Anda di halaman 1dari 49

ESTERIFIKASI VCO DAN ETANOL DENGAN BERBAGAI VARIASI PERBANDINGAN MENGGUNAKAN KATALIS H2SO4

KARYA TULIS ILMIAH

OLEH PINGKY TANJUNG PUSPITASARI NIM 05.012

AKADEMI ANALIS FARMASI DAN MAKANAN PUTRA INDONESIA MALANG Juli 2008

ESTERIFIKASI VCO DAN ETANOL DENGAN BERBAGAI VARIASI PERBANDINGAN MENGGUNAKAN KATALIS H2SO4

KARYA TULIS ILMIAH

Diajukan kepada Akademi Analis Farmasi dan Makanan Putera Indonesia Malang Untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam menyelesaikan Progran D III Analis Farmasi dan Makanan

OLEH PINGKY TANJUNG PUSPITASARI NIM 05.012

AKADEMI ANALIS FARMASI DAN MAKANAN PUTRA INDONESIA MALANG JULI 2008

Karya Tulis Ilmiah Oleh PINGKY TANJUNG PUSPITASARI ini Telah diperiksa dan disetujui untuk diujikan

Pembimbing

Drs. Sentot Joko Raharjo

Karya Tulis Ilmiah Oleh PINGKY TANJUNG PUSPITASARI ini Telah dipertahankan di depan Dewan penguji Pada tanggal dua agustus 2008

Dewan Penguji

Drs. Sentot Joko Raharjo.

Penguji I

Erna Susanti, S. Si., Apt.

Penguji II

Inni Dian Rohani, ST.

Penguji III

Mengetahui, Pembantu Direktur Bidang Akademik dan Makanan

Mengesahkan, Direktur Akademi Analis Farmasi

Misgiati A.Md., S.Pd.

Erna Susanti, S.Si., Apt

KATA PENGANTAR Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis ilmiah yang berjudul Esterifikasi VCO dan Etanol dengan Berbagai Variasi Perbandingan menggunakan Katalis H2SO4. Adapun tujuan penulisan Karya Tulis Ilmiah ini adalah sebagai persyaratan untuk menyelesaikan progran DIII di Akademi Analis Farmasi dan Makanan Putra Indonesia Sehubungan dengan terselesaikannya penulisan Karya Tulis Ilmiah ini, saya ucapkan terima kasih pada pihak-pihak, yaitu: 1. Ibu Erna Susanti, S.Si., Apt, selaku Direktur Akademi Analis Farmasi dan Makanan Putra Indonesia Malang. 2. Ibu Misgiati A. Md. , S. Pd, selaku Pembantu Direktur Akademi Analis Farmasi dan Makanan Putra Indonesia Malang. 3. Bapak Drs. Sentot Joko Raharjo, selaku dosen pembimbing yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran sehingga Karya Tulis Ilmiah ini dapat selesai tepat pada waktunya. 4. 5. 6. Ibu Erna Susanti, S. Si., Apt, selaku dosen penguji nasional. Ibu Inni Dian Rohani, ST, selaku dosen ahli. Bapak dan Ibu Dosen Akademi Analis Farmasi dan Makanan serta semua staf yang turut membantu dan mendukung selama penyelesaian Karya Tulis Ilmiah ini.

7.

Kedua orang tua, suami, dan adik-adikku yang memberikan doa serta motivasi.

8.

Rekan-rekan mahasiswa dan semua pihak yang langsung maupun tidak langsung telah memberikan bantuan dan arahan kepada penulis.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa Karya Tulis Ilmiah ini masih mempunyai beberapa kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat diharapkan.

Malang, juli 2008

Penulis

Lembar Persembahan
Hidup adalah perjuangan Seperti perjuangan ku dalam menyelesaikan karya ini Dengan perut buncit, rasa capek, dan air mata... Kujalani semuanya Hanya demi s satu kata Masa Depan Karya kecil ku ini kupersembahkan untuk Orang orang yang selalu menyayangiku , mendukungku dan mendoakan ku Special Thanks to Tuhan YME yang telah memberikan kesehatan dan kekuatan sehingga karya tulis ini dapat selesai pada waktunya Papa dan Mama tercinta yang selalu menyayangiku, mendoakan ku dan memberikan motivasi.......... I love U.... Suamiku yang rela memberikan waktunya dan selalu memberikan motivasi baik materil dan spirituil.... Adik-Adikku yang selalu menyayangiku..... And dont Forget Thanks To Mr.Sentot yang telah membimbing dan memberikan dukungan dalam menyelesaikan karya tulis ini..... Sahabatku Rani,yang setia menemaniku dalam menyelesaikan karya tulis ini, terimakasih buat waktunya dan perhatiannya............ Teman-temanku akafarma.......yang selalu memberikan motivasi.....

DAFTAR ISI ABSTRAK....................................................................................................... i KATA PENGANTAR.................................................................................... ii DAFTAR ISI................................................................................................... iii DAFTAR GAMBAR...................................................................................... iv DAFTAR TABEL..................................................................................... v BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ...............................................................................1 1.2 Rumusan Masalah...........................................................................2 1.3 Tujuan Penelitian ........................................................................... 3 1.4 Manfaat Penelitian ......................................................................... 3 1.5 Asumsi Penelitian .......................................................................... 3 1.6 Ruang Lingkup dan Kerterbatasan Masalah ..................................3 1.7 Definisi Istilah ............................................................................... 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Virgin Coconut Oil ( VCO )........................................................... 5 2.2 Asam Lemak Bebas........................................................................ 11 2.3 Asam Laurat....................................................................................12 2.4 Ester Asam Lemak..........................................................................13 2.5 Reaksi Esterifikasi.......................................................................... 16 2.6 Mekanisme Esterifikasi.................................................................. 17 2.7 Etil Laurat....................................................................................... 18 2.8 Kromatografi Gas........................................................................... 18 2.9 Kerangka Teori............................................................................... 20

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian .....................................................................22 3.2 Sampel Penelitian............................................................................22 3.3 Lokasi dan Waktu Penelitian.......................................................... 23 3.4 Tahap Persiapan ............................................................................ 23 3.5 Tahap Pelaksanaan..........................................................................24 3.6 Tahap Akhir.................................................................................... 25 BAB IV HASIL PENELITIAN 4.1 Preparasi Sampel.............................................................................26 4.2 Reaksi Esterifikasi VCO................................................................. 27 4.3 Analisa Hasil Esterifikasi menggunakan Kromatografi Gas.......... 27 BAB V PEMBAHASAN ................................................................................33 BAB VI PENUTUP 6.1 Kesimpulan..................................................................................... 36 6.2 Saran............................................................................................... 36 DAFTAR RUJUKAN .................................................................................... 37

DAFTAR GAMBAR

Gambar 4.4

Kromatogram hasil Esterifikasi dengan variasi perbandingan I ..............................................................................................27

Gambar 4.6

Kromatogram hasil Esterifikasi dengan variasi perbandingan II ..............................................................................................28

Gambar 4.8

Kromatogram hasil Esterifikasi dengan variasi perbandingan III ..............................................................................................29

Gambar 4.10 Kromatogram hasil Esterifikasi dengan variasi perbandingan IV ..............................................................................................30 Gambar 4.12 Kromatogram hasil Esterifikasi dengan variasi perbandingan V .............................................................................................. 31

