Anda di halaman 1dari 18

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Sebagai seorang dokter gigi yang bergelut di bidang profesional, pemilihan bahan restorasi gigi sangatlah penting. Pemilihan bahan yang tepat dan akurat akan menjamin kekuatan hasil akhir tambalan pada pasien. Penggunaan bahan restorasi estetik sendiri mengalami peningkatan yang pesat dalam beberapa tahun terakhir sejalan dengan tuntutan pasien dalam hal estetik. Contoh bahan restorasi yang sering ditemui saat ini adalah resin komposit. Pada awal abad ke-20, silikat merupakan satu-satunya bahan tambalan sewarna gigi. Walaupun silikat dapat melepaskan fluor, bahan ini tidak lagi digunakan sebagai bahan tambalan gigi permanen disebabkan dapat terjadi erosi pada penggunaan bertahun-tahun. Resin akrilik juga digunakan sebagai bahan tambalan gigi menggantikan silikat di penghujung tahun 1940 dan awal tahun 1950 oleh karena warnanya yang sewarna gigi, tidak larut di dalam rongga mulut, mudah dimanipulasi dan murah. Resin komposit berkembang sebagai bahan restorasi karena kelebihannya, antara lain: mempunyai sifat estetik yang baik, penghantar panas yang rendah, mudah dimanipulasi, dan tidak larut dalam cairan mulut. Resin komposit awalnya dikembangkan untuk restorasi gigi anterior kelas 3 sampai kelas 5, di mana nilai estetika sangatlah penting dan untuk restorasi kelas 1, di mana tekanan oklusal terjadi. Pada era tahun 1990-an, modifikasi material dan teknik berkembang pada restorasi posterior kelas 2 dan kelas 6. Resin komposit yang diproses di laboratorium diperkuat menggunakan serat dan dapat berikatan dengan substruktur alloy, dapat digunakan untuk mahkota dan bahkan bridge. Resin yang diperkenalkan oleh Bowen ini kemudian dikenal sebagai Bowens resin. Komposit merupakan sebuah sistem yang terdiri daripada gabungan dua atau lebih makromolekul yang tidak larut satu sama lain dan dalam bentuk yang berbeda. Material komposit adalah lebih baik dari komponen lain seperti fiberglass mempunyai matriks resin yang diperkuatkan oleh fiber kaca. Komposit yang dihasilkan lebih kuat dan kaku daripada material matriks resin, tapi kurang rapuh daripada kaca. Matriks diperbuat dari kolagen, dengan kristal hidroksiapatit yang bertindak sebagai filler. Untuk mendapatkan warna seperti warna gigi geligi asli, pigmen warna ditambahkan seperti ferric oxide, cadmium black, mercuric sulfide dan lain-lain.

Sejak awal tahun 1970, resin-based composite dan resin dimethacrylate dipilih sebagai bahan restorasi direk bagi gigi anterior disebabkan estetiknya yang bagus. Bahan resin komposit ini biasanya digunakan untuk menumpat gigi anterior, memperbaiki gigi patah, melapisi permukaan gigi yang rusak, atau menutup warna gigi yang berubah karena obatobatan antibiotik tertentu misalnya tetrasiklin. Beberapa evaluasi telah dilakukan pada bahan tumpatan resin komposit yaitu berupa perubahan fisik yang terjadi pada bahan tersebut. Salah satu diantaranya adalah perubahan warna. Sifat yang menyebabkan resin komposit dapat mengalami perubahan warna adalah sifatnya yang mampu mengabsorbsi cairan. Perubahan warna ini dapat terjadi oleh faktor intrinsik yaitu diskolorisasi bahan resin itu sendiri, ukuran partikel filler. Selain daripada itu, ada faktor ekstrinsik yaitu penetrasi zat warna dari minuman dan makanan, bahan kumur, hasil tembakau dan proses oksidasi. 1.2 Tujuan 1. Mahasiswa mampu memanipulasi visible light cure composite dengan cara dan alat yang tepat, serta mengerti proses curing composite jenis sinar tampak (visible light cure). 1.3 Resin Komposit Material komposit adalah produk yang terdiri dari 2 fase berbeda dalam struktur dan sifatnya yang biasanya dicampur menjadi satu. Tujuan dari pencampuran 2 material berbeda ini untuk menciptakan material yang memiliki sifat yang tidak dapat dimiliki oleh hanya salah satu komponen itu sendiri. Dua komponen utama material filling komposit ini adalah fase resin dan reinforcing filler. Keuntungan yang dikontribusikan oleh resin adalah kemampuan untuk dibentuk pada suhu kamar dan waktu setting dan polimerisasi yang nyaman. Bahan komposit modern terdiri atas beberapa komponen, pertama komponen utama yaitu resin matriks organik (an organic resin matrix) umumnya menggunakan Bis-GMA, bahan pengisi anorganik (an inorganic filler) dan bahan pengikat (a coupling agent), kedua adalah komponen tambahan yaitu aktifator, inisator, aditif, inhibitor dan pigmen. Adapun komponen yang mendukung efektivitas dan durabilitas antaralain: 1. Coupling agent (silane) : untuk ikatan antara partikel filler anorganik dan matriks resin. 2. Aktivator-inisiator : untuk proses polimerisasi resin. 2

