Anda di halaman 1dari 10

EVALUASI PROGRAM PEMBANGUNAN KAWASAN TANPA ROKOK DI PUSKESMAS KECAMATAN CILAMAYA WETAN KABUPATEN KARAWANG JANUARI DESEMBER 2012

Titis Kusuma Anindya Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Komunitas Fakultas Kedokteran UKRIDA coklatlucu_anin@hotmail.com

Abstrak

Indonesia menduduki peringkat ke-3 dengan jumlah perokok terbesar di dunia setelah China dan India (WHO, 2008) dan tetap menduduki posisi peringkat ke-5 konsumen rokok terbesar setelah China, Amerika Serikat, Rusia dan Jepang tahun 2007. Pada tahun 2010, sekitar 190.260 orang Indonesia yang terdiri dari 100.680 pria dan 89.580 wanita meninggal karena sakit yang disebabkan merokok. Data tersebut berasal dari riset Soewarta Kosen, Center For Community Empowerment Health Policy and Humanities, Institute Kesehatan dan Pengembangan Nasional, dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Terkait dengan prevalensi rokok di Indonesia yang terus meningkat tersebut, Kementerian Kesehatan telah mengambil langkah dengan menyusun berbagai rencana program. Program tersebut adalah dengan menyusun UU 36/2009 tentang kesehatan pasal 113 sampai dengan pasal 115. Evaluasi program pembinaan kawasan tanpa rokok di Puskesmas Kecamatan Cilamaya Wetan, Kabupaten Karawang periode Januari 2012 sampai dengan Desember 2012 dengan membandingkan cakupan terhadap indikator yang ditetapkan dengan menggunakan pendekatan sistem. Dari hasil evaluasi didapatkan Pada lingkungan di tempat fasilitas kesehatan masih didapatkan adanya asap rokok dan masih banyaknya perokok yang melanggar ketentuan KTR. Penyebab dari masalah itu adalah masih terdapatnya perokok yang merokok di dalam lingkungan fasilitas kesehatan, sikap acuh tak acuh perokok terhadap ketentuan KTR, dan sanksi yang dinilai ringan sehingga tidak membuat jera. Upaya untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan pemberian edukasi yang efektif mengenai bahaya dan kerugian merokok, menegur perokok di kawasan tanpa rokok, dan penetapan sanksi yang lebih besar.

Kata kunci : evaluasi program, KTR

I.

Pendahuluan Latar Belakang Indonesia menduduki peringkat ke-3 dengan jumlah perokok terbesar di dunia setelah China dan India (WHO, 2008) dan tetap menduduki posisi peringkat ke-5 konsumen rokok terbesar setelah China, Amerika Serikat, Rusia dan Jepang tahun 2007.1

