak a) Adanya pengalihan kekayaan dari sektor swasta ke sektor pemerintah b) Pemungutan pajak dapat dipaksakan secara hukum dengan melalui dua cara yaitu melalui pengadilan atau menggunakan surat paksa c) Pajak dapat dikenakan atas orang atau barang d) Pajak dapat dipungut secara periodik maupun insidentil e) Pungutan pajak tidak dapat ditunjukkan ada jasa timbal balik secara langsung

f) Pajak mempunyai fungsi budgeter dan fungsi mengatur Adam Smith (dalam Mardiasmo, 2002: 18) mengemukakan ajarannnya sebagai sendi dasar pemungutan pajak. Dikatakan agar supaya pemungutan pajak dinilai adil harus dipenuhi empat syarat sebagai berikut : 1. Syarat Equity mengandung arti, dalam keadaan yang sama wajib pajak harus dikenakan pajak sama pula. Contoh: Pajak Pengahasilan dikenakan terhadap Penghasilan Kena Pajak (PKP) yang sama, bukan terhadap penghasilan yang sama, karena dalam PKP sudah diperhitungkan dengan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP), dimana PTKP ini tidak sama bagi setiap wajib pajak, jadi meskipun penghasilan sama, namun pajaknya belum tentu sama. 2. Syarat Certainty atau kepastian adalah tujuan dari setiap Undang-undang. Kepastian hukum adalah penting, untuk itu peraturan yang akan dibuat, harus diusahakan agar jelas, tegas dan tidak mengandung arti ganda agar tidak membuat peluang untuk ditafsir lain, terutama mengenai subyek, obyek, besarnya pajak dan ketentuan mengenai waktu pembayarannya. 3. Syarat Convenience of payment mengandung arti pajak hendaknya dipungut pada saat yang paling baik bagi para wajib pajak, yaitu saat sedekat-dekatnya dengan detik diterimanya penghasilan yang bersangkutan seperti: karyawan atau pegawai, akan lebih mudah membayar pajak pada saat menerima gaji atau honorium, apakah setiap hari, setiap minggu atau setiap bulan. 4. Syarat Efficiency adalah yang bertalian dengan biaya pemungutan. Para pembuat peraturan wajib mempertimbangkan, bahwa biaya pemungutannya harus lebih rendah dibanding dengan pemasukan pajaknya. 2.1.2 Manfaat Pajak Sebagaimana halnya perekonomian dalam suatu rumah tangga atau keluarga, perekonomian negara juga mengenal sumber-sumber penerimaan dan pos-pos pengeluaran. Pajak merupakan sumber penerimaan negara. Tanpa pajak, sebagian besar kegaitan negara sulit untuk dapat dilaksanakan. Penggunaan uang pajak meliputi mulai dari belanja pegawai sampai dengan pembiayaan berbagai proyek pembangunan. Pembangunan sarana umum seperti jalan, jembatan, sekolah, rumah sakit/puskesmas, dengan menggunakan uang yang berasal dari pajak. Uang pajak juga digunakan untuk pembiayaan dalam rangka memberikan jasa aman bagi seluruh lapisan masyarakat. Setiap warga negara mulai saat dilahirkan sampai dengan meninggal dunia, menikmati fasilitas atau pelayanan dari pemerintah yang semuanya dibiayai dengan uang yang berasal dari pajak. Dengan demikian jelas bahwa peranan penerimaan pajak bagi suatu negara menjadi sangat dominan dalam menunjang jalannya roda pemerintahan dan pembiayaan pembangunan. Di samping fungsi budgeter (fungsi penerimaan) di atas, pajak juga melaksanakan fungsi redistribusi pendapatan dari masyarakat yang mempunyai kemampuan ekonomi yang lebih tinggi kepada masyarakat yang kemampuannya lebih rendah. Oleh karena itu tingkat kepatuhan Wajib Pajak dalam melaksanakan kewajiban perpajakan secara baik dan benar merupakan syarat mutlak untuk tercapainya fungsi redistribusi pendapatan. Sehingga pada akhirnya kesenjangan ekonomi dan sosial yang ada dalam masyarakat dapat dikurangi secara maksimal. 2.1.3 Jenis-Jenis Pajak

Secara umum, pajak yang berlaku di Indonesia dapat dibedakan menjadi Pajak Pusat dan Pajak Daerah. Pajak Pusat adalah pajak-pajak yang dikelola oleh pemerintah pusat yang dalam hal ini sebagian dikelola oleh Direktorat Jenderal Pajak Departemen Keuangan. Sedangkan pajak daerah adalah pajak-pajak yang dikelolah oleh pemerintah daerah baik di tingkat propinsi maupun kabupaten/kota. a. Pajak-pajak pusat yang dikelolah Direktorat Jenderal Pajak meliputi : 1. Pajak Penghasilan (PPh) 2. Pajak Pertambahan Nilai (PPN) 3. Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPn BM) 4. Bea Materai b. Pajak Provinsi terdiri atas: 1. Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air 2. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan diAtas Air 3. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor 4. Pajak Air Permukaan 5. Pajak Rokok c. Pajak Kabupaten/kota terdiri atas: 1. Pajak Hotel; 2. Pajak Restoran; 3. Pajak Hiburan 4. Pajak Reklame 5. Pajak Penerangan Jalan 6. Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan 7. Pajak Parkir 8. Pajak Air Tanah 9. Pajak Sarang Burung Walet 10. Pajak Bumi dan Bangunan Pedesaan dan Perkotaan 11. Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan 2.1.4 Beberapa Elemen Penerimaan Daerah Dalam pasal 18 Undang-Undang Dasar 1945, dinyatakan tentang pembagian wilayah Negara Republik Indonesia atas dasar daerah besar dan daerah kecil, yang penetapannya dilakukan dengan Undang-Undang. Atas dasar tersebut dibentuklah pembangunan wilayah sebagaimana sekarang ini, dimana setiap daerah memiliki otonomi untuk mengurus wilayahnya masing-masing, termasuk untuk mengelola sumber-sumber pendapatan daerah yang digunakan untuk membiayai pembangunan daerah itu sendiri. Penjelasan Undang-Undang No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, yang mempertegas dasar pemikiran bagi pengelolaan keuangan asli daerah ialah agar daerah dapat mengurus rumah tangganya sendiri dimana kepada daerah diserahkan sumbersumber pembiayaan dapat dipenuhi dari bantuan pusat, maka setiap daerah diwajibkan untuk menggali potensi dana yang ada di daerah tersebut. Penjelasan di atas, memberikan gambaran bahwa pada prinsipnya Negara (pemerintah) tidak melepaskan sama sekali tanggung jawab atas penyelenggaraan kemandirian daerah, karena di dalam tugas tersebut terdapat unsur kepentingan umum yang menjadi tugas Negara. Dalam konsep keuangan daerah terdapat dua jenis pendapatan, yakni PAD dan pendapatan non asli daerah. Kedua bentuk pendapatan ini sangat menentukan proses pembangunan daerah dan orientasi kemandirian pembangunan yang ada di daerah.

Semakin besar PAD suatu daerah mencerminkan semakin besarnya bobot kemandirian daerah. Dengan demikian semakin kecil ketergantungan daerah berarti semakin besar kontribusi PAD dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Secara umum PAD merupakan sumber penerimaan daerah yang secara murni berasal dari berbagai potensi daerah yang dapat dikelola atas keputusan pemberian wewenang dari pusat. Oleh sebab itu, salah satu unsur yang dapat mendorong peningkatan PAD adalah kemampuan daerah dalam mengoptimalkan penerimaan dari sumber-sumber pendapatan yang ada, baik secara intensif maupun secara ekstensif. Di sisi lain, Ibnu Syamsi (1994) mengungkapkan bahwa PAD merupakan sumber penerimaan yang digunakan untuk menutup kebutuhan rutin baik Daerah Tingkat I maupun Daerah Tingkat II. Secara ideal, pemerintah daerah memiliki PAD yang lebih besar dari pengeluaran rutin dan hal ini sebagai indikator kemandirian daerah tersebut (Ibnu Syamsi, 1994 : 212). Penjelasan di atas memberikan gambaran betapa pentingnya peranan PAD dalam pembangunan daerah. Namun pada kenyataannya Daerah Tingkat I dan Daerah Tingkat II umumnya memiliki PAD yang lebih kecil dibanding biaya rutin sehingga ditutupi dari pendapatan non asli daerah. Pengeluaran rutin dan pembangunan daerah belum dapat mengandalkan PAD sebagai sumber pembiayaan. Untuk mengantisipasi kekurangan keuangan daerah, maka disalurkan subsidi, sumbangan dan berbagai bentuk dana pusat untuk pemerintah daerah. Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa secara garis besarnya terdapat tiga bentuk penerimaan daerah yakni PAD, pendapatan non asli daerah dan pendapatan daerah yang sah lainnya. Ketiga bentuk penerimaan daerah tersebut lebih dijabarkan dalam Undang-undang No. 32 tahun 2004 yang mengatur tentang pokok-pokok pemerintah daerah. 2.1.5 Penerimaan Daerah Sulawesi Tengah Secara umum Pendapatan Asli Daerah Sulawesi Tengah terdiri dari Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Perimbangan dan Lain-lain Pendapatan Yang Sah 1. Pendapatan Asli Daerah Pendapatan Asli Daerah Sulawesi Tengah terdiri dari : Hasil pajak daerah, Hasil retribusi daerah, Hasil Perusahaan Milik Daerah dan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah, Lainlain pendapatan daerah yang sah a. Pajak Daerah Jenis pajak Daerah Propinsi Sulawesi Tengah yang potensial terdiri dari : 1) Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) 2) Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN-KB) 3) Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBB-KB) 4) Pajak Kendaraan di Atas Air (PKA) 5) Bea Balik Nama Kendaraan di Atas Air (BBN-KB) 6) Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah, serta 7) Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Permukaan b. Retribusi Daerah Retribusi Daerah merupakan pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang/ masyarakat atau badan, pengelolaannya tersebar pada 27 (dua puluh tujuh) Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).

c.

Jenis-jenis Retribusi Sulawesi Tengah: 1) Retribusi Pelayanan Kesehatan 2) Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah 3) Retribusi Pengujian Kapal Perikanan 4) Retribusi Jasa Usaha Pasar Grosir/Pertokoan 5) Retribusi Tempat Penginapan/Pasanggrahan/Villa 6) Retribusi Jasa Usaha Pelayanan Pelabuhan Laut 7) Retribusi Tempat rekreasi dan Olah Raga 8) Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah 9) Retribusi Tata Cara Pelelangan Kayu Temuan 10) Retribusi Izin Trayek 11) Retribusi Izin Pemanfaatan Kayu dan Hasil Hutan Hasil Perusahaan Milik Daerah Dan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Bagian Pendapatan ini terdiri dari : 1) PD. Sulawesi Tengah 2) PT. Bank Sulteng Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah 1) Hasil Penjualan Aset Daerah 2) Penerimaan Jasa Giro 3) Tuntutan Ganti Rugi (TGR) 4) Denda Keterlambatan Pelaksanaan Pekerjaan 2. Dana Perimbangan Dana Perimbangan dalam struktur APBD adalah meliputi: 1) Bagi Hasil Pajak (BHP) 1. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) 2. Bea Perolehan atas Tanah dan Bangunan (PBB) 3. Bagi Hasil PPh Pasal 21 2) Bagi Hasil Bukan Pajak (BHBP) 1. Iuran Propinsi Sumber Daya Hutan (IPSDH) 2. Iuran Tetap /Landrent 3. Pertambangan Minyak Bumi 4. Perolehan Hak Atas Tanah (PHAT) 5. Biaya Pencatatan Nikah 3) Dana Alokasi Umum (DAU) 4) Dana Alokasi Khusus (DAK) 3. Lain-lain Pendapatan Yang Sah Penerimaan Daerah ini bersumber dari Hibah dan Pendapatan lainnya d.

Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN-KB) Kendaraan Bermotor adalah semua kendaraan beroda beserta gandengannya yang digunakan di semua jenis jalan darat, dan digerakkan oleh peralatan teknik berupa motor atau peralatan lainnya yang berfungsi untuk mengubah suatu sumber daya energi tertentu menjadi tenaga gerak kendaraan bermotor yang bersangkutan, termasuk alat-alat berat dan alat-alat besar yang dalam operasinya menggunakan roda dan motor dan tidak

2.1.6

melekat secara permanen serta kendaraan bermotor yang dioperasikan di air (Kepmendagri no.25 tahun 2010 tentang Penghitungan Dasar PKB dan BBNKB tahun 2010 pasal 1 ayat 1). Pajak Kendaraan Bermotor, yang selanjutnya disingkat PKB, adalah pajak atas kepemilikan dan/atau penguasaan kendaraan bermotor. (Kepmendagri no.25 tahun 2010 tentang Penghitungan Dasar PKB dan BBNKB tahun 2010 pasal 1 ayat 3). Tarif Pajak Kendaraan Bermotor ditetapkan sebesar (Pasal 5 ) : a 1,5% untuk kendaraan bermotor bukan umum b 1% untuk kendaraan bermotor umum c 0,5% untuk kendaraan bermotor alat-alat berat dan alat-alat besar Sedangkan Pembagian Hasil Penerimaan PKB dibagi sebagai berikut (Pasal 8) : a 70% untuk daerah Propinsi b 30% untuk daerah Kabupaten/Kota Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor, yang selanjutnya disingkat BBN-KB, adalah pajak atas penyerahan hak milik kendaraan bermotor sebagai akibat perjanjian dua pihak atau perbuatan sepihak atau keadaan yang terjadi karena jual beli, tukar menukar, hibah, warisan, atau pemasukan ke dalam badan usaha. (Kepmendagri no.25 tahun 2010 tentang Penghitungan Dasar PKB dan BBNKB tahun 2010 pasal 1 ayat 4) Tarif Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor ditetapkan sebagai berikut (Pasal 9) : 1. Tarif BBN-KB atas penyerahan pertama sebesar : a 10% untuk Kendaraan Bermotor bukan umum b 10% untuk Kendaraan Bermotor umum c 3% untuk Kendaraan Bermotor Alat-alat berat dan alat-alat besar 2. Tarif BBN-KB atas penyerahan kedua : a 1% untuk Kendaraan Bermotor Bukan umum b 1% untuk Kendaraan Bermotor umum c 3% untuk Kendaraan Bermotor alat-alat Berat dan Alat-alat besar 3. Tarif Kendaraan Bermotor karena warisan ditetapkan a 0,1% untuk Kendaraan Bermotor Bukan umum b 0,1% untuk Kendaraan Bermotor umum c 0,03% untuk Kendaraan Bermotor Alat-alat berat. Hasil Penerimaan BBN-KB diserahkan kepada Daerah Kabupaten/Kota penghasil sebesar 30% dengan memperhatikan aspek pemerataan potensi daerah. 2.1.7 Pengelolaan Keuangan Dalam Konteks Otonomi Daerah Berdasarkan Undang-undang No. 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah, disebutkan bahwa Otonomi daerah hak, wewenang dan daerah otonomi untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Perlu dipahami bahwa otonomi daerah tidak berarti eksploitasi daerah untuk menghasilkan PAD setinggi-tingginya. Jika otonomi diartikan sebagai eksploitasi PAD, maka justru masyarakat daerahlah yang akan terbebani. Maksimisasi PAD akan berimplikasi pada peningkatan pungutan pajak daerah dan retribusi daerah, karena penyumbang terbesar PAD adalah dua komponen tersebut. Adanya kecenderungan daerah-daerah meningkatkan jumlah jenis pajak baru juga dinyatakan oleh Bambang Sudibyo (Dalam Mardiasmo 2002:148), mantan Menteri Keuangan, sebagaimana diberitakan oleh harian Suara Pembaruan (Kamis, 5 April 2001) :

