Anda di halaman 1dari 11

Hakekat Kurikulum Pendidikan Islam Secara etimologi kurikulum berasal dari bahasa Yunani, curir yang artinya pelari

dan curure yang berarti jarak yang harus ditempuh oleh pelari. Istilah ini pada mulanya digunakan dalam dunia olahraga yang berarti a little racecourse (suatu jarak yang harus ditempuh dalam pertandingan olahraga). Sementara pendapat lain mengemukakan bahwa kurikulum merupakan sebuah arena pertandingan tempat pelajar bertanding untuk menguasai pelajaran guna mencapai gelar. Berdasarkan pada istilah ini, maka dalam konteks pendidikan kurikulum dapat diartikan sebagai circe of instruction yakni suatu lingkungan pengajaran dimana guru dan peserta didik terlibat di dalamnya.1 Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa kurikulum sebagai produk (hasil pengembangan kurikulum), kurikulum sebagai program (alat yang dilakukan sekolah untuk mencapai tujuan), dan kurikulum sebagai hal-hal yang diharapkan akan dipelajari oleh peserta didik (meliputi pengetahuan, sikap dan ketrampilan tertentu). Selain itu kurikulum juga dipandang sebagai suatu program pendidikan yang direncanakan dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan pendidikan. Ketiga pengertian ini merupakan konsep dasar dari kurikulum pendidikan yang mempunyai tujuan pendidikan yang sama. Kurikulum dapat juga diartikan menurut fungsinya : a. Kurikulum sebagai program studi; kurikulum sebagai perangkat mata pelajaran yang mampu

dipelajari oleh peserta didik. b. Kurikulum sebagai konten; kurikulum adalah sebagai data atau informasi yang tertera dalam buku-buku kelas tanpa dilengkapi dengan data atau informasi lain yang memungkinkan timbulnya belajar. c. Kurikulum sebagai kegiatan terencana; kurikulum adalah merupakan kegiatan yang

direncanakan tentang hal-hal yang akan diajarkan dan dengan cara bagaimana hal itu dapat diajarkan dengan berhasil. d. Kurikulum sebagai hasil belajar;kurikulum sebagai seperangkat tujuan yang utuh untuk

memperoleh suatu hasil tertentu tanpa menspesifikasi atau menjelaskan secara terperinci caracara yang dituju untuk memperoleh hasil tersebut, atau seperangkat hasil belajar yang direncanakan dan diinginkan.

e.

Kurikulum sebagai reproduksi cultural; kurikulum sebagai transfer dan refleksi butuir-butir

kebudayaan masyarakat, agar dimiliki dan dipahami anak-anak generasi muda masyarakat tersebut. f. Kurikulum sebagai pengalaman belajar; kurikulum sebagai keseluruhan pengalaman belajar

yang direncanakan di bawah pimpinan sekolah. g. Kurikulum sebagai produksi; kurikulum sebagai seperangkat tugas yang harus dilakukan mencapai hasil yang ditetapkan terlebih dahulu.

untuk

Kurikulum juga bisa diartikan sebagai sejumlah pengalaman pendidikan, kebudayaan, sosial, olahraga dan kecakapan yang disediakan oleh sekolah bagi murid-muridnya dengan maksud untuk menolongnya berkembang secara menyeluruh dalam segala segi dalam mengubah tingkah laku mereka sesuai dengan tujuan pendidikan.4 Adapun secara terminologis, kurikulum adalah a plan for learning yang disiapkan dan direncanakan oleh para ahli pendidikan untuk pelajaran anak didik baik berlangsung di dalam kelas maupun di luar kelas. Dari uraian di atas dapat dikemukakan bahwa kurikulum pendidikan Islam pada hakekatnya merupakan kegiatan yang mencakup berbagai rencana kegiatan peserta didik yang terperinci berupa bentuk-bentuk materi pendidikan, saran-saran strategi belajar mengajar dan hal-hal yang mencakup pada kegiatan yang bertujuan mencapai tujuan yang diinginkan dengan mengacu pada nilai-nilai ajaran Islam. Adapun ciri-ciri kurikulum pendidikan Islam adalah sebagai berikut: 1. Menonjolkan tujuan agama dan akhlak pada berbagai tujuan, kandungan, metode dan

tehniknya yang bercorak agama. 2. Memperhatikan dan membimbing segala pribadi peserta didik baik dari sisi intelektual,

psikologis, sosial maupun spiritualnya. 3. Memperhatikan keseimbangan berbagai aspek ilmu pengetahuan. 4. Kurikulum yang disusun selalu disesuaikan denganb bakat dan minat peserta didik. 5. Bersifat dinamis dan fleksibel yakni sanggup menerima perkembangan dan perubahan apabila dipandang perlu.5

