Anda di halaman 1dari 20

ISI

I.

SKENARIO Drg. A anak seorang pengusaha kaya di sebuah ibukota kabupaten, dia baru lulus 1 bulan yang lalu. Karena ortunya orang terpandang di daerah tersebut, maka dia tidak mentia-nyiakan kondisi tersebut. Dia membuka tempat praktek di suatu ruko, dengan papan nama yang besar dan dihiasi dengan lampu-lampu yang cantik. Karena anak orang kaya, dia dengan mudah menyuruh orang-orang kepercayaan orangtuanya untuk mencarikan pasien baru. Berapapun biayanya, ortunya tidak segan-segan untuk mengeluarkan dana guna kelancaran praktek putranya. Bahkan perusahaanperusahaan farmasi yang datang diminta untuk membantu kelancaran prakteknya.

II.

IDENTIFIKASI MASALAH 1. Apakah dengan sudah lulus 1 bulan sudah dapat membuka praktek? Tahapan apa yang perlu dilalui? Berapa lama? 2. Apa saja syarat untuk membuka praktek? 3. Apa hubungan status orang tua terhadap profesi dokter gigi itu sendiri? 4. Mengapa drg. A membuka tempat praktek di ruko? 5. Apakah boleh seorang dokter gigi menyuruh orang untuk mencarikan pasien? 6. Apa efek menggantungkan diri dengan orang tua yang terpandang? 7. Bagaimana membuat papan yang benar? 8. Apa hubungan perusahaan farmasi dengan kelancaran praktek? 9. Apakah boleh perusahaan farmasi membantu kelancaran praktek? 10. Apakah membuka tempat praktek sesuai keiinginan atau ditempatkan?

III.

HIPOTESIS

Drg. A

Lulus

Buka Praktek

Norma, Kode Etik, Hukum, dan Undang-undang

IV.

LEARNING ISSUES 1. Norma dan Kode Etik a) b) d) Definisi Beda Kode Etik, moral, dan tradisi Prinsip-prinsip Etika yang Harus dijunjung Dokter Gigi

c) Kode Etik Kedokteran Gigi (KODEGI)

2. Aspek Hukum yang Mempengaruhi a) b) V. UU Praktek Dokter Gigi Hak dan Kewajiban Dokter Gigi

LEARNING OUTCOMES 1. Norma dan Kode Etik a) Definisi Norma adalah ssuatu ukuran yang harus dipatuhi oleh sesorang dalam hubungannya dengan sesamanya ataupun dengan lingkungannya. Istilah norma berasal dari bahasa Latin, atau kaidah dalam bahasa Arab, sedangkan dalam bahasa Indonesia sering juga disebut dengan pedoman, patokan, atau aturan. Norma itu diartikan sebagai suatu ukuran atau patokan bagi seseorang dalam bertindak atau bertingkah laku dalam masyarakat, jadi inti suatu nora adalah aturan yang harus dpatuhi Norma adalah aturan yang berlaku di kehidupan bermasyarakat. Aturan yang bertujuan untuk mencapai kehidupan masyarakat yang aman, tertib dan sentosa. Namun masih ada segelintir orang yang masih melanggar norma-norma dalam masyarakat, itu dikarenakan beberapa faktor, diantaranya adalah faktor pendidikan, ekonomi dan lain-lain. Norma adalah sebuah aturan, patokan atau ukuran, taitu sesuatu yang bersifat pasti dan tidak berubah. Dengan adanya norma kita dapat memperbandingkan sesuatu hal lain yang hakikatnya, ukurannya, serta kualitasnya kita ragukan. Norma berguna untuk menilai baik-buruknya tindakan masyarakat sehari-hari

Norma adalah pedoman manusia dalam bertingkah (Darji, Darmodiharjo.2010. Pokok-pokok filsafat hukum: apa dan bagaimana filsafat hukum Indonesia. Jakarta: Gramedia) Norma merupakan bentuk nyata dari nilai-nilai social didalam masyarakat yang berbudaya, memiliki aturan-aturan dan kaidah-kaida, baik yang tertulis maupun tidak. Norma-norma ini mengatur kehidupan dalam bermasyarakat Pengertian etika, dalam bahasa latin "ethica", berarti falsafah moral. Ia merupakan pedoman cara bertingkah laku yang baik dari sudut pandang budaya, susila serta agama. Sedangkan menurut Keraf (1997: 10), etika secara harfiah berasal dari kata Yunani ethos (jamaknya: ta

