Anda di halaman 1dari 13

KOLIK ABDOMEN Persiapan Praktek di Ruang : Dahlia Nama Mahasiswa NIM Nama Pemimbing Tanda tangan : Rukmi Rinduwarti

: SK.110.012 B : Ibu Khudronah ,S.Kep :

A. DEFINISI Kolik abdomen merupakah salah satu keadaan darurat non trauma, dimana seorang penderita oleh karena keadaan kesehatannya memerlukan pertolongan secepatnya untuk dapat dibebaskan atau diringankan penderitaannya atau mencegah memburuknya keadaan penderita. B. ETIOLOGI - Kolik ureter / kolik ginjal - Kolik biliaris - Kolik Intestinal - Trauman - Obstruksi traktus urinarius - Nyeri pinggang - Infeksi dan urosepsis - Torsio testis - Phymosis - Keracunan - Fraktur - Hernia C. GEJALA DAN KLINIS - Perut kembung. - Sakit di daerah abdomen bagian bawah, dan tersa sakit sampai kebagian belakang (anus), karena melakukan aktivitas berat.

D. JENIS-JENIS KOLIK ABDOMEN 1. Jenis nyeri perut. a. Nyeri Viseral (Nyeri Sentral) b. Nyeri Somatik a. Nyeri Viseral Terjadi bila terdapat rangsangan pada organ atau struktur dalam rongga perut. Peritoneum yang menyelimuti organ perut dipersarafi oleh system saraf otonom dan tidak peka terhadap rabaan, atau pemotongan. Dengan demikian, sayatan atau penjahitan pada usus dapat dilakukan tanpa terasa oleh pasien. Akan tetapi, bila terjadi kontraksi yang berlebihan pada otot yang menyebabkan iskemia, misalnya pada kolik atau radang.pasien yang merasakan nyeri visceral tidak dapat menunjukan secara tepat letak nyeri. Saluran cerna yang berasal dari usus depan (foregut),yaitu lambung, duodenum, sistem hepatobilier, dan pancreas menyebabkan nyeri di ulu hati atau epigastrium. Saluran cerna yang berasal dari usus tengan (midgut), yaitu usus halus dan usus besar sampai pertengahan colon transversum menyebabkan nyeri di sekitar umbilicus. Saluran cerna yang berasal dari usus belakang,(hindgut) yaitu pertengahan kolon transversum sampai dengan kolon sigmoid menimbulkan nyeri perut bagian bawah termasuk buli-buli dan rektosigmoid. Nyeri Viseral tidak disertai rangsangan peritoneum, sehingga pasien biasanya dapat aktif bergerak. b. Nyeri Somatik Terjadi karena rangsangan pada bagian yang dipersarafi oleh saraf tepi. Nyeri dirasakan seperti ditusuk-tusuk atau disayat, dan pasien dapat menunjukan secara tepat letak nyeri dengan jari. Setiap gerakan penderita, baik gerak tubuh maupun napas yang dalam atau batuk, akan menambah rasa nyeri sehingga penderita gawat abdomen yang

disertai rangsangan peritoneum berusaha untuk tidak bergerak, bernapas dangkal dan menahan batuk.

2. Letak Nyeri Perut Nyeri viseral dari suatu organ biasanya sesuai letak dengan organ tersebut pada masa embrional, sedangkan letak nyeri somatik biasanya dekat dengan organ sumber nyeri somatik. 3 Sifat Nyeri a. Nyeri alih Terjadi jika suatu segmen persarafan melayani lebih dari satu daerah. Misalnya : - Rangsangan pada diafragma oleh perdarahan atau peradangan akan dirasakan nyeri dibahu - Rangsangan pada kolesistitis akut dirasakan di ujung belikat. - Abses dibawah diafragma atau rangsangan karena radang atau trauma pada permukaan limpa atau hati akan dirasakan nyeri dibahu. - Kolik ureter atau kolik pielum, nyeri dirasakan sampai ke alat kelamin luar seperti labium mayor pada wanita dan testis pada pria.