B. Asas Kurikulum Pendidikan Islam Suatu kurikulum tak terkecuali kurikulum pendidikan Islam harus mengandung beberapa unsur utama, seperti tujuan, isi mata pelajaran, metode mengajar dan penilaian.Kesemua unsur tersebut harus tersusun dan mengacu pada sumber kekuatan yang menjadi landasan dalam pembentukannya. Sumber kekuatan tersebut dikatakan sebagai asas-asas pembentuk kurikulum pendidikan. Muhammad al Thoumy al Syaibany mengemukakan asas-asas pembentuk kurikulum sebagai berikut: 1. Asas religius/agama

Kurikulum pendidikan Islam yang diterapkan berdasarkan nilai-nilai ilahiyah sehingga dengan adanya dasar ini kurikulum diharapkan dapat menolong peserta didik untuk membina iman yang kuat, teguh terhadap ajaran agama, berakhlak mulia dan melengkapinya dengan ilmu yang bermanfaat di dunia dan akhirat. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW yang artinya sesungguhnya aku telah meninggalkan untuk kamu, yang jika kamu berpegang teguh kepadanya, maka kamu tidak akan tersesat selama-lamanya yaitu kitabullah dan sunnah nabiNya (HR. Hakim). 2. Asas falsafah

Asas ini memberikan arah tujuan pendidikan Islam. Dengan dasar filosofis maka kurikulum akan mengandung suatu kebenaran terutama kebenaran di bidang nilai-nilai sebagai pandangan hidup yang diyakini sebagai suatu kebenaran. 3. Asas Psikologis

Asas ini mempertimbangkan tahapan kejiwaan peserta didik, yang berkaitan dengan perkembangan jasmaniah, intelektual, bahasa, emosi dan lain-lain, sehingga dengan landasan ini kurikulum bisa memberikan peluang belajar bagi anak-anak dan bagaimana belajar itu berlangsung, serta dalam keadaan bagaimana anak itu bisa memberikan hasil yang sebaikbaiknya. 4. Asas Sosiologis

Kurikulum diharapkan turut serta dalam proses kemasyarakatan terhadap peserta didik, penyesuaian mereka dengan lingkungannya, pengetahuan dan kemahiran yang akan menambah produktifitas dan keikutsertaan mereka dalam membina umat dan bangsanya.6

Selanjutnya perlu ditekankan bahwa satu asas dengan asas lainnya merupakan suatu kesatuan yang integral sehingga dapat membentuk kurikulum pendidikan Islam yang terpadu, yaitu kurikulum yang relevan dengan kebutuhan pengembangan anak didik dalam unsur ketauhidan, keagamaan, pengembangan pribadinya sebagai individu dan pengembangannya dalam kehidupan sosial. C. Prinsip-Prinsip Kurikulum Pendidikan Islam Pada tingkat dasar, penyusunan struktur kurikulum sedapat mungkin bersifat mendasar, umum, terpadu, dan merata bagi semua anak didik yang mengikutinya.Untuk menentukan isi kurikulum pendidikan Islam dibutuhkan syarat yang perlu diajukan dalam perumusannya, yaitu; 1. Materi yang tersusun tidak menyalahi fitrah manusia. 2. Adanya Relevansi Dengan Tujuan Pendidikan Islam. 3. Sesuaikan dengan tingkat perkembangan dan usia peserta didik. 4. Perlunya membawa anak didik kepada objek empiris, praktik langsung, dan mempunyai

fungsi pragmatis. Sehingga mereka mempunyai ketrampilan- ketrampilan yang riil. 5. Penyusunan kurikulum yang bersifat integral, terorganisir dan terlepas dari segala

