Anda di halaman 1dari 13

Ratna Kurnianingsih

1102012228

Skenario 2

LI. 1. Mampu Memahami dan Menjelaskan Anatomi Tendo Achilles LO.1.1. Memahami dan Menjelaskan Makroskopik Tendo Achilles

Tendon adalah sebuah pita jaringan ikat (fibrosa) yang melekat pada otot dan ujung yang lain berinsersi ke dalam tulang. Fungsi tendon diantaranya adalah membawa kekuatan tarik tendon dari otot ke tulang- tulang, membawa pasukan kompresi ketika membungkus tulang seperti katrol, menekuk dan meregangkan semua sendi dan otot untuk menahan tulang. Tanpa tendon, otot-otot hanya akan menjadi sekumpulan besar di satu bidang dan tidak akan bisa bergerak, karena tendon yang menghubungkan otot dengan tulang.

Ratna Kurnianingsih 1102012228 Skenario 2 LI. 1. Mampu Memahami dan Menjelaskan Anatomi Tendo Achilles LO.1.1. Memahami
Ratna Kurnianingsih 1102012228 Skenario 2 LI. 1. Mampu Memahami dan Menjelaskan Anatomi Tendo Achilles LO.1.1. Memahami

Sementara itu tendon Achilles atau tendon calcaneus adalah tendon pada bagian belakang tungkai bawah dan fungsinya untuk meletakkan otot gastrocnemius dan otot soleus ke salah satu tulang penyusunan telapak kaki yaitu, calcaneus. Tendon achilles berasal dari gabungan tiga otot yaitu gastrocnemius, soleus dan otot plantaris kaki. Pada manusia,tendo achilles terletak tepat dibagian pergelangan kaki. Tendon Achilles juga merupakan tendon tendon yang tertebal dan terkuat pada tubuh manusia, yang panjangnya berukuransekitar 15 cm yang dimulai dari pertengahan tungkai bawah. Kemudian stukturnyamengumpul dan melekat pada bagian tengah dan belakang tulang calcaneus

Fungsi dari tendon Achilles sendiri adalah menghubungkan otot betis dengantulang tumit. Ketika otot betis berkontraksi (jika berkontraksi otot akan memendek), otot betis akan menarik tendon Achilles. Kontraksi otot betis ini menarik tulang tumit,sehingga terjadi gerakan plantarfleksi (posisi kaki dalam keadaan seperti menjinjit).Kontraksi otot betis yang dibantu tendon Achilles ini berguna dalam aktivitas sehari-hariseperti berjalan, berlari, dan melompat.

Ratna Kurnianingsih

1102012228

Skenario 2

LO.1.2. Memahami dan Menjelaskan Mikroskopik Tendo Achilles

Ratna Kurnianingsih 1102012228 Skenario 2 LO.1.2. Memahami dan Menjelaskan Mikroskopik Tendo Achilles Tendon Achilles adalah pita
Ratna Kurnianingsih 1102012228 Skenario 2 LO.1.2. Memahami dan Menjelaskan Mikroskopik Tendo Achilles Tendon Achilles adalah pita

Tendon Achilles adalah pita jaringan fibrosa yang fleksibel terletak di bagian belakang pergelangan kaki yang menghubungkan otot betis dengan tulang tumit. Tendonadalah struktur dalam tubuh yang menghubungkan otot ke tulang. Otot ini dalam tubuh adalah bertanggung jawab untuk menggerakkan tulang, sehingga memungkinkan seseorang untuk berjalan, melompat, mengangkat beban, dan bergerak dalam banyak cara. Ketika otot kontraksi, hal itu menarik pada tulang menyebabkan gerakan ini.

Struktur terbesar dalam skema di atas adalah tendon atau Ligamentum atau tendon kemudian dipecah menjadi entitas yang lebih kecil disebut fasciles (lembaran).Lembaran berisi fibril dasar ligamentum atau tendon, dan fibroblas, yang merupakan sel-sel biologis yang menghasilkan ligamen atau tendon.Ada karakterisitik struktural pada tingkat ini yang memainkan peran penting dalam mekanisme ligamen atau tendon, yaitu crimp dari fibril. Crimp merupakan struktur bergelombang dari fibril, dan ia akan memberikan kontribusi signifikan terhadap hubungan stress regangan nonlinear untuk ligamen dan tendon.