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Tabel 4.2

Variasi perbandingan VCO : Etanol : H2SO4 ............... 26 Organoleptis dari masing-masing variasi perbandingan ........................................................................................ 26

Tabel 4.3 Tabel 4.5

Hasil pengamatan pembuatan asam laurat ...................27 Luas puncak Kromatogram hasil Esterifikasi dengan variasi perbandingan I ............................................................ 28

Tabel 4.7

Luas puncak Kromatogram hasil Esterifikasi dengan variasi perbandingan II ............................................................29

Tabel 4.9

Luas puncak Kromatogram hasil Esterifikasi dengan variasi perbandingan III .......................................................... 30

Tabel 4.11

Luas puncak Kromatogram hasil Esterifikasi dengan variasi perbandingan IV ............................................................31

Tabel 4.13

Luas puncak Kromatogram hasil Esterifikasi dengan variasi perbandingan V ............................................................ 32

ABSTRAK
Puspitasari, Pingky T. 2008. Esterifikasi VCO dan Etanol dengan Berbagai Variasi Perbandingan menggunakan Katalis H2SO4. Karya Tulis Ilmiah Akademi Analis Farmasi dan Makanan Putera Indonesia Malang. Pembimbing Drs. Sentot Joko Raharjo. Kata Kunci : Ersterifikasi VCO, Etanol, Katlis H2SO4 VCO merupakan minyak kelapa murni hasil pengolahan dari tanaman kelapa. Menurut hasil penelitian, penggunaan VCO dapat meningkatkan kekebalan tubuh terhadap penyakit, karena asam laurat didalam tubuh akan diubah menjadi monolaurin atau senyawa monogliserida yang mempunyai sifat anti virus, anti bakteri dan anti protozoa.Untuk mendapatkan asam laurat dapat dilakukan dengan beberapa cara, salah satunya dengan reaksi esterifikasi. Reaksi esterifikasi adalah reaksi antara asam karboksilat dengan alkohol menggunakan katalis asam mineral (umumnya H2SO4) yang menghasilkan ester dan uap air. Hasil esterifikasi asam laurat ini adalah etil laurat. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuat asam laurat dalam bentuk etil laurat dengan cara reaksi esterifikasi menggunakan katalis H2SO4 dengan berbagai variasi perbandingan antara VCO dan etanol dan menentukan variasi perbandingan yang terbaik dari hasil esterifikasi. Penelitian ini dilakukan dilaboratorium kimia politeknik Universitas Brawijaya Malang pada bulan juni juli. Rancangan penelitian menggunakan metode eksperimen. Tahap akhir dari penelitian ini adalah membandingkan luas area dari sampel 1-5. Organoleptis yang dihasilkan dari masing-masing variasi perbandingan berbeda-beda, ini dikarenakan oleh penambahan etanol secara berlebih dan petroleum eter. Pada proses destilasi terjadi pengurangan jumlah sampel yang karena proses ini berfungsi untuk menghilangkan kelebihan etanol dan petroleum eter.Pada analisa menggunakan kromatografi gas tiap tiap variasi perbandingan menghasilkan kromatogram dan waktu retensi yang berbeda. Menurut hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan dari masing-masing variasi perbandingan dari hasil esterifikasi VCO dan etanol dengan katalis H2SO4 dan variasi perbandingan reaksi esterifikasi VCO dan etanol dengan katalis H2SO4 yang terbaik adalah variasi 1:1. Penelitian ini perlu ditindak lanjuti untuk dibandingkan dengan standart ester hasil reaksi esterifikasi karena belum tersedia standart dan perlu dilakukan tindak lanjut untuk menentukan kadar dari masing-masing hasil esterifikasi.

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang VCO(Virgin Coconut Oil) merupakan minyak kelapa murni hasil pengolahan dari tanaman kelapa.Menurut hasil penelitian, penggunaan VCO murni dapat meningkatkan ketahanan tubuh terhadap penyakit, karena asam laurat didalam tubuh akan diubah menjadi monolaurin atau senyawa monogliserida yang mempunyai sifat anti bakteri, anti virus dan anti protozoa.Dengan sifatnya tersebut monolaurin dapat menanggulangi serangan berbagai virus seperti HIV,Herpes Simplek Virus 1(HVS-1), Visicular Stomatis Virus ( VSV), Influensa dan berbagai bakteri patogen

lainnya.Minyak kelapa murni ini juga mudah diserap oleh sel dalam tubuh sehingga metabolisme tubuh pun meningkat dan dapat meningkatkan daya tahan tubuh serta dapat mempercepat kesembuhan( Alamsyah,2005) Minyak kelapa murni merupakan minyak kelapa yang dibuat dari kelapa segar, tanpa proses kimiawi dan pemanasan.Produk ini memiliki kandungan asam lemak jenuh sekitar 90% dan asam lemak tak jenuh 10%.Asam lemak tak jenuh oleat dan linoleat.Pada golongan asam lemak jenuh, asam laurat merupakan komponen utama (sekitar 44,0 52,0%) diikuti oleh asam miristat (13 19% ) 10,5%).(Alamsyah,2005) Asam laurat yang merupakan komponen utama dalam VCO adalah suatu asam lemak jenuh yang mempunyai rumus struktur CH3(CH2)10COOH dan asam palmitat (7,5

dan mempunyai sifat anti mikroba. Untuk mendapatkan asam laurat yang terdapat didalam VCO dapat dilakukan dengan cara reaksi esterifikasi.Dalam reaksi tersebut asam laurat yang merupakan asam karboksilat direaksikan dengan alkohol dengan katalis asam mineral(umumnya H2SO4). Hasil dari reaksi esterifikasi kemudian dianalisa menggunakan kromatografi gas.Selain itu untuk mengidentifikasi asam lemak bebas dalam VCO dengan kromatografi gas terlebih dahulu dilakukan hidrolisis VCO dilanjutkan reaksi esterifikasi asam lemak bebasnya.Ester dari asam lemak bebas yang diperoleh bersifat volatile sehingga lebih mudah dianalisa menggunakan kromatografi gas. Untuk menentukan perbandingan antara VCO dan etanol ini dilakukan penelitian yang berjudul esterifikasi VCO dan etanol dengan berbagai variasi perbandingan menggunakan katalis H2SO4.

1.2 Rumusan Masalah Dalam penelitian yang berjudul Esterifikasi VCO dan Etanol Dengan Berbagai Variasi Perbandingan Menggunakan Katalis H2SO4, maka rumusan masalahnya adalah : 1.2.1 Bagaimanakah perbedaan dari variasi perbandingan dari hasil esterifikasi VCO dan etanol dengan katalis H2SO4 ? 1.2.2 Berapa variasi perbandingan yang terbaik dari hasil esterifikasi VCO dan etanol dengan katalis H2SO4 ?

