Anda di halaman 1dari 36

1.

Memahami dan menjelaskan anatomi makroskopis dan mikroskopis dari saluran pernafasan 1.1. Anatomi makroskopis saluran pernafasan bagian atas

Sistem pernafasan dibagi menjadi 2 bagian, yaitu saluran pernafasan bagian atas dan saluran pernafasan bagian bawah. Saluran pernafasan bagian atas terdiri dari Rongga hidung Nasopharynx Oropharynx Laryngopharynx. Sedangkan Saluran pernafasan bagian bawah terdiri dari Trakea dan Paru-paru (bronkus, bronkiolus, dan alveolus) Anatomi sistem pernafasan atas terdiri dari : 1. Hidung 2. Tenggorokan (Nasofaring, Orofaring, Laringofaring ) Skema anatomi pernafasan bagian atas dalam proses respirasi : 1. Pertama-tama pada waktu inspirasi, uadara masuk melalui kedua nares anterior verstibulum nasi cavum nasi yang dibatasi oleh septum nasi 2. Lalu udara keluar dari cavum nasi nares posterior (choanae) masuk ke nasofaring 3. Setelah itu masuk orofaring, ketika itu epiglotis membuka aditus laringis (pintu laring) dan dilanjutkan ke laring ( saluran nafas bawah )

o Anatomi hidung Terdiri dari tulang (os nasal), tulang rawan (cartilago) dan otot Nares anterior atau apertura nasales anterior (lubang hidung) Vestibulum nasi = tempat nares anterior, terdapat cilia yang kasar yang berfungsi sebagai saringan udara yang masuk waktu inspirasi (saringan udara) Cavum nasi = rongga hidung Septum nasi = sekat hidung. Yang berasal dari tulang dan cartlago yaitu : Cartilago septi nasi Os comer Lamina parpendicularis os ethmoidalis Nares posterior atau apertura nasales posterior Choanae = lubang keluar pada nares posterior dan dilanjutkan ke nasofaring Dinding superior rongga hidung sangat sempit yang dibentuk oleh lamina cribroformis ethmoidalis, yang memisahkan rongga tengkorak dengan rongga hidung dan dinding inferior rongga hidung dibentuk oleh os maxilla dan os palatinum Dalam cavum nasi terdapat conchae nasales ( tonjolan yang terbentuk dari tulang tipis dan ditutupi oleh mucosa yang dapat mengeluarkan lendir Dalam cavum nasi terdapat 3 conchae nasales yaitu : conchae nasales superior, media dan inferior 3 buah saluran keluaran cairan melalui yaitu : meatus nasales superior, media dan inferior

Pada sudut mata medial terdapat hubungan hidung dan mata melalui ductus nasolacrimalis tempat keluarnya air mata ke hidung melalui meatus inferior

Pada nasofaring terdapat hubungan antara hidung dengan rongga telinga melalui O.P.T.A ( Osteum Pharyngeum Tub Audtiva) yang dikenal dengan Eustachii

Pada tulang neurocranium dan splanchnocranium terdapat ronggarongga yang disebut sinus. Sinus-sinus yang berhubungan dengan cavum nasi dikenal dengan sinus-sinus paranasalis : sinus sphenoidalis- sinus frontales sinus maxillaris sinus ethmoidalis

Persarafan hidung terdiri dari saraf sensorik dan sekremotorik hidung Nervus opthalmicus(v1) = untuk bagian depan dan atas cavum nasi saraf sensorik Ganglion sfenopalatinum = untuk mukosa hidung Ganglion pterygopalatinum = untuk daerah nasofaring dan konka nasalis saraf sensorik Nervus olfactorius keluar dari cavum cranii melalui lamina cribosa ethmoidalis Untuk sel-sel reseptor penciuman terletak pada 1/3 atas depan mukosa hidung septum dan konka nasalis

Serabut-serabut N. Olfactorius hanya untuk fungsional penciuman Vaskularisasi hidung berasal dari cabang-cabang A. Opthalmica dan A.Maxillaris Interna yang mencabangkan : 1.) a. Ethmoidalis antrior dengan cabang-cabangnya a. Nasalis externa dan lateralis, a. Septalis anterior 2.) a. Ethmoidalis postrior dengan cabang-cabangnya a. Nasalis posterior lateralis dan septal, a. Palatinus majus 3.) a. Sphenopalatinum cabang a. Maxillaris interna

Ketiga pembuluh darah diatas pada mukosa hidung membentuk anyaman kapiler pembuluh darah yang dinamakan plexus kisselbach. Plexus ini mudah pecah oleh trauma/ infeksi sehingga sering menjadisumber epistaxis ( pendarahan hidung)

o Anatomi Nasofaring Terdapat pharyngeal tonsil dan Tuba Eustachius

o Anatomi Orofaring Merupakan pertemuan rongga mulut dengan faring,terdapat pangkal lidah o Anatomi Laringofaring Terjadi persilangan antara aliran udara dan aliran makanan

1.2.

Anatomi mikroskopis saluran pernafasan bagian atas

o Hidung Terdiri dari 2 rongga, kanan dan kiri yang dibatasi oleh sekat/septum mediana. Bagian yang lebar disebut vestibulum dan bagian yang kecil di bagian belakang disebut respirasi. Epitel vestibulum nasi : epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk, folikel rambut, kelenjar sebasea dan kelenjar keringat rambut. Epitel respirasi berupa epitel bertingkat torak, bersilia, bersel goblet. Ada 3 tonjolan di dalam hidung yaitu : 1. Konka Nasalis Superior. 2. Konka Nasalis Media. 3. Konka Nasalis Inferior terdapat pleksus pembuluh darah. Alat penghidu : Reseptor Mukosa Olfaktoria. Epitel bertingkat torak tanpa sel goblet

Ada 3 sel : sel penyokong. sel basal. sel olfaktorius.

Rongga hidung dihubungkan dengan rongga tengkorak melalui sinus paranasal yang terdiri : sinus maksilaris sinus frontalis sinus etmoidalis sinus sphenoidalis