Pemerintah daerah (Pemda) dan DPRD cenderung mengembangkan Pendapatan Asli Daerah (PAD)-nya dengan cara memungut pajak dan retribusi daerah secara berlebihan, dan bahkan tidak pantas. Kebijakan semacam itu justru menjadi disinsentif bagi daerah dan mengancam perekonomian makro. Bahkan, berdasarkan sebuah penelitian, saat ini telah muncul 44 jenis pajak baru yang diterapkan di berbagai daerah. Pemerintah daerah sebaiknya tidak menambah pungutan yang bersifat pajak (menambah jenis pajak baru). Jika mau menambah pungutan hendaknya yang bersifat retribusi. Kebijakan untuk tidak menambah pungutan pajak dan meningkatkan retribusi didasarkan atas beberapa pertimbangan. 1. Pemungutan retribusi langsung berhubungan dengan masyarakat pengguna layanan publik (public service). Peningkatan retribusi secara otomatis akan mendorong peningkatan kualitas pelayanan publik karena masyarakat tentu tidak mau membayar lebih tinggi bila pelayanan yang diterima sama saja kualitas dan kuantitasnya. Dengan demikian, pemerintah daerah ditantang untuk meningkatkan kinerjanya dalam memberikan pelayanan publik. 2. Investor akan lebih bergairah melakukan investasi di daerah apabila terdapat kemudahan sistem perpajakan di daerah. Penyederhanaan sistem perpajakan di daerah perlu dilakukan misalnya melalui penyederhanaan tarif dan jenis pajak daerah. Pemerintah daerah kabupaten/kota dimungkinkan untuk menambah jenis pajak lain di luar yang telah diatur dalam UU No. 34 tahun 2000 dengan Peraturan Daerah. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan keleluasaan kepada daerah kabupaten/kota dalam mengantisipasi situasi dan kondisi serta perkembangan perekonomian daerah pada masa mendatang yang mengakibatkan perkembangan potensi pajak. Pajak baru tersebut harus memenuhi kritertia sebagai berikut : a. Bersifat pajak dan bukan retribusi, b. Objek pajak terletak atau terdapat di wilayah Daerah Kabupaten/kota yang bersangkutan dan mempunyai mobilitas yang cukup rendah serta hanya melayani masyarakat di wilayah Daerah Kabupaten/kota yang bersangkutan; c. Objek dan dasar pengenaan pajak tidak bertentangan dengan kepentingan umum; d. Objek pajak bukan merupakan objek pajak Provinsi dan/atau objek pajak Pusat; e. Potensinya memadai; f. Tidak memberikan dampak yang negatif terhadap perekonomian; g. Memperhatikan aspek keadilan dan kemampuan masyarakat; h. Menjaga kelestarian lingkungan Devas (dalam Mardiasmo 2002 : 150) memberikan kriteria yang lebih rinci untuk menetapkan kelayakan suatu pajak. Sejumlah kriteria yang harus dipertimbangkan untuk menilai pajak daerah tersebut layak atau tidak, yaitu : 1. Hasil/perolehan pajak (tax yield), meliputi : a. Hasil pajak cukup besar. Pajak yang memberikan hasil yang kecil justru akan menimbulkan inefisiensi dan menciptakan perlawanan pajak (tax payer resistance); b. Hasilnya lebih pasti dan dapat diprediksi. Hasil pajak hendaknya relatif stabil, tidak berfluktuasi dari tahun ke tahun agar mudah dalam melakukan perencanaan belanja; c. Perbandingan antara biaya pungut dengan hasil pajak kecil. 2. Keadilan (Equity) a. Dasar pengenaan pajak (tax base) dan kewajiban wajib pajak harus jelas

Horizontal equity. Pajak yang dilakukan harus menciptakan keadilan horisontal, yaitiu mereka yang kondisi ekonominya sama memiliki beban pajak yang sama; c. Vertical equity. Beban pajak harus disesuaikan dengan kemampuan masyarakat untuk membayar, yang kaya harus membayar pajak lebih tinggi dari pada yang miskin; d. Benefit principle, mereka yang menikmati fasilitas publik secara lebih baik harus membayar pajak lebih tinggi. 3. Daya Guna Ekonomi. Pajak hendaknya mendorong penggunaan sumber daya secara produktif dan tidak mengganggu perekonomian. Sistem perpajakan hendaknya memberikan netralitas ekonomi, sehingga mengurangi distorsi ekonomi. 4. Kemampuan melaksanakan (ability to implement), terdapat dukungan kapasitas administrasi dan skill aparat yang memadai. 5. Kecocokan sebagai sumber penerimaan daerah a. Harus jelas pemerintah daerah mana yang harus menerima pajak. Sebagai contoh, pajak penghasilan seharusnya dibayarkan kepada pemerintah daerah tempat dimana orang tersebut bekerja. b. Kedudukan objek pajak jelas agar pajak tidak mudah dihindari, dengan cara memindahkan objek pajak dari suatu daerah ke daerah lain. 6. Pengaruh tempat (lokasi) terhadap beban pajak. Jika jenis pajak atau tarif pajak berbeda-beda untuk tiap daerah, maka pembayar pajak cenderung berusaha untuk mengurangi beban pajak (misalnya memindahkan kantor pusat). Idealnya, pajak daerah dapat meminimalkan distorsi yang menyebabkan masyarakat dan pelaku binis meninggalkan suatu daerah; 7. Masalah keadilan antarwilayah. Beberapa pemerintah daerah memiliki potensi pajak daerah yang lebih besar dari yang lainnya. Pajak daerah hendaknya jangan mempertajam perbedaan-perbedaan antardaerah dari segi potensi masing-masing daerah 2.2 Kerangka Pemikiran Berdasarkan teori yang telah dikemukakan, maka secara skematis kerangka pemikiran dalam mengkaji kontribusi Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor terhadap PAD Provinsi Sulawesi Tengah tahun 2000-2010 digambarkan sebagai berikut: Pendapatan Asli Daerah Pajak Daerah Lain-lain Pendapatan yang Sah Hasil Perusahaan Milik Daerah dan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Retribusi Daerah Kontribusi

b.

Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor Pajak Kendaraan Bermotor

Gambar 1. Skema Kerangka Pemikiran Pendapatan Asli Daerah bersumber dari Pajak daerah, Retribusi Daerah, Hasil Perusahaan Milik Daerah dan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah serta Lain-lain Pendapatan yang Sah. Sementara Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan bermotor merupakan sumber-sumber pendapatan Asli Daerah yang berasal dari Pajak Daerah dan merupakan sumber Pendapatan Asli Daerah yang sangat potensial yang harus dikelola dengan baik melalui kebijakan yang bersifat intensifikasi maupun bersifat ekstensifikasi sehingga diharapkan dengan kebijakan-kebijakan tersebut dapat meningkatkan PAD Sulawesi Tengah. Pendapatan Asli Daerah yang bersumber dari pajak daerah, perlu dikelolah secara profesional, dengan penerapan good governance dan clean governance diharapkan sumber pembiayan ini menjadi sumber yang menjadi andalan dalam pembiayaan APBD. 2.3 Peneliti Terdahulu Berikut ini adalah beberapa hasil penelitian terdahulu yang dalam penelitian ini dijadikan sebagai bahan acuan dan pengembangan yaitu: a. Neli Kurniawati (2006) Penelitian yang berjudul Kontribusi Pungutan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) Terhadap PAD Sulawesi Tengah. Obyek dalam penelitian ini adalah seluruh data (dalam tahun) yakni tahun 2002 sampai tahun 2005 yang ada di Dispenda dan BPS Sulawesi Tengah. Sampel dalam penelitian ini diambil sebagian dari jumlah populasi (data dalam periode tahun) untuk diteliti berdasarkan yang dibutuhkan yakni berupa PKB, BBNKB, dan Pajak Asli Daerah dengan mengambil sampel data selama periode tahun 2002 sampai dengan tahun 2005. Ada 3 (tiga) variabel yang dikaji dalam penelitian ini, yaitu: (1) PKB, (2) BBNKB, (3) Pajak Daerah. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1. Metode analisis kualitatif Metode ini merupakan metode penganalisaan beberapa hasil temuan, baik secara langsung maupun temuan berdasarkan hasil perhitungan dimana analisis tersebut dilakukan dengan cara pemaparan. 2. Metode analisis kuantitatif.

Metode analisis ini merupakan penganalisaan dengan menggunakan peralatan analisis. Adapun alat analisis yang digunakan untuk mengetahui kontribusi Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa selama kurun waktu 2000-2005. kontribusi Pajak Kendaraan Bermotor terhadap PAD Sulteng lebih dari 24% setiap tahunnya. Tahun 2005 kontribusinya mencapai nilai terbesar yalni sebesar 30,36%. Sedangkan Bea-Balik Nama Kendaraan bermotor memberikan kontribusi lebih dari 35% setiap tahunnya. Selama kurun waktu tersebut, kontribusi PKB dan BBN-KB berfluktuasi. b. Sari Vika Ferna Yustiva (2008). Penelitian yang berjudul Kontribusi Pungutan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) Terhadap Pajak Daerah Pada Unit Pelayanan Pendapatan Daerah Kabupaten Pati. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh data (dalam tahun) yakni tahun 2002 sampai tahun 2006 yang ada di UPPD Kabupaten Pati. Sampel dalam penelitian ini diambil sebagian dari jumlah populasi (data dalam periode tahun) untuk diteliti berdasarkan yang dibutuhkan yakni berupa PKB, BBNKB, dan Pajak Daerah dengan mengambil sampel data selama periode tahun 2002 sampai dengan tahun 2006. Ada 3 (tiga) variabel yang dikaji dalam penelitian ini, yaitu: (1) PKB, (2) BBNKB, (3) Pajak Daerah. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah interview dan dokumentasi. Data yang dikumpulkan dianalisis dengan teknik analisis kualitatif yakni peneliti mendiskriptifkan hasil penelitian secara kualitatif tanpa perhitungan statistik dan kuantitatif yakni digunakan untuk melakukan perhitungan dengan angkaangka dan statistik. Dalam penelitian ini menghitung kontribusi dan efektivitas. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa selama kurun waktu lima tahun terakhir kontribusi PKB yang terendah ialah pada tahun 2002 sebesar 43,06% dan yang tertinggi ialah pada tahun 2006 sebesar 54,91%. Sedangkan kontribusi BBNKB yang terendah ialah pada tahun 2006 yakni sebesar 44,73% dan yang tertinggi ialah pada tahun 2002 yakni sebesar 56,95%. Dari hasil perhitungan efektivitas PKB yang terendah ialah pada tahun 2006 yakni sebesar 114,53% dan yang tertinggi ialah pada tahun 2003 yakni sebesar 132,85%. Sedangkan efektivitas BBNKB yang terendah ialah pada tahun 2003 yakni sebesar 100,23% dan yang tertinggi ialah pada tahun 2004 yakni 141,98%.

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Tipe Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian Deskriptif yaitu penelitian yang bermaksud menjelaskan kedudukan variabel-variabel yang diteliti serta hubungan antara satu variabel dengan variabel yang lain (Sugiyono,1999 : 7) 3.2 Daerah Penelitian Penelitian ini dilakukan di Provinsi Sulawesi Tengah. 3.3 Jenis dan Sumber Data Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari Dinas Pendapatan Provinsi Sulawesi Tengah dan Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Tengah. Jenis Data yang digunakan dalam bentuk : 1. Data PAD Sulawesi Tengah 2. Data Pajak Daerah Sulawesi Tengah 3. Data Pajak Kendaraan Bermotor 4. Data Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor 5. Data lainnya yang berhubungan dengan penelitian

3.4

Tekhnik Pengumpulan Data

Sumber data sekunder yaitu sumber yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data, misalnya lewat orang lain atau lewat dokumen (Sugiyono, 2007 : 193) 3.5 Metode Analisis 1. Metode analisis kualitatif Metode ini dilakukan dengan menganalisa beberapa hasil temuan, baik secara langsung maupun temuan berdasarkan hasil perhitungan dimana analisis tersebut dilakukan dengan cara pemaparan. 2. Metode analisis kuantitatif. Metode analisis ini merupakan penganalisaan dengan menggunakan peralatan analisis. Adapun alat analisis yang digunakan untuk mengetahui kontribusi Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor terhadap PAD Sulawesi Tengah, diformulasikan sebagai berikut : 1. Analisis Kontribusi Pajak Kendaraan Bermotor = X 100%................................................................. (1) Dimana : KPKBn = Kontribusi Pajak Kendaraan Bermotor terhadap Pendapatan Asli Daerah Propinsi Sulawesi Tengah tahun n PKBn = Pajak Kendaraan Bermotor tahun n PADn = Pendapatan Asli Daerah tahun n Untuk mengetahui kontribusi Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor terhadap terhadap Pendapatan Asli Daerah Sulawesi Tengah digunakan formulasi sebagai berikut : 2. Analisis Kontribusi Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor = X 100%...................................................... (2) Dimana : KBBNKBn ... = Kontribusi Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor terhadap Pendapatan Asli Daerah Propinsi Sulawesi Tengah tahun n BBNKBn = Bea Balik nama Kendaraan Bermotor tahun n PADn = Pendapatan Asli Daerah tahun n 3.5 Definisi Operasional Variabel Konsep operasional yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Secara umum PAD adalah merupakan sumber penerimaan daerah yang secara murni berasal dari berbagai potensi daerah yang dapat dikelola atas keputusan pemberian wewenang dari Pemerintah Pusat (Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah). 2. Pajak Kendaraan Bermotor, yang selanjutnya disingkat PKB, adalah pajak atas kepemilikan dan/atau penguasaan kendaraan bermotor. (Kepmendagri no.25 tahun 2010 tentang Penghitungan Dasar PKB dan BBNKB tahun 2010 pasal 1 ayat 3). 3. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor, yang selanjutnya disingkat BBN-KB, adalah pajak atas penyerahan hak milik kendaraan bermotor sebagai akibat perjanjian dua pihak atau perbuatan sepihak atau keadaan yang terjadi karena jual beli, tukar menukar, hibah, warisan, atau pemasukan ke dalam badan usaha. .(Kepmendagri no.25 tahun 2010 tentang Penghitungan Dasar PKB dan BBNKB tahun 2010 pasal 1 ayat 4).

BAB IV GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1 Keadaan Geografis Propinsi Sulawesi Tengah terletak di bagian tengah Pulau Sulawesi, dengan luas wilayah daratan 63.305 Km2 atau 6.330.466,82 Ha. Luas wilayah Sulawesi Tengah daratan tersebut adalah 36,47 persen dari luas Pulau Sulawesi. Luas perairan laut Sulawesi Tengah mencapai 193.923,75 Km2 dengan jumlah pulau sebanyak 1.140 pulau dengan batas-batas wilayah sebagai berikut, sebelah utara berbatasan dengan Laut Sulawesi dan Provinsi Gorontalo, sebelah timur berbatasan dengan Propinsi Maluku dan Maluku Utara, sebelah selatan berbatasan dengan Propinsi Sulawesi Selatan dan Propinsi Sulawesi Tenggara, sebelah barat berbatasan dengan Selat Makassar dan Propinsi Sulawesi Barat. Secara administrasi , hingga Tahun 2010 Provinsi Sulawesi Tengah terdiri atas 10 Kabupaten dan 1 Kota yaitu Kabupaten Donggala, Poso, Tolitoli, Banggai, Buol, Morowali, Parigi Moutong, Banggai Kepulauan, Tojo Una-Una, Sigi dan Kota Palu yang terdiri dari atas 155 Kecamatan, 159 Kelurahan dan 1.656 Desa. Posisi astronomi Sulawesi Tengah terletak antara 222' Lintang Utara dan 348' Lintang Selatan serta 11922' dan 12422' Bujur Timur. Posisi Geostrategis Sulawesi Tengah berada di tengah wilayah nusantara dan di tengah pulau sulawesi, berada di lintasan koridor perairan dari utara ke selatan menuju lautan pasifik (Selat Makassar dan Laut Sulawesi). 4.2 Keadaan Iklim Sebagaimana daerah lain di Indonesia, Kota Palu memiliki dua musim, yaitu musim panas dan musim hujan. Musim panas terjadi antara Bulan April-September, sedangkan musim hujan terjadi pada Bulan Oktober-Maret. Hasil pencatatan suhu udara pada Stasiun Udara Mutiara Palu Tahun 2010 bahwa rata-rata suhu udara adalah 27,7C. Suhu udara terendah terjadi pada Bulan Agustus yaitu sebesar 26.7C, sedangkan bulan lainnya suhu udara berkisar antara 26,7-28,8C. Kelembapan udara rata-rata tertinggi terjadi pada Bulan April yang mencapai 80 persen sedangkan kelembapan udara terendah terjadi pada Bulan Juni dan Agustus yaitu 82 persen. Curah hujan tertinggi yang tercatat pada stasiun Meteorologi Mutiara Palu Tahun 2010 tejadi pada Bulan Juni yaitu 123,0 mm, sedangkan curah hujan terendah terjadi pada Bulan Maret yaitu 11,7 mm. Sementara itu kecepatan angin pada Tahun 2010 rata-rata 3,7 knots. Arah angin pada tahun 2010 masih berada pada posisi yang sama dengan tahun sebelumnya yaitu datang dari posisi utara. Kota Palu beriklim tropis yang dipengaruhi oleh angin muson dengan curah hujan rata-rata 1.500 mm sampai dengan 4.000 mm per tahun. Suhu udara berkisar antara 12C sampai 24C dengan kelembapan antara 78% pada musim hujan dan 70% pada musim kemarau. (sumber http://sulteng.go.id)

4.3 Penduduk Ditinjau dari jenis kelamin, jumlah penduduk Sulawesi Tengah pada tahun 2000 yang berjenis kelamin laki-laki lebih banyak daripada penduduk perempuan, yaitu 1,113 ribu jiwa berbanding 1,063 ribu jiwa dengan rasio jenis kelamin sebesar 105. Provinsi Sulawesi Tengah yang memiliki 1.778 desa/kelurahan dan 590.954 rumah tangga serta luas wilayah 68.033,00 km2, secara umum pada tahun 2009 memiliki kepadatan penduduk 36 jiwa per km2, 1.395 jwa per desa, serta 4 jiwa dalam setiap rumah tangga. Jumlah penduduk Sulawesi Tengah setiap tahunnya bertambah. Hal ini terjadi karena meningkatnya angka kelahiran, dan migrasi penduduk dari daerah lain. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel 1 Tabel 1. Penduduk Sulawesi Tengah, Menurut Jenis Kelamin, Seks Ratio Tahun 1999-2003 Tahun Laki-laki Perempuan Jumlah Seks Ratio 2000 2001 2002 2003

