Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN KASUS

SINUSITIS MAKSILARIS

Oleh: Reyki Yudho Husodo 70 2009 020

Pembimbing: dr. Rizal Imran Ambiar Sp.THT-KL

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALEMBANG 2013

KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT karena atas berkatNya, karya tulis ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Karya tulis dengan judul Sinusitis Maksilaris ini ditulis dalam rangka menjalani Kepaniteraan Klinik SMF Telinga Hidung Tenggorokan Kepala Leher, Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. dr. Rizal Imran Ambiar Sp.THT-KL selaku pembimbing penulisan laporan ini. 2. semua pihak yang telah membantu penyelesaian karya ini. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa karya ini masih jauh dari sempurna, karena keterbatasan kemampuan dan pengetahuan penulis. Untuk ini penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun dari semua pihak. Palembang, Agustus 2013

Penulis

ii

DAFTAR ISI Halaman PRAKATA .......................................................................................................... ii DAFTAR ISI ....................................................................................................... iii BAB 1 PENDAHULUAN .................................................................................. 1 BAB 2 ISI ........................................................................................................... 2 2.1 Definisi ................................................................................................... 2 2.2 Anatomi Sinus Paranasalis ..................................................................... 2 2.3 Epidemiologi........................................................................................... 3 2.4 Etiologi ................................................................................................... 3 2.5 Patogenesis.............................................................................................. 4 2.6 Manifestasi Klinik................................................................................... 4 2.7 Pemeriksaan Penunjang........................................................................... 5 2.8 Diagnosis Banding................................................................................... 6 2.9 Penatalaksanaan....................................................................................... 6 BAB 3 LAPORAN KASUS................................................................................. 8 3.1 Identitas Pasien........................................................................................ 8 3.2 Anamnesis............................................................................................... 8 3.3 Pemeriksaan Fisik.................................................................................... 8 3.4 Resume.................................................................................................... 10 3.5 Diagnosa Kerja........................................................................................ 10 3.6 Pemeriksaan Penunjang........................................................................... 10 3.7 Penatalaksanaan....................................................................................... 10 3.8 Prognosis................................................................................................. 10 BAB 4 PEMBAHASAN...................................................................................... 11 DAFTAR PUSTAKA........................................................................................... 13

iii

BAB 1 PENDAHULUAN Manusia memiliki sekitar 12 rongga di sepanjang atap dan bagian lateral kavum nasi. Sinus sinus ini membentuk rongga di dalam beberapa tulang wajah, dan diberi nama sesuai dengan tulang tersebut, yaitu sinus maksilaris, sinus sfenoidalis, sinus frontalis, dan sinus etmoidalis.1 Sinus yang alam keadaan fisiologis adalah steril, apabila klirens sekretnya berkurang atau tersumbat, akan menimbulkan lingkungan yang baik untuk perkembangan organisme patogen. Apabila terjadi infeksi karena virus, bakteri ataupun jamur pada sinus yang berisi sekret ini, maka terjadilah sinusitis.2, 3,4,5 Sinusitis adalah penyakit yang benyak ditemukan di seluruh dunia. 6 Sinusitis bakterial adalah diagnosis terbanyak kelima pada pasien dengan pemberian antibiotik.2,3 Lima milyar dolar dihabiskan setiap tahunnya untuk pengobatan medis sinusitis, dan 60 milyar lainnya dihabiskan untuk pengobatan operatif sinusitis di Amerika Serikat.7 Berdasarkan fakta tersebut diatas, sinusitis adalah penyakit yang penting untuk diketahui oleh seorang praktisi kesehatan. Dan sinusitis yang paling banyak ditemukan adalah sinusitis maksilaris. 8 Oleh karena itu tema ini diangkat agar diagnosis, dan penanganan sinusitis maksilaris bisa dimengerti dengan lebih baik.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi

Sinus paranasalis adalah rongga udara berlapis mukosa pada tulang kranium, yang berhubungan dengan rongga hidung dan meliputi sinus frontalis, sinus etmoidalis, sinus maksilaris, dan sinus sfenoidalis.9 Sedangkan sinusitis adalah kondisi inflamatorik yang melibatkan satu atau lebih dari keempat rongga berpasangan yang mengelilingi kavum nasi (sinus paranasalis). 3 Menurut anatomi yang terkena, sinusitis daibagi atas sinusitis frontalis, sinusitis etmoidalis, sinusitis maksilaris, dan sinusitis sfenoidalis.4 Jadi, sinusitis maksilaris adalah suatu kondisi inflamatorik yang melibatkan sinus maksilaris. 2.2 Anatomi Sinus Paranasalis

Manusia memiliki sekitar 12 rongga di sepanjang atap dan bagian lateral kavum nasi. Sinus sinus ini membentuk rongga di dalam beberapa tulang wajah, dan diberi nama sesuai dengan tulang tersebut, yaitu sinus maksilaris, sinus sfenoidalis, sinus frontalis, dan sinus etmoidalis (Gambar 1). Seluruh sinus dilapisi oleh epitel saluran pernafasan yang mengalami modifikasi, yang mampu mengkasilkan mukus, dan bersilia. Sekret yang dihasilkan disalurkan ke dalam kavum nasi. Pada orang sehat, sinus terutama berisi udara.1

Gambar 1. Sinus Paranasalis.

Sinus maksilaris merupakan satu satunya sinus yang rutin ditemukan pada saat lahir.1 Sinus maksilaris terletak di dalam tulang maksilaris, dengan dinding inferior orbita sebagai batas superior, dinding lateral nasal sebagai batas medial, prosesus alveolaris maksila sebagai batas inferior, dan fossa canine sebagai batas anterior.8 2.3 Epidemiologi

Di Amerika Serikat, lebih dari 30 juta orang menderita sinusitis.Virus adalah penyebab sinusitis akut yang paling umum ditemukan. 3,7 Namun, sinusitis bakterial adalah diagnosis terbanyak kelima pada pasien dengan pemberian antibiotik.2,3 Lima milyar dolar dihabiskan setiap tahunnya untuk pengobatan medis sinusitis, dan 60 milyar lainnya dihabiskan untuk pengobatan operatif sinusitis di Amerika Serikat.7 Sinusitis adalah penyakit yang benyak ditemukan di seluruh dunia, terutama di tempat dengan polusi udara tinggi. Iklim yang lembab, dingin, dengan konsentrasi pollen yang tinggiterkait dengan prevalensi yang lebih tinggi dari sinusitis. 6 Sinusitis maksilaris adalah sinusitis dengan insiden yang terbesar.8 2.4 Etiologi

Berbagai faktor infeksius dan nonifeksius dapat meberikan kontribusi dalam terjadinya obstruksi akut ostia sinus atau gangguan pengeluaran cairan oleh silia, yang akhirnya menyebabkan sinusitis. Penyebab nonifeksius antara lain adalah rinitis alergika, barotrauma, atau iritan kimia. Penyakit seperti tumor nasal atau tumor sinus (squamous cell carcinoma), dan juga penyakit granulomatus (Wegeners granulomatosis atau rhinoskleroma) juga dapat menyebabkan obstruksi ostia sinus, sedangkan konsisi yang menyebabkan perubahan kandungan sekret mukus (fibrosis kistik) dapat menyebabkan sinusitis dengan mengganggu pengeluaran mukus. Di rumah sakit, penggunaan pipa nasotrakeal adalah faktor resiko mayor untuk infeksi nosokomial di unit perawatan intensif.3 Infeksi sinusitis akut dapat disebabkan berbagai organisme, termasuk virus, bakteri, dan jamur.3,13 Virus yang sering ditemukan adalah rhinovirus, virus parainfluenza, dan virus influenza.3 Bakteri yang sering menyebabkan sinusitis

adalah Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, dan moraxella catarralis. Bakteri anaerob juga terkadang ditemukan sebagai penyebab sinusitis maksilaris, terkait dengan infeksi pada gigi premolar. Sedangkan jamur juga ditemukan sebagai penyebab sinusitis pada pasien dengan gangguan sistem imun, yang menunjukkan infeksi invasif yang mengancam jiwa. Jamur yang menyebabkan infeksi antara lain adalah dari spesies Rhizopus, rhizomucor, Mucor, Absidia, Cunninghamella, Aspergillus, dan Fusarium. 2.5 Patogenesis

