Anda di halaman 1dari 28

PT.

PLN (PERSERO) UNIT INDUK PEMBANGUNAN PEMBANGKIT SUMATERA II

PT PLN (PERSERO) UIP PEMBANGKIT SUMATERA II

TELAHAAN STAFF

NAMA NIP

: YOGI YOHANNES SIBURIAN : 8609390Z (KOORDINATOR PROYEK PLTU SINTANG)

JABATAN : ASSISTANT ENGINEER TEKNIK MEKANIKAL

JUDUL

: STRATEGI DAN UPAYA MENGEJAR KETERLAMBATAN PENYELESAIAN PEMBANGUNAN PROYEK PLTU SINTANG (3 X 7 MW)

PROGRAM EXECUTIVE EDUCATION IV ANGKATAN 2 TAHUN 2013

Yogi Y. Siburian, 8609390 Z

PT. PLN (PERSERO) UNIT INDUK PEMBANGUNAN PEMBANGKIT SUMATERA II

LEMBAR PENGESAHAN
JUDUL : STRATEGI DAN UPAYA MENGEJAR KETERLAMBATAN PENYELESAIAN PEMBANGUNAN PROYEK PLTU SINTANG (3X7 MW)

NAMA : YOGI YOHANNES SIBURIAN NIP : 8609390Z JABATAN : ASSISTANT ENGINEER

TEKNIK

MEKANIKAL

-KOORDINATOR PROYEK PLTU SINTANG (3 x 7 MW)

Menyetujui Mentor Manajer Bidang Operasi Konstruksi

Palembang, Peserta OJT

2013

Aji Sutrisno NIP : 6795103P

Yogi Yohannes Siburian NIP : 8609390Z

General Manager

Mengetahui, Manajer Bidang Keu. ,SDM dan Administrasi

Syah Darwin Siregar NIP : 6185002M

Ismail B. Makkulau NIP : 5978032G

KATA PENGANTAR

Yogi Y. Siburian, 8609390 Z

PT. PLN (PERSERO) UNIT INDUK PEMBANGUNAN PEMBANGKIT SUMATERA II

Puji Syukur penulis ucapkan kepada Tuhan YME karena atas berkatNya maka Telaahan StafF ini dapat diselesaikan tepat waktu dengan judul Strategi dan Upaya Mengejar Keterlambatan Penyelesaian Pembangunan Proyek PLTU Sintang (3x7 MW) sebagai evaluasi terhadap program On the Job Training (OJT) untuk diklat Executive Education IV yang diikuti penulis di PT. PLN (Persero) UPK PLTU Sintang. Selama mengikuti diklat EE IV dan OJT, banyak sekali pelajaran, bimbingan, dan dukungan yang diberikan kepada penulis. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Orang tua, Istri, Anak dan Keluarga tercinta Para pengajar diklat EE IV angkatan 2 tahun 2013 di PT. PLN (Persero) Udiklat Palembang Bpk. Aji Sutrisno selaku Mentor dan Manajer Bidang Operasi Konstruksi PT. PLN (Persero) UIP KIT SUM II Bpk. Syah Darwin Siregar selaku General Manager PT. PLN (Persero) UIP KIT SUM II Bpk. Ismail B.M selaku Manajer Bidang KSA PT. PLN (Persero) UIP KIT SUM II Rekan-rekan sesama peserta diklat EE IV angkatan 2 tahun 2013 Rekan-rekan seperjuangan di PLN UPK PLTU SINTANG Semua pihak yang telah membantu penulis yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Kritik dan saran sangat diharapkan untuk penyempurnaan materi pada Telaahaan Staf ini. Semoga dapat berguna bagi pembaca dan PT PLN (Persero). Sintang, Penulis 2013

Yogi Yohannes Siburian

DAFTAR ISI

Yogi Y. Siburian, 8609390 Z

PT. PLN (PERSERO) UNIT INDUK PEMBANGUNAN PEMBANGKIT SUMATERA II

HALAMAN JUDUL.............................................................................................1 LEMBAR PENGESAHAN...................................................................................2 KATA PENGANTAR...........................................................................................3 DAFTAR ISI.........................................................................................................4 DAFTAR GAMBAR.............................................................................................5 DAFTAR TABEL.................................................................................................6 ABSTRAK ...........................................................................................................7 I. II. III. IV. V. VI. LATAR BELAKANG ................................................................................8 PERMASALAHAN ....................................................................................10 PERSOALAN ........................................................................................... 12 PRA ANGGAPAN ................................................................................... 13 FAKTA YANG MEMPENGARUHI ....................................................... 15 PEMBAHASAN ...................................................................................... 16

VII. KESIMPULAN ........................................................................................ 26 VIII. TINDAKAN YANG DISARANKAN ..................................................... 27 REFERENSI LAMPIRAN

DAFTAR GAMBAR

Yogi Y. Siburian, 8609390 Z

PT. PLN (PERSERO) UNIT INDUK PEMBANGUNAN PEMBANGKIT SUMATERA II

Gambar 1.1 Peta Lokasi PLTU Sintang (3 x 7 MW)..........................................9 Gambar 6.1 Gambar Realisasi dan Rencana Recovery Schedule........................16 Gambar 6.2 Diagram Fishbone penyebab Keterlambatan Menyelesaikan Pekerjaan Selama Konstruksi............................................................17 Gambar 6.3 Diagram Fishbone penyebab Keterlambatan Memulai Konstruksi 17 Gambar 6.4 Grafik Kuadran hasil analisa SWOT...............................................23

