Anda di halaman 1dari 38

Ujud Kelainan Kulit Seorang laki-laki, 35 tahun, pekerjaan petani , datang ke puskesmas dengan keluhan timbul benjolan- benjolan

merah dan nyeri di kedua lengannya sejak 3 hari yang lalu, disertai demam rinagn dan nyeri sendi. Kelainan tersebut diawali timbulnya bercak kemerahan sejak 9 bulan yang lalu di punggung kemudian bertambah banyak serta meluas, telapak kaki terasa baal dan kesemutan. Pada pemeriksaan didapatkan kelainan berupa plakat eritmatosa di wajah, lengan dan badan, sebagian bebatas tegas, berkilat, simetris dan tidak nyeri. Pada kedua lengan terdapat beberapa nodus eritmatosus yang nyeri bila disentuh. Kulit kedua tungkai sangat kering dan bersisik. Pada pemeriksaan syaraf di temukan pembesaran syaraf tibialis posterior sinistra. Saat ini penderita sedang dalam pengobatan penyakitnya. Usulan pemeriksaan pada pasien ini untuk dilakukan pemeriksaan bakterioskopis. Sebagai seorang muslm dokter menyarankan pasien untuk menjaga kesehatan kulit menurut ajaran islam.

SASARAN BELAJAR L.O 1 Memahami dan menjelaskan anatomi mikroskopik kulit. L.O 2 Memahami dan menjelaskan fisiologi kulit. L.I 2.1 L.I 2.2 Memahami dan menjelaskan reseptor-reseptor dan fungsi kulit. Memahami dan menjelaskam jaras paada kulit.

L.O 3 Memahami dan menjelaskan Morbus Hansen. L.I 3.1 Memahami dan menjelaskan definisi Morbus Hansen. L.I 3.2 Memahami dan menjelaskan epidemiologi Morbus Hansen. L.I 3.3 Memahami dan menjelaskan etiologi Morbus Hansen. L.I 3.4 Memahami dan menjelaskan patogenesis Morbus Hansen. L.I 3.5 Memahami dan menjelaskan klasifikasi Morbus Hansen. L.I 3.6 Memahami dan menjelaskan manifestasi klinis Morbus Hansen. L.I 3.7 Memahami dan menjelaskan diagnosis dan diagnosi banding Morbus Hansen. L.I 3.8 Memahami dan menjelaskan penatalaksanaan Morbus Hansen. L.I 3.9 Memahami dan menjelaskam pencegahan Morbus Hansen. L.I 3.10 Memahami dan menjelaskan prognosis Morbus Hansen. L.O 4 Memahami dan menjelaskan kesehatan kulit menurut agama islam.

MANDIRI

L.O 1 Memahami dan menjelaskan anatomi mikroskopik kulit.

1.Epidermis Epidermis terbagi atas empat lapisan yaitu :

1. Lapisan Basal atau Stratum Germinativum 2. Stratum Spinosum 3. Sratum Granulosum 4. Stratum Lusidum 5. Stratum Korneum

Lapisan basal atau germinativum, disebut stratum basal karena sel-selnya. terletak di bagian basal. Stratum germinativum menggantikan sel-sel yang di atasnya dan merupakan sel-sel induk. Bentuknya silindris (tabung) dengan inti yang lonjong. Di dalamnya terdapat butir-butir yang halus disebut butir melanin warna. Sel tersebut disusun seperti pagar (palisade) di bagian bawah sel tersebut terdapat suatu membran yang disebut membran basalis. Sel-sel basalis dengan membran basalis merupakan batas terbawah dari epidermis dengan dermis. LapisanMalpighi atau lapisan spinosum/akantosum, lapisan ini merupakan lapisan yang

paling tebal dan dapat mencapai 0,2 mm terdiri dari 5-8 lapisan. Selselnya disebut spinosum karena jika kita lihat di bawah mikroskop selselnya terdiri dari sel yang bentuknya poligonal (banyak sudut) dan mempunyai tanduk (spina). Disebut akantosum karena selselnya berdur i. Ternyata spina atau tanduk tersebut adalah hubungan antara sel yang lain disebut Interceluler Bridges atau jembatan interseluler. Lapisan granular atau stratum granulosum, stratum ini terdiri dari selsel pipih seperti kumparan. Selsel tersebut terdapat hanya 2-3 lapis yang sejajar dengan permukaan kulit. Dalam sitoplasma terdapat butirbutir yang disebut keratohiolin yang merupakan fase dalam pembentukan keratin oleh karena banyaknya butirbutir stratum granulosum. Stratum korneum, selnya sudah mati, tidak mempunyai inti sel (inti selnya sudah mati) dan mengandung zat keratin. Pada telapak tangan dan kaki terdapat lapisan tambahan di atas lapisan granular yaitu Stratum Lusidium atau lapisan-lapisan jernih. Stratum Lusidium, selnya pipih, bedanya dengan stratum granulosum ialah sel-selnya sudah banyak yang kehilangan inti dan butir-butir sel telah menjadi jernih sekali dan tembus sinar. Dalam lapisan terlihat seperti suatu pita yang bening, batas- batas sel sudah tidak begitu terlihat, disebut stratum lusidium.

Stratum Korneum merupakan lapisan yang paling superfisial. Sel-sel lapisan ini sudah mati, tanpa inti dan organel. Mereka sangat gepeng dan mirip sisik. Terdapat protein keratin yang berasal dari eleidin. Sel-sel stratum korneum disatukan oleh lapisan lipid, yang membuat lapisan ini kedap air. Epidermis mengandung 4 macam sel : a.Keratinosit Keratinosit adalah materi yang membentuk lapisan terluar kulit dan memproduksi keratin, protein keras yang menjadi bahan utama rambut, kulit, dan kuku. Mereka dihasilkan pada lapisan dasar epidermis, yang secara bertahap naik melalui berbagai lapisan epidermis yang berbeda dan akhirnya tanggal. b. Melanosit Sel melanosit adalah sel penghasil pigmen (melanin) yang paling banyak terdapat di daerah anogenital, ketiak, dan puting susu. Terbanyak kedua adalah daerah wajah. Sedangkan yang paling sedikit ada di lengan atas bagian dalam. Kulit yang gelap menandakan kandungan melanin dalam jumlah banyak, begitu juga sebaliknya. c. Sel Langerhans Sel Langerhans berbentuk bintang terutama ditemukan dalam stratum spinosum dari epidermis.Sel langerhans merupakan makrofag turunan sumsum tulang yang mampu mengikat, mengolah,dam menyajikan antigen kepada limfosit T, yang berperan dalam perangsangan sel limfosit T. d. Sel Merkel Sel Merkel bentuknya mirip dengan keratinosit yang juga memiliki desmosom biasanya terdapat dalam kulit tebal telapak tangan dan kaki.juga terdapat di daerah dekat anyaman pembuluh darah dan serabut saraf. Berfungsi sebagai penerima rangsang sensoris. Epidermis juga mengandung kelenjar ekrin, kelenjar apokrin, kelenjar sebasea, rambut dan kuku. Kelenjar keringat ada dua jenis, ekrin dan apokrin. Fungsinya mengatur suhu tubuh, menyebabkan panas dilepaskan dengan cara penguapan. Kelenjar ekrin terdapat di semua daerah di kulit, tetapi tidak terdapat pada selaput lendir. Seluruhnya berjumlah antara 2 sampai 5 juta, yang terbanyak di telapak tangan. Sekretnya cairan jernih, kirakira 99% mengandung klorida, asam laktat, nitrogen, dan zat lain. Kelenjar apokrin adalah kelenjar keringat besar yang bermuara ke folikel rambut. Tardapat di ketiak, daerah anogenital, puting susu, dan areola. Kelenjar sebasea terdapat di seluruh tubuh,

kecuali di tapak tangan, tapak kaki, dan punggung kaki. Terdapat banyak kulit kepala, muka, kening, dan dagu. Sekretnya berupa sebum dan mengandung asam lemak, kolesterol, dan zat lain. Rambut terdapat diseluruh tubuh, rambut tumbuh dari folikel rambut di dalamnya epidermis. Folikel rambut dibatasi oleh epidermis sebelah atas, dasrnya terdapat papil tempat rambut tumbuh. Akar berada di dalam folikel pada ujung paling dalam dan bagian sebelah luar disebut batang rambut. Pada folikel rambut terdapat otot polos kecil sebagai penegak rambut. Rambut terdiri dari rambut panjang di kepala, pubis dan jenggot, rambut pendek dilubang hidung, liang telinga dan alis, rambut bulu lanugo diseluruh tubuh, dan rambut seksual di pubis dan aksila (ketiak). Kuku merupakan lempeng yang terbuat dari sel tanduk yang menutuoi permukan dorsal ujung jari tangan dan kaki. Lempeng kuku terdiri dari 3 bagian yaitu pinggir bebas, badan, dan akar yang melekat pada kulit dan dikelilingi oleh lipatan kulit lateral dan proksimal. Fungsi kuku menjadi penting waktu mengutip bendabenda kecil.