1.3 Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1.3.1 Mengetahui perbedaan variasi perbandingan dari hasil reaksi esterifikasi VCO dan etanol dengan katalis H2SO4 1.3.2 Mengetahui variasi perbandingan yang terbaik dari hasil reaksi esterifikasi VCO dan etanol dengan katalis H2SO4

1.4 Manfaat Penelitian Manfaat penelitian ini adalah: 1.4.1 1.4.2 Meningkatkan nilai ekonomi dari VCO Sebagai referensi bagi penelitian selanjutnya

1.5 Asumsi Penelitian Asumsi dari penelitian ini adalah: 1.5.1 Dengan reaksi esterifikasi VCO maka bisa didapatkan ester-ester dari asam karboksilat pada VCO 1.5.2 Pada waktu analisa menggunakan kromatografi gas keadaan dibuat sama

1.6 Ruang Lingkup Dan Keterbatasan Masalah Ruang lingkup dan keterbatasan masalah dalam penelitian ini yaitu : 1.6.1 1.6.2 Katalis dalam penelitian ini (H2SO4) dibuat tetap Tidak ada standart ester-ester asam karboksilat dari VCO

1.6.3 Perbandingan VCO dan etanol hanya 1:1, 1:2, 1:3, 1:4, 1:5

1.6.4

Hasil esterifikasi dianalisa menggunakan kromatografi gas

1.7 Definisi Istilah 1.7.1 VCO(Virgin Coconut Oil) : minyak kelapa murni yag dibuat dari kelapa segar,tanpa proses kimiawi dan pemanasan. 1.7.2 Reaksi esterifikasi : suatu reaksi yang mereaksikan suatu asam karboksilat dengan suatu alkohol dan di sertai dengan asam mineral 1.7.3 Asam laurat :lemak jenuh berantai rumus medium yang struktur

mempunyai CH3(CH2)10COOH 1.7.4 Ethyl laurat :lemak jenuh

berantai

medium

yang

merupakan hasil esterifikasi dari asam laurat yang mempunyai rumus struktur

C2H5(CH2)10COOCH3 1.7.5 Katalis :merupakan enzim yang dapat mempercepat reaksi 1.7.6 Variasi Perbandingan : macam macam perbandingan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Virgin Coconut Oil (VCO) 2.1.1 Pengertian Virgin Coconut Oil Minyak kelapa murni merupakan minyak kelapa yang dibuat dari kelapa segar,tanpa proses kimiawi dan pemanasan.Produk ini memiliki kandungan asam lemak jenuh sekitar 90% dan asam lemak tak jenuh 10%.Asam lemak tak jenuh oleat dan linoleat.Pada golongan asam lemak jenuh,asam laurat merupakan komponen utama (sekitar 44,0 52,0%) diikuti oleh asam miristat (13 19% ) dan asam palmitat (7,5 10,5%). (Alamsyah, 2005) Minyak kelapa murni ( VCO) memiliki kadar air dan kadar asam lemak bebas yang rendah,bewarna bening dan berbau harum khas kelapa.Daya simpannyapun menjadi lebih lama yaitu 12 bulan,selain itu minyak tidak mengandung kolesterol.(Rindengan,2004) Asam Lemak yang terdapat pada minyak kelapa murni mempunyai sifat anti-infeksi yang bergantung pada struktur kimianya,misalanya monogliserida bersifat anti- infeksi (aktif),sementara digliserida dan trigliserida bersifat tidak anti infeksi (inaktif).(Alamsyah,2005) Asam lemak jenuh berantai sedang yang terkandung dalam minyak kelapa murni sangat bermanfaat untuk mengontrol berat

badan.Kegemukan,penyakit jantung, dan osteoporosis yang merupakan kondisi-kondisi yang diakibatkan oleh rendahnya tingkat metabolisme tubuh.(Alamsyah,2005)

2.1.2 Manfaat VCO Minyak kelapa murni diproses dengan metode bioteknologi tanpa pemanasan sehingga dapat mempertahankan struktur asal minyak kelapa yang menjadikannya makin berfungsi lengkap dengan kandungan yang mirip dengan Air Susu Ibu(ASI).(Aninomous,2006) Menurut hasil penelitian,penggunaan VCO murni dapat meningkatkan ketahanan tubuh terhadap penyakit,karena asam laurat didalam tubuh akan diubah menjadi monolaurin atau senyawa monogliserida yang mempunyai sifat anti bakteri,anti virus dan anti protozoa.Dengan sifatnya tersebut monolaurin dapat menanggulangi serangan berbagai virus seperti HIV,Herpes Simplek Virus 1(HVS-1),Visicular Stomatis Virus ( VSV),Influensa dan berbagai bakteri patogen lainnya.Minyak kelapa murni ini juga mudah diserap oleh sel dalam tubuh sehingga metabolisme tubuh pun meningkat dan dapat meningkatkan daya tahan tubuh serta dapat mempercepat

kesembuhan.(Alamsyah,2005) Selain mengandung asam laurat,minyak kelapa murni juga

mengandung asam kaprat yaitu asam lemak super yang memiliki kualitas antimikroba sangat kuat.Di dalam tubuh manusia,lemak berantai yang jumlah karbonnya 10 ini bermanfaat untuk mengatasi penyakit-penyakit seksual, seperti virus HVS-2 dan HIV-1,serta bakteri neisseria gonorhoeae ( sipilis).(Alamsyah,2005) Asam laurat pada VCO mempunyai aktivitas anti-virus yang lebih besar dari pada asam lemak jenuh berantai karbon sedang lainnya,misalnya asam kaprilat ( C8), asam kaprat ( C10), dan asam miristat ( C14).

Dalam pemanfaatannya minyak kelapa murni dapat dikomsumsi secara langsung atau digunakan untuk memasak.Dengan struktur kimia yang tidak mengandung ikatan rangkap maka minyak ini bersifat tahan terhadap panas,cahaya,oksigen,dan tahan terhadap proses degradasi.Dengan sifat itu maka minyak kelapa murni dapat disimpan dengan mudah pada suhu kamar selama bertahun-tahun.(Suhirman,2004) 2.1.3 Komposisi Asam Lemak Minyak Kelapa Secara umum lemak dan minyak di klasifikasikan kedalam tiga kategori, yaitu asam lemak jenuh, tak jenuh tunggal (monounsaturated)dan asam lemak tak jenuh jamak (Polyunsaturated Fatty Acid/PUFA).Asam lemak jenuh dan asam lemak tak jenuh juga termasuk tigliserida. Semua asam lemak terdiri atas rantai atom karbon dengan berbagai jumlah atom hidrogen yang melekat padanya. Satu molekul memiliki dua atom hidrogen yang melekat pada masing-masing karbon dianggap terjenuhkan oleh hidrogen karena molekul tersebut mengikat semua atom hidrogen yang mampu diikatnya. Jenis asam lemak ini dinamakan lemak jenuh, sedangkan satu asam lemak yang kehilangan satu pasang atom hidrogen pada salah satu karbonnya dinamakan lemak mono-tak

jenuh.Minyak ini dinamakn lemak poli tak jenuh apabila lebih dari dua atom hidrogennya hilang, atom karbon yang bergabung harus membentuk satu ikatan ganda. Ikatan-ikatan karbon ganda dalam molekul tak jenuh sangat rentan terhadap serangan oksidasi dan pembentukan radikal bebas. Minyak poli tak jenuh menjadi jenuh ketika teroksidasi. Oksidasi menyebabkan pembentukan

radikal bebas yang berbahaya bagi tubuh. Lemak jenuh termasuk minyak kelapa tidak memiliki atom hidrogen yang hilang atau iakatan karbon ganda. Hal ini berarti lemak jenuh tidak peka terhadap oksidasi dan pembentukan radikal bebas. 1.7.1 Pembagian Kelompok Minyak Jenuh Minyak jenuh terdiri atas tiga subkelompok, yaitu: 1. Kelompok minyak dengan asam lemak rantai pendek yang dikenal sebagai Short Chain Triglyceride (SCT) 2. Medium Chain Triglyceride (MCT) seperti minyak kelapa dan kelapa sawit 3. Long Chain Triglyceride (LCT) Perbedaan ketiga kelompok asam lemak tersebut terletak pada proses pencernaan dan metabolisme didalam tubuh.Perbedaan ini menyebabkan setiap kelompok asam lemak memberi dampak yang sangat berbeda terhadap kesehatan. Panjang rantai karbon merupakan faktor utama yang menentukan proses mekanisme lemak dicerna dan dimetabolisir tubuh, serta cara lemak tersebut mempengaruhi tubuh. Minyak kelapa mengandung sumber MCT alami paling tinggi. MCT dalam tubuh kita dipecah dan secara dominan digunakan untuk memproduksi energi dan jarang tersimpan sebagai lemak tubuh atau menumpuk dipembuluh nadi. Asam lemak dari minyak kelapamenghasilkan energi bukan lemak.

