Anda di halaman 1dari 12

BAB 1 PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang

Krim merupakan salah satu istilah yang secara luas digunakan dalam farmasi dan industri kosmetik. Menurut definisinya krin dapat diartikan sebagai cairan kental atau emulsi setengah padat baik bertipe air dalam minyak atau minyak dalam air. Namun dalam kenyataannya banyak produk perdagangan sering disebut krim tetapi tidak sesuai dengan definisi di atas, karena banyak hasil produksi yang nampaknya seperti krim tetapi tidak mempunyai dasar seperti emulsi. Salah satu keunggulan dari sediaan krim adalah lebih banyak disukai oleh dokter dan pasiaen daripada bentuk sediaan salep. alasannya karena pada sediaan krim lebih mudah menyabar rata selain itu untuk krim jenis emulsi mnyak dalam air lebih mudah dibersihkan daripada kebanyakan salep, serta aman bila digunakan oleh anak-anak mauun dewasa. Di samping kelebihan tersebut kekurangan krim diantaranya yaitu mudah kering dan mudah rusak khususnya tipe air dalam minyak, susah dalam pembuatannya, mudah lengket,gampang pecah, dan pembuatannya harus secara aseptis. Dari sekian banyak kelebihan dan kekurangan dari sediaan krim tersebut maka sebisa mungkin sediaan krim dapat diformulasikan dan diproduksi secara tepat dan sesuai sehingga dapat meminimalisir kekurangan dari sediaan krim terssebut. Dengan demikian tentu akan lebih disukai lagi oleh dokter maupun pasiaen yang menggunakan preparat ini. Langkah yang dapat dilakukan untuk meminimalisir dari kekurangan sediaan krim dapat dilakukan dalam menentukan formulasi harus benar-benar memperhatikan konsentrasi serta karakteristik bahan yang digunakan dan dikombinasikan dengan baik dan benar..
1.2 Tujuan

1.1.1

Mengetahui Persiapan dan Cara Pembuatan Sediaan Obat Dalam Formulasi Teknologi Sediaan Krim 1.1.2 Membuat Dan Memformulasikan Sediaan Obat Dalam bentuk Sediaan Krim

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Dasar Teori 2.1.1 Definisi Krim

Menurut Farmakope Indonesia III definisi Cream adalah sediaan setengah padat berupa emulsi mengandung air tidak kurang dari 60% dan dimaksudkan untuk pemakaian luar. Dan menurut Farmakope Indonesia IV, Cream adalah bentuk sediaan setengah padat mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai. Sedangkan menurut Formularium Nasional Cream adalah sediaan setengah padat, berupa emulsi kental mengandung air tidak kurang dari 60 % dan dimaksudkan untuk pemakaian luar. Sehingga dapat disimpulkan krim adalah sediaan setengah padat berupa emulsi kenta, mengandung air tidak kurang 60% dan mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai seta dimaksudkan untuk pemakaian luar.

