Anda di halaman 1dari 4

Nama / Inisial Umur Form uraian

: Tn. BH : 26 tahun

No RM Jenis kelamin

: 433937 :L

Diagnosis/ kasus : Hoarseness et causa Laringitis Kronis 1. Resume kasus yang diambil (yang menceritakan kondisi lengkap pasien/ kasus yang diambil ). Pasien datang ke poli THT dengan keluhan suara parau yang telah dirasakan sekitar 1 bulan yang lalu. Keluhan tersebut terjadi secara tiba-tiba dan suara berangsur-angsur menghilang. Keluhan tersebut membuat pasien sulit berbicara dan dirasakan sangat mengganggu aktivitas pasien. Sebelum keluhan tersebut muncul, pasien mengalami batuk berdahak selama 2 minggu. Berdasarkan keterangan dari pasien, dahak tersebut berwarna hijau, kental, dan dapat dikeluarkan karena dahak dirasakan terkumpul di tenggorokan bagian atas. Beberapa waktu sebelum suara pasien menghilang, pasien merasa dahak terkumpul di tenggorokan bagian bawah sehingga dahak menjadi sulit dikeluarkan dan pasien merasakan dahak tersebut berbeda dari sebelumnya dan membuat rasa yang tidak nyaman pada tenggorokan pasien. Keluhan demam, pilek, nyeri telan, sulit menelan, rasa kering dan pahit di tenggorokan, nyeri perut dan dada terasa terbakar, mulut berbau, nyeri saat membuka mulut, benjolan di leher, penurunan berat badan, dan sulit bernapas disangkal oleh pasien. Sebelumnya pasien tidak mengeluh nyeri tenggorok, namun saat ini pasien merasa nyeri tenggorok jika memaksakan diri untuk mengeluarkan suara yang keras. Pasien maupun keluarga pasien belum pernah mengalami keluhan serupa. Pasien tidak memiliki riwayat hipertensi maupun diabetes. Pasien tidak memiliki riwayat alergi dan asma. Pasien tidak mengonsumsi obat-obatan tertentu dalam jangka waktu yang lama. Pasien tidak merokok namun gemar mengonsumsi kopi dan gorengan setiap hari. Pada saat pasien sakit, pasien tetap bekerja sebagai staf keamanan di sebuah bank yang menuntutnya untuk tetap berkomunikasi dengan baik kepada para nasabah. Pasien merupakan peserta JAMKESMAS yang dirujuk oleh dokter umum di Puskesmas ke dokter spesialis THT. Sebelum berobat ke dokter, pasien hanya minum obat batuk yang dibeli di warung, namun keluhan tidak kunjung membaik. Pasien telah memeriksakan ke dokter THT sebanyak 2 kali, namun keluhan pasien tidak kunjung membaik yaitu suara pasien bertambah parau. Dokter THT akhirnya menyarankan pasien tersebut untuk dirawat inap di rumah sakit pada tanggal 28 Mei 2013. Namun, pasien tidak bersedia karena pekerjaannya yang tidak dapat ditinggalkan. Pada tanggal 8 Mei 2013 pasien datang kembali ke poli THT dengan keluhan suara parau yang belum juga membaik, sehingga pada akhirnya hari itu juga pasien memutuskan untuk dirawat inap di rumah sakit, meskipun kemungkinan berdampak buruk pada nasib pekerjaannya karena atasan pasien tidak memberi izin cuti sakit. Dari hasil pemeriksaan fisik diperoleh: Keadaan umum: baik, gizi baik, dam kesadaran kompos mentis. Tanda vital : Tekanan darah 120/70 mmHg, suhu 36,4C, napas 21x/menit, nadi 86x/menit Status lokalis : Tonsil T1/T0, faring hiperemis (+), pembesaran kelenjar limfe (-) Page 1