3. Sejumlah kecil bahan tambahan lainnya yang berguna untuk meningkatkan stabilitas warna. 4. Inhibitor (hydroquinone) : untuk mencegah polimerisasi dini. 5. Pigmen : untuk mendapatkan kesesuaian kesesuaian warna material dengan warna gigi. 1.4 Klasifikasi Resin Komposit Berdasarkan besar filler yang digunakan, resin komposit dapat diklasifikasikan atas resin komposit tradisional, resin komposit mikrofiller, resin komposit hibrid dan resin komposit partikel hibrid ukuran kecil. a. Resin Komposit Tradisional Resin komposit tradisional juga dikenal sebagai resin konvensional. Komposit ini terdiri dari partikel filler kaca dengan ukuran rata-rata 10-20m dan ukuran partikel terbesar adalah 40m. Terdapat kekurangan pada komposit ini yaitu permukaan tambalan tidak bagus, dengan warna yang pudar disebabkan partikel filler menonjol keluar dari permukaan. b. Resin Komposit Mikrofiler Resin mikrofiler pertama diperkenalkan pada akhir tahun 1970, yang mengandung colloidal silica dengan rata-rata ukuran partikel 0.02m dan antara ukuran 0.01-0.05m. Ukuran partikel yang kecil dimaksudkan agar komposit dapat dipolish hingga menjadi permukaan yang sangat licin. Ukuran partikel filler yang kecil bermaksud bahan ini dapat menyediakan luas permukaan filler yang besar dalam kontak dengan resin. c. Resin Komposit Hibrid Komposit hibrid mengandung partikel filler berukuran besar dengan rata-rata berukuran 1520m dan juga terdapat sedikit jumlah colloidal silica, dengan ukuran partikel 0.010.05m.Perlu diketahui bahawa semua komposit pada masa sekarang mengandung sedikit jumlah colloidal silica, tetapi tidak mempengaruhi sifat-sifat dari komposit itu. d. Resin Komposit Partikel Hibrid Ukuran Kecil Untuk mendapatkan ukuran partikel yang lebih kecil daripada sebelumnya telah dilakukan perbaikan metode dengan cara grinding kaca. Ini menyebabkan kepada pengenalan komposit yang mempunyai partikel filler dengan ukuran partikel kurang dari 1m, dan biasanya berukuran 0.1-1.0m yang biasanya dikombinasi dengan colloidal silica. Partikel filler berukuran kecil memungkinkan komposit dipolish permukaannya sehingga menjadi lebih rata dibanding partikel filler berukuran besar. Komposit ini dapat mencapai permukaan yang lebih 3