DAFTAR TABEL

Yogi Y. Siburian, 8609390 Z

PT. PLN (PERSERO) UNIT INDUK PEMBANGUNAN PEMBANGKIT SUMATERA II

Tabel 2.1 Tabel Ilustrasi Perbedaan penggunaan BBM dengan Batubara per hari untuk PLTU SINTANG......................................................................10 Tabel 2.2 Tabel Ilustrasi rata-rata hasil penjualan listrik PLTU Sintang ...........11 Tabel 6.1 Tabel Milestone Proyek PLTU Sintang .............................................16 Tabel 6.2 Tabel Analisa Strength Proyek PLTU Sintang ..................................18 Tabel 6.3 Tabel Analisa Weakness Proyek PLTU Sintang ................................19 Tabel 6.4 Tabel Analisa Opportunity Proyek PLTU Sintang ............................21 Tabel 6.5 Tabel Analisa Threat Proyek PLTU Sintang .....................................22

ABSTRAK

Yogi Y. Siburian, 8609390 Z

PT. PLN (PERSERO) UNIT INDUK PEMBANGUNAN PEMBANGKIT SUMATERA II

PT. PLN (Persero) saat ini sedang melaksanakan pembangunan proyek pembangkit skala kecil yaitu PLTU SINTANG dengan kapasitas 3 x 7 MW. Pembangunan proyek ini dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan listrik di daerah Sintang yang saat ini masih kekurangan pasokan listrik, mengurangi pemakaian BBM, dan merangsang pertumbuhan industri. Hingga kini proyek tersebut masih dalam tahap pelaksanaan dan telah mengalami keterlambatan. Permasalahan dalam pelaksanaan konstruksi cukup banyak ditemui, baik itu disebabkan adanya perubahan desain pada saat pelaksanaan pekerjaan, waktu yang terbatas dalam proses perencanaan, akibat lokasi yang sulit diakses, kontraktor yang kurang perform, pendanaan dari PLN yang belum siap, proses perijinan yang lama, kondisi lapangan yang tidak sesuai dengan informasi awal, sampai dengan faktor cuaca, sehingga hal ini akan menimbulkan keterlambatan penyelesaian proyek. Dengan mengidentifikasi faktor-faktor utama penyebab keterlambatan proyek melalui metode root cause analysis menggunakan diagram fish bone maka dapat dilakukan strategi dengan analisa SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat) sebagai solusi untuk penyelesaiannya sehingga dapat meminimalisir kerugian yang akan terjadi di sisi PLN yaitu dari aspek selisih penggunaan BBM dibandingkan dengan penggunaan Batubara senilai Rp. 1.1 Milyar per hari dan juga adanya loss of opportunity bagi PLN untuk bisa menghasilkan profit dari penjualan listrik sebesar Rp. 400 Juta per hari. Kata Kunci : Proyek, Keterlambatan, Root Cause Analysis, fish bones, Strategi, SWOT

BAB I LATAR BELAKANG

Yogi Y. Siburian, 8609390 Z

PT. PLN (PERSERO) UNIT INDUK PEMBANGUNAN PEMBANGKIT SUMATERA II

Seiring dengan pertumbuhan pembangunan berbagai sektor di daerah Sintang, maka permintaan akan energi khususnya listrik akan terus meningkat. Demikian juga dalam beberapa tahun ke depan dengan adanya proses transisi masyarakat pedesaan menjadi masyarakat perkotaan dimana derah Sintang diproyeksikan menjadi ibukota pemekaran provinsi baru yaitu provinsi Kapuas Raya akan mendorong kebutuhan akan energi. Selain daripada itu pengembangan sektor industri akan semakin ditingkatkan seperti industri kelapa sawit dan karet, oleh karena itu kebutuhan akan energi di daerah tersebut juga akan semakin meningkat. Sistem kelistrikan di Sintang saat ini memiliki daya terpasang sekitar 18MW yang didapatkan dari PLTD Menyurai milik PLN (8 MW) yang menggunakan BBM dan sebagian besar lainnya menyewa PLTD milik PT. SEWATAMA (10 MW) yang membutuhkan biaya sewa cukup besar, sementara beban puncak di Sintang bisa mencapai 18,5 MW sedangkan beban rata-rata sebesar 16 MW. Dalam rangka memenuhi kebutuhan listrik di daerah Sintang yang saat ini masih kekurangan pasokan listrik, PLN merencanakan untuk membangun pembangkit pembangkit baru. Pembangkit baru yang akan dikembangkan antara lain adalah PLTU Batubara berskala kecil. Guna memenuhi kebutuhan tenaga listrik yang berkesinambungan sebagai salah satu wujud pembangunan nasional terutama dalam rangka memenuhi kebutuhan listrik di wilayah Kalimantan Barat khususnya daerah Sintang, maka PT PLN (Persero) melakukan pembangunan pembangkit listrik yang berbahan bakar batubara berskala kecil yaitu PLTU Sintang (3 x 7 MW) dengan kontrak No. 0104.PJ/041/WKB/2011 tanggal 4 Februari 2011. Kontrak PLTU Sintang ditandatangani pada tanggal 4 Februari 2011 dengan target untuk beroperasi komersial (COD) dalam waktu 20 bulan untuk Unit 1 (tanggal 3 Oktober 2012), 22 bulan untuk Unit 2 (tanggal 3 Desember 2012) dan 24 bulan untuk Unit 3 (tanggal 3 Februari 2013) sejak kontrak efektif. Pembangunan PLTU Sintang (3 x 7 MW) berlokasi di Dusun Sungai Ringin Kelurahan Kapuas Kanan Hilir, Kecamatan Sintang, Kabupaten Sintang,
Yogi Y. Siburian, 8609390 Z

