Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FARMAKOTERAPI I

SISTEM PENCERNAAN

DISPEPSIA

Disusun oleh : KELOMPOK A1 Sartika (G1F009001) Nurul Layyin Hariroh (G1F009002) Ayu Fitryanita (G1F009003) Tri Ayu Apriyani (G1F009004) Dien Puspita Cammelianti (G1F009038) Ning Uswiyatun (G1F009040) Tri Hajar Handayani (G1F009041) Rikha Kurniawaty (G1F009043) Asisten : Ahmad Fiki Firdaus

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN JURUSAN FARMASI PURWOKERTO 2011

A. JUDUL Sistem Pencernaan : Dispepsia B. DATA BASE PASIEN Nama Pasien : Sdr. R Umur : 16 tahun Alamat : Bantar Kawung Riwayat penyakit saat MRS : Nyeri perut, mual (+), muntah (+), ma/mi (<), sesak napas (+), BAB (+), BAK (+), lemas. Diagnosa : Dispepsia C. DATA KLINIK DAN LABORATORIUM 1. Data Klinik Hari 2 Parameter Hari 1 120/80 130/80 Tekanan darah
Nadi Respirasi Suhu 78 x 30 x 36 80 x 32 x 36,2

Hari 3 130/80 76 x 20 x 35,8

Normal 110/90 60-100 x < 20 x 36-37

2.

Data Laboratorium
Laboratorium Hemoglobin Leukosit Hematokrit Eritrosit Trombosit Basofil Eosinofil SGOT SGPT Kreatin darah 12/11/11 15,9 8370 45 5,8 337.000 0,4 4,5 13 11 0,70 Normal 14,0 - 18,0 4800 - 10800 45 - 52 4,7 - 6,1 150.000 - 450.000 0,0 - 1,0 1,0 - 4,0 0-9 10 - 17 0,60 - 1,30

3.

Terapi Parameter IV FD RL 20 tpm Ranitidin 2x 1 ampul Domperidone 3x1 Antasida 3 x 1 cth Omeprazole 1x1 Hari 1
Hari 2 Hari 3

D. PATOFISIOLOGI PENYAKIT Dispepsia menggambarkan keluhan atau kelumpuhan gejala (sindrom) yang terdiri dari nyeri atau rasa tidak nyaman di epigastrium, mual, muntah, kembung, cepat kenyang, rasa perut penuh, sendawa, regurgitasi dan rasa panas yang menjalar di dada. Dispepsia fungsional ini dibagi menjadi tiga kelompok berikut. 1. Dispepsia tipe seperti ulkus, dimana yang lebih dominan adalah nyeri epigastrik. 2. Dispepsia tipe dismotilitas, dimana yang lebih dominan adalah keluhan kembung, mual, muntah, rasa penuh, cepat kenyang. 3. Dispepsia tipe non spesifik, dimana tidak ada kluhan dominan. Dalam kasus kali ini dispepsia yang diderita oleh pasien masuk kedalam kelompok dispepsia tipe dismotilitas. Dismotilitas gastrointestinal, terjadi karena perlambatan pengosongan lambung, adanya hipomotilitas atrium (kasus sampai 50%), gangguan akomodasi lambung waktu makan, distitmia gaster dan hipersensitiviatas viseral (kasus 1/2 sampai 1/3) atau (kasus sama mencapai 25-80% dari penderita dispepsia). Pada kasus dispepsia fungsional yang mengalami perlambatan pengosongan lambung berkorelasi dengan keluhan mual, muntah dan rasa penuh di hulu hati, sedangkan kasus hipersensitivitas terhadap distensi lambung biasanya akan mengeluh nyeri, sendawa dan adanya penurunan berat badan. Rasa cepat kenyang ditemukan pada yang mengalami gangguan akomodasi lambung waktu makan. Kasus dengan dispepsia fungsional, umumnya mempunyai tingkat sekresi asam lambung, baik sekresi basal maupun dengan stimulasi pentagastrian, yang rata-rata normal. Diduga adanya peningkatan sensitivitas mukosa lambung terhadap asam yang menimbulkan rasa tidak enak diperut. Selain sekresi asam, disfungsi otonom (disfungsi persarafan vagal) di lambung diduga berperan dalam hipersensitifitas GI pada kasus dispepsia fungsional. Adanya neuropati vagal juga berperan dalam kegagalan relaksasi bagian proksimal lambung waktu menerima makanan sehingga menimbulkan gangguan akomodasi lambung dan rasa cepat kenyang. E. KOMPOSISI TERAPI Resep yang disarankan : R/ IV FD RL 20 tpm R/ Ranitidin 2x1 ampul R/ Domperidone 3x1 R/ Antasida 3x1 cth R/ Omeprazol 1x1 Alasan ondasentron diganti dengan domperidone karena ondansetron merupakan obat yang biasa digunakan untuk mencegah mual dan muntah