rata karena setiap permukaan kasar yang dihasilkan dari partikel filler adalah lebih kecil dari partikel filler. 1.5 Resin Komposit Hybrid Amalgam sudah lama digunakan sebagai pilihan bahan filling untuk restorasi gigi posterior karena memiliki sifat mekanis yang baik, memiliki sifat self sealing (mengurangi marginal leakage) dan ketahanan aus yang baik. Namun, kenaikan permintaan dalam estetik dan kepedulian terhadap toksisitas amalgam menyebabkan kenaikan frekuensi penggunaan komposit pada tumpatan kelas 1 dan kelas 2. Karena kehalusan permukaan dan kekuatan yang cukup baik, komposit ini banyak digunakan untuk restorasi anterior, termasuk Kelas IV. Komposit hibrid secara luas digunakan untuk penyangga stress, restorasi posterior. 1.6 Komposisi Komposit Hybrid Bahan komposit ini dikembangkan untuk memperoleh kehalusan permukaan yang lebih baik daripada komposit partikel kecil, tetapi masih dengan sifat yang sama. Komposit hibrid dipandang sebagai bahan yang memiliki estetika setara dengan komposit berbahan pengisi mikro untuk penggunaan restorasi anterior. Ada 2 jenis partikel pengisi dalam komposit hibrid. Kebanyakan bahan pengisi hibrid modern terdiri atas silika koloidal dan glass particle yang dihaluskan, yang mengandung logam berat, yang mengisi kandungan bahan pengisi sebesar 75-80% berat. Glass particle mempunyai ukuran partikel rata-rata 0,6-1 mikron. Pada distribusi ukuran yang tipikal, 75% dari partikel yang dihaluskan adalah lebih kecil daro 0,1 mikron, silika koloidal membentuk 10-20% berat dari seluruh kandungan bahan pengisi. Dalam keadaan ini, bahan pengisi mikro juga berpengaruh nyata pada sifat bahan. Partikel pengisi yang lebih kecil, begitu juga sejumlah besar bahan pengisi mikro, akan meningkatkan daerah permukaan. Jadi, seluruh muatan pengisi tidak sebanyak muatan pengisi pada beberapa komposit berbahan pengisi partikel kecil. 1.7 Sifat Tegangan termal memberi beban tambahan pada ikatan struktur gigi, yang menambah efek buruk dari polymerization shrinkage. Perubahan termal juga merupakan siklus natural, dan meskipun seluruh restorasi tidak akan pernah mencapai termal equilibrium selama 4

aplikasi dengan stimuli panas atau dingin, efek siklus ini dapat menyebabkan fatigue material dan kegagalan ikatan awal. Bila ada gap yang terbentuk maka ada perbedaan antara koefisien termal dari ekspansi komposit dan gigi yang dapat menyebabkan perkolasi cairan mulut. Kelarutan air pada komposit bervariasi dari 0,01 sampai 0,06 mg/cm 2. Pemaparan sumber cahaya yang tepat pada komposit light-cured sangatlah kritis. Polimerisasi yang tidak sempurna dapat terjadi pada restorasi yang jauh dari permukaan bila cahaya tidak cukup kuat untuk menembus. Resin yang tidak terpolimerisasi sempurna dapat menyebabkan penyerapan dan pelarutan air lebih besar, hal ini mungkin menyebabkan perubahan warna terjadi lebih cepat. Komposit tahan terhadap perubahan warna oleh oksidasi tapi tidak tahan oleh stain. Karakteristik dari resin komposit hybrid ini adalah terdapat banyak macam pilihan warna gigi dan kemampuan untuk mengikuti struktur gigi, sehingga sangat berguna untuk estetika. Penyusutan saat curing lebih kecil, sedikit penyerapan air, memliki sifat texturing dan polishing yang baik, abrasi dan keausan sangat mirip dengan struktur gigi, koefisien ekspansi termal mirip dengan gigi. Material hibrida menunjukkan kekuatan tarik antar partikel yang unggul, koefisien ekspansi termal rendah, meningkatkan ketahanan dari abrasi, dan resistensi fraktur yang lebih. Kelemahan dari material hibrida adalah resin ini kehilangan polish tinggi dari waktu ke waktu dengan perkembangan permukaan yang lebih kasar, mengurangi kecocokan mereka untuk kasus yang membutuhkan estetis. 1.8 Cara Manipulasi Resin komposit mengeras melalui proses polimerisasi. Proses polimerisasi ada beberapa macam, antara lain polimerisasi kimiawi, polimerisasi dengan sinar, dan polimerisasi dengan panas. Polimerisasi yang umum digunakan adalah polimerisasi dengan sinar tampak seperti QTH (Quartz-Tungsten Halogen), LED (Light Emmiting Diode), PAD (Plasma Arc Cured), dan Argon Laser Lamps. Sistem pertama yang digunakan adalah dengan menggunakan sinar ultra violet untuk merangsang radikal bebas. Namun, resin komposit yang diaktifkan dengan sinar ultra violet telah digantikan dengan sistem yang diaktifkan dengan sinar yang dapat dilihat dengan mata (sinar tampak), yang secara nyata dapat meningkatkan kemampuan polimerisasi lapisan yang lebih tebal sampai 2 mm. Juga, komposit yang diaktifkan dengan sinar tampak lebih luas penggunaannya dibandingkan dengan kimia. Sebuah sinar tampak (halogen atau LED) yang intens dalam jangkauan gelombang biru akan mengaktifkan bahan-bahan. Sinar biru dengan panjang gelombang 400 dan 500 nanometer (nm) akan mengaktifkan diketon, lalu dengan adanya amina organik, 5

