Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

NEUROBEHAVIOR II

Psychiatric Intensive Care Unit (PICU)


Disusun oleh kelompok 3 Ana Nuraini Amiruddin Rao Deni Miftahhul Khair Mustain Nelly Sagita Nora Novianti Pebi Fardani Septiadi Saputra Kelas II C SEMESTER IV

Sekolah Tinggi Ilmu Keperawatan Muhammadiyah Pontianak


Tahun ajaran 2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami sampaikan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahNya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Psychiatric Intensive Care Unit yang di susun untuk memenuhi tugas mata kuliah Neurobehavior II. Makalah ini merupakan salah satu unsur pelengkap yang di dalamnya masih terdapat banyak kesalahan. Oleh karena itu, kami memerlukan masukan masukan untuk menyempurnakan makalah ini, sehingga sesuai dengan yang diharapakan. Penulis juga berharap, semoga isi yang ada di dalam makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Akhirnya, penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua unsur yang telah memberikan masukan dalam pembuatan makalah ini, sehingga dapat terselesaikan.

Pontianak, 12 April 2013

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................................... DAFTAR ISI......................................................................................................... BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ................................................................................................ B. Tujuan ............................................................................................................. C. Rumusan Masalah ........................................................................................... BAB II TINJAUAN TEORITIS A. B. C. D. E. Definisi Psikiatri ........................................................................................ Definisi Psychiatric Intensive Care Unit .................................................... Kriteria Kondisi Darurat Psikiatri .............................................................. Fase-fase Tindakan Intensif Bagi Pasien Psikiatri Mengukur Tingkat Kedaruratan Pasien Dengan Skala .............................. GAF (General Adaptive Function) ........................................................... F. Modifikasi Skor GAF ( General Adaptive Function) ................................ BAB III PENUTUP A. Kesimpulan ........................................................................................... B. Saran...................................................................................................... DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Psychiatric Intensive Care Unit memiliki fungsi yang didefinisikan dalam hal memenuhi kebutuhan jangka pendek individu yang hadir dengan gangguan perilaku dan symptomology ekstrim yang dapat mengakibatkan merugikan diri atau resiko lain. Pada tahun 2002 Departemen Kesehatan menerbitkan Kebijakan Pelaksanaan Bimbingan berjudul "Standar nasional minimum untuk Dewasa Layanan Umum di Psychiatric Intensive Care Unit (PICU) dan Lingkungan Aman Rendah". Ini didefinisikan perawatan intensif psikiatri sebagai untuk pasien yang wajib ditahan, biasanya dalam kondisi aman, yang berada dalam fase akut terganggu dari gangguan mental yang serius. Ada kerugian yang terkait kapasitas untuk pengendalian diri dengan peningkatan yang sesuai dalam risiko, yang tidak memungkinkan aman, manajemen terapi dan pengobatan di bangsal akut umum terbuka. Perawatan intensif Psychiatric disampaikan oleh staf yang berkualitas bekerja sebagai tim multi-disiplin, menurut sebuah filosofi disepakati unit operasi didukung oleh prinsip-prinsip penilaian risiko dan manajemen risiko yang positif. Perawatan dan pengobatan yang ditawarkan harus berpusat pada pasien, multidisiplin, intensif, komprehensif, kolaboratif dan memiliki kedekatan dalam menanggapi situasi kritis. B. Tujuan Ada pun tujuan dari penulisan makalah ini yaitu : Agar mahasiswa mengerti apa yang dimaksud dengan Psychiatric Intensive Care Unit. Agar mahasiswa mengetahui apa saja kriteria pasien yang masuk PICU. Agar mahasiswa mengetahui fase-fase dalam tindakan intensif untuk pasen PICU. Agar mahasiswa mengerti cara pengukuran tingkat kedaruratan pasien dengan menggunakan skala GAF (General Adaptive Function). C. Rumusan Masalah Apa yang dimaksud dengan Psikiatri ? Apa yang dimaksud dengan Psychiatric Intensive Care Unit ? Apa saja kriteria pasien yang masuk PICU ? Apa saja fase-fase dalam tindakan intensif untuk pasien PICU ? Bagaimana cara mengukur tingkat kedaruratan pasien dengan menggunakan skala GAF (General Adaptive Function) ?