kontradiksi antara materi satu dengan materi yang lain. 6. Materi yang disusun mempunyai relevansi dengan masalah- masalah yang mutakhir, yang

sedang dibicarakan dan relevan dengan tujuan negara setempat. 7. Adanya metode yang mampu menghantar tercapainya materi pelajaran dengan

memperhatikan perbedaan masing- masing individu. 8. Materi yang disusun mempunyai relevansi dengan tingkat perkembangan peserta didik. 9. Memperhatikan aspek - aspek sosial. 10. Materi yang disusun mempunyai pengaruh positif terhadap peserta didik. 11. Memperhatikan kepuasan pembawaan fitrah, seperti memberikan waktu istirahat dan refresing untuk menikmati suatu kesenian. 12. Adanya ilmu alat untuk mempelajari ilmu- ilmu lain. Adapun mengenai penyusunan kurikulum pendidikan Islam sendiri harus menganut prinsip-prinsip berikut: 1. Kurikulum pendidikan Islam harus memiliki pertautan sempurna dengan agama. Oleh karena itu, setiap hal yang berkaitan dengan kurikulum, termasuk filsafat, tujuan, kandungan, metode pembelajaran serta hubungan-hubungan yang berlaku dalam lembaga pendidikan Islam haruslah

berdasarkan pada agama dan akhlak Islam serta terisi dengan jiwa ajaran Islam. Prinsip ini harus tetap dijaga bukan hanya terhadap ilmu syariat melainkan pada segala hal yang terkandung dalam kurikulum termasuk ilmu akal dan segala macam kegiatan dan pengalaman. 2. Menyeluruh pada tujuan-tujuan kurikulum yang meliputi segala aspek pribadi peserta didik. Oleh karena itu apabila segala tujuan harus meliputi harus meliputi segala kepribadian peserta didik, maka segala kandungannya harus meliputi segala yang berguna untuk membina pribadi peserta didik. 3. Keseimbangan relatif antara tujuan dan kandungan kurikulum. Jika kurikulum memberi

perhatian besar kepada perkembangan spiritual dan ilmu-ilmu syariat, maka aspek spiritual itu tidak boleh melampaui aspek penting yang lain dalam kehidupan. 4. Kurikulum berkaitan dengan bakat, minat, kemampuan dan kebutuhan peserta didik.

Bahkan tidak hanya itu, kurikulum pendidikan Islam juga berhubungan dengan alam sekitar, fisik dan sosial di mana peserta didik hidup dan berinteraksi untuk memperoleh pengetahuan, kemahiran, pengalaman dan sikapnya. 5. Pemeliharaan perbedaan individu diantara para peserta didik dalam bakat, minat,

kemampuan, kebutuhan dan segala masalahnya. Di samping itu juga menjaga perbedaan jenis kelamin, karena semua itu dapat membuahkan kesesuaian kurikulum dengan segala hal yang dibutuhkan peserta didik. 6. Menerima perkembangan dan perubahan sesuai dengan perkembangan zaman dan tempat. Islam menjadi sumber falsafah, prinsip-prinsip dan dasar kurikulum. Oleh karena itu yang berperan dalam pengembangan dan merubah kurikulum pendidikan Islam ini adalah semua umat Islam, jika dipandang adanya kemaslahatan bagi masyarakat apabila perubahan dilakukan. 7. Berkaitan dengan berbagai mata pelajaran dengan pengalaman-pengalaman dan aktifitas pengalamannya.7

yang terkandung dalam kurikulum. Kurikulum pendidikan Islam sangat tidak setuju terhadap kurikulum yang tidak tersusun mata pelajaran dan

D. Isi Kurikulum Pendidikan Islam Materi pembelajran yang terdapat dalam kurikulum pendidikan Islam pada masa sekarang nampaknya semakin luas. Hal ini karena dipicu oleh kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya, selain juga semakin beratnya beban yang ditanggung oleh pihak sekolah sebagai penyelenggata pendidikan. Oleh karena tuntutan perkembangan yang demikian pesatnya maka para perancang kurikulum pendidikan Islam juga dituntut untuk memperluas cakupan yang