2. Latar belakang/alasan ketertarikan pemilihan kasus Hoarseness (suara parau) adalah suatu keadaan perubahan kualitas suara dimana terdapat kesulitan dalam menghasilkan suara ketika mencoba berbicara. Suara parau bukan merupakan penyakit, melainkan gejala dari suatu penyakit, namun jika prosesnya berlangsung lama maka dapat menjadi tanda awal dari penyakit serius di daerah tenggorokan. Banyak faktor yang dapat menyebabkan suara parau, antara lain GERD, kebiasaan merokok, infeksi saluran pernapasan, tumor, trauma, benda asing, vocal abuse, penyakit sistemik, dan sebagainya. Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan pada pasien, maka dalam kasus ini hoarseness kemungkinan disebabkan oleh laringitis kronis yang diawali oleh gejala batuk produktif yang progresif pada pasien. Laringitis kronis adalah proses inflamasi pada mukosa pita suara dan laring yang terjadi dalam jangka waktu lama. Keluhan suara parau ini membuat pasien kesulitan berbicara dan mengganggu aktivitas pasien, termasuk pekerjaan pasien. Jika penyakit ini tidak segera ditangani dengan baik, maka dapat memicu terbentuknya jaringan parut yang dapat menyebabkan hilangnya suara dan kesulitan bernapas. Pasien berasal dari keluarga yang kurang mampu sehingga menggunakan JAMKESMAS untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. JAMKESMAS memberikan kemudahan kepada keluarga yang kurang mampu, terutama dalam hal pembiayaan sehingga harapannya masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Meskipun biaya kesehatan tersebut gratis, pasien menolak untuk dirawat inap dirumah sakit, hal ini disebabkan oleh pasien dihadapkan oleh 2 pilihan yang membingungkan bagi dirinya, yaitu dipecat dari pekerjaannya karena tidak masuk kerja selama dirawat inap di rumah sakit atau tidak kunjung sembuh dari penyakitnya karena tidak mendapatkan penanganan yang adekuat. Pasien menceritakan bahwa saat ini pasien bekerja sebagai staf keamanan di sebuah bank swasta. Pasien belum menjadi karyawan tetap di instansi tersebut dan baru bekerja sekitar 2 bulan sehingga pasien belum mendapatkan jaminan apapun dari instansi, termasuk JAMSOSTEK. Pasien tidak diizinkan oleh atasan untuk cuti karena tidak ada staf pengganti dan karena pasien sedang mengikuti training staf, sehingga atasan pasien tersebut mengancam akan memecat pasien jika bersikeras untuk dirawat inap meskipun atasannya mengetahui kondisi pasien yang sedang sakit. Berdasarkan pemaparan tersebut di atas, saya tertarik untuk menjadikan kasus ini sebagai tugas refleksi kasus karena dalam kasus ini menggambarkan masalah yang dilematis, yaitu memilih kesehatan atau pekerjaan, hal ini berkaitan erat dengan pemahaman mengenai prinsip bioetika yang akan membantu dokter dalam mengambil keputusan yang terbaik untuk pasien. 3. Refleksi dari aspek etika moral, medikolegal, psikologis. beserta penjelasan evidence / referensi yang sesuai * *pilihan minimal satu Dari segi etika dan moral, atasan pasien ini seharusnya mampu bersikap bijaksana memberikan izin kepada pasien untuk dirawat inap di rumah sakit karena pasien mempunyai hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik untuk kesembuhan penyakit pasien. Atasan pasien tersebut sebenarnya Page 2

bisa memberikan solusi yang lebih manusiawi, misalnya jika dirawat lebih dari 3 hari, maka dengan sangat terpaksa pasien harus dipecat, namun dalam kasus ini atasan pasien sama sekali tidak memberikan kesempatan pada pasien. Hal ini membuat pasien galau dan pada akhirnya saat itu pasien tidak jadi dirawat inap yang pada akhirnya berdampak buruk pada pasien yaitu keluhan belum membaik. Pada pasal 153 ayat 1 huruf a UU No.13/2003 menyatakan bahwa perusahaan dilarang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) dengan alasan pekerja berhalangan masuk kerja karena sakit menurut keterangan dokter selama waktu tidak melampaui 12 bulan secara terus-menerus. Jika seorang pekerja di-PHK karena sakitnya, maka pemutusan hubungan kerjanya batal demi hukum dan pengusaha wajib mempekerjakan kembali pekerja yang bersangkutan. Dalam peraturan tersebut telah jelas bahwa atasan pasien tidak boleh memecat pasien seenaknya. Pasien berasal dari keluarga yang kurang mampu, seharusnya hal ini dapat menjadi pertimbangan. Meskipun ada peraturan seperti ini, pasien tidak bisa melawan kekuasaan karena pasien hanyalah orang kecil yang selalu dikorbankan. Di dalam menjalankan hak dan kewajibannya, baik pengusaha dan pekerja terikat pada ketentuan-ketentuan peraturan perundang-undangan maupun peraturan lainnya. Dengan pengertian, baik pengusaha maupun pekerja tidak boleh melakukan tindakan sewenang-wenang dalam menjalankan hak dan kewajibannya tersebut. Pekerja berhak diperlakukan sama, adil dan layak serta tanpa ada diskriminasi dari pengusaha, sebagaimana diatur dan diamanatkan oleh ketentuan Pasal 6 UUK, yang menyebutkan: Setiap pekerja/buruh berhak memperoleh perlakuan yang sama tanpa diskriminasi dari pengusaha. Dalam kasus ini terjadi diskriminasi terhadap pasien hanya karena pasien merupakan karyawan baru, padahal karyawan lama dapat memperoleh izin cuti tersebut. Kesehatan merupakan kebutuhan dasar setiap manusia dan merupakan hak asasi manusia, seharusnya atasan pasien mempertimbangkan hal tersebut. Sejak awal atasan pasien tidak menunjukkan itikad baik pada pasien karena jika atasan pasien tidak percaya pasien sakit, maka atasan tersebut dapat meminta surat keterangan dokter, namun dari awal atasan pasien tersebut sudah menolak memberikan izin dengan alasan apapun, meskipun dibuktikan dengan surat keterangan sakit dari dokter. Dari segi medikolegal, dokter dituntut untuk memahami prinsip-prinsip bioetika yaitu beneficence, non maleficence, justice, dan autonomy, karena hal ini dapat membantu dokter dalam mengambil keputusan. Pada kasus ini dokter sudah menyarankan pasien untuk dirawat inap agar pasien mendapatkan perawatan yang intensif dan adekuat yang menunjang kesembuhan pasien, namun pasien menolak dengan alasan tersebut di atas. Dalam menanggapi hal ini sikap kita sebagai seorang dokter adalah memberikan kesempatan pada pasien untuk menentukan nasibnya sendiri (autonomy), namun dokter tetap berusaha memberikan pelayanan kesehatan yang seoptimal mungkin pada pasien (beneficence), misalnya jika pasien menolak, maka dokter tetap memberikan obat untuk rawat jalan dan senantiasa memantau perkembangan penyakit pasien. Namun, jika penyakit pasien dirasa semakin bertambah parah, maka dokter harus berusaha untuk memberi edukasi kepada pasien agar pasien bersedia dirawat di rumah sakit (non-maleficence), karena kesehatan juga penting demi kelancaran pekerjaan pasien, jika pasien tetap bekerja dalam keadaan sakit sudah tentu hasilnya tidak maksimal. Dari segi psikologis, penyakit merupakan sumber stresor pada pasien, sedangkan pada pasien ini Page 3