PT. PLN (PERSERO) UNIT INDUK PEMBANGUNAN PEMBANGKIT SUMATERA II

Provinsi Kalimantan Barat yang berjarak 240 km dari sebelah timur Pontianak sebagai Ibukota Provinsi Kalimantan Barat. Dari jalan utama / jalan Sintang Pontianak (Nenak) menuju site terdapat jalan akses masuk yang berjarak 8 km. Luas lahan yang tersedia untuk kegiatan pembangunan tersebut seluas 16 Ha (12 Ha dibebaskan dan 4 Ha dihibahkan oleh Pemerintah setempat).

Peta Lokasi PLTU Sintang (3 x 7 MW) dapat dilihat pada Gambar 1.1

Lokasi PLTU Sintang (3 x 7 MW)

Gambar 1.1 Peta Lokasi PLTU Sintang (3 x 7 MW)

Yogi Y. Siburian, 8609390 Z

PT. PLN (PERSERO) UNIT INDUK PEMBANGUNAN PEMBANGKIT SUMATERA II

BAB II PERMASALAHAN
Berikut ini permasalahan yang terjadi akibat keterlambatan dalam penyelesaian pembangunan proyek PLTU Sintang: 2.1 Kerugian materil bagi Owner / PLN Berikut ini hasil ilustrasi perbedaan biaya produksi listrik PLTU SINTANG yang menggunakan Batubara Low Rank Coal dengan PLTD berbahan bakar BBM (Bahan Bakar Minyak). Tabel 2.1 Tabel Ilustrasi Perbedaan penggunaan BBM dengan Batubara per hari untuk PLTU SINTANG. Asumsi Harga Batubara Asumsi Harga BBM : USD 50 / TON (USD 1 = IDR 9.000) : IDR 10.000 / Liter

Yogi Y. Siburian, 8609390 Z

10

PT. PLN (PERSERO) UNIT INDUK PEMBANGUNAN PEMBANGKIT SUMATERA II

SLA (Service Level Agreement) antara PLN dengan Kementerian Keuangan RI salah satunya mensyaratkan efisiensi operasi biaya bahan bakar minyak (BBM) dengan mengurangi pemakaian BBM pertahunnya, jadi percepatan penyelesaian proyek-proyek PLTU Batubara merupakan faktor utama untuk mencapai target SLA tersebut. Dengan demikian, maka subsidi pemerintah untuk PLN akan turun setiap tahunnya. 2.2 Loss of Opportunity bagi Owner / PLN Dengan terlambatnya beroperasi unit PLTU milik PLN maka kesempatan dari PLN untuk mendapatkan profit dari hasil penjualan listrik akan hilang. Berikut ini hasil ilustrasi hasil penjualan listrik PLTU SINTANG per hari dengan asumsi beban rata-rata di Sintang adalah 21 MW: Tabel 2.2 Tabel Ilustrasi rata-rata hasil penjualan listrik PLTU Sintang (3x7 MW) Asumsi Beban Rata-Rata Sintang : 21 MW

2.3 Kerugian materil bagi Kontraktor Antara lain berupa biaya overhead seperti direct cost, extra cost untuk tenaga kerja (man power), biaya sewa alat berat (equipment), sehingga tidak sesuai anggaran atau tidak bisa dimanfaatkan untuk pekerjaan lainnya. Serta keuntungan yang diharapkan tidak tercapai dan bahkan tidak keuntungan sama sekali. Selain itu, nilai uang yang berbeda (menurun) diperoleh dari payment jika proyek terlambat akibat inflasi. Juga kontraktor akan kena LD jika proyek terlambat. mendapatkan

Yogi Y. Siburian, 8609390 Z

11

PT. PLN (PERSERO) UNIT INDUK PEMBANGUNAN PEMBANGKIT SUMATERA II

BAB III PERSOALAN


3.1 Penyebab Keterlambatan Proyek Keterlambatan proyek di PLTU SINTANG dipengaruhi oleh kelemahan kontraktor EPC, faktor eksternal dan intenal PLN. Secara garis besar keterlambatan tersebut terbagi 2 (dua) yaitu: (i) Terlambat Memulai Pekerjaan Konstruksi meliputi: 1. Keterlambatan PLN dalam serah terima lahan (Site Allocation) 2. Keterlambatan PLN Payment memenuhi kewajiban untuk memberikan Down

