Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN TRAUMA GINJAL

Di susun untuk melengkapi tugas seminar di semester IV tingkat 2 Dosen pengampu: Sri Rahayu, S.kep. Ns

Di susun oleh
1. DANANG SETIAWAN 2. IJANG WALUYA 3. IRMAWATI 4. LIYASARI 5. M. NAZIRUDIN 6. SUGIYARTO 7. SULISTIANINGRUM

AKADEMI KEPERAWATAN PRAGOLOPATI PATI

TAHUN AKADEMI 2011/2012

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sistem urinaria adalah suatu sistem di mana terjadinya proses penyaringan darah sehingga darah terbebas dari zat-zat yang tidak di pergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih di pergunakan oleh tubuh. Zat yang tidak berguna oleh tubuh larut dalam air dan di keluarkan berupa urine Sistem urinaria terdiri dari dua ginjal, dua ureter, kandung kemih dan uretra. Dalam bab ini yang di bahas adalah ginjal yang mengalami trauma sehingga mengetahui penyimpangan-penyimpangan fungsi ginjal Suplai darah ginjal oleh arteri renalis dari aorta, arteri renalis dextra melewati bagian belakang vena cava inferior. Jumlah darah yang melewati ginjal sangat besar. Drainase vena oleh vena renalis ke dalam vena cava inferior, vena renalis sinistra melewati bagian depan aorta. Ginjal di susun oleh nefron yaitu unit terkecil dari ginjal B. Tujuan Tujuan di susun makalah ini adalah: 1. Mengetahui sistem perkemihan terutama ginjal 2. Mengetahui bahaya trauma ginjal 3. Menyelesaikan salah satu tugas seminar tinkat 2 semester IV khususnya kuliah keperawatan sistem perkemihan A1

BAB II TRAUMA GINJAL A. Pengertian Trauma Ginjal adalah suatu penyakit ginjal yang disebabkan oleh trauma tumpul atau trauma tajam (FKUI:2000) Cedera renal yang paling sering adalah kontusi, laserasi, ruptur, dan cedera pedikel renal atau laserasi internal kecil pada ginjal (Brunner & Suddart:2001) Trauma renal adalah cedera pada ginjal yang di sebabkan oleh berbagai macam ruda paksa daik tumpul maupun paksa http://nursing-keperawatan.blogspot.com/2008/09/trauma-ginjal.html

Klasifikasi Tujuan pengklasifikasian trauma ginjal adalah untuk memberikan pegangan dalam terapi dan prognosis. Trauma renal dapat di golongkan berdasarkan mekanisme cidera, lokasi anatomis atau keparahan cidera 1. Trauma Minor Lesi meliputi: a. Kontusi ginjal b. Minor laserasi korteks dan medulla tanpa gangguan pada sistem pelviocalices c. Hematom minor dari subcapsular atau perinefron (kadang kadang) 75 80 % dari keseluruhan trauma ginjal 2. Trauma Mayor Mencakup laserasi mayor di sertai pupture kapsul ginjal. Cedera ini dapat di tangani secara konservatif ( tirah baring tanpa pembadahan) atau melalui intervensi bedah 3. Trauma Kritikal Meliputi laserasi multiple yang parah pada ginjal di sertai cidera pada suplai faskuler ginjal. Cedera kritikal kebanyakan cedera penetrasi memerlukan bedah eksplorasi akibat tingginya insiden keterlibatan organ lain dan seriusnya komplikasi yang terjadi jika cidera tidak di tangani