Vestibulum: bagian paling anterior dan paling lebar dari rongga hidung. Di sekitar permukaan dalam nares terdapat banyak kelenjar sebasea dan kelenjar keringat. Di dalam vestibulum, epitelnya tidak berlapis tanduk lagi dan beralih menjadi epitel respirasi sebelum memasuki fosa nasalis. Fosa nasalis (Cavum Nasi): dari masing-masing dinding lateral terdapat concha. Concha media dan inferior ditutupi oleh epitel respirasi sedangkan concha superior ditutupi epitel olfaktorius khusus. Di dalam lamina propria concha terdapat plexus vena besar yang dikenal sebagai badan pengembang (swell bodies). Mukosa Olfaktorius Epitel respiratoris yang melapisi cavum nasi adalah epitel bertingkat silindris bersilia dan bersel goblet. Epitel olfaktoris dikhususkan sebagai reseptor penghidu yang epitelnya bertingkat silindris tinggi tanpa sel goblet. Epitel olfaktoris dijumpai pada atap setiap cavum nasi, pada masing-masing sisi septum dan pada concha nasal superior. Epitel Olfaktorius adalah epitel bertingkat silindris tinggi ,terdiri atas tiga jenis sel berbeda : Sel Penyokong :sel sustentakular (3) itu panjang dengan inti lonjongnya yang terletak lenih ke apikalatau superficial pada epitel.permukaan apeksnya yang lebar mengandung mikrivili halus yang menonjol ke dalam lapisan mucus permukaan (2); bagian basal sel-sel ini lebih langsing. Sel Olfaktoris : adalah neuron bipolar sensoris (4).inti bulat atau lonjongnya menempati daerah pada epitel yang terletak diantara inti sel

penyokong (3)dan sel basal (5). Apeks olfaktorius itu langsing selalu mengarah ke permukaan epitel. Memancar dari apeks ini adalah silia olfaktoris non-motil dan panjang yang terletakparalel tarhadap permukaan epitel dalam mucus diata epitel (2); silia ini berfungsi sebagai reseptor untuk bau.terjulur keluar dari basis selyang langsing terhadap akson yang masuk ke dalam jaringan ikat lamina propria di bawahnya (6),tempat mereka bergabung dalam berkas-berkas kecil nervus olfaktorius tanpa myelin,yaitu fila olfaktoria (14).saraf ini akhirnya keluar dari cavum nasidan berjalan ke dalam bulbus olfaktorius otak. Sel Basal (5) : sel kecil pendek terletak di basis epiteldan diantara basis sel-sel penyokong dan sel olfaktoris. o Faring Faring merupakan suatu tempat diantara rongga mulut dan esofagus. Bagian bawah faring berfungsi sebagai saluran udara dan makanan. Faring terbagi menjadi 3 yaitu : Nasofaring Orofaring Laringofaring Epitel yang membatasi nasofaring merupakan epitel bertingkat silindris bersilia atau epitel berlapis gepeng yang mengalami pergesekan yaitu tepi belakang pallatum molle dan dinding belakang faring tempat kedua permukaan tersebut mengalami kontak langsung sewaktu menelan. o Laring Laring merupakan saluran yang menghubungkan faring dengan trakea. Peranan dalam pembentukan suara.terdiri dari tulang rawan hialin dan tulang rawan elastin. Terdapat pita suara.epitel berlapis gepeng tanpa zat tanduk,bila berhadapan dengan organ lidah. Epitel respirasi bila berhadapan dengan faring. Didalam lamina propria juga terdapat tulang rawan laring.tulang rawan lebih besar (thyroid, krikoid, dan kebanyakan arytenoid) merupakan tulang rawan hialin. Tulang rawan lebih kecil (epiglotis, kuneiform, kornikulatum, ujung aritenoid) merupakan tulang rawan elastin.

2.

Memahami dan menjelaskan secara fisiologis mekanisme saluran pernafasan Sistem Respirasi Manusia Respirasi dibedakan menjadi 2, yaitu : A. Respirasi Eksternal Mencakup langkah-langkah yang terlinat dalam pertukaran O2 dan CO2 antara lingkungan eksternal dan jaringan. Ventilasi Difusi : pertukaran gas antara atmosfer dan alveolus di paru : pertukaran O2 dan CO2 antara udara di alveolus dan

darah dalam kapiler paru Perfusi : transportasi O2 dan CO2 antara paru dan jaringan oleh

sistem pembuluh darah Pertukaran O2 dan CO2 antara darah kapiler jaringan dengan sel jaringan melalui proses difusi B. Respirasi Internal Mengacu kepada reaksi-reaksi metabolik intrasel yang terjadi di dalam mitokondria, yang melibatkan pemakaian O2 untuk menarik energi (ATP) dari makanan dan menghasilkan CO2.

2.1.

Penghiduan Hidung juga bekerja sebagai indra penghidu dengan adanya mukosa

olfaktorius pada atap rongga hidung, konka superior dan sepertiga bagian atas septum. Partikel bau dapatmencapai daerah ini dengan cara difusi dengan selaput lendir atau bila menarik nafasdengan kuat 2.2. Tahanan jalan nafas Pada inspirasi, udara masuk melalui nares anterior, lalu naik ke atassetinggi konka media dan kemudian turun ke bawah ke arah

nasofaring,sehingga aliran udara ini berbentuk lengkungan atau arkus. Pada ekspirasi,udara masuk melalui koana dan kemudian mengikuti jalan yang samaseperti udara inspirasi. Akan tetapi di bagian depan aliran udara memecah,sebagian lain kembali ke belakang membentuk pusaran dan bergabungdengan aliran dari nasofaring. 2.3. Penyesuaian udara Fungsi hidung sebagai pengatur kondisi udara perlu untuk

mempersiapkanudara yang akan masuk ke dalam alveolus. Fungsi ini dilakukan dengan cara : a. Mengatur kelembaban udara. Fungsi ini dilakukan oleh palut lendir.Pada musim panas, udara hampir jenuh oleh uap air, penguapan darilapisan ini sedikit, sedangkan pada musim dingin akan terjadi sebaliknya. b. Mengatur suhu. Fungsi ini dimungkinkan karena banyaknyapembuluh darah di bawah epitel dan adanya permukaan konka danseptum yang luas, sehingga radiasi dapat berlangsung secara optimal.Dengan demikian suhu udara setelah melalui hidung kurang lebih37oC. 2.4. Fungsi mukosilia Fungsi ini berguna untuk membersihkan udara inspirasi dari debu danbakteri dan dilakukan oleh : a. b. c. Rambut (vibrissae) pada vestibulum nasib. Silia Selaput lendir (mucous blanket). Debu dan bakteri akan melekat pada selaput lendir dan partikel-partikel yang besar akan dikeluarkan dengan refleks bersin. Selaput lendir ini akan dialirkan ke nasofaring oleh gerakan silia. d. Enzim yang dapat menghancurkan beberapa jenis bakteri, disebut lysozime 2.5. Resonansi suara Penting untuk kualitas suara ketika berbicara dan menyanyi. Sumbatan hidung akan menyebabkan resonansi berkurang atau hilang, sehingga terdengar suara sengau.

2.6.

Proses bicara Membantu proses pembentukan kata dengan konsonan nasal (m,n,ng)

dimana rongga mulut tertutup dan rongga hidung terbuka, palatum molleturun untuk aliran udara. 2.7. Refleks nasal Mukosa hidung merupakan reseptor refleks yang berhubungan dengan saluran cerna, kardiovaskuler dan pernafasan. Contoh : iritasi mukosa hidung menyebabkan refleks bersin dan nafas terhenti. Rangsang bau tertentu menyebabkan sekresi kelenjar liur, lambung dan pankreas.

