Anda di halaman 1dari 31

TUGAS PESAWAT ANGKAT DAN ANGKUT

PERANCANGAN EKSKALATOR TROLLEY BARANG DI


DEPARTEMENT STORE










Disusun Oleh :

Nama : Hengki Frisa Sukresno
NPM : 3331091170
Jurusan : Teknik Mesin
Kelas : B (Regular)
Dosen : ASWATA, Drs, Ir, SE, MM, IPM.


JURUSAN TEKNIK MESIN
FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SULTAN AGENG
TIRTAYASA
CILEGON-BANTEN
2012

BAB I
PENDAHULUAN


1.1. Latar Belakang
Eskalator adalah salah satu transportasi vertikal berupa konveyor untuk mengangkut
orang, yang terdiri dari tangga terpisah yang dapat bergerak ke atas dan ke bawah mengikuti
jalur yang berupa rail atau rantai yang digerakkan oleh motor.
Karena digerakkan oleh motor listrik, tangga berjalan ini dirancang untuk
mengangkut orang dari bawah ke atas atau sebaliknya. Untuk jarak yang pendek eskalator
digunakan di seluruh dunia untuk mengangkut pejalan kaki yang mana menggunakan
elevator tidak praktis. Pemakaiannya terutama di daerah pusat perbelanjaan, bandara, sistem
transit, pusat konvensi, hotel dan fasilitas umum lainnya.
Manfaat dari eskalator cukup banyak seperti mempunyai kapasitas memindahkan
sejumlah orang dalam jumlah besar dan dapat juga dipergunakan untuk mengangkut trolly.
Pada pembahasan tugas pesawat alat angkut ini adalah membahas mengenai pengangkutan
trolly pada eskalator dikarenakan pengangkutan trolley ini merupakan hal yang perlu
diperhatikan. Pengangkutan trolly pada eskalator ini sering mengalami kendala pada sistem
pengangkutanya menimbulkan susahnya trolly ditempatkan di ekskalator dan bisa terjatuhnya
trolly atau belanjaan yang bisa menimbulkan kecelakaan. Oleh karena itu diharapkan ada
sebuah ekskalator yang bisa mengangkut trolly yang aman agar tidak terjatuh.
1.2. Alasan Pemilihan Judul
Eskalator khusus trolley belanja merupakan eskalator yang hanya untuk trolley
belanja. Eskalator Khusus trolley di gedung-gedung departement store di Indonesia masih
belum memiliki. Umumnya Eskalator di departement store di Indonesia tidak bisa digunakan
untuk mengangkut trolly belanja karena dari faktor kemiringan dan model anak Tangga
eskalator, eskalator akan menimbulkan susahnya trolly ditempatkan di ekskalator dan bisa
terjatuhnya trolly atau belanjaan yang bisa menimbulkan kecelakaan. Hal ini agar efisien
maka ekskalator harus membantu untuk pengguna ekskalator didepartement store bisa
menaik-turunkan trolley belanja untuk belanja.
Karena adanya kendala-kendala seperti diatas, maka disisi lain diharapkan ada
sebuah ekskalator yang bisa mengangkut trolly yang aman agar tidak terjatuh.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas dapat di susun beberapa alasan dari
pemilihan judul Perencanaan Rancang Ekskalator untuk Trolley belanja di
Departement Store. Maka ada beberapa hal yang menjadi alasan, yaitu :
1. Agar lebih efektif dan efisien
2. Lebih cepat Membawa barang belanjaan
3. Mengutamakan faktor keselamatan

1.2. Rumusan Permasalahan
Spesifikasi Alat :
a) Daya Motor eskalator + 100 Hp
b) Penerus daya pada eskalator ini adalah pulley
c) Kapasitas Maksimum 25 30 kg
d) Eskalator hanya digunakan untuk trolley belanja.
e) Kecepatan Escalator bervariasi dari sekitar + 90 meter per menit untuk 180 kaki per
menit (27-55 meter per menit).
f) Eskalator bergerak 145 kaki (44 m) per menit.
g) Sudut kemiringan eskalator 30
o

h) Ukuran lebar eskalator trolley mengikuti ukuran lebar trolley (standard trolley
Ukuran dimensi : P x L x T : 83cm x 50cm x 95cm)