1.7.2

Sifat Fisik dan Penggunaan MCT MCT merupakan asam lemak khusus yang mempunyai rantai karbon

dengan panjang dari C6-C12 yang bersifat jenuh (termasuk asam kaproat, kaprilat, kaprat dan laurat). MCT diperoleh melalui proses esterifikasi gliserol (diturunkan dari minyak nabati) dengan asam lemak yang mempunyai rantai karbon C8.0-C12.0.Minyak tersebut diturunkan dari minyak berkadar laurat tinggi, terutama minyak kelapa dan kelapa sawit. MCT mempunyai sifat fisik yang unik, contohnya MCT lebih polar (lebih cepat melepas ion H) dari pada LCT, sehingga lebih mudah larut dalam air. MCT di metabolisme di dalam tubuh dengan cara yang berbeda dengan LCT, karena pengaruh perbedaan kelarutan didalam air. Sifat kelarutan MCT didalam airyang lebih tinggi dari pada LCT membuatnya dapat masuk kedalam lever langsung melalui pembuluih balik (vena) dan dengan cepat dibakar menjadi energi. MCT adalah asam lemak rantai sedang bersifat jenuh secara alami. Lebih adari 60% trigliserida dalam minyak kelapa didominasi oleh atom C6-C12 atau dikenal sebagai MCT.Asam lemak mempunyai panjang C12 atau kurang dengan mudah akan dicerna oleh lipase usus dan tidak memerlukan lipase pankreas. MCT tidak dikemas dalam lipoprotein dan tidak disalurkan dalam darah tetapi langsung ditransfer kedalam lever, serta diubah menjadi energi. Setelah dikonsumsi minyak kelapa yang mengandung 92,1% lemak jenuh akan sampai kedalam saluran pencernaan. Berkat ukuran molekulnya yang lebih kecil, dapat segera diserap melalui dinding usus, tanpa harus melalui proses hidrolisis enzimatis, dan langsung dipasok kedalam aliran darah dan dibawa ke organ lever untuk dimetabolisasi. Di dalam lever minyak kelapa ini

diproses hanya untuk memproduksi energi. Energi yang dihasilkan digunakan untuk meningkatkan pembakaran selluler dari ujung rambut sampai ujung kaki dan mengaktifkan fungsi semua kelenjar endokrin, organ tubuh dan jaringan tubuh.(Alamsyah , 2005) 1.7.3 Mekanime Kerja VCO VCO mengandung asam lemak jenuh rantai sedang (MCT) yang tinggi, terutama asam laurat dengan kandungan antara 43 53% dari total asam lemak. Keberadaan MCT ini memiliki peran penting, yaitu membantu memperbaiki fungsi insulin. Sifat kelarutan MCT didalam air yang tinggi membuatnya dapat masuk kedalam liver secara langsung melalui pembuluh balik (vena) dan dengan cepat dibakar menjadi energi. MCT adalah asam lemak rantai sedang bersifat jenuh secara alami.Lebih dari 60% trigliserida dalam minyak kelpa didominasi oleh atom C6-C12 atu dikenal sebagai MCT.Asam lemak yang mempunyai panjang C12 atau kurang dengan mudah akan dicerna oleh lipase usus dan tidak memerlukan lipase pankreas. MCT tidak dikemas dalam lipoprotein dan tidak disalurkan dalam darah tetapi langsung ditransfer kedalam lever, serta diubah menjadi energi. Setelah dikonsumsi minyak kelapa yang mengandung 92,1% lemak jenuh akan sampai kedalam saluran pencernaan. Berkat ukuran molekulnya yang kecil, dapat segera diserap melalui dinding usus, tanpa harus melalui proses hidrolisis dan enzimatis, dan langsung dipasok kedalam aliran darah dan dibawa keorgan lever untuk dimetabolisasi.Di dalam lever minyak kelpa ini diproses hanya untuk memproduksi energi. Energi yang dihasilkan digunakan untuk meningkatkan pembakaran selluler dari ujung rambut sampai

ujung kaki dan mengaktifkan fungsi semua kelenjar endokrin, organ tubuh dan jaringan tubuh. ( Alamsyah, 2005) 2.2 Asam Lemak Bebas Asam lemak, bersama-sama dengan gliserol, merupakan penyusun utama minyak nabati atau lemak dan merupakan bahan baku untuk semua lipida pada makhluk hidup. Asam ini mudah dijumpai dalam minyak masak (goreng), margarin, atau lemak hewan dan menentukan nilai gizinya. Secara alami, asam lemak bisa berbentuk bebas (karena lemak yang terhidrolisis) maupun terikat sebagai gliserida. Asam lemak tidak lain adalah asam alkanoat atau asam karboksilat berderajat tinggi (rantai C lebih dari 6). Karena berguna dalam mengenal ciricirinya, asam lemak dibedakan menjadi asam lemak jenuh dan asam lemak tak jenuh. Asam lemak jenuh hanya memiliki ikatan tunggal di antara atom-atom karbon penyusunnya, sementara asam lemak tak jenuh memiliki paling sedikit satu ikatan ganda di antara atom-atom karbon penyusunnya. Asam lemak merupakan asam lemah, dan dalam air terdisosiasi sebagian. Umumnya berfase cair atau padat pada suhu ruang (27 Celsius). Semakin panjang rantai C penyusunnya, semakin mudah membeku dan juga semakin sukar larut. Asam lemak jenuh bersifat lebih stabil (tidak mudah bereaksi) daripada asam lemak tak jenuh. Ikatan ganda pada asam lemak tak jenuh mudah bereaksi dengan oksigen (mudah teroksidasi). Karena itu, dikenal istilah bilangan oksidasi bagi asam lemak.

Keberadaan ikatan ganda pada asam lemak tak jenuh menjadikannya memiliki dua bentuk: cis dan trans. Semua asam lemak nabati alami hanya memiliki bentuk cis (dilambangkan dengan "Z", singkatan dari bahasa Jerman zusammen). Asam lemak bentuk trans (trans fatty acid, dilambangkan dengan "E", singkatan dari bahasa Jerman entgegen) hanya diproduksi oleh sisa metabolisme hewan atau dibuat secara sintetis. Akibat polarisasi atom H, asam lemak cis memiliki rantai yang melengkung. Asam lemak trans karena atom H-nya berseberangan tidak mengalami efek polarisasi yang kuat dan rantainya tetap relatif lurus. Ketengikan terjadi karena asam lemak pada suhu ruang dirombak akibat hidrolisis atau oksidasi menjadi hidrokarbon, alkanal, atau keton, serta sedikit epoksi dan alkohol (alkanol). Bau yang kurang sedap muncul akibat campuran dari berbagai produk ini. Beberapa contoh asam lemak bebas:

Asam oktanoat (C8:0), asam kaprilat. Asam dekanoat (C10:0), asam kaprat. Asam dodekanoat (C12:0), asam laurat. Asam 9-dodekenoat (C12:1), asam lauroleinat Asam tetradekanoat (C14:0), asam miristat. Asam 9-tetradekenoat (C14:1), asam miristoleinat Asam heksadekanoat (C16:0), asam palmitat.

