Anda di halaman 1dari 24

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Negara maritim Indonesia terletak dari empat lempeng benua dan samudera, yaitu lempeng Eurasia, Australia, Pasifik, dan Philippine. Dinamika pertemuan lempeng-lempeng ini menghasilkan spektrum topografi yang bervariasi, serta aktivitas kegempaan dan vulkanisme yang relatif aktif. Karena geodinamikanya relatif. Hal ini memicu semakin banyaknya kejadian bencana yang sering terjadi di Indonesia dan para ilmuwan semakin gencar melaksanakan penelitian untuk mengatasi masalah-masalah yang terjadi, diantarnya yaitu penelitian masalah deformasi struktur. Deformasi diartikan sebagai pergerakan suatu titik pada suatu benda dimana titik terletak pada benda artinya titik tersebut memiliki posisi dalam sistem koordinat tertentu. Dalam hal ini deformasi sangat diperlukan untuk memantau kondisi suatu lokasi yang rawan untuk menghindari terhadap gejala penurunan bumi sepeti kejadian yang sudah ada belakangan ini. Pada praktikum kali ini kami melakukan analisa pada jembatan layang dengan menggunakan media foto untuk mengetahui besarnya penurunan yang terjadi terhadap jembatan sudah ada. layang, selain itu praktikum ini juga untuk belajar mengaplikasikan objek dalam bentuk 3D pada software aplikasi deformasi yang

1.2. Tujuan Praktikum Adapun tujuan dari praktikum survei deformasi struktur ini adalah : a) Mahasiswa memahami konsep tentang deformasi struktur. b) Mahasiswa mampu melakukan konfigurasikan data foto. c) Mahasiswa mampu menganalisis deformasi dan uji statistiknya. d) Mahasiswa memahami konsep parameter parameter dalam deformasi.

e) Mahasiswa dapat melakukan proses untuk mendapatkan data titik dalam ruang tiga-dimensi pada tiap epoch (waktu) akan menggunakan proses fotogrametri. f) Mahasiswa mampu mengaplikasikan perangkat lunak fotogrametri australis 6.05. 1.3. Batasan praktikum Proses pengolahan data epoch dengan software australis Proses perhitungan data epoch di excel Uji statistik untuk menggunakan software statext v15 Pembuatan laporan

BAB II
2

DASAR TEORI

2.1. Konfigurasi Data Foto Dalam berbagai jenis pekerjaan fotogrametri, langkah mendesain jaringan merupakan faktor terpenting untuk mendapatkan tingkat akurasi yang tinggi. Hal pokok dalam mendesain konfigurasi pemotretan dalam suatu pekerjaan fotogrametri antara lain jarak maksimum kamera terhadap objek, diameter target, jumlah dan distribusi titik-titik foto, dan sudut pengambilan (A. Shirkhani Saadatseresht, 2006). Jarak maksimum kamera terhadap objek memiliki pengaruh terhadap diameter target yang digunakan sebagai Premark, sehingga dari hubungan tersebut didapat sebuah persamaan untuk mendesain jarak pemotretan : r = ( p * fw *d )/( f * pw ) Dimana f merupakan panjang focus kamera, p merupakan jumlah piksel minimum target, d jarak kamere ke objek, r adalah diameter target, fw lebar CCD kamera, dan pw jumlah horisontal piksel foto. Untuk penentuan jumlah dan distribusi minimum dari titik-titik foto harus memenuhi persamaan : 2mn + 7 3n + 6m Persamaan diatas menjelaskan bahwa total jumlah persamaan yang digunakan untuk menghitung jumlah 3n + 6m parameter adalah 2mn + 7. Dengan kata lain untuk mendapatkan nilai solusi yang unik dalam menyelesaikan sebuah persamaan minimum dibutuhkan 4 titik (n) dan 3 buah foto (m) atau 5 titik (n) dengan 2 buah foto (m). Kisaran besaran sudut pengambilan tiap stasiun pemotretan dalam fotogrametri terrestrial, berkisar antara 90 - 120 dengan menambahkan rotasi 90 kekiri dan kekanan untuk tiap stasiun pengambilan data foto.

