Anda di halaman 1dari 11

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Dewasa ini banyak sekali upaya yaang dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan mutu suatu usaha. Mulai dari bergabung ke perusahaan yang lebih besar, mauapun pengambil alihan suatu usaha. Hal ini ternyata tidak terjadi di perusahaan ataupun suatu jenis usaha, tetapi juga di dalam dunia perbankan. Oleh sebab itu, dalam makalah ini, kami akan membahas mengenai akuisisi dan marger di dalam sebuah lembaga keuangan. Baik dari segi positif maupun dari segi negatifnya. 1.2 Batasan Masalah Dalam makalah ini kami hanya membatasi permasalahan mengenai merger dan akuisisi yang terjadi di Bank dan lembaga keuangan lainnya. Baik itu dari segi dampak maupun pengaruh dari merger dan akuisisi. 1.3 Rumusan Masalah Dalam makalah ini kami membatasai rumusan masalah sebagai berikut: 1. Apa yang dimaksud dengan merger? 2. Apa yang dimaksud dengan akuisisi? 3. Apa saja dampak dari merger dan akuisisi? 4. Apa saja alasan sebuah Bank dan lembaga keuangan lainnya melakukan merger dan akuisisi? 5. Apa saja proses dan tata cara merger dan akuisisi bank? 6. Apa saja contoh merger dan akuisisi di Bank dan lembaga keuangan lainnya? 1.4 Tujuan Masalah Dalam makalah ini kami memiliki tujuan sebagai berikut: 1. Mengerti arti dari merger. 2. Mengerti arti dari akuisisi 3. Mengerti dampak positif dan negative dari merger 4. Mengerti alasan-alasan Bank dan lembaga keuangan lainnya melakukan merger dan akuisisi 1

5. Mengetahui proses dan tata cara merger dan akuisisi bank 6. Mengerti contoh- contoh kasus merger dan akuisisi yang terjadi di Bank dan lembaga keuangan lainnya.

BAB II ISI
2.1 Definisi Merger Secara umum merger adalah suatu keputusan untuk mengkombinasikan atau menggabungkan dua atau lebih perusahaan menjadi satu perusahaan baru. Dalam konteks bisnis, merger adalah suatu transaksi yang menggabungkan beberapa unit ekonomi menjadi satu unit ekonomi yang baru. Proses merger umumnya memakan waktu yang cukup lama, karena masing-masing pihak perlu melakukan negosiasi, baik terhadap aspek-aspek permodalan maupun aspek manajemen, sumber daya manusia serta aspek hukum dari perusahaan yang baru tersebut. Oleh karena itu, penggabungan usaha tersebut dilakukan secara drastis yang dikenal dengan akuisisi atau pengambilalihan suatu perusahaan oleh perusahaan lain. Merger sendiri dibagi menjadi beberapa bagian, yaiyu:

Merger horizontal, adalah merger yang dilakukan oleh usaha sejenis (usahanya sama), misalnya merger antara dua perusahaan roti, perusahaan sepatu.

Merger vertikal, adalah merger yang terjadi antara perusahaan-perusahaan yang saling berhubungan, misalnya dalam alur produksi yang berurutan. Contohnya: perusahaan pemintalan benang merger dengan perusahaan kain, perusahaan ban merger dengan perusahaan mobil.

Konglomerat ialah merger antara berbagai perusahaan yang menghasilkan berbagai produk yang berbeda-beda dan tidak ada kaitannya, misalnya perusahaan sepatu merger dengan perusahaan elektronik atau perusahaan mobil merger dengan perusahaan makanan. Tujuan utama konglomerat ialah untuk mencapai pertumbuhan badan usaha dengan cepat dan mendapatkan hasil yang lebih baik. Caranya ialah dengan saling bertukar saham antara kedua perusahaan yang disatukan. Joseph F. Sinkey (1983), menjelaskan motivasi yang mendorong bank untuk

melakukan merger, antara lain: 1. Untuk mendapatkan kesempatan beroperasi dalam skala usaha yang hemat, 2. Guna meningkatkan pangsa pasar, 3. Menghilangkan tidak efisien melalui operasional dan pengendalian finansial yang 3