Dalam keadaan fisiologis, sinus adalah steril.2,3 Sinusitis dapat terjadi bila klirens silier sekret sinus berkurang atau ostia sinus menjadi tersumbat, yang menyebabkan retensi sekret, tekanan sinus negatif, dan berkurangnya tekanan parsial oksigen.2,3 Lingkungan ini cocok untuk pertumbuhan organisme patogen.2,3,4,5 Apabila terjadi infeksi karena virus, bakteri ataupun jamur pada sinus yang berisi sekret ini, maka terjadilah sinusitis.3 2.6 Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis sinusitis sangat bervariasi. Keluhan utama yang paling sering ditemukan adalah tidak spesifik, dan dapat berupa sekret nasal purulen, kongesti nasal, rasa tertekan pada wajah, nyeri gigi, nyeri telinga, demam, nyeri kepala, batuk, rasa lelah, halitosis, atau berkurangnya penciuman. Gejala seperti ini sulit dibedakan dengan infeksi saluran nafas atas karena virus, sehingga durasi gejala menjadi penting dalam diagnosis. Pasien dengan gejala diatas selama lebih dari 7 hari mengarahkan diagnosis ke arah sinusitis.3, Kriteria diagnosis sinusitis dirangkum dalam tabel 1.

Tabel 1. Kriteria diagnosis sinusitis Mayor Nyeri atau rasa tertekan pada wajah Sekret nasal purulen Demam Kongesti nasal Obstruksi nasal Hiposmia atau anosmia Minor Sakit kepala Batuk Rasa lelah Halitosis Nyeri gigi Nyeri atau rasa tertekan pada telinga

Diagnosis memerlukan dua kriteria mayor atau satu kriteria mayor dengan dua kriteria minor pada pasien dengan gejala lebih dari 7 hari. Sumber: Boies ET. (2001) 2.7 Pemeriksaan Penunjang

Terdapat beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan, yaitu: 1. Pemeriksaan transluminasi. Pada pemeriksaan transluminasi, sinus yang sakit akan tampak suram atau gelap. Hal ini lebih mudah diamati bila sinusitis terjadi pada satu sisi wajah, karena akan nampak perbedaan antara sinus yang sehat dengan sinus yang sakit. 2. Pencitraan Dengan foto kepala posisi Waters, PA, dan lateral, akan terlihat perselubungan atau penebalan mukosa atau air-fluid level pada sinus yang sakit. CT Scan adalah pemeriksaan pencitraan terbaik dalam kasus sinusitis.3 3. Kultur Karena pengobatan harus dilakukan dengan mengarah kepada organisme penyebab, maka kultur dianjurkan. Bahan kultur dapat diambil dari meatus medius, meatus superior, atau aspirasi sinus.3

2.8

Diagnosis Banding

Diagnosos banding sinusitis adalah luas, karena tanda dan gejala sinusitis tidak sensitif dan spesifik. Infeksi saluran nafas atas, polip nasal, penyalahgunaan kokain, rinitis alergika, rinitis vasomotor, dan rinitis medikamentosa dapat datang dengan gejala pilek dan kongesti nasal. Rhinorrhea cairan serebrospinal harus dipertimbangkan pada pasien dengan riwayat cedera kepala. Pilek persisten unilateral dengan epistaksis dapat mengarah kepada neoplasma atau benda asing nasal. Tension headache, cluster headache, migren, dan sakit gigi adalah diagnosis alternatif pada pasien dengan sefalgia atau nyeri wajah. Pasien dengan demam memerlukan perhatian khusus, karena demam dapat merupakan manifestasi sinusitis saja atau infeksi sistem saraf pusat yang berat, seperti meningitis atau abses intrakranial. 2.9 Penatalaksanaan