menyebabkan resin untuk berpolimerisasi. Komponen ini keduany ahadir di dalam komposit dan tidak akan bereaksi sampai cahaya memulai reaksi. Proses polimerisasi resin komposit dengan menggunakan sinar tampak atau light-cured dipengaruhi beberapa faktor, diantaranya kedalaman restorasi dan lamanya waktu pemaparan. Pada restorasi komposit dengan kedalaman 2 mm proses polimerisasi akan lebih sempurna dibandingkan dengan kedalaman 5 mm. Jika resin komposit diletakkan terlalu dalam, maka kemungkinan proses curing tidak sampai ke seluruh bagian bawah restorasi. Sedangkan waktu paparan yang dibutuhkan untuk polimerisasi sekitar 20 sampai dengan 40 detik. Sinar tampak yang bewarna biru penting untuk memulai reaksi, dan reaksi tidak akan terjadi sampai komposit terpapar oleh sinar biru tersebut. Waktu pemaparan 40 detik atau kurang tersebut sesuai dengan ketebalan light-cured komposit sebesar 2 mm. Ketebalan komposit yang lebih dari 2-3 mm harus diambil karena terbatasnya penetrasi sinar ke bagian dalam restorasi. Meskipun begitu, restorasi dengan kedalaman komposit yang lebih besar dapat dilakukan dengan menambah waktu pemaparan proses light-cured tersebut. Intensitas sinar pada pemaparan juga mempengaruhi proses polimerisasi atau pengerasan. Pada penggunaan lampu LED intensitasnya hanya antara 440 sampai 480 nm sehingga dikategorikan lampu dengan intensitas rendah. Namun, pada saat ini sudah terdapat jenis lampu intensitas tinggi seperti QTH, PAC dan lampu laser yang intensitasnya dinaikkan sampai lebih dari 1000 mW/cm2, hal ini memungkinkan terjadinya pengurangan waktu pemaparan atau penambahan kedalaman komposit. Meskipun begitu, penyerapan dan penghamburan sinar pada resin komposit dapat mengurangi kepadatan dan derajat konversi secara eksponen pada kedalaman penetrasi. Pada lampu dengan intensitas tinggi, intensitas dapat dikurangi dengan faktor 10-100 pada ketebalan komposit 2 mm. Pengurangan konversi monomer ini tidak dapat diterima pada level kedalaman lebih dari 2-3 mm. 1.9 Faktor yang Mempengaruhi Restorasi Ketika persiapan rongga pada margin gingiva terletak di dentin, sementum, atau keduanya, dan resin menempel ke enamel di margin lainnya, bahan cenderung menjauh dari margin gingiva selama kuring karena penyusutan polimerisasi. ini menyebabkan pembentukan celah di permukaan itu. Selanjutnya, risiko kebocoran marjinal dan masalah yang berikutnya dari pewarnaan marjinal dan karies sekunder, meningkat. Tidak diragukan lagi, ini adalah salah satu masalah terbesar dari komposit yang digunakan untuk restorasi Kelas II dan V. 6