(ii) Terlambat Menyelesaikan Pekerjaan Selama Masa Konstruksi. 3.1.1 Terlambat Memulai Pekerjaan Konstruksi, diakibatkan oleh waktu yang cukup singkat dalam proses perencanaan disisi PLN pada masa prakonstruksi sehingga timbul hambatan antara lain masalah Penyerahan Lahan (Site Allocation) yang terlambat 2,5 bulan dari kontrak efektif, penentuan koordinat dan site boundary yang lama akibat studi kelayakan yang kurang akurat, pembayaran Down Payment yang terlambat, ketidaksesuaian antara fakta di lapangan dengan informasi untuk tenderer. 3.1.2 Terlambat Menyelesaikan Pekerjaan Selama Masa Konstruksi, Meliputi proses Engineering seperti Keterlambatan Konsultan Engineer PLN dalam mereview dan menyetujui perubahan desain pondasi dari Shallow Foundation menjadi Bore Pile Foundation, proses Procurement seperti pengadaan material Turbin, Boiler, WTP, Trafo, BOP, dll yang terlambat, serta mobilisasi yang memakan waktu terlalu lama karena jarak tempuh yang jauh dan sulit untuk menjangkau lokasi proyek PLTU SINTANG. Proses Construction proyek terlambat akibat Kontraktor yang kurang perform, Jumlah Alat Berat dan Tenaga Kerja yang kurang memadai serta kondisi cuaca yang tidak menentu.
12

Yogi Y. Siburian, 8609390 Z

PT. PLN (PERSERO) UNIT INDUK PEMBANGUNAN PEMBANGKIT SUMATERA II

BAB IV PRA ANGGAPAN


Beberapa pra anggapan yang menjadi Penyebab keterlambatan yang dibagi pada fase pra-konstruksi dan fase konstruksi.,antara lain: 4.1 Fase Pra-Konstruksi 4.1.1 Pengadaan Kontrak a. Studi Kelayakan Waktu yang sedikit untuk FS sehingga kualitas studi kelayakan/feasibility study (FS) yang dihasilkan tidak cukup komprehensif untuk dijadikan referensi pada saat lelang. b. Kemampuan Finansial Kontraktor Yang Lemah Dan Pengalaman Kontraktor Yang Kurang c. Multitafsir Klaus Kontrak dan Spesifikasi Yang Tidak Jelas d. Klaus Kontrak Yang Tidak Konsisten e. Scope Of Work Yang Tidak Jelas 4.1.2 Penyerahan lahan

a. Penyerahan Lahan yang terlambat b. Penentuan site boundary yang terlambat 4.1.3 Pendanaan, Pembayaran uang muka yang terlambat, penyediaan pendanaan proyek yang belum jelas 4.2 Fase Konstruksi 4.2.1 Peralatan a. Jumlah Peralatan Yang Kurang (Bulan Juli 2013, total car mix yang digunakan adalah 2 unit dengan kapasitas 4 m3/h, dalam kondisi saat ini

Yogi Y. Siburian, 8609390 Z

13

PT. PLN (PERSERO) UNIT INDUK PEMBANGUNAN PEMBANGKIT SUMATERA II

dimana target penyelesaian di akhir tahun 2013 seharusnya car mix adalah sebanyak 6 unit dengan kapasitas 4 m3/h atau seharusnya menggunakan batching plant untuk bisa mempercepat pengecoran pondasi). b. Performa Peralatan Kerja Yang Rendah (Bulan Juli 2013, car mix yang digunakan sering mengalami gangguan / kerusakan, dalam kondisi saat ini dimana target penyelesaian di akhir tahun 2013 seharusnya car mix dalam kondisi performa yang prima untuk bisa mempercepat pengecoran pondasi). c. Jumlah Alat Berat yang minim dan spesifikasi yang tidak sesuai kebutuhan (Bulan Juli 2013, total Crane yang layak dipakai adalah sebanyak 2 Unit dengan kapasitas masing-masing 50 T, dalam kondisi saat ini dimana target penyelesaian di akhir tahun 2013 seharusnya total Crane adalah sebanyak 3 Unit dengan kapasitas masing-masing 50 T dan 1 Unit dengan kapasitas 100 T, supaya pekerjaan bisa dilakukan parallel dibeberapa area sekaligus) 4.2.2 Tenaga Kerja a. Jumlah Tenaga Kerja Kurang (Bulan Juli 2013, total pekerja masih sebanyak 151 orang, dalam kondisi saat ini dimana target penyelesaian di akhir tahun 2013 seharusnya total pekerja adalah sebanyak 600 orang) b. Penyesuaian Tenaga Kerja Asing Terhadap aplikasi standar-standar yang biasa digunakan oleh PLN c. Produktivitas Rendah (Penyelesaian welding pada satu unit Boiler area masih membutuhkan waktu berbulan-bulan, yang seharusnya bisa diselesaikan dalam waktu 2 minggu).

Yogi Y. Siburian, 8609390 Z

14

PT. PLN (PERSERO) UNIT INDUK PEMBANGUNAN PEMBANGKIT SUMATERA II

BAB V FAKTA YANG MEMPENGARUHI

Fakta dan keadaan yang terjadi dan mempengaruhi keterlambatan target penyelesaian proyek PLTU SINTANG antara lain: a. Sistem dan Manajemen Kontraktor yang berubah-ubah. b. Lokasi proyek yang relatif jauh dan terpencil sehingga mobilisasi material, peralatan dan equipment menjadi kendala. c. Kondisi Tanah Diluar Perkiraan sehingga ada perubahan pondasi dari contract requirement. d. Jumlah Tenaga Kerja Kurang. e. Jumlah Alat Berat yang minim dan spesifikasi yang tidak sesuai kebutuhan f. Adanya keterlambatan Penyerahan Lahan dari PLN ke Kontraktor. g. Perubahan jaringan manufacturer / vendor - vendor yang akan dipilih dengan yang ditetapkan di vendor list pada kontrak. h. Perubahan detil desain equipment berkaitan dengan poin d diatas. i. Resiko pabrikan, pengiriman, pemasangan dan pengetesan dari seluruh peralatan yang dibutuhkan dalam sebuah proyek pembangunan PLTU dimana potensi resiko pada pemenuhan jadwal, pelaksanaan pabrikasi, kualitas produk yang bisa mengakibatkan cost overrun biaya proyek. j. Sinkronisasi / koordinasi divisi Engineering, Procurement dan

