Anda di halaman 1dari 22

Artikel SEmoga

dibawah

ini

diambil atau bermanfaat

dikutip

dari

VIVANEWS. artikelnya.

Perjuangan Terakhir Sang Model Kerempeng Model ini gemparkan dunia saat pamerkan tubuh polosnya yang tinggal tulang berbalut kulit. JUMAT, 31 DESEMBER 2010, 00:18 WIB Petti Lubis, Lutfi Dwi Puji Astuti

Isabelle Caro VIVAnews - Isabel Caro, model dan aktris asal Prancis yang menjadi simbol internasional untuk perjuangannya dengan anoreksia meninggal dunia di usia 28 tahun. Namun, kematian Caro tidak sia-sia. Siapakah Caro? Nama Caro mulai mencuat pada 2007 setelah berpose bugil membintangi sebuah iklan kontroversial tentang pencegahan anoreksia di Italia. Model ini menggemparkan dunia saat memamerkan tubuh polosnya yang tinggal tulang berbalut kulit. Saat itu berat badannya 30,8 kg dengan tinggi sekitar 1,6 meter. Caro yang mengidap anoreksia sejak usia 13 tahun, bersedia tampil tanpa busana dalam iklan itu, karena dia berniat membuat wanita menyadari bahaya anoreksia atau kelainan pola makan lainnya. Sayangnya, karena cukup menghebohkan, iklan ini dilarang tayang di beberapa negara. Meskipun berita kematiannya baru terkuak baru-baru ini, namun mantan pelatih aktingnya Daniele Dubreuil-Prevot mengungkapkan, Caro meninggal pada 17 November lalu. Sebelum menghembuskan napas terakhir, Caro dirawat selama dua minggu di rumah sakit akibat komplikasi pneumonia (radang paru-paru), sepulang menyelesaikan pekerjaan di Tokyo, Jepang. Agar perjuangannya tidak sia-sia, pada 2008, Caro menulis sebuah buku bertajuk The Little Girl Who Didnt Want to Get Fat. Ia juga sering mengampanyekan bahaya anoreksia di beberapa media. Salah satunya di acara yang dipandu Jessica Simpson, The Price of Beauty. Dalam acara itu, Caro blak-blakan mengungkapkan kisahnya yang ingin bertubuh langsing di masa remaja hingga akhirnya menjadi pengidap anoreksia. Sayangnya, ketika ia menyadari bahaya anoreksia, dan berjuang keras untuk sembuh dari kelainan pola makan itu, semuanya sudah terlambat. Ia pun meninggal di usia muda. nah, buat yang b elum paham tentang anoreksia, bisa lebih jelas membaca tulisan di bawah ini. Anda tentu mengenal super model Kate Moss? Badannya yang kurus tanpa daging pernah menjadi ikon kecantikan. Kalau mau dibilang cantik harus berbadan serata papan seperti dia.

Mesti mengerikan, namun ternyata banyak gadis terobsesi ingin mempunyai badan sekurus Kate. Super model mantan pacar Johnny Depp ini dituding mengidap Anoreksia nervosa untuk mempertahankan badan bak tanpa daging. Sebagian kita barangkali bertanya, apa sih Anoreksia nervosa? Apakah ini semacam penyakit atau tren yang banyak dianut selebriti kelas dunia? Yang perlu dicatat adalah: Anoreksia nervosa merupakan kelainan, bukan tren. Biasanya penderita Anoreksia ditandai dengan perubahan gambaran tubuh sendiri, munculnya ketakutan luar biasa akan kegemukan, penolakan untuk mempertahankan berat badan normal sehingga mereka ngotot diet matimatian agar mendapat badan super kurus, atau bahkan memuntahkan kembali makanan yang sempat ditelan dan masuk ke lambung (kelainannya disebut Bulimia), hilangnya siklus menstruasi pada wanita. Sekitar 95% penderita Anoreksia adalah perempuan. Tak mengherankan, soalnya jika dikaitkan dengan isu kecantikan, para perempuan lebih gampang diintimidasi termasuk gambaran tentang tubuh ideal (atau super kurus) agar bisa disebut cantik. Kapan kelainan Anoreksia muncul? Biasanya mulai timbul pada masa remaja atau dewasa. Penyakit ini biasanya menyerang mereka yang berasal dari kalangan sosial ekonomi menengah atas. Mereka yang hidup pas-pasan tak harus mengalami Anoreksia untuk tetap kurus kan. Berdasarkan derajatnya, Anoreksia bisa bersifat ringan dan sementara atau berat dan berlangsung lama. Apa sih penyebab kelainan ini? Sejauh ini penyebab pasti tidak diketahui, namun faktor sosial tampaknya memegang peran penting. Penderita ingin kurus karena merasa dengan badan gemuk menjadi tidak menarik, tak sehat serta tidak diinginkan lingkungan. Bagaimana gejala orang dengan kelainan Anoreksia? Jika kelainan ini terjadi pada perempuan, yang bersangkutan menjadi sangat teliti dan kompulsif dengan standar tinggi untuk berprestasi dan sukses. Indikasi awal dari kecenderungan terjadinya kelainan ini adalah meningkatnya perhatian terhadap makanan dan berat badan, bahkan pada penderita yang sebelumnya sudah kurus. Keasyikan dan kecemasan mengenai berat badan semakin meningkat, sejalan dengan semakin kurusnya badan penderita. Meski sudah kurus, penderita tetap merasa gemuk, selalu menyangkal jika hal itu salah. Meski merasa lapar, mereka akan mengabaikannya, karena merasa takut gemuk. Penderita merasa dirinya normal dan tidak ada yang salah dengan hal tersebut, sehingga tidak merasa ke dokter. Orang dengan Anoreksia nafsu makannya berkurang, meski sebenarnya penderita anoreksia lapar dan berselera terhadap makanan Saya pantang makanan berlemak! Kalimat serupa ini sangat sering terdengar. Bisa jadi, Anda juga salah satu orang yang membenci lemak. Memang benar, lemak diketahui memiliki peran memicu berbagai gangguan kesehatan. Tapi, sebenarnya tubuh membutuhkan lemak untuk mendapatkan energi, agar kita dapat beraktivitas. Demi menepis anggapan keliru yang membuat semua orang antilemak, para peneliti dari Harvard University, USA membagi pengetahuan bahwa tidak semua lemak berdampak buruk bagi tubuh. Ada juga jenis lemak yang baik. Berikut, beberapa jenis lemak yang bisa diajak bersahabat: 1. Lemak tak jenuh tunggal, banyak terdapat pada kacang tanah, minyak kanola, atau buah zaitun. Jenis minyak ini sangat baik mengurangi kadar kolesterol jahat dalam darah (LDL). 2. Lemak yang berasal dari kacang atau produk kacang-kacangan (Almon, makadamia, mete, pekan, hazelnut, kacang tanah). Selain sebagai sumber protein, bahan makanan ini adalah sumber serat dan fitokimia. Para ahli meyakini kedua nutiri tersebut mampu memerangi dan mencegah kanker.

