Anda di halaman 1dari 17

Trombosis vena dalam DEFINISI Trombosis Vena Dalam (Deep Vein Thrombosis (DVT)) adalah suatu keadaan yang

ditandai dengan ditemukannya bekuan darah di dalam vena dalam. Bekuan yang terbentuk di dalam suatu pembuluh darah disebut trombus. Trombus bisa terjadi baik di vena superfisial (vena permukaan) maupun di vena dalam, tetapi yang berbahaya adalah yang terbentuk di vena dalam. Trombosis vena dalam sangat berbahaya karena seluruh atau sebagian dari trombus bisa pecah, mengikuti aliran darah dan tersangkut di dalam arteri yang sempit di paru-paru sehingga menyumbat aliran darah. Trombus yang berpindah-pindah disebut emboli. Semakin sedikit peradangan di sekitar suatu trombus, semakin longgar trombus melekat ke dinding vena dan semakin mudah membentuk emboli. Penekanan pada otot betis bisa membebaskan trombus yang tersangkut, terutama ketika penderita kembali aktif. Darah di dalam vena tungkai akan mengalir ke jantung lalu ke paru-paru, karena itu emboli yang berasal dari vena tungkai bisa menyumbat satu atau lebih arteri di paru-paru. Keadaan ini disebut emboli paru. Emboli paru yang besar bisa menghalangi seluruh atau hampir seluruh darah yang berasal dari jantung sebelah kanan dan dengan cepat menyebabkan kematian.

PENYEBAB Ditemukan 3 faktor yang berperan dalam terjadinya trombosis vena dalam: 1. Cedera pada lapisan vena 2. Meningkatnya kecenderungan pembekuan darah : terjadi pada beberapa kanker dan pemakaian pil KB (lebih jarang).

Cedera atau pembedahan mayor juga bisa meningkatkan kecenderungan terbentuknya bekuan darah. 3. Melambatnya aliran darah di dalam vena : terjadi pada pasien yang menjalani tirah baring dalam waktu yang lama karena otot betis tidak berkontraksi dan memompa darah menuju jantung. Misalnya trombosis vena dalam bisa terjadi pada penderita serangan jantung yang berbaring selama beberapa hari dimana tungkai sangat sedikit digerakkan; atau pada penderita lumpuh yang duduk terus menerus dan ototnya tidak berfungsi. Trombosis juga bisa terjadi pada orang sehat yang duduk terlalu lama (misalnya ketika menempuh perjalanan atau penerbangan jauh). GEJALA Sekitar 50% penderita tidak menunjukkan gejala sama sekali. Jika trombosis menyebabkan peradangan hebat dan penyumbatan aliran darah, otot betis akan membengkak dan bisa timbul rasa nyeri, nyeri tumpul jika disentuh dan teraba hangat. Pergelangan kaki, kaki atau paha juga bisa membengkak, tergantung kepada vena mana yang terkena. Beberapa trombus mengalami penyembuhan dan berubah menjadi jaringan parut, yang bisa merusak katup dalam vena. Sebagai akibatnya terjadi pengumpulan cairan (edema) yang menyebabkan pembengkakan pada pergelangan kaki. Jika penyumbatannya tinggi, edema bisa menjalar ke tungkai dan bahkan sampai ke paha. Pagi sampai sore hari edema akan memburuk karena efek dari gaya gravitasi ketika duduk atau berdiri. Sepanjang malam edema akan menghilang karena jika kaki berada dalam posisi mendatar, maka pengosongan vena akan berlangsung dengan baik. Gejala lanjut dari trombosis adalah pewarnaan coklat pada kulit, biasanya diatas pergelangan kaki. Hal ini disebabkan oleh keluarnya sel darah merah dari vena yang teregang ke dalam kulit. Kulit yang berubah warnanya ini sangat peka, cedera ringanpun (misalnya garukan atau benturan), bisa merobek kulit dan menyebabkan timbulnya luka terbuka (ulkus, borok).

DIAGNOSA Diagnosis mungkin sulit ditegakkan karena tidak ditemukan nyeri dan seringkali tidak ditemukan pembengkakan atau pembengkakannya bersifat ringan.