1.063.977 1.063.977 1.083.070 1.138.710

1.015.224 1.042.711 1.039.222 1.071.390

2.079.201 2.107.977 2.122.292 2.210.100

105 101 104,22 106,28 Sumber : BPS, Angka tetap hasil survei 2003 Pada tahun 2000 jumlah penduduk Sulawesi Tengah sebanyak 2.079.201 jiwa, yang kemudian meningkat menjadi 2.107.977 jiwa pada tahun 2001. Pada tahun 2002, penduduk Sulawesi Tengah sudah mencapai 2.122.292 jiwa, hingga pada tahun 2003 penduduk Sulawesi Tengah mencapai 2.210.100 jiwa 4.4 Keadaan Perekonomian Kondisi perekonomian suatu daerah atau wilayah sangat tergantung pada potensi dan sumber daya yang dimiliki, berbagai kebijaksanaan, langkah dan upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah, khususnya Pemerintah Daerah Sulawesi Tengah untuk meningkatkan perekonomian di daerah ini. Salah satu indikator yang digunakan untuk melihat kemampuan suatu daerah mengembangkan potensinya adalah besarnya nilai PDRB yang dimiliki. PDRB Propinsi Sulawesi Tengah Laju pertumbuhan ekonomi Propinsi Sulawesi Tengah selama kurun waktu 2000-2010, khususnya dari sektor pertanian yang merupakan pemberi kontribusi terbesar terhadap PDRB Propinsi Sulawesi Tengah. Pada tahun 2000 kontribusi sektor pertanian sebesar 43,64% meningkat menjadi 45,03% pada tahun 2005 walaupun pada tahun 2006 terjadi penurunan 44,03% hingga 40,44% pada tahun 2010 tidak mempengaruhi sektor pertanian sebagai pemberi kontribusi terbesar terhadap PDRB Propinsi Sulawesi Tengah. Sektor pengangkutan dan komunikasi pada tahun 2005 mengalami penurunan selama kurun waktu 2000-2010 dimana pada tahun 2000 sebesar 6,78% menurun menjadi 6,66% pada tahun 2005. Walaupun terjadi penurunan kontribusinya, namun secara absolut (Juta Rupiah) terjadi peningkatan. Jika dibandingkan dengan tahun 2000, maka pada tahun 2010 secara absolut Nilai Tambah Bruto sektor pengangkutan dan komunikasi mengalami peningkatan sebesar 122,86% (diolah dari tabel 2 terlampir). Hal ini mengindikasikan bahwa telah terjadi peningkatan pendapatan masyarakat yang bekerja di sektor pengangkutan dan komunikasi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel terlampir.

BAB V PEMBAHASAN

5.1.

Perkembangan Target dan Realisasi PAD Sulteng

Seiring dengan Visi Dinas Pendapatan Daerah Sulawesi Tengah yakni Menjadikan PAD sebagai sumber pembiayaan utama APBD Sulawesi Tengah maka secara intensif dilakukan upaya-upaya dalam peningkatan PAD secara bersama-sama dengan Unit Pelayanan Terpadu Daerah (UPTD) serta Unit Kerja Terkait (UKT) lainnya agar realisasi penerimaan setiap tahunnya selalu mengalami peningkatan. Komponen penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) tersebut terdiri dari : 1. Hasil Pajak Daerah 2. Hasil Retribusi Daerah 3. Hasil Perusahaan Milik Daerah dan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah; dan 4. Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah Pendapatan Asli Daerah Sulawesi Tengah dalam kurun waktu 2000-2010 terus mengalami kenaikan setiap tahun. Kenaikan tersebut dapat diraih karena adanya upaya antara lain dilakukannya intensifikasi, ekstensifikasi, peningkatan mutu layanan, mendekatkan tempat pelayanan kepada wajib pajak melalui SAMSAT Keliling dan semakin membaiknya perekonomian masyarakat. Pendapatan Asli Daerah Sulawesi Tengah terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun secara absolut. Pajak daerah merupakan pemberi kontribusi terbesar dibandingkan dengan retribusi daerah, hasil perusahaan milik daerah dan hasil pengelolaan kekayaan daerah serta lain-lain pendapatan daerah yang sah. Dari total Pendapatan Daerah selama Tahun anggaran 2000 sampai dengan Tahun 2010 Kontribusi yang terbesar adalah berasal dari Kontribusi Pendapatan Asli Daerah sebesar 100%. Maka dapat disimpulkan bahwa pembiayaan penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan sebagian besar masih didukung dana dari Pendapatan Daerah dan Pemerintah Pusat. Dari beberapa sumber pajak daerah, sejak kurun waktu tahun 2000-2010, Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor sebagai sumber pendapatan daerah terbesar dan Pajak Kendaraan Bermotor merupakan sebagai sumber pendapatan daerah terbesar kedua setelah Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dibandingkan dengan jenis penerimaan daerah dari Pajak Daerah yang lain, kecuali pada tahun 2006, pajak kendaraan di atas air memberikan nilai yang tertinggi dibandingkan dengan jenis pajak daerah lainnya. Peningkatan ini disebabkan oleh mulai tertatanya dengan baik pengelolaan pajak kendaraan di atas air. Jika diperhatikan secara menyeluruh selama kurun waktu tahun 2000 hingga 2010, Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Pajak Kendaraan Bermotor yang memberikan kontribusi terbesar terhadap Pendapatan Asli Daerah Sulawesi Tengah yang bersumber dari pajak daerah. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel terlampir. Tabel 2 Pertumbuhan Target dan Realisasi PAD Sulawesi Tengah Periode 2000-2010 Tahun Anggaran

P A D Pertumbuhan ( % ) Target Realisasi Target Realisasi 2000 32.904.694.036,00 34.036.738.105,63 2001 54.249.320.876,00 54.944.208.279,04 61,43 64,87 2002 65.044.831.100,00 83.625.326.096,20 52,20 19,09 2003 87.653.144.925,00 108.523.873.251,21 29,77 34,76

2004 108.364.557.308,00 122.907.876.638,71 13,25 23,63 2005 134.525.878.870,80 137.383.639.244,48 11,78 24,14 2006 151.334.717.470,51 160.508.900.042,45 12,49 16,83 2007 165.634.289.140,83 194.190.568.734,40 9,45 20,98 2008 224.673.524.898,00 229.479.742.225,30 35,64 18,17 2009

237.742.560.000,00 275.187.616.354,70 5,82 19,92 2010 278.234.075.874,00 411.797.140.000,00 17,03 49,64 Sumber : Data Setelah diolah Tabel 3 Capaian Target dan Realisasi PAD Sulawesi Tengah Periode 2000-2010 Tahun Anggaran P A D Capaian ( % ) Target Realisasi Target Realisasi 2000 32.904.694.036,00 34.036.738.105,63 100 103,44 2001 54.249.320.876,00

54.944.208.279,04 100 101,28 2002 65.044.831.100,00 83.625.326.096,20 100 128,52 2003 87.653.144.925,00 108.523.873.251,21 100 123,82 2004 108.364.557.308,00 122.907.876.638,71 100 113,41 2005 134.525.878.870,80 137.383.639.244,48 100 102,12 2006 151.334.717.470,51

160.508.900.042,45 100 106,06 2007 165.634.289.140,83 194.190.568.734,40 100 117,24 2008 224.673.524.898,00 229.479.742.225,30 100 102,13 2009 237.742.560.000,00 275.187.616.354,70 100 115,75 2010 278.234.075.874,00 411.797.140.000,00 100 148,00 Target Pendapatan Asli Daerah pada angggaran Pendapatan Daerah selama Tahun anggaran 2000 sampai dengan Tahun 2010 secara keseluruhan mengalami peningkatan yang signifikan pertumbuhannya. Sejalan dengan penetapan terget Pendapatan Asli Daerah tersebut tersebut dan memperhatikan berbagai indikator ekonomi yang ada dan upaya-upaya yang dilaksanakan dalam mendukung pencapaian target yang maksimal

terhadap Pendapatan Daerah utamanya Pendapatan Asli Daerah dapat digambarkan secara keseluruhan realisasi Pendapatan Asli Daerah Tahun 2000-2010 pada tabel 2. Adapun perkembangan capaian realisasi Pendapatan Asli Daerah Tahun 2000-2010 meningkat secara signifikan dari tahun ke tahun ini dapat dilihat pada tabel 3. 5.2 Kontribusi Pajak Kendaraan Bermotor terhadap Pendapatan Asli Daerah Propinsi Sulawesi Tengah Periode 2000-2010 Dengan menggunakan persamaan 1, diperoleh hasil perhitungan sebagai berikut: Tabel 4 Kontribusi Pajak Kendaraan Bermotor Terhadap Pendapatan Asli Daerah Propinsi Sulawesi Tengah Periode 2000-2010 Tahun Anggaran PAD (Rp) PKB Kontribusi 2000 34.036.738.105,63 8.404.788.158,00 24,69 2001 54.944.208.279,04 14.442.965.607,00 26,29 2002 83.625.326.096,20 20.921.840.575,50 25,02 2003 108.523.873.251,21 28.170.602.782,41 25,96 2004

122.907.876.638,71 36.253.369.102,00 25,90 2005 137.383.639.244,48 41.713.497.725,00 30,36 2006 160.508.900.042,45 47.191.063.684,00 29,40 2007 194.190.568.734,40 55.178.993.214,00 28.41 2008 229.479.742.225,30 74.904.139.690,00 32,64 2009 275.187.616.354,70 79.437.856.610,00 28,87 2010 411.797.140.000,00 99.117.597.457,00

24,07 Sumber : Data setelah diolah Sejak tahun 2000 sampai dengan tahun 2010, Kontribusi Pajak Kendaraan Bermotor terhadap PAD Sulawesi Tengah lebih dari 24%. Tahun 2000 kontribusi PKB sebesar 24,69 % meningkat menjadi 26,29% pada tahun 2001. Kontribusi PKB terhadap PAD mengalami penurunan pada tahun 2002, yakni menurun 1,27%. Namun jika dilihat secara absolut terjadi peningkatan Pajak Kendaraan Bermotor dimana pada tahun 2001 sebesar 14.442.965.607,00 meningkat menjadi 20.921.840.575,54 tahun 2002. Tahun 2003 kontribusi Pajak Kendaraan Bermotor kembali mengalami kenaikan 0,94% dibandingkan dengan tahun sebelumnya dan tahun 2004 kembali mengalami penurunan sebesar 0,6%. Tahun 2005 kontribusinya mengalai peningkatan yang cukup besar dibandingkan dengan kenaikan tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun tersebut, kontribusi Pajak Kendaraan Bermotor mengalami kenaikan 4,46%. Pada tahun 2006 hingga tahun 2007 kontribusi Pajak Kendaraan Bermotor terhadap Pendapatan Asli Daerah Sulawesi Tengah terus mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Tahun 2006 kontribusi PKB sebesar 29,40% atau meningkat sebesar 0,96% dan tahun 2007 menurun sebesar 0,91% atau menjadi 28,41%. Pada tahun 2008 kontribusinya mengalami kenaikan yang cukup bersar yakni 32, 64%. Peningkatan kontribusi tersebut disebabkan oleh beberapa faktor yakni Adanya kemudahan yang diberikan pihak dealer kendaraan bermotor kepada konsumen dengan cara angsuran dengan uang muka yang relatif terjangkau; Penerapan Surat Pemberitahuan Pajak Kendaraan Bermotor (Super PKB); Peningkatan kinerja pelayanan kepada wajib pajak melalui SAMSAT keliling; Meningkatnya kinerja aparatur yang terintegrasi dalam kantor bersama SAMSAT dan peningkatan kualitas sarana dan prasarana jalan yang menghubungkan antara propinsi, kabupaten/kota se Sulawesi Tengah sehingga mendorong masyarakat untuk memiliki kendaraan bermotor, baik roda 2 maupun roda 4 sehingga berimplikasi pada peningkatan penerimaan daerah dari Pajak Kendaraan Bermotor. Tahun 2009 hingga tahun 2010 kontribusinya kembali mengalami penurunan dari tahun ke tahun. tahun 2009 kontribusinya menurun menjadi 28,87% dan tahun 2010 menurun menjadi 24,07%. Jika dilhat secara keseluruhan, selama kurun waktu 2000 hingga 2010, Pajak Kendaraan Bermotor memberikan kontribusi terhadap PAD sulteng di atas 24%, hal ini dapat dikatakan bahwa Pajak Kendaraan Bermotor memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap Pendapatan Asli Daerah Propinsi Sulawesi Tengah.Sejak tahun 2003 hingga tahun 2005 terjadi kenaikan secara terus-menerus. Pada tahun 2005 kontribusi PKB terhadap PAD mencapai angka terbesar yakni 30,36%. Pertumbuhan Pajak Kendaraan Bermotor dapat dilihat pada tabel 5 berikut :

Tabel 5 Pertumbuhan Pajak Kendaraan Bermotor Provinsi Sulawesi Tengah Periode 2000-2010 (%) Tahun Anggaran PKB Pertumbuhan pertahun (%) 2000 8.404.788.158,00 2001 14.442.965.607,00 71,84 2002 20.921.840.575,50 44,86 2003 28.170.602.782,41 34,65 2004 36.253.369.102,00 28,69 2005 41.713.497.725,00 15,06 2006 47.191.063.684,00 13,13 2007 55.178.993.214,00

16,93 2008 74.904.139.690,00 35,75 2009 79.437.856.610,00 6,05 2010 99.117.597.457,00 24,77 Sumber : Data Setelah Diolah Berdasarkan data pada tabel di atas, pertumbuhan penerimaan PKB tertinggi jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, adalah pada tahun 2001, yakni 71, 84%. Pertumbuhan ini disebabkan oleh adanya upaya intensifikasi dan ekstensifikasi pajak daerah. Sejak tahun 2002 hingga tahun 2006, pertumbuhan PKB kembali mengalami penurunan dari tahun ke tahun. tahun 2002 pertumbuhannya sebesar 44,86%, tahun 2003 sebesar 34,65%, tahun 2004 sebesar 28,69%, tahun 2005 sebesar 15,06% dan tahun 2006 sebesar 13,13%. Penurunan ini disebabkan oleh banyaknya wajib pajak yang tidak melakukan pembayaran pajak kendaraan bermotor. Pada tahun 2007 pertumbuhan PKB kembali mengalami peningkatan menjadi 16,93% dan tahun 2008 meningkat menjadi 35,75%. Pada tahun 2009 pertumbuhan PKB kembali menurun, pada tahun ini penerimaan PKB mengalmi pertumbuhan 6,05%, merupakan pertumbuhan terendah selama kurun waktu 2000 hingga 2010. Pada tahun 2010 pertumbuhan PKB kembali meningkat menjadi 24,77%. Selama kurun waktu 2000 hingga 2010, PKB mengalami pertumbuhan yang berfluktuasi dan berada di atas 5%, pertumbuhan tertinggi yakni pada tahun 2001 sebesar 71,84% dan pertumbuhan terendah yakni pada tahun 2009 yakni sebesar 6,05%. Jika diamati secara menyeluruh sejak tahun 2000 hingga tahun 2010, Pajak Kendaraan Bermotor terus meningkat dari tahun ke tahun secara absolute, hal ini menggambarkan adanya perkembangan yang cukup baik dalam pengeloaan pajak daerah, yang diharapkan penerimaan daerah dari Pajak kendaraan bermotor dapat dijadikan sumber pembiayaan yang manjadi harapan dalam pembangunan daerah di Sulawesi tengah. Jumlah Kendaraan Bermotor tahun 2000-2010 disajikan pada tabel terlampir. Berdasarkan tabel yang terlampir, jumlah kendaraan roda II dan roda IV terus mengalami peningkatan tahun ke tahun karena adanya peningkatan taraf hidup masyarakat dimana kendaraan bermotor baik roda II maupun roda VI idak lagi dianggap kebutuhan mewah melainkan merupakan kebutuhan primer dalam rangka menunjang kegiatan sehari- hari, sehingga hal ini mengindikasikan bahwa

sumber penerimaan daerah yaang berasal dari pajak kendaraan bermotor (PKB) dan bea balik nama kendaraan bermotor (BBNKN) menjadi sumber penerimaan daerah sangat penting dan perlu harus dikelola dengan baik guna menunjang penerimaan asli daerah (PAD) Sulawesi Tengah. 5.1.1 Pengenaan Sanksi Administrasi Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) Pengenaan sanksi administrasi terhadap wajib pajak / pemilik kendaraan bermotor yang kurang atau lambat bayar pajaknya dikenakan berupa kenaikan sebesar 25% (dua puluh lima persen) dari pokok pajak ditambah sanksi administratif bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan dihitung dari pajak yang kurang atau lambat dibayar untuk jangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat bulan) dihitung saat terutangnya pajak. Apabila kita setelah jatuh tempo masa berlaku STNK (surat tanda nomor kendaraan) belum melakukan perpanjangan maka kita akan dikenai denda PKB (pajak kendaraan bermotor) dan SWDKLLJ (sumbangan wajib dana kecelakaan lalu lintas), adapun cara perhitungannya: a. Denda PKB (pajak kendaraan bermotor) ada yang telat 3 hari bahkan 1 hari dianggap 1 tahun, tiap wilayah berbeda, tetapi prinsip cara menghitungnya adalah 25% per tahun terlambat 3 bulan PKB x 25% x 3/12 terlambat 6 bulan PKB x 25% x 6/12 b. Denda SWDKLLJ (sumbangan wajib dana kecelakaan lalu lintas) Besarnya Rp 32.000 untuk motor & Rp100.000 untuk roda 4.