Gamabar 1.1 Perencanaan pengangkutan trolly pada eskalator
1.3. Lingkup pembahasan
Dengan melihat latar belakang di atas, Ekskalator merupakan alat tidak dilakukan
oleh manusia secara langsung, sehingga pengguna ekskalator tergantung pada teknologi
handal dari transportasi vertikal ini. Ekskalator ini memiliki komponen-komponen penting
agar eskalator tersebut dapat bergerak. Untuk merancang sebuah eskalator trolley perlu
dilakukan beberapa perencanaan, antara lain:
o Menentukan ruang lingkup konveyer eskalator untuk trolley.
o Perhitungan motor pengerak : memilih jenis motor, menghitung daya, tegangan, arus
mengitung kecepatan dan waktu eskalator trolley.
o Memilih dan menentukan jumlah Pulley atau belt untuk menggerakan eskalator.
o Menentukan komponen yang dirasa perlu untuk digunakan.
o Mampukah mesin ini efisien.
o Desain untuk membuat konstruksi eskalator trolley
o Menganalisa sistem mekanisme kerja.
o Permasalahan yang dapat dijadikan acuan adalah untuk memepermudah dan menjaga
keseimbangan trolley.
Gambar mekanisme eskalator














Gambar 1.2 Gambar Mesin Eskalator


































1.4. Batasan Masalah
Dalam penye1esaian masalah perncanaan perancangan eskalator Trolley belanja terdapat
beberapa pembatasan masalah sebagai berikut:
o Kapasitas Maksimum 25 30 kg (hanyak untuk trolley)
o Eskalator hanya digunakan untuk trolley belanja (eskalator di desain hanya untuk troley
dengan pencekam roda belakang pada celah penahan eskalator)
o Tidak membahas material eskalator
o Perhitungan mengenai sifat-sifat konversi energi dan geskan dinding tidak dibahas.
o penggunaan mur dan baut diasumsikan aman sehingga tidak dilakukan perhitungan.


1.6. Diagram Alir
Langkah langkah sistematika perancangan mesin design eskalator trolley
belanja. untuk mempermudah dan memahami proses konstruksi, seperti yang
diuraikan dalam diagram alir sebagai berikut :




















Gambar 1. 4. Diagram Alir Penelitian


Mulai
Tinjauan Pustaka Pengamatan Lapangan
Konsep
Perencanaan Desain Mesin
Perhitungan Mesin
Pengecekan Kembali
Hasil Perhitungan
(Jika Sesuai)
Pembuatan dan Perakitan
Selesai
Penyusunan Laporan
BAB II
PERHITUNGAN DAN PERANCANGAN ESKALATOR
2.1 Desain Sistem
Sistem ini direncanakan bertujuan untuk memisahkan eskalator trolley dengan
eskalator orang agar tidak terganggu saat menggunakan eskalator dan eskalator ini saat
bergerak trolley seimbang tidak miring.









Gambar 2.1 Sistem kerja eskalator trolley
Pada eskalaotor trolley ini, untuk menaikan atau menurukan trolley perlu dibantu
orang untuk mengepaskan ke penahan eskalator atau mencekamkan roda belakang troley ke
eskaltor trolley agar bisa trolley berjalan di eskalator.

2.2 Teori Bidang Miring
Gerak pada bidang miring dengan permukaan licin, terdapat tiga kondisi yang
berbeda. Sebagaimana ditunjukkan pada gambar di bawah. Pada gambar 2.1, benda meluncur
pada bidang miring yang licin (gaya gesekan = 0) tanpa ada gaya tarik. Jadi benda bergerak
akibat adanya komponen gaya berat yang sejajar bidang miring (w sin ).



Gambar 2.1. Gerak pada bidang miring dengan permukaan licin 1
Benda bergerak akibat adanya komponen gaya berat yang sejajar permukaan bidang
miring.
Berdasarkan hukum II Newton, percepatan gerak benda adalah :
F = m.a
w sin = m.a


Komponen gaya yang bekerja pada sumbu y (vertikal) adalah :
F = m.a a = 0
F = 0
N w cos = 0
N m.g cos = 0

F = m.a a = 0
F = 0
N w cos = 0
N = w cos
N = m.g cos

2.3 Teori Perhitungan Berat

Untuk mengkalkulasikan berat digunakan data data yang telah ditentukan
sebelumnya, dapat dimulai untuk mengkalkulasikan total jarak yang telah ditempuh tangga
dan jumlah step yang dibutuhkan (1)

a. Total jarak yang ditempuh (S)

