Anda di halaman 1dari 9

INNATE IMMUNITY SEBAGAI LINI PERTAMA PERTAHANAN TUBUH 1.

Pendahuluan Manusia terpapar jutaan patogen potensial setiap hari, melalui kontak, konsumsi (ingesti) dan inhalasi. Kemampuan tuan rumah (inang) dalam hal ini manusia untuk

mempertahankan diri terhadap infeksi, salah satunya adalah melalui sistem imun adaptif atau didapat yang akan mengenali spesifik patogen pada infeksi pertama pertama dan menghancurkannya apabila menyerang kembali. Tetapi respon imun adaptif pada paparan pertama terhadap patogen baru, timbulnya lambat, karena harus mengaktifkan terlebih dulu dan memperbanyak klonal sel B dan sel T spesifik, hal ini memerlukan waktu sekitar 1 minggu agar respon tersebut efektif. Sebaliknya bakteri dapat berlipat ganda menjadi 20 juta dalam1 jam pertama, sehingga terjadi a full-blown infection, dalam 1 hari. Karena itu pada hitungan jam dan hari kritis pertama paparan suatu patogen baru, mekanisme pertahanan tubuh terhadap infeksi bergantung pada respon imun non spesifik disebut juga komponen non adaptif atau innate, atau imunitas alamiah, disebut juga respon imun non spesifik. Respon imun non spesifik tersebut bergantung pada sekelompok protein dan sel fagositik yang mengenali struktur patogen dan dengan cepat diaktifkan untuk membantu menghancurkan patogen tersebut . Dalam makalah ini akan dibahas mengenai imunitas innate baik dari segi meknisme, komponen sistem imun alamiah dan mekanismenya.

2. Sistim imun Sistem imun atau sistem pertahanan tubuh berkembang di bawah tekanan selektif infeksi mikroorganisme. Akibatnya, semua organisme multiselular mengembangkan berbagai mekanisme pertahanan yang memiliki kapasitas untuk dapat dirangsang oleh infeksi dan melindungi tuan rumah (inang) dengan menghancurkan invasi mikroba dan menetralkan faktor virulensinya. Mekanisme pertahanan tubuh terdiri atas mekanisme pertahanan non spesifik dan mekanisme pertahanan spesifik. Mekanisme pertahanan non spesifik disebut juga komponen nonadaptif atau innate, atau imunitas alamiah, artinya mekanisme pertahanan yang tidak ditujukan hanya untuk satu jenis antigen, tetapi untuk berbagai macam antigen. Imunitas alamiah sudah ada sejak bayi lahir dan terdiri atas berbagai macam elemen non spesifik. Jadi bukan merupakan pertahanan

khusus untuk antigen tertentu. Mekanisme imunitas innate juga dikenal sebagai sistem kekebalan tubuh bawaan/alamiah, menggunakan germline-encoded reseptor (reseptor