3. Advokad. Buah ini mengandung lemak yang baik bagi tubuh dan terbukti mengandung kadar vitamin E yang sangat tinggi. Lemak advokad berfungsi menjaga kesehatan kulit dari dalam dan mencegah serangan jantung. 4. Ikan laut terutama salmon dan makarel mengandung asam lemak omega-3 yang sangat tinggi. sangat baik dikonsumsi bagi mereka yang memiliki kadar kolestrol yang tinggi. Lemak dari ikan laut ini, diketahui bermanfaat mencegah penyakit jantung, kanker, serta mengurangi gejala perdangan, seperti arthritis. So, tak usah ragu mengonsumsi lemak. Asalkan Anda memilih baik untuk dijadikan sahabat! Mungkin ini bisa jadi pelajaran penting buat remaja putri, terima apa adanya apa yang dikarunia Tuhan YME. Diet boleh-boleh saja, namun perlu berkonsultasi dulu dengan ahlinya. Jangan asal menahan lapar dan dahaga agar bisa kurus atau minum obat yang kadang juga bisa berdampak pada organ tubuh. Yang penting, lakukan sesuai saran dokter.

Kasus-kasus Anoreksia yang Paling Mencengangkan


Merry Wahyuningsih - detikHealth Kamis, 22/12/2011 16:01 WIB Berbagi informasi terkini dari detikcom bersama teman-teman Anda

(Foto: thinkstock) Jakarta, Orang dengan gangguan makan anoreksia makan sangat sedikit dan berolahraga berlebihan sehingga tidak mengherankan bila tubuh penderitanya akan sangat kurus. Setidaknya ada 5 kasus anoreksia yang membuat Anda tercengang. Penderita anorexia nervosa biasanya menolak untuk mempertahankan berat badan normal dan cenderung selalu ingin lebih kurus, selalu ketakutan berat badannya akan naik walaupun kenyataannya berat badannya turun terus. Selain berbagai komplikasi kesehatan seperti jantung, ginjal, gastro-usus dan masalah kesuburan, anoreksia nervosa memiliki salah satu tingkat tertinggi kematian untuk setiap kondisi kejiwaan, diperkirakan sekitar 13-20 persen per tahun. Osteoporosis juga merupakan masalah besar bagi penderita anoreksia nervosa. Berikut 5 kasus anoreksia yang paling mencengangkan, seperti dikutip oddee dari Huffingtonpost, Kamis (22/12/2011): 1. Anoreksia pada 2 gadis kembar identik Dua gadis kembar berusia 20 tahun harus berjuang untuk hidup. Tubuh yang sangat kurus ibarat kulit pembungkus tulang membuat mereka tampak seperti wanita tua karena tulang pipi yang terlihat tinggi. Ayahnya Christy (58 tahun) dan istrinya Clare (56 tahun) harus mengantarkan si kembar yang menghabiskan sebagian besar hidup masa remaja dan dewasa untuk keluar masuk klinik pemulihan. Si kembar bahkan pernah dirawat di rumah sakit selama beberapa bulan untuk mengalahkan anoreksia.

2. Model pria yang meninggal karena anoreksia Jeremy Gillitzer pernah menjadi model pria berwajah tampan dan penampilan menakjubkan dengan perut six-pack. Tapi dibalik penampilan luar biasanya, banyak orang yang tidak tahu bahwa ia berjuang keras melawan anoreksia dan bulimia. Karena kelaparan kronis, merangsang diri sendiri untuk muntah dan olahraga tak kenal lelah, tubuhnya menjadi sangat kurus. Ia akhirnya meninggal pada usia 38 tahun di 2010 dengan berat badan hanya 29 kg.

3. Ibu kurus anoreksia yang bisa pakai baju putrinya usia 7 tahun Rebecca Jones (26 tahun) bangga bisa mengenakan baju putrinya Maisy yang baru berusia 7 tahun dan memiliki berat badan lebih besar ketimbang ibunya. Namun Rebecca tak sadar bahwa dibalik kebanggaannya tersebut terdapat masalah besar yang mengintainya. Ia terancam membuat dirinya sendiri kelaparan hingga mati. Rebecca telah bertahan dengan hanya makan sup, roti bakar dan minuman energi selama empat tahun, tapi sembilan bulan lalu ia pernah dilarikan ke rumah sakit. Dia memiliki tingkat kalium sangat rendah dan denyut nadi sangat tinggi.

4. Gadis anoreksia yang berjalan 12 jam sehari untuk menurunkan berat badan Berat badan Lauren Bailey turun hingga 22 kg setelah berjalan kaki hingga 12 jam sehari. Berat badannya yang sangat kurus membuatnya harus dirawat selama 18 bulan di rumah sakit sebagai upaya terakhir mengatasi anoreksia.

5. Ibu yang mengalahkan anoreksia demi memiliki keturunan Melihat tulang belulang yang menonjol di tubuh Hayley Wilde dengan berat badan hanya 31 kg, membuat dokter mengeluarkan diagnosis ia akan meninggal dalam waktu seminggu. Ia berjuang melawan anoreksia sejak usia 11 tahun. Setelah 8 tahun melawan anoreksia ia kembali bangkit dan berhasil melahirkan anak laki-laki.