1.10

Karies Sekunder

Karies sekunder merupakan karies dentis yang menyebar di bawah atau di dalam tepi restorasi, disebabkan oleh akumulasi debris akibat tidak sempurnanya preparasi kavitas. Kegagalan restorasi resin komposit yang menyebabkan kebocoran dari resin komposit, dikarenakan: 1. Perbedaan masing-masing koefisien thermal ekspansi diantara resin komposit, dentin, dan enamel. 2. Penggunaan oklusi dan pengunyahan yang normal . 3. Kesulitan karena adanya kelembaban, mikroflora yang ada, lingkungan mulut bersifat asam. 4. Adanya mikroleakage, yang merupakan suatu celah berukuran mikro antara bahan restorasi dengan struktur gigi, sehingga margin restorasi terbuka serta Adaptasi yang buruk, yang menyebabkan masuknya cairan oral, bakteri maupun toksinnya sehingga menyebabkan karies sekunder.

BAB II ALAT DAN BAHAN


2.1 Bahan 1. Visible Light Cure Composite Hybrid 2. Vaseline 2.2 Alat 1. Ligh Curing Unit (LCU) jenis Light Emiting Dioda (LED) 2. Celluloid Stipe 3. Lempeng Kaca 4. Sonde 5. Plastik Filling Instrument 6. Cetakan plastik diameter 10 mm tebal 2 mm dan tebal 5 mm

2.3 Cara Kerja a) Permukaan dalam cetakan diulasi dengan vaselin, kemudian cetakan diletakkan di atas lempeng kaca b) Ambil sedikit pasta komposit dengan Plastic Filling Instrument dan masukkan di dalam cetakan tebal 2mm, ulangi pengisian sampai cetakan terisi penuh, perhatikan jangan sampai ada udara yang terjebak kemudian permukaan diratakan c) Letakan celluloid strip diatas cetakan d) Atur lama penyinaran pada LED light curing unit sesuai dengan lama penyinaran visible light cure composite (mengikuti aturan pabrik) e) Letakkan ujung fiber optic tip LED light curing sedekat mungkin / menempel pada permukaan komposit. Nyalakan sinar dan tunggu sampai dengan waktu lama sesuai dengan pengaturan sebelumnya f) Periksa hasil curing komposit memakai sonde, dengan menggores atau menusuk permukaan komposit yang dekat dengan sinar, maupun daerah yang jauh dengan sinar. Proses polimerisasi / curing diketahui dengan menusuk / menggores permukaan komposit menggunakan ujung sonde, bila permukaan komposit masih tergores maka dianggap proses poimerisasi komposit tidak sempurna.

10

11

BAB III HASIL PRAKTIKUM


2 mm Percobaan Pertama dengan penyinaran 20 detik Atas a. Goresan dengan tekanan biasa b. Goresan dengan tekanan di tambah c. Tusukan dengan tekanan biasa d. Tusukan dengan tekanan di tambah Bawah a. Goresan dengan tekanan biasa b. Goresan dengan tekanan di tambah c. Tusukan dengan tekanan biasa d. Tusukan dengan tekanan di tambah : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada

Percobaan Kedua dengan penyinaran 20 detik Atas a. Goresan dengan tekanan biasa b. Goresan dengan tekanan di tambah c. Tusukan dengan tekanan biasa d. Tusukan dengan tekanan di tambah Bawah a. Goresan dengan tekanan biasa b. Goresan dengan tekanan di tambah c. Tusukan dengan tekanan biasa d. Tusukan dengan tekanan di tambah : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada

Percobaan Ketiga dengan penyinaran 20 detik Atas a. Goresan dengan tekanan biasa b. Goresan dengan tekanan di tambah : tidak ada : tidak ada 12

c. Tusukan dengan tekanan biasa d. Tusukan dengan tekanan di tambah Bawah a. Goresan dengan tekanan biasa b. Goresan dengan tekanan di tambah c. Tusukan dengan tekanan biasa d. Tusukan dengan tekanan di tambah 5 mm

: tidak ada : tidak ada

: tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada

Percobaan Pertama dengan penyinaran 20 detik Atas a. Goresan dengan tekanan biasa b. Goresan dengan tekanan di tambah c. Tusukan dengan tekanan biasa d. Tusukan dengan tekanan di tambah Bawah a. Goresan dengan tekanan biasa b. Goresan dengan tekanan di tambah c. Tusukan dengan tekanan biasa d. Tusukan dengan tekanan di tambah : ada : ada : ada : ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada

Dan pada bagian bawahnya lunak ketika ditusukan dengan sonde. Percobaan Kedua dengan penyinaran 20 detik Atas a. Goresan dengan tekanan biasa b. Goresan dengan tekanan di tambah c. Tusukan dengan tekanan biasa d. Tusukan dengan tekanan di tambah : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada

13

Bawah a. Goresan dengan tekanan biasa b. Goresan dengan tekanan di tambah c. Tusukan dengan tekanan biasa d. Tusukan dengan tekanan di tambah : ada : ada : ada : ada

Dan pada bagian bawahnya lunak ketika ditusukan dengan sonde. Percobaan Ketiga dengan penyinaran 30 detik Atas a. Goresan dengan tekanan biasa b. Goresan dengan tekanan di tambah c. Tusukan dengan tekanan biasa d. Tusukan dengan tekanan di tambah Bawah a. Goresan dengan tekanan biasa b. Goresan dengan tekanan di tambah c. Tusukan dengan tekanan biasa d. Tusukan dengan tekanan di tambah : ada : ada : ada : ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada : tidak ada

Dan pada bagian bawahnya tidak lunak lagi ketika ditusukan dengan sonde.

14

BAB IV PEMBAHASAN
Praktikum ini dilakukan dengan menggunakan cetakan plastik dengan diameter 10 mm dan dengan tebal 2 mm dan 5 mm, praktikum ini dilakukan sebanyak 3 kali pada tiap masingmasing cetakan plastik yang memiliki ketebalan yang berbeda. Pada percobaan pertama dengan menggunakan cetakan plastik 2 mm kami menggunakan lama penyinaran LCU rata-rata yaiu 20 detik karena pada pasta komposit tidak tercantum waktu penyinaran LCU yang dianjurkan. Didapatkan hasil pada bagian atas dan bagian bawah cetakan komposit tidak bergores ketika digoreskan dengan sonde baik dengan tekanan biasa maupun dengan tekanan yang sudah ditambahkan. Pada bagian atas dan bawah cetakan komposit juga tidak berbekas ketika ditusukan sonde dengan tekanan biasa maupun dengan tekanan ditambah. Hal ini berarti pada ketebalan 2 mm dan diameter 10 mm, pasta komposit dapat mengeras dengan sempurna ketika lama penyinaran LCU 20 detik. Percobaan kedua dan ketiga yang menggunakan cetakan plastik 2 mm dengan lama penyinaran yang sama yaitu 20 detik mendapatkan hasil yang sama. Pada percobaan pertama dengan menggunakan cetakan plastik 5 mm kami juga menggunakan lama penyinaran LCU rata-rata yaitu 20 detik karena pada pasta komposit tidak dicantumkan lama penyinaran yang dianjurkan. Didapatkan hasil pada bagian atas cetakan plastik 5 mm tidak terdapat goresan maupun bekas tusukan ketika digoreskan dan ditusuk dengan menggunakan sonde baik dengan menggunakan tekanan biasa maupun dengan tekanan yang ditambah. Namun, pada bagian bawah cetakan plastik 5 mm komposit terasa lunak dan dapat digores maupun ditusuk dengan menggunakan tekanan biasa maupun dengan tekanan yang ditambahkan. Hal ini membuktikan bahwa sinar LCU tidak dapat mengeraskan komposit pada cetakan yang memiliki ketebalan 5 mm dalam lama penyinaran 20 detik. Kami mencoba kembali dengan cara yang sama dan dengan lama penyinaran yang sama dengan menggunakan cetakan plastik 5 mm, dsn di dapatkan hasil yang sama seperti percobaan yang pertama. Jadi, percobaan pertama dan kedua sama. Pada percobaan ketiga kami menggunakan lama penyinaran 30 detik dengan menggunakan cetakan 5 mm didapatkan hasil bahwa bagian atas cetakan komposit tetap tidak terdapat goresan maupun bekas tusukan ketika digores dan ditusuk dengan menggunakan sonde baik dengan tekanan biasa maupun dengan tekanan yang ditambah. Pada bagian bawah cetakan plastik komposit 5 mm tidak lunak tetapi masih dapat digoseskan dan ditusukkan 15

