Anda di halaman 1dari 9

Klasifikasi Proffit Ackerman Klasifikasi berdasarkan karakteristik maloklusi Step 1: Evaluasi proporsi dan estetik wajah

Step 2: Evaluasi kesimetrisan lengkung gigi

Step 3 : Evaluasi hubungan skeletal dan gigi dalam bidang transversal Edge to edge, hubungan oklusi normal, lingual non occlusion, crossbite, buccal non occlusion

Step 4: Evaluasi hubungan rahang dan gigi dalam arah antero posterior

Normal, Protusif, retrusif Step 5: Evaluasi hubungan skeletal dan gigi dalam arah vertical

Deep bite, open bite

Kebiasaan buruk (oral habit) pada anak-anak merupakan suatu kebiasaan yang tidak normal yang biasanya terjadi pada masa pertumbuhan dan perkembangan wajah. Pada usia 0-18 bulan secara psikososial seorang anak akan mengalami fase oral. Dimana pada fase ini, anak merasakan tempat paling nikmat adalah mulutnya. Jadi secara naluri seorang anak akan cenderung memasukkan segala sesuatu ke dalam mulutnya. Akan tetapi karena sesuatu hal, maka kebiasaan buruk tersebut dapat berlanjut hingga tahap usia selanjutnya dan dapat menjadi faktor ekstrinsik terjadinya maloklusi. Ada tiga syarat yang harus ada pada suatu kebiasaan buruk agar dapat menghasilkan suatu maloklusi, yaitu intensitas (seberapa sering tindakan dilakukan), frekuensi (seberapa sering aksi berulang per hari), dan durasi (berapa lama tindakan yang telah dilakukan). Suatu kebiasaam yang berdurasi sedikitnya 6 jam sehari, berfrekuensi cukup tinggi dengan intensitas yang cukup dapat menyebabkan maloklusi. Ada beberapa macam kebiasaan buruk pada anak-anak, diantaranya adalah menghisap ibu jari atau jari tangan (thumb or finger sucking), menghisap bibir atau menggigit bibir (lip sucking or lip biting), menjulurkan lidah (tongue thrust), bernafas melalui mulut (mouth breathing) dan bruxism. 1. Menghisap ibu jari atau jari tangan (thumb or finger sucking)

Menghisap ibu jari atau jari tangan adalah sebuah kebiasaan dimana anak menempatkan jari atau ibu jarinya di belakang gigi, kontak dengan bagian atas mulut, menghisap dengan bibir dan gigi tertutup rapat. Aktivitas ini sangat berkaitan dengan otot-otot sekitar rongga mulut. Kebiasaan menghisap ibu jari atau jari tangan ini dapat menyebabkan maloklusi karena adanya tekanan langsung dari jari dan perubahan pola bibir dan pipi saat istirahat. Bila seorang anak menempatkan ibu jari di antara incisivus bawah dan atas, biasanya dengan sudut tertentu, maka akan terdapat dorongan incisivus bawah ke lingual sedangkan incisivus atas ke labial. Tekanan langsung ini dianggap menyebabkan perubahan letak incisivus. Kebiasaan menghisap jari pada fase gigi sulung tidak mempunyai dampak pada gigi permanen bila kebiasaan tersebut telah berhenti sebelum gigi permanen erupsi. Bila kebiasaan ini terus berlanjut sampai gigi permanen erupsi akan terdapat maloklusi dengan tanda-tanda berupa incisivus atas proklinasi dan terdapat diastema, lengkung atas sempit, protusi gigi anterior RA,

incisivus RB retrusi atau sedikit berdesakan, prognatik segmen premaksila, retrognatik mandibula, overjet besar, open bite anterior, palatum tinggi dan crossbite posterior bilateral.

Kebiasaan menghisap ib u jari atau jari tangan dapat ditangani dengan dua perawatan, diantaranya: - Perawatan Psikologis Bila kebiasaan ini menetap setelah anak berusia 4 tahun, maka orang tua disarankan untuk mulai melakukan pendekatan kepada anak agar dapat menghilangkan kebiasaan kebiasaan buruknya tersebut, antara lain: a. Mengetahui penyebab Ketahui kebiasaan anak sehari-hari termasuk cara anak beradaptasi terhadap lingkungan sekitar. Faktor emosional dan psikologis dapat menjadi faktor pencetus kebiasaan menghisap ibu jari. b. Menguatkan anak. Menumbuhkan rasa ketertarikan pada anak untuk menghentikan kebiasaan tersebut. Orang tua diingatkan untuk tidak memberikan hukuman pada anak karena anak akan makin menolak untuk menghentikan kebiasaan ini. c. Mengingatkan anak\ Buat semacam agenda atau kalender yang mencatat keberhasilan anak untuk tidak menghisap ibu jari d. Berikan penghargaan Orang tua dapat memberikan pujian dan hadiah yang disenangi anak, bila anak sudah berhasil menghilangkan kebiasaannya. - Perawatan Ekstra Oral

a. Ibu jari atau jari diolesi bahan yang tidak enak (pahit) dan tidak berbahaya, misalnya betadine. Ini diberikan pada waktu-waktu anak sering memulai kebiasaannya menghisap jari. b. Ibu jari diberi satu atau dua plester anti air. c. Penggunaan thumb guard atau finger guard

d. Sarung tangan e. Fixed palatal crib Alat ini diletakkan oleh seorang dokter gigi pada gigi atas anak dan ditempatkan di belakang gigi atas dan palatum, terdiri dari setengah lingkaran kawat stainless steel yang tersambung dengan steal bond dan disemen pada gigi molar.