Anoreksia Nervosa dan Cara Mengobatinya


Browse Home Kesehatan , Wanita Anoreksia Nervosa dan Cara Mengobatinya

Saat ini penampilan fisik menjadi banyak perhatian orang sehingga banyak orang yang melakukan diet tanpa memikirkan kesehatannya. Sangat susah untuk membedakan antara diet yang normal dengan diet yang berbahaya karena tahap awal dari suatu gangguan makan bisa sangat susah untuk diketahui. Kapankah suatu diet menjadi masalah bagi kesehatan fisik dan emosi? Bagaimanakah kehilangan berat badan menjadi patologi? Menjawab pertanyaan ini sangat susah, terutama apabila orang tersebut belum kehilangan berat badan yang cukup banyak. Namun, bagaiman pun pertanyaan ini penting, semakin awal gangguan makan ditangani, makin besar kemungkinan untuk sembuh dari Anoreksia, karena jika tanda dan gejala dari gangguan makan ini dibiarkan sampai menjadi kebiasaan, kebanyakan orang harus berjuan selama bertahuntahun untuk terbebas dari kebiasaan buruk ini. Anoreksia nervosa merupakan salah satu sindroma yang disebabkan oleh gangguan psikis. Anoreksia nervosa merupakan satu gangguan makan yang ditandai oleh gangguan citra tubuh dan membatasi jumlah makanan dengan amat ketat. Anoreksia nervosa juga sering diartikan oleh masyarakat kebanyakan sebagai peristiwa penolakan makan seseorang, yang biasanya oleh gadis remaja, karena ia takut menjadi gemuk atau oleh karena sebab histerik lainnya. Penyebab Anoreksia Nervosa Anoreksia nervosa dapat disebabkan oleh beberapa faktor sebagai berikut:

1. Faktor biologi Pasien anoreksia nervosa mengalami penyangkalan terhadap rasa lapar. Penyangkalan terhadap rasa lapar ini bisa disebabkan oleh opiat endogen. Penelitian sebelumnya menunjukkan peningkatan berat badan yang berarti pada beberapa pasien yang diberi opiat antagonis. Rasa lapar menghasilkan beberapa perubahan biokimia dalam tubuh, kejadian seperti ini sering juga nampak pada pasien depresi. Fungsi tiroid juga menjadi tertekan, kelainan ini hanya bisa dikoreksi dengan kaliminasi. Kelaparan juga menyebabkan amenorrhea yang menunjukkan kadar hormon (luitenizing hormon, FSH, gonadotropin, realising hormon). Meskipun begitu, beberapa pasien anoreksia nervosa menderita amenorrhea sebelum kehilangan berat badan yang signifikan. 2. Faktor sosial Pasien anoreksia nervosa menemukan dukungan atas perilaku mereka karena pandangan masyarakat akan tubuh yang kurus dan olah raga. Tidak ada gambaran spesifik yang menghubungkan antara penyebab anoreksia dan hubungan dalam keluarga. Namun, beberapa studi menunjukkan pasien-pasien anoreksia nervosa mempunyai masalah hubungannya dengan keluarga. Pasien anoreksia nervosa mempunyai sejarah keluarga yang depresi, ketergantungan alkohol, atau gangguan makan. 3. Faktor psikososial dan psikodinamik Anoreksia nervosa merupakan reaksi dari tuntutan remaja untuk kebebasan yang lebih. Penderita anoreksia nervosa memiliki harapan akan peningkatan fungsi sosial dan sexual mereka. Pasien anoreksia nervosa umumnya kurang percaya diri, banyak dari mereka merasa tubuh mereka dibawah kontrol orang tua mereka. Membentuk diri sendiri mungkin merupakan suatu usaha untuk mendapat pengakuan sebagai orang yang spesial dan unik. Klinis psikoanalitik yang mengobati pasien anoreksia nervosa umumnya setuju bahwa pasien-pasien muda tidak dapat berpisah secara psikologi dengan ibu mereka. Pasien-pasien anoreksia nervosa merasa keinginan makan adalah suatu kerakusan dan tidak bisa diterima, oleh karena itu, keinginan tersebut harus diabaikan. Orang tua merespon hal ini dengan ketakutan apakah anak mereka akan makan dan pasien mengabaikan ketakutan orang tua mereka.

Diagnosa Anoreksia nervosa biasanya terjadi pada umur 10 sampai 30 tahun, sangat jarang terjadi diluar dari range ini. Setelah umur 13 tahun, kemungkinan untuk mengidap anoreksia meningkat sangat drastis, 85 % dari pasien anoreksia nervosa, berkisar antara umur 13 tahun dan 20 tahun. Sebagian besar penderita anoreksia dimulai pada umur 17-18 tahun. Dalam pedoman penggolongan dan diagnosis gangguan jiwa edisi ke III (PPDGJ III). Pedoman diagnostik anoreksia nervosa adalah sebagai berikut: 1. Ciri khas gangguan adalah mengurangi berat badan dengan sengaja, dipacu dan atau dipertahankan oleh penderita. Untuk mengetahui secara pasti, dibutuhkan hal-hal seperti dibawah ini :

Berat badan yang ideal berkisar antara 15 % dibawah berat badan normal dan 15% di atas berat badan normal. Berat badan normal sendiri bagi wanita dapat dihitung sebagai berikut = tinggi badan - 110, sedangkan untuk pria = tinggi badan - 100. Diluar range itu dapat dikategorikan tidak ideal. Pada penderita pria yang masuk masa pubertas ada kemungkinan gagal mencapai berat badan yang diharapkan selama periode pertumbuhan. 2. Penderita anoreksia pada umumnya berusaha melakukan usaha pengurangan berat badan secara berlebihan seperti berikut:
o o o o

Merangsang muntah oleh diri sendiri. Menggunakan pencahar. Olah raga berlebihan. Memakai obat penekan nafsu makan dan atau diuretika.

3. Terdapat distorsi body image dalam bentuk psikopatologi yang spesifik dimana ketakutan gemuk terus menerus menyerang penderita, penderita memiliki penilaian yang berlebihan bahwa berat badan yang rendah adalah bagus. 4. Adanya gangguan endokrin yang meluas, melibatkan hypothalmicpituitary ayis, dengan manifestasi pada wanita sebagai amenorrhea dan pada pria sebagai kehilangan minat dan potensi seksual. 5. Jika anoreksia nervosa terjadi pada masa prepubertas, perkembangan puber tertunda atau dapat juga tertahan (pertumbuhan berhenti, pada anak perempuan buah dadanya tidak berkembang dan terdapat amenorrhea primer, pada anak laki-laki genitalianya tetap kecil). Pada penyembuhan, pubertas kembali normal, tetapi menarche terlambat.

