Anda di halaman 1dari 5

LAPORAN HASIL PRAKTIKUM KIMIA ANALISA TITRASI IODIMETRI

Disusun Oleh : Kelompok 2 Kelas C Yunnica Sri Hapsari Angga Syafari Rifatul Mughniyah Fika Hilmiyatu Durry (1112102000054) (1112102000058) (1112102000059) (1112102000070)

Program Study Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif hidayatullah Jakarta 2013

I. II.

Judul Praktikum

Titrasi Kompleksometri Selasa, 4 Juni 2013

Tanggal Praktikum :

III.

Tujuan Praktikum : 1. Dapat menentukan kadar suatu zat dalam larutan dengan menggunakan
titrasi kompleksometri menggunakan EDTA

2.

Dapat merancang prosedur penentuan zat berdasarkan titrasi kompleksometri

IV.

Prinsip kerja Titrasi Kompleksometri

Titrasi kompleksometri adalah titrasi berdasarkan pembentukan senyawa kompleks antara kation dengan zat pembentuk kompleks. Pereaksi untuk titrasi kompleksometi sangat banyak digunakan untuk mentitrasi ion-ion logam dalam larutan, misalnya EDTA (H4Y) yang dapat bereaksi dengan ion logam dengan perbandingan stoikiometri 1:1 sebagai berikut: Mn+ + Y4- MY+(4-n)
( )

Kabs=

Fraksi Y4- dari larutan EDTA dipengaruhi oleh PH, sehingga harga tetapan kesetimbangan yang dipengaruhi oleh PH disebut Kefektif (Kkondisional). Keff= Kabs . 4 dan 4 adalah fraksi Y4- pada PH tertentu. Karena banyak ion-ion logam yang dapat bereaksi dengan EDTA maka selektifitas dapat diatur dengan mencari PH serendah mungkin dimana masih layak dilakukan (Keff= < 108). Keselektifan ini dapat juga diatur dengan menggunakan Masking agent. Selama titrasi terjadi perubahan konsentrasi ion logam bebas. Kurva titrasi diperoleh dengan mengalurkan PM = -log (M) vs volume EDTA. Pada titik ekivalen terdapat perubahan PM yang besar. Indikator titrasi kompleksometri umumnya adalah indikator metalokrom yang merupakan senyawa organik berwarna yang juga membentuk kompleks dengan ion logam. Warna kompleks logamindikator berbeda dengan warna indikator bebas. indikator yang banyak digunakan dalam titrasi kompleksometri adalah: 1. eriochrome black T (EBT) yang mempunyai rumus struktur molekul berikut:

Indikator ini peka terhadap perubahan kadar logam dan pH larutan. Pada pH 8 -10 senyawa ini berwarna biru dan kompleksnya berwarna merah anggur. Pada pH 5 senyawa itu sendiri berwarna merah, sehingga titik akhir sukar diamati, demikian juga pada pH 12. Umumnya titrasi dengan indikator ini dilakukan pada pH 10. 2. Jingga xilenol Indikator ini berwarna kuning sitrun dalam suasana asam dan merah dalam suasana alkali. Kompleks logam-jingga xilenol berwarna merah, karena itu digunakan pada titrasi dalam suasana asam. 3. Biru Hidroksi Naftol Indikator ini memberikan warna merah sampai lembayung pada daerah pH 12 13 dan menjadi biru jernih jika terjadi kelebihan edetat.

V. Alat dan bahan



Larutan edta Larutan MgSO4 0.05 N Larutan Mg 2+ Air ledeng Indikator EBT Larutan buffer salmiak Buret Erlenmeyer Beaker glass Pipet gondok Gelas ukur Kaca arloji Spatula

Cara kerja
A. Pembakuan 1. Siapkan alat dan bahan 2. Isi buret dengan larutan EDTA 3. Ambil larutan MgSO4 sebanyak 10 ml, masukkan dalam erlenmeyer. Cek pH larutan

4. Tambahkan larutan salmiak sebanyak 10 mL, lalu cek pH 5. Tambahkan sedikit indikator EBT 6. Titrasi dengan larutan EDTA, sehingga warna merah pada larutan berubah menjadi biru muda 7. Ulangi titrasin temukan normalitas EDTA

B. Aplikasi pada sampel Mg2+ 1. Siapkan alat dan bahan 2. Isi buret dengan larutan EDTA 3. Ambil larutan sampel Mg2+ sebanyak 10 ml ,lalu masukkan dalam erlenmeyer. Cek pH larutan 4. Tambahkan 10 ml larutan buffer salmiak, cek pH larutan 5. Tambahkan sedikit indikator EBT 6. Titrasi larutan dengan larutan EDTA 7. Ulangi titrasi, tentukan kadar Mg2+ dalam larutan sampel

C. Aplikasi pada air ledeng 1. Siapkan alat dan bahan 2. Isi buret dengan larutan EDTA 3. Ambil air ledeng 10 ml ,masukkan dalam erlenmeyer 4. Tambahkan larutan buffer salmiak (pH 12) 10 ml 5. Tambahkan indikator EBT 6. Titrasi dengan larutan EDTA 7. Ulangi titrasi

VI.

Pembahasan

PEMBAHASAN A. PEMBAKUAN Data : TE I EDTA= 10 ml TE II EDTA = 10,3 ml Rata-rata TE = 10,15 ml V MgSO4 = 10 ml ; V EDTA = 10,15 ml N MgSO4 = 0,05 N

B. APLIKASI Sampel Mg2+ TE I = 9,6 ml ; TE II = 9,2 ml Rata-rata TE = 9,4 ml V EDTA = 9,4 ml N EDTA = 0,049 N BE Mg2+ = 12

Air ledeng (Mg2+ dalam air ledeng) TE I = 0,8 ml ; TE II = 0,5 ml Rata-rata TE = 0,65 ml V EDTA = 9,4 ml N EDTA = 0,049 N BE = BM = 18 PH sampel + buffer = 11

VII.

Kesimpulan Titrasi kompleksometri adalah titrasi berdasarkan pembentukan senyawa kompleks


antara kation dengan zat pembentuk kompleks.

Selama titrasi terjadi perubahan konsentrasi ion logam bebas. Indikator titrasi kompleksometri umumnya adalah indikator metalokrom yang merupakan senyawa organik berwarna yang juga membentuk kompleks dengan ion logam. sebesar sebesar