terkandung dalam kurikulum pendidikan Islam, antara lain berkaitan dengan tujuan yang ingin dicapai dalam proses pembelajaran dan pendidikan. Sebagaimana dikutip oleh alAbrasyi, bahwa Kurikulum Pendidikan Islam terbagi dalam dua tingkatan, yaitu:Tingkatan pemula (manhaj ibtidai) yang mencakup materi kurikulum pemula difokuskan pada pembalajaran al Quran dan as Sunnah, dan tingkatan atas (manhaj ali) yakni kurikulum yang mempunyai dua kualifikasi, yaitu ilmu-ilmu yang berkaitan dengan dzatnya sendiri , seperti ilmu syariah yang mencakup fiqh, tafsir, hadits, ilmu kalam dan ilmu ilmu yang ditujukan untuk ilmu-ilmu lain, dan bukan berkaitan dengan dzatnya sendiri, seperti, ilmu bahasa, matematika dan mantiq (logika).8 AlGhazali membagi isi Kurikulum Pendidikan Islam dengan empat kelompok dengan mempertimbangkan jenis dan kebutuhan ilmu itu sendiri, yaitu : 1). Ilmu- ilmu Al-Quran dan ilmu-ilmu agama, misalnya fiqh, tafsir dan sebagainya, 2). Ilmu bahasa sebagai alat untuk mempelajari ilmu al Quran dan ilmu agama. 3). Ilmu-ilmu yang fardlu kifayah, seperti matematika, kedokteran, industri, pertanian dan lain-lain. 4). Ilmu-ilmu beberapa cabang ilmu filsafat. Sedangkan Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakir mengambil isi Kurikulum Pendidikan Islam yang berpijak pada QS.Fushshilat ayat 53 yang artinya: Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaa) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri (anfus), sehingga jelaslah bagi mereka bahwa alQuran itu adalah benar.Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagikamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu? Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri (anfus), sehingga jelaslah bagi mereka bahwa alQuran itu adalah benar.Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagikamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu? Dalam ayat ini terkandung tiga isi Kurikulum Pendidikan Islam, yaitu: 1 . Isi kurikulum yang berorientasi pada ketuhanan Ilmu ini meliputi ilmu kalam, fiqh, akhlaq/tasawuf, ilmu-ilmu tentang al Quran dan lain- lain. 2. Isi kurikulum yang berorientasi pada kemanusiaan.

Ilmu ini berkaitan dengan perilaku manusia, baik sebagai makhluk individu maupun sosial, berbudaya dan berakal.Ilmu ini meliputi ilmu sejarah, politik, bahasa, filsafat, psikologi dan lainlain. 3. Isi kurikulum yang berorientasi padakealaman. Ilmu ini berkaitan dengan alam semesta, seperti : ilmu fisika , kimia, pertanian, perikanan, biologi danlain-lain.9 Dasar Kurikulum Dasar kurikulum adalah kekuatan-kekuatan utama yang mempengaruhi dan membentuk materi kurikulum, susunan atau organisasi kurikulum. dasar kurikulum disebut juga sumber kurikulum atau determinan kurikulum (penentu). Herman H. Horne memberikan dasar kurikulum dengan tiga macam, yaitu:7 1. Dasar psikologis, yang digunakan untuk mengetahui kemampuan yang diperoleh dari pelajar dan kebutuhan peserta didik (the ability and needs of children). 2. Dasar sosiologis, yang digunakan untuk mengetahui tuntutan sah dari masyarakat (the legitimate demands of society) 3. Dasar filosofis, yang digunakan untuk mengetahui keadaan alam semesta tempat kita hidup (the kind of universe in which we li live) 3. Fungsi Kurikulum Pada dasarnya kurikulum itu berfungsi sebagai pedoman atau acuan. Bagi guru, kurikulum itu berfungsi sebagai pedoman dalam melaksanakan proses pembelajaran. Bagi kepala sekolah dan pengawas, kurikulum itu berfungsi sebagai pedoman dalam melaksanakan supervisi atau pengawasan. Bagi orang tua, kurikulum itu berfungsi sebagai pedoman dalam membimbing anaknya belajar di rumah. Bagi masyarakat, kurikulum itu berfungsi sebagai pedoman untuk memberikan bantuan bagi terselenggaranya proses pendidikan di sekolah. Berkaitan dengan fungsi kurikulum bagi siswa sebagai subjek didik, terdapat enam fungsi kurikulum, yaitu:8