Diagnosa Banding Dalam melakukan pengecekan kita harus yakin bahwa pasien tidak memiliki penyakit yang dapat menyebabkan kehilangan berat badan (contoh, tumor otak atau kanker) sebelum menilai bahwa seseorang menderita anoreksia. Kehilangan berat badan, kebiasaan makan yang aneh, dan muntah dapat terjadi pada beberapa gangguan mental, gangguan depresi, dan anoreksia nervosa mempunyai beberapa gejala yang sama seperti perasaan depresi seperti menangis, susah tidur, sering merenung, dan kadang-kadang memiliki kecenderungan untuk berpikir bunuh diri. Bagaimanapun juga kedua gangguan tersebut memiliki beberapa gejala yang berbeda. Umumnya pasien dengan gangguan depresi mengalami penurunan nafsu makan sedangkan pasien anoreksia nervosa memiliki nafsu makan normal dan merasa lapar. Hanya pada stadium yang parah dari anoreksia nervosa pasiennya mengalani penurunan nafsu makan. Penderita anoreksia memiliki tipikal yang sangat perhatian terhadap kandungan kalori makananan sedangkan pada penderita depresi, pasien tidak takut akan kegemukan atau gangguan citra tubuh, seperti

pada

penderita

anoreksia

nervosa.

Anoreksia nervosa harus dibedakan dari bulimia nervosa. Bulimia nervosa adalah suatu gangguan dimana terdapat episode Ginge-eating diikuti mood yang terdepresi. Seperti penderita anoreksia, penderita bulimia memiliki kecenderungan mencela diri sendiri dan menginduksi muntah dan mempertahankan berat mereka dibawah berat badan normal, namun berat badan pasien bulimia nervosa jarang berada kurang dari 15 % berat badan normal mereka. Proses penyakit anoreksia nervosa bervariasi, terjadi secara spontan, berat badan yang turun naik diikuti relaps, penyakit yang secara berangsur-angsur memburuk dan berakhir dengan kematian akibat komplikasi dari kelaparan. Penelitian menunjukkan tingkat mortalitas (angka kematian) dari penderita anoreksia berkisar antara 5-18 %. Indikasi bahwa penyakit sudah membaik adalah pangakuan akan kelaparan, ketidakdewasaan yang berkurang dan membuktikan penghargaan terhadap diri sendiri. 30 50 % dari pasien anoreksia nervosa memiliki gejala bulimia nervosa, dan biasanya gejala bulimia terjadi kurang dari 1 tahun setelah timbulnya anoreksia nervosa. Proses Penyembuhan Terapi yang menyeluruh dibutuhkan untuk menangani kasus anoreksia nervosa, termasuk didalamnya hospitalisasi jika dibutuhkan dan psikoterapi terhadap individu dan keluarganya. 1. Hospitalisasi Yang menjadi perhatian utama dalam penanganan anoreksia nervosa adalah mengembalikan keadaan gizi pasien, sebab dehidrasi, kelaparan dan gangguan keseimbangan elektrolit dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius bahkan dapat menyebabkan kematian. Keputusan untuk memasukkan pasien ke rumah sakit didasarkan pada kondisi medis umum pasien atau dari kerja sama pasien. 2. Psikoterapi Kebanyakan pasien anoreksia nervosa membutuhkan tindak lanjut setelah keluar dari rumah sakit. Bahkan dalam kasus yang kurang parah, hospitalisasi bahkan tidak dibutuhkan. Kebanyakan pasien mengalami gangguan pada masa remaja. Meskipun psikodinamik, peran keluarga pada terapi tidak dibutuhkan pada tingkatan awal terapi, terutama jika pasien anoreksia nervosa masih merasa lapar. Psikoterapi yang berorientasi pada insight hanya berguna pada pasien anoreksia nervosa yang telah stabil. 3. Terapi biologis Anti depresiva sering digunakan dan sering berguna. Siproheptadin

(periactin) mungkin membantu, karena khasiat samping yang menambah berat badan. Anti depresiva sertonik seperti fluaksetin (prozae), sertralin (zoloft) dan paroksetin (paxil) mungkin dapat membantu. Beberapa bukti menunjukkan elektrokonvulsiva terapi (ECT) berguna bagi kasus-kasus anoreksia nervosa dan gangguan depresi mayor.

You are here: Home / Kesehatan & Kebugaran / Macam Penyakit / Perbedaan antara Penyakit Bulimia dan Anoreksia

Perbedaan antara Penyakit Bulimia dan Anoreksia


February 14, 2013 by annova

Ada berbagai gangguan makan, dua di antaranya adalah Bulimia dan Anorexia dan pesta makan hanya untuk nama yang paling umum. Istilah bulimia mengacu pada keinginan makanan dan anorexia mengacu pada ketidakmampuan untuk mengkonsumsi makanan karena berat badan mungkin. Kadang-kadang penyakit ini dapat disebut sebagai Bulimia Nervosa dan Anorexia Nervosa. Gangguan makan dari Bulimia dan Anorexia keduanya memiliki karakteristik di mana perilaku negatif serius dapat mempengaruhi tubuh seseorang. Mengetahui tanda-tanda dan perbedaan antara Bulimia dan Anorexia dapat membantu menentukan apakah seseorang memang memiliki gangguan makan. Ada perbedaan antara Bulimia dan Anorexia dalam hal kesehatan fisik dan psikologis. Keduanya merupakan gangguan makan yang bisa serius dan akan merugikan jika dibiarkan. Gangguan makan dapat disembunyikan untuk sementara waktu karena kita cenderung mengabaikan tandatanda. Gangguan makan mungkin tidak tampak menjadi masalah sampai masalah tersebut menjadi besar yang menggangu pikiran dan tubuh penderita.

Bulimia
Orang bulimia bukannya biasanya sedikit kelebihan berat badan, tetapi juga tidak senang dengan berat badan atau bentuk tubuh. Pesta makan sangat umum pada pasien bulimia. Pesta makan berarti bahwa orang-orang memiliki periode asupan makanan yang berlebihan, bahkan ribuan kalori per makanan. Perilaku makan yang berlebihan, muntah, olahraga, diet sangat buruk untuk jangka panjang tubuh. Bulimia ditandai dengan episode berulang dari makan yang berlebihan, dan kemudian dipaksa regurgitasi, untuk menghindari kenaikan berat badan. Bulimia tidak hanya sering meraih makanan, dan kemudian muntah, karena makan terlalu banyak makanan. Karakteristik bulimia meliputi: takut kegemukan, takut berat badan, kehilangan kontrol makan, distorsi perseptual dari ukuran tubuh diri, rendah diri. Bulimia lebih mudah untuk diobati daripada anoreksia.