Struktur yang memancarkan kekuatan kontraksi otot ke tulang disebut tendon.Serat kolagen terdapat pada semua jenis jaringan ikat yang terdiri atas protein- protein kolagen. Dalam keadaan segar, kolagen berwarna putih. Diameternya berkisar antara 1-12 mikron. Beberapa serabut bergabung menjadi berkas serabut yang lebih besar. Dalam keadaan segar bersifat lunak, dan sangat kuat. Susunan serabut kolagen bergelombang, karenannya bersifat lentur. Benang serabut kolagen yang paling halus yang dapat dilihat dengan mikroskop cahaya adalah fibril dengan tebal kurang lebih 0,3 sampai 0,5 µm.

Selanjutnya fibril ini disusun oleh satuan serabut yang lebih kecil yang disebut miofibril dengan diameter 45sampai 100nm. Miofibril ini hanya terlihat dengan mikroskop elekron dan tampak mempunyai garis melintang khas dengan periodisitas 67 nm. Serabut kolagen memiliki daya tahan tarik tinggi. Serabut kolagen dijumpai

Ratna Kurnianingsih

1102012228

Skenario 2

pada tendon, ligamen, kapsula, dll. Serabut ini bening dan terlihat garis memanjang. Bilakolagen direbus akan menghasilkan gelatin. Serabut kolagen dapat dicerna oleh pepsindan enzim kolagenase. Paling tidak telah dikenal 2 jenis serabut kolagen dengan variasi pada urutan asam amino dari rantai α (alfa). Dari 20 jenis tersebut, ada 6 tipe kolagen yang paling utama dan secara genetik berbeda. Keenam tipe kolagen tersebut adalah :

  • 1. Tipe I tipe kolagen yang paling banyak ditenukan. Terdapat pada jaringan ikat dewasa, tulang, gigi dan sementum

  • 2. Tipe II tipe kolagen ini dibentuk oleh kondroblas dan merupakan unsur utama penyusun matriks tulang rawan. Kolagen ini ditemukan pada kartilago hyalin dan elastic

  • 3. Tipe III Kolagen ini ditemukan pada awal perkembangan beberapa jenis jaringan ikat. Pada keadaan dewasa kolagen ini terdapat pada jaringan retikuler.

  • 4. Tipe IV terdapat pada lamina densa pada lamina basalis dan diperkirakan merupakan hasil sel-sel yang langsung berhubungan dengan lamina tersebut

  • 5. Tipe V terdapat pada plasenta, dan berhubungan dengan kolagen tipe I6.

  • 6. Tipe VI : terdapat pada basal lamina

Ratna Kurnianingsih 1102012228 Skenario 2 pada tendon, ligamen, kapsula, dll. Serabut ini bening dan terlihat garis
Ratna Kurnianingsih 1102012228 Skenario 2 pada tendon, ligamen, kapsula, dll. Serabut ini bening dan terlihat garis

Meskipun tendon Achilles normal hampir seluruhnya terdiri dari kolagen tipe- I,tendon Achilles yang putus juga berisi proporsi besar dari kolagen tipe-III. Fibroblast daritendon Achilles yang putus menghasilkan baik kolagen tipe-I dan tipe- III pada kultur.Kolagen tipe-III kurang tahan terhadap kekuatan tarikan dank arena itu dapatmempengaruhi putusnya tendon secara spontan. Tendon Achilles normal menunjukkan pengaturan selular yang terorganisir dengan baik,sangat berbeda dengan tendon yang putus. Tenosit, yang merupakan fibroblast khusus,muncul pada potongan longitudinal.Pengaturan yang baik ini disebabkan oleh sekresikolagen secara sentrifugal yang seragamdisekitar kolom tenosit, yang menghasilkan baik komponen fibriler dan nonfibriler darimatriks eksraseluler dan juga dapat menyerap kembali serat-serat kolagen

Gerak sendi

Ratna Kurnianingsih

1102012228

Skenario 2

  • - Fleksi Dorsalis : M. tibialis anterior, M. extensor digitorum longus, M. proneus tertius dan M. extensor hallucis longus.

  • - Fleksi Plantar : M. gastrocnemius, M. soleus, M. plantaris, M. flexor hallucis longus, M. peroneus longus dan brevis M. tibialis posterior

Articulatio:

1. Articularis Subtalaris (Talocalcanea)

  • - Tulang : Os. Talus & os. Calcaneus

  • - Jenis sendi : Gliding

  • - Gerak sendi : Geser

  • - Sumbu gerak : Mempunyai sumbu gerak yang berjalan dari posterior inferior menuju anterosuperior os. Calcaneus.