Mekanisme Pernafasan Agar terjadi pertukaran sejumlah gas untuk metabolisme tubuh diperlukan usaha keras pernafasan yang tergantung pada: 1. Tekanan intar-pleural Dinding dada merupakan suatu kompartemen tertutup melingkupi paru. Dalam keadaan normal paru seakan melekat pada dinding dada, hal ini disebabkan karena ada perbedaan tekanan atau selisih tekananatmosfir ( 760 mmHg) dan tekanan intra pleural volume (755 rongga mmHg). dada Sewaktu meningkat, Tekanan inspirasi diafrgama berkontraksi,

tekanan intarpleural dan intaralveolar turun

dibawah

atmosfirc sehingga udara masuk Sedangkan waktu ekspirasi volum rongga dada mengecil mengakibatkan tekanan intra pleural dan tekanan intra alveolar meningkat diatas atmosfir sehingga udara mengalir keluar. 2. Compliance Hubungan antara perubahan tekanan dengan perubahan volume dan aliran dikenal sebagai copliance. Ada dua bentuk compliance: a. Static compliance, perubahan volum paru persatuan perubahan tekanan saluran nafas ( airway pressure)sewaktu paru tidak bergerak. Pada orang dewasa muda normal : 100 ml/cm H2O b. Effective Compliance : (tidal volume/peak pressure)selama fase pernafasan. Normal: 50 ml/cm H2O Compliance dapat menurun karena:

Pulmonary stiffes : atelektasis, pneumonia, edemaparu, fibrosis paru Space occupying prosess: effuse pleura, pneumothorak Chestwall undistensibility: kifoskoliosis, obesitas, distensi abdomen 3. Airway resistance (tahanan saluran nafas)

Penurunan compliance akan mengakibatkan meningkatnya usaha/kerja nafas. Rasio dari perubahan tekanan jalan nafas

Atmosfer O2 CO2 ( ventilasi atau pertukaran gas antar atmosfer dan alveolus paru)

Alveolus paru O2 Jantung O2 CO2 Sirkulasi sitemik ( pertukaran O2 dan CO2 antara darah dan jaringan) CO2 (transportasi O2 dan CO2 antara paru dan jaringan) ( pertukaran O2 dan CO2 antara udara di alveolus dan darah) Sirkulasi paru

O2 + makanan CO2 + H2O + ATP Sel jaringan

Sebelum inspirasi dimulai otot-otot pernapasan melemas, tidak ada udara yang mengalir, dan tekanan intra alveolus setara dengan tekanan atmosfer. Pada awal inspirasi, otot-otot inspirasi-diafragma dan otot antariga eksternal terangsang untuk berkontraksi, sehingga terjadi pembesaran rongga toraks. Pada akhir inspirasi, otototot inspirasi melemas; sewaktu melemas diafragma kembali ke bentuknya seperti kubah. Dalam keadaan normal, ekspirasi adalah suatu proses pasif karena terjadi akibat penciutan elastic paru saat oyot-otot inspirasi melemas tanpa memerlukan kontraksi otot atau pengeluaran energy. Sebaliknya, inspirasi selalu aktif karena hanya ditimbulkan oleh kontraksi otot-otot inspirasi dan menggunakan energi. Untuk mengosongkan paru secara lebih sempurna dan lebih cepat daripada yang terjadi selama bernapas tenang, ekspirasi bisa menjadi aktif. Tekanan intra alveolus harus semakin ditingkatkan di atas tekanan atmosfer dibandingkan dengan yang ditimbulkan oleh relaksasi otot inspirasi dan penciutan paru. Untuk melakukan ekspirasi aktif atau paksa, otot ekspirasi harus berkontraksi untuk semakin mengurangi volume rongga toraks dan paru. Otot Otot-otot Inspirasi Diafragma Bergerak turun, meningkatkan dimensi Setiap inspirasi; otot primer Hasil Kontraksi Otot Waktu Stimulasi untuk Berkontraksi

vertikal rongga toraks

inspirasi

Otot-otot antariga eksternal

Mengangkat iga kea rah depan dan ke arah luar, memperbesar rongga toraks dalam dimensi depan ke belakang dan sisi ke sisi

Setiap inspirasi;berperan komplementer sekunder terhadap aksi primer diafragma

Otot-otot leher (skalenus, sternokleidomastoideus)

Mengangkat sternum dan dua iga pertama, memperbesar bagian atas rongga toraks

Hanya pada saat inspirasi paksa; otot inspirasi tambahan

Otot-otot Ekspirasi Otot-otot abdomen Meningkatkan tekanan intra abdomen, yang menimbulkan gaya ke atas pada diafragma untuk mengurangi dimensi vertikal rongga toraks Hanya pada saat ekspirasi aktif (paksa)

Otot-otot antariga internal

Mendatarkan toraks dengan menarik iga-iga ke bawah dan ke dalam, menurunkan ukuran depan-belakang dan samping rongga toraks

Hanya sewaktu ekspirasi aktif (paksa)

Mekanisme batuk Batuk merupakan upaya pertahanan paru terhadap berbagai rangsangan yang ada. Batuk adalah refleks normal yang melindungi tubuh kita. Pada dasarnya mekanisme batuk dapat dibagi menjadi tiga fase, yaitu fase inspirasi, fase kompresi dan fase ekspirasi. Batuk biasanya bermula dari inhalasi sejumlah udara, kemudian glotis akan menutup dan tekanan di dalam paru akan

meningkat yang akhirnya diikuti dengan pembukaan glotis secara tiba-tiba dan ekspirasi sejumlah udara dalam kecepatan tertentu. Fase inspirasi dimulai dengan inspirasi singkat dan cepat dari sejumlah besar udara, pada saat ini glotis secara reflex sudah terbuka. Setelah udara di inspirasi, maka mulailah fase kompresi dimana glotis akan tertutup selama 0,2 detik. Pada masa ini, tekanan di paru dan abdomen akan meningkat sampai 50 100 mmHg. Tertutupnya glotis merupakan ciri khas batuk, yang membedakannya dengan manuver ekspirasi paksa lain karena akan menghasilkan tenaga yang berbeda. Tekanan yang didapatkan bila glotis tertutup adalah 10 sampai 100% lebih besar daripada cara ekspirasi paksa yang lain. Di pihak lain, batuk juga dapat terjadi tanpa penutupan glotis. Kemudian, secara aktif glotis akan terbuka dan berlangsunglah fase ekspirasi. Udara akan keluar dan menggetarkan jaringan saluran napas serta udara yang ada sehingga menimbulkan suara batuk yang kita kenal. Arus udara ekspirasi yang maksimal akan tercapai dalam waktu 3050 detik setelah glotis terbuka, yang kemudian diikuti dengan arus yang menetap' Kecepatan udara yang dihasilkan dapat mencapai 16.000 sampai 24.000 cm per menit, dan pada fase ini dapat dijumpai pengurangan diameter trakea sampai 80%

3.

Memahami dan menjelaskan Rhinitis Alergi 3.1. Definisi Rinitis alergi secara klinis didefinisikan sebagai gangguan fungsi hidung yang terjadi setelah paparan alergen melalui inflamasi yang diperantarai IgE pada mukosa hidung.

3.2.

Etiologi Rinitis alergi melibatkan interaksi antara lingkungan dengan

predisposisi genetik dalam perkembangan penyakitnya. Faktor genetik dan herediter sangat berperan pada ekspresi rinitis alergi.