Anoreksia
Pada Anoreksia, tidak akan makan sebagian besar, karena rasa takut yang ekstrem kenaikan berat badan. Orang anoreksia menderita penyakit serius dan fatal jika tidak diobati dini. Anoreksia ditandai dengan takut berat badan, dan keasyikan intens dengan penambahan berat badan. Orang yang menderita anoreksia memiliki gangguan dalam persepsi berat badan mereka sendiri, dan mengejar penurunan berat badan, dan takut kehilangan kontrol makan. 20% dari orang yang menderita anoreksia akan mati dari gangguan ini. Karena ada banyak kesamaan antara dua gangguan makan ini seperti makan sendiri, membersihkan, takut berat badan, stres, kerendahan hati, depresi, rendah diri, sangat sadar diri tentang bagaimana mereka melihat ke orang lain membuat perbedaan untuk menentukan antara Bulimia dan Anoreksia sulit sekali.
You are here: Home / Kesehatan & Kebugaran / Macam Penyakit / Mengenal Penyakit Bulimia

Mengenal Penyakit Bulimia


January 15, 2013 by annova

Bulimia nervosa (kadang hanya disebut bulimia) adalah gangguan makan dimana seseorang makan banyak makanan dalam waktu singkat dan kemudian mencoba untuk menyingkirkan makanan tersebut untuk mencegah kenaikan berat badan. Hal ini menyebabkan tekanan darah rendah dan denyut jantung tidak teratur yang menyebabkan dehidrasi dan tingkat rendah kalium, magnesium dan natrium dalam tubuh. Bulimia nervosa dapat menyebabkan sembelit, diare, dan masalah pencernaan lainnya. Bulimia juga menyebabkan kelemahan otot dan kelelahan. Orang dengan bulimia biasanya kekurangan energi untuk aktivitas sehari-hari dan dapat menjadi lesu.

Tanda-tanda Bulimia:

Makan banyak di satu waktu Muntah (langsung setelah makan) Banyak menggunakan obat pencahar Obsesif dalam berolahraga

Tanda-tanda lain dari bulimia nervosa meliputi tanda-tanda muntah banyak, seperti:

Bengkak pipi Pembuluh darah di mata rusak

Kerusakan pada enamel gigi Kapalan atau goresan pada jari

Bulimia tidak secara eksklusif disebabkan oleh perubahan pubertas, juga tidak eksklusif untuk wanita. Meskipun 90 persen dari kasus bulimia terjadi pada wanita, dan sebagian besar perempuan ini mulai makan dan muntah pada remaja. Ketika seorang gadis memasuki masa pubertas, tubuhnya berubah. Bagi kebanyakan wanita muda lainnya, perubahan ini dapat menyebabkan kesedihan dan memicu keraguan diri. Dia mungkin memproyeksikan ketakutannya ke makanan. Sekarang, ketika dia makan, dia makan terlalu banyak makanan kemudian dimuntahkan. Dan kebanyakan orang dengan bulimia mulai dengan berat badan normal, tetapi ketika mereka mencoba untuk menurunkan berat badan, mereka kehilangan nutrisi yang cukup. Ketika orang-orang terkena bulimia, mereka cenderung makan makanan yang menenangkan seperti keripik kentang, es krim, atau kue (makanan dengan nilai gizi sedikit). Beberapa orang yang menderita bulimia menggunakan menggunakan obat pencahar selain muntah. Muntah ini bisa mengikis enamel gigi. Sakit maag, sembelit, kembung, dan mulas merupakan gejala lain dari bulimia. Wanita dengan bulimia mungkin memiliki menstruasi yang tidak teratur dari diet dengan nutrisi jarang. Beberapa nama orang-orang terkenal yang menderita bulimia adalah Putri Diana, Ahli kebugaran Jane Fonda dan Lady Gaga. Home KESEHATAN PSIKOLOGI

CONTOH KASUS BULIMIA YANG DISEBABKAN STRESS

CONTOH KASUS BULIMIA YANG DISEBABKAN STRESS


Seorang gadis berusia 26 tahun, belum menikah sedang memiliki masalah besar. Empat bulan terakhir ini ia makan banyak sekali. Sekali makan ia dapat melahap satu toples emping, dua potong ayam, kentang goreng, lima potong kue dan dua gelas susu. Pilihannya adalah makanan yang manis-manis dan berlemak tinggi. Akibatnya badannya yang sudah gemuk menjadi semakin gemuk sampai teman-temannya meledek. Ia mencoba mengeluarkan makanan yang sudah ia telan, dengan memasukkan jari ke tenggorokan. Semula tidak enak sebab tenggorokannya jadi sakit semua tapi ia nekat tetap menggunakan cara tersebut karena dikejar ledekan teman-teman dan makanan yang ia makan jadi tambah banyak. Saat ini ia sedang setres karena banyak sekali masalah yang ia hadapi. Pertama masalah dengan orang tua. Ia selalu berbeda pendapat dan bertengkar dengan orangtuanya bahkan sudah dua tahun ini mereka tidak berbicara satu dengan yang lain. Yang kedua, ia terancam DO dari PTN tempat ia menempuh pendidikan S1. ini membuat perasaanya campur aduk antara kecewa, jengkel, sedih,

dan tidak puas. Semua ini ia pendam sendiri, ia tidak pernah mengeluh pada siapapun.

Diet dan Bulimia Telah Merenggut Nyawa Sahabatku!


