Anda di halaman 1dari 10

ESTIMASI SUMBERDAYA BATUBARA DENGAN MENGGUNAKAN METODA SEGITIGA Leave a comment

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sejalan dengan meningkatnya pembangunan nasional, pemanfaatan sumber daya alam yang tersedia merupakan tujuan utama, sehingga pembangunan tersebut dapat menghemat dan menghasilkan devisa negara. Di Indonesia, terdapat sumber daya alam yang sangat berlimpah, namun pemanfaatannya masih terbatas. Oleh karena itu, perlu diupayakan pengenalan dan penelitian yang terencana dan terarah, sehingga diketahui potensi yang tersedia dan pemanfaatannya dalam menunjang pembangunan yang optimal. Batubara merupakan salah satu sumber energi yang peranannya terus meningkat, mengingat cadangannya cukup banyak dengan total sumber daya sebesar 57,8 Milyar Ton, dimana sekitar 44% dikategorikan sebagai batubara peringkat rendah (low rank coal) dan 28% peringkat menengah, 27% termasuk peringkat tinggi serta 1 % peringkat sangat tinggi. Peringkat batubara ini didasarkan kriteria kalori per gram batubara seperti terlampir pada tabel 1.1. Tabel 1.1 Batubara Indonesia Berdasarkan Peringkat Peringkat Rendah Menengah Tinggi Sangat tinggi Kriteria (kkl/gr, adb) < 5100 5100 6100 6100 7100 > 7100
Nasional 25 tahun Jurusan Teknik Pertambangan

Sumber : Seminar Fakultas Teknik-UNISBA 2004

Mengingat kualitas batubara yang cukup baik dan teknologi pemanfaatan yang telah maju, maka batubara telah menjadi komoditi yang strategis, baik untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri maupun untuk menambah devisa negara melalui ekspor. Pengusaha kecil dan menengah merupakan bentuk usaha yang paling banyak keberadaannya di bumi Indonesia. Apalagi sekarang ini Indonesia sedang giat-giatnya membangun di semua bidang terutama pembangunan di bidang pertambangan yang menuju pada pembangunan ekonomi yang adil dan merata, maka usaha penambangan batubara merupakan salah satu contoh

usaha dibidang pertambangan yang bisa diharapkan dalam menyokong pertumbuhan ekonomi kearah yang lebih baik khususnya untuk penduduk di sekitar lokasi penambangan. Pada saat ini perkembangan industri pertambangan batubara cukup meningkat. Dengan ketersediaan potensi cadangan yang cukup besar dan harga yang memadai di pasaran, dan mengingat naiknya harga bahan bakar minyak sekarang ini, kemajuan industri ini tergantung dari besarnya konsumsi batubara dari industri pemakainya. Ditinjau dari industri pemakainya, maka batubara dapat dipakai untuk industri besar dan industri kecil, sedangkan penggunaannya sebagai bahan bakar dan bahan baku. Sumber daya batubara (Coal Resources) di Indonesia cukup besar dengan total cadangan kurang lebih 39 milyar ton. Bila diasumsikan laju pertumbuhan produksi batubara mencapai 12,4 % per tahun, maka batubara Indonesia dapat dimanfaatkan hingga tahun 2166. Lokasi cadangan umumnya berada di Sumatera (64%) dan Kalimantan (35%). Sementara itu daerah-daerah lain seperti pulau Jawa dan Sulawesi walaupun cadangannya sedikit tetapi telah dimanfaatkan, karena di kedua daerah tersebut lokasi konsumen tidak jauh. Sehingga batu bara tetap ekonomis untuk dimanfaatkan. Di pulau Jawa, banyak pemakai batubara untuk berbagai keperluan, sedangkan di Sulawesi terdapat pabrik semen dengan kapasitas yang cukup besar. Cadangan batu bara Indonesia saat ini berjumlah sekitar 7 miliar ton yang terdiri dari batu bara berkualitas rendah, yaitu lignite (49%), dan sub-bituminous (26%), serta batu bara berkualitas tinggi yaitu bituminous (24%) dan antrachite (1%). Cadangan batubara (Coal Reserves) adalah bagian dari sumber daya batubara yang telah diketahui dimensi, sebaran kuantitas, dan kualitasnya, yang pada saat pengkajian kelayakan dinyatakan layak untuk ditambang Batubara berkualitas rendah ditandai dengan kandungan air yang tinggi dan karbon yang rendah. Sementara itu, batu bara berkualitas tinggi memiliki kandungan air yang rendah dan karbon yang tinggi, dan umumya dijual ke pasar ekspor internasional Sebelum melakukan eksploitasi maka diperlukan suatu tahapan eksplorasi yang akan memudahkan dalam penentuan suatu cebakan-cebakan batubara, menentukan kecenderungan akumulasi endapan batubara dan penyebarannya secara lateral. Disamping itu potensi kuantitas dan kualitas dari sumberdaya batubara dapat ditentukan dari tahapan eksplorasi. Eksplorasi batu bara umumnya dilaksanakan melalui empat tahap, survei tinjau, prospeksi, eksplorasi pendahuluan dan eksplorasi rinci. Tujuan penyelidikan geologi ini adalah untuk mengidentifikasi keterdapatan, keberadaan, ukuran, bentuk, sebaran, kuantitas, serta kualitas suatu endapan batu bara sebagai dasar analisis/kajian kemungkinan dilakukannya investasi. Tahap penyelidikan tersebut menentukan tingkat keyakinan geologi dan kelas sumber daya batubara yang dihasilkan.