etha), yang artinya sama persis dengan moralitas, yaitu adat kebiasaan
yang baik Istilah etika jika dilihat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1998) adalah nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat. Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa etika merupakan seperangkat aturan/ norma/ pedoman yang mengatur perilaku manusia, baik yang harus dilakukan maupun yang harus ditinggalkan yang dianut oleh sekelompok/ segolongan manusia/ masyarakat/ profesi. Pengertian kode etik adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan aturan tata susila, sikap, dan akhlak. Dapat tertulis, belum atau tidak tertulis dan dapat merupakan sebuah konvensi. Kode etik banyak dilatarbelakangi oleh budaya manusia yang bersifat dinamis. Dalam hal ini berarti sebagai kitap hukum,sedangkan etik berarti susunan moral yang terdiri atas nilai-nilai yang tersusun baik dalam suatu system yang bulat. Jadi kode etik pada hakikatnya adalah memuat aturan-aturan atau norma-norma yang dijadikan pedoman dalam melaksanakan tugas fungsi semua orang yang terlibat dalam suatu organisasi. Jadi nilai-nilai atau norma-norma itu terkandung didalam suatu system yang dijadiakan pedoman untuk bertingkah laku ataupun dalam menjalankan tugas yang berlaku bagi sekelompok orang yang terlibat dalam kelompok profesi. Dalam hal ini berarti sebagai kitap hukum,sedangkan etik berarti susunan moral yang terdiri atas nilai-nilai yang tersusun baik dalam suatu system yang bulat. Jadi kode etik pada hakikatnya adalah memuat aturan-aturan atau norma-norma yang dijadikan pedoman dalam melaksanakan tugas fungsi semua orang

yang terlibat dalam suatu organisasi. Jadi nilai-nilai atau norma-norma itu terkandung didalam suatu system yang dijadiakan pedoman untuk bertingkah laku ataupun dalam menjalankan tugas yang berlaku bagi sekelompok orang yang terlibat dalam kelompok profesi. Menurut Giddens (2003), tradisi adalah sebuah orientasi ke masa lalu bahwa masa lalu memiliki pengaruh besar, atau, secara lebih akurat, tradisi dibuat memiliki pengaruh yang besar pada masa sekarang. Namun jelas, dalam arti tertentu, tradisi adalah tentang masa depan, karena praktek-praktek yang telah mapan digunakan sebagai cara mengorganisasi waktu masa depan. Masa depan dibentuk tanpa perlu menganggapnya sehagai wilayah yang terpisah dengan masa lalu. Pengulangan, dalam sebuah hal yang perlu diteliti, merentang untuk membalikkan masa depan ke masa lalu, di samping mengambil masa lalu untuk merekonstruksi masa depan. Tradisi selalu berubah-ubah, tetapi ada sesuatu tentang gagasan tradisi yang memiliki daya tahan jika bersifat tradisional, sebuah kepercayaan atau pnaktik yang memiliki integritas dan keberlanjutan, yang menentang desakan perubahan. Maka, integritas dan otentisitas sebuah tradisi memiliki arti lebih penting di dalam mendefinisikan sebuah tradisi dibandingkan lamanya sebuah tradisi dapat bertahan.

b)

Beda Kode Etik, Moral, dan Tradisi Secara filsafah istilah etika dan moral tidak memiliki perbedaan

(Ladd,1978, Lih pada megan,1989). Perbedaannya hanya terletak pada dasar linguistiknya saja. Etika berasal dari bahasa Yunani yaitu ethikos yang berarti adat istiadat atau kebangsaan, sedangkan moralitas berasal dari bahasa latin yang juga berarti adat istiadat atau kebiasaan. Sumber lain menyatakan bahwa moral mempunyai arti tuntutan perilaku dan keharusan masyarakat, sedangkan etika yaitu prinsip-prinsip dibelakang keharusan tersebut. (Thompson dan Thompson,1981, Lin,Dhcony,cook,Stoper,1982) Dalam Oxford Advenced Learners of Current English, AS Hornby mengartikan etika sebagai sistem dari prinsip-prinsip moral atau aturanaturan perilaku, sedangkan moral berarti prinsip-prinsip yang berkaitan dengan perbuatan baik dan buruk.