2
2 2 2
|
.
|

\
|
+ + + =
s
D D C
I S

Rumus diatas diambil berdasarkan jarak tempuh rantai, dimana :
I = Panjang lintasan 10 m
C = Panjang lintasan bagian bawah 8 m
D = panjang lintasan bagian atas 6 m
D
s
= keliling diameter sproket 0.1 m
m S 10 . 34 2
2
1 . 0
2
6
2
8
10 = |
.
|

\
|
+ + + =

b. Jumlah step yang dibutuhkan











Gambar 2.2. Jarak Pergeseran Step

Berdasarkan gambar diatas :
Maka jumlah step yang dibutuhkan adalah :
Stp =
L
S


Dimana :
Stp = Jumlah step
S = Total jarak yang ditempuh 10 m
L = Panjang diagonal step 8 m

Stp = 25 . 1
8
10
=

c. Berat total step

Untuk masing masing step diasumsikan mempunyai berat Wst
Maka berat total step adalah :


st tp total
W S W =
Dimana :
W
total
= Berat total step (N)
S
tp
= Jumlah step 1.25
W
st
= Berat masing-masing step 300 N
N W
total
375 300 25 . 1 = =

d. Berat Penumpang (Wp)
Untuk satu kali lintasan, jumlah step, Maka berat total penumpang Wp
Frame
SP5 SP4
motor
SP6 SP3
SP2
SP1
- Wp = Wp
1
+ Wp
2


Dimana :
Wp
2
= Berat setiap step isi trolley (35 kg)
Wp
1
= Sisa dari kapasitas troley saat kosong (20kg)
Wp = 20 + 35 = 55 kg
e. Berat rantai (W
c
)
Untuk pemilihan rantai diambil kekuatan tarik yang besar dan jarak yang tidak
terlalu panjang, untuk jaminan kekuatan sambungan.
Untuk berat total rantai (Wc)adalah :
Wc = Jarak tempuh rantai (m) x Berat rantai (kg/m)

f. Berat sproket (W
sp total
)
Didalam mekanisme escalator ini dibedakan macam sproket menurut fungsinya :
1. Sproket (Sp
1
) yang berada pada reducer dan berfungsi sebagai penggerak.
2. Sproket (Sp
2
) adalah sproket yang digerakkan sproket (Sp
1
)
3. Sproket (Sp
3
) dan (Sp
4
) sebagai penggerak rantai dan step, begitu pula dengan
sproket yang digerakkan oleh Sp
3
dan Sp
4
yaitu Sp
5
dan Sp
6

Semua keterangan mengenai sproket diatas dapat dilihat mekanismenya pada
gambar 2.3.









Gambar 2.3 mekanisme sistem penggerak
Pada sproket sproket diatas, Sp
1
tidak perlu dihitung beratnya karena tidak
ditumpu oleh frame maupun menambah beban bagi motor (sangat kecil sehingga dapat
diabaikan)
Selanjutnya dalam perhitungan berat sproket diameter yang dipakai adalah
diameter kepala. Diameter sproket dapat dilihat pembahasannya pada perhitungan
mekanisme penggerak .
Rumus berat sproket (massa) Wsp
2
= BJ t D
2
4
t

Wsp
2
= 25 . 39 50 10 1 . 0
4
14 . 3
2
= N m
a. Berat sproket Sp
2
= Wsp
2

b. Untuk diameter kepala dari sproket penggerak step
Sp
3
= Sp
3
= Sp
3
= Sp
3

Sehingga berat total sproket sebesar :
Wsp total = Wsp
2
+ Wsp
Untuk kesalahan perhitungan serta gesekan gesekan yang menimbulkan kerugian
maka :

W = (Wtotal x 5 % )+ W total

2.4 Mekanisme Sistem Penggerak






Gambar 2.4 Gerak pada bidang miring dengan permukaan
Benda bergerak akibat adanya komponen gaya berat yang sejajar permukaan bidang
miring.
Berdasarkan hukum II Newton, percepatan gerak benda adalah :
F = m.a
w sin = m.a,
80 x 10 sin 30
o
= 80 . a

= 5 m/s
2

Komponen gaya yang bekerja pada sumbu y (vertikal) adalah :
F = m.a a = 0
F = 0
N w cos = 0
N m.g cos = 0

F = m.a a = 0
F = 0
N w cos = 0
N = w cos
N = m.g cos
N = 80.10 cos 30
o
N = 800 (1/2 ) = 400 N

a. Gaya dan Pemilihan Motor
Pada pemilihan rantai sudah kita ketahui ukuran dan kekuatannya, serta tipenya
adalah OCM HC.