2.3 Asam Laurat

Asam laurat atau asam dodecanoid adalah asam lemak jenuh yang mempunyai Rumus struktur Rumus molekul Berat molekul Titik lebur Titik didih : CH3(CH2)10COOH : C12H24O2. : 200.31776 g/ mol : 44 -46oC : 225oC/100 mmHg

Asam laurat merupakan senyawa yang mempunyai toksisitas yang rendah sehingga banyak digunakan untuk bahan pembuatan shampoo dan sabun. Asam Laurat juga banyak digunakan untuk meningkatkan metabolisme tubuh karena mengandung lemak berantai sedang yang mudah diserap oleh sel didalam tubuh. Asam laurat didalam tubuh manusia akan diubah menjadi monolaurin, yaitu senyawa monogliserida yang bersifat anti-virus,anti-bakteri, dan antiprotozoa.Dengan sifat itu, monolaurin dapat menanggulangi serangan virus seperti HIV,herpes simplex virus-1(HVS-1),vesicular stomatitis virus ( VSV), influensa, visna virus, cytomegalo virus ( CMV) dan berbagai bakteri patogen dan protozoa.Monolaurin yang terkandung dalam minyak kelapa juga

bermanfaat sebagai penambah daya tahan tubuh dan juga memiliki manfaat seperti ASI.(Alamsyah, 2005) 2.4 Ester Asam Lemak Ester asam lemak dialam terdapat dalam bentuk antara gliserol dan asam lemak ataupun terkadang ada gugus hidroksilnya yang teresterkan tidak dengan asam lemak tetapi dengan phospat seperti pada phospolipid.Ester asam lemak sering dimodifikasi baik untuk bahan makananmaupun untuk bahan surfaktan, aditif, detergen, dan lain sebagainya ( Endo, dkk, 1997). Modifikasi ester asam lemak dapat dilakukan dengan beberapa cara:

Esterifikasi
Esterifikasi adalah suatu reaksi ionik, yang mana gabungan dari reaksi adisi dan reaksi penataan ulang eliminasi [Davidek, 1990].

Interesterifikasi
Interesterifikasi dapat digambarkan sebagai pertukaran gugusan antara dua buah ester dimana hal ini hanya dapat terjadi apabila terdapat katalis. Katalis yang sering digunakan untuk reaksi ini adalah logam natrium atau kalium dalam bentuk metoksilat atau etoksilat. Dalam reaksi ini ion logam natrium atau kalium

akanmenyebabkanterbentuknya ion enolat yang selanjutnya diikuti dengan pertukaran gugus alkil.

Alkoholisis
Alkoholisis adalah reaksi suatu asam karboksilat dengan alkohol untuk

membentuk suatu ester, dimana reaksinya biasanya lambat namun dapat dipercepatdengan bantuan suatu katalis yang biasa dipergunakan adalahsuatu asam anorganik seperti HCl dan H2SO4.

Dengan

demikian

mekanisme

reaksi

esterifikasi

antara

asam

karboksilat dengan alkohol adalah sebagai berikut :

Asidolisis

Asidolisis adalah reaksi pembentukan suatu ester antara asam lemak dengan ester yang lain. Disini terjadi pertukaran gugus alkil pada ester dengan atom hidrogen dari asam yang digunakan. Katalis yang digunakan akan menyebabkan terjadinya proton abstraction yang kemudian diikuti dengan perenggutan alkil dari ester oleh ion enolat yang terbentuk.

2.5 Reaksi Esterifikasi Ester adalah senyawa turunan asam karboksilat yang diperoleh dari penggantian OH pada gugus COOH oleh gugus OR'

O R C OR

R dan R dapat berupa gugus yang sama Ester dapat dibuat dengan beberapa cara salah satunya adalah dengan reaksi esterifikasi.Reaksi esterifikasi adalah suatu reaksi antara asam karboksilat dan alkohol disertai asam mineral (umumnya H2SO4) sebagai katalis yang kemudian membentuk ester.Turunan asam karboksilat

membentuk ester asam karboksilat.Ester asam karboksilat ialah suatu senyawa yang mengandung gugus CO2R dengan R dapat berupa alkil maupun

aril.Esterifikasi dikatalis asam merupakan reaksi yang dapat dibalik dan pada umumnya mencapai kesetimbangan bila produk telah mencapai kuantitas tertentu.Pola umum dalam pembuatan ini dinyatakan dengan persamaan reaksi berikut.( Parlan,2005)

Laju Esterifikasi asam karboksilat tergantung pada halangan sterik dalam alkohol dan asam karboksilat.Kekuatan asam dari asam karboksilat hanya mempunyai pengaruh yang kecil dalam pembentukan ester. 2.6 Mekanisme Esterifikasi

Mengingat esterifikasi bersifat dapat dibalik maka dengan bertambahnya halangan sterik dalam zat antara,maka laju reaksi pembentukan ester akan menurun sehingga rendemen esternya berkurang.Jika suatu ester yang banyak harus dibuat lebih baik digunakan cara sintesis,misalnya reaksi antara alakohol dengan anhidra asam atau klorida asam,yang bersifat lebih reaktif dari pada asam karboksilat dan yang bereaksi dengan alkohol secara tidak dapat dibalik.(Parlan, 2005)

2.7 Etil Laurat

Nama lain Rumus struktur Berat molekul Bentuk Titik lebur Titik didih Kelarutan di air

: etil ester,etil laurinate :C2H5(CH2)10COOCH3 :228,37 g/mol : cairan bersih : -10oC :269oC : tidak dapat larut di air

Ester asam lemak ini banyak digunakan digunakan di industri misalnya untuk bahan baku untuk makanan,minyak pelumas plastik,bahan dasar parfume,dan sebagainya.

2.8 Kromatografi Gas Kromatografi gas adalah suatu metode analisa yang didasarkan pemisahan fisik zat organik atau anorganik yang stabil pada pemanasan dan mudah diatsirikan.Prinsipnya yaitu distribusi komponen-komponen dalam fase diam dan fase gerak yang memanfaatkan perbedaan kecil sifat-sifat fisik komponen yang hendak dipisahkan.(Mulya,1995) Kromatografi gas merupakan metode yang tepat dan cepat untuk memisahkan campuran yang sangat rumit dan untuk analisa fisika-kimia.Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor yaitu aliran fase gerak atau gas sangat terkontrol dan kecepatannya tetap,sangat mudah terjadi pencampuran uap sampel kedalam aliran fase gerak,pemisahan fisik terjadi didalam kolom yang tempraturnya dapat diatur kemudian ditangkap detektor dan dihasilkan rekaman kromatogram pada kromatografi gas. ( Mulya,1995) Kromatografi gas dapat dipakai untuk setiap campuran yang sebagian komponennya mempunyai tekanan uap pada suhu yang dipakai untuk pemisahan. Kromatografi gas mempunyai beberapa keunggulan,yaitu;

