Anda di halaman 1dari 0

BAB II

GEOLOGI REGIONAL

II.1 GEOLOGI REGIONAL
II.1.1 Fisiografi Regional
Daerah penelitian berada pada Cekungan Sumatera Tengah. Cekungan
Sumatera Tengah dipercayai merupakan cekungan busur sejak Neogen. Pada periode
Paleogen (Eosen-Oligosen) daerah ini merupakan seri dari struktur setengah graben
(half grabben) yang terbentuk akibat proses rifting.
Selanjutnya, cekungan pada periode Neogen terbentuk akibat posisi tumbukan
yang menyudut dengan arah N60E antara lempeng benua Eurasia dengan lempeng
samudera Hindia di Sumatra selama Miosen. Geometri dari cekungan ini berbentuk
asimetris dengan bagian terdalamnya berada di baratdaya yang semakin melandai ke
arah timur laut (Mertosono dan Nayoan, 1974). Produk lain yang dihasilkan oleh
interaksi kedua lempeng ini adalah berupa busur kepulauan di sepanjang muka pantai
barat daya Sumatra, Cekungan Muka Busur Nias, Busur Vulkanik Barisan, dan Zona
Sesar Sumatra atau yang lebih dikenal dengan Sesar Semangko.
Unit fisiografi dengan arah barat laut tenggara ini merupakan fenomena
pada zaman Neogen. Efek dari gabungan struktur Neogen dan Paleogen
menghasilkan sejumlah tinggian yang membagi cekungan belakang busur seperti :
Busur Asahan dengan arah timurlaut (NNE), Tinggian Lampung dan Tinggian
Tigapuluh yang berarah timur-timurlaut (ENE). Busur dan tinggian ini bergabung
secara efektif membagi daratan Sumatera menjadi Cekungan Sumatera Utara,
Cekungan Sumatera Tengah, dan Cekungan Sumatera Selatan. Cekungan Sumatera
Tengah di sebelah baratdaya dibatasi oleh tinggian Bukit Barisan, di sebelah baratlaut
oleh Busur Asahan, dan disebelah timurlaut oleh Kraton Sunda (Gambar 2.1).










Gambar 2.1 Tektonik yang mempengaruhi Cekungan Sumatera Tengah (Heidrick dan Aulia, 1993)
II.1.2 Struktur dan Tektonik Regional
Cekungan Sumatra Tengah terbentuk oleh karena adanya penunjaman secara
miring (oblique subduction) lempeng Samudra Hindia ke bawah lempeng Benua
Asia. Penunjaman ini mengakibatkan terjadinya gaya tarikan pada Cekungan Sumatra
Tengah yang merupakan cekungan belakang busur (Eubank dan Makki, 1981). Gaya
tarikan pada batuan dasar ini menghasilkan beberapa block faulting yang membentuk
graben, half graben dan horst (Mertosono dan Nayoan, 1981). Selain gaya tarikan,
pada Cekungan Sumatra Tengah juga terdapat gaya kompresi yang dihasilkan oleh
suatu sistem sesar geser dekstral sebagai akibat dari oblique subduction di bagian
barat dan baratdaya Pulau Sumatra. Dextral wrench fault dicirikan oleh adanya
N
Lokasi
penelitian
kenampakan negative flower structure, positive flower structure, en echelon fault dan
en echelon fold yang terlihat pada rekaman seismik (Yarmanto dan Aulia, 1988).
Cekungan Sumatra Tengah didominasi oleh dua pola struktur yang berarah
utara-selatan (N-S) dan barat laut-tenggara (NW-SE) (Heidrick dan Aulia, 1993).
Struktur yang berarah utara-selatan (N-S) relatif lebih tua dan terbentuk pada
Paleogen (Mertosono dan Nayoan, 1974; de Coster, 1975 dalam Heidrick dan Aulia,
1993). Menurut Eubank dan Makki (1981) kedua pola struktur tersebut aktif selama
Tersier.
Proses tektonik merupakan faktor pengontrol utama proses pengendapan di
cekungan bila di bandingkan dengan faktor lainnya. Heidrick dan Aulia (1993)
membagi perkembangan tektonik pada Cekungan Sumatra Tengah menjadi empat
episode berdasarkan terminologi tektonik poli fasa yang dapat dibedakan dengan jelas
yaitu F0, F1, F2 dan F3 seperti terlihat pada gambar 2.2.

Periode Deformasi F0 Pembentukan Batuan Dasar ( Pra-Tersier )

Deformasi F0 terjadi pada pra-Tersier yang menghasilkan struktur-struktur
berarah N60
o
W10
o
yang dikontrol oleh geometri dan batasbatas mandala-mandala
geologi yang menyusun batuan dasar (Pulunggono dan Cameron, 1984). Mandala-
mandala geologi tersebut mengalami akresi pada Trias Akhir (Pulunggono dan
Cameron, 1984). Arah struktur yang berkembang pada F0 dicerminkan oleh sumbu
tinggian dan rendahan zona sesar.

Periode Deformasi F1 ( Fase Intra-cratonic Rifting dan Rift Infill 45 28 Ma)

Deformasi F1 yang terjadi pada Eosen Oligosen mengawali perkembangan
kerangka tektonik Tersier. Heidrick dan Aulia (1993) membagi tiga pola struktur
yang berkembang pada tahap F1 yaitu utara-selatan (N-S), utara timur laut-selatan
barat daya (NNE-SSW) dan barat laut-tenggara (NW-SE). Pola utara-selatan (N-S)
merupakan pola yang paling dominan. Tegasan horizontal minimum yang
berkembang pada periode ini berarah timur-barat (E-W).

Periode Deformasi F2 ( Fase Interior Sag Basin 28-13Ma)

Episode F2 diawali oleh berhentinya proses rifting dilanjutkan dengan fasa
sagging dan transtensional. Fasa transtensional merupakan perioda perkembangan
sesar mendatar menganan pada elemen-elemen struktur berarah utara-selatan (N-S)
yang terbentuk pada fasa F1. Kompresi bersifat setempat-setempat yang ditandai
dengan pembentukan sesar dan lipatan dan bersamaan dengan penurunan muka air
laut global pada 28 Ma. Proses geologi yang terjadi pada saat itu adalah pembentukan
morfologi yang relatif rata yang terjadi pada Kelompok Pematang dan batuan dasar
yang tersingkap. Periode ini diikuti oleh terjadinya subsidence kembali dan transgresi
ke dalam cekungan tersebut. Kelompok Sihapas yang diendapkan secara tidak selaras
di atas Kelompok Pematang terdiri dari Formasi Menggala, Bangko, Bekasap, Duri
dan Telisa.

Periode Deformasi F3 (Miosen Tengah-Resen/13-0 Ma)

Fasa F2 diikuti oleh F3 yang berlangusung pada Miosen Tengah hingga saat
ini. Deformasi ini menghasilkan sesar naik berarah barat barat laut-timur tenggara
(WNW-ESE) yang berasosiasi dengan lipatan, reaktifasi sesar mendatar berarah utara
barat laut-selatan tenggara (NNW-SSE) menjadi sesar naik, flexuring yang
membentuk monoklin ke arah SSW di sepanjang rekahan pada batuan dasar berarah
N39
o
E 3.50 (Mount dan Suppe, 1992 dalam Heidrick dan Aulia, 1993). Lipatan
yang terbentuk pada F3 umumnya berarah sumbu N15
o
-25
o
W, hampir paralel dengan
sesar-sesar mendatar utama yang berarah utara-selatan (N-S).


Gambar 2.2 Evolusi tektonik Cekungan Sumatra Tengah (Heidrick dan Aulia, 1993)
II.1.3 Tektonostratigrafi Regional
Batuan dasar yang berfungsi sebagai landas Cekungan Sumatra Tengah dapat
dibagi menjadi tiga kelompok batuan (Gambar 2.3), yaitu Mallaca Terrane, Mutus
Assemblage, dan Greywacke Terrane (Eubank & Makki, 1981 dalam Heidrick &
Aulia, 1993). Secara tidak selaras di atas batuan dasar diendapkan suksesi batuan-
batuan sedimen Tersier. Eubank dan Makki, 1981 dalam Heidrick dan Aulia, 1993,
membagi pengisian Cekungan Sumatra Tengah ke dalam 2 fasa tektonik yang masing
masing diisi oleh unit stratigrafi tertentu. Berikut adalah urutan stratigrafi pada
Cekungan sumatra Tengah dari tua ke muda:


Gambar 2.3 Tektonostratigrafi regional Cekungan Sumatra Tengah (Heidrick dan Aulia, 1993).
Kotak berwarna hijau menunjukkan formasi yang menjadi fokus penelitian



A. Fasa 1

Pada fasa ini cekungan terbentuk akibat gaya rifting yang berarah relatif utara
selatan. Pada fasa 1 ini diendapkan formasi - formasi dari Kelompok Pematang secara
tidak selaras di atas batuan dasar. Kelompok ini terdiri dari Lower red beds, Brown
shale dan Upper red beds yang merupakan endapan Rifted basin atau Half-graben.
Lingkungan pengendapan dari litologi pada Kelompok Pematang ini diinterpretasi
berupa lingkungan lakustrin dan fluvial. Pembentukan kelompok ini merupakan awal
dari pengisian Cekungan Sumatra Tengah sebagai hasil dari rombakan batuan dasar,
terjadi dengan penurunan cekungan (synrift sediment). Batuan pada kelompok ini
merupakan batuan induk penghasil hidrokarbon pada Cekungan Sumatra Tengah.
Mengacu kepada Heidrick dan Aulia (1993), Kelompok Pematang tersusun oleh 3
(tiga) formasi berturut-turut dari tua ke muda : Formasi Lower Red Beds, Formasi
Brown Shale dan Formasi Upper Red Beds.

Formasi Lower Red Bed
Batuan pada formasi ini terdiri dari batulempung, batupasir arkosik dan batuan
konglomerat yang diendapkan pada lingkungan dataran alluvial. Beberapa bagian
dari formasi ini, dibagian bawah terdapat beberapa rendahan (deeps) yang dapat
mencapai kedalaman 3000 meter. Batupasir pada formasi ini mempunyai kualitas
yang buruk sebagai reservoir karena masih sangat dekat dengan sumber dan
mempunyai sortasi yang relatif buruk.

Formasi Brown Shale
Formasi ini didominasi oleh batuan serpih yang berwarna cokelat yang
diendapkan pada lingkungan lakustrin. Formasi ini diendapkan selaras di atas
Formasi Lower Red Bed. Serpih pada formasi ini kaya akan kandungan bahan
organik, memiliki laminasi yang cukup baik yang menandakan bahwa serpih ini
diendapkan pada kondisi air yang cukup tenang. Formasi ini merupakan batuan
induk utama pada Cekungan Sumatra Tengah. Formasi ini juga tersusun oleh
endapan-endapan kipas delta dengan mekanisme turbidit. Endapan turbidit ini
menjadi target eksplorasi pada Cekungan Sumatra Tengah yang mempunyai tipe
perangkap stratigrafi.

Formasi Upper Red Beds
Formasi ini merupakan bagian dari kelompok Sihapas yang diendapkan pada
tahap akhir dari tektonik fase F1. Peningkatan kecepatan sedimentasi dan suplai
sedimen klastik yang terjadi menyebabkan cekungan menjadi penuh dan
lingkungan berubah menjadi darat pada kondisi fluvial. Litologi penyusun
formasi ini berupa batupasir, konglomerat dan batulempung berwarna merah-
hijau. Batupasir di formasi ini merupakan salah satu reservoir di Cekungan
Sumatera Tengah dan merupakan salah satu target eksplorasi.

B. Fasa 2

Pada fasa ini kondisi tektonik pada daerah Cekungan Sumatra Tengah relatif
stabil, sehingga batuan yang diendapkan tersebar luas di seluruh Cekungan Sumatra
Tengah. Cekungan Sumatra Tengah pada fasa 2 ini terisi oleh litologi dari Kelompok
Sihapas yang terdiri dari Fm. Menggala, Fm. Bangko, Fm. Bekasap, Fm. Duri dan
Fm. Telisa. Kelompok Sihapas sendiri diendapkan secara tidak selaras di atas
Kelompok Pematang pada Oligosen Akhir Miosen Awal dan merupakan sikuen
transgresi. Kelompok ini didominasi oleh liotolgi batupasir dan serpih. Berikut
adalah karakteristik dari tiap tiap formasi dengan urutan dari tua ke muda:
1. Formasi Menggala
Formasi ini diperkirakan berumur Miosen Awal (N4) yang diendapkan secara
tidak selaras di atas kelompok Pematang. Litologinya tersusun atas batupasir halus-
kasar yang bersifat konglomeratan. Lingkungan pengendapannya berupa braided
river-non marine (sungai teranyam deltaik) dengan ketebalan mencapai 1800 kaki
(Dawson, dkk, 1997).
2. Formasi Bangko
Formasi ini berumur Miosen Awal (N5) yang diendapkan selaras di atas
Formasi Menggala. Lingkungan pengendapannya yaitu open marine shelf yang
menghasilkan maximum flooding surface (MFS) pertama di Kala Miosen. Litologinya
berupa serpih abu-abu yang bersifat gampingan berseling dengan batupasir halus-
sedang. Formasi ini diendapkan pada lingkungan estuarin dengan ketebalan mencapai
300 kaki (Dawson, dkk, 1997).
3. Formasi Bekasap
Formasi ini mempunyai kisaran umur dari akhir N5 sampai N8 yang
diendapkan selaras di atas Formasi Bangko. Litologinya berupa batupasir dengan
kandungan glaukonit di bagian atasnya serta sisipan serpih, batugamping tipis dan
lapisan batubara. Formasi ini diendapkan pada lingkungan estuarine, intertidal,
inner-outer neritic dengan ketebalan sekitar 1300 kaki (Dawson, dkk, 1997).
4. Formasi Duri
Formasi ini berumur Miosen Awal (N7N8) yang diendapkan selaras di atas
Formasi Bekasap. Litologinya berupa batupasir berukuran halus-sedang berseling
dengan serpih dan sedikit batugamping. Lingkungan pengendapannya adalah barrier
bar complex dan delta front dengan ketebalan mencapai 900 kaki (Dawson, dkk,
1997). Formasi ini mempunyai hubungan menjari dengan Formasi Telisa pada
lingkungan yang lebih dalam pada bagian barat dari cekungan.
5. Formasi Telisa
Formasi Telisa berumur Miosen Awal Miosen Tengah (N7 N11) yang
diendapkan secara menjari dengan bagian paling atas Formasi Duri. Formasi ini
tersusun dari suksesi batuan sedimen yang didominasi oleh serpih dengan sisipan
batugamping dan batupasir glaukonitan berbutir halus yang diendapkan pada
lingkungan litoral dalam dan luar. Pada Formasi Telisa ini terlihat periode
penggenangan maksimum di Sumatera Tengah yang terjadi pada Miosen Awal
sehingga formasi ini dapat menjadi batuan penutup regional yang sangat baik bagi
Kelompok Sihapas. Perubahan litologi dan fauna yang cukup jelas terlihat pada
bagian atas Formasi Telisa dan menunjukkan awal fase regresif Miosen Tengah dari
siklus Neogen yang merupakan awal pengendapan Formasi Petani.

6. Formasi Petani
Kontak antara Formasi Petani dengan Formasi Telisa merupakan suatu hiatus
yang diindikasikan oleh zona fauna yang hilang, kecuali di areal paling barat
cekungan. Pengendapan formasi ini berlangsung pada Kala Miosen Tengah-Plistosen
pada lingkungan laut yang berubah menjadi daerah payau sampai darat. Formasi
Petani merupakan awal dari fase regresif yang mengakhiri periode panjang transgresi
di Cekungan Sumatra Tengah. Formasi ini tersusun oleh sekuen monoton serpih
batulumpur dan interkalasi batupasir dan batulanau yang ke arah atas menunjukkan
pendangkalan lingkungan pengendapan dan penyusutan pengaruh laut.

7. Formasi Minas
Formasi Minas merupakan endapan Kuarter yang diendapkan tidak selaras di
atas Formasi Petani. Formasi ini tersusun oleh konglomerat, batupasir, dan
batulempung yang mencirikan endapan aluvial. Proses pengendapan Formasi Minas
masih berlangsung hingga saat ini.

II.2 GEOLOGI LAPANGAN ZAMRUD

Daerah penelitian , lapangan Zamrud berada pada tatanan struktur geologi
yang berupa antiklin asimetris dengan arah baratlaut-tenggara dan di bagian timur -
tenggara lokasi penelitian terbentuk lapisan curam yang diakibatkan oleh sesar utama
Kotabatak yang berada di bagian timur dari lokasi penelitian yang sejajar dengan
sumbu utama antiklikn. pada lokasi penelitian terdapat banyak sesar sesar minor
yang berarah NW-SE dan NE-SW yang diperkirakan terbentuk akibat pengaruh dari
sesar utama yang berarah NW-SE. ( Gambar 2.4 )


Gambar 2.4 Kerangka struktur daerah penelitian (Heidrick dan Aulia, 1993)
II.2.1 STRUKTUR GEOLOGI LAPANGAN ZAMRUD
Struktur pada Lapangan Zamrud berupa antiklin asimetris dengan yang
berarah NW-SE dengan panjang sekitar 2,5 km dan lebar 1,5 km. Struktur antiklin
pada lapangan Zamrud bersifat asimetris, dengan sayap yang landai di bagian barat
dan sayap yang mempunyai dip yang terjal di bagian Tenggara (Gambar 2.5). Hal ini
Lapangan Zamrud
disebabkan karena daerah dibagian tenggara berasosiasi dengan sesar mayor naik
Kotabatak dengan dip yang mengarah ke bagian tenggara (Gambar 2.6).
Kerangka struktur geologi pada lapangan Zamrud merupakan struktur sesar
naik dengan arah relatif NW SE yang dipengaruhi oleh sesar mayor Kotabatak dan
sesar-sesar normal dan naik yang mempunyai arah relatif NE SW yang diperkirakan
terbentuk akibat aktivitas sesar mayor naik Kotabatak, hal ini bisa terlihat dari
lintasan seismik. (Gambar 2.7)


Gambar 2.5 Kerangka struktur 3D lapisan batupasir B Formasi Bekasap lapangan Zamrud

Dari lintasan seismik terlihat bahwa sesar naik mayor dengan arah NW SE
membentuk antiklin yang merupakan tutupan dari lapangan Zamrud. Pada struktur
-4850ft -4800ft -4750ft -4700ft -4650ft -4600ft -4550ft -4500ft
Indeks warna yang
menunjukkan
kedalaman
antiklin lapangan Zamrud banyak terdapat sesar sesar minor yang terdistribusi di
bagian hinge antiklin tersebut.
Secara umum, sesar sesar penyerta di lapangan Zamrud mempunyai dip
yang berarah ke NW dan juga SE serta mempunyai penyebaran yang pendek secara
lateral dan beberapa mempunyai dip yang terjal.



Gambar 2.6 Penampang struktur lapangan Zamrud dilihat dari seismik dengan arah SW NE

Throw yang terdapat pada lapangan Kotabatak ada beragam, tetapi throw yang
terlihat paling besar ialah yang berada di sekitar sesar naik Mayor Kotabatak, hal ini
dapat dilihat dari gambar 2.6 penulis menginterpretasikan bahwa pergerakan sesar
naik mayor ini merupakan sebagai hasil dari strain yang diakibatkan oleh proses
pembentukan antiklin dengan arah NW SE dan juga sebagai penunjang interpretasi
ini dengan melihat kenyataan bahwa orientasi sesar sesar minor yang ada
mempunyai arah yang relatif tegak lurus dengan sesar naik mayor di Kotabatak.
Throw
SW NE


Gambar 2.7 Penampang struktur lapangan Zamrud dilihat dari seismik dengan arah NW SE

Sesar sesar minor ini diinterpretasikan sebagai hasil dari proses pemendekan
yang terjadi selama pembentukan struktur antiklin dan juga sebagai akibat dari proses
perlipatan yang terjadi selama proses pembentukan antiklin dan berhubungan dengan
pergerakan dari sesar naik Mayor Kotabatak.
Mekanisme struktur geologi pada lapangan Zamrud dominan berlangsung
pada fasa Kompresi dengan arah sumber tegasan utama berasal dari arah SW NE
yang bersumber oleh subduksi lempeng Indo Australia dengan Lempeng Eurasia
yang menyebabkan pembentukan dari sesar sesar naik yang berarah NW SE yang
juga diikuti dengan pembentukan sesar sesar minor dengan arah NE SW.
II.2.2 LINGKUNGAN PENGENDAPAN
Menurut hasil analisa PT Corelab Indonesia, Formasi Bekasap diendapkan
pada daerah lingkungan laut dangkal transisi dan dipengaruhi oleh aktivitas pasang
surut air laut. Suplai sedimen Formasi Bekasap berupa sedimen silisiklastik yang
teratur.
NW
SE

Hal ini dicirikan dengan munculnya struktur ripple dan hummocky. Sedimen
utama pada Formasi Bekasap diendapkan sebagai tidal sand bar, tidal sand flat, dan
sub tidal marine shale didalam embayment yang luas. Transport sedimen pada
formasi Bekasap selain dipengaruhi oleh arus pasang surut, juga dipengaruhi oleh
posisi semi permanen long shore dan juga arus laut.
Dilihat dari kurva Gamma Ray (GR) pada kurva log, terlihat fenomena di
mana sedimen klastik menghalus ke atas yang diinterpretasikan sebagai endapan tidal
bar. Jadi penulis menginterpretasikan bahwa sedimentasi formasi Bekasap, lapangan
Kotabatak berasal dari darat ( Gambar 2.8 ).

Gambar 2.8 Marker log Kotabatak yang menunjukkan lingkungan pengendapan
Formasi Bekasap lapisan batupasir B (Cook dan Schiller, 2002)
II.2.3 STRATIGRAFI DAERAH PENELITIAN
Berdasarkan laporan analisa dari PT Corelab Indonesia, Kerangka
stratigrafi lapangan Zamrud terdiri dari 5 formasi, yaitu :

Atas Bekasap
B sand
Bawah Bekasap
B Sand
1. Batuan dasar ( basement )
Batuan dasar pada daerah penelitian berupa batuan greywacke yang
sudah terkompaksi sehingga menjadi sangat keras dan kompak.
Batuan dasar ini mengandung mineral kuarsa dan feldspar yang telah
lapuk yang di dalam matrik batuannya mengandung lempung.

2. Formasi Bangko
Batuan pada formasi ini dicirikan oleh batupasir yang tebal di bagian
bawah dan serpih di bagian atasnya. Batupasir pada formasi ini
tersusun atas batupasir berukuran sedang halus dengan sortasi
sedang dan non karbonatan. Serpih di bagian atas dicirikan dengan
adanya laminasi tipis batupasir karbonatan. Pada kurva log Gamma
Ray (GR), dicirikan oleh bentukan blocky dengan sisipan serpih yang
tipis. Ketebalan batupasir pada formasi ini rata-rata 180 ft, tetapi pada
batupasir Formasi Bangko tidak ditemukan adanya indikasi
hidrokarbon.

3. Formasi Bekasap
Formasi Bekasap yang menjadi objek penelitian ini sendiri terdiri dari
3 unit batupasir A,batupasir B dan batupasir C (Gambar 2.9). Formasi
ini terdiri dari batupasir dengan perselingan serpih.

Batupasir A tersusun atas berukuran batupasir kasar halus
bersifat karbonatan dengan sortasi baik buruk. Pada kurva
log Gamma Ray, terlihat bahwa batupasir A mempunyai pola
funnel di bagian bawah dan blocky di bagian atas. Ketebalan
rata-rata dari lapisan Asand adalah 50ft.
Batupasir B tersusun atas batupasir berukuran sedang halus,
kerbonatan dengan sortasi yang baik sedang. Pada kurva log
Gamma Ray, terlihat bahwa batupasir B mempunyai pola
funnel yang mengkasar ke bagian atas. Ketebalan rata-rata dari
lapisan Bsand adalah 25ft
Batupasir C tersusun atas batupasir berukuran sedang halus,
karbonatan dengan sortasi baik sedang. Pada kurva log
Gamma Ray terlihat bahwa batupasir C mempunyai pola
blocky di bagian tengah dan pola bell di bagian atas dan
bagian bawah. Ketebalan rata rata dari lapisan Csand adalah
35ft.

4. Formasi Telisa
Batuan pada formasi ini disusun oleh serpih yang tebal yang
berselingan dengan batupasir dan juga batupasir lanauan. Serpih pada
formasi ini mempunyai karakter dengan ukuran butir lempung lanau.
Pada formasi ini banyak ditemukan fosil berupa cangkang
foraminifera.

5. Formasi Petani
Batuan pada formasi ini tersusun atas serpih yang tebal dan jarang
ditemukan lapisan batupasir pada formasi ini.
Gambar 2.9 Kurva log yang menunjukkan lapisan batupasir Formasi Bekasap (Cook dan Schiller,
2002)
Atas
Bekasap A
Bawah
Bekasap A
Atas
Bekasap B
Bawah
Bekasap B
Atas
Bekasap C
Bawah
Bekasap C