1|Artikel Evaluasi Program Pembangunan Kawasan Tanpa Rokok

Pada tahun 2010, sekitar 190.260 orang Indonesia yang terdiri dari 100.680 pria dan 89.580 wanita meninggal karena sakit yang disebabkan merokok. Jumlah ini menyumbang total kematian di tahun yang sama sejumlah 1.539.288 jiwa. Data tersebut berasal dari riset Soewarta Kosen, Center For Community Empowerment Health Policy and Humanities, Institute Kesehatan dan Pengembangan Nasional, dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, yang dipresentasikan di WCTOH (World Conference on Tobacco or Health) ke-15 pada 25 April 2012 di Singapura.2 Data terbaru menunjukan prevalensi merokok dewasa usia 15 tahun ke atas pada 2010 mencapai 35%; yang terdiri atas 65% pria dan 35% wanita. Dalam sepuluh tahun terakhir (2001-2010), dilaporkan bahwa usia perokok pemula yaitu 5-9 tahun meningkat 400% dari 0,4% (Susenas 2001) menjadi 1,7% (Riskesdas 2010). Prevalensi perokok usia remaja 13-15 tahun juga mengalami peningkatan dari 12,6% pada tahun 2006 menjadi 20,3% pada tahun 2009.3 Secara nasional, prevalensi perokok tahun 2010 sebesar 34,7%, tertinggi di Provinsi Kalimantan Tengah (43,2%) dan terendah di Sulawesi Tenggara sebesar 28,3%. Prevalensi perokok usia 10-14 tahun tahun 1995 sebesar 0,3% atau sekitar 71.000 orang, dan pada tahun 2010 meningkat tajam menjadi sekitar 426.000 orang. Artinya dalam kurun waktu 15 tahun, jumlah perokok pada kelompok umur ini meningkat enam kali lipat.3 Bahaya penyakit pernapasan, jantung, neoplasma/kanker dan gangguan perinatal sepertinya tidak membuat mereka takut untuk terus menerus mengonsumsi tembakau. 90% wanita yang terkena kanker memiliki suami yang merokok. Hal ini membuktikan bahwa pria yang merokok di rumah bisa membuat anak dan istrinya terkena penyakit karena paparan karbon monoksida dari asap rokok yang mempunyai daya lekat lebih besar terhadap sel darah merah.2 Diperkirakan lebih dari 40,3 juta anak tinggal bersama dengan perokok dan terpapar asap rokok di lingkungannya. Mereka inilah yang disebut perokok pasif. Kita ketahui bahwa anak yang yang terpapar asap rokok dapat mengalami peningkatan resiko terkena Bronkitis, Pneumonia, infeksi telinga tengah, Asma serta keterlambatan pertumbuhan paru-paru dan menyebabkan kesehatan yang buruk pada masa dewasa. 3 Angka kematian tersebut harusnya dapat dicegah, apalagi terdapat undang-undang kesehatan yang mengatur tentang tembakau, yaitu UU no 36 tahun 2009 pasal 113. Menurut Riset Kesehatan Dasar 2010 yang dilakukan oleh Unit Analisis Kebijakan dan
2|Artikel Evaluasi Program Pembangunan Kawasan Tanpa Rokok

Ekonomi Kesehatan Pusat Humaniora, sebanyak 34,7% perokok aktif adalah remaja berusia 15 tahun, 30,8% penduduk di pedesaan, dan 25,9% penduduk di perkotaan merokok setiap hari.2 Tembakau merupakan penyebab kematian yang dapat dicegah. Kematian prematur karena konsumsi tembakau biasanya terjadi rata-rata 15 tahun sebelum umur perokok mencapai usia manula.2 Data yang dirilis oleh WHO pada tahun 2008 menyebutkan bahwa tembakau dan produk turunannya merupakan faktor resiko terbesar yang menyebabkan 6 dari 8 penyakit yang menyebabkan kematian di dunia. Di Indonesia, penyakit tidak menular dengan rokok sebagai faktor resikonya telah menjadi penyebab kematian yang meningkat dari presentase 41% di tahun 1995 menjadi 60% pada tahun 2007. Sementara itu, beberapa studi menunjukan bahwa biaya ekonomi penyakit akibat rokok sangat tinggi, sekitar 4-6 kali lipat dibandingkan pemasukan pendapatan negara dari cukai tembakau. 3 Terkait dengan prevalensi rokok di Indonesia yang terus meningkat tersebut, Kementerian Kesehatan telah mengambil langkah dengan menyusun berbagai rencana program. Program tersebut adalah dengan menyusun UU 36/2009 tentang kesehatan pasal 113 sampai dengan pasal 115, Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri dengan Menteri Kesehatan, dan Surat edaran Menteri Dalam Negeri.1,3 Banyaknya jumlah perokok di Indonsia, seharusnya mendapatkan perhatian serius dan pengawasan ekstra dari pemerintah. Tapi hal ini sepertinya sulit diterapkan di Indonesia, sampai akhirnya rokok bebeas dihisap oleh siapa pun. Di kawasan Asia Pasific, Indonesia menjadi negara yang belum menendatangani FCTC (Framework Convention Tobacco Control) yang bertujuan uantuk melindungi generasi sekarang dan mendatang terhadap gangguan kesehatan, dampak sosial, lingkungan, dan ekonomi karena konsumsi tembakau dan paparan asap tembakau. Padahal, Indonesia ikut berperan dalam penyusunan konvensi FCTC ini.2 Pemberlakuan KTR (Kawasan Tanpa Rokok) sebenarnya merupakan aplikasi dari pemenuhan hak konstitusional hak waga negara yang dijamin dalam UUD 1945. Di samping itu, pengaturan KTR di tempat kerja dan tempat umum dimaksud untuk mematuhi amanat konstitusi yang diwujudkan dalam UU Kesehatan No. 36 tahun 2009, guna melindungi warga masyarakat terutama anak dan perempuan dari bahaya paparan asap rokok orang lain.2