B. Etiologi 1. Adanya cedera traumatik menyebabkan ginjal dapat tertusuk oleh iga paling bawah sehingga terjadi kontusi atau ruptur 2. Fraktur iga atau fraktur tranfersum vertebra lumbal dapat di hubungkan dengan kontusi renal atau laserasi 3. Cedera tumpul (kecelakaan lalu lintas, jatuh, cedera atletik, pukulan) 4. Penetrasi (luka tembak, luka tikam) 5. Lalai dalam menggunakan sabuk pengaman dapat menimbulkan trauma renal pada kecelakaan lalu lintas (Brunner &Suddart:2001) C. Tanda dan Gejala Tanda dan gejala dari trauma ginjal antara lain : 1. Bengkak dan memar daerah pinggang ( swelling & bruising renal angle ) 2. Distensi abdomen akibat penimbunan darah atau urine 3. Dapat terjadi ileus 4. Berkurangnya produksi air kemih 5. Bengkak tungkai, kaki atau pergelangan kaki 6. Nyeri pinggang hebat ( kolik ) 7. Demam 8. Mual dan muntah (Brunner &Suddart:2001) D. Patofisiologi Trauma tajam seperti tembakan dan tikaman pada abdomen bagian atas atau pinggang merupakan 10 20 % penyebab trauma pada ginjal di Indonesia. Trauma iatrogenik pada ginjal dapat disebabkan oleh tindakan operasi atau radiologi intervensi, dimana di dalamnya termasuk retrograde pyelography, percutaneous nephrostomy, dan percutaneous lithotripsy. Dengan semakin meningkatnya popularitas dari teknik-teknik di atas, insidens trauma iatrogenik semakin meningkat , tetapi kemudian menurun setelah diperkenalkan ESWL. Biopsi ginjal juga dapat menyebabkan trauma ginjal .

Trauma tumpul merupakan penyebab utama dari trauma ginjal. Dengan lajunya pembangunan, penambahan ruas jalan dan jumlah kendaraan, kejadian trauma akibat kecelakaan lalu lintas juga semakin meningkat. Trauma tumpul ginjal dapat bersifat langsung maupun tidak langsung. Trauma langsung biasanya disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas, olah raga, kerja atau perkelahian. Trauma ginjal biasanya menyertai trauma berat yang juga mengenai organ organ lain. Trauma tidak langsung misalnya jatuh dari ketinggian yang menyebabkan pergerakan ginjal secara tiba tiba di dalam rongga peritoneum. Kejadian ini dapat menyebabkan avulsi pedikel ginjal atau robekan tunika intima arteri renalis yang menimbulkan trombosis. Ada beberapa faktor yang turut menyebebkan terjadinya trauma ginjal. Ginjal yang relatif mobile dapat bergerak mengenai costae atau corpus vertebrae, baik karena trauma langsung ataupun tidak langsung akibat deselerasi. Kedua, trauma yang demikian dapat menyebabkan peningkatan tekanan subcortical dan intracaliceal yang cepat sehingga mengakibatkan terjadinya ruptur. Yang ketiga adalah keadaan patologis dari ginjal itu sendiri. Sebagai tambahan, jika base line dari tekanan intrapelvis meningkat maka kenaikan sedikit saja dari tekanan tersebut sudah dapat menyebabkan terjadinya trauma ginjal. Hal ini menjelaskan mengapa pada pasien yang yang memiliki kelainan pada ginjalnya mudah terjadi trauma ginjal. (Mc.Aninch:2000) E. KOMPLIKASI Komplikasi awal terjadi I bulan pertama setelah cedera 1. Urinoma 2. Delayed bleeding 3. Urinary fistula 4. Abses 5. Hipertensi Komplikasi lanjut 1. Hidronefrosis 2. Arteriovenous fistula 3. Piolenofritis

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG a. Pemeriksaan radiologi Sebagian besar trauma tumpul ginjal adalah derajat 1 ( kontusio ginjal ) yang dapat sembuh spontan tanpa komplikasi lanjutan. b. Intravenous Urography Tujuan pemeriksaan ini untuk melihat adanya ekstravasasi urin dan pada trauma tajam untuk melihat alur peluru. Pemeriksaan ini sangat akurat untuk melihat adanya trauma ginjal. Tetapi tidak sensitif dan spesifik untuk melihat adanya cidera parenkim ginjal. c. CT scan Pada pasien yang stabil dapat dilakukan pemeriksaan CT, yang merupakan pemeriksaan yang sensitif dan spesifik untuk menentukan laserasi parenkim, ekstravasasi urin, infark segmental, dan melihat hematom retroperitoneal atau cidera organ intra abdomen yang lain ( hepar, limpa, pankreas, danusus ). d. Ultrasonography Pemeriksaan ini terutama ditujukan untuk melihat adanya hemoperitoneum pada trauma tumpul abdomen. Tapi tidak dianjurkan untuk mengevaluasi pada trauma ginjal yang akut, mengingat terbatasnya visualisasi ginjal dan lebih tergantung pada operator yang melakukan pemeriksaan e. Arteriography Mempunyai peran selektif hanya untuk mengevaluasi dan terapi persistent delayed renal bleeding atau symptomatic post traumatic arterio - venous fistulas. Pemeriksaan sinar X untuk ginjal dan saluran kemih, misalnya urografi intravena dan CT scan, dapat secara akurat menentukan lokasi dan luasnya cedera. f. Pemeriksaan darah rutin Pada stroke akut dapat terjadi hiperglikemia. Gula darah dapat mencapai 250 mg dalam serum dan kemudian berangsur - angsur turun kembali. Untuk mencari kelainan pada darah itu sendiri ( Jusuf Misbach:2000 ) G. PENATALAKSANAAN 1. Penatalaksanaan keperawatan Tujuan penatalaksanaan adalah untuk mengendalikan hemoragi, nyeri dan infeksi untuk mempertahankan dan melindungi fungsi ginjal dan mempertahankan drainase urine.

a. Hematuria merupakan manifestasi umum yang menunjukkan cedera renal. Hematuria mungkin tidak muncul atau terdeteksi hanya melalui pemeriksaan mikroskopik. Seluruh urine di kumpulkan dan di kirim ke laboratorium untuk di analisis guna mendeteksi adanya eritrosit dan untuk mengikuti jalanya perdarahan. Kadar hemoglobin dan hematokrit di pantau ketat, penurunan nilai substansi menunjukkan adanya hemoragi b. Pasien di pantau adanya oliguri dan tanda syok hemoragik, karena cedera pedikel atau ginjal yang hancur dapat menyebabkan eksanguinasi( kehilangan banyak darah yang mematikan). Hematoma yang meluas dapat menyebabkan ruptur capsul ginjal. Untuk mendeteksi hematoma, area di sekitar iga paling bawah, lumbar vertebra atas, panggul dan abdomen di palpasi akan adanya nyeri tekan. Terabnya massa di sertai nyeri tekan, bengkak, dan ekimosis pada panggul atau abdominal menunjukkan adanya hemoragie renal.area massa di tandai dengan pensil sehingga pemeriksa dapat mengevaluasi perubahan pada area tersebut c. Trauma renal sering di hubungkan dengan cedera lain pada organ abdominal (hati, usus besar, usus halus) oleh karena itu kulit pasien di kaji akan adanya abrasi, laserasi, dan tempat masuk serta keluarnya luka di abdomen atas dan thoraks bawah, karena kondisi ini mungkin berhubungan dengan cedera renal 2. Penatalaksanaan medis a. Konservatif. Pengobatan konservatif tersebut meliputi istirahat di tempat tidur, analgesik untuk menghilangkan nyeri, serta observasi status ginjal dengan pemeriksaan kondisi lokal, kadar hemoglobin, hematokrit serta sedimen urin. Penanganan trauma ginjal grade 2 masih menimbulkan suatu kontroversi. Penenganan secara konservatif, seperti yang dipilih oleh kebanyakan dokter, mengandalkan kemampuan normal ginjal untuk menyembuhkan dirinya sendiri. b. Tindakan konservatif ini dilakukan untuk menghindari dilakukannya tindakan nephrektomi. Sedangkan dokter yang memilih tindakan operatif secara dini mengemukakan bahwa finsidens terjadinya komplikasi lanjut dapat diturunkan dengan tindakan nephrektomi. c. Penanganan trauma ginjal memerlukan tindakan operatif berupa laparotomi

