Anda di halaman 1dari 12

1.

Anatomi Fisiologi Sistem Persarafan Seperti yang dikemukakan Syaifuddin (1997), bahwa system saraf terdiri dari system saraf pusat (sentral nervous system) yang terdiri dari cerebellum, medulla oblongata dan pons (batang otak) serta medulla spinalis (sumsum tulang belakang), system saraf tepi (peripheral nervous system) yang terdiri dari nervus cranialis (saraf-saraf kepala) dan semua cabang dari medulla spinalis, system saraf gaib (autonomic nervous system) yang terdiri dari sympatis (sistem saraf simpatis) dan parasymphatis (sistem saraf parasimpatis). Otak berada di dalam rongga tengkorak (cavum cranium) dan dibungkus oleh selaput otak yang disebut meningen yang berfungsi untuk melindungi struktur saraf terutama terhadap resiko benturan atau guncangan. Meningen terdiri dari 3 lapisan yaitu duramater, arachnoid dan piamater. Sistem saraf pusat (Central Nervous System) terdiri dari : a. Cerebrum (otak besar) Merupakan bagian terbesar yang mengisi daerah anterior dan superior rongga tengkorak di mana cerebrum ini mengisi cavum cranialis anterior dan cavum cranialis media. Cerebrum terdiri dari dua lapisan yaitu : Corteks cerebri dan medulla cerebri. Fungsi dari cerebrum ialah pusat motorik, pusat bicara, pusat sensorik, pusat pendengaran / auditorik, pusat penglihatan / visual, pusat pengecap dan pembau serta pusat pemikiran. Sebagian kecil substansia gressia masuk ke dalam daerah substansia alba sehingga tidak berada di corteks cerebri lagi tepi sudah berada di dalam daerah medulla cerebri. Pada setiap hemisfer cerebri inilah yang disebut sebagai ganglia basalis. Yang termasuk pada ganglia basalis ini adalah : 1) Thalamus Menerima semua impuls sensorik dari seluruh tubuh, kecuali impuls pembau yang langsung sampai ke kortex cerebri. Fungsi thalamus terutama penting untuk integrasi semua impuls sensorik. Thalamus juga merupakan pusat panas dan rasa nyeri. 2) Hypothalamus Terletak di inferior thalamus, di dasar ventrikel III hypothalamus terdiri dari beberapa nukleus yang masing-masing mempunyai kegiatan fisiologi yang berbeda. Hypothalamus merupakan daerah penting untuk mengatur fungsi alat demam seperti mengatur metabolisme, alat genital, tidur dan bangun, suhu tubuh, rasa lapar dan haus, saraf otonom dan sebagainya. Bila terjadi gangguan pada tubuh, maka akan terjadi perubahan-perubahan. Seperti pada kasus kejang demam, hypothalamus berperan penting dalam proses tersebut karena fungsinya yang mengatur keseimbangan suhu tubuh terganggu akibat adanya proses-proses patologik ekstrakranium. 3) Formation Reticularis Terletak di inferior dari hypothalamus sampai daerah batang otak (superior dan pons varoli) ia berperan untuk mempengaruhi aktifitas cortex cerebri di mana pada