memiliki 2 stresor sekaligus, yaitu penyakit dan kekhawatiran kehilangan pekerjaan. Saat seseorang mengalami stres maka tubuh akan memberikan reaksi, salah satunya dengan melepaskan hormon kortisol. Peningkatan kadar kortisol merupakan indikator bagi seseorang yang mengalami stres kronik yang dapat menyebabkan penekanan sistem imun tubuh. Jika pasien tidak mampu mengendalikan stresornya, maka dikhawatirkan penyakit pasien akan sembuh lebih lama karena imunitas yang terganggu, oleh karena itu dukungan dari keluarga dan orang-orang terdekat pasien sangat diperlukan. 4. Refleksi ke-Islaman beserta penjelasan evidence / referensi yang sesuai Refleksi keislaman dari kasus tersebut di atas adalah penyakit yang dialami pasien merupakan ujian yang diberikan oleh Allah. Saat Allah menakdirkan kita untuk sakit pasti ada alasan tertentu yang menyebabkan itu semua. Tidak mungkin Allah melakukan sesuatu tanpa hikmah di balik peristiwa itu. Oleh karena itu, pasien tidak boleh mengeluh apalagi berprasangka buruk kepada Allah. Dalam pandangan Islam, penyakit merupakan cobaan yang diberikan Allah SWT kepada hambaNya untuk menguji keimanannya. Ketika seseorang sakit disana terkandung pahala, ampunan dan akan mengingatkan orang sakit kepada Allah SWT. Aisyah pernah meriwayatkan, bahwa Rasulullah SAW bersabda : 'Tidak ada musibah yang menimpa diri seorang muslim, kecuali Allah mengampuni dosadosanya, sampai-sampai sakitnya karena tertusuk duri sekalipun" . Islam merupakan agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, untuk mengatur kemakmuran di bumi guna menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Salah satu penunjang kebahagian tersebut adalah dengan memiliki tubuh yang sehat, sehingga dengannya kita dapat beribadah dengan lebih baik kepada Allah. Agama Islam sangat mengutamakan kesehatan (lahir dan batin) dan menempatkannya sebagai kenikmatan kedua setelah Iman. Dalam perjalanan hidupnya didunia, manusia menjalani tiga keadaan penting: sehat, sakit atau mati. Rasulullah SAW bersabda : Dan sesungguhnya bila Allah SWT mencintai suatu kaum, dicobanya dengan berbagai cobaan. Siapa yang ridha menerimanya, maka dia akan memperoleh keridhoan Allah. Dan barang siapa yang murka (tidak ridha) dia akan memperoleh kemurkaan Allah SWT. (H.R. Ibnu Majah dan At Turmudzi). Demikianlah Allah SWT akan menguji hamba-hamba-Nya dengan kebaikan dan keburukan. Dia menguji manusia berupa kesehatan, agar mereka bersyukur dan mengetahui keutamaan Allah SWT serta kebaikan-Nya kepada mereka. Kemudian Allah SWT juga akan menguji manusia dengan keburukan seperti sakit dan miskin, agar mereka bersabar dan memohon perlindungan serta berdo'a kepada-Nya. Pada kasus di atas tampak bahwa atasan pasien memberikan sikap yang kurang baik pada pasien. Islam mengajarkan kepada kaum muslimin untuk berbuat baik pada seseorang yang sakit antara lain mendoakan agar cepat sembuh, bersikap sabar kepada orang sakit karena biasanya orang sakit cenderung lebih sensitif, tidak membebani pikiran orang sakit, membantu pekerjaan orang sakit karena biasanya fisiknya lemah, membesarkan hatinya dengan memberikan kata-kata positif, memotivasi untuk selalu bersabar, menjenguk orang sakit untuk mempererat tali silaturahim, dan sebagainya.

Page 4