Anda di halaman 1dari 13

Sifat 20 Allah swt

Ditulis oleh orgawam di/pada September 11, 2008 SIFAT WAJIB BAGI ALLAH SWT 1. Wujud : Artinya Ada Yaitu tetap dan benar yang wajib bagi zat Allah Taala yang tiada disebabkan dengan sesuatu sebab. Maka wujud ( Ada ) disisi Imam Fakhru Razi dan Imam Abu Mansur Al-Maturidi bukan ia ain maujud dan bukan lain daripada ain maujud , maka atas qaul ini adalah wujud itu Haliyyah ( yang menepati antara ada dengan tiada) . Tetapi pada pendapat Imam Abu Hassan AlAshaari wujud itu ain Al-maujud , karena wujud itu zat maujud karena tidak disebutkan wujud melainkan kepada zat. Kepercayaan bahwa wujudnya Allah SWT. bukan saja di sisi agama Islam tetapi semua kepercayaan di dalam dunia ini mengaku menyatakan Tuhan itu ada. Firman Allah SWT. yang bermaksud : Dan jika kamu tanya orang-orang kafir itu siapa yang menjadikan langit dan bumi nescaya berkata mereka itu Allah yang menjadikan ( Surah Luqman : Ayat 25 ) 2. Qidam : Artinya Sedia Pada hakikatnya menafikan ada permulaan wujud Allah SWT karena Allah SWT. menjadikan tiap-tiap suatu yang ada, yang demikian tidak dapat tidak keadaannya lebih dahulu daripada tiaptiap sesuatu itu. Jika sekiranya Allah Taala tidak lebih dahulu daripada tiap-tiap sesuatu, maka hukumnya adalah mustahil dan batil. Maka apabila disebut Allah SWT. bersifat Qidam maka jadilah ia qadim. Di dalam Ilmu Tauhid ada satu perkataan yang sama maknanya dengan Qadim Yaitu Azali. Setengah ulama menyatakan bahwa kedua-dua perkataan ini sama maknanya Yaitu sesuatu yang tiada permulaan baginya. Maka qadim itu khas dan azali itu am. Dan bagi tiap-tiap qadim itu azali tetapi tidak boleh sebaliknya, Yaitu tiap-tiap azali tidak boleh disebut qadim. Adalah qadim dengan nisbah kepada nama terbahagi kepada empat bagian : Qadim Sifati ( Tiada permulaan sifat Allah Taala ) Qadim Zati ( Tiada permulaan zat Allah Taala ) Qadim Idhafi ( Terdahulu sesuatu atas sesuatu seperti terdahulu bapa nisbah kepada anak ) Qadim Zamani ( Lalu masa atas sesuatu sekurang-kurangnya satu tahun )

Maka Qadim Haqiqi ( Qadim Sifati dan Qadim Zati ) tidak harus dikatakan lain daripada Allah Taala. 3. Baqa : Artinya Kekal

Sentiasa ada, kekal ada dan tiada akhirnya Allah SWT . Pada hakikatnya ialah menafikan ada kesudahan bagi wujud Allah Taala. Adapun yang lain daripada Allah Taala , ada yang kekal dan tidak binasa Selama-lamanya tetapi bukan dinamakan kekal yang hakiki ( yang sebenar ) Bahkan kekal yang aradhi ( yang mendatang jua seperti Arasy, Luh Mahfuz, Qalam, Kursi, Roh, Syurga, Neraka, jisim atau jasad para Nabi dan Rasul ). Perkara perkara tersebut kekal secara mendatang tatkala ia bertakluq dengan Sifat dan Qudrat dan Iradat Allah Taala pada mengekalkannya. Segala jisim semuanya binasa melainkan ajbu Az-zanabi ( tulang kecil seperti biji sawi letaknya di tungking manusia, itulah benih anak Adam ketika bangkit daripada kubur kelak ). Jasad semua nabi-nabi dan jasad orang-orang syahid berjihad Fi Sabilillah yang mana ianya adalah kekal aradhi jua. Disini nyatalah perkara yang diiktibarkan permulaan dan kesudahan itu terbahagi kepada 3 bagian : Tiada permulaan dan tiada kesudahan Yaitu zat dan sifat Alllah SWT.