lebih baik, 4. Kesempatan menggabungkan sumber daya ataupun pasar yang dimiliki masingmasing Bank. Selain itu masih terdapat beberapa faktor yang mendorong motivasi untuk merger, seperti: upaya diversifikasi, menurunkan biaya dana, dan menaikkan harga saham secara emosi (bootstrapping of earning per share) karena adanya pengumuman akan merger bagi Bank publik. Prasyarat melakukan merger menurut Hazel J.Johnson (1995) menyatakan, prasyarat yang harus dianalisis terlebih dahulu dari kedua Bank yang akan melakukan merger adalah: 1. Kondisi keuangan masing-masing Bank, merger sesama bank sehat atau karena collapse 2. Kecukupan modal 3. Manajemen, baik sebelum atau sesudah merger 4. Apakah merger dapat memberi manfaat bagi pengguna jasa Bank tersebut 2.2 Definisi Akuisisi Akuisisi adalah pembelian hak atas bagian dari perusahaan lain. Sehingga perusahaan pembeli dapat mengambil alih perusahan target. Dapat dikatakan pula bahwa akuisisi adalah pengambil alihan perusahaan oleh perusahaan lain yang ditempuh dengan dua cara, yaitu: pertama, mengambil alih aset perusahaan target. Kedua, membeli saham-saham dari perusahaan target. Tahun 1970-an sampai 1980-an banyak perbankan nasional melakukan kegiatan akuisisi saham. Akuisisi saham merupakan salah satu bentuk yang paling umum ditemui dalam kegiatan akuisisi perbankan nasional.

2.3 Dampak dari Merger dan Akuisisi Pelaksanaan merger dan akuisisi baik di Indonesia maupun di negara lainnya ternyata membawa dampak positif atau keuntungan nyata bagi perusahaan atau perbankan misalnya seperti lebih cepat untuk memperoleh operasionalisasi perusahaan, teknologi yang digunakan perusahaan lebih bernilai dari pada sebelum melakukan merger, serta mengurangi devisa yang dikeluarkan karena sebagian besar pasar dilayani dengan produk lokal daripada produk impor.

Bukan hanya keuntungan yang dapat kita peroleh dari merger dan akuisisi, ada beberapa kerugian merger dan akuisisi terutama merger lintas batas, antara lain:Perbedaan kultur atau budaya yang disebabkan oleh perpaduan dua organisasi yang berbeda kebiasaaan, nilai, bahkan mungkin negaranya. Kemudian biaya yang disebabkan oleh metode keuangan, serta harga yang dibayarkan mungkin terlalu tinggi akibat berbagai hal yang muncul dalam proses.Kemungkinan reaksi politik dari daerah atau negara tuan rumah, akibat pengambil alihan oleh perusahaan lain. Lalu terkait masalah ketenagakerjaan,dan lain-lain yang menyangkut tenaga kerja. 2.4 Alasan- alasan Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya Melakukan Merger dan Akuisisi Berikut merupakan alasan-alasan Bank dan Lembaga Keuangan lainnya melakukan merger dan akuisisi: 1. Pertumbuhan atau diversifikasi Perusahaan yang menginginkan pertumbuhan yang cepat, baik ukuran, pasar saham, maupun diversifikasi usaha dapat melakukan merger maupun akuisisi. Perusahaan tidak memiliki resiko adanya produk baru. Selain itu, jika melakukan ekspansi dengan merger dan akuisisi, maka perusahaan dapat mengurangi perusahaan pesaing atau mengurangi persaingan. 2. Sinergi Sinergi dapat tercapai ketika merger menghasilkan tingkat skala ekonomi (economies of scale). Tingkat skala ekonomi terjadi karena perpaduan biaya overhead meningkatkan pendapatan yang lebih besar daripada jumlah pendapatan perusahaan ketika tidak merger. Sinergi tampak jelas ketika perusahaan yang melakukan merger berada dalam bisnis yang sama karena fungsi dan tenaga kerja yang berlebihan dapat dihilangkan. 3. Meningkatkan dana Banyak perusahaan tidak dapat memperoleh dana untuk melakukan ekspansi internal, tetapi dapat memperoleh dana untuk melakukan ekspansi eksternal. Perusahaan tersebut menggabungkan diri dengan perusahaan yang memiliki likuiditas tinggi sehingga menyebabkan peningkatan daya pinjam perusahaan dan penurunan kewajiban keuangan. Hal ini memungkinkan meningkatnya dana dengan biaya rendah. 4. Menambah ketrampilan manajemen atau teknologi 5