Penyebab rinitis alergi tersering adalah alergen inhalan pada dewasa dan ingestan pada anak-anak. Pada anak-anak sering disertai gejala alergi lain, seperti urtikaria dan gangguan pencernaan. Penyebab rinitis alergi dapat berbeda tergantung dari klasifikasi. Beberapa pasien sensitif terhadap beberapa alergen. Alergen yang menyebabkan rinitis alergi musiman biasanya berupa serbuk sari atau jamur. Rinitis alergi perenial (sepanjangtahun) diantaranya debu tungau, terdapat dua spesies utama tungau yaitu Dermatophagoides farinae dan Dermatophagoides pteronyssinus, jamur, binatang peliharaan seperti kecoa dan binatang pengerat. Faktor resiko untuk terpaparnya debu tungau biasanya karpet serta sprai tempat tidur, suhu yang tinggi, dan faktor kelembaban udara. Kelembaban yang tinggi merupakan faktor resiko untuk tumbuhnya jamur. Riwayat hobi berkebun/rekreasi ke pegunungan membantu identifikasi untuk terpaparnya serbuk sari. Berbagai pemicu yang bisa berperan dan memperberat adalah beberapa faktornonspesifik diantaranya asap rokok, polusi udara, bau aroma yang kuat atau merangsang, perubahan cuaca, dan kelembaban yang tinggi.

3.3.

Insidens dan Epidemiologi Rinitis alergi dan atopi secara umum disebabkan oleh interaksi dari

pasien yang secara genetik memiliki potensi alergi dengan lingkungan. Genetik secara jelas memiliki peran penting. Pada 20 30 % semua populasi dan pada 10 15 % anak semuanya atopi. Apabila kedua orang tua atopi, maka risiko atopi menjadi 4 kali lebih besar atau mencapai 50 %.Peran lingkungan dalam dalam rinitis alergi yaitu alergen, yang terdapat di seluruh lingkungan, terpapar dan merangsang respon imun yang secara genetik telah memiliki kecenderungan alergi. Adapun alergen yang biasa dijumpai berupa alergen inhalan yang masuk bersama udarapernapasan yaitu debu rumah, tungau, kotoran serangga, kutu binatang, jamur, serbuk sari,dan lain-lain.

3.4.

Patofisiologi Rinitis alergi merupakan suatu penyakit inflamasi yang diawali

dengan tahap sensitisasi dan diikuti dengan reaksi alergi. Reaksi alergi terdiri dari 2 fase yaitu : 1. Immediate Phase Allergic Reaction atau Reaksi Alergi Fase Cepat (RAFC) yang berlangsung sejak kontak dengan alergen sampai 1 jam setelahnya. Munculnya segera dalam 5-30 menit, setelah terpapar dengan alergen spesifik dan gejalanya terdiri dari bersin-bersin, rinore karena hambatan hidung dan atau bronkospasme. Hal ini berhubungan dengan pelepasan amin vasoaktif seperti histamin. 2. Late Phase Allergic Reaction atau Reaksi Alergi Fase Lambat (RAFL) yang berlangsung 2-4 jam dengan puncak 6-8 jam (fase hiperreaktifitas) setelah pemaparan dan dapat berlangsung sampai 2448 jam. Muncul dalam 2-8 jam setelah terpapar alergen tanpa pemaparan tambahan. Hal ini berhubungan dengan infiltrasi sel-sel peradangan, eosinofil, neutrofil, basofil, monosit dan CD4 + sel T pada tempat deposisi antigen yang menyebabkan pembengkakan, kongesti dan sekret kental Mekanisme Terjadinya Alergi : Kontak pertama dengan alergen atau sensitisasi dengan cara masuk : 1. Alergan inhalan : masuk bersama dengan udara pernafasan (debu, tungau, jamur, dan lain-lain) 2. Alergen ingestan dan lain-lain) : masuk ke saluran cerna (susu, telur, cokelat melalui suntikkan atau tusukan

3. Alergan injektan : masuk (penisilin dan sengatan lebah )

4. Alergen kontaktan : masuk melalui kontak kulit atau jaringan mukosa (kosmetik, perhiasan dan lain-lain)

Alergan inhalan, Alergen ingestan, alergan injektan, Alergen kontaktan

Makrofag dan monosit

Tangkap alergen yang menempel di mukosa hidung

PROSES

Antigen membentuk fragmen pendek peptida bergabung dengan HLA kelas 2

Peptida MHC kelas 2

Presentasi ke T helper

Sel penyaji atau APC

Lepas sitokin (IL 1 aktifin Tho jadi Th1 dan Th2)

Th2 menghasilkan sitokin (IL 3,IL 4,IL 5,IL 13)

IL 4 dan IL 13 diikat oleh reseptor di permukaan limfosit B

Sel B aktif

Produksi IGE

Sirkulasi di darah masuk jaringan Diikat reseptor IgE di basofil (aktif sehingga menghasilkan mediator tersensitisasi)

Terpapar kembali dengan alergen

Mastosit dan basofil pecah

Histamin dan newly formed mediators (prostaglandin D2 ,leukotrien C4, Bradikinin, platelet activating factor dan berbagai sitokin) Keluar

Vasodilatasi sinusoid TERSUMBAT

Kelenjar mukosa sel goblet hipereksresi dan permeabilitas kapiler : RINORE

Merangsang reseptor H1 di ujung saraf vidianus : GATAL PADA HIDUNG

Merangsang mukosa : ICAM 1

3.5.

Manifestasi Klinis Gejala rinitis alergi adalah :


1. Bersin berulang ( > 5 kali ) : Sebetulnya bersin merupakan gejala

yang normal, terutama pada pagi hari atau bila terdapat kontak dengan sejumlah besar debu. Hal ini merupakan mekanisme fisiologik, yaitu proses membersihkan sendiri (self cleaning process) 2. Beringus (Rinore) : cairan encer, banyak dan hidung tersumbat 3. Hidung dan mata gatal 4. Kadang-kadang disertai dengan banyak air mata keluar (lakrimasi)

Pada anak : 1. Hidung tersumbat 2. Bayangan mata gelap di bawah mata :dikarenakan stasis vena sekunder karna obstruksi hidung 3. Lingkar hitam dibawah mata (Alergic shiner) 4. Anak biasanya menggosok hidung keatas dikarenakan gatal dan lama kelamaan akan terdapat ALERGIC CREASE (lipatan hidung melintang garis hitam melintang pada tengah punggung hidung ) 5. Hidung pucat dan edema mukosa hidung yang dapat muncul kebiruan 6. Lubang hidung bengkak
7. Tanda pada telinga termasuk retraksi membran timpani atau otitis

media serosa sebagai hasil dari hambatan tuba eustachii


8. Tanda faringeal termasuk faringitis granuler akibat hiperplasia

submukosa jaringan limfoid 9. Bernafas melaui mulut yang lama yang terlihat sebagai hiperplasia adenoid