BAB II Permodelan Cadangan

2.1 Penaksiran Cadangan Penaksiran cadangan merupakan salah satu tugas terpenting dan berat tanggungjawabnya dalam mengevaluasi suatu proyek pertambangan karena semua keputusan-keputusan teknis amat tergantung padanya. Model cadangan yang dibuat adalah pendekatan dari keadaan cadangan nyata berdasarkan data/informasi yang tersedia dan masih mengandung ketidakpastian. Ada beberapa hal yang mendasari sehingga penaksiran cadangan dianggap penting, antara lain: 1) Penaksiran cadangan merupakan taksiran dari kuantitas (tonase) dan kualitas dari suatu cadangan. 2) Penaksiran cadangan memberikan perkiraan bentuk 3 dimensi dari cadangan serta distribusi ruang (spatial) dari nilainya. Hal ini penting untuk menentukan urutan atau tahapan penambangan yang pada gilirannya akan mempengaruhi pemilihan peralatan dan Net Present Value (NPV) dari tambang. 3) Jumlah cadangan menentukan umur tambang. Hal ini penting dalam perancangan pabrik pengolahan dan kebutuhan infrastruktur lainnya. 4) Batas-batas kegiatan penambangan (pit limit) dibuat berdasarkan taksiran cadangan. Faktor ini harus diperhatikan dalam menentukan lokasi penambangan tanah atau batuan penutup dan tailing (waste dump & tailing impoundment), pabrik pengolahan bijih, bengkel dan fasilitas lainnnya. Syarat syarat untuk dapat melaksanakan penaksiran cadangan suatu daerah cadangan penambangan antara lain: a) Suatu taksiran cadangan harus mencerminkan kondisi geologis dan karakter atau sifat dari mineralisasi. b) Penaksiran cadangan harus sesuai dengan tujuan dari evaluasi suatu model cadangan yang akan digunakan untuk perancangan tambang harus konsisten dengan metode penambangan dan teknik perencanaan tambang yang akan diterapkan.