Merupakan metode yang cepat dan tepat umtuk memisahkan campuran yang sangat rumit

Mempunyai daya pisah yang tinggi Sederhana dan pengerjaannya tidak rumit Komponen campuran dapat diidentifikasi dengan waktu tambat yang khas pada kondisi yang tepat

Jangkauan analisisnya untuk analisis kualitatif dan kuantitatif sangat luas

Analisis kualitatifnya dapat dilakukan dengan membandingkan waktu tambat yang dihasilkan oleh larutan sampel dan larutan standart.Untuk membandingkan waktu tambat tersebut dengan menghitung selisih waktu tambat sampel dan waktu tambat standart. Analisis kuantitatif dapat dilakukan dengan membandingkan luas area puncak kromatagram sampel dengan luas area puncak standart.Waktu tambat adalah waktu yang menunjukkan berapa lama suatu senyawa bertahan dalam kolom dan dapat digunakan untuk analisis kualitatf dan analisa kuantitatif Prinsip kerja kromatografi gas adalah sampel diuapkan dengan diinjeksikan dalam kolom kromatografi,eluen atau fase geraknya adalah gas inert (tidak mudah bereaksi dengan zat lain)dalam hal ini gas tidak berinteraksi dengan analit tapi hanya berfungsi untuk transport analit melalui kolom. Ester yang terbentuk dari reaksi esterifikasi mempunyai sifat folatil (mudah menguap) sehingga dapat ditetapkan kadarnya dengan kromatografi gas.

2.9 Kerangka Teori VCO (Virgin Coconut Oil) merupakan minyak kelapa murni hasil pengolahan tanaman kelapa.Minyak kelapa murni ini mengandung asam lemak jenuh dan asam lemak tak jenuh.Asam lemak tak jenuh misalnya oleat dan linoleat.Pada golongan asam lemak jenuh misalnya asam laurat, asam kaprat, asam palmitat, dan asam kaprilat.Asam laurat merupakan komponen terbesar yang ada pada VCO.Asam laurat ini didalam tubuh akan diubah menjadi monolaurin yang berfungsi sebagai anti-virus, anti-bakteri, dan anti-

protozoa.Asam laurat juga banyak digunakan diindustri misalnya untuk bahan baku makanan,bahan baku parfume,zat aditif,bahan baku shampoo dan sabun. Mengingat kandungan dan manfaatnya yang sangat besar,maka penelitian ini ingin mengisolasi asam laurat yang ada pada VCO dengan jalan reaksi esterifikasi.Reaksi esterifikasi adalah reaksi antara asam karboksilat dengan alkohol menggunakan katalis asam mineral (umumnya H2SO4).Hasil dari reaksi esterifikasi ini kemudian dianalisa menggunakan kromatografi gas.

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian Sebelum melakukan penelitian terhadap VCO,maka harus disusun rancangan penelitian terlebih dahulu sehingga dapat mempermudah pelaksanaan penelitian.Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode eksperimen. Adapun tahap tahap penelitian ini adalah 3.1.1 Tahap Persiapan Tahap persiapan dalam penelitian ini adalah menyiapkan bahan sample VCO dan bahan lain yang digunakan serta alat-alat yang diperlukan 3.1.2 Tahap Pelaksanaan Tahap pelaksanaan dalam penelitian ini adalah mengisolasi asam laurat dengan reaksi esterifikasi VCO dan etanol dengan berbagai variasi perbandingan menggunakan katalis H2SO4 yang kemudian mengamati organoleptis dan melalukan analisa kualitatif menggunakan kromatografi gas.

3.1.3 Tahap Akhir Tahap akhir dari penelitian ini adalah mengumpulkan data dari organoleptis masing-masing variasi perbandingan dan mengumpulkan data kromatogram hasil analisis menggunakan kromatografi gas.

3.2 Sampel Penelitian ini menggunakan sampel VCO merk X

3.3 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.3.1 Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan dilaboratorium kimia Politeknik Brawijaya 3.3.2 Waktu Penelitian yaitu bulan juni-juli

3.4 Tahap Persiapan 3.4.1 3.4.2 Persiapan sampel Persiapan Alat 1. Seperangkat alat refluks 2. Beaker Glass 3. Gelas ukur 4. Batang pengaduk 5. Penangas 6. Corong 7. Labu ukur 8. Pipet volume 9. Kaki tiga dan kassa 10. Seperangkat alat kromatografi gas 11. Seperangkat alat destilasi fraksinasi

3.4.3

Persiapan Bahan 1. VCO 2. Aquadest 3. Etanol 4. H2SO4 pekat 5. Petroleum eter

3.5 Tahap Pelaksanaan 3.5.1 Persiapan Sampel Analisa dilakukan menggunakan 5 sampel dengan merk yang sama.Sampel dilarutkan terlebih dahulu dengan petroleum eter dengan perbandingan 1:1 supaya lebih homogen. 3.5.2 Reaksi Esterifikasi VCO 1. Sampel VCO (yang telah dilarutkan dalam petroleum eter), etanol, dan H2SO4 dicampur dengan perbandingan(ml) , sebagai berikut: VCO 25 ml 25 ml 25 ml 25 ml 25 ml Etanol 25 ml 50 ml 75 ml 100 ml 125 ml H2SO4 10 ml 10 ml 10 ml 10 ml 10 ml

2. Kemudian direfluks pada suhu diatas titik didih alkohol (sekitar 70oC) selama 4 jam 3. Hasil yang diperoleh kemudian didestilasi fraksinasi untuk

menghilangkan kelebihan etanol dan petroleum eter.

3.5.3

Organoleptis Hasil Esterifikasi Untuk mengetahui organoleptis hasil esterifikasi dilakukan

pengamatan warna dan berat jenis dari masing-masing hasil esterifikasi. 3.5.4 Analisa Kualitatif Menggunakan Kromatografi Gas 1. Ambil sebanyak 0,1l larutan sampel (hasil reaksi esterifikasi) dengan syringe 2. Injeksikan ke alat GC dengan kondisi Suhu injektor Suhu Kolom : : 250oC 100 250oC ( kenaikan 10oC per menit) Suhu detector Gas pembawa : : 250oC Nitrogen ( kecepatan 30 ml/ Jenis kolom Detector : : menit)

Carbowax FID

3. Bandingkan luas puncak yang diperoleh dari masingmasing variasi perbandingan

3.5

Tahap Akhir Tahap akhir dari penelitian ini adalah membandingkan luas area sampel 1-5

BAB IV HASIL PENELITIAN

Dari hasil penelitian yang dilakukan dalam pembuatan etil laurat dari VCO dengan katalis H2SO4 diperoleh data sebagai berikut : 4.1 Preparasi Sampel Analisa dilakukan dengan menggunakan 5 sampel dengan merek yang sama.Tiap sampel dipipet 25 ml dan dilarutkan terlebih dahulu dengan petroleum eter sebanyak 25 ml(dengan dikocok).Setelah pengocokan di tambahkan etanol dan H2SO4 sesuai dengan perbandingan(ml) yang telah ditentukan: Tabel 4.1 Variasi Perbandingan VCO:Etanol: H2SO4 Variasi Perbandingan 1 2 3 4 5 VCO 25 ml 25 ml 25 ml 25 ml 25 ml PETROLEUM ETER 25 ml 25 ml 25 ml 25 ml 25 ml ETANOL 25 ml 50 ml 75 ml 100 ml 125 ml H2SO4 10 ml 10 ml 10 ml 10 ml 10 ml