yang mungkin disebabkan oleh operasi atau dengan obat untuk mengobati kanker (kemoterapi atau radiasi). Ondasentron memiliki efek samping yang mempengaruhi kerja jantung menjadi lambat, kesulitan bernafas dan sembelit. Sedangkan domperidone berfungsi sebagai antiemetik yang dapat meningkatkan motilitas usus. F. PEMBAHASAN TERAPI YANG DIBERIKAN 1. Infus Dekstrosa 5% Infus dekstrosa diberikan kepada pasien karena berdasarkan anmnesa diketahui bahwa pasien mengeluh lemas dan banyak muntah sehingga perlu ditambah asupan nutrisi untuk menambah energi. Infus ini berfungsi sebagai pemasok kalori karena mengandung dekstrosa monohidrat yang nantinya akan dibakar dalam tubuh dan menjadi energi tambahan untuk pasien. Selain untuk rehidrasi dan penambah energi, infus juga dapat digunakan sebagai pelarut atau jalan masuknya sejumlah golongan obat tanpa menimbulkan efek samping yang sangat berbahaya, seperti antikonvulsan, antibiotik, kortikosteroid, kortikotropin B kompleks, dll. DT : 15 tpm = 15 x 60 x 24 = 21600 tetes/hari 1ml = 15 tetes = 21.600 tetes = 1440 ml/hari Pasien berumur 16 th dan diberikan infus D5 NS sebanyak 15tpm= 1440 ml/hari dan tidak overdosis Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, infus dekstrosa diberikan secara intravena 15 tetes per menit dengan volume maksimal 1440 ml. Infus dekstrosa digunakan setiap hari sampai kondisi pasien membaik dan tidak memerlukan nutrisi dari luar lagi. D5 NS dapat berinteraksi dengan makanan yang mengandung glukosa dengan meningkatkan fungsi dari makanan tersebut dalam menghasilkan energi.Efek samping dari infus ini adalah demam, iritasi atau infeksi pada tempat injeksi, trombosis atau flebitis yang meluas dari tempat injeksi dan ekstravasasi, hiperglikemia pada bayi baru lahir (Dipiro, et al., 2008). 2. Omeprazole Omeprazole merupakan obat golongan gastrointestinal yang memiliki indikasi untuk pengobatan ulser duodenum, gastro esophageal reflux disease (GERD), esofagitis erosif, hipersekresi asam lambung, dan membunuh mikroba H. pylori. Mekanisme kerja dari obat ini adalah dengan menekan sekresi asam lambung (Tatro, 2003). Omeprazole digunakan dalam terapi ini karena pasien mengalami dispepsia akibat dismotilitas lambung sehingga mengalami nyeri perut, mual, muntah, makan dan minum kurang, serta lemas. Berdasarkan data laboratorium eosinofil juga mengalami peningkatan. Dismotilitas