Ada permulaan tetapi tiada kesudahan Yaitu seperti Arash, Luh Mahfuz , syurga dan lainlain lagi. Ada permulaan dan ada kesudahan Yaitu segala makhluk yang lain daripada perkara yang diatas tadi ( Kedua ). 4. Mukhalafatuhu Taala Lilhawadith. Artinya : Bersalahan Allah Taala dengan segala yang baharu. Pada zat , sifat atau perbuatannya sama ada yang baru , yang telahada atau yang belum ada. Pada hakikat nya adalah menafikan Allah Taala menyerupai dengan yang baharu pada zatnya , sifatnya atau perbuatannya. Sesungguhnya zat Allah Taala bukannya berjirim dan bukan aradh Dan tiada sesekali zatnya berdarah , berdaging , bertulang dan juga bukan jenis leburan , tumbuh-tumbuhan , tiada berpihak ,tiada bertempat dan tiada dalam masa. Dan sesungguhnya sifat Allah Taala itu tiada bersamaan dengan sifat yang baharu karena sifat Allah Taala itu qadim lagi azali dan melengkapi taaluqnya. Sifat Sama ( Maha Mendengar ) bagi Allah Taala bertaaluq ia pada segala maujudat tetapi bagi mendengar pada makhluk hanya pada suara saja. Sesungguhnya di dalam Al-Quraan dan Al-Hadith yang menyebut muka dan tangan Allah SWT. , maka perkataan itu hendaklah kita iktiqadkan thabit ( tetap ) secara yang layak dengan Allah Taala Yang Maha Suci daripada berjisim dan Maha Suci Allah Taala bersifat dengan segala sifat yang baharu. 5. Qiyamuhu Taala Binafsihi : Artinya : Berdiri Allah Taala dengan sendirinya . Tidak berkehendak kepada tempat berdiri ( pada zat ) dan tidak berkehendak kepada yang menjadikannya Maka hakikatnya ibarat daripada menafikan Allah SWT. berkehendak kepada tempat berdiri dan kepada yang menjadikannya. Allah SWT itu terkaya dan tidak berhajat kepada sesuatu sama adapada perbuatannya atau hukumannya. Allah SWT menjadikan tiap-tiap sesuatu dan mengadakan undang-undang semuanya untuk faedah dan maslahah yang kembali kepada sekalian makhluk . Allah SWT menjadikan sesuatu ( segala makhluk ) adalah karena kelebihan dan belas kasihannya bukan berhajat kepada faedah. Allah SWT. Maha Terkaya daripada mengambil apa-apa manafaat di atas kataatan hamba-hambanya dan tidak sesekali

menjadi mudharat kepada Allah Taala atas sebab kemaksiatan dan kemungkaran hambahambanya. Apa yang diperintahkan atau ditegah pada hamba-hambanya adalah perkara yang kembali faedah dan manafaatnya kepada hamba-hambaNya jua. Firman Allah SWT. yang bermaksud : Barangsiapa berbuat amal yang soleh ( baik ) maka pahalanya itu pada dirinya jua dan barangsiapa berbuat jahat maka balasannya (siksaannya ) itu tertanggung ke atas dirinya jua . ( Surah Fussilat : Ayat 46 ). Syeikh Suhaimi r.a.h berkata adalah segala yang maujudat itu dengan nisbah berkehendak kepada tempat dan kepada yang menjadikannya, terbahagi kepada empat bagian : Terkaya daripada tempat berdiri dan daripada yang menjadikannya Yaitu zat Allah SWT.

Berkehendak kepada tempat berdiri dan kepada yang menjadikannya Yaitu segala aradh ( segala sifat yang baharu ). Terkaya daripada zat tempat berdiri tetapi berkehendak kepada yang menjadikannya Yaitu segala jirim. ( Segala zat yang baharu ) . Terkaya daripada yang menjadikannya dan berdiri ia pada zat Yaitu sifat Allah Taala.