2.1.2 Penggolongan Krim

Krim terdiri dari emulsi minyak dalam air atau disperse mikrokristal asam asam lemak atau alkohol berantai panjang dalam air, yang dapat dicuci dengan air dan lebih ditujukan untuk pemakain kosmetika dan estetika. Krim dapat juga digunakan untuk pemberian obat melalui vaginal. Ada 2 tipe krim yaitu krim tipe minyak dalam air (m/a) dan krim tipe air dalam minyak (a/m). Pemilihan zat pengemulsi harus disesuaikan dengan jenis dan sifat krim yang dikehendaki. Untuk krim tipe a/m digunakan sabun polivalen, span, adeps lanae, kolsterol dan cera. Sedangkan untuk krim tipe m/a digunakan sabun monovalen, seperti trietanolamin, natrium stearat, kalium stearat dan ammonium stearat. Selain itu juga dipakai tween, natrium lauryl sulfat, kuning telur, gelatinum, caseinum, cmc dan emulygidum. Kestabilan krim akan terganggu/rusak jika sistem campurannya terganggu, terutama disebabkan oleh perubahan suhu dan perubahan komposisi yang disebabkan perubahan salah satu fase secara berlebihan atau zat pengemulsinya tidak tercampurkan satu sama lain. Pengenceran krim hanya dapat dilakukan jika diketahui pengencernya yang cocok dan dilakukan dengan teknik aseptic. Krim yang sudah diencerkan harus digunakan dalam jangka waktu 1 bulan. Sebagai pengawet pada krim umumnya digunakan metil paraben (nipagin) dengan kadar 0,12% hingga 0,18% atau propil paraben (nipasol) dengan kadar 0,02% hingga 0,05%. Penyimpanan krim dilakukan dalam wadah tertutup baik atau tube ditempat sejuk, penandaan pada etiket harus juga tertera obat luar. a. Cream M/A Biasanya digunakan pada kulit, mudah dicuci, sebagai pembawa dipakai pengemulsi campuran surfaktan. Sistem surfaktan ini juga bisa mengatur konsistensi. Campuran Pengemulsi Yang Sering Dipakai : Emulsifying wax BP. Lannette wax (campuran etil & stearil alkohol yang disulfonasi). Cetrimide emulsifying wax. Cetomakrogol emulsifying wax. Asam asam lemak, seperti palmitat, stearat Sifat Emulsi M/A Untuk Basis Cream : Dapat diencerkan dengan air. Mudah dicuci dan tidak berbekas. Untuk mencegah terjadinya pengendapan zat maka ditambahkan zat yang mudah bercampur dengan air tetapi tidak menguap (propilen glikol). Formulasi yang baik adalah cream yang dapat mendeposit lemak dan senyawa pelembab lain sehingga membantu hidrasi kulit. b. Cream A/M Konsistensi dapat bervariasi, sangat tergantung pada komposisi fasa minyak & fasa cair. Cream ini mengandung zat pengemulsi A/M yang spesisifik, seperti : Ester asam lemak dengan sorbitol. Garam garam dari asam lemak dengan logam bevalensi 2. Adeps lanae.

2.1.3 Kelebihan Dan Kekuranagn Krim

a.

Kelebihan Adapun kelebihan menggunakan sediaan cream adalah : 1. mudah menyebar rata 2. praktis 3. lebih mudah dibersihkan atau dicuci dengan air terutama tipe m/a ( minyak dalam air ) 4. cara kerja langsung pada jaringan setempat 5. .tidak lengket, terutama pada tipe m/a ( minyak dalam air ) 6. bahan untuk pemakaian topical jumlah yang diabsorpsi tidak cukup beracun, sehingga pengaruh aborpsi biasanya tidak diketahui pasien. 7. aman digunakan dewasa maupun anak anak. 8. Memberikan rasa dingin, terutama pada tipe a/m ( air dalam minyak ) 9. Bisa digunakan untuk mencegah lecet pada lipatan kulit terutama pada bayi, pada fase a/m ( air dalam minyak ) karena kadar lemaknya cukup tinggi. 10. Bisa digunakan untuk kosmetik, misalnya mascara, krim mata, krim kuku, dan deodorant. 11. Bisa meningkatkan rasa lembut dan lentur pada kulit, tetapi tidak menyebabkan kulit berminyak. b. . Kekurangan Di samping kelebihan tersebut, ada kekurangan di antaranya yaitu : 1. .mudah kering dan mudah rusak khususnya tipe a/m ( air dalam minyak ) karena terganggu system campuran terutama disebabkan karena perubahan suhu dan perubahan komposisi disebabkan penambahan salah satu fase secara berlebihan atau pencampuran 2 tipe crem jika zat pengemulsinya tidak tersatukan. 2. susah dalam pembuatannya, karena pembuatan cream mesti dalam keadaan panas 3. mudah lengket, terutama tipe a/m ( air dalam minyak ) 4. gampang pecah, disebabkan dalam pembuatan formulanya tidak pas. 5. pembuatannya harus secara aseptic
2.2 Evaluasi

Sediaan Krim

Dibagi dalam tiga kelompok : 1. Evaluasi Fisik. Homogenitas diantara dua lapis film, secara makroskopis : alirkan di atas kaca. Konsistensi, tujuan : mudah dikeluarkan dari tube dan mudah dioleskan. Pengukuran konsistensi dengan pnetrometer. Konsistensi / rheologi dipengaruhi suhu; sedian non newton dipengaruhi oleh waktu istirahat oleh karena itu harus dilakukan pada keadaan yang identik. Bau dan warna untuk melihat terjadinya perubahan fasa. pH, pH berhubungan dengan stabilitas zat aktif, efektifitas pengawet, keadaan kulit. 2. Evaluasi Kimia. Kadar dan stabilitas zat aktif dan lain-lain. 3. Evaluasi Biologi. a. Kontaminasi mikroba. Salep mata harus steril untuk salep luka bakar, luka terbuka dan penyakit kulit yang parah juga harus steril.

