Anda di halaman 1dari 2

RESUME JURNAL

Artritis reumatoid adalah penyakit autoimun dengan karakteristik adanya inflamasi kronik pada sendi disertai dengan manifestasi sistemik seperti anemia, fatique, dan osteoporosis. Pasien mengalami nyeri kronis serta peningkatan disabilitas, yang bila tidak diobati, dapat menurunkan angka harapan hidup. Hampir 90% penderita AR mengeluhkan masalah pada tangan. Keterlibatan sendi pergelangan tangan, metacarpophalangeal (MCP) dan proximal inter phalangeal (PIP) hampir selalu dijumpai, sementara keterlibatan distal interphalangeal (DIP) lebih jarang dijumpai. Bentuk awal dari deformitas adalah tenosinovitis yang menyebabkan tendon menjadi lemah, memanjang, bahkan ruptur. Selain itu, penderita AR dengan keterbatasan mobilitas memiliki kemungkinan terjadinya penurunan kekuatan otot sebesar 30-70% dibandingkan orang normal, dengan penurunan endurans mencapai 50%. Secara fungsional, kelainan tangan pada AR secara dramatis dapat mengurangi kapasitas fungsi lengan secara kese-luruhan, salah satunya adalah gangguan pada deksteritas tangan. Selain secara farmakologis, penatalaksanaan AR juga mencakup program rehabilitasi medik, seperti terapi istirahat, latihan terapeutik, terapi dengan modalitas fisis, ortosis, terapi okupasi dan terapi psikologis. Pemberian latihan bergantung dari tahapan penyakit pasien. Pada tahap akut diperlukan latihan lingkup gerak sendi dengan pelan untuk tetap mempertahankan lingkup gerak sendi, istirahat untuk mengurangi pembengkakan dan nyeri serta posisi yang tepat untuk mencegah deformitas. Pada tahap subakut bila nyeri dan bengkak mulai berkurang, latihan dan aktivitas ditingkatkan sesuai toleransi penderita. Prinsip perlindungan sendi dan konservasi energi dapat diajarkan saat ini. Pada tahap kronis, penatalaksanaan ditekankan pada perlindungan sendi, mempertahankan aktivitas sehari-hari dan latihan untuk meningkatkan kekuatan serta daya tahan otot. Pada penelitian yang berjudul Efek Program Latihan Tangan di Rumah terhadap Deksteritas Bimanual Penderita Artritis Reumatoid oleh Wini Widiani, Siti Annissa Nuhonni, I Nyoman Murdana,Sumariyono, dan Saptawati Bardosono ini metode penelitiannya adalah desain studi kuasi eksperimen (pre- dan post-test). Sampel atau subjek penelitian diambil dengan metode consecutive sampling. Kriteria penerimaan pada penelitian ini adalah pria dan wanita, usia 16-60 tahun, memenuhi kriteria ARA tahun 1987,14 telah mendapat pengobatan DMARD minimal 6 bulan, serta bersedia mengikuti program penelitian dan mengisi formulir persetujuan.

Semua subjek mendapat penjelasan mengenai program penelitian. Subjek yang bersedia mengikuti program penelitian menandatangani surat persetujuan untuk mengikuti penelitian. Subjek mengisi formulir data dasar lalu anamnesis dan pemeriksaan fisik dilakukan oleh peneliti untuk mengetahui status general dan mendapatkan data awal berupa: nilai lingkup gerak sendi, kekuatan genggam, dan dekteritas bimanual (SODA). Subjek diberi edukasi mengenai penyakit artritis rematoid dan leaflet perlindungan sendi. Subjek mendapat pelatihan mengenai latihan lingkup gerak sendi dan penguatan otot tangan yang terstandarisasi serta diminta untuk melakukannya di rumah dua kali sehari, diawali dengan lima repetisi setiap gerakan, setiap hari. Setiap gerakan dilakukan dengan pelan. Untuk latihan penguatan, setiap gerakan dilakukan dengan mengontraksikan otot pada sendi yang dimaksud dengan batas nyeri, ditahan selama enam detik dengan periode istirahat 20 detik. Jumlah repetisi dan frekuensi dikurangi (tiga repetisi, sekali sehari) bila didapatkan nyeri yang menetap 2 jam setelah melakukan latihan, timbul nyeri pada latihan sebelumnya atau timbul pada awal latihan, sendi bertambah bengkak, hangat atau kemerahan. Bila jumlah repetisi telah dikurangi namun nyeri tidak juga menghilang, maka latihan dapat dihentikan dan dilanjutkan pada hari ketika nyeri telah menghilang atau berkurang. Pengulangan latihan dapat ditingkatkan sesuai toleransi, sampai mencapai 10 kali. Setiap kali selesai berlatih, subjek mengisi buku harian latihan. Latihan dilakukan sampai mencapai enam minggu. Setiap dua minggu dilakukan evaluasi mengenai pengetahuan tentang perlindungan sendi, latihan yang dilakukan di rumah, dan deksteritas bimanual. Setelah enam minggu, dilakukan evaluasi akhir untuk menilai: deksteritas bimanual, kekuatan genggam, dan lingkup gerak sendi tangan. Hasil peneltian didapatkan bahwa Latihan tangan konservatif selama enam minggu dapat meningkatkan fungsi bimanual. Penelitian lanjutan dengan jumlah sampel yang lebih besar, waktu yang lebih panjang dan adanya kelompok kontrol perlu dilakukan untuk menilai efek latihan tangan yang bebas dari pengaruh faktor perancu.