6. Wahdaniyyah. Artinya : Esa Allah Taala pada zat, pada sifat & pada perbuatan. Maka hakikatnya ibarat daripada menafikan berbilang pada zat, pada sifat dan pada perbuatan sama ada bilangan yang muttasil (yang berhubung ) atau bilangan yang munfasil ( yang bercerai ). Makna Esa Allah SWT pada zat itu Yaitu menafikan Kam Muttasil pada Zat ( menafikan bilangan yang berhubung dengan zat ) seperti tiada zat Allah Taala tersusun daripada darah , daging , tulang ,urat dan lain-lain. Dan menafikan Kam Munfasil pada zat ( menafikan bilangan yang bercerai pada zat Allah Taala )seperti tiada zat yang lain menyamai zat Allah Taala. Makna Esa Allah SWT pada sifat Yaitu menafikan Kam muttasil pada Sifat ( menafikan bilangan yang berhubung pada sifatnya ) Yaitu tidak sekali-kali bagi Allah Taala pada satu-satu jenis sifatnya dua qudrat dan menafikan Kam Munfasil pada sifat ( menafikan bilangan bilangan yang bercerai pada sifat ) Yaitu tidak ada sifat yang lain menyamai sebagaimana sifat Allah SWT. yang Maha Sempurna. Makna Esa Allah SWT pada perbuatan Yaitu menafikan Kam Muttasil pada perbuatan ( menafikan bilangan yang berceraicerai pada perbuatan ) Yaitu tidak ada perbuatan yang lain menyamai seperti perbuatan Allah bahkan segala apa yang berlaku di dalam alam semuanya perbuatan Allah SWT sama ada perbuatan itu baik rupanya dan hakikatnya seperti iman dan taat atau jahat rupanya tiada pada hakikat-nya seperti kufur dan maksiat sama ada perbuatan dirinya atau perbuatan yang lainnya ,semuanya perbuatan Allah SWT dan tidak sekali-kali hamba mempunyai perbuatan pada hakikatnya hanya pada usaha dan ikhtiar yang tiada memberi bekas.

Maka wajiblah bagi Allah Taala bersifat Wahdaniyyah dan ternafi bagi Kam yang lima itu Yaitu : 1. 2. 3. 4. 5. Kam Muttasil pada zat. Kam Munfasil pada zat. Kam Muttasil pada sifat. Kam Munfasil pada sifat. Kam Munfasil pada perbuatan.

Maka tiada zat yang lain , sifat yang lain dan perbuatan yang lain menyamai dengan zat , sifat dan perbuatan Allah SWT . Dan tertolak segala kepercayaan-kepercayaan yang membawa kepada menyekutukan Allah Taala dan perkara-perkara yang menjejaskan serta merusakkan iman. 7. Al Qudrah : Artinya : Kuasa qudrah Allah SWT. Memberi bekas pada mengadakan meniadakan tiap-tiap sesuatu. Pada hakikatnya ialah satu sifat yang qadim lagi azali yang thabit ( tetap ) berdiri pada zat Allah SWT. yang mengadakan tiaptiap yang ada dan meniadakan tiap-tiap yang tiada bersetuju dengan iradah. Adalah bagi manusia itu usaha dan ikhtiar tidak boleh memberi bekas pada mengadakan atau meniadakan , hanya usaha dan ikhtiar pada jalan menjayakan sesuatu . Kepercayaan dan iktiqad manusia di dalam perkara ini berbagai-bagaiFikiran dan fahaman seterusnya membawa berbagai-bagai kepercayaan dan iktiqad. a. Iktiqad Qadariah : Perkataan qadariah Yaitu nisbah kepada qudrat . Maksudnya orang yang beriktiqad akan segala perbuatan yang dilakukan manusia itu sama ada baik atau jahat semuanya terbit atau berpunca daripada usaha dan ikhtiar manusia itu sendiri dan sedikitpun tiada bersangkut-paut dengan kuasa Allah SWT. b. Iktiqad Jabariah : Perkataan Jabariah itu nisbah kepada Jabar ( Tergagah ) dan maksudnya orang yang beriktiqad manusia dan makhluk bergantung kepada qadak dan qadar Allah semata-mata ( tiada usaha dan ikhtiar atau boleh memilih samasekali ). c. Iktiqad Ahli Sunnah Wal Jamaah : Perkataan Ahli Sunnah Wal Jamaahialah orang yang mengikut perjalanan Nabi dan perjalanan orang-orang Islam Yaitu beriktiqad bahwa hamba itu tidak digagahi semata-mata dan tidak memberi bekas segala perbuatan yang disengajanya, tetapi ada perbuatan yang di sengaja pada