  • - Memperkuat sendi : Ligamentum talocalcaneum laterale, ligamentum talocacaneum mediale, anterior, posterior & logamentum talocalcaneum interoseum. Pada articulatio subtalaris dapat dilihat gerak eversi dimana telapak kaki bergerak ke lateral, sedangkan gerak inversi bergerak ke medial. Seringkali istilah inversi & eversi digantikan dengan istilah pronasi dan supinasi. Eversi 5 derajat terjadi akibat dorsofleksi dan abduksi. Sedangkan inversi 20 derajat akibat plantarfleksi dan adduksi.

2. Articularis Talocalcaneonavicularis

  • - Tulang : Os. Talus, Os. Calcaneus, Os. Cuboideum

  • - Jenis sendi : Gliding

  • - Gerak sendi : Geser & Rotasi

3.

-

Memperkuat

sendi

:

Ligamentum

talonaviculare

&

ligamentum

calcaneonaviculare

Ratna Kurnianingsih 1102012228 Skenario 2 - Fleksi Dorsalis : M. tibialis anterior, M. extensor digitorum longus,

Articularis Calcaneocuboidea

  • - Tulang : Os. Calcaneus & Os. Cuboideum

  • - Jenis sendi : Plana

  • - Gerak sendi : Geser & sedikit rotasi

  • - Memperkuat sendi: Ligamentum calcaneocuboideum dorsale at plantare, ligamentum plantar longum & articulationes tarsometatarsales

Bloom dan Fawcett. 2002. Buku Ajar Histologi edisi 12. EGC ; Jakarta

LI. 2. Mampu Memahami dan Menjelaskan Ruptur Tendo Achilles

Ratna Kurnianingsih

1102012228

Skenario 2

LO.2.1. Memahami dan menjelaskan Definisi Ruptur Tendo Achilles

Putusnya tendon Achilles itu adalah keadaan dimana tendon besar itu di belakang pergelangan kaki itu pecah atau terputusnya tendon. Tendon merupakan jaringan fibrosa di bagian belakang pergelangan kaki yang menghubungkan otot betis dengan tulang tumit.

Rupture tendon Achilles adalah roben atau putusnya hubungan tendon (jaringan penyambung) yang disebabkan oleh cidera dari perubahan posisi kaki secara tiba-tiba atau mendadak dalam keadaan dorsifleksi pasif maksimal.

Muttaqin, A. 2011. Buku saku gangguan musculoskeletal. EGC. Jakarta

LO.2.2 Memahami dan Menjelaskan Etiologi Ruptur Tendo Achilles

Dorsofleksi yang tiba-tiba secara pasif pada keadaan kontraksi maksimal otot betis dan etiologi yang lain adalah pecah lengkap tendon Achilles. Dalam kebanyakan kasus tendon tidak sehat sebelum robek dan terjadi pada tendo yang kurang menerima aliran darah. Biasanya ruptur tendo Achilles lebih sering terjadi pada laki-laki dibandingkan pada wanita.

Penyebab lainnya juga bisa karena penyakit tertentu seperti arthritis dan diabetes, obat-obatan, seperti kortikosteroid dan beberapa antibiotik yang dapat meningkatkan risiko pecah, cedera dalam olah raga, seperti melompat dan berputar pada olah raga badminton,tenis, basket dan sepak bola ataupun olahraga berat lainnya, trauma benda tajam atau tumpul pada bawah betis, dan obesitas.

Ratna Kurnianingsih 1102012228 Skenario 2 LO.2.1. Memahami dan menjelaskan Definisi Ruptur Tendo Achilles Putusnya tendon Achilles

Faktor risiko yang berhubungan dengan ruptur tendon Achilles diantaranya adalah :

1. Atlet rekreasi (prajurit akhir pekan)

  • 2. Relatif pada usia tua (30-50 thn)

  • 3. Riwayat ruptur tendon achilles sebelumnya

  • 4. Pengguanaan kortikosteroid dan fluorokuinolon. Flourokuinolon menurunkan transkripsi decorin, penurunan decorinmenyebabkan perubahan pada arsitektur tendon, sifat biomekanik dan menghasilkanpeningkatan kerapuhan.