5.3

Kontribusi Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor Terhadap Pendapatan Asli Daerah Provinsi Sulawesi Tengah Periode 2000-2010 Tabel 6 Kontribusi Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor Terhadap Pendapatan Asli Daerah Sulteng Periode 2000-2010. Tahun Anggaran PAD (Rp) BBN-KB Kontribusi 2000 34.036.738.105,63 12.012.136.346,00 35,29 2001

54.944.208.279,04 22.269.773.043,00 40,53 2002 83.625.326.096,20 36.061.883.464,30 43,12 2003 108.523.873.251,21 41.970.350.647,96 38,67 2004 122.907.876.638,71 46.458.209.626,00 37,80 2005 137.383.639.244,48 51.397.337.671,00 37,41 2006 160.508.900.042,45 42.437.795.647,00 26,44 2007 194.190.568.734,40 61.213.904.024,00

31,52 2008 229.479.742.225,30 95.120.179.949,00 41,45 2009 275.187.616.354,70 94.946.777.000,00 34,50 2010 411.797.140.000,00 164.307.214.400,00 39,90 Sumber : Data setelah diolah Tahun 2000 kontribusi Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor terhadap PAD Sulteng sebesar 35,29% meningkat menjadi 40,53% pada tahun 2001. Tahun 2002 hingga tahun 2006 mengalami penurunan dari tahun ke tahun. dibandingkan dengan 1 tahun sebelumnya, kontribusinya meningkat sebesar 5,08% pada tahun 2007 dan tahun 2008 mengalami peningkatan kontribusinya sebesar 9,93%. Pada tahun 2009 kembali mengalami penurunan kontribusi menjadi 34,50%. kontribusinya kembali meningkat menjadi 39,90% atau meningkat sebesar 5,40%. Berdasarkan uraian di atas, dapat diketahui adanya fluktuasi kontribusi BBNKB terhadap PAD Sulteng. Selama kurun waktu 2000 hingga 2010, kontribusinya yang paling besar terhadap PAD sulteng yakni pada tahun 2001 sebesar 43,12%; dan kontribusi terendah yakni pada tahun 2006 sebesar 26,44%. Besarnya kontribusi Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor terhadap Pendapatan Asli Daerah Sulawesi Tengah memberikan gambaran bahwa, Pajak daerah yang bersumber dari Bea Balik Nama kendaraan Bermotor merupakan sumber penerimaan daerah Sulawesi Tengah yang sangat mendukung pembiayaan pembangunan daerah di Sulawesi Tengah. Tabel 7 Pertumbuhan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor Periode 2000-2010 Tahun Anggaran BBN-KB

Pertumbuhan Pertahun (%) 2000 12.012.136.346,00 2001 22.269.773.043,00 85,39 2002 36.061.883.464,30 61,93 2003 41.970.350.647,96 16,38 2004 46.458.209.626,00 10,69 2005 51.397.337.671,00 10,63 2006 42.437.795.647,00 -17,43 2007 61.213.904.024,00 44,24 2008 95.120.179.949,00

55,34 2009 94.946.777.000,00 -0,18 2010 164.307.214.400,00 73,05 Sumber : Data Setelah Diolah Berdasarkan data pada tabel di atas, terlihat bahwa pada tahun 2001, pertumbuhan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor sebesar 85,39%. Pertumbuhan yang sangat tinggi ini disebabkan adanya peningkatan jual beli kendaraan bermotor roda dua. Tahun 2002 hingga tahun 2006 terus mengalami pertumbuhan yang negatif atau menurun dibadingkan dengan tahun sebelumnya setiap tahun. Tahun 2002 pertumbuhannya sebesar 61,93%, tahun 2003 sebesar 16,38%, tahun 2004 sebesarn10,69%, tahun 2005 sebesar 10,63% dan tahun 2006 mengalami penurunan sebesar -17,43%. Penurunan ini disebabkan makin bertambahnya jumlah dealer kendaraan bermotor khsusnya kendaraan bermotor roda dua yang memberikan kemudahan kredit pembelian kendaraan bermotor, bertambahnya jenis kendaraan bermotor dengan kualitas dan harga yang relatif murah dari tahun ke tahun, kondisi ini menyebabkan kurangnya minat konsumen untuk membeli kendaraan bermotor bekas, yang berimplikasi pada menurunnya penerimaan pajak daerah yang bersumber dari Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor. Tahun 2007 pertumbuhan BBN-KB meningkat menjadi 44,24%, dan tahun 2008 meningkat menjadi 55,34% ini kareana banyaknya penjualan kendaraan bermotor khususnya roda VI yang jika kendaraannya akan dibuatkan BBNKB dari pihak pertama Dealer di ubah ke pihak kedua yaitu pembeli maka pajak BBNKB dibayar 10% dari harga kendaraannya sehingga akan lebih tanggi penerimaan dari BBNKB sedangkan pada Tahun 2009 Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor kembali mengalami penurunan 0,18%. Kondisi ini disebabkan banyaknya kendaraan bermotor baik roda dua mau pun roda empat dengan berbagai merek dan tipe yang dilepaskan pihak perusahaan ke pasar, dan adanya kemudahan angsuran dan uang muka kendaraan bermotor yang di jual secara kredit kepada konsumen. Kondisi ini menyebabkan menurunnya jual beli kendaraan bermotor bekas. Tahun 2010 pertumbuhan BBNKB kembali meningkat sebesar 73,05%. Peningkatan yang cukup signifikan ini disebabkan banyaknya lembaga keuangan Bank dan Pegadaian yang memberikan layanan pinjaman dana dengan jaminan Bukti Kepemilikan Kendaraan Bermotor (BPKB). Hal ini mendorong pemilik kendaraan bermotor mengurus BPKB yang dibelinya dari tahun sebelumnya. Peningkatan realisasi penerimaan daerah yang bersumber dari kontribusi PKB dan BBNKB yaitu dengan adanya penerapan Surat Pemberitahuan Pajak Kendaraan Bermotor (Super PKB) karena semakin banyak wajib pajak yang rutin membayar pajaknya maka otomatis penerimaan daerah makin meningkat. Sementara itu peningkatan kinerja pelayanan kepada wajib pajak melalui SAMSAT keliling juga sangat

penting karena akan lebih memudahkan bagi wajib pajak untuk membayar pajaknya dan lebih efisien dan efektif. Dan juga peningkatan jual beli kendaraan bermotor roda II maupun roda VI akan lebih meningkat jika kulitas sarana dan prasarana jalan yang menghubungkan provinsi, kabupaten/kota se Sulawesi Tengah maka akan lebih banyak masyarakat yang akan membeli kendaraan bermotor sehingga kontribusi dari masingmasing pajak tersebut akan lebih meningkat.

BAB VI PENUTUP 6.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa selama kurun waktu 2000 hingga 2010 Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor memberikan kontribusi terbesar terhadap Pendapatan Asli Daerah Sulawesi Tengah. Selama kurun waktu tersebut, Kontribusinya terhadap PAD Sulawesi Tengah mengalami fluktuasi. Kontribusinya terendah yakni pada tahun 2006 sebesar 26,44% dan kontribusinya tertinggi yakni pada tahun 2002 sebesar 43,12%. Pajak kendaraan bermotor selama kurun waktu tahun 2000 hingga tahun 2010 memberikan kontribusi yang cukup besar setelah Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor, selama kurun waktu tersebut kontribusinya terhadap Pendapatan Asli Daerah Sulawesi Tengah berfluktuasi. Kontribusinya terendah yakni pada tahun 2000 sebesar 24,69%. Tahun 2008 kontribusinya merupakan yang tertinggi selama kurun waktu tersebut yakni sebesar 32,64%. Beberapa hal yang mempengaruhi fluktuasi kontribusi Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Pajak Kendaraan Bermotor selama kurun waktu Tahun 2000 hingga 2010 adalah adanya penerapan Surat Pemberitahuan Pajak Kendaraan Bermotor (Super PKB); Peningkatan kinerja pelayanan kepada wajib pajak melalui SAMSAT keliling; Meningkatnya kinerja aparatur yang terintegrasi dalam kantor bersama SAMSAT dan peningkatan kualitas sarana dan prasarana jalan yang menghubungkan antara propinsi, kabupaten/kota se Sulawesi Tengah, peningkatan jual beli kendaraan bermotor roda dua dan Roda IV, bertambahnya jumlah dealer kendaraan bermotor khsusnya kendaraan bermotor roda dua yang memberikan kemudahan kredit pembelian kendaraan bermotor, bertambahnya jenis kendaraan bermotor dengan kualitas dan harga yang relatif murah dari tahun ke tahun, adanya kemudahan angsuran dan uang muka kendaraan bermotor yang di jual secara kredit kepada konsumen.

Selama kurun waktu tahun 2000 hingga 2010, Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Pajak Kendaraan Bermotor memberikan peranan yang sangat besar terhadap Pendapatan Asli Daerah Propinsi Sulawesi Tengah. Dan dari 5 Pajak Provinsi yang ada Pajak Kendaraan Bermotor Dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor merupakan Pajak Daerah yang menjadi andalan dalam pendanaan APBD Sulawesi Tengah, maka dengan membayar PKB secara rutin setiap tahunnya sehingga PAD akan semakin meningkat. 6.2 Saran Dinas Pendapatan Propinsi Sulawesi Tengah perlu meningkatkan kinerjanya dalam menggali potensi Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) yaitu dengan memperhatikan upaya-upaya yang telah dilaksanakan dan berpedoman pada pencapaian target serta hasil evaluasi atas kinerja yang telah dilaksanakan, maka secara operasional kegiatan intensifikasi dan ekstensifikasi penerimaan daerah khususnya Pendapatan Asli Daerah, dapat dilakukan upaya-upaya sebagai berikut : a. Meningkatkan bimbingan tekhnis dan pemerataan penempatan pegawai pada seluruh UPTD secara proporsional b. Mengefektifkan pelaksanaan koordinasi terhadap SKPD, melengkapi sarana komputer yang berbasis Online pada 11 UPTD c. Mengintensifkan pelaksanaan sosialisasi untuk kesadaran masyarakat dalam membayar pajak d. Meningkatkan/mengoptimalkan operasional UPTD e. Meningkatkan pengawasan terhadap pelaksanaan pemungutan pendapatan f. Meningkatkan Sosialisasi Pajak dan Retribusi Daerah kepada Wajib Pajak dan Retribusi Daerah g. Peningkatan kinerja pelayanan kepada wajib pajak melalui SAMSAT keliling; h. Meningkatkan koordinasi terhadap SKPD terkait pengelola Pendapatan Daerah Sedangkan bagi wajib pajak sendiri, disarankan untuk lebih sadar akan pentingnya rutin membayar Pajak Kendaraan Bermotor yang dimilikinya karena akan berdampak langsung kepada peningkatan perekonomian Sulawesi Tengah khususnya yang berasal dari Pajak Daerah dan juga wajib pajak yang taat pajak tidak akan di tilang oleh Polantas karena PKB yang tidak dibayar. DAFTAR PUSTAKA A.Buku-buku Anwar Nasution, mei 1984, Aspek Ekonomi Anggaran Belanja Negara, Jakarta; Prisma No. 5, Jakarta Bohari, 1987, Pengantar Perpajakan. Jakarta ; Ghalian, Jakarta. Eko Lasmana, 1992, Sistem Perpajakan di Indonesia. Jakarta ; PT Prima Kamps Grafika Jakarta Tabloid

Ibnu Syamsi, 1994. Dasar-dasar Kebijaksanaan Keuangan Daerah. Jakarta ; Cipta, Jakarta. Imam Wahyutomo. 1994. Pajak. Yogyakarta ; AMP YKPN Yogyakarta Mardiasmo, 2002. Otonomi dan Manajamen Keuangan Daerah. Yogyakarta ; Yogyakarta Mardiasmo, 2002. Perpajakan. Yogyakarta ; ANDI Yogyakarta

Rineika

ANDI

Rochmat Sumitro, 1980. Pokok-pokok Perpajakan. Jakarta ; Liberty, Jakarta. Sugiyono, 1999. Metode Penelitian Bisnis. Bandung ; CV. Alfabeta Bandung. B. Dokumen-dokumen Undang-undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 Undang-undang N0. 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara Undang-undang No. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah Undang-undang No. 33 Tahun 2004 tentang perimbangan keuangan antara Pemerintah pusat dan pemerintahan daerah. Undang-undang No. 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah, Pajak Kendaraan Bermotor Di Air dan BBN Kendaraan Bermotor Di Atas Air Kepmendagri No. 25 Tahun 2010 Tentang Penghitungan Dasar PKB dan BBN- KB Tahun 2010 Neli Kurniawati. 2006. Kontribusi Pungutan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) Terhadap PAD Sulawesi Tengah PERIODE 2000-2005. Skripsi Fakultas Ekonomi, Universitas Tadulako Sari Vika Ferna Yustiva. 2008. Kontribusi Pungutan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) Terhadap Pajak Daerah Pada Unit Pelayanan Pendapatan Daerah Kabupaten Pati,Skripsi Fakultas Ekonomi,Universitas Semarang.
KONTRIBUSI PAJAK KENDARAAN BERMOTOR (PKB) DAN BEA BALIK NAMA KENDARAAN BERMOTOR (BBNKB) TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) created by: Rahmat Hidayat di Jumat, November 02, 2012 . Label: kump.skripsi BAB I

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam rangka penyelenggaraan Pemerintahan, Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerahdaerah provinsi dan daerah provinsi terdiri atas daerah-daerah kabupaten dan kota. Tiap daerah-daerah tersebut mempunyai hak dan kewajiban mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahannya untuk meningkatkan penyelenggaraan dan pelayanan kepada masyarakat. Untuk menyelenggarakan pemerintahan tersebut, daerah berhak mengenakan pungutan biaya kepada masyarakat berupa pajak. Berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Repulik Indonesia Tahun 1945 yang menempatkan perpajakan sebagai salah satu perwujudan kenegaraan, ditegaskan bahwa penempatan beban kepada rakyat, seperti pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa diatur dengan undang-undang. Undang-undang No. 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah dan Undang-undang No. 33 tahun 2004 tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintahan daerah yang berlaku, memberikan dampak yang sangat luas terhadap perkembangan pemerintahan di daerah. Otonomi yang diberikan kepada daerah merupakan otonomi yang luas, nyata dan bertanggung jawab. Adanya pemberian otonomi daerah memberikan implikasi timbulnya kewenangan dan kewajiban bagi daerah untuk melaksanakan berbagai kegiatan pemerintahan lebih mandiri. Pengalihan, pembagian dan pemanfaatan sumber daya alam, sumber daya manusia, kewenangan pemungutan jenis-jenis pajak daerah didasarkan atas prinsip keadilan berdasarkan kewenangan yang diberikan kepada daerah. Pendapatan Asli Daerah sebagai sumber pendapatan dalam membiayai pembangunan perlu dikelola dengan baik. Dalam hal ini dibutuhkan berbagai kebijakan yang lebih komprehensif, efektif dan efisien dalam mengelolanya. Provinsi sulawesi tengah merupakan salah satu provinsi yang ada dinegara Republik Indonesia. Kebijakan ekonomi yang dilancarkan Pemerintah Daerah Sulawesi Tengah dimaksudkan untuk memacu pertumbuhan ekonomi, meningkatkan pendapatan perkapita sampai pada pemerataan hasil pembangunan untuk mencapai tingkat kemakmuran yang diharapkan. Secara lebih nyata hasil pembangunan telah berhasil meningkatkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulawesi Tengah dimana pada tahun 2000 sebesar Rp. 8.649.206 (Juta Rupiah) meningkat menjadi Rp. 36.124.486 (Juta Rupiah) pada tahun 2010. Berdasarkan APBD Sulawesi Tengah, Pendapatan Asli Daerah Sulawesi Tengah bersumber dari: Hasil pajak daerah, Hasil retribusi daerah, Hasil Perusahaan Milik Daerah dan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah , serta Lain-lain pendapatan daerah yang sah. Pajak Daerah Sulawesi Tengah yang potensial terdiri dari: Pajak Kendaraan Bermotor (PKB), Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN-KB), Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBB-KB), Pajak Kendaraan di Atas Air (PKA), Bea Balik Nama Kendaraan di Atas Air (BBN-KB), Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah, serta Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Permukaan. Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor merupakan sumber Pendapatan Asli Daerah terbesar di Sulawesi Tengah. Dalam hal ini penulis ingin mengetahui berapa besar kontribusi dari kedua pajak tersebut yang diberikan terhadap Pendapatan Asli Daerah provinsi Sulawesi Tengah.