3|Artikel Evaluasi Program Pembangunan Kawasan Tanpa Rokok

Keberhasilan pelaksanaan program pengembangan kawasan tanpa rokok di Puskesmas Cilamaya, Kabupaten Karawang periode Januari 2012 sampai dengan Desember 2012. Oleh karena itu, evaluasi program ini perlu dilakukan untuk menilai tingkat keberhasilan pelaksanaan program.

Permasalahan Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan masalahnya adalah : 1. Indonesia mendudukin peringkat ke-3 dengan jumlah perokok terbesar di dunia setelah China dan India menurut World Health Organization (WHO), 2008. 2. Prevalensi perokok tahun 2010 sebesar 34,7%. Prevalensi perokok usia 10-14 tahun tahun 1995 sebesar 0,3% atau sekitar 71.000 orang, dan pada tahun 2010 meningkat tajam menjadi sekitar 426.000 orang. 3. Di Indonesia, penyakit tidak menular dengan rokok sebagai faktor resikonya telah menjadi penyebab kematian yang meningkat dari presentase 41% di tahun 1995 menjadi 60% pada tahun 2007. 4. Rendahnya kesadaran masyarakat tentang bahaya merokok pun menjadi alasan sulitnya penetapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR). 5. Belum diketahuinya keberhasilan pelaksanaan program Pembangunan Kawasan Tanpa Rokok di Puskesmas Kecamatan Cilamaya, Kabupaten Karawang periode Januari 2012 sampai dengan Desember 2012.

Tujuan Umum Mengetahui keberhasilan pelaksanaan program Pembangunan Kawasan Tanpa Rokok di Puskesmas Kecamatan Cilamaya, Kabupaten Karawang periode Januari 2012 sampai dengan Desember 2012.

Tujuan Khusus 1. Diketahui hasil keluaran dari penyiapan dan pengadaan infrastruktur Program Pembangunan Kawasan Tanpa Rokok di Puskesmas Kecamatan Cilamaya (fasilitas pelayanan kesehatan), Kabupaten Karawang periode Januari 2012 sampai dengan Desember 2012.

4|Artikel Evaluasi Program Pembangunan Kawasan Tanpa Rokok

2. Diketahui petugas kesehatan yang tidak merokok menegur perokok untuk mematuhi ketentuan kebijakan Kawasan Tanpa Rokok di Puskesmas Kecamatan Cilamaya, Kabupaten Karawang periode Januari 2012 sampai dengan Desember 2012. 3. Diketahui perokok merokok di luar Kawasan Tanpa Rokok di wilayah kerja di Puskesmas Kecamatan Cilamaya, Kabupaten Karawang periode Januari 2012 sampai dengan Desember 2012. 4. Diketahui adanya sanksi bagi yang melanggar kebijakan Kawasan Tanpa Rokok di Puskesmas Kecamatan Cilamaya, Kabupaten Karawang periode Januari sampai dengan Desember 2012.

Sasaran Semua pasien maupun pengunjung yang berada di Puskesmas Kecamatan Cilamaya, Kabupaten Karawang, sebagai salah satu tempat fasilitas kesehatan umum, yang ditetapkan Undang-Undang Republik Indonesia No.36 Tahun 2009 untuk menjalankan Program Kawasan Tanpa Rokok periode Januari 2012 sampai dengan Desember 2012.