penanda germinal) untuk mengenali mikroba patogen. Hal ini membedakan sistem kekebalan tubuh bawaan dengan sistem kekebalan tubuh adaptif. Mekanisme pertahanan tubuh spesifik atau disebut juga komponen adaptif atau imunitas didapat adalah mekanisme pertahanan yang ditujukan khusus terhadap satu jenis antigen, karena itu tidak dapat berperan terhadap antigen jenis lain. Bedanya dengan pertahanan tubuh non spesifik adalah bahwa pertahanan tubuh spesifik harus kontak atau ditimbulkan terlebih dahulu oleh antigen tertentu, baru ia akan terbentuk. Sedangkan pertahanan tubuh non spesifik sudah ada sebelum ia kontak dengan antigen. Bila pertahanan non spesifik belum dapat mengatasi invasi mikroorganisme maka imunitas spesifik akan terangsang. Mekanisme pertahanan spesifik adalah mekanisme pertahanan yang diperankan oleh sel limfosit, dengan atau tanpa bantuan komponen sistem imun lainnya seperti sel makrofag dan komplemen. Dilihat dari caranya diperoleh maka mekanisme pertahanan spesifik disebut juga respons imun didapat. Imunitas spesifik hanya ditujukan terhadap antigen tertentu yaitu antigen yang merupakan liganya. Di samping itu, respons imun spesifik juga menimbulkan memori imunologis yang akan cepat bereaksi bila host terpajan lagi dengan antigen yang sama di kemudian hari. Pada imunitas didapat, akan terbentuk antibodi dan limfosit efektor yang spesifik terhadap antigen yang merangsangnya, sehingga terjadi eliminasi antigen. Sel yang berperan dalam imunitas didapat ini adalah sel yang mempresentasikan antigen (APC = antigen presenting cell = makrofag) sel limfosit T dan sel limfosit B. Sel limfosit T dan limfosit B masing-masing berperan pada imunitas selular dan imunitas humoral. Sel limfosit T akan meregulasi respons imun dan melisis sel target yang dihuni antigen. Sel limfosit B akan berdiferensiasi menjadi sel plasma dan memproduksi antibodi yang akan menetralkan atau meningkatkan fagositosis antigen dan lisis antigen oleh komplemen, serta meningkatkan sitotoksisitas sel yang mengandung antigen yang dinamakan proses antibody dependent cell mediated cytotoxicy (ADCC). Respons imun adalah respons tubuh berupa suatu urutan kejadian yang kompleks terhadap antigen, untuk mengeliminasi antigen tersebut. Respons imun ini dapat melibatkan berbagai macam sel dan protein, terutama sel makrofag, sel limfosit, komplemen, dan sitokin yang saling berinteraksi secara kompleks.

Tabel 1. Perbedaan imunitas Innate dan adaptif

Imunitas innate imunitas adaptif 1. Positif : selalu siap, respon cepat, tidak Negatif: Tidak siap bila belum ada paparan perlu paparan sebelumnya Respon lambat Negatif : memori (-) Positif : repon intens, perlindungan lebih baik pada paparan berikutnya 2. Natural/ innate/ alamiah Adaptif, aquired/ didapat 3. Pertahanan terdepan: primer Memori : sekunder 4. Spesifisitas untuk semua Spesifisitas untuk mikroorganisme yang mikroorganisme merangsang 5. Resistensi tidak berubah oleh infeksi Resistensi membaik oleh infeksi berulang 6. Komponen terbentuk sejak lahir Komponen terbentuk oleh antigen 7. Terdiri dari mekanisme pertahanan Terdiri dari meknisme pertahanan Humoraldan Fisik, mekanik, biokimia, seluler seluler 8. Sel utama: fagosit, sel NK, Sel utama : limfosit B dan limfosit T 9. Molekul : lisozim, komplemen, CRP, Molekul : antibodi, sitokin IFN

3. Mekanisme imunitas alamiah/ non spesifik atau innate Imunitas innate/alamiah dapat dibagi menjadi Immediate innate immunity dan Early induced innate immunity a. Immediate innate immunity (Imunitas alamiah langsung) Imunitas alamiah lansung dimulai segera dalam waktu 0 - 4 jam setelah terpapar agen infeksi, berperan sebagai larutan molekul antimikroba enzim dan peptida protein sistem komplemen Barier / pertahanan anatomi terhadap infeksi, mekanisme mekanik penghapusan (removal) mikroba, dan antagonisme bakteri oleh bakteri flora normal antimikroba yang beredar dalam darah, cairan

jaringan ekstraseluler, dan disekresikan oleh sel-sel epitel. Termask antara lain :

b. . Early induced innate immunity (Imunitas alamiah induksi dini ) Imunitas alamiah yang diinduksi mulai 4- 96 jam setelah terpapar agen infeksi menular dan melibatkan sel-sel pertahanan sebagai akibat pola molekul terkait patogen atau pathogen-associated molecular patterns (PAMPs) yang berikatan dengan pola reseptor pengenal atau pattern-recognition receptors (PRRs ) Sel-sel pertahanan yang terlibat antara lain : Sel fagositik : leukosit seperti neutrofil, eosinofil, dan monosit, jaringan sel fagositik dalam jaringan seperti makrofag sel yang melepaskan mediator inflamasi: sel-sel inflamasi di jaringan seperti makrofag