Fr
F
30

0




Gambar 2.5 Gaya Rantai
Karena rantai penggerak step terbagi menjadi dua, sehingga gaya masing masing
rantai adalah :


2
W
F =

N
N
F 150
2
300
= =

Dimana :
F = Gaya masing-masing rantai (N)
W = Berat beban (N)
Fr = F sin 60
0

Untuk pemilihan motor :

P =
q
v W

P = watt
menit m
35 . 15882
85 . 0
/ 90 150
=


Dimana :
P = Daya motor (W)
W = gaya yang diterima (N)
v = kecepatan jalan (30m/menit)
q = efisiensi motor = 0.85
Dengan :
W = berat total x kerugian-kerugian (15 %) + berat total
Sebagai contoh Spesifikasi motor yang ada di pasaran adalah :
Didapat motor BONFIGLIOLI RIDUTTORI (Italy):
Dipilih :
q
motor
= 900 rpm
tipe : AS 35/p dan AS 35/F
Dimana :
AS = riduttore/gearbox
35 = diameter poros reducer
p = foot mounting (pengikat kaki)
F = flange mounting (pengikat flens)
Daya motor = 5.1 HP = 3.8 kW
Ratio Reducer (i) = 12.62
Momen output (M) = 480 Nm
Putaran output (nr) = 71 rpm

b. Pengereman
Fungsi utama rem adalah menghentikan poros, mengatur putaran poros dan juga
mencegah putaran yang tidak dikehendaki. Efek pengeremen secara mekanis diperoleh
dengan gesekan dan secara listrik dengan serbuk magnet, arus pusar, fasa yang dibalik, arus
searah yang dibalik atau penukaran kutub.
Rem gesekan dapat diklasifikasikan :
1. Rem blok (tunggal atau ganda )
2. Rem drum
3. Rem cakram
4. Rem pita
Pada perhitungan ini yang akan digunakan adalah rem blok ganda. Pada escalator ini
akan dipasang dua unit rem blok ganda, satu unit dibaian atas dan 1 unit dibagian bawah,
sehingga pengereman dapat berjalan dengan baik.
Rem
Gambar 2.6 Letak Rem
Torsi pengereman :
T =
n
P
5
10 74 . 9

T = Nm 35 . 882 , 093 , 3
5000
10 74 . 9 35 . 15882
5
=



Dimana :
T = Torsi (Nm)
P = Daya yang hendak di rem (Watt)
N = Putaran poros (rpm)
Atau
T = x Q x D
T = 0.5 x 200N x 0.2
T = 20 Nm
Dimana :
T = Torsi (Nm)
= Koefisien gesek
Q = Reaksi rem (N)
D = Diameter pengereman (m)
Sehingga didapat reaksi rem Q :

Q =
. D
T




Gambar 2.7 blok Rem
Maka :
H = D sin (o/2)
A = sudut kontak biasanya antara 50
0
s/d 70
0
, diambil o = 60
0

Tekanan kontak p (N/mm
2
) dari permukaan rem blok rem adalah :

p =
h b
Q



Dalam reaksi rem Q (N), diperlukan pula ukuran ukuran pendukung lainnya
termasuk gaya berat F (pemberat).
Dimana :

b
h
Q
Q = F x
'
'
' '
'
e
e e
c
c
a
a a +

+


Sedangkan mekanismenya adalah sebagai berikut :
Tuas A ditumpu oleh piston b dari silinder otomatis. Jika udara tekan di B dibuang ke
atmosfir , A akan jatuh karena pemberat F. Dengan demikian B akan tertarik ke bawah dan
memutar tuas C ( disebut engkol bel). Gerakan ini akan menarik D dan E ke kanan, dan
mendorong E kekiri.
Disini dianggap gaya Q yang dikenakan dari drum pada E adalah sama dengan gaya
Q pada E.

c. Teori Perhitungan Sproket dan Poros
Diameter rol
Jarak untai
Lebar
Jarak puncak, p
Gambar 2.8. Rantai ganda
1. Momen puntir rencana (reducer ) :
Tr = 9.74 x 10
5
x
R
d
n
P