2. Dermis

Dermis merupakan lapisan kedua dari kulit. Batas dengan epidermis dilapisi oleh membran basalis dan di sebelah bawah berbatasan dengan subkutis tetapi batas ini tidak jelas hanya kita ambil sebagai patokan ialah mulainya terdapat sel lemak. Dermis terdiri dari dua lapisan yaitu bagian atas, pars papilaris (stratum papilar) dan bagian bawah, retikularis (stratum retikularis). Batas antara pars papilaris dan pars retikularis adalah bagian bawahnya sampai ke subkutis . baik pars papilaris maupun pars retikularis terdiri dari jaringan ikat longgar yang tersusun dari serabut serabut yaitu serabut kolagen, serabut elastis dan serabut retikulus. Serabut ini saling beranyaman dan masingmasing mempunyai tugas yang berbeda. Serabut kolagen, untuk memberikan kekuatan kepada kulit, dan retikulus, terdapat terutama di sekitar kelenjar dan folikel rambut dan memberikan kekuatn pada alai tersebut.

3.Hipodermis

Hipodermis (Subkutis) terdiri dari kumpulankumpulan selsel lemak dan di antara gerombolan ini berjalan serabut serabut jaringan ikat dermis. Selsel lemak ini bentuknya bulat dengan intinya terdesak ke pinggir, sehingga membentuk seperti cincin. Lapisan lemak ini disebut penikulus adiposus yang tebalnya tidak sama pada tiaptiap tempat dan juga pembagian antar laki laki dan perempuan tidak sama (berlainan). Guna penikulus adiposus adalah sebagai shock braker atau pegas bila tekanan trauma mekanis yang menimpa pada kulit, isolator panas atau untuk

mempertahankan suhu, penimbunan kalori, dan tambahan untuk kecantikan tubuh. Di bawah subkurtis terdapat selaput otot kemudian baru terdapat otot.

L.O 2 Memahami dan menjelaskan fisiologi kulit. L.I 2.1 Reseptor Jenis-jenis reseptor berdasarkan stimulus adekuatnya : Fotoreseptor : peka terhadap gelombang cahaya Mekanoreseptor : peka terhadap energy mekanis Termoreseptor : peka terhadap panas dan dingin Osmoreseptor : mendeteksi perubahan konsentrasi zat terlarut dalam cairan tubuh Kemoreseptor : peka terhadap bahan kimia spesifik yang termasuk untuk reseptor penciuman dan pengecapan Nosiseptor : peka terhadap kerusakan jaringan misalnya cubitan atau luka bakar Memahami dan menjelaskan reseptor-reseptor dan fungsi kulit.

Setiap reseptor mempunyai sifat khusus untuk merespon untuk satu jenis rangsangan contohnya pada mata ada reseptor yang peka terhadap cahaya, pada telinga ada reseptor yang peka terhdap gelombang suara, dan pada kulit ada reseptor yang peka terhadap energy panas. Semua ini terjadi karena adanya perbedaan sensitifitas reseptor. Namun ada sebagian reseptor dapat berespon lemah terhadap stimulus di luar rangsangan adekuatnya, mesipun diaktifkan oleh stimulus yang berbeda namun reseptor tetap memberikan sensasi yang biasa di deteksi oleh reseptor tersebut. Contohnya ketika terpukul dibagian mata, maka sering melihat bintang (kunang-kunang). Fungsi kulit Kulit memiliki banyak fungsi, yang berguna dalam menjaga homeostasis tubuh. Fungsifungsi tersebut dapat dibedakan menjadi fungsi proteksi, absorpsi, ekskresi, persepsi, pengaturan suhu tubuh (termoregulasi), dan pembentukan vitamin D.

1. Fungsi proteksi Kulit menyediakan proteksi terhadap tubuh dalam berbagai cara sebagai yaitu berikut: Keratin melindungi kulit dari mikroba, abrasi (gesekan), panas, dan zat kimia. Keratin merupakan struktur yang keras, kaku, dan tersusun rapi dan erat seperti batu bata di permukaan kulit. Lipid yang dilepaskan mencegah evaporasi air dari permukaan kulit dan dehidrasi; selain itu juga mencegah masuknya air dari lingkungan luar tubuh melalui kulit. Sebum yang berminyak dari kelenjar sebasea mencegah kulit dan rambut dari kekeringan serta mengandung zat bakterisid yang berfungsi membunuh bakteri di permukaan kulit. Adanya sebum ini, bersamaan dengan ekskresi keringat, akan menghasilkan mantel asam dengan kadar pH 5-6.5 yang mampu menghambat pertumbuhan mikroba. Pigmen melanin melindungi dari efek dari sinar UV yang berbahaya. Pada stratum basal, sel-sel melanosit melepaskan pigmen melanin ke sel-sel di sekitarnya. Pigmen ini bertugas melindungi materi genetik dari sinar matahari, sehingga materi genetik dapat tersimpan dengan baik. Apabila terjadi gangguan pada proteksi oleh melanin, maka dapat timbul keganasan. Selain itu ada sel-sel yang berperan sebagai sel imun yang protektif. Yang pertama adalah sel Langerhans, yang merepresentasikan antigen terhadap mikroba. Kemudian ada sel fagosit yang bertugas memfagositosis mikroba yang masuk melewati keratin dan sel Langerhans. 2. Fungsi absorpsi Kulit tidak bisa menyerap air, tapi bisa menyerap material larut-lipid seperti vitamin A, D, E, dan K, obat-obatan tertentu, oksigen dan karbon dioksida. Permeabilitas kulit terhadap oksigen, karbondioksida dan uap air memungkinkan kulit ikut mengambil bagian pada fungsi respirasi. Selain itu beberapa material toksik dapat diserap seperti aseton, CCl4, dan merkuri. Beberapa obat juga dirancang untuk larut lemak, seperti kortison, sehingga mampu berpenetrasi ke kulit dan melepaskan antihistamin di tempat peradangan. Kemampuan absorpsi kulit dipengaruhi oleh tebal tipisnya kulit, hidrasi, kelembaban, metabolisme dan jenis vehikulum. Penyerapan dapat berlangsung melalui celah antarsel atau melalui muara saluran kelenjar; tetapi lebih banyak yang melalui sel-sel epidermis daripada yang melalui muara kelenjar. 3. Fungsi ekskresi Kulit juga berfungsi dalam ekskresi dengan perantaraan dua kelenjar eksokrinnya, yaitu kelenjar sebasea dan kelenjar keringat:

10

- Kelenjar sebasea Kelenjar sebasea merupakan kelenjar yang melekat pada folikel rambut dan melepaskan lipid yang dikenal sebagai sebum menuju lumen. Sebum dikeluarkan ketika muskulus arektor pili berkontraksi menekan kelenjar sebasea sehingga sebum dikeluarkan ke folikel rambut lalu ke permukaan kulit. Sebum tersebut merupakan campuran dari trigliserida, kolesterol, protein, dan elektrolig. Sebum berfungsi menghambat pertumbuhan bakteri, melumasi dan memproteksi keratin. - Kelenjar keringat Walaupun stratum korneum kedap air, namun sekitar 400 mL air dapat keluar dengan cara menguap melalui kelenjar keringat tiap hari. Seorang yang bekerja dalam ruangan mengekskresikan 200 mL keringat tambahan, dan bagi orang yang aktif jumlahnya lebih banyak lagi. Selain mengeluarkan air dan panas, keringat juga merupakan sarana untuk mengekskresikan garam, karbondioksida, dan dua molekul organik hasil pemecahan protein yaitu amoniak dan urea. Terdapat dua jenis kelenjar keringat, yaitu kelenjar keringat apokrin dan kelenjar keringat merokrin. Kelenjar keringat apokrin

Terdapat di daerah aksila, payudara dan pubis, serta aktif pada usia pubertas dan menghasilkan sekret yang kental dan bau yang khas. Kelenjar keringat apokrin bekerja ketika ada sinyal dari sistem saraf dan hormon sehingga sel-sel mioepitel yang ada di sekeliling kelenjar berkontraksi dan menekan kelenjar keringat apokrin. Akibatnya kelenjar keringat apokrin melepaskan sekretnya ke folikel rambut lalu ke permukaan luar. Kelenjar keringat merokrin (ekrin)

Terdapat di daerah telapak tangan dan kaki. Sekretnya mengandung air, elektrolit, nutrien organik, dan sampah metabolisme. Kadar pH-nya berkisar 4.0 6.8. Fungsi dari kelenjar keringat merokrin adalah mengatur temperatur permukaan, mengekskresikan air dan elektrolit serta melindungi dari agen asing dengan cara mempersulit perlekatan agen asing dan menghasilkan dermicidin, sebuah peptida kecil dengan sifat antibiotik. 4. Fungsi persepsi Kulit mengandung ujung-ujung saraf sensorik di dermis dan subkutis. Terhadap rangsangan panas diperankan oleh badan-badan Ruffini di dermis dan subkutis. Terhadap dingin diperankan oleh badan-badan Krause yang terletak di dermis, badan taktil Meissner terletak di papila dermis berperan terhadap rabaan, demikian pula badan Merkel Ranvier yang terletak di epidermis. Sedangkan terhadap tekanan diperankan oleh badan Paccini di epidermis. Saraf-saraf sensorik tersebut lebih banyak jumlahnya di daerah yang erotik.