BAB II TINJAUAN TEORITIS

A. Definisi Psikiatri Psikiatri adalah spesialisasi medis yang ditujukan untuk mempelajari dan pengobatan gangguan mental-yang meliputi gangguan afektif, perilaku, kognitif dan berbagai persepsi. Istilah ini pertama kali dicetuskan oleh dokter Jerman Johann Christian Reil tahun 1808. Secara harfiah berarti 'pengobatan pikiran' (psikologi-: pikiran;-iatry: perawatan medis; dari itrikos Yunani: medis, isthai: untuk menyembuhkan). Ilmu psikiatri tidaklah berdiri sendiri, melainkan selalu berkolaborasi dan segala aspeknya selalu berkaitan dengan cabang-cabang ilmu kedokteran lainnya, misalnya dengan cabang ilmu saraf (Neurologi) dan ilmu penyakit dalam (Internal Medicine). Ilmu psikiatri dibangun atas 4 fondasi dasar, yaitu: 1.Dimensi Organo-biologis yaitu aspek pengetahuan tentang organ-organ tubuh serta fungsi fisiologis tubuh manusia khususnya yang berkaitan langsung dengan aspek kesehatan jiwa (seperti Sistem Susunan Saraf Pusat) 2Dimensi Psiko-edukatif yaitu aspek pengetahuan tentang perkembangan psikologis manusia serta pengaruh pendidikan-pengajaran terhadap seorang manusia sejak lahir hingga lanjut usia. 3.Dimensi Sosial-Lingkungan yaitu aspek pengetahuan tentang pengaruh kondisi sosial-budaya serta kondisi lingkungan kehidupan terhadap derajat kesehatan jiwa manusia. 4.Dimensi Spiritual-Religius yaitu aspek pengetahuan tentang pengaruh taraf penghayatan dan pengamalan nilai-nilai spiritual-religius terhadap derajat kesehatan jiwa manusia. B. Definisi Psychiatric Intensive Care Unit (PICU) atau UPIP (UNIT PERAWATAN INTENSIF PSIKIATRI) Psychiatric Intensive Care Unit (PICU) merupakan pelayanan yang ditujukan untuk klien gangguan jiwa dalam kondisi krisis psikiatri (Keliat, dkk, 2009). Psychiatric Intensive Care Unit (PICU) merupakan gabungan pelayanan gawat darurat psikiatri dan pelayanan intensif, yang dapat diselenggarakan di rumah sakit jiwa atau unit psikiatri rumah sakit umum (Keliat, dkk, 2009). Psychiatric Intensive Care Unit (PICU) adalah suatu unit yang memberikan perawatan khusus kepada klien-klien psikiatri yang berada dalam kondisi membutuhkan pengawasan ketat (Maryree, 2010). Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka dapat disimpulkan bahwa PICU adalah suatu unit gabungan pelayanan gawat darurat psikiatri dan pelayanan intensif, yang ditujukan untuk klien gangguan jiwa yang dalam kondisi krisis psikiatri dan berada dalam kondisi yang membutuhkan pengawasan ketat, dimana dapat diselenggarakan di rumah sakit jiwa atau psikiatri rumah sakit umum.

Unit perawatan intensif psikiatri (UPIP)adalah suatu unit yang memberikan perawatan khusus kepada pasien-pasien psikiatri yang berada dalam kondisi membutuhkan pengawasan ketat. Di beberapa negara unit ini diterjemahkan sebagai unit kedaruratan ataupun unit akut yang pada prinsipnya memiliki tujuan yang sama yaitu merawat pasien-pasien yang berada dalam kondisi membutuhkan intervensi segera. Pasien dengan kondisi ini adalah pasien-pasien dalam kondisi dapat membahayakan diri sendiri, orang lain dan lingkungan, seperti pasien dengan usaha bunuh diri, halusinasi, perilaku kekerasan, NAPZA, dan waham. Kedaruratan Psikiatrik adalah Keadaan gangguan dalam proses fikir, alam perasaan dan perbuatan yang memerlukan tindakan pertolongan segera. Kasus kedaruratan psikiatrik yang sering ditemukan adalah percobaan bunuh diri dan keadaan gaduh gelisah. Kedaruratan dapat terjadi dimanapun dan membutuhkan penanganan segera. Kecepatan menangani kondisi kedaruratan akan meminimalkan gejala sisa maupun kecacatan yang akan dialami pasien. Oleh karena itu tenaga kesehatan umumnya dan tenaga keperawatan khususnya perlu memperlengkapi diri dengan kemampuan menangani masalah-masalah kedaruratan. Disamping itu fasilitas ruangan yang memadai juga dibutuhkan untuk dapat memberikan pelayanan kesehatan dan keperawatan yang terbaik. C. Kriteria Kondisi Darurat Psikiatri Secara umum pasien yang dirawat di PICU adalah pasien dengan kriteria: 1. Risiko bunuh diri yang berhubungan dengan kejadian akut dan atau suatu perubahan alam perasaan atau perilaku yang menetap 2. Penyalahgunaan NAPZA atau kedaruratan yang berhubungan yang berlangsung relatif singkat 3. Kondisi lain yang akan mengalami peningkatan yang bermakna dalam waktu singkat dan pasien tampak mampu kembali ke komunitas segera bila peningkatan tersebut terjadi. Sedangkan berdasarkan masalah keperawatan maka pasien yang perlu dirawat di unit perawatan intensif psikiatri adalah pasien dengan masalah keperawatan sebagai berikut: 1. Perilaku Kekerasan 2. Perilaku Bunuh diri a. Perubahan sensori persepsi: halusinasi (fase IV) b. Perubahan proses pikir: waham curiga c. Masalah-masalah keperawatan yang berkaitan dengan kondisi pasien putus zat dan over dosis: 1) Perubahan kenyamanan: nyeri 2) Gangguan pola tidur 3) Gangguan pemenuhan nutrisi 4) Gangguan eliminasi bowel 5) Defisit perawatan diri