1.2 Permasalahan Dari uraian latar belakang diatas, dapat dikemukakan beberapa permasalahan sebagai berikut : 1. Berapa Kontribusi Pajak Kendaraan Bermotor terhadap PAD Sulawesi Tengah tahun 2000 sampai dengan tahun 2010? 2. Berapa Kontribusi Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor terhadap PAD Sulawesi Tengah tahun 2000 sampai dengan tahun 2010? 1.3. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1.3.1 Tujuan Penelitian Adapun yang menjadi tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah : 1. Untuk mengetahui berapa besar Kontribusi Pajak Kendaraan Bermotor terhadap PAD Sulteng tahun 2000 sampai dengan tahun 2010 2. Untuk mengetahui berapa besar Kontribusi Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor terhadap PAD Sulteng tahun 2000 sampai dengan tahun 2010

1.3.2 Kegunaan Penelitian 1) Sebagai bahan masukan kepada Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Tengah dalam mengelolah penerimaan daerah khususnya yang bersumber dari penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor 2) Sebagai bahan referensi bagi peneliti selanjutnya di masa yang akan datang

BAB II LANDASAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Pengertian Pajak Secara umum, pajak merupakan pengalihan sumber-sumber yang wajib dilaksanakan oleh wajib pajak kepada negara tanpa imbalan langsung dari pembayaran pajak. Batasan atau definisi pajak bermacam-macam, antara lain : Prof.Dr.Rochmat Sumitro, SH, ( dalam Eko Lesmana 1992:4): Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal balik (kontra prestasi) yang langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum dan surplusnya digunakan untuk public saving yang merupakan sumber utama untuk membiayai public investmen. Selain definisi pajak di atas, Imam Wahyutomo (1994:1) mengemukakan bahwa : Pajak adalah peralihan kekayaan dari sektor swasta ke sektor publik (pemerintah) berdasarkan UU yang pemungutannya dapat dipaksakan dengan tidak mendapat imbalan yang secara langsung ditunjukkan, yang berfungsi sebagai alat pendorong, penghambat/pencegah untuk mencapai tujuan yang ada. Di sisi lain Summer (dalam Anwar Nasution 1984:3) mengemukakan bahwa : Pajak adalah sesuatu pengalihan sumber-sumber yang wajib dilakukan dari sektor swasta kepada sektor pemerintah berdasarkan peraturan tanpa mendapat imbalan kembali yang langsung dan seimbang agar pemerintah dapat melaksanakan tugas-tugasnya menjalankan pemerintahan. Menurut Undang-undang No. 6 tahun 1983 tentang ketentuan umum dan tata cara perpajakan Indonesia, yang telah disempurnakan menjadi Undang-undang Nomor 16 tahun 2000, pajak adalah iuran wajib yang dibayar oleh wajib pajak berdasarkan norma-norma hukum untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran kolektif guna meningkatkan kesejahteraan umum yang balas jasanya tidak diterima secara langsung. Dari berbagai definisi di atas dapat disimpulkan mengenai unsur dan ciri yang melekat pada pengertian pajak, ialah : 1. Unsur-unsur pada pengertian pajak, sebagai berikut :

a)Ada Masyarakat b) Berdasarkan Undang-undang

c)Ada pemungut pajaknya d) Ada wajib pajaknya

e)Ada obyek pajaknya 2. a) Ciri-ciri pada pengertian pajak Adanya pengalihan kekayaan dari sektor swasta ke sektor pemerintah

b) Pemungutan pajak dapat dipaksakan secara hukum dengan melalui dua cara yaitu melalui pengadilan atau menggunakan surat paksa c) d) e) f) Pajak dapat dikenakan atas orang atau barang Pajak dapat dipungut secara periodik maupun insidentil Pungutan pajak tidak dapat ditunjukkan ada jasa timbal balik secara langsung Pajak mempunyai fungsi budgeter dan fungsi mengatur

Adam Smith (dalam Mardiasmo, 2002: 18) mengemukakan ajarannnya sebagai sendi dasar pemungutan pajak. Dikatakan agar supaya pemungutan pajak dinilai adil harus dipenuhi empat syarat sebagai berikut : 1. Syarat Equity mengandung arti, dalam keadaan yang sama wajib pajak harus dikenakan pajak sama pula. Contoh: Pajak Pengahasilan dikenakan terhadap Penghasilan Kena Pajak (PKP) yang sama, bukan terhadap penghasilan yang sama, karena dalam PKP sudah diperhitungkan dengan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP), dimana PTKP ini tidak sama bagi setiap wajib pajak, jadi meskipun penghasilan sama, namun pajaknya belum tentu sama. 2. Syarat Certainty atau kepastian adalah tujuan dari setiap Undang-undang. Kepastian hukum adalah penting, untuk itu peraturan yang akan dibuat, harus diusahakan agar jelas, tegas dan tidak mengandung arti ganda agar tidak membuat peluang untuk ditafsir lain, terutama mengenai subyek, obyek, besarnya pajak dan ketentuan mengenai waktu pembayarannya. 3. Syarat Convenience of payment mengandung arti pajak hendaknya dipungut pada saat yang paling baik bagi para wajib pajak, yaitu saat sedekat-dekatnya dengan detik diterimanya penghasilan yang bersangkutan seperti: karyawan atau pegawai, akan lebih mudah membayar pajak pada saat menerima gaji atau honorium, apakah setiap hari, setiap minggu atau setiap bulan. 4. Syarat Efficiency adalah yang bertalian dengan biaya pemungutan. Para pembuat peraturan wajib mempertimbangkan, bahwa biaya pemungutannya harus lebih rendah dibanding dengan pemasukan pajaknya.

2.1.2 Manfaat Pajak Sebagaimana halnya perekonomian dalam suatu rumah tangga atau keluarga, perekonomian negara juga mengenal sumber-sumber penerimaan dan pos-pos pengeluaran. Pajak merupakan sumber penerimaan negara. Tanpa pajak, sebagian besar kegaitan negara sulit untuk dapat dilaksanakan. Penggunaan uang pajak meliputi mulai dari belanja pegawai sampai dengan pembiayaan berbagai proyek pembangunan. Pembangunan sarana umum seperti jalan, jembatan, sekolah, rumah sakit/puskesmas, dengan menggunakan uang yang berasal dari pajak. Uang pajak juga digunakan untuk pembiayaan dalam rangka memberikan jasa aman bagi seluruh lapisan masyarakat. Setiap warga negara mulai saat dilahirkan sampai dengan meninggal dunia, menikmati fasilitas atau pelayanan dari pemerintah yang semuanya dibiayai dengan uang yang berasal dari pajak. Dengan demikian jelas bahwa peranan penerimaan pajak bagi suatu negara menjadi sangat dominan dalam menunjang jalannya roda pemerintahan dan pembiayaan pembangunan. Di samping fungsi budgeter (fungsi penerimaan) di atas, pajak juga melaksanakan fungsi redistribusi pendapatan dari masyarakat yang mempunyai kemampuan ekonomi yang lebih tinggi kepada masyarakat yang kemampuannya lebih rendah. Oleh karena itu tingkat kepatuhan Wajib Pajak dalam melaksanakan kewajiban perpajakan secara baik dan benar merupakan syarat mutlak untuk tercapainya fungsi redistribusi pendapatan. Sehingga pada akhirnya kesenjangan ekonomi dan sosial yang ada dalam masyarakat dapat dikurangi secara maksimal. 2.1.3 Jenis-Jenis Pajak Secara umum, pajak yang berlaku di Indonesia dapat dibedakan menjadi Pajak Pusat dan Pajak Daerah. Pajak Pusat adalah pajak-pajak yang dikelola oleh pemerintah pusat yang dalam hal ini sebagian dikelola oleh Direktorat Jenderal Pajak Departemen Keuangan. Sedangkan pajak daerah adalah pajak-pajak yang dikelolah oleh pemerintah daerah baik di tingkat propinsi maupun kabupaten/kota. a. 1. 2. 3. 4. b. 1. 2. 3. Pajak-pajak pusat yang dikelolah Direktorat Jenderal Pajak meliputi : Pajak Penghasilan (PPh) Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPn BM) Bea Materai Pajak Provinsi terdiri atas: Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan diAtas Air Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor

4. 5. c. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Pajak Air Permukaan Pajak Rokok Pajak Kabupaten/kota terdiri atas: Pajak Hotel; Pajak Restoran; Pajak Hiburan Pajak Reklame Pajak Penerangan Jalan Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan Pajak Parkir Pajak Air Tanah Pajak Sarang Burung Walet

10. Pajak Bumi dan Bangunan Pedesaan dan Perkotaan 11. Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan 2.1.4 Beberapa Elemen Penerimaan Daerah Dalam pasal 18 Undang-Undang Dasar 1945, dinyatakan tentang pembagian wilayah Negara Republik Indonesia atas dasar daerah besar dan daerah kecil, yang penetapannya dilakukan dengan UndangUndang. Atas dasar tersebut dibentuklah pembangunan wilayah sebagaimana sekarang ini, dimana setiap daerah memiliki otonomi untuk mengurus wilayahnya masing-masing, termasuk untuk mengelola sumber-sumber pendapatan daerah yang digunakan untuk membiayai pembangunan daerah itu sendiri. Penjelasan Undang-Undang No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, yang mempertegas dasar pemikiran bagi pengelolaan keuangan asli daerah ialah agar daerah dapat mengurus rumah tangganya sendiri dimana kepada daerah diserahkan sumber-sumber pembiayaan dapat dipenuhi dari bantuan pusat, maka setiap daerah diwajibkan untuk menggali potensi dana yang ada di daerah tersebut. Penjelasan di atas, memberikan gambaran bahwa pada prinsipnya Negara (pemerintah) tidak melepaskan sama sekali tanggung jawab atas penyelenggaraan kemandirian daerah, karena di dalam tugas tersebut terdapat unsur kepentingan umum yang menjadi tugas Negara. Dalam konsep keuangan daerah terdapat dua jenis pendapatan, yakni PAD dan pendapatan non asli daerah. Kedua bentuk pendapatan ini sangat menentukan proses pembangunan daerah dan orientasi kemandirian pembangunan yang ada di daerah. Semakin besar PAD suatu daerah mencerminkan semakin besarnya

bobot kemandirian daerah. Dengan demikian semakin kecil ketergantungan daerah berarti semakin besar kontribusi PAD dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Secara umum PAD merupakan sumber penerimaan daerah yang secara murni berasal dari berbagai potensi daerah yang dapat dikelola atas keputusan pemberian wewenang dari pusat. Oleh sebab itu, salah satu unsur yang dapat mendorong peningkatan PAD adalah kemampuan daerah dalam mengoptimalkan penerimaan dari sumber-sumber pendapatan yang ada, baik secara intensif maupun secara ekstensif. Di sisi lain, Ibnu Syamsi (1994) mengungkapkan bahwa PAD merupakan sumber penerimaan yang digunakan untuk menutup kebutuhan rutin baik Daerah Tingkat I maupun Daerah Tingkat II. Secara ideal, pemerintah daerah memiliki PAD yang lebih besar dari pengeluaran rutin dan hal ini sebagai indikator kemandirian daerah tersebut (Ibnu Syamsi, 1994 : 212). Penjelasan di atas memberikan gambaran betapa pentingnya peranan PAD dalam pembangunan daerah. Namun pada kenyataannya Daerah Tingkat I dan Daerah Tingkat II umumnya memiliki PAD yang lebih kecil dibanding biaya rutin sehingga ditutupi dari pendapatan non asli daerah. Pengeluaran rutin dan pembangunan daerah belum dapat mengandalkan PAD sebagai sumber pembiayaan. Untuk mengantisipasi kekurangan keuangan daerah, maka disalurkan subsidi, sumbangan dan berbagai bentuk dana pusat untuk pemerintah daerah. Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa secara garis besarnya terdapat tiga bentuk penerimaan daerah yakni PAD, pendapatan non asli daerah dan pendapatan daerah yang sah lainnya. Ketiga bentuk penerimaan daerah tersebut lebih dijabarkan dalam Undang-undang No. 32 tahun 2004 yang mengatur tentang pokok-pokok pemerintah daerah. 2.1.5 Penerimaan Daerah Sulawesi Tengah Secara umum Pendapatan Asli Daerah Sulawesi Tengah terdiri dari Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Perimbangan dan Lain-lain Pendapatan Yang Sah 1. Pendapatan Asli Daerah

Pendapatan Asli Daerah Sulawesi Tengah terdiri dari : Hasil pajak daerah, Hasil retribusi daerah, Hasil Perusahaan Milik Daerah dan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah, Lain-lain pendapatan daerah yang sah a. Pajak Daerah

Jenis pajak Daerah Propinsi Sulawesi Tengah yang potensial terdiri dari : 1) 2) 3) 4) Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN-KB) Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBB-KB) Pajak Kendaraan di Atas Air (PKA)

5) 6) 7) b.

Bea Balik Nama Kendaraan di Atas Air (BBN-KB) Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah, serta Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Permukaan Retribusi Daerah

Retribusi Daerah merupakan pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang/ masyarakat atau badan, pengelolaannya tersebar pada 27 (dua puluh tujuh) Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Jenis-jenis Retribusi Sulawesi Tengah: 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Retribusi Pelayanan Kesehatan Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah Retribusi Pengujian Kapal Perikanan Retribusi Jasa Usaha Pasar Grosir/Pertokoan Retribusi Tempat Penginapan/Pasanggrahan/Villa Retribusi Jasa Usaha Pelayanan Pelabuhan Laut Retribusi Tempat rekreasi dan Olah Raga Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah Retribusi Tata Cara Pelelangan Kayu Temuan

10) Retribusi Izin Trayek 11) Retribusi Izin Pemanfaatan Kayu dan Hasil Hutan c. Hasil Perusahaan Milik Daerah Dan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Bagian Pendapatan ini terdiri dari : 1) 2) PD. Sulawesi Tengah PT. Bank Sulteng

d. 1) 2)

Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah Hasil Penjualan Aset Daerah Penerimaan Jasa Giro

3) 4) 2.

Tuntutan Ganti Rugi (TGR) Denda Keterlambatan Pelaksanaan Pekerjaan Dana Perimbangan

Dana Perimbangan dalam struktur APBD adalah meliputi: 1) 1. 2. 3. 2) 1. 2. 3. 4. 5. 3) 4) Bagi Hasil Pajak (BHP) Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Bea Perolehan atas Tanah dan Bangunan (PBB) Bagi Hasil PPh Pasal 21 Bagi Hasil Bukan Pajak (BHBP) Iuran Propinsi Sumber Daya Hutan (IPSDH) Iuran Tetap /Landrent Pertambangan Minyak Bumi Perolehan Hak Atas Tanah (PHAT) Biaya Pencatatan Nikah Dana Alokasi Umum (DAU) Dana Alokasi Khusus (DAK)

3. Lain-lain Pendapatan Yang Sah Penerimaan Daerah ini bersumber dari Hibah dan Pendapatan lainnya

2.1.6 Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN-KB) Kendaraan Bermotor adalah semua kendaraan beroda beserta gandengannya yang digunakan di semua jenis jalan darat, dan digerakkan oleh peralatan teknik berupa motor atau peralatan lainnya yang berfungsi untuk mengubah suatu sumber daya energi tertentu menjadi tenaga gerak kendaraan bermotor yang bersangkutan, termasuk alat-alat berat dan alat-alat besar yang dalam operasinya menggunakan roda dan motor dan tidak melekat secara permanen serta kendaraan bermotor yang dioperasikan di air (Kepmendagri no.25 tahun 2010 tentang Penghitungan Dasar PKB dan BBNKB tahun 2010 pasal 1 ayat 1).