Construction ditubuh Kontraktor akan berkurang karena minimnya pengalaman di bidang EPC Proyek Pembangkitan. k. Kemampuan kontraktor tidak sesuai dengan standar internasional, termasuk masalah financial dan pemahaman pasal-pasal kontrak.

Yogi Y. Siburian, 8609390 Z

15

PT. PLN (PERSERO) UNIT INDUK PEMBANGUNAN PEMBANGKIT SUMATERA II

BAB VI PEMBAHASAN

Pelaksanaan

proyek

PLTU

SINTANG

(3x7

MW)

mengalami

keterlambatan dari Project Master Schedule berdasarkan kontrak PLTU seperti digambarkan pada table pencapaian Milestone berikut : Tabel 6.1 Tabel Milestone Proyek PLTU Sintang

Gambar 6.1 Gambar Realisasi dan Rencana Recovery Schedule

Yogi Y. Siburian, 8609390 Z

16

PT. PLN (PERSERO) UNIT INDUK PEMBANGUNAN PEMBANGKIT SUMATERA II

Keterlambatan proyek di PLTU SINTANG dapat diidentifikasi dengan metode Root Cause Analysis dengan menggunakan diagram Fishbone (Tulang Ikan) seperti dibawah ini:

Root Cause analysis dengan Diagram Fishbone

Gambar 6.2 Diagram Fishbone penyebab Keterlambatan Menyelesaikan Pekerjaan Selama Konstruksi

Gambar 6.3 Diagram Fishbone penyebab Keterlambatan Memulai Konstruksi

Yogi Y. Siburian, 8609390 Z

17

PT. PLN (PERSERO) UNIT INDUK PEMBANGUNAN PEMBANGKIT SUMATERA II

Strategi dan Upaya Mengejar Keterlambatan Penyelesaian Pembangunan Proyek Dengan melihat penyebab keterlambatan proyek pembangunan proyek PLTU diambil langkah langkah strategi dalam mengejar keterlambatan penyelesaian pembangunan proyek sebagai berikut : 6.1 STRATEGI dengan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat) Perhitungan dilakukan dengan menganalisa sumber-sumber daya masing-masing analisa sebanyak 5 item yang menjadi faktor kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang dihadapi dalam pelaksanaan proyek PLTU SINTANG, selanjutnya memberikan bobot dan rating dan kemudian menghitung rata-rata (weight average) dari setiap analisa. Penilaian untuk bobot adalah mulai dari 0% (tidak berpengaruh) sampai dengan 100% (sangat berpengaruh) sedangkan rating terdiri dari 4 kriteria antara lain : 1 = response is poor, 2 = response is average, 3 = response is above average, 4 = response is superior 6.1.1 STRENGTH Hasil analisa Strength dari 5 item yang menjadi faktor kekuatan dalam melaksanakan proyek PLTU SINTANG dapat dilihat pada tabel 6.2 dibawah ini : No Faktor 1 Bobot (%) PLN memiliki dan dibantu oleh 20% konsultan dibidang engineering, konsultan supervisi konstruksi di lapangan dan PLN Jasa Sertifikasi di bidang komissioning Tingginya kepercayaan masyarakat 20% daerah Sintang terhadap manfaat penyelesaian proyek PLTU Rating Bobot Rating 3 0,6 x

0,6

Yogi Y. Siburian, 8609390 Z

18

PT. PLN (PERSERO) UNIT INDUK PEMBANGUNAN PEMBANGKIT SUMATERA II

SINTANG sehingga Kondisi sosial relatif kondusif 3 PLN Memiliki SDM yang berkompeten dan mempunyai antusiasme tinggi Topografi lokasi proyek relative datar sehingga development relative cepat 20% 3 0,6

yang 20% site

0,8

PLN merupakan perusahan negara 20% yang memiliki akses dengan Pemda dan Pemerintah Pusat Jumlah / Weight Avarage 100%

0,8

3,40

Dengan mencari 5 item yang menjadi sumber kekuatan dalam pelaksanaan proyek PLTU SINTANG selanjutnya diperoleh weight average dari analisa strengths yakni sebesar 3,40 dari total bobot 4. 6.1.2 WEAKNESS Hasil analisa Weakness dari 5 item yang menjadi faktor kelemahan dalam melaksanakan proyek PLTU SINTANG dapat dilihat pada tabel 6.3 dibawah ini : No Faktor 1 Bobot Rating Bobot 4 Rating 1,2 x

(%) Kontraktor yang tidak perform serta 30% tidak mempunyai jumlah tenaga kerja & peralatan yang memadai di lapangan Lokasi proyek yang cukup sulit 20% dijangkau dari transportasi darat dan Transportasi sungai yang cukup sulit karena ada periode dimana surut sungai (1,5 m) tidak bisa dilalui tongkang Tidak adanya