zahir itu yang dikatakan usaha dan ikhtiar yang tiada memberi bekas sebenarnya sengaja hamba itu daripada Allah Ta;ala jua. Maka pada segala makhluk ada usaha dan ikhtiar pada zahir dan tergagah pada batin dan ikhtiar serta usaha hamba adalah tempat pergantungan taklif ( hukum ) ke atasnya dengan suruhan dan tegahan ( ada pahala dan dosa ). 8. Iradah : Artinya : Menghendaki Allah Taala. Maksudnya menentukan segala mumkin ttg adanya atau tiadanya. Sebenarnya adalah sifat yang qadim lagi azali thabit berdiri pada Zat Allah Taala yang menentukan segala perkara yang harus atau setengah yang harus atas mumkin . Maka Allah Taala yang selayaknya menghendaki tiaptiap sesuatu apa yang diperbuatnya. Umat Islam beriktiqad akan segala hal yang telah berlaku dan yang akan berlaku adalah dengan mendapat ketentuan daripada Allah Taala tentang rezeki , umur , baik , jahat , kaya , miskin dan sebagainya serta wajib pula beriktiqad manusia ada mempunyai nasib ( bagian ) di dalam dunia ini sebagaimana firman Allah SWT. yang bermaksud : Janganlah kamu lupakan nasib ( bagian ) kamudi dalam dunia . (Surah Al Qasash : Ayat 77). Kesimpulannya ialah umat Islam mestilah bersungguh-sungguh untuk kemajuan di dunia dan akhirat di mana menjunjung titah perintah Allah Taaladan menjauhi akan segala larangan dan tegahannyadan bermohon dan berserah kepada Allah SWT. 9. Ilmu : Artinya : Mengetahui Allah Taala . Maksudnya nyata dan terang meliputi tiap-tiap sesuatu sama ada yangMaujud (ada) atau yang Maadum ( tiada ). Hakikatnya ialah satu sifat yang tetap ada ( thabit ) qadim lagi azali berdiri pada zat Allah Taala. Allah Taala Maha Mengetahui akan segala sesuatu sama ada perkara. Itu tersembunyi atau rahasia dan juga yang terang dan nyata. Maka ilmu Allah Taala Maha Luas meliputi tiap-tiap sesuatu diAlam yang fana ini. 10. Hayat . Artinya : Hidup Allah Taala. Hakikatnya ialah satu sifat yang tetap qadim lagi azali berdiri pada zat Allah Taala . Segala sifat yang ada berdiri pada zat daripada sifat Idrak ( pendapat ) Yaitu : sifat qudrat, iradat , Ilmu , Sama Bashar dan Kalam. 11. Sama : Artinya : Mendengar Allah Taala. Hakikatnya ialah sifat yang tetap ada yang qadim lagi azali berdiri pada Zat Allah Taala. Yaitu dengan terang dan nyata pada tiap-tiap yang maujud sama ada yang maujud itu qadim seperti ia mendengar kalamnya atau yang ada itu harus sama ada atau telah ada atau yang akan diadakan. Tiada terhijab (terdinding ) seperti dengan sebab jauh , bising , bersuara , tidak bersuara dan sebagainya. Allah Taala Maha Mendengar akan segala yang terang dan yang tersembunyi. Sebagaimana firman Allah Taala yang bermaksud : Dan ingatlah Allah sentiasa Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui . ( Surah An-Nisaa Ayat 148 )

12. Bashar : Artinya : Melihat Allah Taala . Hakikatnya ialah satu sifat yang tetap ada yang qadim lagi azali berdiri pada zat Allah Taala. Allah Taala wajib bersifat Maha Melihat sama ada yang dapat dilihat oleh manusia atau tidak, jauh atau dekat , terang atau gelap , zahir atau tersembunyi dan sebagainya. Firman Allah Taala yang bermaksud : Dan Allah Maha Melihat akan segala yang mereka kerjakan . ( Surah Ali Imran Ayat 163 ) 13 .Kalam : Artinya : Berkata-kata Allah Taala. Hakikatnya ialah satu sifat yang tetap ada , yang qadim lagi azali , berdiri pada zat Allah Taala. Menunjukkan apa yang diketahui oleh ilmu daripada yang wajib, maka ia menunjukkan atas yang wajib sebagaimana firman Allah Taala yang bermaksud : Aku Allah , tiada tuhan melainkan Aku . ( Surah Taha Ayat 14 ) Dan daripada yang mustahil sebagaimana firman Allah Taala yang bermaksud : ..( kata orang Nasrani ) bahwasanya Allah Taala yang ketiga daripada tiga.. (Surah Al-Maidah Ayat 73). Dan daripada yang harus sebagaimana firman Allah Taala yang bermaksud : Padahal Allah yang mencipta kamu dan benda-benda yang kamu perbuat itu. (Surah Ash. Shaffaat Ayat 96). Kalam Allah Taala itu satu sifat jua tiada berbilang. Tetapi ia berbagai-bagai jika dipandang dari perkara yang dikatakan Yaitu : 1. Menunjuk kepada amar ( perintah ) seperti tuntutan mendirikan solat dan lain-lain kefardhuan. 2. 3. Menunjuk kepada nahyu ( tegahan ) seperti tegahan mencuri dan lain-lain larangan. Menunjuk kepada khabar ( berita ) seperti kisah-kisah Firaundan lain-lain.