Saat mengetahui seorang sahabat Kompasianer cantik dan ramah, mbak Tyas terbaring tak berdaya akibat sakit Leukemia, hati saya sangat sedih. Tak terasa airmata saya mengalir membayangkan begitu berat penderitaannya. Semoga Tuhan Yang Maha Penyayang segera mengangkat penyakit mbak Tyas. DIA Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hambaNYA. Semoga sakitnya mbak Tyas bisa menghapus segala dosa-dosanya yang telah lalu. Amin. Sakit yang menimpa mbak Tyas mengingatkan saya kepada seorang sahabat. Sebut saja namanya Intan. Saya dan Intan bersahabat sejak kami duduk di bangku Sekolah Dasar. Kami tumbuh besar bersama. Kami terpisah saat Intan mengambil sekolah Perawat di salah satu Rumah Sakit

ternama di Jakarta. Pergaulan Intan berubah drastis ketika tinggal di mess Sekolah Perawat itu. Intan yang dulu saya kenal lugu, berubah menjadi gadis yang hobi dugem, perokok, dan sangat memperhatikan penampilan terutama bentuk tubuhnya. Intan gadis manis yang sederhana itu kini tampil nyentrik dan modis. Pernah suatu ketika Intan mengajak saya untuk clubbing di sebuah diskotik di kawasan Jakarta Timur. Sebenarnya saya sudah menolak, namun Intan terus membujuk saya. Itu kali pertama saya menginjakkan kaki di sebuah diskotik. Saya mencoba memahami dan memaklumi gejolak muda Intan kala itu. Pencarian jati dirinya masih belum terarah. Sebagai sahabat, saya hanya bisa mengingatkan agar Intan kembali seperti Intan yang dulu saya kenal. Ketika Intan jatuh cinta, dia juga sering curhat kepada saya. Kekasih Intan ternyata seorang yang perfeksionis. Pria itu menginginkan Intan menjaga bentuk tubuhnya agar tetap ideal. Intan seperti terobsesi ingin membahagiakan kekasihnya itu. Namun hubungan mereka itu justru awal dari petaka bagi kesehatan Intan. Mungkin karena terlalu cinta atau takut ditinggalkan kekasihnya, Intan pun bersusah payah untuk terus menjaga berat badannya. Diet ketat pun mulai ia lakukan. Yang lebih mencengangkan, setiap kali Intan makan agak banyak, beberapa saat setelah makanan itu masuk ke dalam perutnya, Intan segera ke kamar kecil untuk membuang kembali isi perutnya. Miris sekali hati saya melihat apa yang dilakukan Intan. Apa yang dialami Intan bisa disebut sebagai penderita Bulimia. Kebiasaan Intan itu ternyata berlangsung cukup lama hingga ia lulus sekolah Perawat. Lulus dari sekolah Perawat, Intan melanjutkan kuliah kebidanan. Namun sayangnya, hubungan Intan dengan kekasihnya itu kandas di tengah jalan. Intan sedih dan kecewa. Ia merasa gagal mendapatkan cinta kekasihnya itu. Yang lebih parah, ia menyalahkan dirinya sendiri karena merasa gagal membahagiakan kekasihnya. Ternyata kebiasaan buruk Intan berakibat dan berdampak beberapa tahun kemudian setelah Intan menikah dan memiliki seorang anak. Keluhan demi keluhan selalu dialami Intan. Intan mengalami gangguan pencernaan yang cukup parah. Dan itu menyerang usus besarnya. Intan sama sekali tidak menyangka efek dari kebiasaan buruknya di masa lalu akan menghantuinya terus menerus. Sakit yang diderita Intan semakin parah. Ketika dokter memvonis Intan dengan penyakit Kanker Usus Stadium lanjut, Intan sangat histeris. Namun kenyataan sepahit apapun harus ia terima. Intan pasrah. Ia hanya bisa menangis dan menangis. Terlebih melihat puterinya yang masih berusia 3 tahun. Intan membayangkan

seandainya usianya tidak panjang, bagaimana nasib puteri kecilnya itu. Kemoterapi pun mulai ia jalani. Terakhir saya bertemu Intan adalah saat Intan menghadiri resepsi pernikahan saya. Saya amat kaget melihat pemandangan yang saya lihat. Tubuh indah Intan berubah. Ia nampak kurus, kulitnya hitam dan rambutnya rontok. Dia memeluk saya dan menangis. Saya hanya bisa membesarkan hati Intan dan menguatkannya agar ia tabah menjalani semuanya. Yang lebih mengagetkan adalah, saat itu Intan tengah hamil anak kedua. Usia kandungan Intan sudah 5 bulan. Intan bercerita, sebenarnya dokter melarangnya untuk hamil lagi mengingat kondisi Intan yang semakin memburuk akibat kanker ususnya. Namun Intan bertekad untuk melanjutkan kehamilannya. Meskipun ia tahu konsekwensi yang harus ia hadapi, kehilangan nyawanya. Beberapa bulan kemudian kabar buruk itupun saya terima. Nana, adik Intan mengabarkan bahwa Intan telah berpulang seminggu pasca melahirkan. Intan sempat dioperasi untuk menangani kanker usus besarnya. Namun ternyata, nyawanya tak tertolong. Mendengar itu saya langsung terduduk lemas. Airmata saya mengalir deras. Namun sayangnya, berita itu saya ketahui setelah beberapa minggu Intan dikuburkan. Saya tak sempat melihat kondisi Intan untuk yang terakhir kalinya. Nana menceritakan betapa penderitaan Intan saat itu setelah melahirkan. Bahkan Intan tak sempat untuk menyusui bayinya. Ya Tuhan, mengapa begitu cepat ENGKAU memanggil sahabatku. Semoga Engkau memberikan tempat terindah untuknya. Amin. Belajar dari kisah Intan, hendaknya kita para wanita, jangan pernah melakukan kesalahan yang sama dengan mengikuti semua kemauan pasangan anda, apalagi yang masih berstatus sebagai pacar. Tentu anda akan merasa lebih nyaman dan bahagia apabila pasangan anda bisa menerima keadaan anda apa adanya. Carilah seseorang yang bisa menerima kekurangan dan kelebihan anda. Tak ada satupun manusia di dunia ini terlahir sempurna. Apa yang dialami oleh sahabat saya sudah bisa dipastikan bahwa ia penderita Bulimia. Menurut dunia kesehatan, Bulimia adalah kelainan pola makan (gangguan makan) yang sering terjadi pada wanita dan sangat menyiksa. Si penderita kerapkali melakukanpenyiksaan terhadap diri sendiri. Bulimia merupakan keadaan dimana seorang penderita makan secara berlebihan secara berulang-ulang (binge) dan kemudian kembali mengeluarkannya. Mengeluarkan makanan yang dimakan ini bisa melalui muntah yang biasanya diinduksi dengan obat pencahar, selain itu juga dengan mengeluarkannya lewat kencing dengan menggunakan obat diuretik.