Penatalaksanaan sinusitis dibagi atas: 1. Medikamentosa3 Pengobatan medikamentosa sinusitis dibagi atas pengobatan pada orang dewasa dan pada anak anak. a. Orang dewasa i. Terapi awal: - Amoxicillin 875 mg per oral 2 kali sehari selama 10 hari, atau - TMP-SMX 160mg-800mg per oral 2 kali sehari selama 10 hari ii. Pasien dengan paparan antibiotik dalam 30 hari terakhir - Amoxicillin 1000 mg per oral 2 kali sehari selama 10 hari, atau - Amoxicillin/Clavulanate 875 mg per oral 2 kali sehari selama 10 hari, atau - Levofloxacin 500 mg per oral sekali sehari selama 7 hari. iii. Pasien dengan gagal pengobatan - Amoxicillin 1500mg dengan klavulanat 125 mg per oral 2 kali sehari selama 10 hari, atau

- Amoxicillin 1500mg per oral 2 kali sehari dengan Clindamycin 300 mg per oral 4 kali sehari selama 10 hari, atau - Levofloxacin 500 mg per oral sekali sehari selama 7 hari. b. Anak anak i. Terapi awal: Pengobatan oral selama 10 hari dengan: - Amoxicillin 45-90 mg/kg/hari terbagi dalam dua atau tiga dosis sehari, atau - Cefuroxime axetil 30 mg/kg/hari terbagi dalam dua dosis sehari, atau - Cefdinir 14 mg/kg/hari dalam satu dosis sehari. ii. Pasien dengan paparan antibiotik dalam 30 hari terakhir: Pengobatan oral selama 10 hari dengan: - Amoxicillin 90 mg/kg/hari (maksimal 2 gram) plus Clavulanate 6,4 mg/kg/hari, keduanya terbagi dalam dua dosis sehari, atau - Cefuroxime axetil 30 mg/kg/hari terbagi dalam dua dosis sehari, atau - Cefdinir 14 mg/kg/hari dalam satu dosis sehari. 2. Diatermi4 Diatermi gelombang pendek selama 10 hari dapat membantu penyembuhan sinusitis dengan memperbaiki vaskularisasi sinus. 3. Tindakan pembedahan8, Terdapat tiga pilihan operasi yang dapat dilakukan pada sinusitis maksilaris, yaitu unisinektomi endoskopik dengan atau tanpa antrostomi maksilaris, prosedur Caldwell-Luc, dan antrostomi inferior. Saat ini, antrostomi unilateral dan unisinektomi endoskopik adalah pengobatan standar sinusitis maksilaris kronis refrakter. Prosedur Caldwell-Luc dan antrostomi inferior antrostomy jarang dilakukan. .

BAB 3 LAPORAN KASUS 3.1. Identitas Pasien Nama Umur Jenis Kelamin Alamat Pekerjaan Agama Bangsa Pemeriksaan 3.2. Anamnesis Keluhan Utama: Hidung tersumbat Perjalanan Penyakit: Pasien mengeluh hidungnya tersumbat sejak kurang lebih 10 hari sebelum memeriksakan diri ke rumah sakit. Pasien juga mengeluhkan nyeri pada gigi geraham kiri atas kedua disertai nyeri pada daerah pipi bagian kiri yang dirasakan hingga ke pelipis serta rasa tidak enak badan sejak 10 hari yang lalu. Riwayat penyakit sebelumnya: Sebelumnya pasien sering menderita pilek hilang timbul sejak kecil Riwayat penyakit serupa dalam keluarga: Di keluarga pasien tidak ada yang menderita penyakit serupa Riwayat Sosial: Pasien adalah seorang ibu rumah tangga : TP : 46 Tahun : Perempuan : Jl. Kol. H. Burlian No.83 : Ibu Rumah Tangga : Islam : Indonesia : 15 Juni 2006

3.3. Pemeriksaan Fisik Status present: T: 110/70 N: 120x/menit tax: 36,4C R: 20x/menit Status General Mata: Anemis (-) Thoraks: Cor : S1S2 tunggal reguler murmur (-) Po Ext: Hangat +/+ Status THT:
Telinga Aurikula Liang telinga Membran tympani Mastoid Tes pendengaran : Berbisik Weber Rinne Scwabach Hidung Hidung luar Cavum nasi Septum Discharge Mukosa Tumor Konka Choana tidak dievaluasi tidak ada lateralisasi positif normal Kanan normal lapang negatif merah muda negatif dekongesti normal positif normal Kiri normal sempit positif merah muda negatif kongesti normal Kanan normal lapang intak normal Kiri normal lapang intak normal