Beberapa perusahaan tidak dapat berkembang dengan baik karena tidak adanya efisiensi pada manajemennya atau kurangnya teknologi. Perusahaan yang tidak dapat mengefisiensikan manajemennya dan tidak dapat membayar untuk mengembangkan teknologinya, dapat menggabungkan diri dengan perusahaan yang memiliki manajemen atau teknologi yang ahli. 5. Pertimbangan pajak Perusahaan dapat membawa kerugian pajak sampai lebih 20 tahun ke depan atau sampai kerugian pajak dapat tertutupi. Perusahaan yang memiliki kerugian pajak dapat melakukan akuisisi dengan perusahaan yang menghasilkan laba untuk memanfaatkan kerugian pajak. Pada kasus ini perusahaan yang mengakuisisi akan menaikkan kombinasi pendapatan setelah pajak dengan mengurangkan pendapatan sebelum pajak dari perusahaan yang diakuisisi. Bagaimanapun merger tidak hanya dikarenakan keuntungan dari pajak, tetapi berdasarkan dari tujuan memaksimisasi kesejahteraan pemilik. 6. Meningkatkan likuiditas pemilik Merger antar perusahaan memungkinkan perusahaan memiliki likuiditas yang lebih besar. Jika perusahaan lebih besar, maka pasar saham akan lebih luas dan saham lebih mudah diperoleh sehingga lebih likuid dibandingkan dengan perusahaan yang lebih kecil. 7. Melindungi diri dari pengambilalihan. Hal ini terjadi ketika sebuah perusahaan menjadi incaran pengambilalihan yang tidak bersahabat. Target firm mengakuisisi perusahaan lain, dan membiayai pengambilalihannya dengan hutang, karena beban hutang ini, kewajiban perusahaan menjadi terlalu tinggi untuk ditanggung oleh bidding firm yang berminat (Gitman, 2003, p.714-716). 2.5 Proses dan Tata Cara Merger dan Akuisisi
Proses melakukan merger dan akuisisi pada perusahaan maupun pada perbankan adalah hal yang tidak mudah. Butuh proses yang lama dan cara yang sulit. Adapun tata cara melakukan merger atau akuisisi ialah pertama-tama Direksi dan komisaris perusahaan wajib membuat surat pernyataan kepada Bapepam dan rapat umum pemegang saham (RUPS).lalu surat pernyataan tersebut harus didukung oleh pihak independen untuk memperoleh persetujuan RUPS perusahaan publik atau emitmen. Kemudian perusahaan wajib menyampaikan pernyataan penggabungan usaha kepada Bapepam yang berisis Rancangan Penggabungan Usaha atau Peleburan Usaha.