II. Materi dan Metode 2.2. Materi Materi yang dievaluasi dalam program ini terdiri dari hal-hal yang menjadi dasar dalam Program Pembangunan Kawasan Tanpa Rokok di Puskesmas Kecamatan Cilamaya, Kabupaten Karawang periode Januari 2012 sampai dengan Desember 2012, yang berisi kegiatan : 1. Pembentukan komite atau kelompok kerja penyusunan kebijakan 2. Terbentuknya kebijakan kawasan tanpa rokok 3. Penyiapan infrastruktur 4. Sosialisasi penerapan kawasan tanpa rokok 5. Penerapan kawasan tanpa rokok 6. Pengawsan dan penegakan hukum

2.3. Metode Metode yang digunakan pada kegiatan evaluasi program ini adalah dengan melakukan pengumpulan data, analisis data, dan pengolahan data dengan menggunakan pendekatan sistem terhadap Program Pembangunan Kawasan Tanpa Rokok di
5|Artikel Evaluasi Program Pembangunan Kawasan Tanpa Rokok

Puskesmas Kecamatan Cilamaya, Kabupaten Karawang periode Januari 2012 sampai dengan Desember 2012 sehingga dapat digunakan untuk menjawab permasalahan pelaksanaan program yang terjadi, baik pada awal, pertengahan ataupun di akhir program. III. Kerangka Teoritis 3.1 Pengertian Evaluasi Program Evaluasi adalah metode penilaian yang sistematis untuk mengumpulkan, menganalisis dan menggunakan informasi untuk menjawab pertanyaan tentang programprogram dan kebijakan, terutama tentang efektivitas dan efisiensi. 4

3.2 Metode evaluasi dengan Pendekatan Sistem Evaluasi secara garis besar dibagi menjadi dua jenis yaitu evaluasi formatif dan evaluasi sumatif. Secara garis besar, evaluasi formatif ditujukan untuk mengetahui apakah pelaksanaan program sudah berlangsung sesuai dengan perencanaan yang dicanangkan pada awal program. Manakalah evaluasi sumatif secara garis besar bertujuan untuk mengetahui apakah semua target sudah sesuai dengan output yang telah dicapai pada akhir program. 4 Pendekatan sistem (system approach) adalah penterapan dari jalan atau cara berpikir yang sistematis dan logis dalam membahas dan mencarikan jalan keluar dari suatu keadaan atau permasalahn yang dihadapi. 5 Pendekatan sistem adalah prinsip pokok atau cara kerja yang diterapkan pada waktu menyelenggarakan pekerjaan administrasi. Sistem terbentuk dari elemen yang saling berhubungan dan mempengaruhi. Elemen tersebut, yaitu : 4 1. Masukan (input). Ialah masukan kumpulan bagian atau elemen yang terdapat dalam sistem dan yang diperlukan untuk dapat berfungsinya sistem tersebut. 2. Proses (process). Ialah kumpulan bagian atau elemen yang terdapat dalam sistem dan yang berfungsi untuk mengubah masukan menjadi keluaran yang direncanakan. 3. Keluaran (output). Ialah bagian atau elemen yang dihasilkan dari berlangsungnya proses dalam sistem. 4. Umpan balik (feed back). Adalah kumpulan bagian atau elemen yang merupakan keluaran dari sistem dan sekaligus sebagai masukan bagi sistem tersebut. 5. Lingkungan (environment). Adalah dunia di luar dari sistem yang tidak dikelola oleh sistem tetapi dapat mempengaruhi sistem (memiliki pengaruh besar).
6|Artikel Evaluasi Program Pembangunan Kawasan Tanpa Rokok

6. Dampak (impact). Adalah akibat yang dihasilkan oleh keluaran suatu sistem.

3.3 Tolok Ukur Tolok ukur terdiri dari variabel masukan, proses, keluaran, lingkungan, umpan balik, dan dampak. Digunakan sebagai pembanding atau target yang harus dicapai dalam Program Pembangunan Kawasan Tanpa Rokok.