Menurut Curtin, etika merupakan sesuatu disiplin yang diawali dengan mengindentifikasi, mengorganisasi, menganalisis dan memutuskan perilaku manusia dengan menerapkan prinsip-prinsip untuk mendeterminasi perilaku yang baik terhadap situasi yang dihadapi. (Mac.Phail,1988) Dari segi bahasa latin, mores yaitu jamak dari kata mos yang berarti adat kebiasaan. Di dalam kamus umum Bahasa Indonesia dikatakan bahwa moral adalah penentu baik buruknya terhadap perbuatan atau kelakuan. Dari segi istilah, moral merupakan suatu istilah yang digunakan untuk menentukan batas-batas dari sifat, kehendak, pendapat atau perbuatan yang secara layak dapat dikatakan benar, salah, baik, dan buruk. Adat istiadat adalah tolak ukur yang digunakan dalam moral untuk mengukur tingkah laku manusia. Moral digunakan untuk perbuatan yang sedang dinilai, sedangkan etika digunakan untuk sebagai sistem nilai yang ada. c) Kode Etik Kedokteran Gigi (KODEKGI) KODE ETIK KEDOKTERAN GIGI INDONESIA BAB 1 KEWAJIBAN UMUM Pasal 1 Dokter Gigi di Indonesia wajib menghayati, mentaati dan mengamalkan Sumpah / Ayat 1 Dalam mengamalkan Sumpah/Janji Dokter Gigi dan Etika Kedokteran Gigi Indonesia,Dokter Gigi wajib menghargai hak pasien dalam menentukan nasib dan menjaga rahasianya , mengutamakan kepentingan pasien, melindungi pasien dari kerugian, memperlakukan orang lain dengan adil, selalu jujur baik terhadap pasien, masyarakat, teman sejawat maupun profesi lainnya, profesi Dokter Gigi. Pasal 2 Dokter Gigi di Indonesia wajib menjunjung tinggi norma-norma kehidupan yang luhur sesuai dengan martabat luhur

Janji Dokter Gigi Indonesia dan Kode Etik Kedokteran Gigi Indonesia

dalam menjalankan profesinya. Ayat 1 Dalam mengamalkan Sumpah/Janji Dokter Gigi dan Etika Kedokteran Gigi Indonesia,Dokter Gigi wajib menghargai hak pasien dalam menentukan nasib dan menjaga rahasianya , mengutamakan kepentingan pasien, melindungi pasien dari kerugian, memperlakukan orang lain dengan adil, selalu jujur baik terhadap pasien, masyarakat, teman sejawat maupun profesi lainnya, profesi Dokter Gigi. Pasal 2 Dokter Gigi di Indonesia wajib menjunjung tinggi norma-norma kehidupan yang luhur dalam menjalankan profesinya. Ayat 1 Dokter Gigi di Indonesia wajib menghormati norma-norma yang hidup di dalam masyarakat. Ayat 2 Dokter profesi. Pasal 3 Dalam menjalankan profesinya Dokter Gigi di Indonesia tidak boleh dipengaruhi oleh pertimbangan untuk mencari keuntungan pribadi Ayat 1 Dokter Gigi di Indonesia dilarang melakukan promosi dalam bentuk apapun seperti memuji diri, mengiklankan alat dan bahan apapun, memberi iming- iming baik langsung maupun tidak langsung dan lain lain, dengan tujuan agar pasien datang berobat kepadanya. Ayat 2 Dokter Gigi di Indonesia dilarang menggunakan gelar atau sebutan profesional yang tidak diakui oleh Pemerintah Indonesia. Ayat 3 Dokter Gigi di Indonesia boleh mendaftarkan namanya direktori lain dalam kotak. dalam buku telepon atau Gigi di Indonesia wajib mentaati peraturan atau undang-undang oleh organisasi Republik Indonesia serta aturan-aturan yang dikeluarkan sesuai dengan martabat luhur

dengan ketentuan tidak ditulis dengan huruf tebal, warna lain atau

Ayat 4 Informasi profil Dokter Gigi yang dianggap perlu oleh masyarakat dikeluarkan oleh Pemerintah atau Persatuan Dokter Gigi Indonesia baik melalui media cetak maupun elektronik. Ayat 5 Dokter Gigi di Indonesia, apabila membuat blanko resep, kuitansi, amplop, surat keterangan, cap dan kartu berobat harus sesuai dengan yang tercantum dalam SIP. Seandainya tempat praktik berlainan dengan rumah dapat ditambahkan alamat dan nomor telepon rumah. Ayat 6 Dokter Gigi di Indonesia dalam melaksanakan upaya pelayanan kesehatan gigi swasta dapat melalui beberapa cara ; praktik perorangan dokter gigi praktik perorangan dokter gigi spesialis praktik berkelompok dokter gigi praktik berkelompok dokter gigi spesialis 6.1 Untuk praktik berkelompok harus diberi nama tertentu yang diambil dari nama orang yang berjasa dalam bidang kesehatan yang telah meninggal dunia atau nama lain sesuai fungsinya.