  • 5. Perubahan mendadak dalam pelatihan, intensitas, atau tingkat aktivitas

  • 6. Partisipasi dalam aktivitas baru yang berat

  • 7. Penyakit tertentu, seperti arthritis dan diabetes

  • 8. Trauma benda tajam atau tumpul pada bawah betis

Ratna Kurnianingsih

1102012228

Skenario 2 Anderson, 1999, Anatomi Fisiologi Tubuh Manusia, Jones and barret

Publisher Boston, Edisi Bahasa Indonesia, Jakarta, EGC

LO.2.3 Memahami dan Menjelaskan Patofisiologi Ruptur Tendo Achilles

Rupture traumatic tendon Achilles, biasanya terjadi dalam selubung tendo akibat perubahan posisi kaki secara tiba-tiba atau mendadak dalam keadaan dorsifleksi pasif maksimal sehingga terjadi kontraksi mendadak otot betis dengan kaki terfiksasi kuat kebawah dan diluar kemampuan tendon Achilles untuk menerima suatu beban.

Rupture tendon Achilles sering terjadi pada atlet atletik saat melakukan lari atau melompat. Kondisi klinik rupture tendon Achilles menimbulkan berbagai keluhan, meliputi nyeri tajam yang hebat, penurunan fungsi tungkai dalam mobilisasi dan ketidakmampuan melakukan plantarfleksi, dan respons ansietas pada klien.

Saat istirahat, tendon memiliki konfigurasi bergelombang akibat batasan di fibrilkolagen. Stress tensil menyebabkan hilangnya konfigurasi bergelombang ini, hal ini yang menyebabkan pada daerah jari kaki adanya kurva tegangan-regangan. Saat serat kolagen rusak, tendon merespons secara linear untuk meningkatkan beban tendon. Jika renggangan yang ditempatkan pada tendon tetap kurang dari 4 persen- yaitu batas beban fisiologi secara umum serat kembali ke konfigurasi asli mereka pada penghapusan beban. Pada tingkat keteganganantara 4-8 persen, serat kolagen mulai meluncur melewati 1 sama lain karena jalinan antar molekul rusak. Pada tingkat tegangan lebih besar dari 8 persen terjadi rupture secara makroskopik karena kegagalan tarikan oleh karena kegagalan pergeseran fibriller dan interfibriller.

Penyebab pasti pecah Achilles tendon dapat terjadi tiba-tiba, tanpa peringatan, atau akibat tendinitis Achilles . Tampaknya otot betis yang lemah dapat menyebabkan masalah. Jika otot-otot menjadi lemah dan lelah, mereka dapat mengencangkan dan mempersingkat kontraksi. Kontraksi berlebihan juga dapat menjadi masalah dengan mengarah pada kelelahan otot. Semakin lelah otot betis, maka semakin pendek dan akan menjadi lebih ketat. Keadaan sesak seperti ini dapat meningkatkan tekanan pada tendon Achilles dan mengakibatkan kerobekan. Selain itu, ketidakseimbangan kekuatan otot-otot kaki anterior bawah dan otot-otot kaki belakang yang lebih rendah juga dapat mengakibatkan cedera pada tendon Achilles. Achilles tendon robek lebih mungkin ketika gaya pada tendon lebih besar dari kekuatan tendon. Jika kaki yang dorsofleksi sedangkan kaki bagian bawah bergerak maju dan betis kontrak otot, kerobekan dapat terjadi. Kerobekan banyak terjadi selama peregangan kuat dari tendon sementara otot betis berkontraksi.

Muttaqin, A. 2011. Buku saku gangguan musculoskeletal. EGC. Jakarta Price, Sylvia Anderson. 1995. Patofisiologi konsep klinis Proses Penyakit. Jakarta: EGC

LO.2.4 Memahami dan Menjelaskan Manifestasi Ruptur Tendo Achilles

Ratna Kurnianingsih

1102012228

Skenario 2

Penderita Ruptur Achilles memiliki gejala :

  • 1. Rasa sakit mendadak yang berat dirasakan pada bagian belakang pergelangan kaki atau betis seperti adanya rasa sakit pada tendon achilles sekitar 1-3 inci di atas tulang tumit. daerah ini paling sedikit menerima supplai darah dan mudah sekali mengalami cedera meskipun oleh sebab yang sederhana, meskipun oleh sepatu yang menyebabkan iritasi.