D. Pola Penanganan di Psychiatric Intensive Care Unit Pola penanganan di PICU menggunakan pendekatan MPKP yang terdiri dari empat pilar yaitu : 1. Pendekatan manajemen 2. Compensatory reward 3. Hubungan profesional 4. Manajemen asuhan keperawatan Pada ruangan PICU keempat pilar ini dilebur menjadi 2 pilar sebagai berikut: 1. Manajemen pelayanan keperawatan (pilar I-III) 2. Manajemen asuhan keperawatan (pilar IV) E. Alur Penerimaan Pasien di PICU Pasien baru yang masuk di UPIP dilakukan triase dengan mengkaji keluhan utama pasien dengan menggunakan skor RUFA (1-30) dan tanda vital. Adapun kategori pasien menurut skor RUFA adalah: 1. Skor 1-10 masuk ruang intensif I 2. Skor 11-20 masuk ruang intensif II 3. Skor 21-30 masuk ruang intensif III F. Triase Pada fase ini hal pertama yang harus dilakukan adalah rapid assessment/screening assessment yang dilakukan berdasarkan protap yang telah disepakati. Pengkajian ini harus meliputi nama pasien, tanggal lahir, nomor tanda pengenal (KTP/SIM/Paspor), alamat, nomor telepon, serta nama dan nomor telepon orang terdekat pasien yang dapat dihubungi, tanda vital dan keluhan utama dengan skor RUFA untuk menentukan perlu tidaknya dirawat di unit UPIP dan bila dirawat untuk menentukan level/fase intensif pasien. Sedangkan pihak medis melakukan pengkajian dengan menggunakan skala GAF. G. Fase-fase Tindakan Intensif Bagi Pasien Psikiatri Secara umum ada tiga fase tindakan intensif bagi pasien yaitu : fase intensif I, II, III. Fase intensif I (24 jam pertama) Prinsip tindakan : life saving, Mencegah cedera pada pasien, orang lain dan lingkungan Indikasi: Pasien dengan skor 1-10 RUFA Intervensi: observasi ketat, KDM (Kebutuhan Dasar Manusia), Terapi modalitas : terapi musik. Fase intensif II (24-72 jam pertama) Prinsip tindakan: observasi lanjutan dari fase krisis (intensif I), mempertahankan pencegahan cedera pada pasien, orang lain dan lingkungan Indikasi : Pasien dengan skor 11-20 RUFA Intervensi: observasi frekuensi dan intensitas yang lebih rendah dari fase intensif I, terapi modalitas : terapi music dan olah raga

Fase intensif III (72 jam-10 hari) Prinsip tindakan: observasi lanjutan dari fase akut (intensif II), memfasilitasi perawatan mandiri pasien Indikasi: Pasien dengan skor 21-30 RUFA Intervensi: observasi dilakukan secara minimal, pasien lebih banyak melakukan aktivitas secara mandiri, terapi modalitas : terapi music, terapi olah raga, life skill therapy.