: Ves +/+ Rh -/- Wh -/-

Abd: distensi (-) Bising Usus (+) Normal

tidak ada deviasi

Tenggorok Dispneu Cyanosis Mukosa Dinding belakang Post nasal drip negatif negatif merah muda merah muda positif Stridor Suara Tonsil negatif normal T1/T1 tenang

3.4. Resume Penderita, perempuan, 46 tahun, Islam dengan keluhan hidung tersumbat sejak 10 hari sebelum memeriksakan diri ke rumah sakit. Penderita juga mengeluh nyeri pada pipi kiri hingga pelipis. Riwayat pilek hilang timbul sejak kecil (+). Pada pemeriksaan fisik didapatkan status present dan status general dalam batas normal. Status THT : telinga tenang, cavum nasi kiri sempit, discharge positif pada hidung bagian kiri, konka kongesti pada hidung bagian kiri. Pemeriksaan tenggorok didapatkan post nasal drip positif. 3.5. Diagnosa Kerja Sinusitis maksilaris akut sinistra 3.6. Rencana Pemeriksaan Penunjang Darah rutin Foto Waters 3.7. Penatalaksanaan Pro irigasi Antibiotika : Amoksisilin 3 x 500 mg

Dekongestan : Pseudoefedrin 3 x 60 mg Analgetik : Parasetamol 3 x 500 mg

3.8. Prognosis Dubia ad bonam

10

BAB 4 PEMBAHASAN Sinus maksilaris merupakan sinus yang paling besar dan juga paling sering mengalami infeksi atau peradangan. Pasien pada kasus ini didiagnosis dengan sinusitis maksilaris akut yang ditegakkan dari anamnesis dan pemeriksaan fisik serta didukung dengan pemeriksaan penunjang. Dari anamnesis didapatkan keluhan hidung tersumbat yang dirasakan penderita sejak sepuluh hari sebelum memeriksakan diri ke Rumah Sakit. Pasien juga mengeluh nyeri pada gigi geraham kiri atas kedua disertai nyeri pada daerah pipi bagian kiri yang dirasakan hingga ke pelipis. Pasien dengan sinusitis maksilaris biasanya mengeluh hidung tersumbat dan keluar cairan hidung yang sedikit kental, yang kadang kadang disertai bau busuk dan bercampur darah. Selain itu penderita juga mengeluh nyeri terutama di bawah kelopak mata dan kadang kadang menjalar ke gigi. Pada pemeriksaan fisik didapatkan cavum nasi kiri sempit, discharge positif pada hidung bagian kiri, konka kongesti pada hidung bagian kiri serta post nasal drip yang positif pada pemeriksaan rinoskopi posterior. Salah satu penyebab sinusitis maksilaris adalah faktor rinogen karena adanya infeksi berulang pada mukosa hidung yang menyebabkan mukosa hidung mengalami degenerasi, periplebitis, serta perilimfangitis sehingga mengganggu aliran balik cairan interstisial sehingga terjadi edema pada mukosa hidung yang menyebabkan gangguan drainase dan ventilasi sinus sehingga silia menjadi kurang aktif serta lendir yang diproduksi menjadi lebih kental. Keadaan ini merupakan media pertumbuhan kuman patogen yang sangat baik dan apabila sumbatan berlangsung terus menerus maka akan terjadi hipoksia dan menyebablan infeksi bakteri anaerob. Penanganan yang dilakukan pada penderita ini pada intinya adalah untuk mengeluarkan sekret dari sinus dengan cara irigasi. Selain itu pasien juga diberikan antibiotik spektrum luas, dekongestan dan analgetik. Sinusitis maksilaris akut umumnya diterapi dengan antibiotik spektrum luas seperti

11

amoksisilin, ampisilin atau eritromisin ditambah dengan sulfunamid. Dekongestan seperti pseudoefedrin juga bermanfaat dan tetes hidung poten seperti fenilefrin atau oksimetazolin dapat digunakan selama beberapa hari pertama infeksi. Kompres hangat pada wajah dan analgetik seperti aspirin dan asetaminofen juga berguna untuk meringankan gejala.