lambung akan menyebabkan pencernaan makanan terganggu sedangkan asam lambung terus disekresi. Peningkatan asam lambung di dalam lambung dapat menimbulkan radang sehingga perut terasa nyeri dan dismotilitas lambung menyebabkan waktu pengosongan lambung menjadi lebih lama. Penuhnya lambung menyebabkan pasien merasa mual, muntah, dan tidak lapar/cepat kenyang. Akibatnya nafsu makan berkurang sehingga pasien merasa lemas karena kurangnya asupan nutrisi ke dalam tubuh. Selain itu, radang juga menyebabkan peningkatan eosinofil. Eosinofil adalah sel darah putih yang berperan dalam respon inflamasi dengan mempersempit otot polos bronkus, meningkatkan sekresi mukus, dan menarik sel-sel inflamasi lainnya (Waldron, 2007). Hal ini menyebabkan pasien mengalami sesak sehingga RR-nya akan melebihi batas normal. Pemberian omeprazole akan menekan sekresi asam lambung sehingga menghilangkan manifestasi-manifestasi yang diakibatkan oleh peningkatan asam lambung tersebut. Omeprazole diminum 1 x 60 mg/hari sebelum makan malam selama 4-8 minggu. Omeprazole merupakan obat utama dalam pengobatan dispepsia ini karena memiliki onset cepat (1 jam) dan durasi yang lama (72 jam). Namun, pada hari pertama dan kedua efeknya baru mencapai 25-30% dan akan mencapai 85-90% setelah 3-4 hari. Steady state akan diperoleh setelah 4 hari. Oleh karena itu, pemberian omeprazole dikombinasikan dengan ranitidin untuk membantu menekan sekresi asam lambung selama omeprazole belum bekerja secara maksimal (Lacy, et al., 2010). Omeprazole berinteraksi dengan obat golongan benzodiazepin, cilostazol, chlarithomycin, phenytoin, warfarin, dan obat yang BA-nya tergantung pH lambung (ex : domperidone). Pada terapi ini terjadi interaksi penurunan BA domperidone yang dapat beraksi pada kondisi asam. Namun, keduanya tetap digunakan karena dibutuhkan untuk mengobati dispepsia dan mual muntah yang dialami pasien (Tatro, 2003). Efek samping dari omeprazole adalah sebagai berikut. a. Kardiovaskuler : angina, takikardi, bradikardi, palpitasi b. CNS : sakit kepala, pusing c. Dermatologi : ruam d. GI : konstipasi, sakit perut, mual, muntah e. Respiratori : batuk, ISPA f. Lainnya : astenia, sakit punggung (Tatro, 2003) Berdasarkan efek samping tersebut yang perlu mendapatkan perhatian untuk dimonitoring adalah pada jantung dan GI (konstipasi, mual, muntah). Mual dan muntah dapat diatasi dengan obat antiemetik, yaitu domperidone. Namun, untuk konstipasi perlu diperhatikan terjadi pada pasien atau tidak karena apabila terjadi dikhawatirkan mual dan