0,8

Project

Master 20%

0,4

Schedule yang berbasis WBS dan

Yogi Y. Siburian, 8609390 Z

19

PT. PLN (PERSERO) UNIT INDUK PEMBANGUNAN PEMBANGKIT SUMATERA II

Critical Path Method Metoda Kerja Yang Sangat Sulit Akibat Terbatasnya Akses Kerja dan

20%

0,4

Lahan Cuaca di Lapangan yang tidak 10% menentu Jumlah / Weight Avarage 100%

0,2 3,00

Kelemahan dari pelaksanaan proyek PLTU SINTANG merupakan faktorfaktor yang harus diminimalisir. Dengan mencari 5 item yang menjadi kelemahan dalam pelaksanaan proyek PLTU SINTANG dengan hasil analisa weight average 3,00. Angka 3,00 menunjukkan bahwa kelemahan yang dimiliki memang cukup besar namun masih dapat diminimalisir bila dilakukan penanganan secara efektif dan efisien. Hasil dari Internal Factor Evaluation Matrix (IFE matriks) diatas dapat diketahui nilai internal proyek berada pada nilai positif pada kuadran Y dengan nilai Kekuatan (Strength) sebesar 3,40 dan analisa Kelemahan (Weakness) bernilai 3,00 IFE Matrix (Sumbu Y) = Strength Weakness = 3,40 3,00 = 0,40

6.1.3 OPPORTUNITY Peluang dapat menjadi sumber daya yang dapat menentukan pelaksanaan proyek apabila dapat dimaksimalkan. Hasil analisa Opportunity dari 5 item yang menjadi faktor peluang dalam melaksanakan proyek PLTU SINTANG dapat dilihat pada tabel 6.4 dibawah ini : No Faktor 1 Bobot Rating Bobot 2 Rating 0,9 x

(%) Potensi sumber tambang batubara di 20% Kalimantan Barat terutama di daerah

Yogi Y. Siburian, 8609390 Z

20

PT. PLN (PERSERO) UNIT INDUK PEMBANGUNAN PEMBANGKIT SUMATERA II

yang cukup dekat dengan lokasi 2 proyek Adanya rencana pemekaran provinsi 20% baru yang membutuhkan persyaratan supplai listrik yang memadai, hal ini dipelopori Kabupaten mendukung 3 oleh Sintang penyelesaian Pemerintah sehingga proyek 3 0,4 4 0,6

dengan cepat Banyaknya sektor industri seperti 20% pabrik sawit dan karet di dekat lokasi proyek Banyaknya

tenaga

kerja

yang 10%

0,4

pengangguran di dekat lokasi proyek sehingga bisa diberdayakan untuk 5 membantu penyelesaian proyek Adanya dermaga existing milik 30% Pemerintah Kabupaten Sintang di dekat lokasi proyek sehingga bisa diberdayakan untuk sebagai temporary jetty untuk unloading material Jumlah / Weight Avarage 100% 3,20 4 0,2

Pada tabel diatas, diketahui nilai average peluang yang dimiliki dalam pelaksanaan proyek PLTU SINTANG berada pada skor 3,20 yang berarti bahwa dimiliki peluang yang besar untuk melaksanakan kegiatan proyek SINTANG. 6.1.4 THREATS Hasil analisa Threat dari 5 item yang menjadi faktor Ancaman dalam melaksanakan proyek PLTU SINTANG dapat dilihat pada tabel 6.5 dibawah ini : No Faktor 1 Bobot Rating Bobot 2 Rating 0,2 x

(%) Teknologi Boiler Stoker di proyek 10%

Yogi Y. Siburian, 8609390 Z

21

PT. PLN (PERSERO) UNIT INDUK PEMBANGUNAN PEMBANGKIT SUMATERA II

PLTU Sintang sudah tidak state of the art (tidak mutakhir) sehingga spare part bisa sulit didapatkan 2 nantinya Adanya perubahan kebijakan 30% 4 1,2

pemerintah mengenai kenaikan harga 3 BBM Waktu yang terbatas dan cukup 20% singkat untuk proses perencanaan 4 kontrak proyek Waktu durasi Kontrak yang tidak 10% realiable (20 bulan) untuk lokasi 5 proyek yang cukup sulit dijangkau Sulitnya area jangkauan lahan 30% proyek Jumlah / Weight Avarage 100% 3 0,9 3,10 2 0,2 3 0,6

Threats (Ancaman) merupakan hal harus diperhitungkan dalam melaksanakan kegiatan proyek PLTU SINTANG. Ancaman dapat menyebabkan kegagalan apabila tidak dilakukan prediksi dan kegiatan preventif sebelumnya. Adapun beberapa komponen ancaman yang akan dihadapi dalam melaksanakan kegiatan proyek PLTU SINTANG dapat dilihat pada tabel dibawah. Pada tabel analisa Threats diperoleh nilai average sebesar 3,10. Hasil dari Eksternal Factor Evaluation Matrix (EFE matriks) diatas dapat diketahui nilai eksternal proyek berada pada nilai positif pada kuadran X dengan nilai Peluang (Opportunities) sebesar 3,20 dan analisa Ancaman (Threats) bernilai 3,10. EFE Matrix (Sumbu X) = Opportunities Threats = 3,20 3,10 = 0,10 Berdasarkan hasil analisa Kekuatan (Strengths) diperoleh nilai 3,40, analisa Kelemahan (Weaknesses) bernilai 3,00, Nilai analisis Peluang (Opportunities)
Yogi Y. Siburian, 8609390 Z