H. Ketenagaan di PICU Menurut Rollesby (2009), adapun ketenagaan yang terlibat di ruang PICU adalah sebagai berikut: a. Psikiater konsultan b. Perawat terampil c. Pekerja sosial d. Occupation terapist e. Instruktur teknis f. Psikolog I. Mengukur Tingkat Kedaruratan Pasien Dengan Skala GAF (General Adaptive Function) Adapun skala yang digunakan untuk mengukur tingkat kedaruratan pasien adalah skala GAF (General Adaptive Function) dengan rentang skor 1 30 skala GAF. Kondisi klien dikaji setiap shift dengan menggunakan skor GAF. Katagori klien yang berada dalam rentang skor 1-30 GAF adalah: a. Skor 21 - 30: perilaku dipengaruhi oleh waham atau halusinasi atau gangguan serius pada komunikasi atau pertimbangan (misalnya kadang-kadang inkoheren, tindakan jelas tidak sesuai preokupasi bunuh diri) atau ketidakmampuan untuk berfungsi hampir pada semua bidang (misalnya tinggal ditempat tidur) sepanjang hari, tidak memiliki pekerjaan. b. Skor 11 20: terdapat bahaya melukai diri sendiri atau orang lain (misalnya usaha bunuh diri tanpa harapan yang jelas akan kematian, sering melakukan kekerasan, kegembiraan manik) atau kadang-kadang gagal untuk mempertahankan perawatan diri yang minimal (misalnya mengusap feses) atau gangguan yang jelas dalam komunikasi (sebagian besar inkoheren atau membisu) c. Skor 1 10: Bahaya melukai diri sendiri atau orang lain persisten dan parah (misalnya kekerasan rekuren) atau ketidakmampuan persisten untuk mempertahankan hiegene pribadi yang minimal atau tindakan bunuh diri yang serius tanpa harapan bunuh diri yang jelas.

J. Modifikasi Skor GAF ( General Adaptive Function). Pada keperawatan kategori pasien dibuat dengan skor RUFA (Respons Umum Fungsi Adaptif)/ GAFR (General Adaptive Function Response) yang merupakan modifikasi dari skor GAF karena keperawatan menggunakan pendekatan respons manusia dalam memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan fungsi respons yang adaptif. Keperawatan meyakini bahwa kondisi manusia selalu bergerak pada rentang adaptif dan maladaptif. Ada saat individu tersebut berada pada titik yang paling adaptif , namun di saat lain individu yang sama dapat berada pada titik yang paling maladaptif. Kondisi adaptif dan maladaptif ini dapat dilihat atau diukur dari respons yang ditampilkan. Dari respons ini kemudian dirumuskan diagnosa Skor RUFA dibuat berdasarkan diagnosa keperawatan yang ditemukan pada pasien. Sehingga setiap diagnosa keperawatan memiliki kriteria skor RUFA tersendiri (lihat tabel dibawah ini).
No Diagnosa Keperawatan Skor RUFA 1-10 (Intensif I) 1 Gangguan persepsi sensori: halusinasi 1. 2. 3. 4. Setiap saat mengalami halusinasi Halusinasi tidak terkendali Perilaku dikendalikan oleh isi halusinasi Halusinasi berisi ancaman terhadap diri atau orang lain Risiko tinggi bunuh diri atau membunuh orang lain 1. Perilaku kacau 2. Sedang melakukan tindak kekerasan fisik dan verbal 3. Berisiko tinggi mencederai orang lain dan diri sendiri Skor RUFA 11-20 (Intensif II) 1. Sering mengalami halusinasi 2. Seringkali tidak bisa mengendalikan halusinasi 3. Halusinasi mengancam tetapi masih bisa dikendalikan 4. Perilaku sering kacau Skor RUFA 21-30 (Intensif III) 1. Halusinasi sesekali muncul 2. Perilaku masih bisa dikendalikan 3. Isi halusinasi tidak mengancam 4. Perilaku kadang kacau

5.

Perilaku kekerasan

1. 2.

3.

Perilaku kadang kacau Sedang melakukan kekerasan verbal Risiko sedang mencederai diri dan orang lain

1. 2.

3.

Gangguan proses pikir: waham

1. 2. 3.

Perilaku kacau Waham terjadi setiap saat Komunikasi sangat kacau

1. 2. 3.

Perilaku sering kacau Waham sering terjadi Komunikasi kadang kacau

1. 2. 3.

Perilaku kadang kacau Ada riwayat melakukan tindakan kekerasan Sesekali melakukan tindakan kekerasan verbal, tidak fisik Perilaku cukup terorganisir Waham jarang terjadi Komunikasi kacau jika terjadi waham

Risiko bunuh diri

1.

Aktif mencoba bunuh diri engan cara: a. gantung diri b. minum racun c. memotong urat

1.

Aktif memikirkan rencana bunuh diri, namun tidak disertai dengan

1. Mungkin sudah memiliki ide untuk mengakhiri hidupnya, namun tidak disertai

d.