11

5. Fungsi pengaturan suhu tubuh (termoregulasi) Kulit berkontribusi terhadap pengaturan suhu tubuh (termoregulasi) melalui dua cara: pengeluaran keringat dan menyesuaikan aliran darah di pembuluh kapiler. Pada saat suhu tinggi, tubuh akan mengeluarkan keringat dalam jumlah banyak serta memperlebar pembuluh darah (vasodilatasi) sehingga panas akan terbawa keluar dari tubuh. Sebaliknya, pada saat suhu rendah, tubuh akan mengeluarkan lebih sedikit keringat dan mempersempit pembuluh darah (vasokonstriksi) sehingga mengurangi pengeluaran panas oleh tubuh. 6. Fungsi pembentukan vitamin D Sintesis vitamin D dilakukan dengan mengaktivasi prekursor 7 dihidroksi kolesterol dengan bantuan sinar ultraviolet. Enzim di hati dan ginjal lalu memodifikasi prekursor dan menghasilkan calcitriol, bentuk vitamin D yang aktif. Calcitriol adalah hormon yang berperan dalam mengabsorpsi kalsium makanan dari traktus gastrointestinal ke dalam pembuluh darah. Walaupun tubuh mampu memproduksi vitamin D sendiri, namun belum memenuhi kebutuhan tubuh secara keseluruhan sehingga pemberian vitamin D sistemik masih tetap diperlukan. Pada manusia kulit dapat pula mengekspresikan emosi karena adanya pembuluh darah, kelenjar keringat, dan otot-otot di bawah kulit. L.I 2.2 Memahami dan menjelaskam jaras paada kulit.

Nyeri adalah mekanisme protektif yang dimaksudkan untk menimbulkan kesadaran bahwa telah atau akan terjadi kerusakan jaringan. Terdapat 3 kategori reseptor nyeri : Nosiseptor mekanik berespon trhadap nyeri, tusukan beturan atau cubitan Nosiseptor termal berespon terhadapa suhu Nosiseptor polimodal zat kimi yang dapat merusak jaringan. Setiap orang memiliki tingkat tolerensi nyeri yang berbeda hal ini dipengaruhi oleh sugesti dan kebiasaan dari tiap invidu. Nyeri dibagi menjadi 2 jenis utama : nyeri ceat dan nyeri lambat, yeri cepat seperti rasa nyeri tajam, rasa nyeri tertusuk, rasa nyeri akut, rasa nyeri tersetrum. Sementara nyeri lambat seperti rasa nyeri pegal, nyeri berdenyut-denyut, nyeri mual dan nyeri kronik

12

Tabel 2.1 Karakteristik perbedaan nyeri cepat dan lambar Nyeri cepat Nyeri lambat Dibawa oleh serat A delta Dibawa oleh serat C Sensasi tajam menusuuk Sensasi seperti terbakar, tumpul dan pegal Mudah ditentukan Lokalisasi tidak jelas Muncul pertama Muncul kemudian, menetap lebi lama lebih tidak menyenangkan

Diagram 2.1 Jaras nyeri

13

14

Nyeri

Sel neuron alpha delta

Sel neuron C

Substansia P (neurotransmitter)

Substansia P (neurotransmitter)

Korda medula spinalis

Korda medula spinalis

Traktus neospinothalamicus

Traktus Paleospinothalamicus

Neuron alpha delta berakhir di lamina marginalis kornu dorsalis

sel neuro C berakhir dalam substansia gelatinosa

penghantar kedua meneruskan ke medula spinalis dalam komisura anterior

penghantar kedua ke anterior lateral

Formasio Retikularis Hipothalamus Limbik muncul respon berupa persaan tdk nyaman Talamus (persepsi nyeri)

korteks somatosensorik Korteks cerebri gyrus postcentral 3,2,1

Diagram 2.2. Jaras nyeri

15

Gbr 2.1 potongan melintang (transversal)medula spinalis Impuls nyeri berasal dari nosiseptor disalurkan ke SSP melalui salah satu dari 2jenis serat aferen. Sinyal-sinyal yang berasal dari nosiseptor mekanis dan termal diteruskan ke serat Adelta, yang berkecaptan 30meter/detiik sehingga saat kita terpapar oleh suatu tekanan dan suhu kita akan langsung resfleks merasakan nyeri tersebut. Impukls dari nosiseptor polimodal diangkut dari serat C yang tidak bermielin sehingga lebih lambat dan bekerja juga leboh lambat. Nyeri alih / referred pain Seringkali sezeorang meraskan neyri dianggota tubuh yang letaknya jauh dari jangkauan yang menyebabkan rasa nyeri, biasanya terjadi pada organ viseral yang mengalami kelainan sehingga menimbaulkan nyeri tettapi kita akan merasakan nyeri tersebut di tempat lain disebut juga referred pain

Gbr. 2.2 contoh organ yang biasanya terjadi referred pain 16

Gbr. 2.3 regio referred pain

L.O 3 Memahami dan menjelaskan Morbus Hansen. L.I 3.1 Memahami dan menjelaskan definisi Morbus Hansen. Penyakit kusta (Penyakit Hansen) adalah infeksi granulomatuosa kronik pada manusia yang menyerang jaringan superfisial, terutama kulit dan saraf perifer. Istilah kusta berasal dari bahasa sansekerta, yakni kushtha berarti kumpulan gejala-gejala kulit secara umum. Penyakit kusta disebut juga Morbus Hansen, sesuai dengan nama yang menemukan kuman yaitu Dr. Gerhard Armauwer Hansen pada tahun 1874 sehingga penyakit ini disebut Morbus Hansen. Penyakit kusta adalah salah satu penyakit menular yang menimbulkan masalah yang sangat kompleks. Masalah yang dimaksud bukan hanya dari segi medis tetapi meluas sampai masalah sosial, ekonomi, budaya, keamanan dan ketahanan nasional. Penyakit kusta pada umumnya sering dijumpai di negara-negara yang sedang berkembang sebagai akibat keterbatasan kemampuan negara dalam pemberian pelayanan kesehatan yang baik dan memadai kepada masyarakat. Penyakit kusta sampai saat ini masih ditakuti masyarakat, keluarga termasuk sebagian petugas kesehatan. Hal ini disebabkan masih kurangnya pengetahuan/pengertian, kepercayaan yang keliru terhadap kusta dan cacat yang ditimbulkannya.

17

L.I 3.2 Memahami dan menjelaskan epidemiologi Morbus Hansen. Distribusi Menurut Geografi Berdasarkan data yang diperoleh dari WHO pada akhir tahun 2006 didapatkan jumlah pasien kusta yang teregistrasi sebanyak 224.727 penderita. Dari data tersebut didapatkan jumlah pasien terbanyak dari benua Asia dengan jumlah pasien yang terdaftar sebanyak 116.663 dan dari data didapatkan India merupakan negara dengan jumlah penduduk terkena kusta terbanyak dengan jumlah 82.901 penderita. Namun Micronesia F. S merupakan negara dengan jumlah ratarata prevalensi per 10.000 penduduk terbanyak di dunia, yaitu dengan 9,64 per 10.000 jumlah penduduk. Sementara Indonesia pada 2006 tercatat memiliki jumlah penderita sebanyak 22.175 (WHO). Pada Poli Kulit dan Kelamin RSUD dr. SOEBANDI, Jember dari tahun 1999 sampai tahun 2001 didapatkan jumlah pasien sebanyak 140 penderita, dengan 74 pasien dengan tipe multibasiler dan 66 kasus dengan tipe pausibasiler. Distribusi Menurut Waktu Seperti terlihat pada tabel di bawah, ada 17 negara yang melaporkan 1.000 atau lebih kasus baru selama tahun 2005. Tujuh belas negara ini memiliki kontribusi 94% dari seluruh kasus baru di dunia. Dari tabel terlihat bahwa secara global terjadi penurunan penemuan kasus baru, akan tetapi sejak tahun 2002 pada berbagai negara terjadi peningkatan kasus baru seperti di Republik Demokrasi Kongo, Indonesia, dan Filipina.