Pajak Kendaraan Bermotor, yang selanjutnya disingkat PKB, adalah pajak atas kepemilikan dan/atau penguasaan kendaraan bermotor. (Kepmendagri no.25 tahun 2010 tentang Penghitungan Dasar PKB dan BBNKB tahun 2010 pasal 1 ayat 3). Tarif Pajak Kendaraan Bermotor ditetapkan sebesar (Pasal 5 ) : a b c 1,5% untuk kendaraan bermotor bukan umum 1% untuk kendaraan bermotor umum 0,5% untuk kendaraan bermotor alat-alat berat dan alat-alat besar Sedangkan Pembagian Hasil Penerimaan PKB dibagi sebagai berikut (Pasal 8) : a b 70% untuk daerah Propinsi 30% untuk daerah Kabupaten/Kota

Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor, yang selanjutnya disingkat BBN-KB, adalah pajak atas penyerahan hak milik kendaraan bermotor sebagai akibat perjanjian dua pihak atau perbuatan sepihak atau keadaan yang terjadi karena jual beli, tukar menukar, hibah, warisan, atau pemasukan ke dalam badan usaha. (Kepmendagri no.25 tahun 2010 tentang Penghitungan Dasar PKB dan BBNKB tahun 2010 pasal 1 ayat 4) Tarif Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor ditetapkan sebagai berikut 1. a b c 2. a b c 3. a b c Tarif BBN-KB atas penyerahan pertama sebesar : 10% untuk Kendaraan Bermotor bukan umum 10% untuk Kendaraan Bermotor umum 3% untuk Kendaraan Bermotor Alat-alat berat dan alat-alat besar Tarif BBN-KB atas penyerahan kedua : 1% untuk Kendaraan Bermotor Bukan umum 1% untuk Kendaraan Bermotor umum 3% untuk Kendaraan Bermotor alat-alat Berat dan Alat-alat besar Tarif Kendaraan Bermotor karena warisan ditetapkan 0,1% untuk Kendaraan Bermotor Bukan umum 0,1% untuk Kendaraan Bermotor umum 0,03% untuk Kendaraan Bermotor Alat-alat berat. (Pasal 9) :

Hasil Penerimaan BBN-KB diserahkan kepada Daerah Kabupaten/Kota penghasil sebesar 30% dengan memperhatikan aspek pemerataan potensi daerah. 2.1.7 Pengelolaan Keuangan Dalam Konteks Otonomi Daerah

Berdasarkan Undang-undang No. 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah, disebutkan bahwa Otonomi daerah hak, wewenang dan daerah otonomi untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Perlu dipahami bahwa otonomi daerah tidak berarti eksploitasi daerah untuk menghasilkan PAD setinggi-tingginya. Jika otonomi diartikan sebagai eksploitasi PAD, maka justru masyarakat daerahlah yang akan terbebani. Maksimisasi PAD akan berimplikasi pada peningkatan pungutan pajak daerah dan retribusi daerah, karena penyumbang terbesar PAD adalah dua komponen tersebut. Adanya kecenderungan daerah-daerah meningkatkan jumlah jenis pajak baru juga dinyatakan oleh Bambang Sudibyo (Dalam Mardiasmo 2002:148), mantan Menteri Keuangan, sebagaimana diberitakan oleh harian Suara Pembaruan (Kamis, 5 April 2001) : Pemerintah daerah (Pemda) dan DPRD cenderung mengembangkan Pendapatan Asli Daerah (PAD)-nya dengan cara memungut pajak dan retribusi daerah secara berlebihan, dan bahkan tidak pantas. Kebijakan semacam itu justru menjadi disinsentif bagi daerah dan mengancam perekonomian makro. Bahkan, berdasarkan sebuah penelitian, saat ini telah muncul 44 jenis pajak baru yang diterapkan di berbagai daerah. Pemerintah daerah sebaiknya tidak menambah pungutan yang bersifat pajak (menambah jenis pajak baru). Jika mau menambah pungutan hendaknya yang bersifat retribusi. Kebijakan untuk tidak menambah pungutan pajak dan meningkatkan retribusi didasarkan atas beberapa pertimbangan. 1. Pemungutan retribusi langsung berhubungan dengan masyarakat pengguna layanan publik (public service). Peningkatan retribusi secara otomatis akan mendorong peningkatan kualitas pelayanan publik karena masyarakat tentu tidak mau membayar lebih tinggi bila pelayanan yang diterima sama saja kualitas dan kuantitasnya. Dengan demikian, pemerintah daerah ditantang untuk meningkatkan kinerjanya dalam memberikan pelayanan publik. 2. Investor akan lebih bergairah melakukan investasi di daerah apabila terdapat kemudahan sistem perpajakan di daerah. Penyederhanaan sistem perpajakan di daerah perlu dilakukan misalnya melalui penyederhanaan tarif dan jenis pajak daerah. Pemerintah daerah kabupaten/kota dimungkinkan untuk menambah jenis pajak lain di luar yang telah diatur dalam UU No. 34 tahun 2000 dengan Peraturan Daerah. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan keleluasaan kepada daerah kabupaten/kota dalam mengantisipasi situasi dan kondisi serta perkembangan perekonomian daerah pada masa mendatang yang mengakibatkan perkembangan potensi pajak. Pajak baru tersebut harus memenuhi kritertia sebagai berikut : a. Bersifat pajak dan bukan retribusi,

b. Objek pajak terletak atau terdapat di wilayah Daerah Kabupaten/kota yang bersangkutan dan mempunyai mobilitas yang cukup rendah serta hanya melayani masyarakat di wilayah Daerah Kabupaten/kota yang bersangkutan; c. d. e. f. g. h. Objek dan dasar pengenaan pajak tidak bertentangan dengan kepentingan umum; Objek pajak bukan merupakan objek pajak Provinsi dan/atau objek pajak Pusat; Potensinya memadai; Tidak memberikan dampak yang negatif terhadap perekonomian; Memperhatikan aspek keadilan dan kemampuan masyarakat; Menjaga kelestarian lingkungan

Devas (dalam Mardiasmo 2002 : 150) memberikan kriteria yang lebih rinci untuk menetapkan kelayakan suatu pajak. Sejumlah kriteria yang harus dipertimbangkan untuk menilai pajak daerah tersebut layak atau tidak, yaitu : 1. Hasil/perolehan pajak (tax yield), meliputi :

a. Hasil pajak cukup besar. Pajak yang memberikan hasil yang kecil justru akan menimbulkan inefisiensi dan menciptakan perlawanan pajak (tax payer resistance); b. Hasilnya lebih pasti dan dapat diprediksi. Hasil pajak hendaknya relatif stabil, tidak berfluktuasi dari tahun ke tahun agar mudah dalam melakukan perencanaan belanja; c. 2. a. Perbandingan antara biaya pungut dengan hasil pajak kecil. Keadilan (Equity) Dasar pengenaan pajak (tax base) dan kewajiban wajib pajak harus jelas

b. Horizontal equity. Pajak yang dilakukan harus menciptakan keadilan horisontal, yaitiu mereka yang kondisi ekonominya sama memiliki beban pajak yang sama; c. Vertical equity. Beban pajak harus disesuaikan dengan kemampuan masyarakat untuk membayar, yang kaya harus membayar pajak lebih tinggi dari pada yang miskin; d. Benefit principle, mereka yang menikmati fasilitas publik secara lebih baik harus membayar pajak lebih tinggi. 3. Daya Guna Ekonomi.

Pajak hendaknya mendorong penggunaan sumber daya secara produktif dan tidak mengganggu perekonomian. Sistem perpajakan hendaknya memberikan netralitas ekonomi, sehingga mengurangi distorsi ekonomi.

4. Kemampuan melaksanakan (ability to implement), terdapat dukungan kapasitas administrasi dan skill aparat yang memadai. 5. Kecocokan sebagai sumber penerimaan daerah

a. Harus jelas pemerintah daerah mana yang harus menerima pajak. Sebagai contoh, pajak penghasilan seharusnya dibayarkan kepada pemerintah daerah tempat dimana orang tersebut bekerja. b. Kedudukan objek pajak jelas agar pajak tidak mudah dihindari, dengan cara memindahkan objek pajak dari suatu daerah ke daerah lain. 6. Pengaruh tempat (lokasi) terhadap beban pajak. Jika jenis pajak atau tarif pajak berbeda-beda untuk tiap daerah, maka pembayar pajak cenderung berusaha untuk mengurangi beban pajak (misalnya memindahkan kantor pusat). Idealnya, pajak daerah dapat meminimalkan distorsi yang menyebabkan masyarakat dan pelaku binis meninggalkan suatu daerah; 7. Masalah keadilan antarwilayah. Beberapa pemerintah daerah memiliki potensi pajak daerah yang lebih besar dari yang lainnya. Pajak daerah hendaknya jangan mempertajam perbedaan-perbedaan antardaerah dari segi potensi masing-masing daerah 2.2 Kerangka Pemikiran

Berdasarkan teori yang telah dikemukakan, maka secara skematis kerangka pemikiran dalam mengkaji kontribusi Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor terhadap PAD Provinsi Sulawesi Tengah tahun 2000-2010 digambarkan sebagai berikut: Pendapatan Asli Daerah Pajak Daerah Lain-lain Pendapatan yang Sah Hasil Perusahaan Milik Daerah dan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Retribusi Daerah Kontribusi

Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor Pajak Kendaraan Bermotor

Gambar 1. Skema Kerangka Pemikiran Pendapatan Asli Daerah bersumber dari Pajak daerah, Retribusi Daerah, Hasil Perusahaan Milik Daerah dan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah serta Lain-lain Pendapatan yang Sah. Sementara Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan bermotor merupakan sumber-sumber pendapatan Asli Daerah yang berasal dari Pajak Daerah dan merupakan sumber Pendapatan Asli Daerah yang sangat potensial yang harus dikelola dengan baik melalui kebijakan yang bersifat intensifikasi maupun bersifat ekstensifikasi sehingga diharapkan dengan kebijakan-kebijakan tersebut dapat meningkatkan PAD Sulawesi Tengah. Pendapatan Asli Daerah yang bersumber dari pajak daerah, perlu dikelolah secara profesional, dengan penerapan good governance dan clean governance diharapkan sumber pembiayan ini menjadi sumber yang menjadi andalan dalam pembiayaan APBD. 2.3 Peneliti Terdahulu

Berikut ini adalah beberapa hasil penelitian terdahulu yang dalam penelitian ini dijadikan sebagai bahan acuan dan pengembangan yaitu: a. Neli Kurniawati (2006)

Penelitian yang berjudul Kontribusi Pungutan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) Terhadap PAD Sulawesi Tengah. Obyek dalam penelitian ini adalah seluruh data (dalam tahun) yakni tahun 2002 sampai tahun 2005 yang ada di Dispenda dan BPS Sulawesi Tengah. Sampel dalam penelitian ini diambil sebagian dari jumlah populasi (data dalam periode tahun) untuk diteliti berdasarkan yang dibutuhkan yakni berupa PKB, BBNKB, dan Pajak Asli Daerah dengan mengambil sampel data selama periode tahun 2002 sampai dengan tahun 2005. Ada 3 (tiga) variabel yang dikaji dalam penelitian ini, yaitu: (1) PKB, (2) BBNKB, (3) Pajak Daerah. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1. Metode analisis kualitatif

Metode ini merupakan metode penganalisaan beberapa hasil temuan, baik secara langsung maupun temuan berdasarkan hasil perhitungan dimana analisis tersebut dilakukan dengan cara pemaparan. 2. Metode analisis kuantitatif.

Metode analisis ini merupakan penganalisaan dengan menggunakan peralatan analisis. Adapun alat analisis yang digunakan untuk mengetahui kontribusi Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa selama kurun waktu 2000-2005. kontribusi Pajak Kendaraan Bermotor terhadap PAD Sulteng lebih dari 24% setiap tahunnya. Tahun 2005 kontribusinya mencapai nilai terbesar yalni sebesar 30,36%. Sedangkan Bea-Balik Nama Kendaraan bermotor memberikan kontribusi lebih dari 35% setiap tahunnya. Selama kurun waktu tersebut, kontribusi PKB dan BBN-KB berfluktuasi. b. Sari Vika Ferna Yustiva (2008).

Penelitian yang berjudul Kontribusi Pungutan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) Terhadap Pajak Daerah Pada Unit Pelayanan Pendapatan Daerah Kabupaten Pati. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh data (dalam tahun) yakni tahun 2002 sampai tahun 2006 yang ada di UPPD Kabupaten Pati. Sampel dalam penelitian ini diambil sebagian dari jumlah populasi (data dalam periode tahun) untuk diteliti berdasarkan yang dibutuhkan yakni berupa PKB, BBNKB, dan Pajak Daerah dengan mengambil sampel data selama periode tahun 2002 sampai dengan tahun 2006. Ada 3 (tiga) variabel yang dikaji dalam penelitian ini, yaitu: (1) PKB, (2) BBNKB, (3) Pajak Daerah.

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah interview dan dokumentasi. Data yang dikumpulkan dianalisis dengan teknik analisis kualitatif yakni peneliti mendiskriptifkan hasil penelitian secara kualitatif tanpa perhitungan statistik dan kuantitatif yakni digunakan untuk melakukan perhitungan dengan angka-angka dan statistik. Dalam penelitian ini menghitung kontribusi dan efektivitas.

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa selama kurun waktu lima tahun terakhir kontribusi PKB yang terendah ialah pada tahun 2002 sebesar 43,06% dan yang tertinggi ialah pada tahun 2006 sebesar 54,91%. Sedangkan kontribusi BBNKB yang terendah ialah pada tahun 2006 yakni sebesar 44,73% dan yang tertinggi ialah pada tahun 2002 yakni sebesar 56,95%. Dari hasil perhitungan efektivitas PKB yang terendah ialah pada tahun 2006 yakni sebesar 114,53% dan yang tertinggi ialah pada tahun 2003 yakni sebesar 132,85%. Sedangkan efektivitas BBNKB yang terendah ialah pada tahun 2003 yakni sebesar 100,23% dan yang tertinggi ialah pada tahun 2004 yakni 141,98%.

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Tipe Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian Deskriptif yaitu penelitian yang bermaksud menjelaskan kedudukan variabel-variabel yang diteliti serta hubungan antara satu variabel dengan variabel yang lain (Sugiyono,1999 : 7) 3.2 Daerah Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Provinsi Sulawesi Tengah. 3.3 Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari Dinas Pendapatan Provinsi Sulawesi Tengah dan Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Tengah. Jenis Data yang digunakan dalam bentuk : 1. 2. 3. 4. 5. Data PAD Sulawesi Tengah Data Pajak Daerah Sulawesi Tengah Data Pajak Kendaraan Bermotor Data Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor Data lainnya yang berhubungan dengan penelitian

3.4

Tekhnik Pengumpulan Data

Sumber data sekunder yaitu sumber yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data, misalnya lewat orang lain atau lewat dokumen (Sugiyono, 2007 : 193) 3.5 Metode Analisis

1. Metode analisis kualitatif Metode ini dilakukan dengan menganalisa beberapa hasil temuan, baik secara langsung maupun temuan berdasarkan hasil perhitungan dimana analisis tersebut dilakukan dengan cara pemaparan. 2. Metode analisis kuantitatif. Metode analisis ini merupakan penganalisaan dengan menggunakan peralatan analisis. Adapun alat analisis yang digunakan untuk mengetahui kontribusi Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor terhadap PAD Sulawesi Tengah, diformulasikan sebagai berikut : 1. Analisis Kontribusi Pajak Kendaraan Bermotor (1)

= X 100%................................................................. Dimana :

KPKBn = Kontribusi Pajak Kendaraan Bermotor terhadap Pendapatan Asli Daerah Propinsi Sulawesi Tengah tahun n PKBn PADn = Pajak Kendaraan Bermotor tahun n = Pendapatan Asli Daerah tahun n

Untuk mengetahui kontribusi Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor terhadap terhadap Pendapatan Asli Daerah Sulawesi Tengah digunakan formulasi sebagai berikut : 2. Analisis Kontribusi Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (2)

= X 100%...................................................... Dimana :

KBBNKBn ... = Kontribusi Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor terhadap Pendapatan Asli Daerah Propinsi Sulawesi Tengah tahun n

BBNKBn = Bea Balik nama Kendaraan Bermotor tahun n PADn = Pendapatan Asli Daerah tahun n

3.5 Definisi Operasional Variabel Konsep operasional yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Secara umum PAD adalah merupakan sumber penerimaan daerah yang secara murni berasal dari berbagai potensi daerah yang dapat dikelola atas keputusan pemberian wewenang dari Pemerintah Pusat (Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah). 2. Pajak Kendaraan Bermotor, yang selanjutnya disingkat PKB, adalah pajak atas kepemilikan dan/atau penguasaan kendaraan bermotor. (Kepmendagri no.25 tahun 2010 tentang Penghitungan Dasar PKB dan BBNKB tahun 2010 pasal 1 ayat 3). 3. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor, yang selanjutnya disingkat BBN-KB, adalah pajak atas penyerahan hak milik kendaraan bermotor sebagai akibat perjanjian dua pihak atau perbuatan sepihak atau keadaan yang terjadi karena jual beli, tukar menukar, hibah, warisan, atau pemasukan ke dalam badan usaha. .(Kepmendagri no.25 tahun 2010 tentang Penghitungan Dasar PKB dan BBNKB tahun 2010 pasal 1 ayat 4).