1. 4.

5.

nadi menjatuhkan diri dari tempat yang tinggi Mengalami tandatanda depresi Mempunyai rencana bunuh diri yang spesifik Menyiapkan alat untuk bunuh diri (pistol, pisau, silet, dll)

percobaan diri

bunuh

2. Mengatakan ingin bunuh diri namun tanpa rencana yang spesifik 3. Menarik diri dari pergaulan sosial

dengan ancaman dan percobaan bunuh diri 2. Mengungkapkan perasaan seperti rasa bersalah / sedih / marah / putus asa / tidak berdaya 3. Mengungkapkan halhal negatif tentang diri sendiri yang menggambarkan harga diri rendah 4. Mengatakan: Tolong jaga anakanak karena saya akan pergi jauh! atau Segala sesuatu akan lebih baik tanpa saya.

Panik

1. 2. 3.

4.

Perilaku kacau Persepsi sangat sempit Tidak mampu menerima informasi Tidak sadar lingkungan

1. 2. 3.

4.

Perilaku agak kacau Persepsi hanya yang nyata Mampu berkomunikasi terbatas Sadar lingkungan terbatas

6 7

Gejala putus zat Over dosis adiktif zat

Defisit perawatan diri

1.

2. 3.

Sama sekali tidak mau dan mampu melakukan perawatan diri Perilaku kacau Tidak mampu mengikuti perintah

1.

2. 3.

Mampu melakukan kebersihan diri tetapi tidak mau Perilaku masih bisa diarahkan Praktek kebersihan diri hanya jika diingatkan

1.

2. 3.

Isolasi sosial

1. 2. 3.

Kontak sosial sangat kurang Katatonia Sama sekali atau kurang sekali dalam kontak verbal

1.

2.

3.

Kontak sosial sangat terbatas, hanya dengan orang yang sangat dekat Komunikasi verbal sangat terbatas Aktivitas fisik hanya terbatas untuk

1.

2.

3.

Mau berinisiatif melakukan perawatan diri hanya dengan bimbingan Perilaku masih bisa diarahkan Kadang-kadang tidak melakukan kebersihan diri dengan rutin Kontak verbal masih sangat terbatas Sudah mau berinteraksi walaupun sangat terbatas Aktifitas fisik sudah makin sering dilakukan

kebutuhan dasar fisik

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka dapat disimpulkan bahwa PICU adalah suatu unit gabungan pelayanan gawat darurat psikiatri dan pelayanan intensif, yang ditujukan untuk klien gangguan jiwa yang dalam kondisi krisis psikiatri dan berada dalam kondisi yang membutuhkan pengawasan ketat, dimana dapat diselenggarakan di rumah sakit jiwa atau psikiatri rumah sakit umum. Di beberapa negara unit ini diterjemahkan sebagai unit kedaruratan ataupun unit akut yang pada prinsipnya memiliki tujuan yang sama yaitu merawat pasien-pasien yang berada dalam kondisi membutuhkan intervensi segera. Pasien dengan kondisi ini adalah pasien-pasien dalam kondisi dapat membahayakan diri sendiri, orang lain dan lingkungan, seperti pasien dengan usaha bunuh diri, halusinasi, perilaku kekerasan, NAPZA, dan waham. B. Saran Semoga dengan adanya makalah ini dapat bermanfaat bagi yang membacanya. Selain itu kami selaku penulis berharap agar kita sebagai mahasiswa keperawatan dapat menerapkan ilmu-ilmu tentang kejiwaan yang telah dibahas dalam makalah ini untuk diterapkan ke dalam kehidupan sehari-hari.

DAFTAR PUSTAKA

http://dwiners.blogspot.com/2010/11/psychiatric-intensive-care-unit.html http://ikatanperawatkesehatanjiwaprovriau.blogspot.com/2011/10/mengenal-unit-perawatanintensif.html http://lovelylive.wordpress.com/2010/11/27/konsep-kep-psikiatri/ http://en.wikipedia.org/wiki/Psychiatric_intensive-care_unit

http://wikansusanti.blogspot.com/2011/03/psikiatri.html
http://wir-nursing.blogspot.com/2011/09/psychiatric-intensive-care-unit-picu.html http://www.aolsearch.com/image?s_it=lhr_tabs&q=definition%20of%20Psychiatric%20Intensive%2 0Care%20Unit&s_pt=winamp&tb_uuid=2013013142129575&tb_oid=30-012013&tb_mrud=26-02-2013&v_t=winamp-ff