dengan menggunakan sonde. Hal ini berarti dengan lama penyinaran LCU 30 detik pun adonan komposit tidak dapat mengeras dengan sempurna. Jadi dengan ketebalan 5 mm dan dengan diameter 10 mm perlu menggunakan lama penyinaran lebih dari 30 detik untuk mendapatkan hasil yang optimal. Manipulasi yang kurang tepat sangat dipengaruhi oleh intensitas cahaya, jarak sinar, waktu penyinaran, panjang gelombang, dan alat curing yang tidak optimal. Ketika intensitas berlebih curing time akan menurun dan menyebabkan meningkatnya polimerisasi serta berakibat pada pada timbulnya shringkage dan mikroleakage. Sedangkan jika intensitas kurang akan menyebabkan polimerisasi yang tidak sempurna yang berakibat meningkatnya penyerapan air dan kelarutan oleh resin komposit. Efek akhir dari intensitas yang kurang adalah marginal staining. Semakin jauh jarak penyinaran, maka polimerisasi yang terjadi akan lebih tidak sempurna, maka pada saat penumpatan jarak dari ujung light cure sebaiknya 3-4 mm kearah permukaan restorasi. Jika panjang gelombang tidak sesuai, maka photosensitizer tidak dapat berinteraksi dan berikatan dengan amine untuk membentuk radikal bebas yang mengawali polimerisasi. Waktu penyinaran pada umumnya berkisar 3-40 menit bergantung pada tipe dan intensitas sumber sinar, warna, dan ketebalan material.

16

BAB V KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan Resin komposit merupakan bahan tumpatan yang paling sering digunakan untuk memperbaiki estetik dan fungsi. Resin komposit jenis hybrid dipakai karena memiliki sifat fleksibel yaitu, dapat digunakan untuk tumpatan anterior maupun posterior. Jenis ini juga memiliki sifat fisik, mekanik, dan estetik yang lebih baik dibanding dengan resin komposit jenis conventional (macrofilled dan microfilled). Semakin tebal suatu cavitas maka semakin lama penyinaran LCU yang diperlukan. Dan semakin jauh jarak penyinaran, maka polimerisasi yang terjadi akan lebih tidak sempurna. Jadi sebaiknya kita menggunakan penyiaran yang sesuai dengan ketebalan cavitas dan diameter cavitas agar mendapatkan hasil yang optimal. 5.2 Saran Bahan resin komposit jenis hybrid adalah bahan yang paling baik. Seorang dokter harus mampu melakukan manipulasi resin komposit jenis hybrid. Selain itu, dibutuhkan kerjasama antara dokter gigi dengan pasien. Pasien sebaiknya datang memeriksakan gigi secara teratur dan melakukan perawatan seperti menjaga kesehatan dan kebersihan gigi, menghindari minuman berkarbonat dan mengandung pewarna.

17

DAFTAR PUSTAKA
Anusavice, Kenneth J. 2003. Philips Science of Dental Materials. Missouri: Elsevier. pp. 406- 408, 410, 411, 412,420-426, 428. Craig, RG. & Powers, JM. 2002. Restorative Dental Material 11th. USA: Mosby Inc. pp. 232, 239- 240. Harty FJ dan Ogston R. 1995. Kamus Kedokteran Gigi. Jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC. p. 56. Hatrick, C.D. 2003. Dental Material: Clinical Application for Dental Assistants and Dental Hygienist. Saunders. pp. 63-65 Hermina, M.T. 2003. Perbaikan Restorasi Resin Komposit Klas I. Sumatera Utara: USU Digital Library Jordan, RE. Esthetic Composite Bonding. 2nd ed. St Louis, MO: Mosby; 1992. Mc Cabe, John F & Walls, Angus W.G. 2008. Applied Dental Materials 9 th Ed. Oxford : Blackwell Publishing. P.196. Safiah. 2010. Skripsi : Stabilitas Resin Komposit sebagai bahan tambalan gigi. Medan : Repository USU. Diakses dari www.repository.usu.ac.id

18