6.2

Dokter

Gigi

di

Indonesia

yang

melakukan

praktik

berkelompok

baik

masing-masing maupun sebagai kelompok mempunyai tanggung jawab untuk tidak melanggar Kode Etik Kedokteran Gigi Indonesia Ayat 7 Papan Nama Praktik 7.1 Papan nama praktik perorangan termasuk neonbox berukuran 40 X 60 cm, maksimal 60 X 90 cm. Tulisan memuat nama, dan atau sebutan professional yang sah sesuai dengan SIP , hari dan jam praktik, Nomor Surat Ijin Praktik, Alamat Praktik dan nomor telepon praktik (bila ada) 7.2 Dokter gigi yang praktik berkelompok papan nama praktiknya boleh melebihi 250 x 100 cm. Tulisannya ukurannya tidak memuat nama praktik dokter gigi/

spesialis berkelompok (misalnya Ibnu Sina) , hari dan jam praktik, alamat, nomor telepon, Surat Ijin Penyelenggaraan dan Jenis pelayanan 7.3 Selain tulisan tersebut di 7.1 dan 7.2 tidak dibenarkan menambahkan tulisan lain atau gambar, kecuali yang dibuat oleh PDGI. Dalam hal tertentu, dapat dipasang tanda panah untuk menunjukkan arah

tempat praktik, sebanyak-banyaknya dua papan nama praktik. 7.4 Papan nama dasar putih, tulisan hitam dan apabila diperlukan, papan nama tersebut boleh diberi penerangan yang tidak bersifat iklan 7.5 Papan nama praktek bila dianggap perlu bisa disertai bahasa Inggris. Contoh papan praktik berkelompok Sesuai buku pedoman praktik berkelompok dokter spesialis Dirjen Bina YANMED Depkes RI Jakarta 2006 :

PRAKTIK BERKELOMPOK DOKTER GIGI SPESIALIS IBNU SINA Izin No : ......... Alamat : Jl. Jakarta No. 15 Bandung

Spesialis Bedah Mulut Amin , drg., Sp. BM SIP. ........... Senin Jumat

Spesialis Ortodonti Adam drg., Sp. Ort SIP............ Senin dan Rabu Jam 17.00 20.00

Spesialis Prostodonti Budi., drg.,Sp. Pros SIP............. Senin s/d Kamis Jam 17.00 20.00

Jam 09.00 Dokter Gigi 14.00 Amir, drg

Senin s/d Jumat Jam 10.00 s/d 16.00

Pasal 4 Dokter Gigi di Indonesia harus memberi kesan dan keterangan atau pendapat yang dapat dipertanggungjawabkan. Ayat 1

Dokter Gigi di Indonesia atau garansi

tidak dibenarkan

memberi jaminan

dan/

tentang hasil perawatan Ayat 2

Dokter gigi di Indonesia tidak dibenarkan membuat surat/pernyataan yang tidak sesuai dengan fakta/ kenyataan. Pasal 5 Dokter Gigi di Indonesia tidak diperkenankan menjaring pasien secara pribadi , Pasal 6 Dokter Gigi di Indonesia wajib Pasal 7 Dokter Gigi di Indonesia berkewajiban untuk mencegah terjadinya infeksi silang yang membahayakan pasien, staf dan masyarakat. Pasal 8 Dokter Gigi di Indonesia wajib menjalin kerja sama yang baik dengan tenaga kesehatan lainnya. Pasal 9 Dokter Gigi di Indonesia dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, wajib bertindak sebagai motivator, pendidik dan pemberi pelayanan kesehatan (promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif). BAB II KEWAJIBAN DOKTER GIGI TERHADAP PASIEN Pasal 10 Dokter Gigi di Indonesia wajib menghormati perawatan dan rahasianya. Ayat 1 Dokter Gigi di Indonesia wajib menyampaikan informasi perawatan dan pengobatan persetujuan pasien dalam mengambil keputusan. Ayat 2 Dokter Gigi di Indonesia wajib menghormati hak pasien bila menolak perawatan mengenai rencana beserta alternatif yang sesuai dan memperoleh hak pasien untuk menentukan pilihan menjaga kehormatan, kesusilaan, integritas dan martabat profesi dokter gigi melalui pasien atau agen.