muntah akan tetap terjadi mengingat makanan akan tetap terakumulasi dalam tubuh dan menyebabkan perut terasa penuh/cepat kenyang. 3. Ranitidin Ranitidin adalah obat golongan antagonis H2 histamin yang memiliki indikasi untuk pengobatan dan pemeliharaan ulser duodenum, pengaturan penyakit refluks gastroesofagus, termasuk penyakit erosif atau ulseratif, pengobatan jangka pendek, ulser gastrik jinak, dan kerusakan gastrik karena NSAID. Penggunaan sebagian dari multidrug regimen untuk membasmi H. pylori pada pengobatan ulser peptik, menjaga peningkatan asam selama anastesi, mencegah kerusakan mukosa lambung apabila digabung dengan NSAID jangka panjang, mengontrol pendarahan GI bagian atas akut, dan menjaga ulser stress. Mekanisme kerja dari ranitidin ini adalah memblok histamin secara reversibel dan kompetitif pada reseptor H2, terutama di sel parietal lambung, dan menyebabkan penghambatan sekresi asam lambung (Tatro, 2003). Ranitidin digunakan dalam terapi ini karena pasien mengalami dispepsia akibat dismotilitas lambung sehingga mengalami nyeri perut, mual, muntah, makan dan minum kurang, serta lemas. Berdasarkan data laboratorium eosinofil juga mengalami peningkatan. Dismotilitas lambung akan menyebabkan pencernaan makanan terganggu sedangkan asam lambung terus disekresi. Peningkatan asam lambung di dalam lambung dapat menimbulkan radang sehingga perut terasa nyeri dan dismotilitas lambung menyebabkan waktu pengosongan lambung menjadi lebih lama. Penuhnya lambung menyebabkan pasien merasa mual, muntah, dan tidak lapar/cepat kenyang. Akibatnya nafsu makan berkurang sehingga pasien merasa lemas karena kurangnya asupan nutrisi ke dalam tubuh. Selain itu, radang juga menyebabkan peningkatan eosinofil. Eosinofil adalah sel darah putih yang berperan dalam respon inflamasi dengan mempersempit otot polos bronkus, meningkatkan sekresi mukus, dan menarik sel-sel inflamasi lainnya (Waldron, 2007). Hal ini menyebabkan pasien mengalami sesak sehingga RR-nya akan melebihi batas normal. Pemberian ranitidin akan menekan sekresi asam lambung sehingga menghilangkan manifestasi-manifestasi yang diakibatkan oleh peningkatan asam lambung tersebut. Ranitidin diminum 2 x 150 mg/2 ml ampul/hari secara iv pada pagi dan malam hari selama 4-8 minggu untuk pemeliharaan. Ranitidin digunakan sebagai obat penunjang untuk mencegah sekresi asam lambung selama omeprazole yang merupakan obat utama dalam terapi ini belum mencapai efek maksimal. Hal ini karena ranitidin memiliki onset yang lebih cepat namun durasinya pun lebih cepat (Lacy, et al., 2010).

Ranitidin dapat berinteraksi dengan diazepam, etanol, glipizide, ketoconazole, lidocaine, dan warfarin. Pada terapi ini dapat terjadi interaksi antara ranitidin dengan domperidone yang menyebabkan penurunan BA domperidone yang dapat beraksi pada kondisi asam. Namun, keduanya tetap digunakan karena dibutuhkan untuk mengobati dispepsia dan mual muntah yang dialami pasien. Selain itu, ranitidin tidak digunakan secara per oral sehingga dapat mengurangi interaksi yang terjadi diantara keduanya (Tatro, 2003). Efek samping dari ranitidin diantaranya sebagai berikut. a. CV : aritmia kardia, bradikardi b. CNS : sakit kepala, mengantuk, kelelahan, pusing, halusinasi, depresi, insomnia c. Dermatologi : alopesia, ruam, eritema multiforme d. GI : mual, muntah, ketidaknyamanan abdomen, diare, konstipasi, pankreasitis e. Hematologi : agranulositosis, hemolitik autoimun atau anemia plastik, trombositopenia, granusitopenia f. Hepar : kolestatik atau hepatoseluler g. Lainnya : reaksi hipersensitivitas (Tatro, 2003). 4. Antasida Antasida adalah suatu garam basa anorganik lemah yang bekerja menetralkan asam lambung yang sudah dihasilkan. Jadi antasida baru akan efektif bila pada saat asam lambung sudah keluar. Jenis antasida yang sering digunakan adalah garam aluminium hidroksida dan magnesium hidroksida, namun ada juga berupa kalsium atau kombinasi beberapa jenis garam. Asam lambung bereaksi dengan antasida misal magnesium hidroksida, akan menghasilkan magnesium klorida yang larut dan karbondioksida. CO2 dapat menyebabkan kembung dan eruktasi/ bersendawa. Obat ini lebih banyak tidak diserap, hanya sekitar 30 % magnesium diserap oleh usus. Yang tidak diabsorpsi ini akan dieksresi bersama feses. Keunggulan obat ini memiliki onset kerja yang lebih pendek (FKUI, 2007). Dosis antasida dalam bentuk suspensi (Larutan), untuk dewasa 12 sendok takar (5 ml) sebanyak 3-4 kali sehari (setiap 6-8 jam) dan sebelum tidur (AHFS Drug Information, 2005). Pasien berumur 16 tahun dan dapat dikategorikan sudah dewasa. Oleh sebab itu tidak ada pengaturan dan perubahan dosis. Semua sesuai dengan literatur. Riwayat pasien yang mengalami nyeri pada perut, mual, dan muntah dapat disebabkan oleh adanya kenaikan asam lambung. Selain itu, kurangnya asupan makanan dari luar, sekresi asam lambung pun akan