Bulimia sangat berbahaya bagi tubuh. Gangguan atau kelainan pola makan tersebut dihasilkan oleh ketakutan bahwa tubuh akan menjadi gemuk setelah makan, dan ketakutan mental itu akan terpancar melalui penyiksaan fisik. Gejala umum bulimia seperti depresi, krisis kepercayaan diri yang rendah, penampilan yang tidak proporsional, hubungan keluarga yang terganggu, nafsu makan berkurang, sulit mengontrol emosi, mudah terjangkit penyakit, berat badan ringan, dan kekurangan nutrisi. Selain makan berlebih, penderita bulimia juga cenderung melakukan diet yang sangat ketat dan olah raga yang berlebihan. Si penderita berusaha untuk membersihkan atau memuntahkan makanan yang masuk ke dalam tubuhnya. Dan ini diperkirakan sebagai aksi untuk mengurangi rasa benci atau rasa bersalah karena sudah binge. Penderita terobsesi untuk membersihkan diri mereka dari makanan itu, sehingga makanan yang masuk tidak sempat terserap tubuh. Penderita bulimia seringkali melakukan pesta makan, dan ini diduga terdorong oleh depresi atau stress yang berkaitan dengan berat badan, bentuk badan atau makanan. Mereka menganggap, makan merupakan kegiatan paling menyenangkan dan bisa menghilangkan depresi. Namun kebahagiaan itu hanya berlangsung sementara karena akhirnya mereka kembali membenci makanan serta marah atas kontrol diri terhadap pesta makan yang kurang. Kebencian inilah menjadi pemicu utamanya dari penderita bulimia. Penelitian menunjukan bahwa kelainan psikologis ini juga disebabkan oleh proses kimiawi yang ada di dalam otak. Para ahli menduga bahwa kelainan neurotransmitter dalam otak, utamanya adalah neurotransmitter serotonin yang menjadi pemicu terjadinya penyakit bulimia nervosa ini. Namun dugaan awal ini masih belum bisa dijelaskan secara spesifik karena kompleksnya penyakit ini. Akibat dan bahaya dari bulimia berdampak kepada organ tubuh. Organ tubuh akan rusak akibat pembersihan secara ekstrim ini antara lain adalah pembengkakan kelenjar ludah di pipi, masalah pada kelenjar ludah yang berupa rasa nyeri atau pembengkakan, asam lambung berlebih pada kerongkongan bisa menyebabkan borok, pecah atau penyempitan dan terganggunya proses pencernaan akibat pencahar. Dan ini bisa mengakibatkan disfungsi organ pencernaan. Selain itu ketidakseimbangan cairan tubuh akibat stimulus zat diuretik secara berlebih. Namun bulimia yang diderita oleh sahabat saya ternyata mengarah kepada penyakit kanker usus besar (kanker kolon). Namun sejauh ini, penyebab kanker usus besar memang belum diketahui secara pasti. Diduga

kuat pemicu yang berpotensi memunculkan penyakit kanker kolon ini antara lain akibat diet yang salah (terlalu banyak mengkonsumsi makanan tinggi lemak dan protein, serta rendah serat), jarang melakukan aktivitas fisik, sering mengkonsumsi bahan pengawet makanan maupun pewarna yang bukan untuk makanan, dan merokok..!! Berdasarkan buku Panduan Pengelolaan Adenokarsinoma Kolorektal, dikatakan bahwa meskipun penelitian awal tidak menunjukkan hubungan merokok dengan kanker usus besar, namun penelitian terbaru menunjukkan, perokok jangka lama (30-40 tahun) mempunyai risiko berkisar 1,5-3 kali. Di Amerika Serikat diperkirakan 1 dari 5 kasus kanker usus besar mengarah kepada perokok. Karena itu untuk mencegah terkena kanker usus besar dianjurkan untuk tidak merokok. Gejala kanker usus besar yang sering dikeluhkan penderita antara lain: 1. perdarahan pada usus besar yang ditandai dengan ditemukannya darah pada feses saat buang air besar. 2. perubahan fungsi usus (diare atau sembelit) tanpa sebab yang jelas, lebih dari 6 minggu. 3. penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas. 4. rasa sakit di perut atau bagian belakang. 5. perut masih terasa penuh meskipun sudah buang air besar. 6. rasa lelah yang terus-menerus 7. kadang-kadang kanker dapat menjadi penghalang dalam usus besar yang tampak pada beberapa gejala seperti sembelit, rasa sakit, dan rasa kembung di perut. Terapi bedah merupakan salah satu cara yang efektif untuk menangani kanker usus besar. Namun, bila sudah terjadi metastasis (penyebaran), penanganan menjadi lebih sulit. Dengan berkembangnya kemoterapi dan radioterapi, memungkinkan penderita stadium lanjut atau pada kasus kekambuhan untuk menjalani terapi adjuvan. Terapi adjuvan adalah kemoterapi yang diberikan setelah tindakan operasi pada pasien kanker stadium III guna membunuh sisa-sisa sel kanker. Terapi adjuvan bisa dilakukan tanpa suntik (infus), melainkan dengan oral/tablet (Capacitabine). Capacitabine tablet memungkinkan pasien menjalani kemoterapi di rumah. Capacitabine juga merupakan kemoterapi oral yang aman dan bekerja sampai ke sel kanker. Mencegah akan jauh lebih baik daripada mengobati. Untuk menghindari terkena kanker usus besar lakukan upaya pencegahan. Pencegahan menurut dr. Adil S Pasaribu SpB KBD, spesialis bedah dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, Jakarta, sebaiknya anda menghindari makanan tinggi lemak, protein, kalori, serta daging merah. Sering mengkonsumsi kalsium