Persarafan sensorik organ perut.


Organ atau Struktur Saraf Tingkat persarafan Bagian tengah diafragma N.Frenikus C3 - 5 Tepi diafragma, lambung Pleksus Seliakus Th. 6 - 9 Pankreas, kandung empedu, Usus halus Apendiks, kolon proksimal, Pleksus mesentrika Th.10 - 11 Dan organ panggul. Kolon distal, rektum, ginjal, N.Spalnknikus kaudal Th.11 L1 Ureter dan testis Buli-buli, rektosigmoid Pleksus hipogastrikus S2 S4

Letak Nyeri Somatik


Letak Abdomen kanan atas Kandung empedu*, hati, duodenum, pankreas, kolon, paru, miokard Epigastrium Lambung*, pnkreas, duodenum, paru, kolon Abdomen kiri atas Limpa*, kolon, ginjal, pnkreas, paru Abdomen kanan bawah Apendiks*, adneksa*, sekum, elium, ureter Abdomen kiri bawah Kolon*, adneksa*, ureter Suprapubik Buli-buli*, uterus, usus halus Periumbilikal Usus halus Pinggang/punggung Pankreas*, aorta, ginjal Bahu Diafragma * Organ yang paling sering menimbulkan nyeri somatik

b. Nyeri Proyeksi Adalah nyeri yang disebabkan oleh rangsangan saraf sensorik akibat cedera atau radang saraf.contoh: nyeri fantom setelah amputasi, atau nyeri perifer setempat pada herpes zoster. c. Nyeri kontinu Nyeri akibat rangsangan pada peritoneum parietal akan dirasakan terus-menerus karena berlangsung terus.pada saat pemeriksaan penderita peritonitis, ditemukan nyeri tekan setempat, dan defense muscular untuk melindungi bagian yang meradang dan menghindari gerakan atau tekanan setempat. d. Nyeri kolik Kolik merupakan nyeri viseral akibat spasme otot polos organ berongga dan biasanya disebabkan oleh hambatan pasase dalam organ tersebut (obstruksi usus, batu ureter, batu empedu, peningkatan intraluminer). Nyeri ini timbul karena hipoksia, dan dirasakan hilang timbul, mual bahkan sampai muntah, dan dalam serangan penderita sangat gelisah, kadang sampai berguling-guling ditempat tidur. Nyeri kolik mempunyai Trias yang khas, yaitu serangan nyeri perut yang kumatan disertai mual atau muntah dan gerak paksa. e. Nyeri Iskemik Nyeri ini sangat hebat, menetap, dan tidak menyurut. Ini merupakan tanda jaringan terancam nekrosis, lebih lanjut akan tampak tanda intosikasi umum. f. Nyeri pindah Nyeri berubah sesuai dengan perkembangan patologi, misalnya tahap awal apendisitis, nyeri visceral dirasakan disekitar pusat disertai rasa mual karena apendiks termasuk usus tengah, setelah diseluruh dinding termasuk peritoneum nyeri dirasakan dirasakan perut kanan bawah, jika terjadi nekrosis dan gangren, nyeri berubah menjadi nyeri iskemik, menetap dan tidak menyurut, dan dapat jatuh kedalam toksis.

Pada perforasi tukak nyeri dirasakan di ulu hati pindah ke kanan bawah. - Menghindari mengkonsumsi sayuran tertentu misalnya, kol, sawi - Menghindari melakukan aktivitas yang berat E. PATOFISIOLOGI DAN PATOGENESIS Patofisiologi : rasa sakit perut, baik mendadak maupun berulang, biasanya selalu bersumber : 1. Visera perut 2. Organ lain di luar perut 3. Lesi pada susunan saraf spinal 4. Gangguan metabolik 5. Psikosomatik Rasa sakit perut somatik berasal dari suatu proses penyakit yang menyebar keseluruh peritonium dan melibatkan visera mensentrium yang berisi banyak ujung saraf somatik , yang lebih dapat meneruskan rasa sakit nya dan lebih dapat melokalisasi rasa sakit daripada saraf otonom. Telah diketahui pula bahwa gangguan pada visera pada mulanya akan menyebabkan rasa sakit visera, tetapi kemudian akan diikuti oleh rasa sakit somatik pula, setelah peritoneum terlibat. Rasa sakit somatik yang dalam akan disertai oleh tegangan otot dan rasa mual yang merupakan gejala khas peritonitis. Refleks rasa sakit perut dapat pula timbul karena adanya rangsangan pada nervus frenikus, misalnya pada pneumonia. Rasa sakit yang berasal dari usus halus akan timbul didaerah perut bagian atas dan epigastrium, sedangkan rasa sakit dari usus besar akan timbul dibagian bawah perut.Reseptor rasa sakit di dalam traktus digestivus terletak pada saraf yang tidak bermielin yang berasal dari sistim saraf otonom pada mukosa usus. Jaras saraf ini disebut sebagai serabut saraf C yang dapat meneruskan rasa sakit lebih menyebar dan lebih lama dari rasa sakit yang dihantarkan dari kulit oleh serabut saraf A. Reseptor nyeri pada perut terbatas di submukosa, lapisan muskularis dan serosa dari organ di abdomen. Serabut C ini akan bersamaan dengan saraf simpatis menuju ke ganglia pre dan paravertebra dan memasuki akar dorsa ganglia. Impuls aferen akan melewati medula spinalis pada traktus spinotalamikus lateralis menuju ke talamus, kemudian ke konteks serebri.

Impuls aferen dari visera biasanya dimulai oleh regangan atau akibat penurunan ambang nyeri pada jaringan yang meradang. Nyeri ini khas bersifat tumpul, pegal, dan berbatas tak jelas serta sulit dilokalisasi. Impuls nyeri dari visera abdomen atas (lambung, duodenum, pankreas, hati, dan sistem empedu) mencapai medula spinalis pada segmen thorakalis 6,7,8 serta dirasakan didaerah epigastrium.Impuls nyeri yang timbul dari segmen usus yang meluas dari ligamentum Treitz sampai fleksura hepatika memasuki segmen Th 9 dan 10, dirasakan di sekitar umbilikus. Dari kolon distalis, ureter, kandung kemih, dan traktus genitalia perempuan, impuls nyeri mencapai segmen Th 11 dan 12 serta segmen lumbalis pertama. Nyeri dirasakan pada daerah supra publik dan kadang-kadang menjalar ke labium atau skrotum. Jika proses penyakit meluas ke peritorium maka impuls nyeri dihantarkan oleh serabut aferen somatis ke radiks spinals segmentalis.Nyeri yang disebabkan oleh kelainan metabolik seperti pada keracunan timah dan porfirin belum jelas patofisiologi dan patogenesisnya. Patofisiologi sakit perut berulang yang fungsional (tidak berhubungan dengan kelainan organik) masih sulit dimengerti. Diperkirakan ada hubungan antara sakit perut berulang fungsional dengan penurunan ambang rangsang nyeri. Berbagai faktor psikologik dan fisiologik dapat berperan sebagai mediator dari sakit perut berulang fungsional.

F. PENATA LAKSANAAN MEDIS Tensi, nadi, pernafasan, suhu Pemeriksaan abdomen : lokasi nyeri, adakah nyeri tekan / nyeri lepas ? Adakah pembesaran hati, apakah teraba massa? Pemeriksaan rektal : lokasi nyeri pada jam berapa, adakah faeces, adakah darah? Laboratorium : Leukosit dan Hb PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Sinar x abdomen menunjukkan gas atau cairan di dalam usus 2. Barium enema menunjukkan kolon yang terdistensi, berisi udara atau lipatan sigmoid yang tertutup. 3. Penurunan kadar serum natrium, kalium dan klorida akibat muntah; peningkatan

hitung SDP dengan nekrosis, strangulasi atau peritonitis dan peningkatan kadar serum amilase karena iritasi pankreas oleh lipatan usus. 4. Arteri gas darah dapat mengindikasikan asidosis atau alkalosis metabolik. PENATALAKSANAAN MEDIS Koreksi ketidakseimbangan cairan dan elektrolit Terapi Na+, K+, komponen darah Ringer laktat untuk mengoreksi kekurangan cairan interstisial Dekstrosa dan air untuk memperbaiki kekurangan cairan intraseluler Dekompresi selang nasoenteral yang panjang dari proksimal usus ke area penyumbatan; selang dapat dimasukkan dengan lebih efektif dengan pasien berbaring miring ke kanan. Implementasikan pengobatan unutk syok dan peritonitis. Hiperalimentasi untuk mengoreksi defisiensi protein karena obstruksi kronik, ileus paralitik atau infeksi. Reseksi usus dengan anastomosis dari ujung ke ujung. Ostomi barrel-ganda jika anastomosis dari ujung ke ujung terlalu beresiko. Kolostomi lingkaran untuk mengalihkan aliran feses dan mendekompresi usus dengan reseksi usus yang dilakukan sebagai prosedur kedua. TINDAKAN Infus RL ; jika anuria -> infus RL:D5 = 1:1 Bila dehidrasi berat -> infus diguyur, dipasang kateter dauwer Beri analgetik ringan (xylomidon),Spasmolitik: Baralgin, Sulfas Aliopin (inj) ; jika kesakitan sekali -> beri petidin 1 amp im, jangan beri Antibiotik kalau penyebab tidak jelas Bila gelisah penderita gelisah, beri Diazepam 10 mg iv, bisa diulang tiap 30 menit Bila panas, beri: antipiretik (Parasetamol) Bila keadaan umum jelek, beri supportif Vitamin / Alinamin F (inj), Cortison inj 3 cc atau Deksametason 2 amp Bila dengan upaya di atas keadaan tidak membaik, rujuk ke RSUD

G. PATHWAY

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN I. PENGKAJIAN a. Biodata Nama, umur, alamat, agama, pendidikan b. Riwayat kesehatan - Keluhan utama : Masuk PKM muntah-muntah - Keluhan waktu di data : Terdapat pasien muntah-muntah, sakit kepala, , keadaan umum lemah.nyeri ulu hati, ma-mia , turgor kulit - Riwayat kesehatan yang lalu : Pernah menderita moviting atau tidak - Riwayat kesehatan keluarga : Apakah anggota keluarga pernah menderita penyakit seperti pasien c. Pemeriksaan fisik - Tanda vital : Biasanya stabil - Inspeksi : - Kepala : Keadaan rambut, mata, muka, hidung, mulut, telinga dan leher - Dada : Abdomen: biasanya terjadi pembesaran limfa Genetalia : Tidak ada perubahan - Palpasi abdomen : Terasa pembesaran limfa dan infeksi kronik juga akan membesar - Auskultasi - Perkusi d. Bio-Psiko-Sosial-Spiritual - Biologis Pola makan dan minum Klien mengalami anorexia ditandai dengan porsi makan tidak dihabiskan. Kaji frekwensi pola jenis diit dan gangguan pola eliminasi dihabiskan Pola eliminasi : BAB tidak ada perubahan, BAK menurun frekwensi smpai dengan menurunnya indeksi Pola istrahat tidur : Klien sulit tidur karena adanya sakit kepala Aktivitas : Tidak ada perubahan yang lelah dengan interaksi pasien - Psikologi Perubahan status emosional

- Sosial Berhubungan dengan pola interaksi - Spiritual Pasien dan keluarga mempunyai keyakinan dan berdoa untuk kesembuhan. - Pemeriksan diagnostik Laboratorium - Hb dan leukosit Radiologi II. PENGUMPULAN DATA a. Data Obyektif b. Data Subyektif III. ANALISA DATA Problem, symptom, etiologi IV. PERIORITAS MASALAH V. DIAGNOSA YANG MUNGKIN MUNCUL 1. Kekurangan cairan (dehidrasi) berhubungan dengan mual muntah 2. Gangguan kebutuhan istiharahat tidur berhubungan dengan sakit kepala 3. Gangguan pmenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan anorexia 4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik 5. Personal Hygiene kurang berhubungan dengan ketidakmampuan merawat diri VI. RENCANA KEPERAWATAN 1. Dehidrasi dapat terpenuhi 2. Pemenuhan kebutuhan istirahat tidur dapat terpenuhi 3. Pemenuhan kebutuhan nutrisi terpenuhi ditandai dengan pasien tidak mual muntah lagi 4. Pasien dapat melakukan aktivitas sendiri tanpa bantuan keluarga 5. Personal hygiene dapat terpenuhi

VII. INTERVENSI KEPERAWATAN 1. Kekurangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan mual muntah - Memberikan masukan cairan intravena - Anjurkan untuk banyak minum - Menganjurkan pada pasien untuk tidak mengkonsumsi makanan yang merangsang mual muntah - Memberikan Health education kepada pasien dan keluarga pasien - Mengobservasi vital sign pasien 2. Gangguan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan aneroxia - Kaji asupan diet dan status nutrisi lewat riwayat diet dan food diary. Pengukuran BB setiap hari, pemeriksaan lab. dan antropometri - Berikan diet tinggi karbohidrat dengan asupan protein yang konsisten dengan fungsi hati. - Bantu pasien dalam mengenali jenis-jeni makanan rendah natrium - Tinggikan bagian kepala tempat tidur selama pasien makan - Pelihara hygiene oral sebelum makan dan berikan suasana yang aman dan nyaman pada waktu makan 3. Gangguan kebutuhan istirahat tidur berhubungan dengan sakit kepala - Kaji kebiasaan tidur pasien. - Berikan Health education tentang pentingnya istirahat tidur bagi kesehatan - Mengatur suhu kamar pasien - Kolaborasi dengan dokter 4. Intoleransi terhadap aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik - Kaji tingkat toleransi aktivtas dan derajat kelelahan fisik - Bantu pasien dalam merawat diri dan pelaksanaan aktivitas bila pasien merasa lelah - Anjurkan untuk sitirahat bila pasien merasa lelah / bila adanya nyeri - Bantu memilih latihan dan aktivitas yang diinginkan 5. Personal hygiene kurang berhubungan dengan ketidakmampuan merawat diri - Beri dorongan pada pasien untuk merawat dirinya - Bantu pasien untuk merawat dirinya - Bantu kemampuan pasien untuk merawat dirinya

- Kaji kemampuuan pasien untuk memenuhi personal hygiene - Beri HE kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya kebersihan diri

DAFTAR PUSTAKA 1. Nettina, Sandra M. Pedoman Praktik Keperawatan. Alih bahasa Setiawan dkk. Ed. 1. Jakarta : EGC; 2001 2. Smeltzer Suzanne C. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Alih bahasa Agung Waluyo, dkk. Editor Monica Ester, dkk. Ed. 8. Jakarta : EGC; 2001. 3. Tucker, Susan Martin et al. Patient care Standards : Nursing Process, diagnosis, And Outcome. Alih bahasa Yasmin asih. Ed. 5. Jakarta : EGC; 1998 4. Price, Sylvia Anderson. Pathophysiology : Clinical Concepts Of Disease Processes. Alih Bahasa Peter Anugrah. Ed. 4. Jakarta : EGC; 1994 5. http://www.infokedokteran.com/tag/penatalaksanaan-kolik-abdomen