4. Menunjuk kepada waad ( janji baik ) seperti orang yang taat dan beramal soleh akan dapat balasan syurga dan lain-lain. 5. Menunjuk kepada waud ( janji balasan siksa ) seperti orang yang mendurhaka kepada ibu & bapak akan dibalas dengan azab siksa yang amat berat. 14. Kaunuhu Qadiran : Artinya : Keadaan Allah Taala Yang Berkuasa Mengadakan Dan Mentiadakan. Hakikatnya Yaitu sifat yang berdiri dengan zat Allah Taala, tiada ia maujud dan tiada ia maadum , Yaitu lain daripada sifat Qudrat. 15.Kaunuhu Muridan : Artinya : Keadaan Allah Taala Yang Menghendaki dan menentukan tiap-tiap sesuatu. Hakikatnya Yaitu sifat yang berdiri dengan zat Allah Taala , tiada ia maujud dan tiada ia maadum , Yaitu lain daripada sifat Iradat.

16.Kaunuhu Aliman : Artinya : Keadaan Allah Taala Yang Mengetahui akan Tiap-tiap sesuatu. Hakikatnya Yaitu sifat yang berdiri dengan zat Allah Taala, tiada ia maujud dan tiada ia maadum , Yaitu lain daripada sifat Ilmu. 17.Kaunuhu Hayyun : Artinya : Keadaan Allah Taala Yang Hidup. Hakikatnya Yaitu sifat yang berdiri dengan zat Allah Taala, tiada ia maujud dan tiada ia maadum , Yaitu lain daripada sifat Hayat. 18.Kaunuhu Samian : Artinya : Keadaan Allah Taala Yang Mendengar akan tiap-tiap yang Maujud. Hakikatnya Yaitu sifat yang berdiri dengan zat Allah Taala, tiada ia maujud dan tiada ia maadum, Yaitu lain daripada sifat Sama. 19.Kaunuhu Bashiran : Artinya : Keadaan Allah Taala Yang Melihat akan tiap-tiap yang Maujudat ( Benda yang ada ). Hakikatnya Yaitu sifat yang berdiri dengan zat Allah Taala, tiada ia maujud dan tiada ia maadum , Yaitu lain daripada sifat Bashar. 20.Kaunuhu Mutakalliman : Artinya : Keadaan Allah Taala Yang Berkata-kata. Hakikatnya Yaitu sifat yang berdiri dengan zat Allah Taala, tiada ia maujud dan tiada ia maadum , Yaitu lain daripada sifat Kalam. . . SIFAT MUSTAHIL BAGI ALLAH S.W.T Wajib atas tiap-tiap mukallaf mengetahui sifat-sifat yang mustahil bagi Allah yang menjadi lawan daripada dua puluh sifat yang wajib baginya. Maka dengan sebab itulah di nyatakan di sini sifat-sifat yang mustahil satu-persatu : 1. Adam beerti tiada 2. Huduth beerti baharu 3. Fana beerti binasa 4. Mumathalatuhu Lilhawadith beerti menyerupai makhluk