Jika diduga suatu trombosis, maka untuk memperkuat diagnosis, dilakukan pemeriksan USG dupleks pada vena tungkai. Jika ditemukan gejala emboli paru, dilakukan skening dada dengan radioaktif untuk memperkuat diagnosis dan skening dupleks untuk memeriksa tungkai. PENGOBATAN Pembengkakan tungkai Pembengkakan dapat dikurangi dengan cara berbaring dan menaikkan tungkai atau dengan menggunakan perban kompresi. Perban ini harus dipasang oleh dokter atau perawat dan dipakai selama beberapa hari. Selama pemasangan perban, penderita harus tetap berjalan. Jika pembengkakan belum seluruhnya hilang, perban harus kembali digunakan. Jika perban kompresi sudah tidak dikenakan lagi, maka untuk mencegah kambuhnya pembengkakan penderita diharuskan menggunakan stoking elastis setiap hari. Stoking tidak harus digunakan diatas lutut, karena pembengkakan diatas lutut tidak menyebabkan komplikasi. Ulkus di kulit Jika timbul ulkus (luka terbuka, borok) di kulit yang terasa nyeri, gunakan perban kompresi 1-2 kali/minggu karena bisa memperbaiki aliran darah dalam vena. Ulkus hampir selalu mengalami infeksi dan mengeluarkan nanah berbau. Jika aliran darah di dalam vena sudah membaik, ulkus akan sembuh dengan sendirinya. Untuk mencegah kekambuhan, setelah ulkus sembuh, gunakan stoking elastis setiap hari. Meskipun jarang terjadi, pada ulkus yang tidak kunjung sembuh, kadang perlu dilakukan pencangkokan kulit. PENCEGAHAN Meskipun resiko dari trombosis vena dalam tidak dapat dihilangkan seluruhnya, tetapi dapat dikurangi melalui beberapa cara: Orang-orang yang beresiko menderita trombosis vena dalam (misalnya baru saja menjalani pembedahan mayor atau baru saja melakukan perjalanan panjang), sebaiknya melakukan gerakan menekuk dan meregangkan pergelangan kakinya sebanyak 10 kali setiap 30 menit. Terus menerus menggunakan stoking elastis akan membuat vena sedikit menyempit dan darah mengalir lebih cepat, sehingga bekuan darah tidak mudah terbentuk. Tetapi stoking elastis memberikan sedikit perlindungan dan jika tidak digunakan dengan benar, bisa memperburuk keadaan dengan menimbulkan menyumbat aliran darah di tungkai. Yang lebih efektif dalam mengurangi pembentukan bekuan darah adalah pemberian obat antikoagulan sebelum, selama dan kadang setelah pembedahan. Stoking pneumatik merupakan cara lainnya untuk mencegah pembentukan bekuan darah. Stoking ini terbuat dari plastik, secara otomatis memompa dan mengosongkan melalui suatu pompa listrik, karena itu secara berulang-ulang akan meremas betis dan mengosongkan vena.

Stoking digunakan sebelum, selama dan sesudah pembedahan sampai penderita bisa berjalan kembali.

Pendahuluan 1,2 Trombosis vena dalam adalah suatu keadaan terjadinya gumpalan darah (trombus) pada pembuluh darah balik (vena) dalam di daerah tungkai bawah. Setiap tahunnya diperkirakan terdapat 1 di antara 1000 orang menderita kelainan ini. Dari jumlah tersebut, kurang lebih satu sampai lima persen penderita meninggal akibat komplikasi yang ditimbulkan.