BAB IV GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN 4.1 Keadaan Geografis Propinsi Sulawesi Tengah terletak di bagian tengah Pulau Sulawesi, dengan luas wilayah daratan 63.305 Km2 atau 6.330.466,82 Ha. Luas wilayah Sulawesi Tengah daratan tersebut adalah 36,47 persen dari luas Pulau Sulawesi. Luas perairan laut Sulawesi Tengah mencapai 193.923,75 Km2 dengan jumlah pulau sebanyak 1.140 pulau dengan batas-batas wilayah sebagai berikut, sebelah utara berbatasan dengan

Laut Sulawesi dan Provinsi Gorontalo, sebelah timur berbatasan dengan Propinsi Maluku dan Maluku Utara, sebelah selatan berbatasan dengan Propinsi Sulawesi Selatan dan Propinsi Sulawesi Tenggara, sebelah barat berbatasan dengan Selat Makassar dan Propinsi Sulawesi Barat. Secara administrasi , hingga Tahun 2010 Provinsi Sulawesi Tengah terdiri atas 10 Kabupaten dan 1 Kota yaitu Kabupaten Donggala, Poso, Tolitoli, Banggai, Buol, Morowali, Parigi Moutong, Banggai Kepulauan, Tojo Una-Una, Sigi dan Kota Palu yang terdiri dari atas 155 Kecamatan, 159 Kelurahan dan 1.656 Desa. Posisi astronomi Sulawesi Tengah terletak antara 222' Lintang Utara dan 348' Lintang Selatan serta 11922' dan 12422' Bujur Timur. Posisi Geostrategis Sulawesi Tengah berada di tengah wilayah nusantara dan di tengah pulau sulawesi, berada di lintasan koridor perairan dari utara ke selatan menuju lautan pasifik (Selat Makassar dan Laut Sulawesi). 4.2 Keadaan Iklim Sebagaimana daerah lain di Indonesia, Kota Palu memiliki dua musim, yaitu musim panas dan musim hujan. Musim panas terjadi antara Bulan April-September, sedangkan musim hujan terjadi pada Bulan Oktober-Maret. Hasil pencatatan suhu udara pada Stasiun Udara Mutiara Palu Tahun 2010 bahwa ratarata suhu udara adalah 27,7C. Suhu udara terendah terjadi pada Bulan Agustus yaitu sebesar 26.7C, sedangkan bulan lainnya suhu udara berkisar antara 26,7-28,8C. Kelembapan udara rata-rata tertinggi terjadi pada Bulan April yang mencapai 80 persen sedangkan kelembapan udara terendah terjadi pada Bulan Juni dan Agustus yaitu 82 persen. Curah hujan tertinggi yang tercatat pada stasiun Meteorologi Mutiara Palu Tahun 2010 tejadi pada Bulan Juni yaitu 123,0 mm, sedangkan curah hujan terendah terjadi pada Bulan Maret yaitu 11,7 mm. Sementara itu kecepatan angin pada Tahun 2010 rata-rata 3,7 knots. Arah angin pada tahun 2010 masih berada pada posisi yang sama dengan tahun sebelumnya yaitu datang dari posisi utara. Kota Palu beriklim tropis yang dipengaruhi oleh angin muson dengan curah hujan rata-rata 1.500 mm sampai dengan 4.000 mm per tahun. Suhu udara berkisar antara 12C sampai 24C dengan kelembapan antara 78% pada musim hujan dan 70% pada musim kemarau. (sumber http://sulteng.go.id)

4.3 Penduduk Ditinjau dari jenis kelamin, jumlah penduduk Sulawesi Tengah pada tahun 2000 yang berjenis kelamin laki-laki lebih banyak daripada penduduk perempuan, yaitu 1,113 ribu jiwa berbanding 1,063 ribu jiwa dengan rasio jenis kelamin sebesar 105. Provinsi Sulawesi Tengah yang memiliki 1.778 desa/kelurahan dan 590.954 rumah tangga serta luas wilayah 68.033,00 km2, secara umum pada tahun 2009 memiliki kepadatan penduduk 36 jiwa per km2, 1.395 jwa per desa, serta 4 jiwa dalam setiap rumah tangga.

Jumlah penduduk Sulawesi Tengah setiap tahunnya bertambah. Hal ini terjadi karena meningkatnya angka kelahiran, dan migrasi penduduk dari daerah lain. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel 1 Tabel 1. Penduduk Sulawesi Tengah, Menurut Jenis Kelamin, Seks Ratio Tahun 1999-2003

Tahun

Laki-laki

Perempuan

Jumlah

Seks Ratio

2000 2001 2002 2003

1.063.977 1.063.977 1.083.070 1.138.710

1.015.224 1.042.711 1.039.222 1.071.390

2.079.201 2.107.977 2.122.292 2.210.100

105 101 104,22 106,28

Sumber : BPS, Angka tetap hasil survei 2003

Pada tahun 2000 jumlah penduduk Sulawesi Tengah sebanyak 2.079.201 jiwa, yang kemudian meningkat menjadi 2.107.977 jiwa pada tahun 2001. Pada tahun 2002, penduduk Sulawesi Tengah sudah mencapai 2.122.292 jiwa, hingga pada tahun 2003 penduduk Sulawesi Tengah mencapai 2.210.100 jiwa

4.4 Keadaan Perekonomian Kondisi perekonomian suatu daerah atau wilayah sangat tergantung pada potensi dan sumber daya yang dimiliki, berbagai kebijaksanaan, langkah dan upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah, khususnya Pemerintah Daerah Sulawesi Tengah untuk meningkatkan perekonomian di daerah ini. Salah satu indikator yang digunakan untuk melihat kemampuan suatu daerah mengembangkan potensinya adalah besarnya nilai PDRB yang dimiliki. PDRB Propinsi Sulawesi Tengah

Laju pertumbuhan ekonomi Propinsi Sulawesi Tengah selama kurun waktu 2000-2010, khususnya dari sektor pertanian yang merupakan pemberi kontribusi terbesar terhadap PDRB Propinsi Sulawesi Tengah. Pada tahun 2000 kontribusi sektor pertanian sebesar 43,64% meningkat menjadi 45,03% pada tahun 2005 walaupun pada tahun 2006 terjadi penurunan 44,03% hingga 40,44% pada tahun 2010 tidak mempengaruhi sektor pertanian sebagai pemberi kontribusi terbesar terhadap PDRB Propinsi Sulawesi Tengah. Sektor pengangkutan dan komunikasi pada tahun 2005 mengalami penurunan selama kurun waktu 2000-2010 dimana pada tahun 2000 sebesar 6,78% menurun menjadi 6,66% pada tahun 2005. Walaupun terjadi penurunan kontribusinya, namun secara absolut (Juta Rupiah) terjadi peningkatan. Jika dibandingkan dengan tahun 2000, maka pada tahun 2010 secara absolut Nilai Tambah Bruto sektor pengangkutan dan komunikasi mengalami peningkatan sebesar 122,86% (diolah dari tabel 2 terlampir). Hal ini mengindikasikan bahwa telah terjadi peningkatan pendapatan masyarakat yang bekerja di sektor pengangkutan dan komunikasi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel terlampir.

BAB V PEMBAHASAN

5.1.

Perkembangan Target dan Realisasi PAD Sulteng

Seiring dengan Visi Dinas Pendapatan Daerah Sulawesi Tengah yakni Menjadikan PAD sebagai sumber pembiayaan utama APBD Sulawesi Tengah maka secara intensif dilakukan upaya-upaya dalam peningkatan PAD secara bersama-sama dengan Unit Pelayanan Terpadu Daerah (UPTD) serta Unit Kerja Terkait (UKT) lainnya agar realisasi penerimaan setiap tahunnya selalu mengalami peningkatan.

Komponen penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) tersebut terdiri dari : 1. 2. 3. 4. Hasil Pajak Daerah Hasil Retribusi Daerah Hasil Perusahaan Milik Daerah dan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah; dan Lain-lain Pendapatan Daerah Yang Sah

Pendapatan Asli Daerah Sulawesi Tengah dalam kurun waktu 2000-2010 terus mengalami kenaikan setiap tahun. Kenaikan tersebut dapat diraih karena adanya upaya antara lain dilakukannya intensifikasi, ekstensifikasi, peningkatan mutu layanan, mendekatkan tempat pelayanan kepada wajib pajak melalui SAMSAT Keliling dan semakin membaiknya perekonomian masyarakat.

Pendapatan Asli Daerah Sulawesi Tengah terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun secara absolut. Pajak daerah merupakan pemberi kontribusi terbesar dibandingkan dengan retribusi daerah, hasil perusahaan milik daerah dan hasil pengelolaan kekayaan daerah serta lain-lain pendapatan daerah yang sah. Dari total Pendapatan Daerah selama Tahun anggaran 2000 sampai dengan Tahun 2010 Kontribusi yang terbesar adalah berasal dari Kontribusi Pendapatan Asli Daerah sebesar 100%. Maka dapat disimpulkan bahwa pembiayaan penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan sebagian besar masih didukung dana dari Pendapatan Daerah dan Pemerintah Pusat. Dari beberapa sumber pajak daerah, sejak kurun waktu tahun 2000-2010, Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor sebagai sumber pendapatan daerah terbesar dan Pajak Kendaraan Bermotor merupakan sebagai sumber pendapatan daerah terbesar kedua setelah Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dibandingkan dengan jenis penerimaan daerah dari Pajak Daerah yang lain, kecuali pada tahun 2006, pajak kendaraan di atas air memberikan nilai yang tertinggi dibandingkan dengan jenis pajak daerah lainnya. Peningkatan ini disebabkan oleh mulai tertatanya dengan baik pengelolaan pajak kendaraan di atas air. Jika diperhatikan secara menyeluruh selama kurun waktu tahun 2000 hingga 2010, Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Pajak Kendaraan Bermotor yang memberikan kontribusi terbesar terhadap Pendapatan Asli Daerah Sulawesi Tengah yang bersumber dari pajak daerah. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel terlampir.

Tabel 2 Pertumbuhan Target dan Realisasi PAD Sulawesi Tengah Periode 2000-2010

Tahun Anggaran

P A D

Pertumbuhan ( % ) Target

Realisasi

Target

Realisasi 2000

32.904.694.036,00

34.036.738.105,63

2001

54.249.320.876,00

54.944.208.279,04

61,43

64,87 2002

65.044.831.100,00

83.625.326.096,20

52,20

19,09 2003

87.653.144.925,00

108.523.873.251,21

29,77

34,76 2004

108.364.557.308,00

122.907.876.638,71

13,25

23,63 2005

134.525.878.870,80

137.383.639.244,48

11,78

24,14 2006

151.334.717.470,51

160.508.900.042,45

12,49

16,83

2007

165.634.289.140,83

194.190.568.734,40

9,45

20,98 2008

224.673.524.898,00

229.479.742.225,30

35,64

18,17 2009

237.742.560.000,00

275.187.616.354,70

5,82

19,92 2010

278.234.075.874,00

411.797.140.000,00

17,03

49,64

Sumber : Data Setelah diolah Tabel 3 Capaian Target dan Realisasi PAD Sulawesi Tengah Periode 2000-2010 Tahun Anggaran

P A D

Capaian ( % ) Target

Realisasi

Target

Realisasi 2000

32.904.694.036,00

34.036.738.105,63

100

103,44 2001

54.249.320.876,00

54.944.208.279,04

100

101,28 2002

65.044.831.100,00

83.625.326.096,20

100

128,52 2003

87.653.144.925,00

108.523.873.251,21

100

123,82 2004

108.364.557.308,00

122.907.876.638,71

100

113,41 2005

134.525.878.870,80

137.383.639.244,48

100

102,12 2006

151.334.717.470,51

160.508.900.042,45

100

106,06 2007

165.634.289.140,83

194.190.568.734,40

100

117,24

2008

224.673.524.898,00

229.479.742.225,30

100

102,13 2009

237.742.560.000,00

275.187.616.354,70

100

115,75 2010

278.234.075.874,00

411.797.140.000,00

100

148,00 Target Pendapatan Asli Daerah pada angggaran Pendapatan Daerah selama Tahun anggaran 2000 sampai dengan Tahun 2010 secara keseluruhan mengalami peningkatan yang signifikan pertumbuhannya. Sejalan dengan penetapan terget Pendapatan Asli Daerah tersebut tersebut dan memperhatikan berbagai indikator ekonomi yang ada dan upaya-upaya yang dilaksanakan dalam mendukung pencapaian target yang maksimal terhadap Pendapatan Daerah utamanya Pendapatan Asli Daerah dapat digambarkan secara keseluruhan realisasi Pendapatan Asli Daerah Tahun 2000-2010 pada tabel 2. Adapun perkembangan capaian realisasi Pendapatan Asli Daerah Tahun 2000-2010 meningkat secara signifikan dari tahun ke tahun ini dapat dilihat pada tabel 3. 5.2 Kontribusi Pajak Kendaraan Bermotor terhadap Pendapatan Asli Sulawesi Tengah Periode 2000-2010 Daerah Propinsi

Dengan menggunakan persamaan 1, diperoleh hasil perhitungan sebagai berikut: Tabel 4 Kontribusi Pajak Kendaraan Bermotor Terhadap Pendapatan Asli Daerah Propinsi Sulawesi Tengah Periode 2000-2010 Tahun Anggaran

PAD (Rp)

PKB

Kontribusi 2000

34.036.738.105,63

8.404.788.158,00

24,69 2001

54.944.208.279,04

14.442.965.607,00

26,29 2002

83.625.326.096,20

20.921.840.575,50

25,02 2003

108.523.873.251,21

28.170.602.782,41

25,96 2004

122.907.876.638,71

36.253.369.102,00

25,90 2005

137.383.639.244,48

41.713.497.725,00

30,36 2006

160.508.900.042,45

47.191.063.684,00

29,40 2007

194.190.568.734,40

55.178.993.214,00

28.41

2008

229.479.742.225,30

74.904.139.690,00

32,64 2009

275.187.616.354,70

79.437.856.610,00

28,87 2010

411.797.140.000,00

99.117.597.457,00

24,07 Sumber : Data setelah diolah Sejak tahun 2000 sampai dengan tahun 2010, Kontribusi Pajak Kendaraan Bermotor terhadap PAD Sulawesi Tengah lebih dari 24%. Tahun 2000 kontribusi PKB sebesar 24,69 % meningkat menjadi 26,29% pada tahun 2001. Kontribusi PKB terhadap PAD mengalami penurunan pada tahun 2002, yakni menurun 1,27%. Namun jika dilihat secara absolut terjadi peningkatan Pajak Kendaraan Bermotor dimana pada tahun 2001 sebesar 14.442.965.607,00 meningkat menjadi 20.921.840.575,54 tahun 2002. Tahun 2003

kontribusi Pajak Kendaraan Bermotor kembali mengalami kenaikan 0,94% dibandingkan dengan tahun sebelumnya dan tahun 2004 kembali mengalami penurunan sebesar 0,6%. Tahun 2005 kontribusinya mengalai peningkatan yang cukup besar dibandingkan dengan kenaikan tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun tersebut, kontribusi Pajak Kendaraan Bermotor mengalami kenaikan 4,46%. Pada tahun 2006 hingga tahun 2007 kontribusi Pajak Kendaraan Bermotor terhadap Pendapatan Asli Daerah Sulawesi Tengah terus mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Tahun 2006 kontribusi PKB sebesar 29,40% atau meningkat sebesar 0,96% dan tahun 2007 menurun sebesar 0,91% atau menjadi 28,41%. Pada tahun 2008 kontribusinya mengalami kenaikan yang cukup bersar yakni 32, 64%. Peningkatan kontribusi tersebut disebabkan oleh beberapa faktor yakni Adanya kemudahan yang diberikan pihak dealer kendaraan bermotor kepada konsumen dengan cara angsuran dengan uang muka yang relatif terjangkau; Penerapan Surat Pemberitahuan Pajak Kendaraan Bermotor (Super PKB); Peningkatan kinerja pelayanan kepada wajib pajak melalui SAMSAT keliling; Meningkatnya kinerja aparatur yang terintegrasi dalam kantor bersama SAMSAT dan peningkatan kualitas sarana dan prasarana jalan yang menghubungkan antara propinsi, kabupaten/kota se Sulawesi Tengah sehingga mendorong masyarakat untuk memiliki kendaraan bermotor, baik roda 2 maupun roda 4 sehingga berimplikasi pada peningkatan penerimaan daerah dari Pajak Kendaraan Bermotor. Tahun 2009 hingga tahun 2010 kontribusinya kembali mengalami penurunan dari tahun ke tahun. tahun 2009 kontribusinya menurun menjadi 28,87% dan tahun 2010 menurun menjadi 24,07%. Jika dilhat secara keseluruhan, selama kurun waktu 2000 hingga 2010, Pajak Kendaraan Bermotor memberikan kontribusi terhadap PAD sulteng di atas 24%, hal ini dapat dikatakan bahwa Pajak Kendaraan Bermotor memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap Pendapatan Asli Daerah Propinsi Sulawesi Tengah.Sejak tahun 2003 hingga tahun 2005 terjadi kenaikan secara terus-menerus. Pada tahun 2005 kontribusi PKB terhadap PAD mencapai angka terbesar yakni 30,36%. Pertumbuhan Pajak Kendaraan Bermotor dapat dilihat pada tabel 5 berikut :

Tabel 5

Pertumbuhan Pajak Kendaraan Bermotor Provinsi Sulawesi Tengah Periode 2000-2010 (%) Tahun Anggaran