12

DAFTAR PUSTAKA 1. Higler PA. Nose: Applied Anatomy dan Physiology. In: Adams GL, Boies LR, Higler PA, editors. Boies Fundamentals of Otolaryngology. 6th ed. Philadelphia, PA: WB Saunders Company; 1989. p.173-90 2. Rubin MA, Gonzales R, Sande MA. Infections of the Upper Respiratory Tract. In: Kasper DL, Braunwald E, Fauci AS, Hauser SL, Longo DL, Jameson JL, editors. Harrisons Principle of Internal Medicine. 16th ed. New York, NY: McGraw Hill; 2005. p. 185-93 3. Mangunkusumo E, Rifki N. Sinusitis. Dalam: Supardi EA, Iskandar N, editor. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Kepala Leher. Ed 5. Jakarta: Balai Penerbitan FKUI; 2001. p.120-4 4. Higler PA. Paranasal Sinuses Diseases. In: Adams GL, Boies LR, Higler PA, editors. Boies Fundamentals of Otolaryngology. 6th ed. Philadelphia, PA: WB Saunders Company; 1989. p.240-62 5. Dorlands Pocket Medical Dictionary. Philadelphia, PA: WB Sunders Company; 1995. Paranasal Sinuses; p. 992 6. Musher DM. Pneumococcal Infection. In: Kasper DL, Braunwald E, Fauci AS, Hauser SL, Longo DL, Jameson JL, editors. Harrisons Principle of Internal Medicine. 16th ed. New York, NY: McGraw Hill; 2005. p. 806-14 7. Musher DM. Moraxella Catarrhalis and Other Moraxella Species.. In: Kasper DL, Braunwald E, Fauci AS, Hauser SL, Longo DL, Jameson JL, editors. Harrisons Principle of Internal Medicine. 16th ed. New York, NY: McGraw Hill; 2005. p. 862-3 8. Murphy TF. Haemophilus infection. In: Kasper DL, Braunwald E, Fauci AS, Hauser SL, Longo DL, Jameson JL, editors. Harrisons Principle of Internal Medicine. 16th ed. New York, NY: McGraw Hill; 2005. p. 185-93 9. Daum RS. Haemophilus Influenzae. In: Behrman RE, Kliegman RM, Jenson HB, editors. Nelson Textbook of Pediatrics. 17th ed. Philadelphia, PA: Saunders; 2004. p. 904-8

13

10. Pappas DE, Hendley JO. Sinusitis. In: Behrman RE, Kliegman RM, Jenson HB, editors. Nelson Textbook of Pediatrics. 17th ed. Philadelphia, PA: Saunders; 2004. p. 1391-3 11. Kasper DL. Infections Due To Mixed Anaerobic Organism. In: Kasper DL, Braunwald E, Fauci AS, Hauser SL, Longo DL, Jameson JL, editors. Harrisons Principle of Internal Medicine. 16th ed. New York, NY: McGraw Hill; 2005. p. 940-6 12. Bennett JE. Aspergillosis. In: Kasper DL, Braunwald E, Fauci AS, Hauser SL, Longo DL, Jameson JL, editors. Harrisons Principle of Internal Medicine. 16th ed. New York, NY: McGraw Hill; 2005. p. 1188-90 13. Aronoff SC. Aspergillus. In: Behrman RE, Kliegman RM, Jenson HB, editors. Nelson Textbook of Pediatrics. 17th ed. Philadelphia, PA: Saunders; 2004. p. 1016-8 14. Boies ET. Sinusitis. In: Harwood-Nuss A, Wolfson AB, Linden CA, Shepherd SM, Stenklyft PH. The Clinical Practice of Emergency Medicine. 3 rd ed. Philadelphia, PA: Lippincott Williams & Wilkins Publishers; 2001

14