dan pengobatan yang diusulkan dan dapat mempersilahkan pasien untuk mencari pendapat dari profesional lain ( second opinion). Ayat 3 Dokter Gigi di Indonesia wajib merahasiakan segala sesuatu dibuka berdasarkan ketentuan peraturan undang-undang, Pasal 11 Dokter Gigi di Indonesia wajib melindungi pasien dari kerugian. Ayat 1 Dalam memberikan pelayanan dokter gigi di Indonesia wajib bertindak efisien, efektif dan berkualitas sesuai dengan kebutuhan dan persetujuan pasien. Ayat 2 Dalam hal ketidakmampuan melakukan pemeriksaan atau pengobatan, dokter gigi wajib merujuk pasien kepada dokter gigi atau profesional lainnya dengan kompetensi yang sesuai. Ayat 3 Dokter Gigi di Indonesia yang menerima pasien rujukan wajib mengembalikan kepada pengirim disertai informasi tindakan yang telah dilakukan berikut pendapat dan saran secara tertulis dalam amplop tertutup. Ayat 4 Dokter Gigi di Indonesia wajib memberikan ijin kepada pasien yang ingin melanjutkan perawatannya ke dokter gigi lain dengan menyertakan surat rujukan berisikan rencana perawatan, perawatan atau pengobatan yang telah dilakukan, dilengkapi dengan data lainnya sesuai kebutuhan. Pasal 12 Dokter Gigi di Indonesia wajib mengutamakan kepentingan pasien. Ayat 1 Dokter Gigi di Indonesia dalam melayani pasien harus selalu mengedepankan ibadah dan tidak semata mata mencari materi. Ayat 2 Dokter Gigi di Indonesia wajib memberikan pertolongan darurat dalam batas- batas kemampuannya sebagai suatu tugas kemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada orang lain yang lebih mampu melakukannya. Ayat 3 Dokter Gigi di Indonesia wajib mendahulukan pasien yang datang dalam keadaaan darurat. yang diminta diketahuinya oleh Sidang tentang pasien, bahkan setelah pasien meninggal dunia. Rahasia pasien hanya dapat Pengadilan, dan untuk kepentingan pasien atau masyarakat.

10

Ayat 4 Dokter Gigi di Indonesia wajib memberitahukan pasien cara memperoleh pertolongan bila terjadi situasi darurat. Pasal 13 Dokter gigi di Indonesia wajib memperlakukan pasien secara adil. Ayat 1 Dokter Gigi di Indonesia tidak boleh menolak pasien yang datang ke tempat praktiknya berdasarkan pertimbangan status sosial-ekonomi, ras, agama, warna kulit, jenis kelamin, kebangsaan , penyakit dan kelainan tertentu. Ayat 2 Dokter Gigi di Indonesia tidak dibenarkan Pasal 14 Dokter Gigi di Indonesia wajib menyimpan, menjaga dan merahasiakan Rekam Medik Pasien. BAB III KEWAJIBAN DOKTER GIGI TERHADAP TEMAN SEJAWAT Pasal 15 Dokter Gigi di Indonesia harus sendiri ingin diperlakukan. Ayat 1 Dokter Gigi di Indonesia wajib memelihara hubungan baik dengan teman sejawat, baik atau dalam kehidupan pribadi maupun dalam menjalankan profesi. Pengalaman pengetahuan yang diperoleh hendaknya Ayat 2 Sopan santun dan saling menghargai sesama teman sejawat harus selalu diutamakan.Pembicaraan mengenai teman sejawat yang menyangkut pribadi atau dalam memberi perawatan harus disikapi Ayat 3 Dalam menghormati azas hidup berdampingan dan kerjasama antar sejawat, jasa perawatan tidak selayaknya dibebankan pada teman sejawat maupun keluarganya. secara benar, informatif dan dapat dipertanggung jawabkan tanpa menyalahkan pihak lain. diinformasikan kepada teman memperlakukan teman sejawatnya sebagaimana ia menuntut imbalan jasa atas kecelakaan/kelalaian perawatan yang dilakukannya. bagaimana

sejawat yang lain.

11

Perawatan dikeluarkan.