semakin meningkat. Antasida berfungsi untuk menetralkan asam lambung tersebut, sehingga tidak akan mengiritasi lambung. Antasida akan berinteraksi dengan banyak obat maupun apapun, karena akan membentuk senyawa yang komplek, dan obat lain pun absorpsinya akan berkurang atau bahkan tidak akan di absorpsi. Sehingga dihindarkan penggunaan bersama dengan obat lain dan pemberian dipisahkan dengan selang waktu 2 jam antara antasida dengan obat yang lain. Antasida mempunyai efek Samping pada gastroinstestinal yaitu konstipasi, kram lambung, fecal impaction, mual, muntah, perubahan warna feses (bintik-bintk putih). 5. Domperidone Domperidone merupakan antagonis dopamin yang mempunyai kerja anti emetik. Efek antiemetik dapat disebabkan oleh kombinasi efek periferal (gastroprokinetik) dengan antagonis terhadap reseptor dopamin di kemoreseptor trigger zone yang terletak diluar saluran darah otak di area postrema. Pemberian oral domperidone menambah lamanya kontraksi antral dan duodenum, meningkatkan pengosongan lambung dalam bentuk cairan dan setengah padat pada orang sehat, serta bentuk padat pada penderita yang pengosongan lambungnya terhambat, dan menambah tekanan pada sfingter esofagus bagian bawah pada orang sehat. Dosis untuk Dispepsia fungsional untuk dewasa yaitu 10 mg (1 tablet) 3 kali sehari, 15-30 menit sebelum makan dan jika perlu sebelum tidur malam. Sedangkan untuk Mual dan muntah (termasuk yang disebabkan oleh levodopa dan bromokriptin). Dewasa: 10 20 mg (1 2 tablet) 3 4 kali sehari, 15 30 menit sebelum makan dan sebelum tidur malam. Domperidon digunakan 15 30 menit sebelum makan dan sebelum tidur malam dengan pemberian interval waktu 4 8 jam dan penggunaan domperidon jangan melebihi 12 minggu. Umur pasien yang 16 tahun dapat dikatakan sudah dewasa sehingga pemberian domperidon dengan dosis 10 mg untuk pemakaian 3 kali sehari aman diberikan dan tidak over dosis. Pasien mengalami gejala mual dan muntah sehingga asupan makanan dan minuman yang masuk kedalam tubuh menjadi berkurang sehingga pasien mengalami lemas. Domperidon bekerja menekan pada pusat mual dan muntah, sehingga domperidon digunakan sebagai antimuntah yang efektif. Interaksi domperidon dengan obat lain diantaranya domperidon mengurangi efek hipoprolaktinemia dari bromokriptin, pemberian obat anti kolinergik muskarinik dan analgetik opioid secara bersamaan dapat mengantagonisir efek domperidon, pemberiaan antasida secara bersamaan dapat menurunkan bioavailabilitas domperidon, efek