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN 1. Pengkajian Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan proses keperawatan untuk mengenal masalah klien, agar dapat memberi arah kepada tindakan keperawatan. Tahap pengkajian terdiri dari tiga kegiatan, yaitu pengumpulan data, pengelompokkan data dan perumusan diagnosis keperawatan ( Lismidar, 1990 ) a. Pengumpulan data Pengumpulan data adalah mengumpulkan informasi tentang status kesehatan klien yang menyeluruh mengenai fisik, psikologis, sosial budaya, spiritual, kognitif, tingkat perkembangan, status ekonomi, kemampuan fungsi dan gaya hidup klien ( Marilynn E. Doenges et al, 2001 ) b. Identitas klien Meliputi nama, umur (kebanyakan terjadi pada usia tua), jenis kelamin, pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam MRS, nomor register, diagnose medis c. Pada pola kehidupan sehari hari dapat dilihat dari : Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat. Biasanya ada riwayat perokok, penggunaan alkohol, penggunaan obat kontrasepsi oral. Pada pola eliminas. Biasanya terjadi inkontinensia urine dan pada pola defekasi biasanya terjadi konstipasi akibat penurunan peristaltik usus. Pola aktivitas dan latihan. Adanya kesukaran untuk beraktivitas karena kelemahan, kehilangan sensori atau paralise/ hemiplegi, mudah lelah. Pola tidur dan istirahat. Klien mengalami kesukaran untuk istirahat karena kejang otot/ nyeri otot Pola hubungan dan peran. Adanya perubahan hubungan dan peran karena klien mengalami kesukaran untuk beraktivitas. Pola persepsi dan konsep diri. Klien merasa tidak berdaya, tidak ada harapan, mudah marah, tidak kooperatif Pola sensori dan kognitif. Pada pola sensori klien mengalami gangguan penglihatan/ kekaburan pandangan, perabaan/ sentuhan menurun pada muka dan ekstremitas yang sakit. Pada pola kognitif biasanya terjadi penurunan memori dan proses berpikir.

Pola tata nilai dan kepercayaan. Klien biasanya jarang melakukan ibadah karena tingkah laku yang tidak stabil, kelemahan/ kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh. ( Marilyn E. Doenges, 2001 ) 2. Pemeriksaan fisik Pada pemeriksaan fisik yang diperiksa mencakup : a. Keadaan umum : nyeri pada pinggang b. Suara bicara : tidak mengalami gangguan c. Tanda-tanda vital : tekanan darah meningkat, denyut nadi bervariasi d. Pemeriksaan integumen 1. Kulit : jika klien kekurangan O2 kulit akan tampak pucat dan jika kekurangan cairan maka turgor kulit akan jelek. Di samping itu perlu juga dikaji tanda-tanda dekubitus terutama pada daerah yang menonjol karena klien stroke hemoragik harus bed rest 2-3 minggu 2. Kuku : perlu dilihat adanya clubbing finger, cyanosis 3. Rambut : umumnya tidak ada kelainan 4. Pemeriksaan kepala dan leher 5. Kepala : bentuk normal 6. Muka : simetris 7. Leher : tidak ada pembesaran kelenjar karotis e. Pemeriksaan dada Pada pernafasan kadang didapatkan suara nafas terdengar ronchi, wheezing ataupun suara nafas tambahan, pernafasan tidak teratur akibat penurunan refleks batuk dan menelan. f. Pemeriksaan abdomen Didapatkan penurunan peristaltik usus akibat bed rest yang lama, dan kadang terdapat kembung. g. Pemeriksaan inguinal, genetalia, anus Kadang terdapat incontinensia atau retensio urine h. Pemeriksaan ekstremitas Sering didapatkan kelemahan anggota gerak

Pathways Cedera traumatik & Cedera tumpul fraktur iga/ tranversum vertebra lumbal penetrasi & kecelakaan lalu lintas