dan sel mast, leukosit seperti basofil dan eosinofil, dan sel pembunuh alami (sel NK sel) Tidak seperti kekebalan adaptif, kekebalan bawaan tidak mengenali setiap antigen. Sebaliknya, ia dirancang untuk mengenali molekul bersama kelompok mikroba terkait yang penting untuk kelangsungan hidup organisme tersebut dan tidak ditemukan pada sel

mamalia. Molekul mikroba yang unik tersebut dinamakan pola molekul pola molekul terkait patogen atau PAMPs, dan termasuk diantaranya molekul lipopolisakarida (LPS) dari

dinding sel bakteri gram negatif, peptidoglikan dan asam lipotehoik dari dinding sel bakteri gram positif, mannose (komponen gula terminal pada glikolipid mikroba dan glikoprotein yang jarang terdapat pada manusia), DNA bakteri dan virus, flagellin bakteri, asam amino N-formilmetionin pada protein bakteri, RNA beruntai ganda dan beruntai tunggal dari virus, dan glukan dinding sel jamur. Karena PAMPs merupakan molekul semuamikroba,bukan hanya yang patogen, kadang PAMPs disebut juga sebagai microbe-associated molecular patterns (MAMPs.) Sebagian besar sel pertahanan memiliki pola-pengenalan reseptor atau PRRS untuk

PAMPs yang segera memberikan respon (immediate) terhadap invasi mikroorganisme. PAMPs juga dikenali oleh serangkaian larutan PRRS dalam darah yang berfungsi sebagai opsonin dan memulai jalur komplemen. Sistem kekebalan tubuh bawaan diperkirakan dapat mengenali sekitar 103 pola-pola molekuler mikroba (PAMPs)

Gambar 1. Pathogen-Associated Molecular Patterns (PAMPs) berikatan dengan PatternRecognition Receptors (PRRs ) pada sel Pertahanan

3. Komponen Pertahanan tubuh alamiah /Innate Yang merupakan komonen mekanisme pertahanan non spesifik tubuh kita adalah kulit dengan kelenjarnya, lapisan mukosa dengan enzimnya, serta kelenjar lain dengan enzimnya seperti kelenjar air mata. Demikian pula sel fagosit (sel makrofag, monosit,

polimorfonuklear) dan komplemen merupakan komponen mekanisme pertahanan non spesifik. Pertahanan Fisik Kulit Permukaan tubuh merupakan pertahanan pertama terhadap penetrasi mikroorganisme. Bila penetrasi mikroorganisme terjadi juga, maka mikroorganisme yang masuk akan berjumpa dengan pelbagai elemen lain dari sistem imunitas alamiah. Kulit merupakan rintangan yang secara normal dan tidak dapat ditembus oleh virus dan bakteri. Lapisan luar kulit yang mengandung sedikit air akan menghambat tubuhnya mikroorganisme. Pada kulit juga terjadi pertahanan kimia yang akan dijelaskan selanjutnya. Kelenjar dengan enzim dan silia yang ada pada mukosa dan kulit Produk kelenjar menghambat penetrasi mikroorganisme, demikian pula silia pada mukosa. Enzim seperti lisozim dapat pula merusak dinding sel mikroorganisme. Air mata Kelenjar lakrimal mensekresikan air mata yang secara terus menerus membasahi, melarutkan dan mencuci mikroorganisme yang terpapar penyebab iritasi mata Sekresi kelenjar minyak dan kelenjar keringat

Sebum yang disekresikan oleh kelenjar sebaceous mengandung asam lemak yang memiliki pH rendah (3-5) yang menghambat pertumbuhan bakteri dan bersifat antimikrobial Mukus Mukus (sekresi lendir) oleh sel-sel goblet pada saluran pernafasan akan mengikat pathogen yang berasal dari udara dan akan dikeluarkan melalui bersin. Mukus yang disekresikan oleh membran mukosa saluran pencernaan juga akan menghambat pertumbuhan pathogen.