c) Taksiran yang baik harus didasarkan pada data faktual yang diolah atau diperlakukan secara obyektif. Keputusan dipakai tidaknya suatu data dalam penaksiran harus diambil dengan padanan yang jelas dan konsisten. Tidak boleh ada pembobotan data yang semena-mena. Pembobotan yang berbeda harus dilakukan dengan dasar yang kuat. d) Metode penaksiran yang digunakan harus memberikan hasil yang dapat diuji ulang atau diverifikasi. Tahap pertama setelah penaksiran cadangan selesai dilakukan adalah memeriksa atau mengecek taksiran kadar blok (unti penambangan kecil). Hal ini dilakukan dengan menggunakan data pemboran (komposit atau assay) yang ada disekitarnya. Setelah penambangan dimulai, taksiran kadar dari model cadangan harus diperiksa ulang dengan kadar dan tonase hasil penambangan yang sesungguhnya. 2.2 Metode Penaksiran Cadangan Prinsip umum dalam penaksiran cadangan adalah bagaimana mendapatkan suatu nilai pengganti terbaik dari sejumlah perconto yang diambil dari suatu badan mineral. Secara lebih spesifik kita ingin menaksir kadar pada suartu lokasi dimana kita tidak memiliki data dengan menggunakan sejumlah perconto yang letaknya dekat dengan lokasi terbentuk. Ada beberapa metode yang dapat digunakan antara lain metode konvensional dan geostatistik. Metode konvensional dapat dibagi menjadi empat kelompok, yaitu metode luas dan faktor ratarata, metode blok-blok penambangan, metode penampang, dan metode analitik. Untuk memilih salah satu diantara metode itu diperlukan beberapa pertimbangan, yaitu analisis cadangan, tujuan perhitungan cadangan, system penambangan dan prinsip-prinsip dari interpretasi dan eksplorasi yang dipakai. Rumus-rumus yang digunakan untuk menghitung volume, tonase, faktor rata-rata merupakan suatu pendekatan. Hal ini disebabkan bentuk dan ukuran badan bijih yang tidak teratur, penyederhanaan geometris, interpretasi geologi, dan asumsi dari variable-variabel yang tidak konsisten (Popoff,1966). Hasil dari permodelan dan penghitungan cadangan ini juga sangat berperan untuk memberikan analisis tentang apa yang akan kita lakukan terhadap tambang baik itu tentang metoda penambangan yang akan digunakan, batasan lokasi penambangannya (pit limit) atau bahkan perkiraan tentang umur dari penambangan tersebut. Hasil tersebut dimungkinkan karena perkiraan umur suatu penambangan akan dipengaruhi oleh jumlah cadangan yang ada. Hal yang sedikit berbeda diberikan dalam pemodelan sumberdaya dan penghitungan cadangan untuk batubara, langkah yang dilakukan akan lebih kompleks dan spesiifik lagi. Hal ini disebabkan karena cadangan batubara itu berbentuk lapisan-lapisan sehingga pemodelan dan perhitungan cadangannnya juga akan saling berhubungan yang berarti perkiraan penambangannya tidak bisa hanya untuk satu seam lapisan batubara saja. Kita dapat mengambil contoh, bahwa untuk permodelan dan perhitungan cadangan batubara maka keadaan antar lapisan itu sangat diperhitungkan yang berarti bila memungkinkan untuk pengambilan batubara pada satu seam apakah itu juga memungkinkan untuk pengambilan seam selanjutnya. Hal ini