5. Qiyamuhu Bighayrih beerti berdiri dengan yang lain 6. Taaddud beerti berbilang-bilang 7. Ajz beerti lemah 8. Karahah beerti terpaksa 9. Jahl beerti jahil/bodoh 10. Mawt beerti mati 11. Samam beerti tuli 12. Umy beerti buta 13. Bukm beerti bisu 14. Kaunuhu Ajizan beerti keadaannya yang lemah 15. Kaunuhu Karihan beerti keadaannya yang terpaksa 16. Kaunuhu Jahilan beerti keadaannya yang jahil/bodoh 17. Kaunuhu Mayyitan beerti keadaannya yang mati 18. Kaunuhu Asam beerti keadaannya yang tuli 19. Kaunuhu Ama beerti keadaannya yang buta 20. Kaunuhu Abkam beerti keadaannya yang bisu . . SIFAT HARUS BAGI ALLAH S.W.T Adalah sifat yang harus pada hak Allah Taala hanya satu saja Yaitu Harus bagi Allah mengadakan sesuatu atau tidak mengadakan sesuatu atau di sebut sebagai mumkin (Filu kulli Mumkinin Autarkuhu). Mumkin ialah sesuatu yang harus ada dan tiada. Harus disini artinya boleh-boleh saja. Artinya boleh-boleh saja Allah SWT menciptakan sesuatu, yakni tidak ada paksaan dari sesuatu, karena Allah bersifat Qudrat dan Irodah. Dan boleh-boleh saja bagi Allah SWT meniadakan sesuatu. .

Wallahu alam. Sumber: http://abihaurarosyidi.multiply.com/ Entri ini dituliskan pada September 11, 2008 pada 5:51 pm dan disimpan dalam kitab. Anda bisa mengikuti setiap tanggapan atas artikel ini melalui RSS 2.0 pengumpan. Anda bisa tinggalkan tanggapan, atau lacak tautan dari situsmu sendiri.

8 Tanggapan ke Sifat 20 Allah swt


1.

Muhammad Mubasyir berkata


Oktober 3, 2008 pada 4:45 pm

Assalamualaikum wr wb Dalam dunia pesantren tentu kitab2 aqidah seperti diatas tak asing lagi, namun begitu,jarang juga lho yang mau menelaah lebih dalam tentang (SIAPA DAN BAGAIMANA SIFAT2 ALLOH ITU).padahal hanya dengan Aqidah yang sohih lah kita bisa diterima sebagai MUMIN. Saya sangat setuju artikel ini dan kalau boleh saya juga berkeinginan untuk menuqil untuk situs saya. karena dalam mengimani dan marifat kepada Alloh, kita tidak boleh tersesat menjadi Mutazilah Barohimah, Qodariah, Mujasimah dll. > Silakan .. jangan lupa cantumkan sumbernya. Balas 2.

abdullah_albantani berkata
Desember 18, 2008 pada 4:55 am

Assalamualaikumya akhi ya ukhti kebanyakan dari kita lupa untuk belajar teologi atau ketauhidan yang merupakan pondasi serta padar yang kokoh dalam menjalani kehidupan ini. karena semakin baik aqikah kita maka akan baik pula akhlak kita. tentunya dengan aqidah yang benar dan lurus, namun sangat di sayangkan dalam aplikasinya kita kurang konsisten.oleh karena itu marilah kita belajar mengenal Allah secara mendalam melalui ilmu-ilmu yang berkaitan dengan sifatsifatnya dan nama-namanya yang indah (asmaul husna)perlu digaris bawah kita bukan untuk mengenal zat-zat-Nya.seberapa pun kemampuan kita, tak akan pernah bisa.untuk mengenal zat-zatnya. kita hanya mahluknya yang memiliki keterbatasan. (laisya

kamisluhu syaiun.!!! Waallahu alam bishoab! Balas 3.

Andhika berkata
Maret 13, 2009 pada 9:55 am

Asalamualikum mas, ngopi ya. makasih, ada kritik nih. mbok ditambah dalil Balas 4.