b. Potensi zat aktif. Pengukuran potensi beberapa zat antibiotik yang dipakai secara topikal.
2.3 Alasan Pemilihan Bahan 2.3.1 Resep 1

Pembuatan dan formulasi resep dengan bahan aktif kloramfenikol dapat ditambahkan dan dikombinasikan dengan zat emulgator yang juga dapat berfungsi sebagai bahan dasar dan fase minyak dari sediaan krim yaitu menggunakan adeps lanae, dan kemudian ditambahkan bahan pengawet nipagin. Formulasi ini akan membentuk suatu sediaan krim dengan jenis air dalam minyak karena 100 bagian adeps lanae mampu menyerap 200 bagian air.
2.3.2 Resep 2

Pembuatan dan formulasi resp sediaan krim dengan bahan aktif ketokonizol pulv dapat ditambahkan zat yang berfungsi sebagai fase minyak yaitu cera alba dan vaselin album, kemudian ditambahkan lagi zat emulgatornya triaetanolamina, dan bahan pengawet propilen glikol. Alasan penggunaan emulgator triaetanolamina karena sediaan yang dibuat adlah jenis krim minyak dalam air
2.3.3 Resep 3

Pembuatan dan formulasi sreseps sediaan krim dengan bahan aktif betametason dapat ditambahkan dengan vaselin album sebagai fase minyak, dan paravin liquit sebagai zat emulgator serta nipagin sebagai bahan pengawet. Formulasi ini akan membentuk sediaan krim dengan jenis minyak dalam air kareni aq dest berfunsi sebagai fase pendispers.
2.4 Monografi Bahan

a.

b. c. d. e.

2.4.1 Chloramphenicolum (Kloramfenikol) Pemerian Hablur halus berbentuk jarum atau lempeng, memanjang putih, hingga putih kelabu atau putih kekuningan, larutan praktis netral terhadap lakmus P, stabil dalam larutan netral atau larutan agak asam. Kelarutan Sukar larut dalam air, mudah larut dalam etanol, dalam propilen glikol, dalam aseton dan dalam etil aseton. Khasiat Anti bakteri Penyimpanan Dalam wadah tertutup baik Kadar 2 0/0
2.4.2 Ketoconazolum Pulv (Ketokonazol)

a. Pemerian b. Kelarutan c. Khasiat Antifungi d. Penyimpanan Dalam wadah tertutup baik e. Kadar 20 mg/g

2.4.3 Betametason

a. b. c. d. e.

Pemerian Serbuk hablur, putih sampai hamper putih, tidak berbau melebur pada suhu lebih kurang 2400 disertai sedikit peruraian Kelarutan Tidak larut dalam air, agak sukar larut dalam aseton, dalam etanol, dalam dioksan, dan dalam methanol. Sangat sukar larut dalam kloroform dan dalam eter. Khasiat Antiinflamasi Penyimpanan Dalam wadah tertutup baik Kadar 0,5 mg/g
2.4.4 Cera Alba

a. b. c. d. e.

Pemerian Zat padat, lapisan tipis bening, putih kekuningan bau khs lemah. Kelarutan Praktis tdak larut dalam air, agakn sukar larut dalam etanol (90 0/0) P dingin, larut dalam kloroform pekat, dalam eter P hangat, dalam minyak lemak dan dalam minyak atsiri Khasiat dan Kegunaan Zat tambahan sebagai bahan dasar salep atau basis lemak Penyimpanan Dalam wadah tertutup baik Kadar 5 0/0
2.4.5 Triaetanolaminum (triaetanolamina)

a. b. c. d. e.

Pemerian Cairan kental tidak berwarna hingga kuning pucat, bau lemah mirip amoniak, higroskopik. Kelarutan Mudah larut dalam air dan dalam etanol (90 0/0) larut dalam kloroform pekat Khasiat dan penggunaan Zat tambahan sebagai emulgator Penyimpanan Dalam wadah tertutup baik Kadar 2 0/0 4 0/0
2.4.6 Propilan Glikol

a.