IV. Penyajian Data Lokasi gedung UPTD Puskesmas Cilamaya di Jalan Pasar Cilamaya nomor 1, Kecamatan Cilamaya Wetan, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Wilayah kerja UPTD Puskesmas Cilamaya, Kecamatan Cilamaya Wetan meliputi 7 (tujuh) desa, 33 dusun, 154 RT dan 73 RW, dengan luas wilayah 6.158 Ha, dimana meliputi luas wilayah 7 (tujuh) desa. Jumlah penduduk di wilayah kerja UPTD Puskesmas Cilamaya tahun 2012 adalah 46.076 orang dan jumlah Kepala Keluarga adalah 16.677 KK. Jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin adalah jumlah penduduk laki-laki 25.864 jiwa dan jumlah penduduk perempuan 23.222 jiwa. Mata pencaharian terbanyak adalah sebagai petani sebanyak 60%. Jumlah keluarga miskin 36.824 jiwa. Mayoritas penduduk dengan pendidikan SMP 50,89% dan SD 23,55%. Tingkat kepercayaan/agama terbanyak adalah Islam 99,9%.

Metode Pembangunan Kawasan Tanpa Rokok dapat dicapai dengan : 1) Membentuk kelompok kerja penyusun kebijakan kawasan tanpa rokok di fasilitas pelayanan kesehatan. 2) Membuat kebijakan kawasan tanpa rokok. 3) Menyiapkan infrastruktur seperti surat keputusan dari pimpinan tentang penanggung jawab dan pengawas kawasan tanpa rokok di fasilitas pelayanan kesehatan, materi sosialisasi penerapan kawasan tanpa rokok, pembuatan dan pemasangan tanda larang merokok, pelatihan bagi pengawas kawasan tanpa rokok, pelatihan kelompok sebaya bagi karyawan.
7|Artikel Evaluasi Program Pembangunan Kawasan Tanpa Rokok

4) Pengawasan, pencatatan, dan pelaporan pelanggaran peraturan kawasan tanpa rokok.

V. Perumusan Masalah Masalah-masalah yang ditemukan dalam evaluasi Program Pembangunan Kawasan Tanpa Rokok di Puskesmas Kecamatan Cilamaya, Kabupaten Karawang periode Januari sampai dengan Desember 2012, sebagai berikut :

Masalah menurut Keluaran (masalah sebenarnya) : 1. Lingkungan sekitar tempat umum pelayanan kesehatan, Puskesmas Kecamatan Cilamaya masih didapatkan adanya asap rokok. 2. Masih adanya perokok yang tetap merokok meskipun sudah mendapat teguran. Sikap acuh tak acuh dari perokok masih tinggi dan kurangnya kesadaran untuk berhenti merokok.

Masalah menurut unsur lain (penyebab lain): Dari masukan : Jumlah petugas kesehatan yang termasuk ke dalam program ini terlalu sedikit yaitu hanya satu orang dokter sebagai penanggung jawab dan satu orang promkes sebagai pelaksana program ini. Tidak didapatkan data mengenai ada-tidaknya kebijakan kawasan tanpa rokok. Dari Proses : Tidak adanya data tertulis mengenai struktur organisasi dari program ini. Tidak didapatkan data mengenai sosisalisasi penerapan Kawasan Tanpa Rokok.

VI. Penyelesaian Masalah 7.1. Masalah 1 Pada lingkungan di tempat fasilitas kesehatan masih didapatkan adanya asap rokok. Penyebab Masih terdapatnya perokok yang merokok di dalam lingkungan fasilitas kesehatan. Penyelesaian Tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan semakin menegaskan kepada perokok bahwa lingkungannya merupakan area tanpa rokok dengan cara menegur dan memberikan sanksi.
8|Artikel Evaluasi Program Pembangunan Kawasan Tanpa Rokok

Tenaga kesehatan dapat melakukan pendekatan kepada perokok supaya para perokok mau ikut serta dalam program konseling berhenti merokok. Mempromosikan dengan lebih efektif yaitu edukasi setiap perokok, baik pasien maupun bukan pasien. 7.2. Masalah 2 Masih banyaknya perokok yang melanggar ketentuan KTR. Penyebab Sikap acuh tak acuh perokok terhadap ketentuan KTR. Sanksi yang dinilai ringan sehingga tidak membuat jera. Penyelesaian Memberikan edukasi tentang bahaya merokok dan kerugian dari merokok. Memberikan sanksi yang lebih berat sehingga para perokok menjadi jera.