Click here to enlarge Trombus yang terbentuk di tungkai bawah tersebut dapat lepas dari tempatnya dan berjalan mengikuti aliran darah, disebut dengan emboli. Emboli yang terbentuk dapat mengikuti aliran darah hingga ke jantung dan paru. Biasanya emboli tersebut akan menyumbat di salah satu atau lebih pembuluh darah paru, menimbulkan suatu keadaan yang disebut dengan embolisme paru (pulmonary embolism). Tingkat keparahan dari embolisme paru tergantung dari jumlah dan ukuran dari emboli tersebut. Jika ukuran dari emboli kecil, maka akan terjadi penyumbatan pada pembuluh darah paru yang kecil, sehingga menyebabkan kematian jaringan paru (pulmonary infarction). Namun jika ukuran emboli besar maka dapat terjadi penyumbatan pada sebagian atau seluruh darah dari jantung kanan ke paru, sehingga menyebabkan kematian. Apa Penyebab Trombosis Vena Dalam? 1,3 Ada 3 faktor yang dapat menyebabkan terjadinya trombosis vena dalam, yaitu : 1. Cedera pada pembuluh darah balik Pembuluh darah balik dapat cedera selama terjadinya tindakan bedah, suntikan bahan yang mengiritasi pembuluh darah balik, atau kelainan-kelainan tertentu pada pembuluh darah balik. 2. Peningkatan kecenderungan terjadinya pembekuan darah Terdapat beberapa kelainan yang dapat menyebabkan terjadinya peningkatan kecenderungan terjadinya pembekuan darah. Beberapa jenis kanker dan penggunaan kontrasepsi oral dapat memudahkan terjadinya pembekuan darah. Kadang-kadang pembekuan darah juga dapat terjadi setelah proses persalinan atau setelah tindakan operasi. Selain itu pembekuan darah juga mudah terjadi pada individu yang berusia tua, keadaan dehidrasi, dan pada individu yang merokok. 3. Melambatnya aliran darah pada pembuluh darah balik Hal ini dapat terjadi pada keadaan seperti perawatan lama di rumah sakit atau pada penerbangan jarak jauh. Pada keadaan-keadaan tersebut otot-otot pada daerah tungkai bawah tidak berkontraksi sehingga aliran darah dari kaki menuju ke jantung berkurang. Akibatnya aliran darah pada pembuluh darah balik melambat dan memudahkan terjadinya trombosis pada vena dalam.

Gejala Trombosis Vena Dalam 1,3 Sebagian penderita trombosis vena dalam tidak mengalami gejala sama sekali. Pada penderitapenderita ini biasanya gejala nyeri dada, akibat dari embolisme paru, adalah indikasi pertama adanya suatu kelainan. Jika trombus besar dan menyumbat aliran darah pada pembuluh darah balik yang besar, maka akan timbul gejala pembengkakan pada tungkai bawah, yang nyeri dan hangat pada perabaan. Beberapa trombus dapat mengalami perbaikan secara spontan dan membentuk jaringan parut. Jaringan parut yang terjadi dapat merusak katup yang terdapat pada pembuluh darah balik di daerah tungkai bawah. Akibat kerusakan ini maka dapat terjadi pembengkakan pada daerah tersebut. Pembengkakan biasanya lebih sering terjadi pada saat pagi hingga sore hari karena darah harus mengalir ke atas, menuju jantung, melawan gaya gravitasi. Pada malam hari pembengkakan yang terjadi agak berkurang karena posisi tungkai bawah dalam keadaan horisontal sehingga aliran darah balik dari tungkai bawah ke jantung lebih baik. Gejala lebih lanjut dari trombosis vena dalam adalah terjadinya perubahan warna pada kulit di sekitar daerah yang terkena menjadi kecoklatan. Hal ini terjadi karena sel darah merah akan keluar dari pembuluh darah balik yang bersangkutan dan mengumpul di bawah kulit. Kulit yang berubah warna menjadi kecoklatan ini sangat rentan terhadap cedera ringan seperti garukan atau benturan, menimbulkan suatu borok (ulkus). Jika pembengkakan makin berat dan persisten maka jaringan parut akan memerangkap cairan di sekitarnya. Akibatnya tungkai akan membengkak permanen dan mengeras sehingga memudahkan terjadinya ulkus yang sulit sembuh. Bagaimana Mendiagnosis Trombosis Vena Dalam? 4 Diagnosis dari trombosis vena dalam dapat ditegakkan dari pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan fisik ditujukan untuk menemukan adanya tanda dan gejala trombosis vena dalam. Beberapa pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan untuk membantu diagnosis trombosis vena dalam antara lain: Ultrasonografi. Pemeriksaan ini menggunakan gelombang suara untuk membentuk gambaran aliran darah melalui pembuluh darah arteri dan pembuluh darah balik pada bagian tungkai yang terkena. Tes D-Dimer. Pemeriksaan ini mengukur kadar D-Dimer dalam darah yang biasanya dikeluarkan ketika bekuan darah memecah.

Venografi. Pemeriksaan ini merupakan suatu standar baku (gold standard) pada trombosis vena dalam. Pada pemeriksaan ini suatu pemindai akan diinjeksikan ke dalam pembuluh darah balik, kemudian daerah tersebut akan dirntgen dengan sinar X. Jika pada hasil foto terdapat area pada pembuluh darah balik yang tidak terwarnai dengan pemindai maka diagnosis trombosis vena dalam dapat ditegakkan.