kembali lagi pada nilai ekonomis pada batubara tersebut yaitu apakah dengan batubara yang kita ambil itu maka hasil penjualannya dapat mengganti biaya yang dikeluarkan untuk pengambilanya. Inilah alasan yang membuat permodelan dan perhitungan cadangan batubara menjadi sangat penting khusunya pada penambangan batubara. Secara umum permodelan sumberdaya dan perhitungan cadangan batubara memerlukan datadata dasar sebagai berikut : 1. Peta Topografi 2. Data penyebaran singkapan batubara 3. Data sebaran titik bor 4. Peta Geologi 5. Peta Situasi Keterkaitan antar seam sangat diperhatikan dalam pemodelan dan perhitungan cadangan batubara maka data yang diperlukan pada permodelan dan perhitungan cadangan batubara juga menjadi sangat kompleks. Penggambaran persebaran batubara tidak hanya untuk satu lapisan saja melainkan juga keseluruhan lapisan sehingga pada analisa akhir dapat ditetapkan nilai cadangan yang potensial baik secara teknis maupun secara ekonomis. Pengolahan data yang harus kita lakukan juga sangat beragam, tergantung mana yang dapat memberikan nilai yang lebih tepat. Tetapi tetap saja pada permodelannya haruslah dapat menunjukkan semua segi dengan lengkap dan tepat khususnya secara visual, baik itu tentang topografinya, gambaran tiap seamnya baik roof atau floornya, dan gambaran ketebalan tiap lapisan serta data tentang overburdennya. Aplikasi penggunaan komputer untuk pengolahan datanya juga akan sangat membantu dibanding dengan menggunakan pengolahan secara manual, selain dari segi keakuratan yang jauh lebih teliti dengan menggunakan komputer. Beberapa program aplikasi yang sering digunakan mampu memberikan permodelan dan perhitungan secara langsung akan tetapi sering pula harus memadukan kemampuan antara dua atau lebih program aplikasi. Dalam menaksir suatu sumberdaya mineral, diperlukan suatu persyaratan penaksiran data lapangan melihat pentingnya bahwa semua keputusan teknis sangat tergantung pada data lapangan merupakan salah satu tugas penting dan mempunyai tanggungjawab yang berat dalam evaluasi sumberdaya (resource). Model data yang kita buat adalah pendekatan dari realitas, berdasarkan data/informasi yang kita dapatkan di lapangan. Beberapa faktor yang menentukan dalam perhitungan cadangan yaitu ; 1. Luas dan Ketebalan 2. Kadar dari pada Bahan Galian (bijih) 3. Berat jenis

4. Sebaran Bahan Galian (Endapan Mineral), dll Validitas data berkaitan dengan tingkat keyakinan dari data geologi terhadap suatu model akan tergantung dari ; 1. Jarak antar titik informasi 2. Konsep dalam pengkorelasian data 3. Tingkat ketelitian dalam mengidentifikasi struktur geologi

2.3

METODA ESTIMASI SUMBERDAYA BATUBARA

Kegiatan evaluasi data ini merupakan rangkuman antara studi awal dan interpretasi lapangan dengan hasil analisis laboratorium sehingga diperoleh data dan informasi yang lebih akurat, untuk selanjutnya diolah menurut rumusan-rumusan pemetaan bahan galian golongan A dengan meliputi beberapa aspek. 2.3.1 Estimasi Potensi Sumberdaya Bahan Galian

Badan Standarisasi Nasional (BSN) telah menetapkan pembakuan mengenai klasifikasi Sumberdaya Mineral dan Cadangan SNI No. 13-4726-1998. Dalam pembakuan ini didefinisikan bahwa Sumber Mineral (mineral resource) adalah endapan mineral yang diharapkan dapat dimanfaatkan secara nyata. Sumberdaya mineral dengan keyakinan geologi tertentu dapat berubah menjadi cadangan setelah dilakukan pengkajian kelayakan tambang dan memenuhi kriteria layak tambang. Keyakinan geologi diperoleh berdasarkan tahap penyelidikan sebagai berikut : 1. Survei Tinjau (reconnaissance) adalah tahap eksplorasi untuk mengidentifikasi daerah berpotensi bagi keterdapatan mineral pada skala regional berdasarkan hasil studi geologi regional, diantaranya pemetaan geologi regional, pemotretan udara dan metoda tidak langsung lainnya, dan inspeksi lapangan pendahuluan yang penarikan kesimpulannya berdasarkan ekstrapolasi. 2. Prospeksi (Prospecting) adalah tahap eksplorasi pemetaan geologi untuk mengidentifikasi singkapan, dan metoda yang tidak langsung seperti studi geokimia dan geofisika. Paritan yang terbatas, pemboran dan pencontohan mungkin juga dilaksanakan. Estimasi kuantitas dihitung berdasarkan interpretasi data geologi,geokimia dan geofisika. 3. Eksplorasi Umum (General Exploration) adalah tahap eksplorasi yang merupakan delineasi awal dari suatu endapan yang teridentifikasi. Metoda yang digunakan termasuk pemetaan geologi, pencontohan dengan jarak yang lebar, membuat paritan dan pemboran untuk evaluasi pendahuluan kuantitas dan kualitas dari suatu endapan. Interpolasi bisa dilakukan secara terbatas berdasarkan metoda penyelidikan tak langsung.