1. Fungsi Penyesuaian (the adjustive or adaptive function) Fungsi Penyesuaian mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu mengarahkan siswa agar memiliki sifat well adjusted yaitu mampu menyesuaikan dirinya dengan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial. Lingkungan itu sendiri senantiasa mengalami perubahan dan bersifat dinamis. Karena itu, siswa pun harus memiliki kemam puan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi di lingkungannya. 2. Fungsi Integrasi (the integrating function) Fungsi Integrasi mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu menghasilkan pribadi-pribadi yang utuh. Siswa pada dasarnya merupakan anggota dan bagian integral dari masyarakat. Oleh karena itu, siswa harus memiliki kepribadian yang dibutuhkan untuk dapat hidup dan berintegrasi dengan masyarakatnya. 3. Fungsi Diferensiasi (the differentiating function) Fungsi Diferensiasi mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu memberikan pelayanan terhadap perbedaan individu siswa. Setiap siswa memiliki perbedaan, baik dari aspek fisik maupun psikis, yang harus dihargai dan dilayani dengan baik. 4. Fungsi Persiapan (the propaedeutic function) Fungsi Persiapan mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu mempersiapkan siswa untuk melanjutkan studi ke jenjang pendidikan berikutnya. Selain itu, kurikulum juga diharapkan dapat mempersiapkan siswa untuk dapat hidup dalam masyarakat seandainya karena sesuatu hal, tidak dapat melanjutkan pendidikannya. 5. Fungsi Pemilihan (the selective function) Fungsi Pemilihan mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu memberikan kesempatan kepada siswa untuk memilih program program belajar yang sesuai dengan kemampuan dan minatnya. Fungsi pemilihan ini sangat erat hubungannya dengan fungsi diferensiasi, karena pengakuan atas adanya perbedaan individual siswa berarti pula

diberinya kesempatan bagi siswa tersebut untuk memilih apa yang sesuai dengan minat dan kemampuannya. Untuk mewujudkan kedua fungsi tersebut, kurikulum perlu disusun secara lebih luas dan bersifat fleksibel. 6. Fungsi Diagnostik (the diagnostic function) Fungsi Diagnostik mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu membantu dan mengarahkan siswa untuk dapat memahami dan menerima kekuatan (potensi) dan kelemahan yang dimilikinya. Jika siswa sudah mampu memahami kekuatan kekuatan dan kelemahan kelemahan yang ada pada dirinya, maka diharapkan siswa dapat mengembangkan sendiri potensi kekuatan yang dimilikinya atau memperbaiki kelemahankelemahannya.

D.Aspek-aspek 1.tujuan pendidikan

Kurikulum yang akan dicapai

Pendidikan oleh kurikulum

Islam itu.

2.pengetahuan, ilmu-ilmu, data, aktivitas-aktivitas, dan pengalaman yangmenjadi sumber terbentuknya kurikulum.

3.metode dan cara mengajar dan bimbingan yang diikuti oleh pesrta didik untuk mendorong mereka kearah yang dikehendaki oleh tujuan yang dirancang.

4.metode dan cara penelitian yang digunakan dalam mengukur hasil proses pendidikan yang dirancang dalam kurikulum. E.Dasar Umum Yang Menjadi Landasan Kurikulum Pendidikan Islam

Dengan penjelasan yang kami utaraka dimuka, maka bias ditarik sebuah kesimpulan, sejumlah a)Agama Mengenai dasar yang pertama ini, maka segala sistem yang ada dalam kehidupan masyarakat termasuk sistem pendidikan harus meletakkan dasar falsafah, tujuan, dan kurikulumnya pada agama Islam atau syariat Islam dan sesuatu yang terkandung didalamnya. Sedangkan segala sember dari semuanya adalah Kitab Allah dan Sunnah Nabi SAW. Setelah kedua sumber ini maka barulah muncul beberapa sumber yang lainnya yang berlandasan pada keduanya, baik itu menguraikan apa yang terkandung didalamnya atau memperluas hokum-hukum furu dari dasardasar dan hukum-hukum umum yang terkandung pada keduanya. dasar umum bagi krikulum pendidikan islam yaitu:

Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan-tujuan ini, maka kurikulum dalam pendidikan islam itu harus menyeluruh kandungan-kandungannya, melebihi ilmu-ilmu agama dan alat-akatnya. Dari uraian tersebut kurikulum pandidikan islam harus mengandung segala ilmu yang bermanfaat dalam agama dan dunia. Islam tidak menghalangi seseorang untuk mempelajari ilmu manapun yang itu berguna, selama kajian itu diterapkan dalam dalam akidah dan akhlak. b)Falsafah Suatu sistem yang mempunyai watak yang berdiri sendiri dan cirri-ciri yang khas yang memperoleh wujudnya dari wahyu Tuhan, bimbingan Nabi yang utama, dan peninggalan pemikiran c)Psikologis Disamping dua dasar kurikulum pendidikan islam itu, adala lagi dasar ketiga yang sangat berkaitan dengan perkembangan peserta didik, kematangan bakat-bakat, intelek tual, emosi, kebutuhan-kebutuhan, keinginan dan minat, kecakapan yang bermacam-macam, dan pemikiran merekan yaitu dasar psikologis. Semua itu tidak diabaikan oleh kurikulum pendidikan Islam dan metode-metode pengajaran. Bukan hanya itu, para pendidik selalu mengajak dan menghargai hal itu dalam menentukan kurikulum pendidikan Islam yang sesuai dengan peserta didik.Sedangkan dalam kurikulum pedidikan Islam sendiri, juga mengajak dan menggalakkan dalam membantu perkembangan peserta didik yang sesuai dengan kematangan dan bakatnya masing-masing. Dalam pemikirn Islam tidak melarang mendalami dan mengkaji psikologi ini pada peserta didik dinegeri Islam mapun, selagi sesui dengan pertimbangan-pertimbangan dan tujuan-tujuan kurikulum, d)Sosial Social juga menjadi dasar utama dalam kurikulum pendidikan Islam yang mengandung cirri-ciri masyarakat Islam dalam pendidikan dan dan kebudayaannya yang bersifat umu atau khusus. Dari penjelasan tersebutu diatas maka jelaslah bahawa kurikulum pendidikan islam itu diterapkan dalam kerangka masyarakat yang memiliki identitas khas dan kepribadian budayanya. Oleh karena itu kurikulum pendidikan Islam berkewajiban untuk menguatkan hubungannya dengan masyarakat dan kebudayaannya dalam menentukan tujuan-tujuannya, penyusunan kurikulumnya, dan metode-metode pengajarannya. kandungannya, serta susunan dan pelaksanaannya. Islam yang benar disepanjang zaman dan waktu.

Sedangkan tugas dari kurikulum pendidikan Islam yang berkaitan dengan social, yaitu turut serta dalam proses pemasyarakatan bagi peserta didik, penyesuaian mereka dengan masyarakat Islam

dimana mereka hidup, memperoleh kebiasaan dan sikap yang baik pada masyarakatnya, serta cara berfikir dan tingkah laku yang diinginkan, cara bergaul yang sehat, sikap kerjasama dan menghargai F.Tujuan Kurikulum Pendidikan tanggungjawab. Islam

Bahan pengajaran yang terdapat dalam kurikulum pendidikan islam pada masa sekarang ini nampaknya semakin luas. Hal tersebut karena dipicu oleh kemajuan beberapa ilmu pengetahuan dan kebudayaan , disamping itu juga karena bertambahnyha beban yang harus ditanggung oleh pihak sekolah.

Oleh kerena tuntutan perkembangan yang sedemikian rupa, maka para perancang kurikulum pendidikan Islam memperluas cakupan yang dikandung oleh kurikulum tersebut, antara lain yang berkenaan dengan tujuan yang ingin dicapai oleh proses belajar mengajar.

Berdasarkan penjelasan diatas maka kurikulum pendidikan Isalam mempnyai tujuan untuk mencapai perkembangan yang menyeluruh dan perpadu dengan kepribadian para peserta didik. Disamping itu kurikulum pendidikan Islam juga mempunyai tujuan untuk memberi sumbangan dalam perkembangan masyarakat Islam, memperkuat keprinbadian islam yang berdiri sendiri.