Dimana :
Tr = Momen puntir rencana (Nm)
P
d
= Daya rencana (W)
n
R
= Putaran reducer (rpm)
2. Bahan poros dipilih SNCM 25 o
b
= 120 (N/mm
2
)
Pemilihan bantalan, tabel baja poros
Sf1 = (faktor keamanan untuk bahan S-c dan baja paduan )
Sf2 = (faktor kekasaran permukaan, harga antara 1.3 3.0)
3. Tegangan ijin o
a
:
o
a
=
2 1 f f
b
S S
o

- Faktor tumbukan Kt, diasumsikan terjadi kejutan atau tumbukan besar, maka Kt
diambil antara1,5 3.0)
- Faktor pembebanan lentur Cb antara 1.2 2.3, diambil 1.5.

4. Poros reducer (dc) :
Dc =
3 / 1
1
1 , 5
|
.
|

\
|
T C K
a
b L

5. Poros sprocket :
Ds =
3 / 1
1
1 , 5
|
.
|

\
|
T C K
a
b L

6. Diameter sprocket :
- Diameter lingkaran jarak bagi :

D =
) / 180 sin( z
p

- Diameter lingkaran kepala :

Dk = (0.6 + cos(180/z)-1) . p

- Diameter lingkaran kaki :

Df = p . ( cos(180/z)-1) 0.76

Dimana : p = pitch (jarak pusat rol rantai )

d. Teori Perhitungan Poros

Pada perhitungan disini akan dijelaskan perhitungan poros yang meliputi :
1. Poros reducer
2. Poros penggerak atas
3. poros penggerak bawah




Poros Reducer
Pada perhitungan sebelumnya didapat besarnya poros reducer sementara adalah 38
mm. pada perhitungan ini ditinjau berdasarkan pengaruh momen torsi dan momen
bendingnya sehingga didapat hasil yang dijamin kekuatannya.

F
100
A
C
T
B
1
0
6

Gambar 2.9. Poros reducer
Tegangan geser ijin SNCM 25 o
b
= 120 N/mm
2

2 1
120
sf sf
fs

= N/mm
2


Dimana :
sf
1
= faktor pengaruh massa dan baja paduan dipilih 6.0
sf
2
= factor penggaruh kekasaran permukaan, harga antara 1.2 s/d1.5.

a. Torsi :

n
P
T

=
t 2
4500

Nm T 50 5610440137
5000 14 . 3 2
4500 35 . 15882
=


=
b. Gaya tangensial dari roda gigi :
D
T
F

=
2


2 . 0
50 5610440137 2
= F = 280522006875 N

c. Momen bending dari pusat roda gigi :

|
.
|

\
|
=
2
D
F M
5 . 87 2805522006
2
2 . 0
75 2805220068 = |
.
|

\
|
= M
d. Twisting momen :


2 2
M T T
e
+ =
atau :
T
e
=
3
16
d f
s

t


e. Tegangan geser :
fs =
sf
b
o


e. Teori perhitungan Poros Penggerak Bagian Atas
F3 FC FD
B T C D
A E
100 417 80 100
Gambar 2.10. Poros Penggerak bagian atas
a. Tegangan tarik ijin :
f
t
=
b t
b
C K
o


K
t
= factor kejutan/tumbukan yang besar antara 1,5 s/d 3,0
C
b
= factor akibat beban lentur, antara 1,2 s/d 2,3

b. Berat roda gigi masing masing

W
B
= W
C

K
m
= factor bending akibat kejutan dan fatique dengan kejutan sedang, antara
1.5 s/d 2.0 diambil 2
K
t
= factor torsi akibat kejutan dan fatique dengan kejutan sedang antara 1.5 s/d
2.0, diambil 2.

c. Torsi :
T
B
=
b
n
P

t 2
4500

-
Gaya tangensial F
B


2
B
B
B
D
T
F =

Beban total pada titik B :
W
B
+ F
B

Torsi T
C
= T
B

- Gaya tangnsial Fc
2
C
C
C
D
T
F =
Beban total pada titik C adalah :
Wc + Fc
Torsi :
T
D
=
b
n
P

t 2
4500

- Gaya tangensial F
D

2
D
D
D
D
T
F =

Beban total pada titik C adalah :
Wc + Fc

f. Teori Perhitungan Bearing
a. Perhitungan berat roda gigi :
W = ( )
(


|
.
|

\
|
BJ t D
sp
2
1
4
2
t

b. Berat total terhadap poros adalah :
F + W
B
A C
RA RC
Gambar 2.11 Poros pada bearing

1. Pertama adalah mencari perbandingan antara panjang dan diameter lubang
6 , 1 =
d
I

I = 1.6 x D
2. Kemudian kita dapat mengetahui tekanan bearing
P =
d I
R
A


Sedangkan maksimum tekanan bearing 7 s.d 1 N/cm
2

p < p
ijin
3. Kekentalam mutlak dari lapisan oil
Z = 25 centipoise
Modulus bearing pada titik maksimum dari gesekan :
p
n Z
K

= 3
|
|
.
|

\
|
=
p
n z
K
3
1



4. koefisien gesek
= k
c
d
p
n Z
+
|
.
|

\
|
|
|
.
|

\
|
10
10
33

Dimana K = factor koreksi = 0,002
5. Panas yang timbul
J
WV
H
g

=

100
n d
V

=
t
(m/min)
J = energi panas = 427 N.m/kcal
85 . 15
100
5000 1 . 0 14 . 3
=

= V
57 . 5
427
85 . 15 . 300 . 5 . 0
= =
g
H

g. Pulley
Cakra pulley dikonstruksikan ada yang bersatu dengan porosnya (fixed) dan ada yang
bebas (moveble) dan ada pula yang dikompensasikan. Diameter dari cakra pulley tidak
kurang dari 10 diameter tali, jadi :
D > 10d
Dimana : D = diameter pulley (mm)
d = diameter tali(mm)
Roda puli tali yang berukuran kecil biasanya dicor menjadi satu bagian tanpa tulang penguat,
sedangkan untuk roda puli besar diberi tulang penguat dan lubang atau dengan jari-jari silang.





Tabel 2.2. Dimensi roda puli
Diameter
Tali (d)
a b C e h L R r
1
r
2
r
3
r
4

4.8 22 15 5 0.5 12.5 8 4 2.5 2 8 6
6.2 22 15 5 0.5 12.5 8 4 2.5 2 8 6
8.7 28 20 6 1 15 8 5 3 2.5 9 6
11 40 30 7 1 25 10 8.5 4 3 12 8
13 40 30 7 1 25 10 8.5 4 3 12 8
15 40 30 7 1 25 10 8.5 4 3 12 8
19.5 55 40 10 1.5 30 15 12 5 5 17 10
24 65 50 10 1.5 37 18 14 5 5 20 15
28 80 60 12 2 45 20 17 6 7 25 15
34.5 90 70 15 2 55 22 20 7 8 28 20
39 110 85 18 2.9 65 22 25 9 10 40 30


h. Motor AC
Motor AC adalah motor yang menggunakan arus listrik yang membalikkan arahnya
secara teratur pada rentang waktu tertentu. Motor listrik AC memiliki dua buah bagian dasar
listrik : stator dan rotor .
Stator merupakan komponen listrik statis. Rotor merupakan komponen listrik berputar
untuk memutar as motor. Dalam pemilihan motor diperlukan adanya perhitungan kebutuhan
daya motor. Untuk menghitung besarnya kebutuhan daya motor sebagai penggerak utama
dalam proses pemindahan barang adalah sebagai berikut :
P = 2. . n. T
Dimana : P = Daya Motor (kw)
n = Putaran (rpm)
T = Torsi (Nm)

a. Daya Motor (P)
Dari perhitungan diatas, sehingga dapat dihitung kebutuhan daya motor sebagai berikut :
P = 2..n.T
Dimana : P = Daya Motor (kw)
n = Putaran (rpm)
T = Torsi (Nm)
Daya yang dibutuhkan untuk motor pada eskalator adalah :
P = 2..n.T
= 2 x x 900 x Nm 50 5610440137
= 3.17 x 10
15
Watt
= 3.17 x 10
13
KW