10. Tanda laringeal termasuk suara serak dan edema pita suara

Gejala lain yang tidak khas dapat berupa : Batuk, sakit kepala, masalah penciuman, mengi, penekanan pada sinus dan nyeri wajah, post nasal drip. Beberapa orang juga mengalami lemah dan lesu, mudah marah, kehilangan nafsu makan dan sulit tidur

3.6

Klasifikasi Rhinitis alergy Dahulu rinitis alergi dibedakan dalam 2 macam berdasarkan sifat berlangsungnya, yaitu : 1. Rinitis alergi musiman (seasonal, hay fever, polinosis) 2. Rinitis alergi sepanjang tahun (perenial)

Gejala keduanya hampir sama, hanya berbeda dalam sifat berlangsungnya. Saat ini digunakan klasifikasi rinitis alergi berdasarkan rekomendasi dari WHO Iniative ARIA (Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma) tahun 2000, yaitu berdasarkan sifat berlangsungnya dibagi menjadi : 1. Intermiten (kadang-kadang) : bila gejala kurang dari 4 hari/minggu atau kurang dari 4 minggu 2. Persisten/menetap bila gejala lebih dari 4 hari/minggu dan atau lebih dari 4 minggu Sedangkan untuk tingkat berat ringannya penyakit, rinitis alergi dibagi menjadi : 1. Ringan, bila tidak ditemukan gangguan tidur, gangguan aktifitas harian, bersantai, berolahraga, belajar, bekerja dan hal-hal lain yang mengganggu 2. Sedang atau berat bila terdapat satu atau lebih dari gangguan tersebut diatas

3.7

Diagnosis Rhinitis alergi Diagnosis rinitis alergi ditegakkan berdasarkan:

1.

Anamnesis

Anamnesis sangat penting karena seringkali serangan tidak terjadi dihadapan pemeriksa. Diagnosis rinitis alergi ditegakkan dari anamnesis dengan adanya trias gejala yaitu beringus (rinorea), bersin dan sumbatan hidung, ditambah gatal hidung. Perlu diperhatikan juga gejala alergi di luar hidung (asma, dermatitis atopi, injeksikonjungtiva, dan lain sebagainya). 2. Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik untuk rinitis alergi berfokus pada hidung, tetapi pemeriksaan wajah, mata, telinga, leher, paru-paru, dan kulit juga penting a. Wajah o Allergic shiners yaitu dark circles di sekitar mata dan berhubungan dengan vasodilatasi atau obstruksi hidung o Nasal crease yaitu lipatan horizontal (horizontal crease) yang melalui setengah bagian bawah hidung akibat kebiasaan menggosok hidung keatas dengan tangan. b. Hidung o Pada pemeriksaan hidung digunakan nasal speculum atau bagi spesialis dapat menggunakan rhinolaringoskopi o Pada rinoskopi akan tampak mukosa edema, basah, berwarna pucat, disertai adanya sekret encer yang banyak. o Tentukan karakteristik dan kuantitas mukus hidung. Pada rinitis alergi mukus encer dan tipis. Jika kental dan purulen biasanya berhubungan dengan sinusitis. Namun, mukus yang kental, purulen dan berwarna dapat timbul pada rinitis alergi. o Periksa septum nasi untuk melihat adanya deviasi atau perforasi septum yang dapat disebabkan oleh rinitis alergi kronis, penyakit granulomatus. o Periksa rongga hidung untuk melihat adanya massa seperti polip dan tumor. Polip berupa massa yang berwarna abuabu dengan tangkai. Dengan dekongestant topikal polip tidak akan menyusut. Sedangkan mukosa hidung akan menyusut. c. Telinga, mata dan orofaring

o Dengan otoskopi perhatikan adanya retraksi membran timpani, air - Fluid level, atau bubbles. Kelainan mobilitas dari membran timpani dapat dilihat dengan menggunakan otoskopi pneumatik. Kelaianan tersebut dapat terjadi pada rinitis alergi yang disertai dengan disfungsi tuba eustachius dan otitis media sekunder. o Pada pemeriksaan mata Akan ditemukan injeksi dan pembengkakkan konjungtiva palpebral yang disertai dengan produksi air mata. d. Leher. Perhatikan adanya limfadenopati e. Paru-paru. Perhatikan adanya tanda-tanda asma f. Kulit. Kemungkinaan adanya dermatitis atopi. 3. Pemeriksaan sitologi hidung.

Tidak dapat memastikan diagnosis pasti, tetap berguna sebagai pemeriksaan pelengkap. Ditemukan eosinofil dalam jumlah banyak menunjukkan kemungkinan alergi inhalen. Jika basofil mungkin disebabkan alergi makanan, sedangkan jika ditemukan PMN menunjukkan adanya infeksi bakteri. 4. Hitung eosinofil dalam darah tepi.

Jumlah eosinofil dapat meningkat atau normal. Begitu juga dengan pemeriksaan IgE total seringkali menunjukkan nilai normal. Kecuali bila tanda alergi pada pasien lebih dari satu penyakit, misalnya selain rinitis alergi juga menderita asma bronkial atau urtikaria. 5. Uji kulit.

Uji kulit alergen penyebab dapat dicari secara invivo. Ada beberapa cara, yaitu uji intrakutan atau intradermal yang tunggal atau berseri (Skin End-point Titration/SET), uji cukit (Prick Test), dan uji gores (Scratch Test). Kedalaman kulit yang dicapai pada kedua uji kulit (uji cukit dan uji gores) sama. SET dilakukan untuk alergen inhalan dengan menyuntikkan alergen dalam berbagai konsentrasi yang bertingkat kepekaannya. Keuntungan SET, selain alergen penyebab, juga derajat alergi serta dosis inisial untuk desensitisasi dapat diketahui. 6. Tes penunjang lainnya

Yang lebih bermakna namun tidak selalu dikerjakan adalah tes IgE spesifik dengan RAST (Radio Immunosorbent test) atau ELISA (Enzyme linked immuno assay). IgE total > 200 IgE RAST untuk alergen alergen dengan tingkat skor 1+ s/d 4+

3.7.

Diagnosis banding

Rinitis alergika harus dibedakan dengan: 1. Rinitis vasomotor 2. Rhinitis bacterial 3. Rinitis virus 4. Influenza (Flu)

3.8. yaitu:

Penatalaksanaan Terapi rinitis alergi umumnya berdasarkan tahap-tahap reaksi alergi, o Tahap terjadinya kontak antara alergen dengan kulit atau mukosa hidung. Tahapan ini diterapi dengan penghindaran terhadap alergen penyebab. o Tahap penetrasi alergen ke dalam jaringan subkutan/submukosa menuju IgE pada permukaan sel mast atau basofil. Tahapan ini diterapi secara kompetitif dengan imunoterapi. o Tahapan ikatan Ag-IgE di permukaan mastosit/basofil, sebagai akibat lebih lanjut reaksi Ag-IgE dimana dilepaskan histamin sebagai mediator. Tahapan ini dinetralisir dengan obat obatan antihistamin yang secara kompetitif memperebutkan reseptor H1 dengan histamin. o Tahap manifestasi klinis dalam organ target, dimana ditandai dengan timbulnya gejala. Tahapan ini dapat diterapi dengan obatobatan dekongestan sistematik atau lokal.