Persyaratan yang harus dilengkapi adalah sebagai berikut : 1. Salinan akta pendirian dan perubahan masing-masing perusahaan yang bergabung. 2. Salinan Izin Usaha Tetap bagi perusahaan yang akan meneruskan kegiatan usaha. Jika belum memiliki IUT, perlu dilengkapi dengan BAP (berita pemeriksaan) oleh BKMD setempat. 3. Risalah RUPS (rapat umum pemegang saham) tentang persetujuan untukbergabung dari masing-masing perusahaan yang tergabung. 4. Salinan LKPM(laporan keuangan penanaman modal) periode terakhit untuk perusahaan PMA dan PMDN yang akan meneruskan kegiatau usaha. 5. Setelah persyaratan dilengkapi, perusahaan mengisi formulir di kantor BKPM dengan lengkap dan melampirkan permohonan merger. Persetujuan akan dikeluarkan oleh Menives atau kepala BKPM dalam bentuk surat persetujuan. Setelah perusahaan ataupun perbankan tersebut melakukan merger dan akuisisi perlu tindak lanjut atas penggabungan usahanya tersebutdan secara bersama-sama wajib menyusun kembali RUPS tadi yang sudah disetujui komisaris sebelumnya. Kemudian dibuat beberapa peraturan atas perubahan sifat perusahaan dan diserahkan kepada Bapepam paling lambat akhir hari kerja kedua setelah persetujuan komisaris. Penggabungan suatu perusahaan wajib diumumkan pada masyarakat. Jika Bapepam tidak mengajukan perubahan dan tambahan informasi terhadap perusahaan merger, maka pengajuan dianggap telah memenuhi syarat. Kunci sukses strategi merger dan akuisisi dapat berjalan dengan baik apabila memenuhi persyaratan sebagai berikut:1Dilakukan dengan memanfaatkan keunggulan dan menutupi kekurangan yang dimiliki oleh bank peserta biasanya menyebabkan kegagalan proses merger dan akuisisi. Bank peserta perlu memiliki kemiripan budaya dan falsafah perusahaan yang tidak jauh bertolak belakang. Bank peserta memiliki pimpinan perusahaan yang berdedikasi dan mampu menyelesaikan konflikkonflik secara cepat, bijak dan arif, serta tidak bersifat otoriter. Bank peserta memiliki visi dan misi yang dapat dijalankan oleh bank yang telah digabung. Proses implementasi pasca merger perlu dilakukan dengan melakukan proses harmonisasi produk dan layanan baru, pemantapan dedikasi karyawan dan pembentukan platform dan sistem prosedur yang seragam dan efisien.

2.6 Contoh Kasus Merger dan Akuisisi Bank dan Lembaga KEuangan Lainnya 1. Merger dan Akuisi Bank Danamon

Bank Danamon merupakan hasil pengambil alihan dibawah Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) dari delapan bank, yaitu PT. Bank Tamara Tbk, PT. Bank Tiara Asia Tbk, PT. Bank Rama Tbk, PT JayaBank International, PT. Bank Risyad Salim International, PT. Bank Duta Tbk., PT. Bank Pos Nusantara, dan PT. Bank Nusa Nasional. Dari ke-8 bank yang bergabung hanya Bank Tamara yang mendapatkan laba sedangkan bank lainnya menderita kerugian dimana biaya yang dikeluarkan dan kerugian yang diderita hampir sebanding besarnya. Dua tahun sebelum merger dari 8 bank yang bergabung hanya Bank Tamara yang mendapatkan laba. Laba yang diperoleh saat itu adalah 2,844,232 (jutaan Rp). Satu tahun setelah merger Bank Danamon mendapatkan laba sebesar 754,878 (jutaan Rp). Keadaan ini terlihat membaik setelah beberapa bank mengalami kerugian sebelum melakukan merger. 2. Merger dan Akuisisi Bank Permata Bank permata merupakan hasil merger dari 5 bank yaitu PT. Bank Bali Tbk, PT. Universal Tbk., PT. Prima Express, PT. Arta Media Bank dan PT. Patriot. Nama Bank Permata resmi digunakan pada 18 Oktober 2002 dibawah PP No. 28/2000. Gabungan bank tersebut memiliki kelebihan 320-an kantor cabang, 456 ATM bersama, mempunyai customer base 1,3 juta nasabah dengan produk baru dan bervariasi. Dua tahun sebelum merger Bank Prima Ekspress memperoleh laba sekitar 7,818 (jutaan Rp), sedangkan bank lainnya menderita kerugian yang cukup besar. Setahun sebelum bergabung terlihat kondisi perubahan bahwa laba dihasilkan oleh Bank Bali dengan 136,975 (jutaan Rp) dan bank lainnya rugi. Cukup besar kerugian yang dicapai Bank Universal sebesar -1,328,524 (jutaan Rp). Satu tahun setelah merger Bank Permata mendapatkan laba sebesar 542,504 (jutaan Rp). Keuntungan yang didapatkan dalam merger bank memang baik, tetapi dari data yang diperoleh dapat diasumsikan bahwa bank hasil merger belum menyalurkan kredit seperti yang diharapkan meskipun sudah mendapatkan laba.

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan Setelah masa krisis moneter yang dijalani Indonesia serta dampak yang dihadapi oleh beberapa Bank Nasional yang sebagian harus dilikuidasi, muncul strategi alternatif yaitu kebijakan merger dan akuisisi sebagai kebijakan dalam mempertahankan bank-bank yang akan kolaps serta memperbaiki kinerja Bank Nasional agar dapat bekerja dan beroperasi secara efisien. Proses merger dan akuisisi bagi perbankan memiliki dampak langsung baik positif maupun dampak negatif seperti yang telah kami paparkan diatas, tergantung dari perspektif kita memandangnya dan strategi yang dilakukan oleh perbankan itu sendiri. Keberhasilan upaya merger dan akuisisi memerlukan cara yang cukup sulit bagi berbagai pihak yang ingin sukses dalam menerapkan kebijakan ini. Merger dan akuisisi merupakan strategi yang rumit, karena bukan hanya berkaitan dengan masalah bisnis, tetapi juga terkait masalah hukum dengan perundang-undangannya yang mengatur, masalah perpajakan, akuntansi, perijinan, manajemen, tenaga kerja dan juga kultur usaha dari perusahaan yang melakukan merger dan akuisisi. Keuntungan utama merger adalah sederhana dan tidak ada biaya yang besar seperti bentuk akuisisi yang lainnya. Alasannya bahwa perusahaan secara sederhana setuju untuk menggabungkan seluruh operasionalnya. Sebagai contoh, disana tidak ada keinginan untuk memindahkan kepemilikan aktiva individu perusahaan yang meleburkan diri ke perusahaan yang utama. Sedangkan kerugian utama adalah bahwa suatu merger harus disetujui dengan suatu hak suara dari pemegang saham tiap-tiap perusahaan. Khususnya, dua pertiga (bahkan lebih) dari hak suara untuk memperoleh persetujuan. Untuk mendapatkan hak suara yang diperlukan akan memakan waktu yang lama dan proses yang tidak mudah. 3.2 Saran Pada dasarnya bank-bank nasional melakukan merger dan akuisisi adalah bentuk dari upaya perbaikkan kinerja bank serta menyehatkan kembali bank yang hampir bangkrut.

Dilihat dari kasus yang tertera diatas, dampak yang dihasilkan setelah melaksanakan proses merger dan akuisisi baik dampak positif maupun dampak negatif. Meskipun beberapa fakta membuktikan bahwa bank-bank yang melakukan merger dan akuisisi mendapatkan keuntungan yang real di segi laba perusahaan tetapi masih terdapat kelemahan dalam penyaluran kredit. Mungkin bukan permasalahan dari strategi merger dan akuisisi itu sendiri tetapi permasalahan pada pihak-pihak yang melakukan penggabungan maupun pengambil alihan dalam proses yang kurang efektif. Merger dan akuisisi pada bank nasional bisa berjalan dengan sukses dilihat dari bagaimana perusahaan atau bank-bank yang merger atau akuisisi tersebut menjalankan dengan proses yang baik dan memanfaatkan keunggulan dan menutupi kekurangan yang dimiliki oleh bank peserta yang biasanya menyebabkan kegagalan proses merger dan akuisisi. Seharusnya para bank-bank yang akan melakukan merger dan akuisisi melakukan proses harmonisasi produk dan layanan baru, pemantapan dedikasi karyawan, pembentukan platform serta sistem prosedur yang seragam dan efisien guna menghasilkan kinerja yang baik dan sesuai visi dan misi atas dilakukannya penggabungan tersebut.

10

11