  • 2. Terlihat bengkak dan kaku serta tampak memar dan merasakan adanya kelemahan yang luas pada serat-serat protein kolagen, yang mengakibatkan robeknya sebagian serat atau seluruh serat tendon.

  • 3. Terlihat depresi di tendon 3-5 cm diatas tulang tumit

  • 4. Tumit tidak bisa digerakan turun naik

  • 5. Sebuah kesenjangan atau depresi dapat dilihat di tendon sekitar 2 cm di atas tulang tumit

  • 6. Biasanya, snap tiba-tiba atau pop dirasakan di bagian belakang pergelangan kaki. Pasien mungkin menggambarkan sensasi ditendang di bagian belakang kaki.

  • 7. Nyeri bisa berat. nyeri yang datang secara tiba-tiba selama melakukan kegiatan, khususnya saat mengubah arah lari atau pada saat lari mendaki. Atlet mungkin merasakan adanya bagian yang lembek bila meraba daerah sekitar tendon, hal ini dikarenakan adanya cairan peradangan yang berkumpul dibawah selaput peritenon.

  • 8. Nyeri lokal, bengkak dengan gamblang kesenjangan sepanjang Achilles tendon dekat lokasi penyisipan, dan kekuatan plantar flexion lemah aktif.

Anderson Silvia Prince. (1996). Patofisiologi Konsep Klinik Proses-proses Penyakit. Penerbit Buku Kedokteran. EGC, Jakarta.

LO.2.5 Memahami dan Menjelaskan Pemeriksaan Fisik Ruptur Tendo Achilles

Dari pergerakan tumit dan otot. Apabila pergerakannya lemah atau tidak ada pergerakan maka dicurigai tendo achilles mengalami ruptur

A. Thompson test

Pertama

kali

ditemukan

oleh

Simmonds

dan dipopulerkan oleh Thompson-

Doherty.

 

-

Posisi

pasien

tengkurap ,kemudian betis pasien

Ratna Kurnianingsih 1102012228 Skenario 2 Penderita Ruptur Achilles memiliki gejala : 1. Rasa sakit mendadak yang

diremas.

- Apabila tendo achilles normal, maka akan terjadi plantar fleksi tendo Achilles. Namun apabila terjadi ruptur, maka tidak ada pergerakan.

Ratna Kurnianingsih

1102012228

Skenario 2

  • B. Obrien’s Test

    • - Posisi pasien tengkurap, kemudian pada daerah midline 10 cm proksimal dari calcaneus masukkan jarum berukuran 25 cm.

    • - Lakukan gerak dorso fleksi secara pasif, apabila gerak jarum seperti plantar fleksi pertanda bahwa tendo achilles tidak mengalami cedera. Bila jarum tidak bergerak, menandakan tendo achilles yang mangalami ruptur.

    • - Tidak disarankan untuk dilakukan pada pasien dalam keadaan sadar

  • C. Copeland Test

    • - Posisi pasien tengkurap, kemudian pada betis dipasang torniket.

    • - Pergelangan kaki dilakukan dorsofleksi secara pasif.

  • Ratna Kurnianingsih 1102012228 Skenario 2 B. Obrien’s Test - Posisi pasien tengkurap, kemudian pada daerah midline

    -

    Apabila

    tendo

    utuh,

    maka

    tekanan akan naik sekitar 35-60 mmHg. Namun bila tendo mengalami ruptur, tekanan hanya naik sedikit atau tidak bergerak sama sekali.

    LO.2.6 Memahami dan Menjelaskan Pemeriksaan Penunjang Ruptur Tendo Achilles

    • A. Foto Rountgen

    Dapat digunakan untuk mengidentifikasi secara tidak langsung robekan tendon Achilles. Radiografi menggunakan sinar X untuk menganalisis titik cederaTemuan radiografi pada ruptur tendon Achilles meliputi:

    • - Penggelapan tendon Perdarahan, edema dan hilangnya tendon mengakibatkan penggelapan margin anterior tendon Achilles pada tampak lateral.

    • - Gangguan posterior pada Kager pad lemak Darah dan edema mengganggu Kager pad lemak. Pad lemak dipersempit oleh edema.

    • - Lekukan kulit pada bagian robekan lesung pipit kecil dapat dilihat pada bagian robekan. Biasanya tertutup oleh pembengkakan dan perdarahan.

    • - Gumpalan jaringan lunak di ujung tendon ujung ruptur tendon menarik kembali dan bergelung, mengakibatkan bengkak pada ujung tendon.

    • - Mengidentifikasi ujung yang terputus Ujung proksimal biasanya dikaburkan oleh pembengkakan dan perdarahan, tetapi ujung distal dapat dipisahkan dari lemak sekitarnya dalam 50% kasus

    Ratna Kurnianingsih

    1102012228

    Skenario 2

    • B. MRI ( Magnetic Resonance Imaging )

    Dapat digunakan untuk membedakan ruptur tidak lengkap dari degenerasi tendon Achilles,dan MRI juga dapat membedakan antara paratenonitis, tendinosis, dan bursitis. Teknik inimenggunakan medan magnet yang kuat untuk menyelaraskan jutaan proton berjalan melaluitubuh. Proton ini kemudian dibombardir dengan gelombang radio yang merubuhkan beberapadari proton tsb keluar dari garis (alignment). Ketika proton kembali mereka (proton)memancarkan gelombang radio mereka sendiri yang unik yang dapat dianalisis olehkomputer dalam 3D untuk membuat gambar tajam penampang silang dari area penting. MRIdapat memberikan kontras yang tak tertandingi dalam jaringan lunak untuk foto berkualitassangat tinggi sehingga mudah untuk teknisi menemukan robekan dan cedera lainnya.

    Ratna Kurnianingsih 1102012228 Skenario 2 B. MRI ( Magnetic Resonance Imaging ) Dapat digunakan untuk membedakan

    tendon Achilles robek parsial.Sobek longitudinal interstisial (panah putih) dan bukti degenerasi hipoksia yang mendasari dengan tendon tebal juga bisa dilihat.

    • C. Ultrasonografi

    Dapat digunakan untuk menentukan ketebalan tendon, karakter, dan adanya robekan. Bekerja dengan mengirimkan frekuensi yang sangat tinggi dari suara melalui tubuh pasien. Beberapa suara dipantulkan kembali dari ruang antara cairan interstisial dan jaringan lunak atau tulang. Gambar-gambar yang tercermin ini dapat dianalisis dan dihitung ke dalam suatu gambar. Gambar-gambar ditangkap secara nyata dan dapat membantu dalam mendeteksi pergerakan tendon dan memvisualisasikan kemungkinan cedera atau robek. Perangkat ini membuat pemeriksaan menjadi sangat mudah untuk menemukan kerusakan struktural jaringan lunak, dan metode yang konsisten untuk mendeteksi jenis cedera. Alat modalitas gambar ini tidak mahal, tidak melibatkan radiasi pengion dan di tanganultrasonographer ahli, bisa diandalkan.

    Muttaqin, A. 2011. Buku saku gangguan musculoskeletal. EGC. jakarta

    LO.2.7 Memahami dan Menjelaskan Diagnosis Ruptur Tendo Achilles

    Diagnosis biasanya dibuat berdasarkan gejala, sejarah cedera dan pemeriksaan dokter. Dokter melihat pasien berjalan dan mengamati apakah bisa berjinjit. Kemudian menguji tendon menggunakan metode yang disebut uji Thompson (juga dikenal sebagai tes meremas betis). Hal ini cukup akurat untuk tes Ruptur Tendon Achilles.

    Ratna Kurnianingsih

    1102012228

    Skenario 2

    Diagnosis Banding

    • - Calcaneal bursitis Bursa adalah kantung berisi cairan yang dirancang untuk membatasi gesekan. Ketika bursa ini meradang disebut bursitis. Tendo calcaneal bursitis adalah peradangan pada bursa di belakang tilang tumit. Bursa ini biasanya membatasi gesekan. Dimana achilles tendon fibrosa tebal di belakang tumit meluncur turun naik.

    • - Achilles tendoncitis Cedera ini biasanya terjadi saat kontraksi kuat dari otot seperti ketika berjalan/ berlari,achiles tendoncitis adalah sebuah strain kekerasan yang dapat membuat trauma tendon achilles dan betis.

    • - Achilles tendinopathy atau tendonosis

    Kronis yang berlebihan bisa berpengaruh pada perubahan tendon achilles yang juga menyebabkan degenerasi dan penebalan tendon.

    http://www.patient.co.uk/health/achilles-tendon-rupture

    LO.2.8 Memahami dan Menjelaskan Penatalaksanaan Ruptur Tendo Achilles Terapi Fisik

    Seorang individu yang mengalami ruptur tendon Achilles-nya harus mencari pengobatan medis yang segera. Terapi fisik umumnya tidak ditunjukkan untuk fase akut pengobatan, tetapi menjadi bagian penting dalam proses pemulihan total.

    Pengobatan Konservatif

    Imobilisasi

    langsung

    untuk

    ruptur

    tendo

    Achilles

    baik

    secara

    parsial,maupun

    seluruhnya. • Latihan bergerak sangat penting dalam proses pemulihan rupture tendo Achilles

    • Pemakaian boot orthosis yang bisa dilepas dengan sisipan untuk tumit agar ujung tendin dapat berdekatan bersama-sama. Kelebihan dari pemakaian boot ini adalah pasien dapat bergerak.

    • Pada robekan parsial dilakukan pemasangan gips sirkuler di atas lutut selama 4-6 minggu dalam posisi fleksi 30°-40° pada lutut dan fleksi plantar pada pergelangan kaki.

    • fisioterapi

    Pasien dengan diabetes, masalah penyembuhan luka, penyakit vaskular, neuropati,atau komorbiditas sistemik yang serius dianjurkan untuk memilih

    Ratna Kurnianingsih

    1102012228

    Skenario 2

    pengobatan nonoperativekarena risiko yang signifikan dari pengobatan operasi (misalnya, infeksi, luka rincian,dehiscence perbaikan, komplikasi perioperatif).

    Gips kaki pendek dipasang pada kaki yang terkena,sementara pergelangan kakiditempatkan di plantar fleksi sedikit (equinus gravitasi).Dengan menjaga kaki dalam posisi ini, ujung tendon secara teoritis lebih baik. Imobilisasi Cast dilanjutkan selamasekitar 6-10 minggu. Dorsofleksi Paksa merupakan kontraindikasi. Pergelangan kaki secara bertahap dapat dorsofleksi ke posisi yang lebih netral setelah periode imobilisasi (~ 4-6 minggu). Posisi ini ditopang dengan casting serial atau pergelangankaki orthotics yang disesuaikan. Berjalan dengan menggunakan cor diperbolehkansaat masa tersebut. Setelah pelepasan cor, tumit di sepatu diangkat setinggi 2 cm dabdipakai selama 2-4 bulan. Selama waktu ini, program rehabilitasi dimulai.

    Keuntungan pengobatan nonoperative termasuk komplikasi luka tidak ada (misalnya,kerusakan kulit, infeksi, pembentukan bekas luka, cedera neurovaskular), biaya rumahsakit menurun dan biaya dokter, morbiditas lebih rendah, dan tidak ada paparananestesi.

    Kekurangan pengobatan nonoperative termasuk insiden yang lebih tinggi rerupture(hingga 40%) dan lebih sulit perbaikan reruptur bedah. Selain itu, tepi tendon dapatmenyembuhkan dalam posisi memanjang karena celah di ujung tendon yangmengakibatkan penurunan daya fleksi plantar dan daya tahan.

    Percutaneous Surgery

    Ratna Kurnianingsih 1102012228 Skenario 2 pengobatan nonoperativekarena risiko yang signifikan dari pengobatan operasi (misalnya, infeksi, luka

    Pada tindakan ini,dibuat sayatan kecil selebar 2-4 cm. Melalui luka tusuk, jahitan melewati ujung distal dan proksimal, yang diperkirakan ketika pergelangan kaki berada pada equinus maksimal. Jahitan itu kemudian dipotong pendek, diikat menggunakan simpul, dan mendorong subkutan. Luka-luka kecil dibersihkan dan dipasang perban kering dan steril Setelah itu, pasien menggunakan bantalan gips yang tanpa beban. Penggunaan gips dilakukan selama 4 minggu, diikuti oleh 4 minggu di bantalan berat dan pemakaian gips dengan elevasi tumit rendah.