yang

membutuhkan

biaya

bahan

dan

pekerjaan laboratorium

hendaknya dipungut tidak lebih dari biaya bahan dan pekerjaan laboratorium yang Ayat 4 Dalam melaksanakan kerjasama, segala bentuk perbedaan pendapat mengenai cara perawatan, pembagian honorarium hendaknya tidak perlu terjadi terjadi, hendaknya dapat diselesaikan secara dan apabila apabila musyawarah,

musyawarah tidak tercapai, maka dapat meminta pertolongan kepada Organisasi Profesi tanpa melibatkan pihak lain. Ayat 5 Apabila akan membuka praktik disuatu tempat sebaiknya memberitahukan terlebih dahulu kepada teman sejawat yang praktiknya berdekatan. Ayat 6 Dalam menulis surat rujukan seyogianya memperhatikan tata krama dengan isi meliputi : Teman sejawat yang dituju, identitas pasien, kondisi / masalah pasien dan bantuan yang diharapkan serta ucapan terima kasih. Ayat 7 Apabila merujuk atau menerima rujukan pasien, meminta atau memberi imbalan (komisi). Pasal 16 Dokter Gigi di Indonesia apabila mengetahui pasien sedang dirawat dokter gigi lain tidak dibenarkan mengambil alih pasien tersebut tanpa persetujuan dokter gigi lain tersebut kecuali pasien menyatakan pilihan lain. Pasal 17 Dokter Gigi di Indonesia, dapat menolong pasien yang dalam keadaan darurat dan sedang dirawat oleh dokter gigi lain, selanjutnya pasien harus dikembalikan kepada Dokter Gigi semula, kecuali kalau pasien menyatakan pilihan lain. Pasal 18 Dokter Gigi di Indonesia apabila berhalangan melaksanakan praktik, harus membuat pemberitahuan atau menunjuk pengganti sesuai dengan aturan yang berlaku. Pasal 19 Dokter Gigi di Indonesia seyogianya memberi nasihat kepada teman sejawat yang diketahui berpraktik di bawah pengaruh alkohol atau obat terlarang . Apabila diangga perlu dapat melaporkanny kepada Organisasi Profesi. para pihak tidak dibenarkan

12

BAB IV KEWAJIBAN DOKTER GIGI TERHADAP DIRI SENDIRI Pasal 20 Dokter Gigi di martabat dirinya. Ayat 1 Dokter Gigi di Indonesia harus meyadari bahwa kehidupan pribadinya terikat pada status profesi. Ayat 2 Dokter Gigi di Indonesia harus memelihara Ayat 3 Dokter Gigi di Indonesia harus menghindari perilaku yang tidak profesional. Ayat 4 Dokter Gigi di Indonesia harus menghindari penggunaan sertifikat, tanda penghargaan dan tanda keanggotaan yang tidak sesuai dengan kompetensi yang diakui oleh pemerintah. Pasal 21 Dokter Gigi di Indonesia wajib menjaga kesehatannya supaya dapat bekerja dengan optimal.Dokter Gigi di Indonesia tidak boleh menyelenggarakan kegiatan pendidikan dan pelatihan kedokteran gigi tanpa izin dari Organisasi Profesi. Pasal 22 Dokter Gigi di Indonesia wajib mengikuti secara aktif perkembangan etika, ilmu pengetahuan dan teknologi khususnya di bidang kedokteran gigi, baik secara mandiri maupun yang diselenggarakan oleh Organisasi Profesi. kehormatan, kesusilaan, integritas dan martabat profesi. Indonesia wajib mempertahankan dan meningkatkan

BAB V PENUTUP Etik Kedokteran Gigi Indonesia wajib dihayati dan diamalkan oleh setiap Dokter Gigi di Indonesia. Pengingkaran terhadapnya akan menyebabkan kerugian baik bagi masyarakat maupun bagi dokter gigi sendiri. Akibat yang paling tidak dikehendaki adalah rusaknya martabat dan tradisi luhur profesi kedokteran dokter gigi yang melanggar gigi yang harus dijaga bersama. Oleh karena itu semua dokter gigi di Indonesia bersepakat, bagi Kodekgi wajib ditindak dan diberi hukuman sesuai

13

dengan tingkat kesalahannya.

d)

Prinsip-prinsip Etika yang Harus dijunjung Dokter Gigi 1) Pinciple of Respect of The Autonomy Asas menghormati pasien. Pasien mempunyai kebebasan untuk mengetahui serta memutuskan apa yang akan dilakukan terhadapnya, sehingga perlu di berikan informasi yang cukup. Pasien berhak untuk dihormati pendapat dan keputusannya dan tidak boleh di paksa. Untuk ini perlu adanya Informed consent. 2) Principle of Veracity Dokter hendaknya mengatakan secara jujur apa yang sebenarnya terjadi, apa yang akan dilakukan serta resiko yang dapat terjadi. Informasi yang diberikan hendaknya disesuaikan dengan tingkat pendidikan pasien. Dokter harus jujur kepada pasien maupun diri sendiri. 3) Principle of non Maleficence Dokter berpedoman primum non nocere ( first of all do no harm), dokter tidak melakukan tindakan yang tidak perlu dan mengutamakan tindakan yang tidak merugikan pasien, serta mengupayakan supaya resiko fisik, resiko psikologik dan resiko sosial akibat tindakan tersebut seminimal mungkin. 4) Principle of Beneficence Semua tindakan dokter yang dilakukan harus bermanfaat bagi pasien untuk membuat mengurangi pasien. rencana penderitaan Untuk ini atau dokter memperpangjang diwajibkan hidup