Terapi Trombosis Vena Dalam 5

Tujuan terapi untuk trombosis vena dalam adalah untuk mencegah pembentukan bekuan darah yang lebih besar, mencegah terjadinya emboli paru, serta mencegah terjadinya bekuan darah di masa yang akan datang. Beberapa obat dapat digunakan untuk mencegah dan mengobati trombosis vena dalam. Obat-obatan yang paling sering digunakan adalah golongan antikoagulan seperti warfarin atau heparin. Obat antikoagulan berguna untuk mencegah terjadinya gumpalan darah. Perlu diperhatikan pula bahwa obat-obatan golongan antikoagulan dapat menyebabkan terjadinya efek samping perdarahan. Terapi lain yang dapat dilakukan adalah dengan pemasangan filter atau penyaring yang diletakkan pada pembuluh darah balik dari tubuh bagian bawah yang menuju ke arah jantung (vena cava inferior). Penyaring ini berguna untuk mencegah emboli yang terbentuk mencapai paru dan menimbulkan embolisme paru. Untuk mengurangi nyeri dan bengkak pada tungkai maka dapat dilakukan elevasi atau kompresi pada tungkai yang terkena. Kompresi dapat dilakukan dengan cara pemasangan stocking khusus, yang dapat memberikan kompresi atau tekanan halus pada tungkai. Terapi Kompelemen dan Alternatif 6,7 Selain terapi di atas, trombosis vena dalam juga dapat diatasi dengan terapi komplemen dan alternatif. Salah satu pengobatan komplemen dan alternatif yang efektif dan aman untuk trombosis vena dalam adalah dengan nattokinase. Nattokinase adalah salah satu jenis pangan fungsional yang dibuat dari natto, suatu makanan hasil dari fermentasi kedelai dengan bantuan bakteri Bacillus subtilis natto. Natto merupakan makanan populer di Jepang, dan sudah dikonsumsi selama lebih dari 1000 tahun. Dari suatu penelitian yang dilakukan oleh Dr. Hiroyuki Sumi dari Department of Physiology, Miyazaki Medical College, Jepang, ternyata lendir dari natto mengandung enzim nattokinase, yang dapat meningkatkan kemampuan tubuh secara natural untuk memecah bekuan darah. Penggunaan nattokinase untuk mencegah terjadinya tombosis vena dalam telah dibuktikan dalam salah satu penelitian yang dilakukan oleh Cesanore MR, et al, yang diterbitkan dalam jurnal Angiology tahun 2003. Penelitian tersebut melibatkan 186 orang yang akan menjalani penerbangan jarak jauh selama kurang lebih 7 jam. Dari 186 orang tersebut, 94 orang diberikan 2 kapsul nattokinase 2 jam sebelum penerbangan dan 6 jam setelah mendarat. Penggunaan Nattokinase pada Penerbangan Jarak Jauh Control 92 5 2 Treat 94 0 0 Total 186 5 2 p Value <0.025 <0.05