Hasil pengamatan secara organoleptis(warna) setelah dilakukan pencampuran diperoleh data seperti tabel 4.2 : Tabel 4.2 Organoleptis dari masing-masing variasi perbandingan Variasi perbandingan 1 2 3 4 5 Organoleptis(warna) Coklat tua Kekuningan Jernih Jernih Jernih

4.2 Reaksi Esterifikasi VCO Hasil pengamatan secara organoleptis setelah dilakukan esterifikasi menggunakan refluk dilanjutkan dengan destilasi fraksinasi diperoleh hasil seperti tabel dibawah ini : Tabel 4.3 Hasil Pengamatan Pembuatan Asam Laurat Variasi 1 2 3 4 5 Warna Set.direfluks Coklat pekat Kekuningan Jernih Jernih Jernih Warna Set.Destilasi Fraksinasi Coklat pekat Coklat pekat Coklat pekat Coklat pekat Coklat pekat Destilat yang diperoleh set.fraksinasi 30 ml 32 ml 35 ml 36 ml 37 ml Berat Jenis 1,2145 1,2147 1,2143 1,2150 1,2155

4.3 Analisa Hasil Esterifikasi Menggunakan Kromatografi Gas Setelah diamati secara organoleptis dan berat jenisnya hasil destilasi yang diperoleh dianalisa menggunakan kromatografi gas.Hasil kromatogram dari berbagai variasi ditunjukkan pada gambar kromatogram dan tabel sebagai berikut : Gambar 4.4 Kromatogram Hasil Esterifikasi Dengan Variasi perbandingan 1

Tabel 4.5 Luas Puncak Kromatogram Hasil Esterifikasi Dengan Perbandingan 1 PEAK TIME (MIN) 0.615 0.786 1.780 3.162 5.054 7.017 9.101 10.553 10.995 12.431 15.346 20.175 28.676 AREA (V.S) 5575.69 55621.69 12543.00 209345.92 183684.41 1081047.16 492518.39 95016.82 146943.25 516214.58 179915.48 70256.72 3994.97 3052678.08 HEIGHT (V) 1587.60 10178.92 368.72 4424.53 3762.30 22267.55 9321.39 3808.53 4192.94 12354.25 2750.05 804.75 37.45 75858.96 AREA (%) 0.18 1.82 0.41 6.86 6.02 35.41 16.13 3.11 4.81 16.91 5.89 2.30 0.13 100.00 NORM. AREA (%) 0.18 1.82 0.41 6.86 6.02 35.41 16.13 3.11 4.81 16.91 5.89 2.30 0.13 100.00

Variasi

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13

AREA/HEI GHT (S) 3.5120 5.4644 34.0181 47.3148 48.8224 48.5481 52.8375 24.9484 35.0454 41.7844 65.4227 87.3029 106.6796

Gambar 4.6 Kromatogram Hasil Esterifikasi Dengan Variasi perbandingan 2

Tabel 4.7 Luas Puncak Kromatogram Hasil Esterifikasi Dengan Perbandingan 2 PEAK TIME (MIN) 0.588 0.772 1.716 3.075 4.382 4.967 6.941 8.408 9.052 10.424 10.927 12.342 15.211 19.910 28.063 AREA (V.S) 59504.83 144566.69 14389.40 181778.71 7747.10 146181.22 797192.80 75141.31 257403.52 96325.13 122750.31 617925.16 305990.69 120450.62 8085.25 2955432.76 HEIGHT (V) AREA (%) NORM. AREA (%) 2.01 4.89 0.49 6.15 0.26 4.95 26.97 2.54 8.71 3.26 4.15 20.91 10.35 4.08 0.27 100.00

Variasi

AREA/ HEIGHT (S) 5.6459 8.6878 32.1835 39.2762 5.8304 40.6494 42.4903 19.8973 38.3813 24.8573 36.8530 34.4961 66.0549 88.9904 91.8298

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15

10539.42 2.01 16640.15 4.89 447.10 0.49 4628.22 6.15 1328.74 0.26 3596.14 4.95 18761.76 26.97 3776.46 2.54 6706.48 8.71 3875.13 3.26 3330.81 4.15 17912.92 20.91 4632.37 10.35 1353.52 4.08 88.05 0.27 97617.27 100.00

Gambar 4.8 Kromatogram Hasil Esterifikasi Dengan Variasi perbandingan 3

Tabel 4.9 Luas Puncak Kromatogram Hasil Esterifikasi Dengan Perbandingan 3 PEAK TIME (MIN) AREA (V.S) HEIGHT (V)

Variasi

AREA NORM.AREA AREA/HE (%) (%) IGHT (S) 16.54 62.47 4.68 0.15 4.95 0.53 1.75 2.09 3.43 0.66 2.77 100.00 7.2929 14.5955 63.9568 23.5177 42.811 23.1582 38.8236 46.5378 60.2203 55.6871 106.1761

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11

0.626 277853.75 38099.20 16.54 0.777 1049604.87 71913.00 62.47 3.148 78706.51 1230.62 4.68 4.641 2543.59 108.16 0.15 7.227 83181.82 1943.00 4.95 8.540 8884.70 383.65 0.53 9.254 29354.05 756.09 1.75 11.121 35060.53 753.38 2.09 12.477 57593.96 956.39 3.43 15.427 11019.33 197.88 0.66 20.117 46483.34 437.79 2.77 1680286.45 116779.16 100.00

Gambar 4.10 Kromatogram Hasil Esterifikasi Dengan Variasi perbandingan 4

Tabel 4.11 Luas Puncak Kromatogram Hasil Esterifikasi Dengan Perbandingan 4 PEAK TIME (MIN) 0.601 0.773 1.656 3.018 4.857 6.802 8.199 8.882 10.216 10.770 12.092 14.811 19.246 27.533 AREA (V.S) 24670.35 103463.27 18136.86 155423.13 103769.16 600772.67 74795.45 209367.32 84754.28 154746.26 609610.85 291326.10 93674.13 22726.48 2547236.30 HEIGHT (V) 3917.01 9190.04 431.11 3881.65 2579.15 15111.99 3107.35 5862.44 3370.59 3560.94 15314.26 3805.83 1018.40 155.59 71306.33 AREA (%) 0.97 4.06 0.71 6.10 4.07 23.59 2.94 8.22 3.33 6.08 23.93 11.44 3.68 0.89 100.00

Variasi

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

NORM. AREA (%) 0.97 4.06 0.71 6.10 4.07 23.59 2.94 8.22 3.33 6.08 23.93 11.44 3.68 0.89 100.00

Gambar 4.12 Kromatogram Hasil Esterifikasi Dengan Variasi perbandingan 5

Tabel 4.13 Luas Puncak Kromatogram Hasil Esterifikasi Dengan Variasi Perbandingan 5 TIME PEAK (MIN) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 0.587 0.694 3.177 5.062 7.021 9.128 11.025 12.447 15.392 20.216 29.391 AREA (V.S) HEIGHT (V) AREA NORM.AREA (%) (%) 0.12 40.65 4.28 3.47 22.91 9.84 6.82 9.01 1.84 0.81 0.24 100.00 AREA/ HEIGHT (S) 3.3750 6.6195 45.0691 44.3804 47.5107 49.0513 55.3273 595373 63.3978 79.9999 200.8823