PKB

Pertumbuhan pertahun (%) 2000

8.404.788.158,00

2001

14.442.965.607,00

71,84 2002

20.921.840.575,50

44,86 2003

28.170.602.782,41

34,65 2004

36.253.369.102,00

28,69 2005

41.713.497.725,00

15,06 2006

47.191.063.684,00

13,13 2007

55.178.993.214,00

16,93 2008

74.904.139.690,00

35,75 2009

79.437.856.610,00

6,05 2010

99.117.597.457,00

24,77 Sumber : Data Setelah Diolah Berdasarkan data pada tabel di atas, pertumbuhan penerimaan PKB tertinggi jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, adalah pada tahun 2001, yakni 71, 84%. Pertumbuhan ini disebabkan oleh adanya upaya intensifikasi dan ekstensifikasi pajak daerah. Sejak tahun 2002 hingga tahun 2006, pertumbuhan PKB kembali mengalami penurunan dari tahun ke tahun. tahun 2002 pertumbuhannya sebesar 44,86%, tahun 2003 sebesar 34,65%, tahun 2004 sebesar 28,69%, tahun 2005 sebesar 15,06% dan tahun 2006 sebesar 13,13%. Penurunan ini disebabkan oleh banyaknya wajib pajak yang tidak melakukan pembayaran pajak kendaraan bermotor. Pada tahun 2007 pertumbuhan PKB kembali mengalami peningkatan menjadi 16,93% dan tahun 2008 meningkat menjadi 35,75%. Pada tahun 2009 pertumbuhan PKB kembali menurun, pada tahun ini penerimaan PKB mengalmi pertumbuhan 6,05%, merupakan pertumbuhan terendah selama kurun waktu 2000 hingga 2010. Pada tahun 2010 pertumbuhan PKB kembali meningkat menjadi 24,77%. Selama kurun waktu 2000 hingga 2010, PKB mengalami pertumbuhan yang berfluktuasi dan berada di atas 5%, pertumbuhan tertinggi yakni pada tahun 2001 sebesar 71,84% dan pertumbuhan terendah yakni pada tahun 2009 yakni sebesar 6,05%. Jika diamati secara menyeluruh sejak tahun 2000 hingga tahun 2010, Pajak Kendaraan Bermotor terus meningkat dari tahun ke tahun secara absolute, hal ini menggambarkan adanya perkembangan yang cukup baik dalam pengeloaan pajak daerah, yang diharapkan penerimaan daerah dari Pajak kendaraan bermotor dapat dijadikan sumber pembiayaan

yang manjadi harapan dalam pembangunan daerah di Sulawesi tengah. Jumlah Kendaraan Bermotor tahun 2000-2010 disajikan pada tabel terlampir. Berdasarkan tabel yang terlampir, jumlah kendaraan roda II dan roda IV terus mengalami peningkatan tahun ke tahun karena adanya peningkatan taraf hidup masyarakat dimana kendaraan bermotor baik roda II maupun roda VI idak lagi dianggap kebutuhan mewah melainkan merupakan kebutuhan primer dalam rangka menunjang kegiatan sehari- hari, sehingga hal ini mengindikasikan bahwa sumber penerimaan daerah yaang berasal dari pajak kendaraan bermotor (PKB) dan bea balik nama kendaraan bermotor (BBNKN) menjadi sumber penerimaan daerah sangat penting dan perlu harus dikelola dengan baik guna menunjang penerimaan asli daerah (PAD) Sulawesi Tengah. 5.1.1 Pengenaan Sanksi Administrasi Pajak Kendaraan Bermotor (PKB)

Pengenaan sanksi administrasi terhadap wajib pajak / pemilik kendaraan bermotor yang kurang atau lambat bayar pajaknya dikenakan berupa kenaikan sebesar 25% (dua puluh lima persen) dari pokok pajak ditambah sanksi administratif bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan dihitung dari pajak yang kurang atau lambat dibayar untuk jangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat bulan) dihitung saat terutangnya pajak. Apabila kita setelah jatuh tempo masa berlaku STNK (surat tanda nomor kendaraan) belum melakukan perpanjangan maka kita akan dikenai denda PKB (pajak kendaraan bermotor) dan SWDKLLJ (sumbangan wajib dana kecelakaan lalu lintas), adapun cara perhitungannya: a. Denda PKB (pajak kendaraan bermotor) ada yang telat 3 hari bahkan 1 hari dianggap 1 tahun, tiap wilayah berbeda, tetapi prinsip cara menghitungnya adalah 25% per tahun terlambat 3 bulan PKB x 25% x 3/12 terlambat 6 bulan PKB x 25% x 6/12

b. Denda SWDKLLJ (sumbangan wajib dana kecelakaan lalu lintas) Besarnya Rp 32.000 untuk motor & Rp100.000 untuk roda 4.

5.3 Kontribusi Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor Terhadap Sulawesi Tengah Periode 2000-2010 Tabel 6 Kontribusi Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor

Pendapatan Asli Daerah Provinsi

Terhadap Pendapatan Asli Daerah Sulteng Periode 2000-2010. Tahun Anggaran

PAD (Rp)

BBN-KB

Kontribusi 2000

34.036.738.105,63

12.012.136.346,00

35,29 2001

54.944.208.279,04

22.269.773.043,00

40,53 2002

83.625.326.096,20

36.061.883.464,30

43,12 2003

108.523.873.251,21

41.970.350.647,96

38,67 2004

122.907.876.638,71

46.458.209.626,00

37,80 2005

137.383.639.244,48

51.397.337.671,00

37,41

2006

160.508.900.042,45

42.437.795.647,00

26,44 2007

194.190.568.734,40

61.213.904.024,00

31,52 2008

229.479.742.225,30

95.120.179.949,00

41,45 2009

275.187.616.354,70

94.946.777.000,00

34,50 2010

411.797.140.000,00

164.307.214.400,00

39,90

Sumber : Data setelah diolah Tahun 2000 kontribusi Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor terhadap PAD Sulteng sebesar 35,29% meningkat menjadi 40,53% pada tahun 2001. Tahun 2002 hingga tahun 2006 mengalami penurunan dari tahun ke tahun. dibandingkan dengan 1 tahun sebelumnya, kontribusinya meningkat sebesar 5,08% pada tahun 2007 dan tahun 2008 mengalami peningkatan kontribusinya sebesar 9,93%. Pada tahun 2009 kembali mengalami penurunan kontribusi menjadi 34,50%. kontribusinya kembali meningkat menjadi 39,90% atau meningkat sebesar 5,40%. Berdasarkan uraian di atas, dapat diketahui adanya fluktuasi kontribusi BBNKB terhadap PAD Sulteng. Selama kurun waktu 2000 hingga 2010, kontribusinya yang paling besar terhadap PAD sulteng yakni pada tahun 2001 sebesar 43,12%; dan kontribusi terendah yakni pada tahun 2006 sebesar 26,44%. Besarnya kontribusi Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor terhadap Pendapatan Asli Daerah Sulawesi Tengah memberikan gambaran bahwa, Pajak daerah yang bersumber dari Bea Balik Nama kendaraan Bermotor merupakan sumber penerimaan daerah Sulawesi Tengah yang sangat mendukung pembiayaan pembangunan daerah di Sulawesi Tengah. Tabel 7 Pertumbuhan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor Periode 2000-2010 Tahun Anggaran

BBN-KB

Pertumbuhan Pertahun (%) 2000

12.012.136.346,00

2001

22.269.773.043,00

85,39 2002

36.061.883.464,30

61,93 2003

41.970.350.647,96

16,38 2004

46.458.209.626,00

10,69 2005

51.397.337.671,00

10,63 2006

42.437.795.647,00

-17,43 2007

61.213.904.024,00

44,24 2008

95.120.179.949,00

55,34 2009

94.946.777.000,00

-0,18 2010

164.307.214.400,00

73,05 Sumber : Data Setelah Diolah Berdasarkan data pada tabel di atas, terlihat bahwa pada tahun 2001, pertumbuhan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor sebesar 85,39%. Pertumbuhan yang sangat tinggi ini disebabkan adanya peningkatan jual beli kendaraan bermotor roda dua. Tahun 2002 hingga tahun 2006 terus mengalami pertumbuhan yang negatif atau menurun dibadingkan dengan tahun sebelumnya setiap tahun. Tahun 2002 pertumbuhannya sebesar 61,93%, tahun 2003 sebesar 16,38%, tahun 2004 sebesarn10,69%, tahun 2005 sebesar 10,63% dan tahun 2006 mengalami penurunan sebesar -17,43%. Penurunan ini disebabkan makin bertambahnya jumlah dealer kendaraan bermotor khsusnya kendaraan bermotor roda dua yang memberikan kemudahan kredit pembelian kendaraan bermotor, bertambahnya jenis kendaraan bermotor dengan kualitas dan harga yang relatif murah dari tahun ke tahun, kondisi ini menyebabkan kurangnya minat konsumen untuk membeli kendaraan bermotor bekas, yang berimplikasi pada menurunnya penerimaan pajak daerah yang bersumber dari Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor. Tahun 2007 pertumbuhan BBN-KB meningkat menjadi 44,24%, dan tahun 2008 meningkat menjadi 55,34% ini kareana banyaknya penjualan kendaraan bermotor khususnya roda VI yang jika kendaraannya akan dibuatkan BBNKB dari pihak pertama Dealer di ubah ke pihak kedua yaitu pembeli maka pajak BBNKB dibayar 10% dari harga kendaraannya sehingga akan lebih tanggi penerimaan dari BBNKB sedangkan pada Tahun 2009 Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor kembali mengalami penurunan -0,18%. Kondisi ini disebabkan banyaknya kendaraan bermotor baik roda dua mau pun roda empat dengan berbagai merek dan tipe yang dilepaskan pihak perusahaan ke pasar, dan adanya kemudahan angsuran dan uang muka kendaraan bermotor yang di jual secara kredit kepada konsumen. Kondisi ini menyebabkan menurunnya jual beli kendaraan bermotor bekas. Tahun 2010 pertumbuhan BBNKB kembali meningkat sebesar 73,05%. Peningkatan yang cukup signifikan ini disebabkan banyaknya lembaga keuangan Bank dan Pegadaian yang memberikan layanan pinjaman dana dengan jaminan Bukti Kepemilikan Kendaraan Bermotor (BPKB). Hal ini mendorong pemilik kendaraan bermotor mengurus BPKB yang dibelinya dari tahun sebelumnya.

Peningkatan realisasi penerimaan daerah yang bersumber dari kontribusi PKB dan BBNKB yaitu dengan adanya penerapan Surat Pemberitahuan Pajak Kendaraan Bermotor (Super PKB) karena semakin banyak wajib pajak yang rutin membayar pajaknya maka otomatis penerimaan daerah makin meningkat. Sementara itu peningkatan kinerja pelayanan kepada wajib pajak melalui SAMSAT keliling juga sangat penting karena akan lebih memudahkan bagi wajib pajak untuk membayar pajaknya dan lebih efisien dan efektif. Dan juga peningkatan jual beli kendaraan bermotor roda II maupun roda VI akan lebih meningkat jika kulitas sarana dan prasarana jalan yang menghubungkan provinsi, kabupaten/kota se Sulawesi Tengah maka akan lebih banyak masyarakat yang akan membeli kendaraan bermotor sehingga kontribusi dari masing-masing pajak tersebut akan lebih meningkat.

BAB VI PENUTUP 6.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh kesimpulan bahwa selama kurun waktu 2000 hingga 2010 Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor memberikan kontribusi terbesar terhadap Pendapatan Asli Daerah Sulawesi Tengah. Selama kurun waktu tersebut, Kontribusinya terhadap PAD Sulawesi Tengah mengalami fluktuasi. Kontribusinya terendah yakni pada tahun 2006 sebesar 26,44% dan kontribusinya tertinggi yakni pada tahun 2002 sebesar 43,12%. Pajak kendaraan bermotor selama kurun waktu tahun 2000 hingga tahun 2010 memberikan kontribusi yang cukup besar setelah Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor, selama kurun waktu tersebut

kontribusinya terhadap Pendapatan Asli Daerah Sulawesi Tengah berfluktuasi. Kontribusinya terendah yakni pada tahun 2000 sebesar 24,69%. Tahun 2008 kontribusinya merupakan yang tertinggi selama kurun waktu tersebut yakni sebesar 32,64%. Beberapa hal yang mempengaruhi fluktuasi kontribusi Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Pajak Kendaraan Bermotor selama kurun waktu Tahun 2000 hingga 2010 adalah adanya penerapan Surat Pemberitahuan Pajak Kendaraan Bermotor (Super PKB); Peningkatan kinerja pelayanan kepada wajib pajak melalui SAMSAT keliling; Meningkatnya kinerja aparatur yang terintegrasi dalam kantor bersama SAMSAT dan peningkatan kualitas sarana dan prasarana jalan yang menghubungkan antara propinsi, kabupaten/kota se Sulawesi Tengah, peningkatan jual beli kendaraan bermotor roda dua dan Roda IV, bertambahnya jumlah dealer kendaraan bermotor khsusnya kendaraan bermotor roda dua yang memberikan kemudahan kredit pembelian kendaraan bermotor, bertambahnya jenis kendaraan bermotor dengan kualitas dan harga yang relatif murah dari tahun ke tahun, adanya kemudahan angsuran dan uang muka kendaraan bermotor yang di jual secara kredit kepada konsumen. Selama kurun waktu tahun 2000 hingga 2010, Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Pajak Kendaraan Bermotor memberikan peranan yang sangat besar terhadap Pendapatan Asli Daerah Propinsi Sulawesi Tengah. Dan dari 5 Pajak Provinsi yang ada Pajak Kendaraan Bermotor Dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor merupakan Pajak Daerah yang menjadi andalan dalam pendanaan APBD Sulawesi Tengah, maka dengan membayar PKB secara rutin setiap tahunnya sehingga PAD akan semakin meningkat. 6.2 Saran

Dinas Pendapatan Propinsi Sulawesi Tengah perlu meningkatkan kinerjanya dalam menggali potensi Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) yaitu dengan memperhatikan upaya-upaya yang telah dilaksanakan dan berpedoman pada pencapaian target serta hasil evaluasi atas kinerja yang telah dilaksanakan, maka secara operasional kegiatan intensifikasi dan ekstensifikasi penerimaan daerah khususnya Pendapatan Asli Daerah, dapat dilakukan upaya-upaya sebagai berikut : a. Meningkatkan bimbingan tekhnis dan pemerataan penempatan pegawai pada seluruh UPTD secara proporsional b. Mengefektifkan pelaksanaan koordinasi terhadap SKPD, melengkapi sarana komputer yang berbasis Online pada 11 UPTD c. d. e. Mengintensifkan pelaksanaan sosialisasi untuk kesadaran masyarakat dalam membayar pajak Meningkatkan/mengoptimalkan operasional UPTD Meningkatkan pengawasan terhadap pelaksanaan pemungutan pendapatan

f. g. h.

Meningkatkan Sosialisasi Pajak dan Retribusi Daerah kepada Wajib Pajak dan Retribusi Daerah Peningkatan kinerja pelayanan kepada wajib pajak melalui SAMSAT keliling; Meningkatkan koordinasi terhadap SKPD terkait pengelola Pendapatan Daerah

Sedangkan bagi wajib pajak sendiri, disarankan untuk lebih sadar akan pentingnya rutin membayar Pajak Kendaraan Bermotor yang dimilikinya karena akan berdampak langsung kepada peningkatan perekonomian Sulawesi Tengah khususnya yang berasal dari Pajak Daerah dan juga wajib pajak yang taat pajak tidak akan di tilang oleh Polantas karena PKB yang tidak dibayar.

DAFTAR PUSTAKA

A.Buku-buku

Anwar Nasution, mei 1984, Aspek Ekonomi Anggaran Belanja Negara, Jakarta; Jakarta

Tabloid Prisma No. 5,

Bohari, 1987, Pengantar Perpajakan. Jakarta ; Ghalian, Jakarta.

Eko Lasmana, 1992, Sistem Perpajakan di Indonesia. Jakarta ; PT Prima Kamps

Grafika Jakarta

Ibnu Syamsi, 1994. Dasar-dasar Kebijaksanaan Keuangan Daerah. Jakarta ;

Rineika Cipta, Jakarta.

Imam Wahyutomo. 1994. Pajak. Yogyakarta ; AMP YKPN Yogyakarta

Mardiasmo, 2002. Otonomi dan Manajamen Keuangan Daerah. Yogyakarta ;

ANDI Yogyakarta

Mardiasmo, 2002. Perpajakan. Yogyakarta ; ANDI Yogyakarta

Rochmat Sumitro, 1980. Pokok-pokok Perpajakan. Jakarta ; Liberty, Jakarta.

Sugiyono, 1999. Metode Penelitian Bisnis. Bandung ; CV. Alfabeta Bandung.

B. Dokumen-dokumen Undang-undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945

Undang-undang N0. 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara

Undang-undang No. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah

Undang-undang No. 33 Tahun 2004 tentang perimbangan keuangan antara pemerintahan daerah.

Pemerintah pusat dan

Undang-undang No. 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah, Kendaraan Bermotor Di Air dan BBN Kendaraan Bermotor Di Atas Air

Pajak

Kepmendagri No. 25 Tahun 2010 Tentang Penghitungan Dasar PKB dan BBN- KB Tahun 2010

Neli Kurniawati. 2006. Kontribusi Pungutan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) Terhadap PAD Sulawesi Tengah PERIODE 2000-2005. Skripsi Fakultas Ekonomi, Universitas Tadulako

Sari Vika Ferna Yustiva. 2008. Kontribusi Pungutan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) Terhadap Pajak Daerah Pada Unit Pelayanan Pendapatan Daerah Kabupaten Pati,Skripsi Fakultas Ekonomi,Universitas Semarang. You might also like: