Anda di halaman 1dari 4

Ankilostomiasis Cacing Ankilostoma mempunyai banyak spesies yang dapat menginfeksi mamlia.

Ankilostoma pada kucing yaitu Ancylostoma tubaeformis dan Ancylostoma braziliense , kadang-kadang kucing juga dapat terinfeksi oleh Ankilostoma pada anjing yaituAncylostoma caninum (Anonim, 2006). Cacing Ankilostoma berukuran 10-20 mm, dan yang dewasa biasanya ditemukan melekat pada mukosa usus halus. Telurnya trmasuk tipe strongyloid, yaitu berdinding tipis, oval, dan bila dibebaskan dari tubuh biasanya memiliki 2-8 gelembung dalam stadium blastomer (Subronto, 2006). Cacing dewasa melekat pada mukosa usus dan dengan giginya memakan cairan jaringan, biasanya darah (Nelson, R.W. dan Couto, C.G., 2003). Bagian mulut cacing ini dimodifikasi untuk melukai lapisan jaringan, menghisap darah dan menyebabkan hemoragi pada usus halus hospes (Anonim, 2006). Cacing ini akan menghasilkan antikoagulan, sehingga luka tetap berdarah beberapa saat setelah cacing berpindah tempat. Kucing muda akan kehilangan darah dalam jumlah besar, atau mengalami anemia karena defisiensi Fe. Kucing akan diare, feses bercampur darah, kadang disertai muntah (Nelson, R.W. dan Couto, C.G., 2003). Gejala klinis Gejala utama yang timbul berhubungan dengan kehilangan darah dan iritasi gastrointestinal. Kelemahan umum, anemia, dehidrasi, anoreksia, kurus, pertumbuhan terhambat, depresi bahkan kematian terjadi. Larva dapat bermigrasi ke organ-organ internal seperti hepar atau paru-paru menyebabkan hepatitis dan pneumonia (Bistner, 1985). Infeksi dari cacing kait dapat terjadi melalui beberapa cara: 1. Infeksi melalui kulit Larva stadium ketiga yang infekstif langsung menembus kulit yang segera diikuti proses migrasi larva ke dalam pembuluh darah atau limfe, langsung ke jantung, paru-paru dan selanjutnya menuju pangkal tekak, kerongkongan dan lambung. Larva akan berubah menjadi cacing dewasa muda di dalam usus halus. 2. Infeksi secara oral Larva stadium ketiga yang infektif memasuki tubuh melalui mulut bersama makanan. Larva tersebut bermigrasi ke dalam lapisan atas dari mukosa usus halus dalam beberapa hari setelah tertelan, kemudian kembali ke lumen usus halus. Di dalam lumen berkembang menjadi dewasa setelah mengalami dua kali moulting (Subronto, 2006). Infeksi parasit kebanyakan melalui ingesti dari telur. Kejadian ini terjadi ketika kucing menjilati daerah yang mengandung feses kucing terinfeksi seperti halaman, taman dan rumput. 3. Infeksi transmamaria dan intra uterus Dalam migrasinya larva dapat mencapai uterus menembus selaput janin hingga anak yang baru dilahirkan pun telah mengandung larva di dalam tubuhnya. Larva tersebut dapat juga mencapai kelenjar susu dan dapat terlarut dalam air susu hingga anak yang masih menyusu dapat terinfeksi melalui susu yang diminum. 4. Infeksi melalui hospes paratenik Larva yang bermukim di dalam tubuh hewan yang bertindak sebagai hospes paratenik, mencit misalnya, dapat menginfeksi anjing dan kucing atau spesies lain yang rentan cacing tambang bila binatang hospes paratenik tersebut terkonsumsi (Subronto, 2006). Diagnosa

Untuk mendiagnosa infeksi Ancylostoma sp. Digunakan pemeriksaan feses metode natif dan sentrifuse, kemudian diperiksa di bawah mikroskop untuk mengidentifikasi telur cacing yang ditemukan. Sampel darah juga dapat mengindikasikan jika terdapat defisiensi Fe atau protein akibat infeksi dan tingkat keparahan infeksi (Shah, F.S.N, 2000).