Completing the study DVT SVT

Keterangan : DVT : Deep Vein Thrombosis (Trombosis Vena Dalam) SVT : Superficial Vein Thrombosis (Trombosis Vena Luar) Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa dari 94 orang yang diberikan nattokinase sebelum dan setelah penerbangan jarak jauh tidak ada yang mengalami trombosis vena dalam maupun trombosis vena luar. Sedangkan dari 92 orang yang tidak diberikan nattokinase sebelum dan setelah penerbangan terdapat 5 orang yang mengalami trombosis vena dalam dan 2 orang yang mengalami trombosis vena luar. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa nattokinase secara signifikan dapat mencegah terjadinya trombosis vena pada penerbangan jarak jauh. Daftar Pustaka : 1. Deep vein thrombosis (DVT). Merck Manuals Online Medical Library 2003 (cited 2008 Feb);1(1). Available from: URL: http://www.merck.com/mmhe/sec03/ch036/ch036b.html 2. Deep vein thrombosis. Wikipedia 2008 (cited 2008 Feb);1(1). Available from: URL: http://en.wikipedia.org/wiki/Deep_vein_thrombosis 3. Trombosis Vena Dalam. Medicastore 2004 (cited 2008 Feb);1(1). Available from: URL: http://www.medicastore.com/med/detail_pyk.php?idktg=1&judul=Trombosis%20vena %20dalam&iddtl=645&UID=20080214112827125.208.142.11 4. What is deep vein thrombosis. National Heart Lung and Blood Institute 2007 (cited 2008 Feb);1(1). Available from: URL: http://www.nhlbi.nih.gov/health/dci/Diseases/Dvt/DVT_WhatIs.html 5. Deep vein thrombosis: what you should know. American Academy of Family Physicians 2008 (cited 2008 Feb);1(1). Available from: URL: http://familydoctor.org/online/famdocen/home/seniors/common-older/800.html 6. Levine SA, Zurlo E, Anderson JL. Focus on allergy research group: potent natural anticoagulant enzyme derived from traditional japanese food. Allergy Research Group Newsletter 2003:1-11. 7. Cesanore MR, Belarco G, Nicolaides AN, Ricci A, Geroulakos G, Ippolito E, et al. Prevention of venous thrombosis in long-haul flights with flite tabs:the LONFLIT-FLITE randomized, controlloed trial. Angiology 2003;54(0):T1-9

Diagnosis Diagnosis mungkin sulit ditegakkan karena tidak ditemukan nyeri dan seringkali tidak ditemukan pembengkakan atau pembengkakannya bersifat ringan. Jika diduga suatu trombosis, maka untuk memperkuat diagnosis, dilakukan pemeriksan USG dupleks pada vena tungkai. Jika ditemukan gejala emboli paru, dilakukan skening dada dengan radioaktif untuk memperkuat diagnosis dan skening dupleks untuk memeriksa tungkai.

Pengobatan Pembengkakan tungkai Pembengkakan dapat dikurangi dengan cara berbaring dan menaikkan tungkai atau dengan menggunakan perban kompresi. Perban ini harus dipasang oleh dokter atau perawat dan dipakai selama beberapa hari. Selama pemasangan perban, penderita harus tetap berjalan. Jika pembengkakan belum seluruhnya hilang, perban harus kembali digunakan. Jika perban kompresi sudah tidak dikenakan lagi, maka untuk mencegah kambuhnya pembengkakan penderita diharuskan menggunakan stoking elastis setiap hari. Stoking tidak harus digunakan diatas lutut, karena pembengkakan diatas lutut tidak menyebabkan komplikasi. Ulkus di kulit Jika timbul ulkus (luka terbuka, borok) di kulit yang terasa nyeri, gunakan perban kompresi 1-2 kali/minggu karena bisa memperbaiki aliran darah dalam vena. Ulkus hampir selalu mengalami infeksi dan mengeluarkan nanah berbau. Jika aliran darah di dalam vena sudah membaik, ulkus akan sembuh dengan sendirinya. Untuk mencegah kekambuhan, setelah ulkus sembuh, gunakan stoking elastis setiap hari. Meskipun jarang terjadi, pada ulkus yang tidak kunjung sembuh, kadan g perlu dilakukan pencangkokan kulit. Pencegahan Meskipun resiko dari trombosis vena dalam tidak dapat dihilangkan seluruhnya, tetapi dapat dikurangi melalui beberapa cara: Orang-orang yang beresiko menderita trombosis vena dalam (misalnya baru saja menjalani pembedahan mayor atau baru saja melakukan perjalanan panjang), sebaiknya melakukan gerakan menekuk dan meregangkan pergelangan kakinya sebanyak 10 kali setiap 30 menit. Terus menerus menggunakan stoking elastis akan membuat vena sedikit menyempit dan darah mengalir lebih cepat, sehingga bekuan darah tidak mudah terbentuk. Tetapi stoking elastis memberikan sedikit perlindungan dan jika tidak digunakan dengan benar, bisa memperburuk keadaan dengan menimbulkan menyumbat aliran darah di tungkai. Yang lebih efektif dalam mengurangi pembentukan bekuan darah adalah pemberian obat antikoagulan sebelum, selama dan kadang setelah pembedahan. Stoking pneumatik merupakan cara lainnya untuk mencegah pembentukan bekuan darah. Stoking ini terbuat dari plastik, secara otomatis memompa dan mengosongkan melalui suatu pompa listrik, karena itu secara berulang-ulang akan meremas betis dan mengosongkan vena. Stoking digunakan sebelum, selama dan sesudah pembedahan sampai penderita bisa berjalan kembali.