4. Eksplorasi Terinci (Detailed Exploration) adalah tahap eksplorasi untuk mendeliniasi secara rinci dalam 3 dimensi terhadap endapan mineral yang telah diketahui dari pencontohan singkapan, paritan, lubang bor, shafts dan terowongan. Jarak pencontohan sedemikian rapat sehingga ukuran, bentuk, sebaran, kemenerusan, kuantitas dan kualitas serta ciri-ciri yang lain dari endapan mineral tersebut dapat ditentukan dengan tingkat ketelitian yang tinggi. Uji pengolahan dari pencontohan ruah (bulk sampling) mungkin diperlukan. Berdasarkan tahap penyelidikannya, Sumberdaya Mineral dikelompokkan menjadi empat kategori, yaitu: a) Sumberdaya Mineral Hipotetik (hypothetical mineral resource) adalah sumberdaya mineral yang kuantitas dan kualitasnya diperoleh berdasarkan perkiraan pada tahap Survai Tinjau. b) Sumberdaya Mineral Tereka (inferred mineral resource) adalah sumberdaya mineral yang kuantitas dan kualitasnya diperoleh berdasarkan hasil tahap Prospeksi. c) Sumberdaya Mineral Terunjuk (indicated mineral resource) adalah sumberdaya mineral yang kuantitas dan kualitasnya diperoleh berdasarkan hasil tahap Eksplorasi Umum. d) Sumberdaya Mineral Terukur (measured mineral resource) adalah sumberdaya mineral yang kuantitas dan kualitasnya diperoleh berdasarkan hasil tahap Eksplorasi Terinci. Sedangkan yang dimaksud dengan Cadangan (reserve) adalah endapan mineral yang telah diketahui ukuran, bentuk, sebaran, kemenerusan, kuantitas dan kualitasnya dan yang secara ekonomi, pemasaran, teknologi (penambangan, pengolahan), kebijaksanaan pemerintah, hukum, lingkungan dan sosial dapat ditambang pada saat perhitungan dilakukan. Cadangan dikelompokkan menjadi 2 kategori yaitu: 1. Cadangan Terkira (probable reserve) adalah sumberdaya mineral terunjuk dan sebagian sumberdaya mineral terukur yang tingkat keyakinan geologinya masih lebih rendah, yang berdasarkan studi kelayakan tambang semua faktor yang terkait telah terpenuhi, sehingga penambangan dapat dilakukan secara ekonomis. 2. Cadangan Terbukti (proved reserve) adalah sumberdaya mineral terukur yang berdasarkan studi kelayakan tambang semua faktor yang terkait telah terpenuhi, sehingga penambangan dapat dilakukan secara ekonomis. Dalam proses penambangan sering digunakan istilah atau jenis cadangan sebagai berikut: 1. Cadangan geologi (geological reserve) adalah sejumlah cadangan yang batas-batasnya ditentukan oleh suatu model geologi. Dalam cadangan ini belum diperhitungkan faktor lain seperti prosentase perolehan penambangan dan pengurang lainnya. 2. Cadangan dapat ditambang (mineable reserve) adalah sejumlah cadangan yang secara teknis-ekonomis dapat ditambang. Faktor seperti cut-of grade dan stripping ratio telah diperhitungkan. 3. Cadangan terambil (recoverable reserve) adalah sejumlah cadangan dari mineable reserve yang telah memperhitungkan faktor prosentase perolehan penambangan.