Pemerian Cairan kental, jernih tidak berwarna, rasa khas, praktis tidak berbau, menyerap air pada udara lembab. b. Kelarutan Dapat bercampur dengan air, dengan aseton, dan dengan kloroform, larut dalam eter dan dalam beberapa minyak esensial, tetapi tidak dapat bercampur dalam minyak lemak.

c.

Khasiat dan Kegunaan Zat tambahan sebagai bahan pengawet d. Kadar e. 5 0/0 - 80 0/0
2.4.7 Vaselin Album

a.

Pemerian Putih atau kekuningan pucat, masa berminyak transparan dalam lapisan tipis setelah didinginkan pada suhu 00 b. Kelarutan Tidak larut dalam air, sukar larut dalam etanol dingin atau panas, dan dalam etanol mutlak dingin, mudah larut dalam benzene, dalam karbon disulfide, dalam kloroform, larut dalam heksana, dan dalam sebagian besar minyak lemak, dan minyak atsiri. c. Khasiat Zat tambahan sebagai bahan dsar salep atau basis lemak d. Kadar 10 0/0 - 300/0
2.4.8 Parafin

a.

Pemerian Hablur tembus cahaya agak buram, tidak berwarna atau putih, tidak berbau, tidak berasa agak berminyak. b. Kelarutan Tidak larut da;am air dan dalam etanol, mudah larut dalam kloroform, dalam eter, dalam minyak menguap, dalam hamper semua jenis minyak lemak hangat, sukar larut dalam etanol mutlak. c. Khasiat Zat tambahan sebagai bahan dasar salep atau basis lemak d. Kadar
2.4.9 Adeps Lanae

a.

Pemerian Massa seperti lemak , lengket warna kuning bau khas b. Kelarutan Tidak larut dalam air, dapat bercampur dengan air lebih kurang dua kali beratnya, agak sukar larut dalam etanol dingin, lebih larut dalam etanol panas mudah larut dalam eter dan dalam kloroform c. Khasiat dan kegunaan Zat tambahan sebagai basis lemak, fase minyak juga sebagai emulgator. d. Kadar 100 bagian adeps menyerap 200 bagian air

BAB III FORMULASI DAN METODE PEMBUATAN


3.1 Formulasi Resep

a.

Resep 1

R/ Kloramfenikol Adeps Lanae Aq Dest Nipagin b. Resep 2 R/ Ketokonizol Pulv Cera Alba Vaselin Album Triaetanolamina Aq dest Propilen Glikol c. Resep 3 R/ Betamethason Vaselin Album Paravin Liquid Nipagin Aq Dest
3.2 Alat Dan bahan

0,4 6 14 qs

4 0,3 6 0,8 9 qs

1 4 0,8 qs 4

a. Alat 1. Mortir dan stemper 2. Timbangan dan anak timbangan 3. Beaker glass 4. Gelas ukur 5. Batang pengaduk 6. Sudip 7. Etiket dan Perkament 8. Cawan penguap b. Bahan 1. Kloramfenikol 2. Ketokonazol 3. Betametason 4. Cera alba 5. Triaetanolamina 6. Propilen glikol 7. Vaselin album 8. Paravin 9. Adeps Lanae 10. Aq dest
3.3 Perhitungan Bahan

a.

Resep 1 ; / Kloramfenikol Adeps Lanae Aq Dest Nipagin

0,4 g = 400 mg 6 g = 6000 mg 14 g = 14 ml qs

b. Resep 2 Ketokonizol Pulv 4 g = 4000 mg Cera Alba 0,3 g = 300 mg Vaselin Album 6 g = 6000 mg Triaetanolamina 0,8 g = 800 mg Aq dest 9 g = 9 ml Propilen Glikol qs c. Resep 3 Betamethason Vaselin Album Paravin Liquid Nipagin Aq Dest
3.4 Prosedur Kerja

1 = 1000 mg 4 = 4000 mg 0,8 = 800 mg qs 4 = 4 ml

a. 1. 2. 3.