Tabel Penemuan kasus baru di 17 negara dengan jumlah pasien kusta terbanyak Jumlah kasus baru ditemukan No. Negara 1993 1 2 Angola Bangladesh 339 6.943 2002 4.727 9.844 2003 2.933 8.712 2004 2.109 8.242 2005 1.877 7.882

18

3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17

Brazil China D. R. Congo Egypt Ethiopati India Indonesia Madagascar Mozambique Myanmar Nepal Nigeria Philippines Sri Lanka U.R.Of Tanzania

34.235 3.755 3.927 1.042 4.090 456.000 12.638.740 740 1.930 12.018 6.152 4.381 3.442 944 2.731 555.307

38.365 1.646 5.037 1.318 4.632 473.658 12.377 5.482 5.830 7.386 13.830 5.078 2.479 2.214 6.497 599.945 (97%) 620.638

49.206 1.404 7.165 1.412 5.193 367.143 14.641 5.104 5.907 3.808 8.046 4.799 2.397 1.952 5.279 495.074 (96%) 514.718

49.384 1.499 11.781 1.216 4.787 260.063 16.549 3.710 4.266 3.748 6.958 5.276 2.254 1.995 5.190 389.027 (95%) 407.791

38.410 1.658 10.737 1.134 4.698 161.457 19.695 2.709 5.371 3.571 6.150 5.024 3.130 1.924 4.237 279.664 (94%) 296.499

Jumlah (94%) Jumlah Global 590.933

19

Distribusi Menurut Faktor Manusia a. Etnik atau Suku Kejadian penyakit kusta menunjukkan adanya perbedaan distribusi dapat dilihat karena faktor geografi. Namun jika diamati dalam satu negara atau wilayah yang sama kondisi lingkungannya ternyata perbedaan distribusi dapat terjadi karena faktor etnik. Di Myanmar kejadian kusta lepromatosa lebih sering terjadi pada etnik Burma dibandingkan dengan etnik India. Situasi di Malaysia juga mengindikasikan hal yang sama: kejadian kusta lepromatosa lebih banyak pada etnik China dibandingkan etnik Melayu atau India. Demikian pula dengan kejadian di Indonesia etnik Madura dan Bugis lebih banyak menderita kusta dibandingkan etnik Jawa atau Melayu. b. Faktor Sosial Ekonomi Sudah diketahui bahwa faktor sosial ekonomi berperan penting dalam kejadian kusta. Hal ini terbukti pada negara-negara di Eropa. Dengan adanya peningkatan sosial ekonomi, maka kejadian kusta sangat cepat menurun, bahkan hilang. Kasus kusta imor pada negara tersebut ternyata tidak menularkan kepada orang yang sosial ekonomi tinggi. Kegagalan kasus kusta impor untuk menularkan pada kasus kedua di Eropa juga disebabkan karena tingkat sosial ekonomi yang tinggi.

c. Distribusi Menurut Umur Kebanyakan penelitian melaporkan distribusi penyakit kusta menurut umur berdasarkan prevalensi, hanya sedikit yang berdasarkan insiden, kaena pada saat timbulnya penyakit sangat sulit diketahui. Dengn kata lain kejadian penyakit sering terkait pada umur pada saat timbulnya penyakit. Pada penyakit kronik seperti kusta, informasi berdasarkan data prevalensi dan data umur pada saat timbulnya penyakit mungkin tidak menggambarkan resiko spesifik umur. Kusta diketahui terjadi pada semua umur berkisar antara bayi sampai umur tua (3 minggu sampai lebih dari 70 tahun). Namun yang terbanyak adalah pada usia muda dan produktif. 20

d. Distribusi Menurut Jenis Kelamin Kusta dapat mengenai laki-laki dan perempuan. Menurut catatan sebagian besar negara di dunia kecuali di beberapa negara di Afrika menunjukkan bahwa laki-laki lebih banyak terserang dibandingkan wanita. Relatif rendahnya kejadian kusta pada perempuan kemungkinan karena faktor lingkungan atau faktor biologi. Seperti kebanyakan penyakit menular lainnya, laki-laki lebih banyak terpapar dengan faktor resiko akibat gaya hidupnya . L.I 3.3 Memahami dan menjelaskan etiologi Morbus Hansen. Mikobakteriae merupakan kelompok bakteri berbentuk basil, bersifat aerob yang tidak membentuk spora. Meskipun mereka tidak terwarnai dengan baik, segera setelah diwarnai mereka mempertahankan dekolorisasi oleh asam atau alkohol, oleh karena itu dinamakan basil cepat asam. Mycobacterium leprae merupakan agen causal pada lepra. Kuman ini berbentuk batang tahan asam yang termasuk familia Mycobacteriaeceae atas dasar morfologik, biokimia, antigenik, dan kemiripan genetik dengan mikobakterium lainnya. Bentuk bentuk kusta yang dapat kita lihat dibawah mikroskop adalah bentuk utuh, bentuk pecah pecah ( fragmented ), bentuk granular ( granulated ), bentuk globus dan bentuk clumps. Bentuk utuh , diman dinding selnya masih utuh, mengambil zat warna merata, dan panjangnya biasanya empat kali lebarnya. Bentuk pecah pecah, dimana dinding selnya terputus sebagian atau seluruhnya dan pengambilan zat warna tidak merata. Bentuk granular, dimana kelihatan seperti titik titik tersusun seperti garis lurus atau berkelompok. Bentuk globus, dimana beberapa bentuk utuh atau fragmented atau granulated mengandung ikatan atau berkelompok kelompok. Kelompok kecil adalah kelompok yang terdiri dari 40 60 BTA sedangkan kelompok besar adalah kelompok yang terdiri dari 200 300 BTA. Bentuk clumps, dimana beberapa bentuk granular membentuk pulau pulau tersendiri dan biasanya lebih dari 500 BTA. L.I 3.4 Memahami dan menjelaskan patogenesis Morbus Hansen. M. leprae mempunyai patogenitas dan daya invasi yang rendah, sebab penderita yang mengandung kuman lebih banyak belum tentu memberikan gejala yang lebih berat, bahkan dapat sebaliknya. Ketidakseimbangan antara derajat infeksi dengan derajat penyakit, tidak lain disebabkan oleh respon imun yang berbeda, yang menggugah timbulnya reaksi granuloma setempat atau menyeluruh yang dapat sembuh sendiri atau progresif. Oleh karena itu, penyakit kusta dapat disebut sebagai penyakit imunologik. Bila M. leprae masuk ke dalam tubuh seseorang, dapat timbul gejala klinis sesuai dengan kerentanan orang tersebut. Bentuk tipe klinis tergantung pada sistem imunitas selular (SIS)

21

penderita. SIS yang baik akan tampak gambaran klinis ke arah tuberkuloid, sementara SIS rendah dapat memberikan gambaran lepromatosa. L.I 3.5 Memahami dan menjelaskan klasifikasi Morbus Hansen. Tujuan klasifikasi. Untuk menentukan rejimen pengobatan, prognosis, dan komplikasi. Untuk perencanaan operasional. misalnya menemukan pasien-pasien yang menular yang mempunyai nilai epidemiologis tinggi sebagai target utama pengobatan. Untuk indentifikasi pasien yang kemungkinan besar akan menderita cacat. Jenis klasifikasi yang umum A. Klasifikasi Internasional: Klasifikasi Madrid (1953) : Indeterminate (I) Tuberkuloid (T) Borderline Dimorphous (B) Lepromatosa (L) B. Klasifikasi untuk kepentingan riset : Klasifikasi Ridley-Jopling (1962). Tuberkuloid (TT) Lesi berupa makula hipo pigmantasi/eutematosa dengan permukaan kering dan kadang dengan skuama di atasnya. Jumlah biasanya yang satudenga yang besar bervariasi. Gejala berupa gangguan sensasibilitas, pertumbuhan langsung dan sekresi kelenjar keringat. BTA ( - ) dan uji lepramin ( + ) kuat. Boderline tuberculoid (BT) Lesi berupa makula/infiltrat eritematosa dengan permukaan kering bengan jumlah 1-4 buah, gangguan sensibilitas ( + ) Mid-borderline (BB) Lesi berupa mamakula/infiltrat eritematosa permukaan agak mengkilat. Gambaran khas lesi punched out dengan infiltrat eritematosa batas tegas pada tepi sebelah dalam dan tidak begitu jelas pada tepi luarnya. Gangguan sensibilitas sedikit, BTA ( + ) pada sediaan apus kerokan jaringan kulit dan uji lepromin ( - ). Borderline lepromatcus (BL) Lesi infiltrat eritematosa dalam jumlah banyak, ukuran bervariasi, bilateral tapi asimetris, gangguan sensibilitas sedikit/( - ), BTA ( + ) banyak, uji Lepromin ( - ). Lepromatosa (LL) Lesi infiltrat eritematosa dengan permukaan mengkilat, ukuran kecil, jumlah sangat banyak dan simetris. BTA ( + ) sangat banyak pada kerokan jaringan kulit dan mukosa hidung, uji Lepromin ( - ). C. Klasifikasi untuk kepentingan program kusta: Klasifikasi WHO (1981) dan modifikasi WHO (1988) Pausebasilar (PB) Hanya kusta tipe I, TT dan sebagian besar BT dengan BTA negatif menurut kriteria Ridley dan Jopling atau tipe I danTT menurut klasifikasi Madrid. 22

Multibasilar (MB) Termasuk kusta tipe LL, BL, BB dan sebagian BT menurut kriteria Ridley dan Jopling atau B dan L menurut Madrid dan semua tipe kusta dengan BTA positif. Untuk pasien yang sedang dalam pengobatan harus diklasifi-kasikan sebagai berikut 1. Bila pada mulanya didiagnosis tipe MB, tetap diobati sebagai MB apapun hasil pemeriksaan BTA-nya saat ini. 2. Bila awalnya didiagnosis tipe PB, harus dibuat klasifikasi baru berdasarkan gambaran klinis dan hasil BTA saat ini.