2.3.2

Metoda Estimasi Sumberdaya

Estimasi sumberdaya secara konvensional dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu metoda plan (Planar Method) dan metoda penampang (Sectional Method). Metoda plan meliputi metoda segi banyak (Poligonal Method) atau metoda blok, metoda daerah pengaruh (Area Of Influence Method), metoda segitiga (Trigonal Method). Metoda Segitiga

Metoda ini digunakan untuk blok sumberdaya yang didasarkan oleh desain eksplorasi dengan menggunakan cara segitiga atau acak. Penghitungan rata-rata (ketebalan, kadar dls). Didasarkan dari setiap titik/ujung segitiga.

Gambar 3.1

Metoda Segitiga LST = {s(s a)(s b)(s c)}1/2 s = (a + b + c) dimana : a, b, dan c = titik-titik lubang bor Tebal batubara = Tebal semu batubara cos dip Ketebalan rata-rata = (a + b+ c) m / 3 V = Luas ketebalan rata-rata

2.4

Sumber Daya dan Cadangan Batubara

2.4.1 Klasifikasi Sumberdaya dan Cadangan Batubara Menurut kamus istilah Teknik Pertambangan Umum (DJPU, 1994)

Sumberdaya Mineral / Batubara adalah endapan mineral berharga yang terdapat disuatu wilayah, baik yang sudah diketahui maupun yang masih bersifat potensi. Cadangan adalah kumpulan cebakan bahan galian yang mempunyai nilai ekonomis untuk ditambang.

Dapat disimpulkan bahwa sumberdaya lingkupnya lebih besar daripada cadangan, dan sumberdaya dapat menjadi cadangan apabila secara teknis penambangan dan pengolahannya dapat menguntungkan secara ekonomis. 2.4.2 Dasar Klasifikasi Dua hal yang menjadi faktor utama dalam pengklasifikasian sumberdaya dan cadangan adalah : 1. Faktor Geologi Semakin rapat titik formasi geologi yang diperoleh akan meningkatkan keyakinan kemenerusan dan penyebaran geologinya. Hal ini juga menandakan bahwa semakin jauh tahapan eksplorasi yang dilalui seharusnya juga meningkatkan kelas dari sumberdaya / cadangan tersebut. 2. Faktor Ekonomi Faktor ini memegang peranan penting dalam tahapan kelayakan kepastian kegiatan tambang dapat dilakukan atau tidak. Banyak hal yang menjadi pertimbangan untuk faktor ini, diantaranya ; faktor pasar, lingkungan, pengolahan, pemerintahan, dan teknis. Faktor batubara juga menjadi pertimbangan, karena ada batasan secara umum untuk ketebalan minimum batubara dan ketebalan overburden maksimum agar masih bisa ditambang. Perubahan sumberdaya menjadi cadangan sangat dipengaruhi oleh tingkat kelayakan endapan batubara.

Tabel 3.1 Jarak Titik Informasi Menurut Kondisi Geologi (BSN, 1997) Kondisi Geologi Sederhana Moderat Kompleks Sumberdaya Hipotetik Tereka 1000 < X = 1500 Tak Terbatas 500 < X = 1000 200 < X = 400

Kriteria Jarak Titik Formasi

Terunjuk 500 < X = 1000 250 < X = 500 100 < X = 200

Terukur X = 500 X = 250 X = 100

Tabel 3.2 Persyaratan Ketebalan Batubara dan Overburden (BSN, 1997) Ketebalan Lapisan Batubara Jenis Batubara Brown Coal > 1,00 meter < 0,30 meter

Hard Coal > 0,40 meter < 0,30 meter