Ankilostomiasis 2. Etiologi Lima spesies cacing yang termasuk dalam kelompok Soil Transmitted Helminthyang masih menjadi masalah kesehatan, yaitu Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, Strongyloides stercoralis dan cacing tambang (Necator americanus danAncylostoma sp). Infeksi cacing tambang masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia, karena menyebabkan anemia defisiensi besi dan hipoproteinemia(Onggowaluyo, 2001 cit Sumanto, 2010). Penyakit cacing tambang disebabkan oleh cacing Necator americanus, Ancylostoma duodenale, dan jarang disebabkan oleh Ancylostoma braziliensis, Ancylostoma caninum, Ancylostoma malayanum . Penyakitnya disebut juga ankilostomiasis, nekatoriasis, unseriasis (Pohan, 2009). 3. Patofisiologi Telur dihasilkan oleh cacing betina dan keluar memalui tinja. Bila telur tersebut jatuh ke tembat yang hangat, lembab dan basah, maka telur akan berubah menjadi larva yang infektif. Dan jika larva tersebut kontak dengan kulit, bermigrasi sampai ke paru-paru dan kemudian turun ke usus halus; di sini larva berkembang menjadi cacing dewasa (Pohan, 2009). Infeksi terjadi jika larva filariform menembus kulit. Infeksi A.duodenale juga mungkin dengan menelan larva filariform (Margono, 2006). Gejala Klinis Stadium larva: Bila banyak larva filariform sekaligus menembus kulit, maka terjadi perubahan kulit yang disebut grown itch. Perubahan pada paru biasanya ringan. Stadium dewasa: Gejala tergantung pada spesies, jumlah cacing, dan keadaan gizi penderita (Fe dan Protein). Tiap cacing A.duodenale menyebabkan kehilangan darah sebanyak 0,08-0,34 cc sehari. Biasanya terjadi anemia hipokrom mikrositer. Disamping itu juga terdapat eosinofilia. Bukti adanya toksin yang menyebabkan anemia belum ada. Biasanya tidak menyebabkan kematian, tetapi daya tahan berkurang dan prestasi kerja menurun (Margono, 2006). Rasa tidak enak pada perut, kembung, sering mengeluarkan gas (flatus), mencret-mencret merupakan gejala iritasi cacing terhadap usus halus yang terjadi lebih kurang dua minggu setelah larva mengadakan penetrasi ke dalam kulit. Anemia akan terjadi 10-20 minggu setelah infestasi cacing dan walaupun diperlukan lebih dari 500 cacing dewasa untuk menimbulkan anemia tersebut tentunya tergantung pada keadaan gizi pasien (Pohan, 2009). Diagnosis Untuk kepentingan diagnosis infeksi cacing tambang dapat dilakukan secara klinis dan epidemiologis. Secara klinis dengan mengamati gejala klinis yang terjadi pada penderita sementara secara epidemiologis didasarkan atas berbagai catatan dan informasi terkait dengan kejadian infeksi pada area yang sama dengan tempat tinggal penderita periode sebelumnya. Pemeriksaan penunjang saat awal infeksi (fase migrasi larva) mendapatkan: a) eosinofilia (1.000-4.000 sel/ml), b) feses normal, c) infiltrat patchy pada foto toraks dan d) peningkatan kadar IgE. Pemeriksaan feses basah dengan fiksasi formalin 10% dilakukan secara langsung dengan mikroskop cahaya. Pemeriksaan initidak dapat membedakan N. Americanus dan A. duodenale. Pemeriksaan yang dapatmembedakan kedua spesies ini ialah dengan faecal smear pada filter paper stripHarada-

4.

5.

6.

7.