Secara garis besar penatalaksanaan rinitis terdiri dari 3 cara, yaitu: Menghindari atau eliminasi alergen dengan cara edukasi, farmakoterapi, dan imunoterapi, sedangkan tindakan operasi kadang diperlukan untuk mengatasi komplikasi seperti sinusitis dan polip hidung.

Pada dasarnya penyakit alergi dapat dicegah dan dibagi menjadi 3 tahap, yaitu: 1. Pencegahan primer untuk mencegah sensitisasi atau proses pengenalan dini terhadap alergen. Tindakan pertama adalah mengidentifikasi bayi yang mempunyai risiko atopi. Pada ibu hamil diberikan diet restriksi (tanpa susu, ikan laut, dan kacang) mulai trimester 3 dan selama menyusui, dan bayi mendapat ASI eksklusif selama 5-6 bulan. Selain itu kontrol lingkungan dilakukan untuk mencegah pajanan terhadap alergen dan polutan. 2. Pencegahan sekunder untuk mencegah manifestasi klinis alergi pada anak berupa asma dan pilek alergi yang sudah tersensitisasi dengan gejala alergi tahap awal berupa alergi makanan dan kulit. Tindakan yang dilakukan dengan penghindaran terhadap pajanan alergen inhalan dan makanan yang dapat diketahui dengan uji kulit. 3. Pencegahan tersier untuk mengurangi gejala klinis dan derajat beratnya penyakit alergi dengan penghindaran alergen dan pengobatan Menurut ARIA penatalaksanaan rinitis alergi meliputi : a. Penghindaran alergen. Merupakan terapi yang paling ideal. Cara pengobatan ini bertujuan untuk mencegah kontak antara alergen dengan IgE spesifik dapat dihindari sehingga degranulasi sel mastosit tidak berlangsung dan gejalapun dapat dihindari.Namun,dalam praktek adalah sangat sulit mencegah kontak dengan alergen tersebut. Masih banyak data yang diperlukan untuk mengetahui pentingnya peranan penghindaran alergen. b. Pengobatan medikamentosa Cara penngobatan ini merupakan konsep untuk mencegah dan atau menetralisasi kinerja molekul-molekul mediator yang dilepas sel-sel inflamasi alergis dan atau mencegah pecahnya dinding sel dengan harapan gejala dapat dihilangkan. Obat-obat yang digunakan untuk rinitis pada umumnya diberikan intranasal atau oral.

o Antihistamin-H1 oral Antihistamin-H1 oral bekerja dengan memblok reseptor H1 sehingga mempunyai aktivitas anti alergi. Obat ini tidak menyebabkan takifilaksis. Antihistamin-H1 oral dibagi menjadi generasi pertama dan kedua. Generasi pertama antara lain klorfeniramin dan difenhidramin, sedangkan generasi kedua yaitu setirizin/levosetirizin dan loratadin/desloratadin. Generasi terbaru antihistamin-H1 oral dianggap lebih baik karena mempunyai rasio efektifitas/keamanan dan farmakokinetik yang baik, dapat diminum sekali sehari, serta bekerja cepat (kurang dari 1 jam) dalam mengurangi gejala hidung dan mata, namun obat generasi terbaru ini kurang efektif dalam mengatasi kongesti hidung. Efek samping antihistamin-H1 generasi pertama yaitu sedasi dan efek antikolinergik. Sedangkan antihistamin-H1 generasi kedua sebagian besar tidak menimbulkan sedasi, serta tidak mempunyai efek antikolinergik atau kardiotoksisitas. o Antihistamin-H1 lokal Antihistamin-H1 lokal (misalnya azelastin dan levokobastin) juga bekerja dengan memblok reseptor H1. Azelastin mempunyai beberapa aktivitas anti alergik. Antihistamin-H1 lokal bekerja sangat cepat (kurang dari 30 menit) dalam mengatasi gejala hidung atau mata. Efek samping obat ini relatif ringan. Azelastin memberikan rasa pahit pada sebagian pasien. o Kortikosteroid intranasal Kortikosteroid intranasal (misalnya beklometason, budesonid,

flunisolid, flutikason, mometason, dan triamsinolon) dapat mengurangi hiperreaktivitas dan inflamasi nasal. Obat ini merupakan terapi medikamentosa yang paling efektif bagi rinitis alergik dan efektif

terhadap kongesti hidung. Efeknya akan terlihat setelah 6-12 jam, dan efek maksimal terlihat setelah beberapa hari. Kortikosteroid topikal hidung pada anak masih banyak dipertentangkan karena efek sistemik pemakaian lama dan efek lokal obat ini. Namun belum ada laporan tentang efek samping setelah pemberian kortikosteroid topikal hidung jangka panjang. Dosis steroid topikal hidung dapat diberikan dengan dosis setengah dewasa dan dianjurkan sekali sehari pada waktu pagi hari. Obat ini diberikan pada kasus rinitis alergik dengan keluhan hidung tersumbat yang menonjol. o Kortikosteroid oral/IM Kortikosteroid oral/IM (misalnya deksametason, hidrokortison, dan Jika untuk

metilprednisolon, nasal. Pemberian

prednisolon, jangka

prednison, mungkin

triamsinolon, diperlukan. digunakan

betametason) poten untuk mengurangi inflamasi dan hiperreaktivitas pendek memungkinkan, kortikosteroid intranasal

menggantikan pemakaian kortikosteroid oral/IM. Efek samping lokal obat ini cukup ringan, dan efek samping sistemik mempunyai batas yang luas. Pemberian kortikosteroid sistemik tidak dianjurkan untuk rinitis alergik pada anak. Pada anak kecil perlu dipertimbangkan pemakaian kombinasi obat intranasal dan inhalasi. o Kromon lokal (local chromones) Kromon lokal (local chromones), seperti kromoglikat dan nedokromil, mekanisme kerjanya belum banyak diketahui. Kromon intraokular sangat efektif, sedangkan kromon intranasal kurang efektif dan masa kerjanya singkat. Efek samping lokal obat ini ringan dan tingkat keamanannya baik. Obat semprot hidung natrium kromoglikat sebagai stabilisator sel mast dapat diberikan pada anak yang kooperatif. Obat ini biasanya diberikan 4 kali sehari dan sampai saat ini tidak dijumpai efek samping.