abusulaisy berkata
Maret 31, 2009 pada 9:29 pm

dulu ini memang keyakinan saya, tapi sekarang saya merasa aneh, bagaimana mungkin sifat Allah hanya dibatasi hanya 20 saja ? Bagaimana mungkin kita membatasi sifat mustahil Allah hanya 20 saja ? Setelah saya cari masalah ini ada sebuah sumber bahwa dasar pembagian ini mengikuti gaya pemikiran filsafat yunani yang dizaman itu sedang marak, tauhid macam ini tidak dikenal sebelum imam ashary. Bagaiamana ? > Saya kira sifat 20 adalah hasil telaah terhadap Al Quran dan hadits-hadits baginda Nabi saw tentang ketauhidan. Ini dapat kita ketahui jika membuka kitab-kitab penjabarannya. Memang sebelum imam al asyari belum tertulis secara definitif jelas. Imam al Asyari lah yg pertama kali menganalisis, merenung dan kemudian menuliskannya. Teori ini belum gugur sampai saat ini. Jika anda menemukan kesalahan di dalamnya, atau menemukan sifat ke 21 yang belum terdefinisi di dalam sifat 20 itu, silakan jabarkan. Ini seperti penjabaran tauhid rububiyah n uluhiyah dari syaikh muhammad ibn abdul wahhab. Penjabaran tauhid macam ini pun belum ada di zaman salafus salih. Namun sebagai teori tauhid, ke duanya (dan yg lainnya) terbuka untuk dipelajari. Wallahu alam.

Balas 5.

abusulaisy berkata
April 4, 2009 pada 8:49 pm

masalah tauhid yang berkaitan dengan asma wa shifat, sikap kalalangan wahabi/salafy dalam masalah asma dan shifat Allah sama sekali menolak takwil dengan alasan nash ayat yang Allah wahyukan teramat jelas dan tidak perlu ditakwil macam-macam dengan tetap berpatokan bahwa apa-apa yang Allah sebutkan tentang diriNya (misal; wajhullah, yaddullah, istiwaa dll)didalam al quran tidaklah sama secara zat dan hakikat dengan apa yang dimiliki makhlukNya. Adapun dalam aqidah asyari sebaliknya dimana harus menakwil semua ayat-ayat tersebut agar Allah tidak serupa dengan makhlukNya (punya tangan, turun kelangit dunia, bertempat di Arsy dll). Pendapat antum lebih selamat mana dari 2 pendapat diatas ? yang mentakwil makna zhahir ayat atau yang membiarkannya saja apa adanya dengan keyakinan hakikatnya hanya Allah yang tau ? > Maaf .. kalimat terakhir anda mentakwil makna zhahir ayat atau yang membiarkannya saja apa adanya dengan keyakinan hakikatnya hanya Allah yang tau Saya kira selaras maksudnya. Wallahu alam. Balas 6.

Muhammad Aulia berkata


April 7, 2009 pada 2:15 am

cukup jika kita memahami dg seksama, karena tauhid tak perlu diperluas, ia adalah Iman dan bukan syarah dan dalil. pernah seorang Imam besar yg dikenal dapat mengeluarkan 1000 ayat Alquran yg membuktikan keberadaan Allah, maka ketika ia lewat bersama murid muridnya ada seorang nenek tua yg sedang menyapu jalan, orang orang memerintahkannya minggir, maka ibu itu berkata : engkaukah yg mampu mengeluarkan

dalil keberadaan Allah dg 1000 ayat dari Alquran?, maka Imam itu berkata : Betul, maka ibu itu berkata lagi : apakah keberadaan Allah butuh dalil..?, maka Imam itu tertunduk malu seraya menangis.., ia malu akan dirinya sendiri. sebenarnya keberadaan Allah swt tak butuh dalil, karena Dialah Allah Yang Maha Ada, Dialah yg paling berhak untuk tidak diingkari, Dialah yg paling berhak dipercaya, dalil adalah bagi yg tak dipercaya, dalil adalah untuk yg diingkari, dan Allah Maha Suci dari itu semua. Balas 7.

Muhammad Aulia berkata


April 7, 2009 pada 2:18 am

hanya kalangan wahabi saja yg memperpanjang masalah tauhid, karena jiwa mereka mengingkari, merreka butuh setumpuk dalil aqli dan naqli untuk beriman pada Allah, beda dengan kita dan para sahabat Nabi saw, yg beriman kepada Allah swt tanpa perlu setumpuk dalil Aqli dan Naqli, dan Rasul saw pun tak menumpukkan seratus dalil tentang keberadaan Allah, beliau menyingkat makna makna tauhid, lalu mereka bersyahadat maka sah lah keislamannya. Balas 8.

Endang Priyanti berkata


Agustus 5, 2009 pada 8:42 am

Alhamdulillah, Dengan mengenal akan sifat sifat Allah serta penjelasannya,semoga kita bisa memahaminya dan bertambah ilmu serta keyakinan padanya. amin, endjati@yahoo.com Balas