VII.Kesimpulan dan Saran 8.1. Kesimpulan Dari hasil Evaluasi Program Pembinaan Kawaswan Tanpa Rokok yang dilakukan dengan cara pendekatan sistem di Puskesmas Kecamatan Cilamaya periode Januari-Desember 2012, belum berjalan dengan baik melihat ditemukan berbagai masalah berikut : Pada lingkungan di tempat fasilitas kesehatan masih didapatkan adanya asap rokok. Masih banyaknya perokok yang melanggar ketentuan KTR. Masalah di atas disebabkan karena : Masih terdapatnya perokok yang merokok di dalam lingkungan fasilitas kesehatan. Tingginya sikap acuh tak acuh perokok terhadap ketentuan KTR. Sanksi yang dinilai ringan sehingga tidak membuat jera. Pembinaan Kawasan Tanpa Rokok bertujuan untuk mempersempit area bagi perokok sehingga generasi sekarang maupun yang akan datang dapat terlindung dari bahaya rokok. Dan hal tersebut merupakan tanggung jawab seluruh komponen bangsa, baik individu, masyarakat maupun pemerintah. Komitmen bersama sangat dibutuhkan dalam keberhasilan penerapan Kawasan Tanpa Rokok terutama di Puskesmas Kecamatan Cilamaya Wetan Kabupaten Karawang ini sendiri.

8.2. Saran

9|Artikel Evaluasi Program Pembangunan Kawasan Tanpa Rokok

Pembinaan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) akan terlaksana dengan sukses dengan kerjasama dari semua pihak yang terlibat di tempat, antara lain : 1. Di tempat pelayanan kesehatan, saya menginovasikan penggantian rokok dengan permen. Dengan cara memilih kader yang tidak merokok untuk menegur baik pasien maupun petugas atau klien yang terlihat merokok dan menggantikan rokoknya dengan permen. Kader yang dipilih sebaiknya merupakan petugas kesehatan yang memiliki peran yang besar sehingga disegani dan warga takut untuk merokok lagi di lingkungan kesehatan. 2. Memberikan edukasi yang efektif yang mudah diterima oleh masyarakat mengenai bahaya kerugian merokok. 3. Menetapkan sanksi yang lebih berat kepada perokok yang masih merokok di kawasan tanpa rokok sehingga mereka jera. 4. Puskesmas berkoordinasi dengan Kecamatan Cilamaya untuk berkomitmen dalam program kawasan tanpa rokok. Ini bermaksud untuk meminta bantuan Kecamatan untuk melarang pemasangan pamflet ataupun iklan-iklan rokok di sekitar wilayah Cilamaya. 5. Penambahan jumlah anggota dalam organisasi program pembinaan Kawasan Tanpa Rokok supaya memudahkan pencatatan dan pelaporan untuk setiap aktivitas dijalankan. Tersedianya buku laporan setiap penyuluhan kelompok dijalankan dan pertemuan dengan pemimpin setiap tempat yang terpilih untuk pembinaan KTR.

Kepustakaan 1. Sulistyowati L.S.Pedoman Pengembangan Kawasan Tanpa Rokok.Katalog Dalam Terbitan.Jakarta: Kementerian Kesehatan RI, 2010. Edisi I. Cetakan kedua. 2. Pengendalian Tembakau Perjuangan Tanpa Henti. Kawasan Tanpa Rokok Perjuangan Tanpa Henti dalam Interaksi. Edisi 2. Jakarta. 2012.h.7 3. Indonesia (Bukan) Surga Rokok. Kawasan Tanpa Rokok Perjuangan Tanpa Henti dalam Interaksi. Edisi 2. Jakarta. 2012.h.17 4. Susanto D.H. pedoman Evaluasi Program. Jakarta: UKRIDA. 2011.h.4-5. 5. Azwar A. Sistem pelayanan kesehatan. Pengantar Administrasi Kesehatan. Jakarta: P.T Medika Pers.1980.h.12

10 | A r t i k e l E v a l u a s i P r o g r a m P e m b a n g u n a n K a w a s a n T a n p a Rokok