perawatan/tindakan

berlandaskan pengetahuan yang sahih dan dapat berlaku umum, kesejahteraan pasien perlu mendapat perhatian utama. 5) Principle of Confidentialy Asas kerahasiaaan dimana seorang dokter harus menghormati kerahasiaan pasien sekalipun pasien telah meninggal.

14

6) Principle of Justice Tenaga kesehatan harus berlaku adil dan tidak berat sebelah waktu merawat pasien Aspek Hukum yang mempengaruhi. 2. Aspek Hukum yang Mempengaruhi a) Undang-undang praktek kedokteran gigi

Dalam UU no. 29 tahun 2004 yang dimaksud dengan praktik kedokteran adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh dokter dan dokter gigi terhadap pasien dalam melakukan upaya kesehatan, sedangkan yang dimaksud dengan surat izin praktik adalah bukti tertulis yang diberikan pemerintah kepada dokter dan dokter gigi yang akan melaksanakan praktik kedokteran setelah memenuhi persyaratan. Undang-undang ini menjelaskan tentang azas dan tujuan praktik kedokteran. Praktik Kedokteran adalah rangkaian kegiatanyang dilakukan oleh dokter dan dokter gigi terhadap pasien dalam melaksanakan upaya kesehatan a. Dasar Hukum Para dokter umum dan spesialis serta tenaga medis lainnya yang ingin membuka praktik dilindungi oleh undang-undang. Undang-undang yang mengatur tentang izin praktik para dokter ini adalah UU RI No. 29 Tahun 2001 tentang Praktik Kedokteran. b. Syarat Permohonan Izin Praktik 1. Foto copy STR dokter dan STR dokter gigi yang diterbitkan dan dilegalisir asli oleh Konsil Kedokteran Indonesia yang masih berlaku 2. Surat pernyataan mempunyai tempat praktik atau surat keterangan dari saranan pelayanan kesehatan sebagai tempat praktiknya. 3. Surat rekomendasi dari organisasi profesi, sesuai tempat praktik 4. Memiliki SIP 5. Pas foto ukuran 4x6 cm (3 lembar) dan 3x4 cm (2 lembar) 6. Bagi WNA, telah melakukan evaluasi di Perguruan Tinggi di Indonesia berdasarkan permintaan tertulis Konsil Kedokteran Indonesia 7. Memiliki surat izin kerja dan izin tinggal sesuai ketentuan perundangundangan bagi WNA

15

8. Bagi WNA, harus memiliki kemampuan berbahasa Indonesia yang dibuktikan dengan lulus Bahasa Indonesia dari Pusat Bahasa Indonesia 9. Pimpinan sarana pelayanankesehatan wajib membuat daftar dokter dan dokter gigi yang melakukan praktik kedokteran di sarana pelayanan kesehatan yang bersangkutan 10. Daftar nama-naa tersebut harus dipasang di tempat terbuka dan mudah dilihat 11. Bagi dokter dan dokter gigiyang menyelenggarakkan praktik perorangan wajib memasang papan nama praktik kedokteran c. Prosedur Pengajuan izin praktik: 1. Untuk memperoleh SIP, dokter dan dokter gigi yang bersangkutan harus mengajukan Kabupaten/Kota permohonan tempat kepada kepala Dinas Kesehatan dengan praktik kedokteran dilaksanakan

melampirkan syarat-syarat tersebut di atas. 2. Dalam pengajuan permohonan SIP harus dinyatakan secara tegas permintaan SIP untuk tempat praktik pertama, kedua, atau ketiga. 3. Untuk memperoleh SIP kedua, ketiga pada jam kerja, dokter dan gokter gigi yang bekerja di sarana pelayanan kesehatan pemerintah dan sarana pelayanan kesehatan yang ditunjuk oleh pemerintah harus melampirkan surat izin dari pimipinan instalasi/sarana prlayanan kesehatau dimN dokter dan dokter gigi bekerja. 4. Dokter dan dokter gigi yang telah memenuhi persyaratan diberikan SIP untuk satu tempat praktik. 5. SIP dokter dan dokter gigi diberikan paling banyak untuk tiga tempat praktik, baik pada sarana pelayanan kesehatan milik pemerintah, swasta maupun perorangan. 6. SIP tiga tempat praktik berada dalam satu Kabupaten/Kota atau Kabupaten/Kota lain. 7. Dinas Kesehatan dalam memberikan SIP harus mempertimbangkan keseimbangan antara jumlah dokter atau dokter gigi, gigi dengan kebutuhan gigi dengan pasien. Persyaratan Surat Tanda Registrasi(STR) 1. Mengisi dan menanda tangani Form 1a dan Form 1b 2. Copy Ijazah yg dilegalisir asli oleh Dekan FK/FKG atau Wakil Dekan I FK/FKG