Tabel 3.4.1. Klasifikasi PB dan MB berdasarkan WHO (1995) No. Tipe PB Tipe MB 1. Lesi kulit (makula datar, papul 1-5 >5 lesi yang meninggi, nodus) Hipopigmentasi/eritema Distribusi lebih simetris Distribusi tidak simetris Hilangnya sensasi yang Hilangnya sensasi jelas 2. Kerusakan saraf (menyebabkan Hanya satu cabang Banyak cabang saraf hilangnya sensasi/kelemahan otot saraf yang dipersarafi oleh saraf yang terkena) Dikutip dan dimodifikasi dari WHO (1995) Catatan : setiap penderita dengan hasil bakterioskopik positif tanpa melihat gambaran klinisnya diobati dengan rejimen MDT WHO untuk MB D. Klasifikasi Departemen Kesehatan Ditjen P2MPLP (1999) Sama seperti WHO, P2MPLP juga mengklasifikasikan kusta menjadi dua tipe yaitu tipe Pausebasilar (PB) dan Multibasilar (MB). Tabel 3.4.2. Klasifikasi PB dan MB menurut P2MPLP Kelainan kulit dan hasil pemeriksaan No. Pause Basiler Multi Basiler bakteriologis 1. Bercak (makula) a. Jumlah 1-5 Banyak b. Ukuran Kecil dan besar Kecil kecil c. Distribusi Unilateral atau Bilateral, simetris bilateral asimetris d. Permukaan Kering dan kasar Halus, berkilat e. Batas Tegas Kurang tegas f. Gangguan sensibilitas Selalu ada dan jelas Biasanya tidak jelas, jika ada, terjadi pada 23

2.

g. Kehilangan kemampuan berkeringat, bulu rontok pada bercak. Infiltrat a. Kulit

Bercak tidak berkeringat, ada bulu rontok pada bercak Tidak ada

yang sudah lanjut Bercak masih berkeringat, bulu tidak rontok

3. 4.

5. 6. 7.

Ada, kadang kadang tidak ada b. Membrana mukosa (hidung tersumbat Tidak pernah ada Ada, kadang kadang pendarahan di hidung) tidak ada Nodulus Tidak ada Kadang kadang ada Penebalan syaraf tepi Lebih sering terjadi Terjadi pada yang dini,asimetris lanjut biasanya lebih dari satu dan simetris Deformitas (cacat) Biasanya asimetris Terjadi pada stadium terjadi dini lanjut Sediaan apus BTA negatif BTA positif Ciri ciri khusus Central healing Punched out lesion penyembuhan di (lesi seperti kue tengah donat), madarosis, ginekomastia, hidung pelana, suara sengau Dikutip dan dimodifikasi dari Buku Panduan Pemberantasan Kusta Depkes (1999) L.I 3.6 Memahami dan menjelaskan manifestasi klinis Morbus Hansen.

Ridley dan Jopling (1962) memperkenalkan istilah spectrum determinate pada penyakit kusta yang terdiri atas berbagai tipe atau bentuk, yaitu: TT Ti BT BB BL Li LL : Tuberkuloid polar, bentuk yang stabil : Tuberkuloid indefinite : Borderline Tuberkuloid : Mid Borderline Bentuk yang labil : Borderline Lepromatosa : Lepromatosa indefinite : Lepromatosa polar, bentuk yang stabil

Tipe I (Indeterminate) tidak termasuk dalam spektrum. TT merupakan tuberkuloid 100%, yakni tipe stabil yang tidak akan mungkin berubah tipe. Begitu pula dengan LL yang merupakan lepromatosa 100%, tipe stabil yang tidak akan berubah tipe lagi. Sedangkan diantara Ti dan Li tipe borderline atau campuran, antara tuberkuloid dan lepromatosa. BB adalah tipe campuran yang terdiri dari 50% lepromatosa dan 50% tuberkuloid. BT dan Ti lebih banyak fase tuberkuloid. BL dan Li lebih banyak fase lepromatosa.

24

Menurut klasifikasi WHO (1981) dan modifikasinya (1988), kusta dapat terbagi atas dua tipe, yaitu sebagai berikut: Pausibasilar (PB) Hanya kusta tipe I, TT dan sebagian besar BT dengan BTA negatif menurut kriteria Ridley dan Jopling. Multibasilar (MB) Termasuk kusta tipe LL, BL, BB da sebagian BT menurut kriteia Ridley&Jopling atau B dan L menurut Madrid dan semua tipe kusta dengan semua tipe kusta dengan BTA positif

Manifestasi klinis, bakteriologik, dan imunologik dari kusta multibasilar (MB)

Manifestasi klinis, bakteriologik, dan imunologik dari kusta pausibasilar (PB)

25

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Manifestasi klinis yang lain: Adanya bercak tipis seperti panu pada badan/tubuh manusia. Pada bercak putih ini pertamanya hanya sedikit, tetapi lama-kelamaan semakin melebar dan banyak. Adanya pelebaran saraf terutama pada saraf ulnaris dan medianus. Adanya bintil-bintil kemerahan (leproma, nodul) yang tersebar pada kulit. Alis rambut rontok. Muka berbenjol-benjol dan tegang, disebut facies leomina (muka singa). Memperlihatkan gejala 5A (Akromia, Anestesi, Anhidrosis, Alopesia, Atrofi). L.I 3.7 Memahami dan menjelaskan diagnosis dan diagnosi banding Morbus Hansen.

Diagnosis Penyakit Kusta Diagnosis penyakit kusta didasarkan gambaran klinis, bakterioskopis,dan histopatologis. Di antara ketiganya, diagnosis secara klinislah yang terpenting dan paling sederhana. Hasil bakterioskopis memerlukan waktu paling sedikit 15-30 menit, sedang histopatologis memerlukan 3-7 hari. Kalau masih memungkinkan, baik juga dilakukan tes lepromine ( Mitsuda ) untuk membantu penentuan tipe, hasil baru diketahui setelah 3-4 minggu. Untuk menetapkan diagnosis penyakit kusta perlu dicari tandatanda pokok atau cardinal sign yaitu : a. Lesi ( kelainan ) kulit yang mati rasa Kelainan kulit atau lesi dapat berbentuk bercak keputih-putihan (hypopigmentasi) atau kemerah-merahan (eritematous) yang mati rasa (anesthesia).

26

b. Penebalan saraf tepi yang disertai dengan gangguan fungsi saraf. Gangguan fungsi saraf ini merupakan akibat dari peradangan kronis saraf tepi (neuritis perifer). Gangguan fungsi saraf ini bisa berupa : mati rasa, kelemahan otot (parese) atau kelumpuhan (paralise) dan kulit kering dan retak-retak. c. Adanya kuman tahan asam di dalam kerokan jaringan kulit (BTA positif) Pemeriksaan kerokan kulit hanya dilakukan pada kasus yang meragukan, Untuk menegakkan penyakit kusta, paling sedikit harus ditemukan satu tanda kardinal. Bila tidak ada atau belum dapat ditemukan salah satu tanda kardinal, maka kita hanya dapat mengatakan sebagai tersangka kusta dan perlu diamati/ periksa ulang 3 6 bulan sampai diagnosa kusta dapat ditegakkan atau disingkirkan.