Resep 1 Disiapkan alat dan bahan Dilebur basis minyak adeps lanae menggunakan cawan penguap di atas penangas air Ditambahkan kloramfenikol dalam leburan yang telah dipindahkan dalam mortir hangat gerus ad homogeny 4. Ditambahkan aq dest aduk ad homogeny 5. Dimasukkan dalam pot dan beri etikat biru b. Resep 2 1. Disiapkan alat dan bahan 2. Dilebur basis minyak cera alba dan vaselin album menggunakan cawan penguap diatas tangas air 3. Ditambahkan ketokonozol kedalam leburan yang telah dipindahkan kedalam mortir hangat aduk ad homogeny 4. Ditambahkan larutan triaetanolamina dan aq dest kedalam mortir aduk ad homogeny 5. Dimasukkan kedalam pot dan beri etiket biru c. 1. 2. 3. Resep 3 Disiapkan alat dan bahan Dilelehkan basis lemak cera alba dan paravin solid dalam cawan penguap di atas tangas air Ditambahkan serbuk betametason kedalam leburan yang telah dipindahkan kedalam mortir hangat aduk ad homogeny 4. Ditambahkan nipagin dan aq dest dalam mortir aduk ad homogeny 5. Dimasukkan dalam pot dan beri etiket biru

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil

a.

Resep 1

Organoleptis Berwarna krim dan berbau adeps. Homogenitas Homogen Daya lekat Lengket dan sedikit berminyak. pH : 5,5 b. Resep 2 Organoleptis Berwarna putih kekuningan dan berbau vaselin Homogenitas Pecah antara air dan sediaan atau air tidak terdispersi secaraw sempurna Daya lekat Lengket dan hamper tak berminyak. pH : 6 c. Resep 3 Organoleptis Berwarna putih dan berbau vaselin Homogenitas Pecah antara fase air dan fase minyak minyak tidak terdispersi sempurna. Daya lekat Lengket, berwarna putih dan berair pH : 6

4.2 Pembahasan

a.

Resep 1 Hasil praktikum dari resep satu dengan bahan aktif kloramfenikol, bahan dasar lemak serta emulgator adeps lanae, dan ditambahkan aquadestsebagai fase terdispers serta nipagin sebagai bahan pengawet dapat menghasilkan suatuy sediaan krim antibakteri yang homogeny. Bila ditinjau dari karakteristik dan kadar serta konsentrasi dari masing-masing bahan yang digunakan benar-benar sesuai dan dengan menggunakan metode pembuatan yang benar tentu akan menghasilkan sediaan seperti yang diinginkan dan memenuhi syarat atau ketentuasn dari sediaan krim ter5sebut.