dan asam folat. Setelah menjalani polipektomi adenoma disarankan pemberian suplemen kalsium. Selain itu tambahkan suplementasi vitamin E, dan D. Makan buah dan sayuran setiap hari. Pertahankan Indeks Massa Tubuh antara 18,5 - 25,0 kg/m2 sepanjang hidup. Lakukanlah aktivitas fisik, seperti jalan cepat setidaknya 30 menit sehari. Hindari kebiasaan merokok. Segera lakukan kolonoskopi dan polipektomi pada pasien yang ditemukan adanya polip. Dan terakhir, lakukan deteksi dini dengan tes darah samar sejak usia 40 tahun. Sedangkan menurut dr. Aru W Sudoyo, Konsultan Hematologi dan Onkologi Medik dari FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo, bagi mereka yang telah mengalami gejala, seperti perdarahan pada saat buang air besar dan tertutupnya jalan usus atau penyumbatan, deteksi dini sangat disarankan. Salah satu penyebab terjadinya kanker usus besar (kanker kolon) adalah akibat pola makan yang salah. Umumnya kanker ini bergerak secara perlahan-lahan dan diam-diam. Memerlukan waktu sekitar 15-20 tahun untuk berkembang, sehingga sangat penting untuk terdeteksi secara dini. Semoga kisah di atas dapat membuka cakrawala hati anda mengenai pentingnya kesehatan. Memiliki tubuh ideal dan proporsional adalah dambaan setiap insan. Namun alangkah lebih indah bila tubuh yang ideal ini memiliki kesehatan yang prima tanpa mengorbankan diri hanya untuk menyenangkan orang lain. Sehat itu mahal harganya. Jagalah kesehatan anda dengan baik. Sayangi diri anda. Anda begitu berharga dan pantas mendapatkan seseorang yang juga menghargai diri anda dan menerima anda apa adanya.

MEMAHAMI ANOREKSIA & BULIMIA


Mengenali anoreksia dan bulimia pada tahap dini bukanlah hal yang gampang dilakukan. Ini pula yang mempersulit terapi. Namun demikian, ada sejumlah gejala yang biasanya dialami oleh penderita. Keluarga dan teman-teman dekat penderita penting mewaspadai gejala-gejala tersebut agar dapat memberikan bantuan: Pertama, penderita anoreksia dan bulimia umumnya tidak pernah merasa puas pada berat tubuh diri sendiri meski bobotnya terhitung normal. Bahkan pun jika berat badannya di bawah ideal ia tetap akan merasa kegemukan. Kedua, kehilangan berat badan dalam waktu singkat, sekurangnya 15 persen dari berat badan normal). Ketiga, melakukan latihan atau olah raga secara berlebihan dengan tujuan menurunkan berat badannya. Keempat, terobsesi untuk diet mati-matian. Pada taraf yang lebih lanjut, penderita akan mulai kehilangan siklus haid, bahkan bisa sampai tiga kali berturut-turut. Penderita juga biasanya mengalami kerontokan rambut, sensitif terhadap rasa dingin, menarik diri dari keluarga dan pergaulan, sulit mengenali kebutuhan dasar seperti rasa lapar atau sedih, dan sulit berkonsentrasi.

Korban terbanyak dari gangguan pola makan ini adalah perempuan, khususnya mereka yang masih berusia muda dan mengalami masalah emosional seperti kurangnya rasa percaya diri. Namun di beberapa negara di antara korban yang memerlukan terapi banyak pula yang berasal dari golongan wanita karir berusia dewasa. Kebanyakan dari mereka terobsesi menjadi ''superwoman''. Mereka umumnya ''termakan'' oleh citra sosial bahwa seorang wanita sukses adalah pintar dan cantik, serta -- tentu saja -- langsing. Dalam mengobati atau memberikan terapi pada kasus gangguan pola makan khususnya bulimia, dokter terkadang menggunakan obat antidepresi. Masih belum diketahui secara pasti mengapa obat tersebut bisa bermanfaat pada kasus-kasus tersebut. Namun kandungan zat fluoxetine pada obat tersebut ternyata bisa mengatur kadar serotonin dalam otak yang berfungsi mengatur suasana hati. ''Obat tersebut mengurangi tingkah laku impulsif dan mengurangi desakan untuk makan secara tak terkontrol (pada kasus bulimia),'' ujar dr Ung, dari Singapura. Sayangnya, tidak ada obat yang benar-benar efektif untuk anoreksia. Ini berarti, terapi kasus ini lebih dilakukan pada konseling dan bujukan. Terapi fisik seperti rehidrasi, pemberian makanan melalui infus, dan obat untuk mengurangi gangguan lambung biasa digunakan. Semua pengobatan nutrisi tersebut diharapkan mampu mencegah komplikasi seperti busung lapar dan gangguan kerja jantung pada kasus yang amat berat. Yang tak kalah pentingnya dalam terapi tersebut, dokter atau terapis harus berhasil menggali masalah emosional yang ditanggung si pasien. Biasanya, si pasien akan mendapat terapi konseling satu per satu untuk membangun rasa

percaya dirinya. Peran keluarga juga amat penting dalam terapi ini. Pasalnya, keluarga diharapkan bisa memberikan bantuan terus-menerus untuk menyembuhkan gangguan pola makan sejak pertama kalinya. Setelah terapi atau pengobatan berjalan sukses, efek samping masih tetap mungkin muncul. Beberapa kasus menunjukkan bahwa pasien masih terus berjuang untuk ''menerima'' makanan. Tujuan utama dari berbagai terapi ini adalah bagaimana si pasien bisa mengontrol pola makannya, bukan malah pola makan yang mengaturnya(Sumber : Republika) Istilah : Bulimia : Bulimia adalah gangguan pola makan yang serius, dimana seseorang makan makanan dengan jumlah yang banyak dalam waktu singkat (misalnya saat pesta) dan kemudian dia membersihkan diri dari makanan itu dengan memuntahkan kembali makanan tersebut, dengan cara merangsang dirinya untuk muntah untuk menghindari bertambahnya berat badan . Mereka mungkin juga menggunakan laxatives (obat Pencahar) guna membuat makanan cepat meninggalkan system pencernaan mereka sehingga penyerapan makanan akan kurang. Orang dengan bulimia mungkin juga melakukan penyalahgunaan obat diit atau latihan fisik yang berlebihan agar mendapatkan berat badan yang ideal menurut mereka. Efek dari bulemia sangat serius.

Anorexia : Penderita Anorexia memiliki tujuan yang sama dengan Bulimia yaitu ingin mendapatkan berat badan yang ideal menurut mereka, namun bedanya orang Anorexia dengan sengaja membatasi diriya dari makan (membuat dirinya sendiri seperti kelaparan). Selalu merasa tubuhnya gemuk meskipun terkadang berat badannya sampai 15% di bawah berat badan normal. Mereka juga melakukan hal yang sama demi berat badan idealnya seperti olah raga yang berlebihan, bahkan sampai terjadi dehidrasi (kekurangan cairan tubuh) Label: anoreksia, anorexia, artikel hypnotherapy, bulimia, Hipnoterapi, klinik hipnoterapi, penyakit pikiran, psikoterapi, susah makan

Beri Nilai