i. Poros
Poros merupakan salah satu bagian yang terpenting dari setiap mesin. Hampir semua
mesin meneruskan tenaga bersama-sama dengan putaran sekaligus sebagai penopang dari
benda yang berputar. Peranan utama dalam transmisi seperti itu dipegang oleh poros.
Poros untuk mesin, biasanya dibuat dari baja batang yang ditarik dingin dan difinis,
baja karbon konstruksi mesin (disebut bahan S-C) yang dihasilkan dari ingot yang di kill
(baja yang dideoksidasikan dengan ferrosilicon dan di cor; kadar karbon terjamin). Meskipun
demikian, bahan ini kelurusannya agak kurang tetap dan dapat mengalami deformasi karena
tegangan yang kurang seimbang misalnya diberi alur pasak. Tetapi penarikan dingin
membuat permukaan poros menjadi keras dan kekuatannya bertambah besar. Harga-harga
yang terdapat di dalam tabel 1.1 diperoleh dari batang percobaan dengan diameter 25 mm,
dalam hal ini harus di ingat. Bahwa untuk poros yang diameternya jauh lebih besar dari 25
mm, harga-harga tersebut akan lebih rendah daripada yang terdapat pada label karena adanya
pengaruh massa.
Tabel 2.2. Baja karbon untuk konstruksi mesin dan baja batang yang difinis dingin
untuk poros
Standar dan
Macam
Lambang
Perlakuan
Panas
Kekuatan Tarik
(kg/mm
2
)
Keterangan
Baja karbon
konstruksi mesin
(JIS G 4501)
S30C Penormalan 48
S35C Penormalan 52
S40C Penormalan 55
S45C Penormalan 58
S50C Penormalan 62
S55C Penormalan 66
Batang Baja
yang difinis
dingin
S35C-D - 53 Ditarik dingin,
di gerinda
dibubut, atau
gabungan dari
hal-hal
tersebut
S45C-D - 60
S55C-D - 72

2.5 Varian
Ada beberapa varian cara yang dapat digunakan untuk menggerus obat diantaranya :
1. Pemindahan trolley barang dengan cara dikaitkan pada kedua ujung trolley
2. Pemindahan trolley barang dengan cara dengan membuat coakan pada permukaan
eskalator
Table varian alat penggerus obat sebagai berikut:
No
Prinsip
Solusi
Fungsi
1 2
A Arah Pergerakan
Dari bawah ke
atas
Dari atas ke
bawah
B Input Troli Manual Otomatis
C Media penggerak Motor AC Motor DC

Dari table diatas, kombinasi prinsip solusi yang didapat adalah :
Kombinasi Prinsip V1 = 1A, 1B, 1C
Kombinasi Prinsip V2 = 2A, 2B, 2C
Kombinasi Prinsip V3 = 1A, 2A, 2B
Kombinasi Prinsip V4 = 1A, 2B, 1C
Kombinasi Prinsip V5 = 2A, 1B, 1C
Kombinasi Prinsip V6 = 2A, 2B, 2C
Adapun varian yang di pilih :
Varian 2 = 2A, 2B, 2C
Varian 5 = 2A, 1B, 1C
Varian 6 = 2A, 2B, 2C
Dalam alat penggerus obat dipilih varian cara yakni penggerusan obat dengan cara
pengerollan. Cara pengerollan dengan arah rotasi serta input obat dengan otomatis ini
memiliki kelebihan dengan cara menumbuk, dikarenakan penggerusan obat dengan cara
pengerollan lebih efisien baik dari segi waktu maupun biaya produksi serta operasi.
Dengan faktor-faktor tersebut, maka alat pemindah barang portable pada kamar mesin
dengan penggerak motor, dipilih varian :
Varian 2 = 2A, 2B, 2C

2.6 Spesifikasi
Spesifikasi Alat Penggerus obat dengan metode rolling ball
D/W Daftar Persyaratan
D
1. Geometri
2. Kapasitas Maksimum 80 kg
3. Eskalator hanya digunakan untuk trolley belanja.
D
4. Kapasitas
Kapasitas angkut pada eskalator trolley barang adalah 80 kg
D
5. Energi
- Energi input sekecil mungkin
- Efisiensi penggunaan energi sebesar mungkin
W
6. Energi
- Diusahakan tidak ada energi terbuang
W
7. Ergonomi
- Aman
- Mudah dioprasikan
D
8. Perakitan
- Pemasangan alat mudah dan sederhana
D
9. Perawatan
- Pelumasan elemen yang berputar
- Penggantian komponen mudah
- Elemen berumur panjang
W
10. Biaya
- Biaya operasi dan produksi ekonomis

Keterangan :
D = Demand (daftar peryaratan yang harus dipenuhi)
W = Wishes (daftar peryaratan yang diharapkan dapat dipenuhi)