    Open Surgical Repair

    Ratna Kurnianingsih

    1102012228

    Skenario 2

    Ratna Kurnianingsih 1102012228 Skenario 2 Perbaikan terbuka dilakukan dengan menggunakan pendekatan longitudinal medial.Insisi medial memiliki keuntungan

    Perbaikan terbuka dilakukan dengan menggunakan pendekatan longitudinal medial.Insisi medial memiliki keuntungan visualisasi yang lebih baik pada tendon plantaris, sertamenghindari cedera pada saraf Sural. Insisi garis tengah jarang digunakan karena tingginyatingkat komplikasi luka dan adesi. Pada pendekatan ini, dibuat sayatan sepanjang 3-10 cm. Setelah paratenon disayat secara longitudinal, ujung tendon dapat dikenali dengan mudah dan didekatkan dengan menggunakan jahitan tipe Kesler/Krackow/Bunnell dengan menggunakann onabsorbable suture. Selanjutnya, epitenon disambung dengan teknik cross-stitch. Para tendon harus disambung kembali agar tidak terjadi adesi. Kemudian, penutupan oleh kulit akanmembatasi terjadinya komplikasi luka.Setelah operasi, pergelangan kaki dipertahankan dalam fleksi saat pemasanganorthosis. Setelah periode imobilisasi, kaki digerakkan secara netral ke plantar atau sedikitdalam orthosis kaku, dan pasien diperbolehkan memakai bantalan berat parsial. Imobilisasi biasanya dihentikan 4-6 minggu setelah perbaikan. Pada saat itu, jangkauan yang aktif danaktif-dibantu gerak, berenang, bersepeda stasioner, dan berjalan dalam sepatu dilengkapidengan mengangkat tumit dapat dimulai. Dalam kebanyakan kasus, pasien dapat beraktivitaskembali dalam jangka waktu 4 bulan. Tindakan operasi untuk perbaikan ruptur Achilles tendon telah dilaporkan memilikitingkat yang lebih rendah dalam terjadinya rerupture; peningkatan kekuatan otot pascaoperasi,dan daya tahan, dan membutuhkan waktu yang lebih singkat agar dapat kembali beraktivitas normal jika dibandingkan dengan tindakan konservatif. Namun, kemungkinan terjadinya komplikasi luka seperti infeksi, drainase, pembentukan sinus, dan pengelupasankulit lebih tinggi daripada tindakan non-operasi.

    Resiko operasi tendon Achilles:

    • - Infeksi kulit di tempat sayatan

    • - normal

    Komplikasi

    pembedahan

    atau

    anestesi,

    seperti

    pendarahan

    dan

    efek

    sampingobat-obatan

    • - Kerusakan saraf

    • - kembalinya

    Resiko

    ruptur

    Achilles.

    Walaupun

    risiko

    ini

    lebih

    kecil

    dibandingpengobatan nonsurgical

    • - Kemungkinan tendon yang sembuh setelah operasi tidak akan sekuat seperti sebelumcedera.

    Ratna Kurnianingsih

    1102012228

    Skenario 2

    Terapi obat NSAIDs

    -

    Ibuprofen

    Bagi pasien menghilangkan nyeri ringan sampai sedang, menghambatt reaksi inflamasidan menurunkan nyeri dengan menghambat sintesis prostaglandin Analgesik

    -

    Asetaminofen

    Pada pasien HPS terhadap aspirin atau NSAIDs, orangg dengan gangguan GI tract bagianatas dan bagi pengkonsumsi antikoagulan. Kontrol nyeri,memiliki efek sedatif Menjelaskan Pencegahan Ruptur Tendon Achilles

    LO.2.9 Memahami dan Menjelaskan Pencegahan Ruptur Tendo Achilles

    Pencegahan rupture tendo Achilles dapat dilakukan sebelum melakukan olahraga atau memulai pekerjaan berat.

    • 1. Peregangan (Stretching)

    Selain bermanfaat untuk menjaga kelenturan otot, peregangan atau stretching juga dapat meredakan rasa sakit. Stretching dapat menghilangkan rasa ngilu atau pegal sehabis olahraga atau bekerja keras serta menjaga otot tetap lentur.

    • 2. Menarik otot (traction)

    Disebut juga sebagai salah satu teknik peregangan yang efektif untuk cedera otot. Traction biasanya diterapkan pada lengan, jari, dan kaki oleh bantuan orang lain. Namun tetap saja lakukan teknik traction yang benar dengan hati-hati untuk menghindari risiko cidera.

    • 3. Jangan makan terlalu berat sebelum berolahraga

    karena makanan tinggi kalori akan membuat tubuh mengalirkan darah ke sistem pencernaan terlebih dahulu untuk membantu proses pencernaan makanan. Sementara itu, saat mulai berolahraga, darah akan ditarik dari perut dan dialirkan menuju otot, sehingga proses pencernaan akan terganggu dan menimbulkan perasaan mual, sakit perut, bahkan muntah.