Pemeriksaan Penunjang 1. Pemeriksaan Bakterioskopik Sediaaan dibuat dari kerokan kulit atau mukosa hidung yang diwarnai dengan pewarnaan terhadap basil tahan asam, antara lain dengan ZIEHL NEELSEN. Bakterioskopik negatif pada seorang penderita, bukan berarti orang tersebut tidak mengandung M. leprae. Untuk riset diperiksa 10 tempat dan untuk rutin minimal 4-6 tempat, yaitu kedua cuping telinga bagian bawah tanpa melihat ada tidaknya lesi di tempat tersebut, dan 2-4 tempat lain yang paling aktif, yang paling eritomatosa dan paling infiltratif. M. leprae tergolong basil tahan asam (BTA), akan tampak merah pada sediaan. Dibedakan bentuk batang utuh (solid), batang terputus (fragmented), dan butiran (granular). Bentuk solid adalah basil hidup, sedang fragmented dan granular bentuk mati. Bentuk hidup lebih berbahaya karena dapat berkembangbiak dan dapat menularkan ke orang lain. Kepadatan BTA tanpa membedakan solid dan nonsolid pada sebuah sediaan dinyatakan dengan Indeks Bakteri (I.B) dengan nilai dari 0 sampai 6+ menurut Ridley. 0 bila tidak ada BTA dalam 100 lapangan pandang (LP). o 1+ Bila 1-10 BTA dalam 100 LP o 2+ Bila 1-10 BTA dalam 10 LP o 3+ Bila 1-10 BTA rata-rata dalam 1 LP o 4+ Bila 11-100 BTA rata-rata dalam 1 LP o 5+ Bila 101-1000 BTA rata-rata dalam 1 LP o 6+ Bila > 1000 BTA rata-rata dalam 1 LP Indeks Morfologi (IM) adalah presentase bentuk solid dibandingkan dengan jumlah solid dan nonsolid. 2. Pemeriksaan histopatologik Gambaran histopatologik Tipe Tuberkuloid adalah tuberkel dan kerusakan saraf yang lebih nyata, tidak ada basil atau hanya sedikit dan non solid. Pada Tipe Lepromatosa terdapat kelim sunyi subepidermal (subepidermal clear zone), yaitu suatu daerah langsung di bawah epidermis yang jaringannya tidak patologik. Didapati sel virchow dengan banyak basil. Pada Tipe Borderline terdapat campuran unsur-unsur tersebut. 27

3. Tes Lepromin Tes lepromin adalah tes non spesifik untuk klasifikasi dan prognosis lepra, tapi tidak untuk diagnosis, berguna untuk menunjukkan sistem imun penderita terhadap M. leprae. 0,1 ml lepromin, dipersiapkan dari extraks basil organisme, disuntikkan intradermal. Kemudian dibaca pada setelah 48 jam / 2 hari (Reaksi Fernandez), atau 3-4 minggu (Reaksi Mitsuda). Reaksi Fernandez positif, bila terdapat indurasi dan erytema, yang menunjukkan kalau penderita bereaksi terhadap M. leprae yaitu respon imun tipe lambat, ini seperti Mantoux test (PPD) pada M. tuberculosis. Sedangkan Reaksi Mitsuda bernilai : 0 : Papul berdiameter 3 mm atau kurang +1 : Papul berdiameter 4-6 mm +2 : Papul berdiameter 7-10 mm +3 : Papul berdiameter lebih dari 10 mm atau papul dengan ulserasi. Reaksi Mitsuda berkorelasi baik dengan respon imun penderita yang bernilai prognosis. Klasifikasi histologi pada biopsi jaringan dari reaksi mitsuda memiliki kemungkinan klinis lebih baik daripada histologi dari lesi kulit lepra itu sendiri. 4. Pemeriksaan Serologik Pemeriksaan serologik kusta didasarkan atas terbentuknya antibody pada tubuh seseorang yang terinfeksi oleh M. leprae. Macam-macam pemeriksaannya adalah : Uji MLPA (Mycobacterium Leprae Particle Aglutination) Uji ELISA ( Enzymed Linked Immuno-Sorbent Assay) ML dipstick Diagnosis Banding o Lesi makula : Vitiligo, Pitiriasis alba, Pitiriasis versikolor, Tinea corporis, dll o Lesi Papula : Granuloma anulare, Liken planus, dll o Lesi plak : Tinea korporis, Pitiriasis rosea, psoriasis, dll o Lesi Nodul : Acne vulgaris, neurofibromatosis, dll o Lesi pada saraf : Amyloidosis, diabetes, trachoma, dll L.I 3.8 Memahami dan menjelaskan penatalaksanaan Morbus Hansen. Prinsip terapi lepra, yaitu : o o o o Menghentikan infeksi, dengan obat antikusta Mencegah dan mengobati reaksi dan mengurangi resiko kerusakan saraf Mengobati komplikasi kerusakan saraf (anestesia, trauma, kelumpuhan) Rehabilitasi pasien dari segi sosial dan psikologis

28

Obat anti kusta yang paling banyak dipakai saat ini adalah DDS (Diaminodifenil Sulfon), Klofazimin dan Rifampisin. Pada tahun 1998 WHO menambahkan 3 obat antibiotika lain untuk pengobatan alternative, yaitu Ofloksasin, Minosiklin dan Klaritromisin. Untuk mencegah kemungkinan timbulnya resistensi, pada tahun 1971 dimulai pengobatan kombinasi atau Multi Drug Treatment (MDT), sebagai usaha untuk : o Mencegah dan mengobati resistensi o Memperpendek masa pengobatan o Mempercepat pemutusan mata rantai penularan Pengobatan Kusta MDT PB, Dosis lengkap 6 kemasan blister dalam 6-9 bulan : o Dewasa : Sebulan sekali (Hari pertama) : - 2 kapsul Rifampisin (600 mg = 300 mg + 300 mg) - 1 tablet DDS ( 100 mg) Setiap hari (Hari ke-2 sampai hari ke-28) : - 1 tablet DDS (100 mg) - Anak-anak umur (10-14 tahun) : Sebulan sekali (Hari pertama) : - 2 kapsul Rifampisin (450 mg = 300 mg + 150 mg) - 1 tablet DDS ( 50 mg) Setiap hari (Hari ke-2 sampai hari ke-28) : - 1 tablet DDS (50 mg) o Anak-anak < 10 tahun : Sebulan sekali (Hari pertama) : - 1 kapsul Rifampisin (10-20 mg/kgBB atau 300 mg) - 1 tablet DDS ( 1-2 mg/kg BB/hari atau 25 mg) Setiap hari (Hari ke-2 sampai hari ke-28) : - 1 tablet DDS (1-2 mg/kgBB/hari atau 25 mg) Pengobatan Kusta MDT MB, Dosis lengkap 12 kemasan blister dalam 12-18 bulan o Dewasa : Sebulan sekali (Hari pertama) : - 2 kapsul Rifampisin (600 mg = 300 mg + 300 mg) - 1 tablet DDS ( 100 mg) - 3 kapsul Klofazimin (3x100 mg) Setiap hari (Hari ke-2 sampai hari ke-28) : - 1 tablet DDS (100 mg) - 1 kapsul Klofazimin (50 mg/hari), atau 2 kapsul selang sehari (100 mg selang sehari)

29

o Anak-anak umur (10-14 tahun) : Sebulan sekali (Hari pertama) : - 2 kapsul Rifampisin (450 mg = 300 mg + 150 mg) - 1 tablet DDS ( 50 mg) - 2 kapsul Klofazimin (150 mg = 100 mg + 50 mg) Setiap hari (Hari ke-2 sampai hari ke-28) : - 1 tablet DDS (50 mg) - 1 kapsul Klofazimin (50 mg) o Anak-anak < 10 tahun : Sebulan sekali (Hari pertama) : - 1 kapsul Rifampisin (10 mg/kgBB atau 300 mg) - 1 tablet DDS ( 1-2 mg/kg BB/hari atau 25 mg) - 1 kapsul Klofazimin (100 mg disesuaikan dengan berat badan) Setiap hari (Hari ke-2 sampai hari ke-28) : - 1 tablet DDS (25 mg) - Klofazimin (50 mg 2x seminggu disesuaikan dengan berat badan)

EFEK SAMPING o Rifampisin Hepatotoksik, nefrotoksik, gejala GI, flu-like syndrom, erupsi kulit DDS (Diaminodifenil Sulfon Nyeri kepala, erupsi obat, anemia hemolitik, leukopenia, insomnia, neuropati perifer, sindrom DDS, NET, hepatitis, hipoalbuminemia, methemoglobinemia o Klofazimin Warna kecoklatan pada kulit, kekuningan pada sklera, gangguan GI, penurunan berat badan o Ofloksasin Gangguan GI, Gangguan SSP, insomnia, dizziness, nyeri kepala, nervousness dan halusinasi. Pada anak, remaja, wanita hamil dan menyusui harus hati-hati o Minosiklin Pewarnaan gigi pada bayi dan anak-anak, hiperpigmentasi kulit dan mukosa, gangguan GI dan SSP. Tidak dianjurkan untuk anak-anak dan selama kehamilan o Klaritromisin Gangguan GI o Prednison Hiperglikemia, edema, myopathy, ulkus peptik, hipokalemi, osteoporosis, euphoria, psikosis, myastenia gravis, gangguan pertumbuhan, dll