2965.68 878.72 0.12 972637.07 146935.43 40.65 102375.10 2271.51 4.28 82959.06 1869.27 3.47 548289.51 11540.35 22.91 235477.61 4800.64 9.84 163078.49 2947.52 6.82 215654.50 3622.18 9.01 44080.72 695.30 1.84 19437.20 242.97 0.81 5857.44 29.16 0.24 2392812.36 175833.04 100.00

BAB V PEMBAHASAN

Penelitian tentang esterifikasi VCO dan etanol dengan berbagai variasi perbandingan menggunakan katalis H2SO4 pada tahap preparasi sampel dari pencampuran antara VCO, etanol, pretoleum eter seperti disajikan pada tabel 4.1 ternyata menunjukkan perbedaan warna. Perbedaan secara organoleptis saat sebelum esterifikasi dikarenakan pengaruh dari penambahan etanol berlebih dan petroleum eter. Reaksi esterifikasi adalah reaksi pembentukan ester dengan cara mereaksikan asam karboksilat dengan alkohol menggunakan katalis asam mineral yang digunakan pada umumnya yaitu H2SO4 , yang kemudian dilakukan proses reflux. Hasil pengamatan penambahan katalis H2SO4 larutannya menjadi panas dan berwarna bening.Waktu refluks selama proses esterifikasi selama 4 jam. Proses refluks dilakukan selama 4 jam untuk menyempurnakan proses reaksi esterfikasi. Dalam penelitian ini sebelum mengalami reaksi esterifikasi, terlebih dahulu VCO yang merupakan ester gliserol dari asam lemak bebas terhidrolisis adanya asam (asam sulfat) menjadi gliserol dan asam lemak bebas. Kemudian asam-asam lemak bebas seperti asam laurat, asam palmitat, asam stearat dan lainlain mengalami reaski esterfikasi, bereaksi dengan etanol dan adanya katalis asam membentuk ester asam lemak bebasnya. Setelah refluks dilakukan destilasi

fraksinasi. Destilasi fraksinasi ini bertujuan untuk memisahkan hasil reaksi, misalnya gliserol, air, asam sulfat dan ester asam lemak bebasnya. Asam lemak

bebasnya dapat berupa ester laurat, ester palmitat, ester stearat, ester linoleat dan lain-lain. Dalam penelitian ini, proses destilasi fraksinasinya kurang sempurna, karena hanya dilakukan sampai pemanasan pada suhu sekitar 100C dan tidak dipasang pompa vakum yang berfungsi untuk menurunkan suhu. Setelah dilakukan esterifikasi hasil pengamatan menunjukkan perbedaan antara setelah di refluk, setelah didestilasi fraksinasi, dan berat jenis karena antara sampel dan pereaksi telah mengalami reaksi dan membentuk ester. Fungsi dari refluk adalah sebagai tempat mereaksikan dan destilasi fraksinasi berfungsi untuk menghilangkan kelebihan etanol dan petroleum eter. Pada penelitian ini destilat pertama kali menetes pada suhu 30oC sampai 40oC yang diduga merupakan petroleum eter dan pada suhu 68oC sampai 70oC destilat menetes kembali yang diduga adalah etanol. Dalam penelitian ini hasil esterifikasi diperoleh perbedaan secara orgonoleptis dari masing-masing perbandingan. Pada variasi 1 warna setelah direfluks coklat pekat, variasi 2 berwarna kekuningan, sedangkan untuk variasi 35 berwarna jernih. Masing-masing perbandingan setelah dilakukan destilasi

fraksinasi warna berubah menjadi coklat pekat, karena pelarut petroleum eter dan etanol sisa reaksi telah terdestilasi, ditunjukkan keluarnya distilat pada suhu 40oC dan 70oC. Sebelum dilakukan analisis dengan kromatografi gas, asumsi penelitian ini bahwa reaksi esterfikasi dengan berbagai variasi perbandingan ini dilakukan dengan kondisi yang sama dan analisis dengan kromatografi gas dengan kondisi yang sama, sehingga dapat ditentukan hasil esterifikasi yang relatif paling baik

dengan cara membandingkan profil masing-masing kromatogramnya dari kromatografi gas. Hasil analisis menggunakan kromatografi gas seperti yang disajikan 4.4, 4.6, 4.8, 4.10, dan 4.12 secara umum terdapat perbedaan profil kromatogramnya. Pada gambar 4.4, waktu retensi 7 mempunyai luas puncak 48.8224. Jika dibandingkan dengan gambar 4.6 4.12 yang masing mempunyai waktu retensi dan luas puncak, yaitu (7, 42.4903), (7, 42.811), (7,23.59), (7,47.5101) maka yang mempunyai profil dan luas puncak yang relatif paling baik adalah pada gambar 4.4, yaitu waktu retensi 7 dan luas puncak 48.8224, yang memiliki perbandingan 1:1. Secara teoritis perbandingan 1:1 paling baik, karena dalam reaksi esterfikasi ini jumlah reaktan(asam karboksilat) dan pereaksinya(alkohol) mempunyai perbandingan yang sama dengan reaksi esterifikasi yaitu 1:1

dan mekanisme reaksinya adalah sebagai berikut :

BAB VI PENUTUP

6.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan : 6.1.1 Terdapat perbedaan dari masing-masing variasi perbandingan dari hasil esterifikasi VCO dan etanol dengan katalis H2SO4

6.1.2

Variasi perbandingan dari reaksi esterifikasi VCO dan etanol dengan katalis H2SO4 yang terbaik adalah variasi perbandingan VCO dan etanol 1:1

6.2 Saran 6.2.1 Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk dibandingkan dengan standart ester hasil reaksi esterifikasi 6.2.2 Perlu dilakukan tindak lanjut untuk menentukan kadar dari masing-masing hasil esterifikasi.

DAFTAR RUJUKAN Fessenden, Fessenden. Kimia Organik .Jilid I. Terjemah oleh Aloysius Hadayana pudjaamaka ph. Surabaya : Airlangga university Press Wahyudi,Parlan.2005. Kimia Organik I . Malang:Universitas Negeri Malang Indonesia, Departemen Kesehatan.1995. Farmakope Indonesia ED IV. Jakarta : Departemen Kesehatan Replubik Indonesia Hart,Harold. Kimia Organik . Edisi II. Surabaya : Airlangga Alamsyah,A.N.2005. Virgin CoconutOil : Minyak Penakhluk Aneka Penyakit. Jakarta : PT Agromedia Pustaka. Anonymous.2001.Coconut The Tree off life. Kumpulan makalah mengenai kelapa. Malang : Padepokan jamu herba bagoes. Rindengan,B. dan Hengky Novarianto.2005. Pembuatan dan Pemanfaatan Minyak Kelapa Murni. Jakarta: Penebar Swadaya Lutfiah azizah,Yunita 2006. Evaluasi Senyawa Eugenol pada Minyak Basil dari daun tanaman Ocium Basillicum dengan menggunakan metode Kromatografi Gas. Karya Tulis Ilmiah tidak diterbitkan Malang : Akademi Analis Farmasi dan Makanan Putera Indonesia Malang Dwi Handiyanti, Unik.2007. Perbandingan Bilangan Ester Pada Minyak Nilam Sebelum Dan Sesudah Esterifikasi. Karya Tulis Ilmiah tidak diterbitkan Malang : Akademi Analis Farmasi dan Makanan Putera Indonesia Malang