Defenisi Trombosis Vena Dalam adalah suatu keadaan yang ditandai dengan ditemukannya bekuan darah di dalam vena dalam. Bekuan yang terbentuk di dalam suatu pembuluh darah disebut trombus. Trombus bisa terjadi baik di vena superfisial (vena permukaan) maupun di vena dalam, tetapi yang berbahaya adalah yang terbentuk di vena dalam. Trombosis vena dalam sangat berbahaya karena seluruh atau sebagian dari trombus bisa pecah, mengikuti aliran darah dan tersangkut di

dalam arteri yang sempit di paru-paru sehingga menyumbat aliran darah. Trombus yang berpindah-pindah disebut emboli. Semakin sedikit peradangan di sekitar suatu trombus, semakin longgar trombus melekat ke dinding vena dan semakin mudah membentuk emboli. Penekanan pada otot betis bisa membebaskan trombus yang tersangkut, terutama ketika penderita kembali aktif. Darah di dalam vena tungkai akan mengalir ke jantung lalu ke paru-paru, karena itu emboli yang berasal dari vena tungkai bisa menyumbat satu atau lebih arteri di paru-paru. Keadaan ini disebut emboli paru. Emboli paru yang besar bisa menghalangi seluruh atau hampir seluruh darah yang berasal dari jantung sebelah kanan dan dengan cepat menyebabkan kematian. Penyebab Ditemukan 3 faktor yang berperan dalam terjadinya trombosis vena dalam: 1. Cedera pada lapisan vena 2. Meningkatnya kecenderungan pembekuan darah : terjadi pada beberapa kanker dan pemakaian pil KB (lebih jarang). Cedera atau pembedahan mayor juga bisa meningkatkan kecenderungan terbentuknya bekuan darah. 3. Melambatnya aliran darah di dalam vena : terjadi pada pasien yang menjalani tirah baring dalam waktu yang lama karena otot betis tidak berkontraksi dan memompa darah menuju jantung. Misalnya trombosis vena dalam bisa terjadi pada penderita serangan jantung yang berbaring selama beberapa hari dimana tungkai sangat sedikit digerakkan; atau pada penderita lumpuh yang duduk terus menerus dan ototnya tidak berfungsi. Trombosis juga bisa terjadi pada orang sehat yang duduk terlalu lama (misalnya ketika menempuh perjalanan atau penerbangan jauh). Gejala Sekitar 50% penderita tidak menunjukkan gejala sama sekali. Jika trombosis menyebabkan peradangan hebat dan penyumbatan aliran darah, otot betis akan membengkak dan bisa timbul rasa nyeri, nyeri tumpul jika disentuh dan teraba hangat. Pergelangan kaki, kaki atau paha juga bisa membengkak, tergantung kepada vena mana yang terkena. Beberapa trombus mengalami penyembuhan dan berubah menjadi jaringan parut, yang bisa merusak katup dalam vena. Sebagai akibatnya terjadi pengumpulan cairan (edema) yang menyebabkan pembengkakan pada pergelangan kaki. Jika penyumbatannya tinggi, edema bisa menjalar ke tungkai dan bahkan sampai ke paha. Pagi sampai sore hari edema akan memburuk karena efek dari gaya gravitasi ketika duduk atau berdiri. Sepanjang malam edema akan menghilang karena jika kaki berada dalam posisi mendatar, maka pengosongan vena akan berlangsung dengan baik. Gejala lanjut dari trombosis adalah pewarnaan coklat pada kulit, biasanya diatas pergelangan kaki. Hal ini disebabkan oleh keluarnya sel darah merah dari vena yang teregang ke dalam kulit. Kulit yang berubah warnanya ini sangat peka, cedera ringanpun (misalnya garukan atau benturan), bisa merobek kulit dan menyebabkan timbulnya luka terbuka (ulkus, borok).