30

L.I 3.9 Memahami dan menjelaskam pencegahan Morbus Hansen. L.I 3.10 Memahami dan menjelaskan prognosis Morbus Hansen. L.O 4 Memahami dan menjelaskan kesehatan kulit menurut agama islam. QS Al Ala ayat : 14 Dalam Islam, kebersihan adalah bersifat global atau luas. Ertinya kebersihan itu meliputi semua aspek dalam Islam. Barangsiapa benar-benar dapat mengamalkan kebersihan yang global secara Islam ini maka oleh Allah mereka dijanjikan kemenangan baik di dunia terlebih lagi di akhirat. Kebersihan menurut Islam paling tidak ada 8 peringkat, yaitu : 1.Kebersihan Itiqad atau Akidah. Kebersihan dalam aspek ini adalah yang paling utama, yaitu kebersihan aqidah dari syirik atau kekufuran. Jangan sampai aqidah kita tidak bersih, baik kepada Zat Allah, Sifat Allah, maupun perbuatan-Nya. Seringkali kita terjebak secara tidak sadar dalam hal-hal kecil, dimana jika tidak kita pahami secara itiqad maka hal-hal kecil itu dapat menjerumuskan kita kepada syirik khafi ( halus ). Misalnya kita sering mengatakan, secara tidak sedar : Ijazah inilah yang akan mengubah nasibmu, Ubat ini yang telah menyembuhkan sakitku selama ini, Doktor telah confirm bahawa hidupnya tinggal 6 bulan lagi, Air minum ini dapat menghilangkan hausmu, Andaikan semalam mereka tidak lewat sampai, pasti mereka tidak akan mengalami kemalangan maut itu Atau kita sering bimbang dengan rezeki kita, padahal selama kita masih hidup Allah telah menjamin rezeki kita. Atau kita tidak yakin dengan ketentuan Allah, kita tidak redha dengan apa yang Allah telah tentukan kepada kita. 2.Bersih dari sifat Mazmumah ( sifat jahat dalam hati ) Mazmumah ada 2 jenis yaitu mazmumah atau sifat tercela terhadap Allah dan mazmumah terhadap sesama manusia, yaitu Antara penyakit hati (mazmumah ) terhadap Allah adalah : Tidak khusyuk beribadah, Lalai dari mengingat Allah,Tidak yakin dengan Allah,Tidak ikhlas dengan Allah,Tidak takut pada ancaman Allah,Tidak harap pada rahmat Allah,Tidak redha akan takdir Allah,Tidak puas dengan pemberian Allah,Tidak sabar atas ujian Allah, Tidak bersyukur atas nikmat Allah,Tidak terasa diawasi Allah,Tidak terasa kehebatan Allah,Tidak rindu dan cinta dengan Allah,Tidak tawakal pada Allah,Tidak rindu pada syurga dan tidak takut neraka,Gila dunia, membuang waktu dengan sia-sia,Penakut (takut pada selain Allah),Ujub,Riya,Gila pujian dan kemasyhuran 31

Sedangkan mazmumah terhadap sesama manusia diantaranya, adalah : Benci membenci,Rasa gembira kalau dia mendapat celaka dan rasa sedih kalau dia berhasil,Medoakan kejatuhannya,Tidak mahu minta maaf dan tidak memaafkan kesalahannya,Hasad dengki,Dendam,Bakhil,Buruk sangka,Tidak berlapang dada,Tiada ketenangan diri,Tidak tolongmenolong,Tamak,Degil dan keras hati,Mementingkan diri sendiri,Sombong,Tidak sabar dengan manusia,Memandang hina kepada seseorang,Riya,Ujub,Rasa diri bersih 3.Bersih dari hawa Nafsu yang jahat. Kita mesti bersih dari nafsu yang jahat, sebab nafsu itu kalau kita ikuti, maka Allah akan menganggap kita bertuhankan nafsu. Tuhan berfirman, Tidakkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhan?. di firman yang lain Allah menyebutkan sejahatjahat manusia adalah yang menuruti kehendak hawa nafsunya .Nafsu adalah kehendak dalam diri manusia yang Allah ciptakan berupa fitrah, baik itu kehendak yang sesuai dengan syariat atau yang bertentangan dengan syariat. Kewajiban kita adalah membersihkan dan mendidik nafsu dari hal-hal yang melanggar syariat dengan cara melawan nafsu ( mujahadatun nafsi ) yang jahat diiringi dengan menyuburkan kehendak-kehendak yang sesuai dengan kehendak yang Allah redhai 4. Perkara yang lahiriah Juga mesti terbebas atau bersih dari hal-hal yang makruh terlebih lagi yang haram.Iaitu kebersihan makanan, minuman, tempat tinggal, pakaian, rumah, tempat mandi/tandas, dsb. 5. Kebersihan pergaulan Dari terlibat pergaulan yang makruh atapun haram, bergaul bebas tanpa ada batasan syariat dsb. 6. Bersih di sudut ibadah Misalnya bersih dari 3 jenis najis,bersih dari najis aini dan najis hukmi. Wajib bersih juga dari hadas besar dan hadas kecil, dari hal-hal yang menjijikan seperti kotoran hidung, kotoran mata, kotoran telinga. Hidarkan sholat dengan pakaian yang tidak kemas dan rapi atau pakaian yang ala kadarnya, walaupun tidak najis tapi kita depan Tuhan. Bila mau bertemu raja saja, kita bersih, wangi, pakai make up sedangkan dengan Allah kita ala kadar sahaja. Secara tidak sedar kita sudah mengecilkan Tuhan atau tidak beradab dengan Tuhan.

32

7. Kebersihan akal dari ideology Zaman solafussoleh dahulu umat Islam tidak ada ideologi-ideologi atau isme seperti saat ini. Ideologi adalah cara atau sistem hidup yang direka oleh manusia yang tidak ada kaitannya dengan wahyu. Bersih dari Ideologi ertinya jangan kita jadikan ideologi sebagai pegangan, sebagai agama,sebagai cara hidup.Tanpa terkecuali, seperti komunis, nasionalis, kapitalis, sosialis, demokrasi dsb. Sebagai ilmu tidak mengapa belajar ideologi, tapi jangan kita jadikan sebagai pegangan hidup. Karena hanya Islam saja merupakan sistem hidup yang diredhai Allah. Begitu juga ekonomi kita, pendidikan kita, hendaklah bersih dari sekulerisme, dari riba, penindasan, terutama pendidikan mesti bersih sebab pendidikan sangat mencorak jiwa peribadi dan pendirian kita. Jangan sampai pendidikan kita bercorak sekular. Diantara yang berbahaya dalam pendidikan sekular yaitu mengesampingkan Tuhan, Allah tidak dimasukkan dalam setiap program pendidikan atau pendidikan tidak dikaitkan dengan Yang Maha Pencipta. Walaupun yang dipelajari perkara yang halal, akan tetapi akan jadi hasilnya menjadi haram bila Allah ditinggalkan atau dikesampingkan. Kita mungkin bertanya, apa salahnya saya belajar matematik, sastera, sejarah,ekonomi,sains? Jawabannya, Tidak salah. Jadi salahnya dimana? Salahnya iaitu jika itu semua tidak dikaitkan dengan Allah atau mengesampingkan Allah. Jadi dikarenakan tidak dikaitkan dengan Allah, ilmu-ilmu yang tidak salah tadi menjadi salah.Kenapa? Sebab jika mengesampingkan Allah maka sains jadi Tuhan, matematik jadi Tuhan, walaupun tidak menyebut itu Tuhan. Side effect-nya juga ialah semakin maju peradaban, semakin canggih teknologi, semakin gagah pembangunan material maka semakin rosak akhlak dan moral manusia, semakin banyak terjadi kejahatan dan peperangan, dsb Wahyu Allah yang pertama kali turun kepada Nabi Muhammad adalah : iqra bismi rabbikal ladzi khalaq( bacalah dengan nama Tuhanmu..) 8.Bersih dari adat. Sekedar belajar adat tidak mengapa, tapi jangan dijadikan sebagai pegangan. Sebab Islam itu sudah syumul / lengkap / sempurna. Misalnya pembagian harta waris. Di beberapa darah, perempuan mendapat harta lebih banyak dari lelaki bahkan ada yang semua diberikan pada perempuan. Boleh jadi orang yang kawin dengan perempuan dari daerah itu secara tidak sadar dia makan harta haram. Masih banyaklagi contoh adat yang tidak sesuai dengan syariat. Jangan sebut adat bersendi syariat, sebut saja syariat, karena itu adalah dua hal yang berbeda, adat merupakan ciptaan manusia sedangkan Islam adalah dari Allah. Jadi kebersihan menurut Islam, menurut kehendak Allah itu bersifat global. Marilah kita mengukur diri kita. Mungkin kita sudah menjaga kebersihan akidah dan ibadah, tapi pendidikan, 33

ekonomi, akal dan pergaulan belum bersih. Atau misalnya walaupun tidak ikut ideologi, tapi kalau kita membesarkan dan memuja akal, pergaulan kita masih bebas, ekonomi masih terlibat riba dan kapitalis artinya kita belum bersih juga. Agama Islam hendaklah bersih dalam semua aspek. Kita dapat melihat diri kita hanya bersih dalam beberapa aspek saja. Yang lain belum tentu. Itupun misalnya di sudut ibadah, setelah diperiksa rumah-rumah kita, belum bersih. Tempat Solatnya, bilik mandinya, tandasnya, bilik tidurnya dsb Yang disebut tadi yang besar-besar. Sebenarnya luas sekali ISO Allah tentang kebersihan ini. Tentang kebersihan ini pun kita masih gagal, sedangkan dalam ajaran Islam kebersihan sangat penting. Marilah kita berusaha sungguh-sungguh menjaga kebersihan dalam semua aspek untuk mendapat kemenangan di dunia dan Akhirat. Semoga Allah menilai usaha kita nanti.Amin