Mori. Kadang-kadang perlu dibedakan secara mikroskopis antara infeksi larva rhabditiform (L2) cacing tambang dengan larva cacing strongyloides stercoralis(Montessor, 2004 cit Sumanto, 2010). Diagnosis pasti penyakit ini adalah dengan ditemukannya telur cacing tambang di dalam tinja pasien. Selain tinja, larva juga bisa ditemukan dalam sputum. Kadang-kadang terdapat darah dalam tinja (Pohan, 2009). Ankilostomiasis dan Anemia Cacing tambang memiliki alat pengait seperti gunting yang membantu melekatkan dirinya pada mukosa dan submukosa jaringan intestinal. Setelah terjadi pelekatan, otot esofagus cacing menyebabkan tekanan negatif yang menyedot gumpalan jaringan intestinal ke dalam kapsul bukal cacing. Akibat kaitan ini terjadi ruptur kapiler dan arteriol yang menyebabkan perdarahan. Pelepasan enzim hidrolitik oleh cacing tambang akan memperberat kerusakan pembuluh darah. Hal itu ditambah lagi dengan sekresi berbagai antikoagulan termasuk diantaranya inhibitor faktor VIIa (tissue inhibitory factor). Cacing ini kemudian mencerna sebagian darah yang dihisapnya dengan bantuan enzimhemoglobinase, sedangkan sebagian lagi dari darah tersebut akan keluar melalui saluran cerna. Terjadinya anemia defisiensi besi pada infeksi cacing tambang tergantung pada status besi tubuh dan gizi pejamu, beratnya infeksi (jumlah cacing dalam usus penderita), serta spesies cacing tambang dalam usus. Infeksi A. duodenale menyebabkan perdarahan yang lebih banyak dibandingkan N. americanus (Keshavarz, 2000). Pada daerah-daerah tertentu anemia gizi diperberat keadaannya oleh investasi cacing. terutama oleh cacing tambang. Cacing tambang menempel pada dinding usus dan memakan darah. Akibat gigitan sebagian darah hilang dan dikeluarkan dari dalam badan bersama tinja. Jumlah cacing yang sedikit belum menunjukkan gejala klinis tetapi bila dalam jumlah yang banyak yaitu lebih dari 1000 ekor maka. orang yang bersangkutan dapat menjadi anemia (Husaini, 1989 cit Rasmaliah, 2004). Penatalaksanaan Perawatan umum dilakukan dengan memberikan nutrisi yang baik; suplemen preparat besi diperlukan oleh pasien dengan gejala klinis yang berat, terutama bila ditemukan bersama-sama dengan anemia (Pohan, 2009). Obat untuk infeksi cacing tambang adalah Pyrantel pamoate (Combantrin, Pyrantin), Mebendazole (Vermox, Vermona, Vircid), Albendazole (Menkes, 2006). Anemia Definisi Anemia adalah suatu kondisi medis di mana jumlah sel darah merah atauhemoglobin kurang dari normal. Tingkat normal dari hemoglobin umumnya berbeda pada laki-laki dan perempuan. Untuk pria, anemia biasanya didefinisikan sebagai kadar hemoglobin kurang dari 13,5 gram/100 ml dan pada wanita sebagai hemoglobin kurang dari 12,0 gram/100 ml. Definisi ini dapat sedikit berbeda tergantung pada sumber dan referensi laboratorium yang digunakan (Nabili, 2012). Etiologi Anemia akibat kehilangan darah Sel darah merah dapat hilang melalui perdarahan, yang dapat terjadi perlahan-lahan selama jangka waktu yang panjang, dan sering bisa tidak terdeteksi. Jenis perdarahan kronis umumnya hasil dari berikut ini: Gastrointestinal kondisi seperti maag, wasir, gastritis (radang lambung), dan kanker. Penggunaan obat anti-inflammatory drugs (NSAID) seperti ibuprofen, aspirin, yang dapat menyebabkan borok dan gastritis. Menstruasi dan persalinan pada wanita, terutama jika perdarahan menstruasi yang berlebihan dan jika ada kehamilan kembar Anemia Akibat Penurunan Produksi Darah atau rusak Red Cell Dengan jenis anemia, tubuh dapat memproduksi sel darah terlalu sedikit atau sel-sel darah tidak berfungsi dengan benar. Dalam kedua kasus, anemia dapat hasil. Sel darah merah mungkin rusak atau menurun karena kelainan sel darah merah atau kurangnya suatu mineral dan vitamin yang dibutuhkan untuk sel darah merah berfungsi dengan benar. Kondisi yang terkait dengan penyebab anemia adalah sebagai berikut:

B. 1.

2. a.

1. 2. 3. b.

1. 2. 3. 4. 5.

Anemia sel sabit Anemia defisiensi besi Kekurangan vitamin Sumsum tulang dan masalah sel induk Kondisi kesehatan lainnya (Anonim, 2012).

3. a. b. c. d. e. a. b. c.

4.

a. b. c. a. b. c. d. e. f.

Manifestasi Klinis Beberapa pasien dengan anemia tidak memiliki gejala. Lainnya dengan anemia mungkin merasa: Lelah Mudah lelah Tampak pucat Palpitasi (perasaan jantung berdebar-debar) Menjadi sesak napas Tambahan gejala termasuk: Rambut rontok Malaise (badan terasa tidak enak badan) Memburuknya masalah jantung Perlu dicatat bahwa jika anemia sudah ada sejak lama (anemia kronis), tubuh dapat menyesuaikan diri dengan kadar oksigen rendah dan orang tersebut mungkin tidak merasa berbeda kecuali anemia menjadi parah. Di sisi lain, jika anemia terjadi secara cepat (anemia akut), pasien mungkin mengalami gejala yang signifikan relatif cepat(Nabili, 2012). Diagnosis Langkah pertama dalam diagnosis apapun adalah pemeriksaan fisik untukmenentukan apakah pasien memiliki gejala anemia dan komplikasi. Karena anemia bisa menjadi gejala pertama dari penyakit serius, menentukan penyebabnya sangat penting.Ini mungkin sulit, khususnya pada orang tua, kurang gizi, atau orang dengan penyakit kronis, anemia dapat disebabkan oleh satu faktor atau lebih. Sebuah riwayat kesehatan,pribadi, dan asupan makanan harus dilaporkan (Simon, 2009). Hitung darah lengkap. Tingkat keparahan anemia dikategorikan oleh rentang konsentrasi hemoglobin berikut: Anemia ringan dianggap ketika hemoglobin adalah antara 9,5-13,0 g / dL Anemia Sedang dipertimbangkan ketika hemoglobin adalah antara 8,0-9,5 g / dL Anemia berat dianggap untuk konsentrasi hemoglobin di bawah 8,0 g / dL Hematokrit. Rentang anemia untuk hematokrit umumnya jatuh di bawah: Anak-anak usia 6 bulan - 5 tahun: Di bawah 33% Anak-anak usia 5 tahun - 12 tahun: Di bawah 35% Anak-anak usia 12 tahun - 15 tahun: Di bawah 36% Dewasa pria: Di bawah 39% Dewasa wanita yang tidak hamil: Di bawah 36% Ibu hamil Dewasa: Di bawah 33% Pengukuran hemoglobin lain seperti hemoglobin sel hidup rata-rata dan berarti konsentrasi hemoglobin sel hidup (MCHC) juga dapat dihitung. Nilai MCV (MCV) adalah pengukuran ukuran rata-rata sel darah merah. MCV meningkat ketika sel darah merah lebih besar dari normal (makrositik) dan menurun ketika sel darah merah lebih kecil dari normal (mikrositik). Sel makrositik dapat menjadi tanda anemia yang disebabkan oleh kekurangan vitamin B12, sedangkan sel mikrositik adalah tanda kekurangan zat besi anemia atau thalassemia (Simon, 2009).