16

3. Copy Sertifikat kompetensi yg dikeluarkan oleh Kolegium terkait & dilegalisir asli oleh Kolegium terkait 4. 5. Pas foto terbaru & berwarna ukuran 4x6 cm sebnyk 4 lembar & Surat Keterangan sehat fisik dan mental yg dibuat o/ dokter yg Ukuran 2x3 cm sebnyk 2 lembar memiliki Surat Izin Praktik (SIP) dengan mencantumkan nomor SIP dokter yg memeriksa. 6. Surat pernyataan bahwa telah mengucapkan sumpah/janji dokter/dokter gigi atau fotokopi surat bukti sumpah/janji dokter/dokter gigi. 7. Bukti Asli pembayaran biaya Registrasi STR ditransfer ke KKI nomor rekening:93.20.5556 BNI Cabang Melawai Raya Kebayoran Baru Jakarta Selatan sebesar Rp.250.000,- (dua ratus lima puluh ribu rupiah) sesuai surat Keputusan KKI Nomor 2 tahun 2005 tentang Penetapan Besaran Biaya Registrasi dokter dan dokter gigi.

b)

Hak dan Kewajiban Dokter Gigi serta pasien

Hak dan Kewajiban Dokter atau Dokter Gigi UU no. 29 tahun 2004 Pasal 50 Dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran mempunyai hak : a. memperoleh perlindungan 17tand sepanjang melaksanakan tugas sesuai dengan 17tandard profesi dan 17tandard prosedur operasional; b. memberikan pelayanan medis menurut 17tandard profesi dan 17tandard prosedur operasional; c. memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari pasien atau keluarganya; dan d. menerima imbalan jasa. Pasal 51 Dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran mempunyai kewajiban : a. memberikan pelayanan medis sesuai dengan 17tandard profesi dan standard prosedur operasional serta kebutuhan medis pasien

17

b. merujuk pasien ke dokter atau dokter gigi lain yang mempunyai keahlian atau kemampuan yang lebih baik, apabila tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan; c. merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien, bahkan

juga setelah pasien itu meninggal dunia; d. melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada orang lain yang bertugas dan mampu melakukannya; dan e. menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan ilmu kedokteran atau kedokteran gigi. Hak dan Kewajiban Pasien Pasal 52 Pasien dalam menerima pelayanan pada praktik kedokteran mempunyai hak a. Mendapat penjelasan lengkap tentang tindakan medis sebagaimana dimaksud dalam pasal 45 ayat 3 b. Meminta pendapat dokter gigi lain c. Mendapat pelayanan sesuai kebutuhan medis d. Menolak tindakan medis e. Mendapat isi rekam medis

Pasal 45 ayat 3, mencakup: a. Diagnosis dan tata cara tindakan medis b. Tujuan tindakan medis yang akan dilakukan c. Alternatif tindakan lain dan resikonya d. Resiko dan kompilasi yang mungkin terjadi e. Pridnosis atau prospek terhadap tindakan yang akan dilakukan. Pasal 53 Pasien dalam menerima pelayanan pada praktik kedokteran mempunyai kewajiban : a. Memberikan informasi yang lengkap dan jujur tentang masalah kesehatannya b. Mematuhi nasihat dan petunjuk dokter atau dokter gigi c. Mematuhi ketentuan yang berlaku di sarana pelayanan kesehatan d. Memberikan imbalan jasa atas pelayanan yang diterima.

18

Daftar Pustaka Hanafiah, Jusuf M. Prof.dr., SpOG(K) dan Amir.Prof.dr. SpF(K)., SH .2009. Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan. Jakarta: EGC. Setianto, Yudi A., SH dkk. 2008 . Panduan Lengkap Mengurus Perijinan dan Dokumen . Jakarta: Forum Sahabat. Indrati, Maria. 2008 . Ilmu Perundang-undangan. Jakarta: Kanisius.

19

20