daerah formatio reticularis ini terjadi stimulasi / rangsangan dan penekanan impuls yang akan dikirim ke cortex cerebri. b. Serebellum Merupakan bagian terbesar dari otak belakang yang menempati fossa cranial posterior. Terletak di superior dan inferior dari cerebrum yang berfungsi sebagai pusat koordinasi kontraksi otot rangka. System saraf tepi (nervus cranialis) adalah saraf yang langsung keluar dari otak atau batang otak dan mensarafi organ tertentu. Nervus cranialis ada 12 pasang : 1) N. I : Nervus Olfaktorius 2) N. II : Nervus Optikus 3) N. III : Nervus Okulamotorius 4) N. IV : Nervus Troklearis 5) N. V : Nervus Trigeminus 6) N. VI : Nervus Abducen 7) N. VII : Nervus Fasialis 8) N. VIII : Nervus Akustikus 9) N. IX : Nervus Glossofaringeus 10) N. X : Nervus Vagus 11) N. XI : Nervus Accesorius 12) N. XII : Nervus Hipoglosus. System saraf otonom ini tergantung dari system sistema saraf pusat dan system saraf otonom dihubungkan dengan urat-urat saraf aferent dan efferent. Menurut fungsinya system saraf otonom ada 2 di mana keduanya mempunyai serat pre dan post ganglionik yaitu system simpatis dan parasimpatis. Yang termasuk dalam system saraf simpatis adalah : 1) Pusat saraf di medulla servikalis, torakalis, lumbal dan seterusnya 2) Ganglion simpatis dan serabut-serabutnya yang disebut trunkus symphatis 3) Pleksus pre vertebral : Post ganglionik yg dicabangkan dari ganglion kolateral. System saraf parasimpatis ada 2 bagian yaitu : Serabut saraf yang dicabagkan dari medulla spinalis: 1. Serabut saraf yang dicabangkan dari otak atau batang otak 2. Serabut saraf yang dicabangkan dari medulla spinalis.

PERMASALAHAN a. Kejang Sel dikelilingi oleh membran yang teridri dari permukaan membran yaitu lipoid dan permukaan luar yaitu ionik. Dalam keadaan normal membran sel neuron dapat dilaalui dengan mudah oleh ion kalium (K+) dan sulit dilalui oleh ion natrium (Na+) dan elektrolit lainnya,kecuali ion klorida (Cl-). Akibat konsentrasi K+ dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi Na+ rendah, sedang diluar sel neuron terdapat keadaan sebaliknya. Karena perbedaan jenis dan konsentrasi ion didalam dan sdiluar sel, maka terdapat keadaan potensial membran yang disebut potensial membran dari neuron. Untuk menjaga keseimbengan potensial membran ini diperlukan energi dan bantuan en zim Na-K ATP- ase yang terdapat pada permukaan sel. Keseimbangan potensial membran ini dapat diubah menjadi : 1. 2. perubahan kosentrasi ion diluar ekstraseluler rangnsangan yang datangnya mendadak misalnya mekanis, kimiawi atau aliran listrik dari sekitarnya. 3. perubahan patofisiologi dari membran sendiri karena penyakit atau keturunan.

Pada seoarang anak berumur 3 tahun sirkulasi otak mencapai 65 % dari seluruh tubnuh dibandingkan dengan orang dewasa yang hanya 15 %. Oleh karena itu, kenaikansuhu tubuh dapat mengubah keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam waktu yang singkat terjadi difusi dari ion kalium maupun natrium melalui membran tersebut dengan akibat terjadinya lepas muatan listrik. Lepas muatn listrik ini demikian besarnya sehingga dapat meluas keseluruh sel maupun kemembran sel sekitarnya dengan bantuan bahan yang disebut neurotransmitter dan terjadi kejang. b. Tidak sadar Tidak sadarkan diri pada pasien disebabkan karena terlalu banyak muatan listrik yang dilepaskan oleh neuron. Sehingga neurotransmitter yang berupa informasi dalam tubuh termasuk informasi kesadaran munculnya tidak normal, akibatnya pasien tidak sadarkan diri.

c. Sadar kembali Mekanisme dasar pencegahan kejang pada system saraf pusat itu ada 2, yaitu 1. Adanya lingkaran inhibi

2. Kelelahan Sinaps Pada kejang terjadi reverbasi sinyal pada neuron. Keadaan ini dapat dicegah dengan adanya lingkaran inhibin yang berfungsi sebagai penghalang masuknya neuron. Jika lingkaran inhibin ini bekerja maka akan menyebabkan penurunan eksitasi yang berakibat pada peningkatan kesadaran pasien. Alasan kedua mengapa pasien kembali sadar karena pada neuron terdapat daerah sinaps yang merupakan tempat difusi asetilkolin. Pada saat kejang trjadi peningkatan difusi asetilkolin pada sinaps sehingga menigkatkan kerja sinaps. Karena peningkatan kerja ini, berakibat pada kelelahan sinaps, sehingga tidak terjadi lagi difusi asetilkolin yang berlebih, maka akan membuat kesadaran pasien berangsur-angsur kembali normal.

1. Bagaimana hubungan demam tinggi, batuk pilek dengan munculnya kejang?\ Demam tinggi, batuk dan pilek merupakan factor predisposisi dari munculnya kejang. Dimana demam tinggi paling brpengaruh tradap munculnya kejang. Demam tinggi dapat merubah atau mengganggu fungsi membaran neuron sehingga membrane mudah dilampaui oleh ion Ca dan Na dari ruangan ekstra ke intra seluler. Influks Ca akan mencetuskan letupan depolarisasi membrane dan lepas muatan listrik berlebihan, tidak teratur dan terkendali. Depolarisasi yang tidak teratur ini mengakibatkan munculnya kejang.

2. Bagaimana hubungan kejang dengan badan kaku, mata memutar, pasien tidak responsive, napas terganggu,dan kulit tampak lebih gelap? Badan yang kaku merupakan tanda-tanda kejang. Ini muncul karena neuron meningkatkan kontraksi otot seluruh tubuh karna adanya gangguan transfer ninformasi pada neuron. Kontraksi otot yang berlbih akan berdampak pada mata yang memutar karena mata bergerak diabantu oleh otot-otot mata sedangakan oto itu sendiri terjadi kekakuan. Nafas terganggu juga muncul karena terjadi kekakuan otot. Pada bayi pernafasan berlangsung mengguanakan pernafasan perut yang dibantu oleh otot-otot perut. Disaat kejang otot-otot perut tidak bias berkontraksi dengan benar sehingga tidak bias membantu pernafasan akibatnya terjadi gangguan nafas. Gangguan nafas ini selanjutnya mengakibatkan hipoksia dan hipoksia ini mengakibatkan kulit menjadi lebih gelap karena terjadi sianosis.

3.

Bagaimana hubungan umur pasien dengan keluhan utama?

Pada umur 1 tahun terjadi perfusi yang lebih besar daripada perfusi di otak pada orang yang lebih dewasa. Jadi pada kenaikan suhu tertentu dapat terjadi prubahan keseimbangan dari membaran sel neuron dalam waktu singkat terjadi pertukaran ion K dan Na yang akan mengakibatakan letupan muatan listrik yang berulang. Karena alas an inilah pada bayi umur 1 tahun akan lebih rentan mengalami kejang karena panas dingin daripada orang dewasa.

A. IDENTIFIKASI PASIEN IDENTIFIKASI PASIEN : Nama Umur Jenis kelamin Keluhan utama : Mr.x : 1 Thn : : Anak kejang sebanyak 1 kali semalam.

Keluhan penyerta : Sebelum kejang badan pasien panas tinggi, batuk pilek,badan kaku, Serta memutar matanya. Onset : 3 menit

Riwaayat keluarga : tidak ada

ETIOLOGI Langkah selanjutnya, setelah d iyakini bahwa se rangan saat ini adalah kejang adalah mencari penyebab kejang. Penentuan faktor peny ebab kejang sangat menentukan untuk tatala ksana selanjutnya, karena kejang dapat diakibatkan berbagai macam eti ologi. Adapun etiologi kejang yang tersering pada anak dapat dilihat pada tabel 3. Tabel 3. Penyebab tersering kejang pada anak - Kejang demam - Infeksi: meningitis, ensefalit is - Gangguan metabolik: hipoglikem ia, hiponatremia, hipoksemia, hipokalsemia, gangguan elektro lit, defisiensi piridoksin, ga gal ginjal, gagal hati, gangguan metabolik bawaan - Trauma kepala - Keracunan: alkohol, teofilin - Penghentian obat anti epilepsi - Lain-lain: enselopati hipertensi, t umor otak, perdarahan intrakra nial, idiopatik

DIAGNOSIS Anamnesis dan pemeriksaan fisi s yang baik diper lukan untuk memilih pemeriksaan penunjang yang ter arah dan tatalaksana selanjutn ya. Anamnesis dimulai dari riwayat perjalana n penyakit sampa i terjadinya kejang, kemudian mencari kemungkinan adanya fakt or pencetus atau penyebab keja ng. Ditanyakan riwayat kejang sebelumnya, kondisi me dis yang berhubungan, obat-obatan, trauma, gejala-gejala infeksi, keluhan neurol ogis, nyeri atau cedera akibat kejang. Pemeriksaan fisis dimulai deng an tanda-tanda vital, mencari tanda -tanda trauma akut kepala dan adanya kelainan sistemik, terpapar zat toksik, infeksi, atau ada nya kelainan neurologis fokal. Bila terjadi penurunan kesada ran diperlukan pemeriksaan lanjutan untuk mencari faktor penyebab. Untuk menentukan faktor penyeb ab dan komplikasi kejang pada anak, diperlukan beberapa pemeriksaan p enunjang yaitu: laboratorium, pungsi lumbal, elektroensefalografi, dan neuroradiologi.Pemilihan jenis pemeriksaan penunjang disesuaikan dengan kebutuhan.Pemeriksaan yang dianjurkan pada pasien dengan kejang pertama adalah kadar glukosa darah, elektrolit,dan hitung jenis.

Komplikasi Pada penderita kejang demam yang mengalami kejang lama biasanya terjadi hemiparesis. Kelumpuhannya sesuai dengan kejang fokal yang terjadi. Mula mula kelumpuhan bersifat flasid, tetapi setelah 2 minggu timbul spastisitas. Kejang demam yang berlangsung lama dapat menyebabkan kelainan anatomis di otak sehingga terjadi epilepsy.

Ada beberapa komplikasi yang mungkin terjadi pada klien dengan kejang demam : a. Pneumonia aspirasi b. Asfiksia c. Retardasi mental

Diazepam adalah turunan dari benzodiazepine yang merupakan sedatif yang berhubungan erat dengan depresi sistem saraf pusat. Obat ini merupakan obat standar terhadap benzodiazepin lainnya. Diazepam dan benzodiazepin lainnya bekerja dengan meningkatkan efek GABA (gamma aminobutyric acid) di otak. GABA adalah neurotransmitter (suatu senyawa yang digunakan oleh sel saraf untuk saling berkomunikasi) yang menghambat aktifitas di otak. Diazepam merupakan obat dengan kelas terapi antiansietas, antikonvulsan, dan sedatif. Digunakan pada pengobatan agitasi, tremor, delirium, kejang, dan halusinasi akibat alkohol.

Diazepam meningkatkan penghambatan efektifitas GABA dalam menghasilkan rangsangan dengan meningkatkan permeabilitas membran terhadap ion klorida. Perubahan ini mengakibatkan ion klorida berada dalam bentuk terhiperpolarisasi (bentuk kurang aktif / kurang memberikan rangsangan) dan stabil. Diazepam secara cepat terdistribusi dalam tubuh karena bersifat lipid-soluble, volume distribusinya 1,1L/kg, dengan tingkat pengikatan pada albumin dalam plasma sebesar (98-99%) menyebabkan efeknya sangat singkat. Oleh karena itu, antikonvulsan dengan lama kerja lebih panjang seperti fenitoin atau fenobarbital harus segera diberikan setelah diazepam. Onset diazepam jika diberikan secara iv adalah 1-5 menit dan jika secara im 15-30 menit, sedangkan durasinya mulai 15 menit sampai 1 hari.