a. Definisi Obstruksi pada vena oleh bekuan darah tanpa didahului oleh reaksi inflamasi pada dinding vena akibat adanya gangguan actor koagulan b. Lokasi terjadinya DVT proksimal: proximal dari vena sentral DVT distal: iliaka, femoral, popliteal c. Kondisi yang berhubungandengan DVT / etiologi: Operasi, x: umum, ortopedi Neoplasma Trauma/fraktur Imobilisasi, x: pasien CHF & lumpuh Kontrasepsi oral Estrogen, x: kontrasepsi & HRT Hamil Hiperkoagulatif faktor Venulitis Sepsis Obesitas Pernah DVT Artroskopi: inspeksi kavitas sendi melaui tindak operasi untuk tujuan biopsy d. Faktor resiko: pengguna indwelling vena central catether

e. Manifestasi klinis Anamnesis: Kaki bengkak & nyeri RPD & RPK: pernah terdapat DVT atau thrombosis faktor resiko Fisik: Edema tungkai unilateral: iliaka, femoral, popliteal. Banyak di lower extrimity Eritema Warmth/hangat cord/ tonjolan peningkatan turgor jaringan Distensi vena superfisial Vena kolateral Tanda houman (+): nyeri & peningkatan resistensi ketika kaki yang edema dorsofleksi Kulit: Phlegmasia cerculea dolens: sianotik/ biru2 Phlegmasia alba dolens: pallor di tunkai yang bengkak Laboratorium: peningkatan D-dimer antitrombin Tambahan: Noninvasif Duplex Venous USG: Untuk: mengetahui adanya vena kolaps dan kompresi vena Negative pada wanita hamil pada daerah pelvis, iliaka, & v. cava Lebih sensitif & spesifik pada DVT proximal USG Dppler: Untuk: mengetahui kecepatan aliran darah aliran darah menurun pada kondisi: gangguan respirasi & kompresi vena Lebih sensitif & spesifik pada DVT proximal MRI: Untuk: mengetahui thrombosis pada vena cava & vena pelvis Untuk wanita hamil Invasif Venografi/ phlebografi Untuk: mengetahui defek atau tidak adaknya blood filling di vena tersebut Pada DVT: betis, paha, ileofemoral Kerugian: pasang kateter syok, injeksi kontaras/ yodium alergi

f. Dd Ruptur otot Kista popliteal yang ruptur Trauma Hemoragi Limfedema Identifikasi masalah 1. Edema kaki dan nyeri 2. anti-trombin menurun Prioritas masalah 1. penurunan anti-trombin Karena pada DVT , penurunan anti-trombin emboli paru gangguan perfusi O2-darahjaringan hipoxia iskemik nekrosis bahkan kematian 2. Edema kaki+nyeri Karena tergantung etiologinya berbeda-beda dan organ-organ yang terlibat seperti jantung (CHF), renal (sindroma nefrotik), hati(HCC), pembuluh darah (emboli+trombosis), & wucheria bancrofti. Beda etiologi berakibat beda dampak + tatalaksana Analisis & sintesis 1. anti-trombinmenurun a. etiologi: - gangguan faktor koagulasi: kongenital hemofiliaA hemophilia B vWD disease: < factor VIII anti-trombin didapat defisiensi vit.K vit. K adalah kofaktor karboxilasi untuk residu protein rotrombin kompleks. Sehingga def vit.K gangguan produksi factor II, VII, IX, X anti-trombinmenurun penyakit Hati menyebabkan penurunan seluruh faktor kecuali factor IIIV (kan vWD gtu!!) antitrombinpenurunan peningkatan PT, (n)/ peningkatan PTT - gangguan trombotik: thrombosis (dvt, superficial thrombosis vein, dll) hiperkoagulasi antitrombin (n) namun pada penyakit ini lebih cenderung mudahterjadi bekuan darah trombofilia herediter/ primer: def anti-trombinIII, def protein C & S (untuk produksi factor II, IX, X), fibrinolisis defek, mutasi factor v Leiden ( inaktivasi factor C), dll sekunder : imobilisasi, malignansi sisteik, MPD, terapi estrogen (penurunan AT-III & tPA), sindroma antibody antifosfolipid