Trauma Renal Robekan pembuluh darah Renal

nyeri

Perdarahan Mengganggu fungsi Ginjal

terdapat darah dalam urine Memperbaiki fungsi kehilangan eritrosit ginjal

G3 keseimbangan cairan & elektrolit

Eritrosit menurun

prosedur operasi

Peningkatan leukosit Tanda peradangan

gangguan sirkulasi Darah kulit pucat

cemas

Resiko infeksi G3 perfusi jaringan

A. Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan ditetapkan berdasarkan analisa dan interpretasi data yang diperoleh dari pengkajian keperawatan klien. Diagnosa keperawatan memberikan gambaran tentang masalah atau status kesehatan klien yang nyata ( aktual ) dan kemungkinan akan terjadi ( potensial ) di mana pemecahannya dapat dilakukan dalam batas wewenang perawat. Adapun diagnosa yang mungkin muncul adalah : 1. Nyeri ( akut ) berhubungan dengan trauma ginjal 2. Cemas berhubungan dengan prosedur pembedahan 3. Ganggauan keseimbangan cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan berhubungan dengan perdarahan 4. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan gangguan sirkulasi darah 5. Resiko infeksi behubungan dengan trauma ginjal (NANDA:2006) Intervensi Keperawatan Rencana asuhan keperawatan merupakan mata rantai antara penetapan kebutuhan klien dan pelaksanaan keperawatan. Dengan demikian rencana asuhan keperawatan adalah petunjuk tertulis yang menggambarkan secara tepat mengenai rencana tindakan yang dilakukan terhadap klien sesuai dengan kebutuhannya berdasarkan diagnosa keperawatan. Rencana keperawatan dari diagnosa keperawatan diatas adalah : a. Nyeri ( akut ) berhubungan dengan trauma ginjal Tujuan: Setelah di lakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam di harapkan nyeri pasien berkurang dengan kriteria hasil: 1. Tidak ada ekspresi lisan atau wajah 2. Tidak ada posisi tubuh melindungi 3. Tidak ada kegelisahan atau ketegangan otot 4. Tidak ada perubahan dalam kecepatan pernapasan, denyut jantung atau tekanan darah

Intervensi: 1. Kaji nyeri, amati lokasi dan intensitasnya ( skala 0 10 ) Rasional: mengetahui tingkat nyeri yang di rasakan pasien 2. Pertahankan bedrest jika diindikasikan Rasional: Mengurangi aktivitas dapat mengurangi rasa nyeri 3. Menganjurkan tehnik relaksasi/nafas dalam serta aktivitas diversional Rasional: mengurangi rasa nyeri pasien 4. Berikan kompres dingin pada daerah sekitar trauma Rasional: vasokontriksi serabut-serabut saraf besar menekan serabut saraf kecil sehungga impuls nyeri ke otak terhambat b. Cemas berhubungan dengan prosedur pembedahan Tujuan : Setelah di lakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam di harapkan Pasien menunjukkan penurunan kecemasan dan ketakutan dengan kriteria hasil: 1. Pasien dapat rileks 2. Mengungkapkan informasi yang akurat tentang keadaannya 3. Tidak menunjukkan perilaku agresif 4. Mengidentifikasi gejala yang merupakan indikator cemas Intervensi : 1. Berikan perhatian kepada pasien, ciptakan hubungan saling percaya dengan pasien dan support person. Rasional: mendekatkan diri kepada pasien merupakan salah satu langkah awal komunikasi terapeutik 2. Berikan informasi tentang prosedur spesifik, kateterisasi, urine berdarah, iritasi bladder. Rasional: memberi pengetahuan pasien agar dapat mengenali gejala-gejala tersebut 3. 4. Informasikan sebelum melakukan prosedur dan pertahankan privacy pasien Rasional: menanyakan persetujuan pasien Anjurkan pasien dan keluarga mengungkapkan perasaannya Rasional: mengurangi kecemasan pasien c. Ganggauan keseimbangan cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan berhubungan dengan perdarahan Tujuan:

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam di harapkan kekurangan volume cairan teratasi dan keseimbangan elektrolit asam-basa akan di capai dengan kriteria hasil: 1. Keseimbangan cairan, keseimbangan elektrolit, dan asam basa 2. Hidrasi yang edekuat 3. Status nutrisi dan asupan makanan dan cairan edekuat 4. Frekuensi irama nadi, nafas dalam rentang yang di harapkan 5. Serum dan pH urine dalam batas normal Intervensi: 1. Observasi input dan output pasien Rasional: mengetahui keseimbangan jumlah cairan yang masuk dan yang keluar 2. Monitor cairan dan elektrolit tiap 4 jam Rasional: kekurangan cairan dalam tubuh dapat mengakibatkan elastisitas kulit terganggu 3. Lakukan tranfusi bila perlu Rasional: kadar Hb yang rendah harus di lakukan tranfusi 4. Berikan cairan parenteral dan oral Rasional: menggantikan sejumlah cairan dan elektrolit yang di butuhkan tubuh 5. Kolaborasi pemasangan kateter Rasional: untuk mempertahankan drainase urine dan mengetahui hematuria d. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan gangguan sirkulasi darah Tujuan: Setelah di lakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam di harapkan pasien menunjukkan keseimbangan cairan, menunjukkan integritas jaringan kulit dan mukosa dan menunjukkan perfusi jaringan perifer dengan kriteria hasil: 1. Tekanan darah normal 2. Nadi perifer teraba 3. Tidak ada edema perifer 4. Hidrasi kulit 5. Suhu ekstremitas hangat 6. Kulit utuh, warna normal Intervensi:

1. Pantau sirkulasi perifer secara komprehensif Rasional: menilai irama dan frekuensi nadi, warna kulit dan suhu tubuh pasien 2. Pantau posisi bagian tubuh saat mandi, duduk maupun berbaring Rasional: mencegah terjadinya ulkus 3. Hindari suhu eksrim pada ekstremitas Rasional: pada sirkulasi yang terganggu, hindari suhu ekstrim karena dapat merusak kulit 4. Periksa setiap hari adanya perubahan integritas kulit Rasional: mengkaji keadaan kulit 5. Kolaborasi untuk memberikan antitrombosit atau anticoagulan jika di perlukan Rasional: mencegah pembekuan darah e. Resiko infeksi behubungan dengan trauma ginjal Setelah di lakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam di harapkan pasien dapat menunjukkan pengendalian resiko dan faktor resiko infeksi akan hilang dengan kriteria hasil: 1. Terbebas dari tanda atau gejala infeksi 2. Menunjukkan hiegine pribadi yang adekuat 3. Mengindikasikan status gastrointestinal, pernafasan, genitourinaria, dan imun dalam batas normal 4. Menggambarkan faktor yang menunjang penularan infeksi 5. Melaporkan tanda dan gejala infeksi Intervensi: 1. Pantau tanda dan gejala infeksi Rasional: melihat apakah ada tanda-tanda infeksi

2. Pantau hasil laboratorium Rasional: pada keadaan infeksi jumlah leukosit meninggi 3. Kaji faktor yang meningkatkan serangan infeksi Rasional: infeksi tidak sembuh mungkin karena usia lanjut, imun rendah atau malnutrisi 4. Batasi jumlah pengunjung bila di perlukan Rasional: memberikan rasa nyaman kepada pasien 5. Kolaborasi untuk pemberian antibiotik Rasional: untuk mencegah infeksi lebih lanjut (Doengoes:2001)

DAFTAR PUSTAKA 1. 2. 3. 4. 5. http://nursing-keperawatan.blogspot.com/2008/09/trauma-ginjal.html Brunner & Suddart. Keperawatan medikal bedah edisi 8. Jakarta EGC:2001 John Gibson. Anatomi dan fisiologi modern untuk perawat edisi 2. Jakarta. EGC:2002 NANDA. Diagnosa keperawatan. Jakarta. EGC: 2006 Doenges M.E. (2001), Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien edisi 3, Penerbit Buku Kedoketran EGC, Jakarta