o Dekongestan oral Dekongestan oral seperti efedrin, fenilefrin, dan pseudoefedrin, merupakan obat simpatomimetik yang dapat mengurangi gejala kongesti hidung. Penggunaan obat ini pada pasien dengan penyakit jantung harus berhati-hati. Efek samping obat ini antara lain hipertensi, berdebar-debar, gelisah, agitasi, tremor, insomnia, sakit kepala, kekeringan membran mukosa, retensi urin, dan eksaserbasi glaukoma atau tirotoksikosis. Dekongestan oral dapat diberikan dengan perhatian terhadap efek sentral. Pada kombinasi dengan antihistamin-H1 oral efektifitasnya dapat meningkat, namun efek samping juga bertambah. o Dekongestan intranasal Dekongestan intranasal (misalnya epinefrin, naftazolin, oksimetazolin, dan xilometazolin) juga merupakan obat simpatomimetik yang dapat mengurangi gejala kongesti hidung. Obat ini bekerja lebih cepat dan efektif daripada dekongestan oral. Penggunaannya harus dibatasi kurang dari 10 hari untuk mencegah terjadinya rinitis medikamentosa. Efek sampingnya sama seperti sediaan oral tetapi lebih ringan. Pemberian vasokonstriktor topikal tidak dianjurkan untuk rinitis alergik pada anak di bawah usia l tahun karena batas antara dosis terapi dengan dosis toksis yang sempit. Pada dosis toksik akan terjadi gangguan kardiovaskular dan sistem saraf pusat. o Antikolinergik intranasal Antikolinergik intranasal (misalnya ipratropium) dapat menghilangkan gejala beringus (rhinorrhea) baik pada pasien alergik maupun non alergik. Efek samping lokalnya ringan dan tidak terdapat efek antikolinergik sistemik. Ipratropium bromida diberikan untuk rinitis alergik pada anak dengan keluhan hidung beringus yang menonjol.

o Anti-leukotrien Anti-leukotrien, seperti montelukast, pranlukast dan zafirlukast, akan memblok reseptor CystLT, dan merupakan obat yang menjanjikan baik dipakai sendiri ataupun dalam kombinasi dengan antihistamin-H1 oral, namun masih diperlukan banyak data mengenai obat-obat ini. Efek sampingnya dapat ditoleransi tubuh dengan baik. Jenis obat yang sering digunakan : Jenis Obat Kromolin Setirizin Umur 2-5 tahun > 6 tahun Loratadin 25 tahun > 6 tahun Feksofenadin 6-11 tahun > 12 tahun Dosis 5,2 mg/dosis 2.5 mg/dosis 5-10 mg/dosis 2.5 mg/dosis 10 mg/dosis 30 mg/hari, 60 mg/hari 180mg/hari Pseudoephedrin e Azelastine 511 tahun > 12 tahun 2-6 tahun 6-12 tahun 1 semprotan 2 semprotan 15 mg/hari 30mg/hari Keterangan obat semprot mengandung kromolin diberikan 3-4 kali/hari 1 kali/hari 1 kali/hari 1 kali/hari 1 kali/hari. 2 kali/hari, 2 kali/hari atau 4 kali/hari. 2 kali/hari. 2 kali/hari 4 kali/hari 4 kali/hari

Kortikosteroid intranasal Digunakan pada pasien yang memiliki gejala yang lebih persisten dan lebih parah. Efektif untuk semua gejala dengan inflamasi eosinofilik.

Jenis Obat Fluticasone intranasal Mometasone intranasal

Umur > 4 tahun 3-11 tahun > 11 tahun > 6 tahun

Dosis 1-2 semprotan / dosis 1 semprotan / dosis 2 semprotan / dosis 1-2 semprotan / dosis

Keterangan 1 kali/hari 1 kali/hari 1 kali/hari 1 kali/hari Budesonide mempunyai bioavaibilitas yang rendah dan keamanannya lebih baik.

Budesonide intranasal

Leukotrien antagonis Jenis obat Zafirlukast Umur Anak-anak Dosis 20 mg/dosis Keterangan 2 kali/24jam

c. Imunoterapi spesifik Imunoterapi spesifik efektif jika diberikan secara optimal. Imunoterapi subkutan masih menimbulkan pertentangan dalam efektifitas dan keamanan. Oleh karena itu, dianjurkan penggunaan dosis optimal vaksin yang diberi label dalam unit biologis atau dalam ukuran masa dari alergen utama. Dosis optimal untuk sebagian besar alergen utama adalah 5 sampai 20 g. Imunoterapi subkutan harus dilakukan oleh tenaga terlatih dan penderita harus dipantau selama 20 menit setelah pemberian subkutan. Indikasi imunoterapi spesifik subkutan o Penderita yang tidak terkontrol baik dengan farmakoterapi konvensional o Penderita yang gejala-gejalanya tidak dapat dikontrol baik dengan antihistamin H1 dan farmakoterapi o Penderita yang tidak menginginkan farmakoterapi o Penderita dengan farmakoterapi yang menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan.

o Penderita yang tidak ingin menerima terapi farmakologis jangka panjang. o Imunoterapi spesifik nasal dan sublingual dosis tinggi-imunoterapi spesifik oral o Dapat digunakan dengan dosis sekurang-kurangnya 50-100 kali lebih besar dari pada yang digunakan untuk imunoterapi subkutan. o Pada penderita yang mempunyai efek samping atau menolak imunoterapi subkutan. o Indikasinya mengikuti indikasi dari suntikan subsukatan.

3.9.

Komplikasi

Komplikasi Rhinitis Alergi adalah : 1. Sinusitis kronis pemicunya 2. Poliposis nasal 3. Trias asma : adanya massa di hidung : gabungan dari Sinusitis kronis, Asma, dan : radang pada hidung. Perlu diobati dulu factor

sensitive terhadap aspirine 4. Obstruksi tuba eustachii 5. Hipertrofi tonsil dan adenoid 6. Gangguan kognitif

3.10.

Prognosis

Banyak gejala rinitis alergi dapat dengan mudah diobati. Pada beberapa kasus (khususnya pada anak-anak), orang mungkin memperoleh alergi seiring dengan sistem imun yang menjadi kurang sensitif pada alergen. Efek sistemik, termasuk lelah, mengantuk, dan lesu, dapat muncul dari respon peradangan. Gejala-gejala ini sering menambah perburukan kualitas hidup.

4.

Memahami dan menjelaskan anatomi pernafasan menurut agama islam Dr. Bahar Azwar, SpB-Onk, seorang dokter spesialis bedah-onkologi ( bedah