trauma endothelial: memacu proses fisiologis hemostasis gangguan aliran darah. Pada gangguan jantung, aliran darah Cuma mengalir di 1 daerah cenderung membentuk emboli.misalny pada gangguan atrial fibrillation b. dampak: peningkatan fibrin & sel- sel darah thrombosis peningkatan degradasi fibrin peningkatan D-dimer Misalnya: Hipoxia, Iskemik, dan nekrosis SVT DVT Emboli paru stroke c. mekanisme: tergantung di etiologi (liat di atas) 2. edema tungkai +nyeri etiologi+mekanisme jantung CHF: karena adanya gangguan venous return. pitting edema tanpa nyeri, warna kulit normal renal (sindroma nefrotik) hipoglobulin edema anasarka + pitting + (-) nyeri hati(HCC) penurunan produksi lipoprotein yang berikatan dengan globulin edema + pitting + (-) nyeri pembuluh darah (emboli+trombosis) stasis vena, peningkatan prokoagulan, Ganggguan dinding pembuluh darah obstruksi vena+ kompresi saraf edema tungkai unilateral + kulit (ada bagian yang pallor & sianotik)+ non pitting+ eritema+ warmth+nyeri wucheria bancrofti edema tungkai bilateral dampak: gangguan perfusi O2 ke jaringan distensi vena superficial turgor jaringan meningkat Simpulan kasus Mr. XXX / mrs. XXY (biasanya pada ibu hamil)mengalami edema tungkai + nyeri karena antitrombin menurun yang dipengaruhi oleh factor resiko (indwellin vein catether)& keadaan pasien (pasca operasi ortopedi & umum, hamil, imobilisasi, RPK-RPD pernah trombosis)

Tatalaksana Tujuan terapi: Stop peningkatan thrombus Batasi progresivitas edema tumgkai Lisis & buang bekuan darah (trombektomi) Cegah: disfungsi vena, emboli paru & past-thrombotic syndrome Medikamentosa & non medikamentosa: Antikoagulan Unfractioned heparin/ low molecular weight heparin i.v 18 IU/kg BB/ jam cek trombosit, PTT, APTT meningkat 2x heparin subkutan ESO: trombositopenia [heparin- induced thrombositopenia/ HIT], thrombosis arterial, & iskemia Warfarin [bareng heparin] Efek: full antikoagulan Beri di minggu pertama selama 4-5 hari, lalu stop warfarin. Karena efeknya akan overlapping dengan heaparin dan warfarin tidak efektif lagi Trombolitik Tujuan: lisis thrombus x: streptokinase, urokinase & tPA kurang efektif untuk cegah emboli paru Trombektomi Bila terdapat: 1. Trombosis vena ileofemoral akut 2. Fistula arteriovena Filter vena kava Untuk DVT Proksimal cegah emboli paru Jangan lupa!!! 1. Attitude 2. Komunkasi 3. Sistematika berpikir i. Komplikasi Emboli paru Kematian Post-thrombotic syndrome Trombositopenia j. Prognosis Baik bila diagnosis & terapi cepat & tepat serta menggunakan profilaksis

TROMBOSIS VENA DALAM (Faktor Risiko, Patogenesis, Diagnosis dan Pengobatan) Nuzirwan Acang Bagian Penyakit Dalam FK. Unand/RSUP DR. M. Djamil Padang Abstrak Trombosis adalah terjadinya bekuan darah di dalam sistem kardiovaskuler termasuk arteri, vena, ruangan jantung dan mikrosirkulasi. Secara umum trombus lebih banyak ditemukan pada pada arteri atau pada vena, trombus arteri di sebut trombus putih karena komposisinya lebih banyak trombosit dan fibrin sedangkan trombus vena di sebut trombus merah karena terjadi pada aliran darah yang lambat yang menyebabkan sel darah merah terperangkap dalam jaringan fibrin sehingga berwarna merah. Berdasarkan Triad of Virchow terdapat 3 faktor yang berperan dalam patogenesis terjadinya trombosis pada arteri atau vena yaitu kelainan dinding pembuluh darah, perubahan aliran darah dan perubahan daya beku darah. Terdapat faktor resiko timbulnya trombosis vena, antara lain Defisiensi Anti trombin III, protein C, protein S dan alfa 1 anti tripsin.; Tindakan operatif, Kehamilan dan persalinan, Infark miokard dan payah jantung Keluhan dan gejala trombosis vena dalam dapat berupa nyeri, pembengkakan, perubahan warna kulit dan sindroma post trombosis. Diagnosis ditegakkan melalui Venografi, Flestimografi impendans dan Ultrasonografi (USG) Dopple. Kata Kunci : Trombosis, vena, aliran darah