22

PT. PLN (PERSERO) UNIT INDUK PEMBANGUNAN PEMBANGKIT SUMATERA II

3,20 dan nilai Ancaman (Threats) 3,10. Maka dari nilai-nilai tersebut dilakukan perhitungan untuk menunjukkan posisi PLN yakni : a. Selisih antara Kekuatan Kelemahan = 3,40 3,00 = 0,40 b. Selisih antara Peluang Ancaman = 3,20 3,10 = 0,10 Nilai 0,40 dan 0,10 ini selanjutnya dituangkan dalam grafik kuadran yang akan memberikan gambaran posisi pelaksanaan kegiatan proyek PLTU SINTANG.
KEKUATAN (STRENGTHS)
Stability Growth

THREAT (ANCAMAN)

(0,1 ; 0,4)

OPPORTUNITIES (PELUANG)
Diversification

Survival

WEAKNESS (KELEMAHAN)

Gambar 6.4 Grafik Kuadran hasil analisa SWOT Hasil analisa SWOT membawa posisi Pelaksanaan Proyek PLTU SINTANG berada pada Kuadran I (0,1 ; 0,4) memberikan gambaran situasi yang sedikit menguntungkan walaupun cukup kecil dan masih memiliki kekuatan dan peluang yang ada. Memperhatikan kondisi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang dimiliki, maka strategi yang dapat diambil adalah : Strategi SO, merupakan strategi yang diambil perusahaan dengan

memanfaatkan kekuatan dan peluang yang dimiliki : a. Melakukan sinergi melalui rapat bulanan/mingguan antara PLN, Kontraktor utama serta konsultan desain / engineering dan konsultan supervisi dalam satu Tim Proyek serta berkoordinasi secara intens dengan Pemerintah setempat untuk mendukung perijinan pembangunan proyek.
Yogi Y. Siburian, 8609390 Z

23

PT. PLN (PERSERO) UNIT INDUK PEMBANGUNAN PEMBANGKIT SUMATERA II

b. Memanfaatkan dermaga existing milik Pemerintah setempat untuk mempercepat unloading material tanpa perlu membuat temporary jetty. c. Memaksimalkan pekerja lokal untuk pekerjaan yang sifatnya tidak memerlukan skill tertentu sehingga mengefisiensikan waktu dan biaya mobilisasinya. d. Kondisi sosial yang kondusif harus dimanfaatkan untuk menambah tenaga kerja dan jam kerja tanpa adanya gangguan dari masyarakat setempat. e. Menempatkan personil PLN di lokasi proyek yang berkompeten dan bertanggung jawab dalam memonitor pelaksanaan proyek PLTU SINTANG. Strategi ST diterapkan dengan memperhatikan kondisi kekuatan dan tantangan yang dihadapi: a. Memanfaatkan Konsultan yang ahli untuk melakukan proses perencanaan dengan baik dan akurat walaupun waktu perencanaan yang diberikan terbatas. b. Topografi lokasi proyek yang datar dapat dimanfaatkan dalam mempercepat penyelesaian proyek sehingga jadwal durasi kontrak dapat dikejar c. Memberdayakan penyewaan peralatan yang ada di dekat lokasi proyek sehingga tidak terkendala area jangkauan lokasi proyek. d. Tim Komisioning harus dibentuk secara terpisah dari Tim Konstruksi dan diiisi oleh personil yang berpengalaman dibidangnya baik dari vendor, kontraktor maupun PLN dan siap di lapangan untu melakukan komisioning. e. Perencanaan Purchase Order oleh Kontraktor harus lebih awal dan terorganisir dengan baik serta harus disampaikan ke PLN sebagai persyaratan pembayaran Down Payment. Strategi WO diterapkan dengan melihat kondisi kelemahan dan memanfaatkan peluang yang dimiliki yakni :

Yogi Y. Siburian, 8609390 Z

24

PT. PLN (PERSERO) UNIT INDUK PEMBANGUNAN PEMBANGKIT SUMATERA II

a. Menambah tenaga kerja dengan memberdayakan pekerja lokal dan menyewa peralatan yang dekat dengan lokasi proyek serta membagi pekerjaan M&E kepada subkontraktor ZUG yang memiliki pengalaman dan resource lebih bagus untuk mempercepat pekerjaan b. Kontraktor perlu mengantisipasi Schedule pengiriman alat kerja akibat kondisi cuaca yang buruk, kondisi pasang surut air laut, kondisi jalan menuju site. c. Kontraktor dan Owner harus duduk bersama untuk mengolah sequence of work dan Metoda Kerja seoptimal mungkin akibat terbatasnya akses kerja di lahan yang tersedia. d. Perlu diadakan kerjasama dengan sektor industri seperti pabrik karet dan pabrik kelapa sawit di dekat lokasi proyek untuk melakukan improvement Access Road agar dapat digunakan bersama. e. Kontraktor diminta untuk membuat Project Master Schedule yang berbasis WBS dan mengupdate lintasan kritis setiap minggunya. Strategi WT dengan melihat tantangan dan kelemahan yang dimiliki maka yang dapat diambil adalah : a. Menghimbau Kontraktor Utama untuk menggunakan listrik PLN untuk membantu suplai listrik selama konstruksi namun sesuai dengan tariff dan peraturan yang berlaku. b. Menggali informasi mengenai potensi masalah yang dapat terjadi kepada Kontraktor Utama bersama Konsultan Supervisi sehingga dapat diantisipasi lebih dini.