tumor ) dalam bukunya Ketika Dokter Memaknai Sholat mampu menjabarkan makna gerakan sholat 1. Manfaat Wudlu Kulit merupakan organ yang terbesar tubuh kita yang fungsi utamanya membungkus tubuh serta melindungi tubuh dari berbagai ancaman kuman, racun, radiasi juga mengatur suhu tubuh, fungsi ekskresi ( tempat pembuangan zat-zat yang tak berguna melalui pori-pori ) dan media komunikasi antar sel syaraf untuk rangsang nyeri, panas, sentuhan secara tekanan. Begitu besar fungsi kulit maka kestabilannya ditentukan oleh pH (derajat keasaman) dan kelembaban. Bersuci merupakan salah satu metode menjaga kestabilan tersebut khususnya kelembaban kulit. Kalu kulit sering kering akan sangat berbahaya bagi kesehatan kulit terutama mudah terinfeksi kuman. Dengan bersuci berarti terjadinya proses peremajaan dan pencucian kulit, selaput lendir, dan juga lubang-lubang tubuh yang berhubungan dengan dunia luar (pori kulit, rongga mulut, hidung, telinga). Seperti kita ketahui kulit merupakan tempat berkembangnya banya kuman dan flora normal, diantaranya Staphylococcus epidermis, Staphylococcus aureus, Streptococcus pyogenes, Mycobacterium sp (penyakit TBC kulit). Begitu juga dengan rongga hidung terdapat kuman Streptococcus pneumonia (penyakit pneumoni paru), Neisseria sp, Hemophilus sp. Seorang ahli bedah diwajibkan membasuh kedua belah tangan setiap kali melakukan operasi sebagai proses sterilisasi dari kuman. Cara ini baru dikenal abad ke-20, padahal umat Islam sudah membudayakan sejak abad ke-14 yang lalu. Luar Biasa!! 2. Keutamaan Berkumur Berkumur-kumur Dalam bersuci berarti membersihkan rongga mulut dari penularan penyakit. Sisa makanan sering mengendap atau tersangkut di antara sela gigi yang jika tidak dibersihkan ( dengan berkumur-kumur atau menggosok gigi) akhirnya akan menjadi mediasi pertumbuhan kuman. Dengan berkumur-kumur secara benar dan dilakukan lima kali sehari berarti tanpa kita sadari dapat mencegah dari infeksi gigi dan mulut melalui rongga hidung sampai ke tenggorokan bagian hidung (nasofaring). Fungsinya untuk mensucikan selaput dan lendir hidung yang tercemar oleh udara kotor dan juga

kuman.Selama ini kita ketahui selaput dan lendir hidung merupakan basis pertahanan pertama pernapasan. Dengan istinsyaq mudah-mudahan kuman infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dapat dicegah. 4. Pembersihan telinga sampai dengan pensucian kaki beserta telapak kaki Untuk mencegah berbagai infeksi cacing yang masih menjadi masalah terbesar di negara kita. 5. Manfaat Kesehatan Sholat Berdiri lurus Pelurusan tulang belakang dan menjadi awal dari sebuah latihan pernapasan, pencernaan dan tulang. 6. Takbir merupakan latihan awal pernapasan. Paru-paru adalah alat pernapasan Paru kita terlindung dalam rongga dada yang tersusun dari tulang iga yang melengkung dan tulang belakang yang mencembung. Susunan ini didukung oleh dua jenis otot yaitu yang menjauhkan lengan dari dada (abductor) dan mendekatkannya (adductor). Takbir berarti kegiatan mengangkat lengan dan merenggangkannya, hingga rongga dada mengembang seperti halnya paru-paru. 7. Dan mengangkat tangan Berarti meregangnya otot-otot bahu hingga aliran darah yang membawa oksigen menjadi lancar. 8. Dengan ruku Memperlancar aliran darah dan getah bening ke leher oleh karena sejajarnya letak bahu dengan leher. Aliran akan semakin lancar bila ruku dilakukan dengan benar yaitu meletakkan perut dan dada lebih tinggi daripada leher. Ruku juga mengempiskan pernapasan. Pelurusan tulang belakang pada saat ruku berarti mencegah terjadinya pengapuran. Selain itu, ruku adalah latihan kemih (buang air kecil) untuk mencegah keluhan prostat. Pelurusan tulang belakang akan mengempiskan ginjal. Sedangkan penekanan kandung kemih oleh tulang belakang dan tulang kemaluan akan melancarkan kemih. Getah bening (limfe) fungsi utamanya adalah menyaring dan menumpas kuman penyakit yang berkeliaran di dalam darah.

9.

Sujud Mencegah Wasir Sujud mengalirkan getah bening dari tungkai perut dan dada ke leher karena

lebih tinggi. Dan meletakkan tangan sejajar dengan bahu ataupun telinga, memompa getah bening ketiak ke leher. Selain itu, sujud melancarkan peredaran darah hingga dapat mencegah wasir. Sujud dengan cepat tidak bermanfaat. Ia tidak mengalirkan getah bening dan tidak melatih tulang belakang dan otot. Tak heran kalau ada di sebagian sahabat Rasul menceritakan bahwa Rasulullah sering lama dalam bersujud. 10. Duduk di antara dua sujud Dapat mengaktifkan kelenjar keringat karena bertemunya lipatan paha dan betis sehingga dapat mencegah terjadinya pengapuran. Pembuluh darah balik di atas pangkal kaki jadi tertekan sehingga darah akan memenuhi seluruh telapak kaki mulai dari mata kaki sehingga pembuluh darah di pangkal kaki mengembang. Gerakan ini menjaga supaya kaki dapat secara optimal menopang tubuh kita. 11. Gerakan salam yang merupakan penutup sholat, Dengan memalingkan wajah ke kanan dan ke kiri bermanfaat untuk menjaga kelenturan urat leher. Gerakan ini juga akan mempercepat aliran getah bening di leher ke jantung. 12. Manfaat Sholat Malam Malam Hari biasanya dingin dan lembab. Kalau ditanya, paling enak tidur di waktu tersebut. Banyak lemak jenuh yang melapisi saraf kita hingga menjadi beku. Kalau tidak segera digerakkan, sistem pemanas tubuh tidak aktif, saraf menjadi kaku, bahkan kolesterol dan asam urat merubah menjadi pengapuran. Tidur di kasur yang empuk akan menyebabkan urat syaraf yang mengatur tekanan ke bola mata tidak mendapat tekanan yang cukup untuk memulihkan posisi saraf mata kita. Jadi sholat malam itu lebih baik daripada tidur. Kebanyakan tidur malah menjadi penyakit. Bukan lamanya masa tidur yang diperlukan oleh tubuh kita melainkan kualitas tidur. Dengan sholat malam, kita akan mengendalikan urat tidur kita.

Sholat Lebih Canggih dari Yoga Apakah pendapatmu sekiranya terdapat sebuah sungai di hadapan pintu rumah salah seorang di antara kamu dan dia mandi di dalamnya setiap hari lima kali. Apakah masih terdapat kotoran pada badannya?. Para sahabat menjawab : Sudah pasti tidak terdapat sedikit pun kotoran pada badannya. Lalu beliau bersabda : Begitulah perumpamaan sholat lima waktu. Allah menghapus segala keselahan mereka. (H.R Abu Hurairah r.a).

Daftar Pustaka Ganong, W.F . 2008 . Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 22. EGC. Jakarta. Sherwood, Lauralee. 2001. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem ed. 2. EGC.Jakarta. Adams, George L.; Lawrence R. Boies; Peter H. Higlier. 1997. Boies: Buku Ajar Penyakit THT Edisi 6. EGC. Jakarta. Sudoyo, Aru W., Bambang Setyohadi, dkk., 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 1 ed. 4, Interna Publishing: Jakarta. Gunawan, Gan Sulistia. 2009. Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Balai Penerbit FKUI. Jakarta http://childrenallergyclinic.wordpress.com/2009/05/17/rinitis-alergika/ http://www.infospesial.com/article/kesehatan/manfaat-gerakan-shalat-dan-wudhu.htm http://blog.ilmukeperawatan.com/anatomi-sistem-pernafasan.html