Mennutup Aurat Menurut Pandangan Islam Islam adalah agama fitrah. Karena itu, dalam segala urusan kehidupan manusia yang bersifat duniawi, Islam lebih banyak mengikuti ketentuan yang sesuai dengan fitrah manusia yang sempurna. Termasuk di dalamnya adalah masalah pakaian. Islam tidak pernah menentukan ataupun memaksakan suatu bentuk pakaian yang khusus bagi manusia. Islam tidak mempersoalkan model pakaian yang dipakai oleh suatu bangsa atau kelompok masyarakat tertentu, bahkan Islam mengakui setiap bentuk pakaian dan arah hidup manusia. Islam secara tegas telah menetapkan batas-batas penutupan aurat bagi laki-laki dan perempuan. Islam mewajibkan kaum lelaki menutup auratnya dengan pakaian yang sopan, diutamakan dari pusar hingga lutut, sedangkan bagi wanita, diwajibkan menutup seluruh anggota badannya, kecuali wajah dan telapak tangannya. Jika dilihat dari banyak kasus seperti pelecehan akhlaq, kemesuman, dan perzinahan, salah satu sebabnya ialah karena kebebasan wanita memakai pakaian yang tidak sopan, ajaran Islam sungguh merupakan suatu solusi alternatif yang paling tepat. Pakaian gaya Barat dirancang bukannya untuk menutup aurat, tetapi untuk mendatangkan syahwat. Menghias diri memakai make up bukannya untuk suami di rumah, tetapi ditujukan untuk menarik perhatian orang di jalan atau pertemuan umum. Selera hidup mereka pun karena

34

tidak dibimbing oleh agama dan lebih terdorong oleh hawa nafsunya, telah menyebabkan budaya mode-mode pakaian mereka yang serba wah, mewah, dan memancing nafsu. Akibatnya, pergaulan antara pria dan wanita cenderung tidak mengenal kehormatan diri dan tidak lagi didasari oleh iman dan akhlaq yang terpuji. Duduk-duduk berduaan dengan lain jenis ditempat sunyi amat mudah dilakukan di mana saja, dan oleh siapa saja. Sehingga, perbuatan zina pun seakan-akan sudah tidak dianggap sebagai suatu kejahatan, selama hal itu dilakukan dengan dasar suka sama suka antara yang bersangkutan. Sikap dan perilaku tidak terhormat seperti digambarkan di atas sangat dibenci oleh Islam. Sehingga untuk mencegah dan menangkalnya, Islam telah mensyariatkan pemakaian jilbab bagi wanita muslim. Allah SWT berfirman : Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri orangorang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal sehingga mereka tidak diganggu. (Al-Ahzab: 59) Ayat ini menegaskan bahwa wanita-wanita mukmin diperintah untuk menjulurkan jilbabnya, yakni memakai hijab untuk menutup auratnya. Adapun yang dimaksud dengan jilbab atau hijab itu adalah sejenis baju kurung dengan kerudung yang longgar bentuknya, yang didesain supaya dapat menutup kepala, muka, dan dada. Model pakaian seperti itu sudah umum dipakai oleh kaum muslimah karena merupakan simbol penampilan wanita pribadi yang shalihah. Rasulullah saw bersabda, Wahai Asma, sesungguhnya wanita itu bila sudah menstruasi (baligh) tidak pantas terlihat tubuhnya kecuali ini dan ini. Dan beliau menunjukkan muka dan telapak tangannya. (HR Abu Dawud dan Aisyah) Syariat Islam mewajibkan wanita mengenakan jilbab, yakni berpakaian yang benar-benar menutup aurat, tidak lagi agar kaum wanita tidak terjerumus menjadi alat penggoda bagi setan untuk melecehkan akhlaq dan nilai-nilai kemanusiaan. Dengan pakaian yang sesuai dengan kaidah Islam itu, setidaknya akan melindungi pemakainya dari godaan setan yang jelalatan di jalanan. Bagi wanita yang memakai jilbab pada umumnya bisa merasakan adanya semacam kendala diri untuk tidak melakukan hal-hal yang terlarang dan dicela oleh syara. Dengan kata

35

lain, jilbab dapat dikategorikan sebagai pengontrol perilaku wanita guna menyelamatkan kehormatan dirinya dari berbagai macam godaan dan rongrongan setan. Di samping itu, dengan tertutupnya aurat, wanita muslim tidak mudah dijadikan permainan oleh orang-orang yang berniat jahat, terutama kaum lelaki yang mata keranjang dan suka mengganggu kehormatan kaum hawa. Di dalam tubuh wanita diibaratkan ada perhiasan yang harus dijaga. Jika dijaga dengan penutup yang rapat, niscaya perhiasan tersebut akan mudah jadi sasaran kerlingan mata siapa saja. Jadi, sangat berbeda dengan kaum wanita yang gemar mengumbar auratnya di muka umum dengan pakaiannya yang tak senonoh. Kelompok wanita ini, seperti biasanya, akan mudah dituduh sebagai wanita yang tidak berakhlaq mulia dan berselera rendah. Rasulullah saw bersabda : Seseorang wanita yang menanggalkan pakaiannya di luar rumah, yakni membuka auratnya untuk laki-laki lain, maka Allah Azza wa Jalla akan mengelupaskan kulit tubuh si wanita itu. (HR Imam Ahmad, Thabrani, Hakim, dan Baihaki) Dulu, jilbab yang merupakan identitas busana muslimah ini pernah menjadi isu politik di sementara negeri-negeri yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Bahkan ketika itu, masyarakat Islam sendiri umumnya masih menganggap bahwa jilbab merupakan busana eksklusif yang hanya dipakai oleh kalangan santri di pondok pesantren atau siswa pada sekolah agama. Sekarang, alhamdulillah, jilbab telah memasyarakat dan menyeruak ke segenap lapisan masyarakat; dipakai oleh kalangan luas, baik santri, pelajar, mahasiswa, pegawai, ibu rumah tangga, maupun para wanita karir, di desa maupun di kota-kota besar.

Mengapa busana muslimah sampai di zaman modern ini tetap digemari dan dirasa cocok, baik oleh kawula muda maupun kaum tua? Selain karena alasan syara, bentuk pakaian jilbab memang tak pernah ketinggalan jaman, dan akan tetap eksis atau bertahan di tengah-tengah masyarakat. Sebab, sebenarnya mode busana 36

muslimah itu tidaklah statis. Boleh-boleh saja ia mengalami renovasi atau pembaharuan mode yang mengacu kepada modernisasi, sebagaimana yang kini telah banyak ditampilkan oleh para perancang mode, asalkan semua itu tidak terlepas dari kaidah-kaidah yang ada dalam Al-Quran dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai akhlakul karimah. Kenyataan ini patut kita banggakan, lebih-lebih dalam rangka membentengi kaum wanita dari persaingan mode-mode pakaian Barat yang semakin norak dan tidak berakhlaq. Kenyataan ini bisa terjadi karena sesungguhnya hukum Islam membolehkan orang Islam mengenakan pakaian dengan bentuk dan model apa saja sesuai dengan zaman dan budaya bangsanya, asalkan dapat berfungsi untuk menutup aurat dan tidak menjurus kepada pemborosan atau kesombongan atau bermegah-megahan. Sebab, Rasulullah saw telah memperingatkan : Allah tidak akan melihat dengan rahmat pada hari kiamat kepada orang yang memakai kainnya (pakaian) karena sombong. (HR Bukhari dan Muslim) Rasulullah saw bersabda : Barang siapa meninggalkan pakaian yang mewah-mewah karena tawadhu kepada Allah, padahal ia mampu membelinya, maka Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di muka sekalian manusia untuk disuruh memilih sendiri pakaian iman yang mana yang ia sukai untuk dipakainya. (HR Tirmidzi).

37

DAFTAR PUSTAKA
o Lesson, C.Roland.1996. Buku Ajar Histologi. Jakarta : EGC

o Sjamsoe Daili, Emmi S. 2003. Kusta. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia : Jakarta. o Mansjoer, arif,dkk.2008.Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga Jilid Dua.Jakarta:Media Aesculapius FKUI o Sherwood, Lauralee.2001.Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem Edisi 2. Jakrta:EGC o http://alishlahfise.multiply.com/journal/item/10 o http://www.mail-archive.com/syiar-islam@yahoogroups.com/msg06863.html

38