bioavailabilitas dapat bertambah dari 13 % menjadi 23 % bila diminum 1,5 jam setelah makan. Domperidon yang mempunyai brandname domedon dapat digunakan untuk pengobatan gejala dispepsia fungsional, untuk mual dan muntah akut, untuk mual dan muntah yang disebabkan oleh pemberian levodopa dan bromokriptin lebih dari 12 minggu. Efek samping domperidon seperti mulut kering, sakit kepala, diare, ruam kulit, rasa haus, pusing, cemas, gatal, gugup, memerah, sulit tidur, kejang perut, hot flashes dan kram kaki, Peningkatan prolaktin serum sehingga menyebabkan galaktorrhoea dan ginekomastia, pemberian intravena domperidone dapat menyebabkan aritmia jantung, serangan jantung dan kematian mendadak (Dione). G. MONITORING 1. Monitoring a. Penggunaan infus di kontrol sehingga tidak menimbulkan udem pada daerah infus. b. Pemeriksaan laboratorium dan klinik secara berkala. c. Melakukan evaluasi efek farmakologis obat yang telah diberikan kepada pasien. d. Pasien perlu dipantau apakah gejala berkurang selama pengobatan diihat dari tanda-tanda seperti mual, muntah. e. Monitoring efek samping dari masing-masing obat yang diberikan. f. Mengidentifikasi problem obat yang timbul maupun yang berpotensi untuk timbul (Anonim, 2010). 2. Konseling, Informasi dan Edukasi a. Menghindari makanan yang dapat meningkatkan asam lambung. b. Mengatur pola makan. c. Perbaikan kebiasaan sehari-hari, pasien harus mengerti bahwa gejala dispepsia bisa kambuh kembali tetapi dapat dicegah melalui perubahan gaya hidup dan pemilihan jenis makanan. d. Menghindari faktor resiko seperti alkohol, makanan pedas, obatobatan yang berlebihan, nikotin rokok dan stress. e. Memberikan informasi dosis pemberian dan pemeliharaan f. Memberikan informasi tentang khasiat, cara pemberian, waktu pemberian dan efek samping obat. g. Memberikan informasi tentang penyakit dari gejala, untuk meningkatkan kepedulian pasien untuk sembuh. h. Edukasi terhadap anggota keluarga dalam melakukan pengawasan langsung Pengawas Minum Obat (PMO) dan mempertahankan kesehatan, kebersihan dan kualitas hidup pasien.

i. j.

Edukasi tentang faktor-faktor pencetus, agar keluarga pasien menghindarkannya dari pasien. Edukasi tentang pentingnya terapi lanjutan untuk mencegah dispepsia (Anonim, 2007).

3.

Follow Up Data klinik sebaiknya disertakan hasil dari pemeriksaan endoskopi agar dapat mengetahui keadaan lambung pasien sebenarnya dan seberapa parah kerusakan lambung pasien.

H. DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2007. Pharmaceutical Care untuk Penyakit Asma. Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik Depkes RI Jakarta. Anonim. 2010. Cara Menghitung Tetesan Infus. http://fkunhas.com/caramenghitung-tetesan-infus-20100701234.html. Diakses pada tanggal 29 November 2011. Anonim. 2010. MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi Edisi 9. PT Buana Ilmu Populer : Jakarta. Anonim.2010.Domperidone.http://www.hexpharmjaya.com/page/domperidon e.aspx. Diakses pada tanggal 29 November 2011. Anonim.2010.Farmasiku.http://www.farmasiku.com/index.php?target=produ cts&product_id=30052. Diakses pada tanggal 29 November 2011. Dipiro JT, Talbert RL, Yee GC, Matzke GR, Wells BG, Posey LM. 2008. Pharmacotherapy : A Pathophysiologic Approach 7th Edition. The McGraw-Hill Companies, Inc. : United States. Gunawan SG. 2009. Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Departemen Farmakologi dan Terapetik FKUI : Jakarta. Lacy, C. F., Amstrong, L. L., Goldman, N. P., Lanco, L. L. 2009. Drug Information Handbook 18th Edition. Lexi-Comp, Inc. : USA. McCab BJ, Frankel EH, Wolfe, JJ. 2003. Handbook of Food-Drug Interactions. CRC Press LCC : Florida. Soeparman, SW. 1991. Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Balai Penerbit FKUI : Jakarta. Tatro, DS. 2003. A to Z Drug Facts. Facts and Comparisons : San Fransisco. Waldron J. 2007. Asthma Care in The Community. John Wiley & Sons, Ltd : England.