Jika dilihat dari segi organoleptisnya sediaan yang dihasilkan pun memiliki warna sebagaimana mestinya krim, akan tetapi dalam sediaan ini krim yang dihasilkan bau yang kurang menarik yaitu berbau adeps lanae sebagai bahan yang sangat dominan dalam sediaan tersdebut. Sehasrusnya hal ini daqpat dihindari dengan dengan menambahkan beberapa zat tambahan yang berfunsi sebagai zat pengaroma dalam rancangan dari rancasngan resep yang diformulasikan. Daya lekat dari hasil sediaan yang telah diformulasikan lengket dan hampir tak berminyak, hal ini terjadi karena adeps lanae yang berfungsi sebagai zat pembawa dapat menyerap dua bagian air dari satu bagian adeps lanae. Selain sebagai zat pembawa adeps lanae juga mampu mengikat sempurna serbuk zat aktif yang tidak larut air dalam sediaan tersebut. pH dari sediaan krim yang diformulasikan adalah 5,5. Dapat dikatakan memenuhi standar, sebab masih dibawah pH rata-rata dari kulit manusia yang umumnya tinggal dan berada di daerah tropis yang berkisaran antara 6 dan 7, pH dari suatu sediaan topical memang harus berada di bawah dan tidak terlalu jauh dari pH kulit karena ini akn berpangaruh pada proses absorbs dan adsorbsiobat dan bahan aktif yang digunakan dalam suatu sediaan, artinya permukaan yang lebih panas akan sangat efektif bila menyerap zat yang tak terlalu panas yang berada dipermukaan atau diatasnya. b. Resep 2 Untuk resep kedua ymenggunakan bahan aktif serbuk ketokonizol dalam pembuatan sediaan krim antifungi terjadi homogenitas sediaan yang kurang sempurna dan pecah dimana ada sebagian fase air tidak sepenuhnya mampu mendispersi fase minyak yang yang terkandung dalam sediaan tersebut. Ditinjau dari formulasinya sebenarnya dari setiap bahan yang digunakan sudah sepenuhnya sesuai dengan konsentrasi kadar yang telah ditetapkan, yaitu ketokonizol 20 mg/g, cera alba 5%, vaselin album 40%, triaetanolamina 4 %, dan aquadest yang tidak lebih dari 60 %. Kemungkinan besar yang terjadi sehingga fase minyak tidak terdispersi secara sempurna adal;ah pada proses pembuatan darei sediaan tersebut. Dalam hal ini terjadi kelalaian pada praktikan yang tidak memperhatikan suhu hasil leburan basis lemak dalam cawan setalah mencair kemudian memindahkan dan mencampurkannya dengan bahan zat yang lain dalam mortir yang memiliki panas lebih rendah dari suhu dan panas yang dipakai sebelumnya, sehingga leburan akan cepat memadat kembali akibatny campuran tidak dapat terdispersi secara merata. Selain dari wadah yang digunakan, factor lain yang menyebabkan pecahnyafase pendispers dalam hal ini air adalah kerena pada saat proses pencampuran antara leburan basis lemak dengan air diantara keduanya memiliki suhu yang jauh berbeda. Basis lemak yang sedang berada pada suhu panas tinggi sedangkan fase air berada pada suhu rendah , hal ini tentu dapat menjadi salah satu factor penyebab dari pecahnya sediaan tersebut. Dari hasil pengujian organoleptisnya diketahui sediaan berwarna putih dan berbau vaselin. Daya lekatnya lengket dan hampir tak berminyak. Semua ini disebabkan karena komposisi bahan aktif yang cukup besar konsentrasinya dalam sediaan tersebut yang mencapai 20 % sediuaan, hanya terpaut 10 % dari bahan dasarnya vaselin dan cera sebanyak 30 %, sehingga sangat mempengaruhi dari organoleptis dan sediaan yang ada. Sementara pH yang dihasilkan adalah 6 lebih tinggi dari sediaan yang dibuat sebelumnya. Factor dari suhu ruang yang digunakan untuk praktikum bias jadi akan menjadi salah satu faktor penyebabnya. Pada resep pertama yang dibuat pada pagi hari dengan suhu yang lebih dingin dan resep kedua setelah suhu ruang mulai memanas tentu akan mempengaruhi suhu ruang yang ada sehingga berpengaruh dengan pH yang dihasilkan dari sediaan tersebut.

c.

Resep 3 Dari hasil praktikum formulasi tekhnik sediaan semi solid yang menggunakan bahan aktif betamethason , bahan dasar vaselin album, dan paraffin liquit, dan ditambahkan zat pengawet nipagin serta aquadest sebagai zat pembawamemiliki homogenitas yang kurang baik dan pecah antara fase air dan fase minyak yang terkandung di dalamnya. Hal ini disebabkan karena vaselin dan paraffin yang semula dianggap dapat menjadi emulgator sekaligus sebagai bahan dasar dan fase minyaknya, ternyata tidak berfungsi seperti yang diprediksikan. Jika hal yang demikian terjadi dalam melakukan suatu praktikum formulasi suatu sediaan krim solusi yang dapat segera dilakukan agar fase minyak dapat terdispersi dalam zat pembawanya ialah dengan menambahkan beberapa pilihan zat emulgator yang tepat diantaranya yaitu ada triaetanolamina, stearat, natrium stearat, kalium stearat, ammonium stearat, tween, CMC, pectinum, emulgidum dan lain-lain. Dilihat dari hasil evaluasi organoleptisnya krim yang dihasilkan adalah berwarna putih dan berbau vaselin. Warna putih yang dihasilkan disebabkan karena tidak dapat bercampurnya fase minyak dan fase air yang ada dalam sediaan tersebut, sehingga zat aktif yang berwarna putih dengan komposisinya yang mencapai 50 % menjadi dominan, sebab dalam sediaan ini zat aktif hanya bercampur basis lemak yang ada. Daya lekat yang dihasilkan adalah lengket, berair, dan berwarna putih pada permukaan kulit yang diberi olesan. pH yang dihasilkan juga sama dengan resep yang kedua yaitu 6 dan dapat dikatakan memenuhi standar