2. Menghisap bibir atau menggigit bibir (lip sucking or lip biting) Kebiasaan mengisap atau menggit bibir bawah akan mengakibatkan hipertonisitas otototot mentalis yang menyebabkan overjet yang besar dengan gigi anterior rahang atas condong ke labial dan anterior rahang bawah condong ke lingual diikuti perbedaan skeletal yang ringan. Penanganan yang dapat dilakukan untuk menghilangkan kebiasaan menghisap bibir atau menggigit bibir pada anak-anak antara lain: a. Myotherapi (latihan bibir) Memanjangkan bibir atas menutupi incisivus RA dan menumpangkan bibir bawah dengan tekanan di atas bibir atas, memainkan alat tiup.

b. Orang tua harus berperan aktif mencari tahu tentang sebab-sebab yang membuat anak sters. c. Lip bumper Lip bumper adalah busur lepasan yang disisipkan ke dalam tube tambahan yang dikombinasi dengan kawat ortodonsia berupa klamer adam untuk retensi pada gigi-gigi molar pertama bawah. Bagian labial anterior dari busur tersebut mempunyai bumper akrilik yang bertumpu tepat di depan gigi-gigi incisivus RB. Pengurangan jarak gigit dapat dilakukan dengan pemasangan piranti ortodonsi lain berupa busur labial di RA.

3. Menyodorkan Lidah (Tongue Thrust)

Kebiasaan menjulurkan lidah biasanya dilakukan pada saat menelan. Pola menelan yang normal adalah gigi pada posisi oklusi, bibir tertutup dan lidah berkontak dengan palatum. Dari teori keseimbangan, tekanan lidah yang ringan tetapi berlangsung lama pada gigi dapat menyebabkan adanya perubahan pada letak gigi. Akibat yang ditimbulkan dari kebiasaan menjulurkan lidah, diantanya: multiple diastema, protusi gigi anterior RA, protusi gigi anterior RB, open bite anterior, overjet besar. Penanganan yang bias dilakukan untuk menhilangkan kebiasaan menyodorkan lidah adalah a. Terapi bicara b. Latihan myofungsional Menarik bibir bawah pasien. Sementara bibir menjauh dari gigi, pasien diminta untuk menelan. Jika pasien menyodorkan lidahnya, bibir akan menjadi sedemikian kencang

seolah berusaha untuk menarik jari-jari yang menarik bibir pada pasien berusaha untuk menelan. c. Latihan lidah Berlatih meletakkan posisi lidah yang benar saat menelan. Pasien harus belajar melakukan klik. Prosedur ini mengharuskan pasien meletakkan ujung lidah pada atap mulut dan menghentakkannya lepas dari palatum untuk membuat suara klik. d Tongue thrusting appliance (tongue crib)

4. Bernapas Melalui Mulut (Mouth Breathing) Pernapasan mulut terjadi karena seseorang tidak mampu untuk bernapas melalui hidung akibat adanya obstruksi pada saluran pernapasan atas. Kebiasaan ini disebabkan oleh penyumbatan rongga hidung yang dapat mengganggu pertumbuhan tulang di sekitar mulut dan rahang, wajah menjadi sempit dan panjang, gigi bisa menjadi protusif, crossbite anterior atau posterior, overjet besar, palatum tinggi. Bernafas melalui mulut menyebabkan mulut sering terbuka sehingga terdapat ruang untuk lidah berada antara rahang dan terbentuklah openbite anterior dan bibir hipotonus. Pilihan perawatan yang dapat dilakukan untuk penanganan kebiasaan bernapas melalui mulut antara lain: a. Mengetahui dan hilangkan penyebab obstruksi saluran pernapasan. b. Oral screen Alat ini diistilahkan sebagai physiologic appliance karena alat ini tidak menyebabkan pergerakan gigi dengan bantuan kawat, tetapi menghasilkan gaya yang menahan gigi anterior RA dengan cara menekan periooral musculature.

5.

Bruxism Bruxism adalah kebiasaan buruk berupa menggesek-gesek gigi-gigi rahang atas dan

rahang bawah, bisa timbul pada masa anak-anak maupun dewasa. Bruxism dapat menyebabkan aus permukaan gigi-gigi pada rahang atas dan rahang bawah, baik itu gigi susu maupun gigi permanen. Lapisan email yang melindungi permukaan atas gigi hilang, sehingga dapat timbul rasa ngilu pada gigi-gigi tersebut. Bila kebiasaan ini berlanjut terus dan berlangsung dalam waktu lama, dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan periodontal, terjadi pada pasien dengan bentuk tonjol yang curam, luka pada periodonsium, pulpitis, kadang-kadang disertai peningkatan derajat mobilitas gigi yang terlibat, maloklusi, patahnya gigi akibat tekanan yang berlebihan, dan kelainan pada sendi temporomandibular joint.(24,25)

Penanganan yang dapat dilakukan untuk menghilangkan kebiasaan bruxism pada anakanak adalah a. Penggunaan Night-guard Perawatan untuk kasus ini dokter gigi akan membuatkan alat tertentu yang didesain dan dibuat khusus sesuai dengan susunan gigi-geligi pasien, alat ini disebut night-guard dan digunakan saat tidur pada malam hari. Alat ini akan membentuk batas antara gigi-gigi rahang atas dan rahang bawah sehingga tidak akan saling beradu. Pemakaian alat ini akan mencegah kerusakan yang lebih jauh pada gigi-geligi dan membantu pasien dalam menghentikan kebiasaan buruknya.

b. Bila penyebab utama dari bruxism adalah stress. Cobalah untuk mencari tahu apa yang mungkin membuat anak stress dan membantu mereka menghadapinya. Konsultasi dengan psikolog merupakan salah satu hal yang dapat membantu dalam menghilangkan kebiasaan buruk ini.