BAB VII KESIMPULAN


Kesimpulan yang dapat diambil dari pembahasan di atas adalah sebagai berikut : a. Dengan metode Root Cause Analysis menggunakan diagram fish bone (tulang ikan), keterlambatan proyek sebagian besar disebabkan oleh kontraktor yang kurang perform, adanya perubahan desain pada saat pelaksanaan pekerjaan,
Yogi Y. Siburian, 8609390 Z

25

PT. PLN (PERSERO) UNIT INDUK PEMBANGUNAN PEMBANGKIT SUMATERA II

waktu yang terbatas dalam proses perencanaan, akibat lokasi yang sulit dijangkau, pendanaan dari PLN yang belum siap, proses perijinan yang lama, kondisi lapangan yang tidak sesuai dengan informasi awal, sampai dengan faktor cuaca. b. Strategi yang tepat untuk mengejar keterlambatan proyek PLTU yaitu dengan Strategi dengan analisa SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat) diman hal ini akan lebih mudah diimplementasikan jika PLN, Konsultan dan Kontraktor dapat bersinergi dalam satu tim proyek untuk mengeliminir faktor-faktor utama yang menyebabkan proyek mengalami keterlambatan. c. Strategi dan upaya mengejar keterlambatan proyek PLTU SINTANG dalam sehari dapat mengurangi kerugian PLN dari aspek selisih penggunaan BBM dibandingkan dengan penggunaan Batubara senilai Rp. 1.1 Milyar per hari dan juga adanya mengurangi loss of opportunity bagi PLN untuk bisa menghasilkan profit dari penjualan listrik sebesar Rp. 400 Juta per hari. d. Waktu yang dibutuhkan untuk Perencanaan awal sangat minim memaksa adanya tahapan pada proses perencanaan yang kurang akurat. e. Penentuan durasi kontrak tidak bisa mengadopsi durasi pelaksanaan kontrak di Cina, mengingat supporting equipment dan auxiliaries mudah didapat di Cina, sehingga pelaksanaan kontrak bisa lebih cepat, disamping pelaksanaan kontrak di Cina, engineering design dilaksanakan lebih awal dan dapat juga dilaksanakan secara bersamaan dengan pelaksanaan pekerjaan.

BAB VIII TINDAKAN YANG DISARANKAN


Dari kesimpulan di atas beberapa tindakan yang disarankan : a. Mengidentifikasi faktor yang dapat menyebabkan keterlambatan proyek sejak dimulainya kick off meeting, sehingga penyebabnya dapat diantisipasi dan dieliminir.
26

Yogi Y. Siburian, 8609390 Z

PT. PLN (PERSERO) UNIT INDUK PEMBANGUNAN PEMBANGKIT SUMATERA II

b.

Perlu dilakukan action dan sosialisasi dari strategi SWOT ini ke semua pihak terkait dalam rangka mengejar keterlambatan jadwal penyelesaian proyek sehingga dapat meminimalisir kerugian yang akan terjadi.

c.

Meningkatkan komunikasi dan koordinasi antara PLN, Konsultan dan Kontraktor melalui rapat bulanan atau rapat khusus untuk membahas kendala-kendala yang dihadapi dan menerapkan strategi SWOT sebagai solusi yang terbaik untuk semua pihak sehingga kerugian yang timbul akibat keterlambatan proyek dapat diminimalisir.

d.

Untuk proyek-proyek selanjutnya perlu diberikan waktu yang cukup untuk dilakukan perencanaan yang lebih matang dan akurat dengan menggunakan konsultan yang independen dan berpengalaman.

e.

Untuk proyek selanjutnya perlu dikaji lebih dalam lagi mengenai penentuan durasi kontrak dengan memasukkan parameter kondisi / lokasi proyek pada saat tahap pelaksanaan FS (Feasibility Study).

Yogi Y. Siburian, 8609390 Z

27

PT. PLN (PERSERO) UNIT INDUK PEMBANGUNAN PEMBANGKIT SUMATERA II

REFERENSI

1. Contract Document Sintang Coal Fired Steam Power Plant (3 x 7 MW), PT.PLN (Persero) and PT. Adhi Karya, tbk, Pontianak, 2011. 2. Project Master Schedule PLTU SINTANG 3. Materi Diklat Executive Education IV, PLN Udiklat Palembang 4. Materi Diklat Manajemen Konstruksi untuk Supervisori Atas, PLN Udiklat Bogor 5. Laporan bulanan proyek PLTU SINTANG dan korespondensi 6. Sarwono Hardjomuljadi Persyaratan Kontrak untuk Proyek EPC / Turnkey sesuai FIDIC yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia, Edisi Pertama, Penerbit FIDIC, LPJK, INKINDO, Jakarta 2010.

Yogi Y. Siburian, 8609390 Z

28

Anda mungkin juga menyukai