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil praktikum dari ketiga formulasi sediaan krim yang dibuat dapat diambil beberapa kesimpulan baik dari segi homogenitas sediaan, daya lekat sediaan, organoleptis, serta pH yang dihasilkan. Karena tidak semua sediaan memiliki hasil evaluasi yang baik dan sesuai standar tentu akan ada banyak yang perlu untuk dibahgas dan disimpulkan, mulai dari penyebabnya hingga solusi terbaik yang dapat dilakukan. Homogenitas krim dari ketiga sediaan hanya pada resep pertama yang benar-banar homogeny, di sini 6 g adeps lanae dalam 20 g sediaan krim dapat dikatakan mampu mengikat dan mendispersi zat aktif dan fase airnya. Jika pada resep kedua ada sebagian air yang tidak tercampur dengan basisnya yang disebabkan pada proses pembuatannya yang tidak memperhatikan suhu air dan propylanglikol dengan suhu leburan cera dan vaselin. Sedangkan pecahnya fase minyak dan air dari sediaan resep yang ketiga disebabkan karena tidak adanya zat emulgator yang terkandung di dalamnya. Daya lekat dari masing-masing bahan yang dihasilkan pun cukup beragam. Pada resep pertama lengket dan sedikit berminyak karena krim ini adalah jenis krim air dalam minyak. Untuk resep yang ke dualengket dan hampir tak berminyak, sebab dalam resep ini adalah jenis emulsi krim minyak dalam airsehingga hampir tak ada minyak pada saat penggunaanya,. Sedangkan pada resep ke tiga, selain lengket juga akan menyebabkan berwarna putih pada kulit yang diberi olesan krim tersebut, penyebabnya karena pada resep ini fase minyak dan fase airnya tidak terdispersi sempurna

Untuk hasil pengamatan organoleptis dari ketiga sediaan yang diformulasikan dapat disimpulkan bahwa pengaruh dari warna dan kadar konsentrasi dari bahan aktif yang digunakan adalah yang sangat berperan dan berpengaruh dalam menentukan warna suatu sediaan, sedangkan bau dari ketiga sediaan semuanya besar pengaruhnya disebabkan oleh bahan dasr atau basis lemak dari masing-masing sediaan tersebut. Kadar pH dari ketiga resep hanya pada resep pertama yang berbeda dan sedikit lebihy kecil dari mpH resep ynag ke dua dank e tiga. Dalam hal ini suhu ruang dari tempat praktikum adalh salah satu penyebabnya. Resep pertama yang dibuat pada pagi haridengan suhu yang lebihn rendah menghasilkan kadar pH yang lebih rendah daripada kadar pH sediaan yang dibuat pada suhu ruang yang lebih tinggi menjelang siang hari.
5.2Saran

Hendaknya dalam memformulasikan suatu sediaan seorang praktikan harus benar-banar memperhatikan karakteristik bahan, konsentrasi bahan, sifat dari masing-masing bahan serta interaksi antar bahan yang besar kemungkinannnya sangat bias terjadi. Sehingga dengan demikian sediaan yang diformulasikan akan menghasilkan suatu sediaan yang benar-benar layak pakai dan seminimal mungkin dapat mengurangi kekurangan dari sediaan krim tersebut. Selain itu factor lain yang yang perlu diperhatikan adalah padqa proses pembuatannya,. Dengan mempertimbangkan karakteristik, konsentrasi dan interaksi dari masig-masing bahan tadi, seorang praktikan harus mampu merancang dan membuat prosedur kerja yang sebaik mungkin sesuai ketentuan, agar sediaan yang dibuat dapat memenuhi standar evaluasi yang ditetapkan.
BAB VI

DAFTAR PUSTAKA 1. Ansel. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Jakarta : UI press 2. Anonim. 1979. Farmakope Indonesia edisi III. Jakarta : Departemen Kesehatan RI 3. Anonim. 1995. Farmakope Indonesia ediai IV. Jakarta : Departemen Kesehatan RI 4. Pharmacopee Ned edisi V 5. Soetopo dkk. 2002. Ilmu Resep Teori. Jakarta : Departemen Kesehatan 6. Voigt. 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Yogyakarta : UGM Press 7. Lachman dkk. 1994. Teori Dan Praktek Farmasi Industri. Jakarta : UI Press 8. Departemen Kesehatan RI. 1978. Formularium Nasional edisi II. Jakarta 9. Van Duin. 1947. Ilmu Resep. Jakarta : Soeroengan 10. Anonim. Farmakope Herbal 11. Anief. 2006. Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta : UGM Pres