Pertahanan Mekanik Pertahanan mekanik merupakan pertahanan tubuh karena adanya pergerakan struktur organ didalam tubuh. Misalnya rambut hidung sebagai filter udara, struktur silia pada saluran pernafasan juga terus menerus mengalami pergerakan yang mendorong pathogen yang telah terikat pada mucus ke luar tubuh.

Pertahanan Kimia Pada manusia, misalnya sekresi yang berupa air mata, mukus, saliva, keringat, sebum akan memberikan pH yang berkisar 3-5 yang cukup asam dalam mencegah kolonisasi oleh banyak pathogen. Selain itu, semua sekresi tersebut mengandung protein antimikroba yang disebut dengan lisozim. Lisozim yaitu enzim yang mencerna dinding sel dari banyak jenis bakteri. Mikroba yang masuk kedalam saluran pencernaan bersama makanan juga akan menghadapi suasana lambung yang sangat asam. Asam akan merusak banyak banyak mikroba sebelum mikroba tersebut masuk kesaluran usus. Akan tetapi terdapat pengecualian penting yaitu virus hepatitis A merupakan salah satu dari sekian banyak pathogen yang dapat bertahan hidup dalam keasaman lambung. Selait itu, asam laktat yang terkandung dicairan keringat dan cairan yang disekresikan vagina.

Pertahanan Biologis Terdapat beberapa jenis bakteri yang merupakan flora alami kulit dan membran mukosa. Bakteri tersebut tidak berbahaya bagi tubuh melainkan melindungi kita dengan cara berkompetisi dengan bakteri pathogen dalam mendapatkan nutrisi.

Komplemen dan makrofag Jalur alternatif komplemen dapat diaktivasi oleh berbagai macam bakteri secara langsung sehingga eliminasi terjadi melalui proses lisis atau fagositosis oleh makrofag atau leukosit yang distimulasi oleh opsonin dan zat kemotaktik, karena sel-sel ini mempunyai reseptor untuk komponen komplemen (C3b) dan reseptor kemotaktik. Zat kemotaktik akan memanggil sel monosit dan polimorfonuklear ke tempat mikroorganisme dan memfagositnya.

Protein fase akut Protein fase akut adalah protein plasma yang dibentuk tubuh akibat adanya kerusakan jaringan. Hati merupakan tempat utama sintesis protein fase akut. C-reactive protein (CRP) merupakan salah satu protein fase akut. Dinamakan CRP oleh karena pertama kali protein khas ini dikenal karena sifatnya yang dapat mengikat protein C dari pneumokok. Interaksi CRP ini juga akan mengaktivasi komplemen jalur alternatif yang akan melisis antigen. Sel natural killer (NK) dan interferon Sel NK adalah sel limfosit yang dapat membunuh sel yang dihuni virus atau sel tumor. Interferon adalah zat yang diproduksi oleh sel leukosit dan sel yang terinfeksi virus, yang bersifat dapat menghambat replikasi virus di dalam sel dan meningkatkan aktivasi sel NK.

Daftar pustaka Alberts B, Johnson A, Lewis J, et al. Innate Immunity. Dalam Molecular Biology of the Cell. 4th ed. New York. 2002. Medzhitov R, janeway CA. Innate Immunity: The Virtues of a Nonclonal System of Recognition. Cell. 1997; 91(3):2958 Bruce Beutler. Innate immunity: an overview. Molecular Immunology Volume 40, Issue 12, February 2004, Pages 845859 Turvey SE, Broide DH. Innate immunity. Journal of Allergy and Clinical Immunology, Volume 125, Issue 2, Supplement 2, February 2010, Pages S24S32 Todar K. Immune Defense against Bacterial Pathogens: Innate Immunity. Dalam Todar's Online Textbook of Bacteriology. Diakses melalui www.textbookofbacteriology.net