2.2. Perataan Jaringan Pemotretan ( Bundle Adjusment )

Bundle Adjustment adalah proses penentuan atau perhitungan parameter IO, EO dan koordinat obyek secara serempak bersamaan dengan menggunakan teknik hitung kuadrat terkecil (Brown, 1974; Heindl, 1981; Schut, 1980 and Triggs, McLauchlan, Hartley and Fitzgibbon, 2000). Dalam dekade sepuluh tahun terakhir teknik ini menjadi cara yang paling efisien untuk memproses data pemotretan seperti yang dilaporkan oleh Trigs et al. (2000). Maka dengan metode Helmert Blocking (Wolf, 1978), maka persamaan normalnya dapat dituliskan sebagai:

Diamana P disini adalah matrik bobot dari ketelitian pengukuran koordinat foto dijital:

Disini sx dan sy adalah standard error dari ukuran titik obyek ke-j pada foto ke-i dari total n titik obyek dan m buah foto. Persamaan dapat ditulis menurut notasi Brown (Brown, 1974) sebagai berikut:

Persamaan ini merupakan pengembangan dari persamaan kolinier dan setiap elemen didalamnya didefinisikan sebagai:

Dimana N dan Nij adalah sub-matrik dari matrik blok-diagonal, dimana blok N merujuk pada parameter EO and Nij mengacu pada koordinat titik-titik obyek seperti yang tersaji pada Rumus dibawah ini.

Dimana:

Persamaan di atas adalah teknik Bundle Adjustment untuk mendapatkan nilai parameter EO dan koordinat titik obyek didalam sistem kartesian 3D. Jika titiktitik obyek ini ingin dihitung dengan tingkat keakurasian yang lebih tinggi lagi, maka kesalahan sistematis didalam kamera harus dimodelkan.

2.3. Analisis Deformasi Analisis Deformasi ada dua macam di antaranya : Analisis Geometrik : Bila kita hanya tertarik pada status geometrik (ukuran dan dimensi) dari benda yang terdeformasi.

Analisis Fisis : Bila kita bermaksud untuk menentukan status fisis dari benda yang terdeformasi, regangan, dan hubungan antara gaya dengan deformasi yang terjadi. Dalam analisis fisis deformasi, hubungan antara gaya dan deformasi dapat

dimodelkan dengan menggunakan metoda empiris (statistik), yaitu melalui korelasi antara pengamatan deformasi dan pengamatan gaya. Metoda lain dalam analisis fisis yaitu metoda deterministik, yang memanfaatkan informasi dari gaya, jenis material dari benda, dan hubungan fisis antara regangan (strain) dan tegangan (stress) pada benda.

2.4. Penyamaan Sistem Datum ( Transformasi Koordinat ) Penyelesaian suatu persoalan fisis dapat lebih mudah dianalisa bila menggunakan sistem koordinat yang tepat. Ini berkaitan dengan perubahan cara pandang, misalnya persoalan gerak parabola umumnya dianalisa dengan menggunakan sistem koordinat kartesian, sedangkan persoalan gerak melingkar dianalisa dengan menggunakan sistem koordinat polar. Persoalan fisis yang dianalisa tidak bergantung pada sistem koordinat yang digunakan. Hasil yang diperoleh seharusnya tidak terpengaruh pada cara pandang yang digunakan. Persoalan yang dirumuskan dalam suatu sistem koordinat bila akan diselesaikan dengan sistem koordinat yang lain memerlukan suatu langkah transformasi koordinat yang dirumuskan menggunakan matriks transformasi.

2.5. Uji Statistik Uji statistik atau di sebut juga statistik test (F) adalah uji untuk menentukan nilai kesetabilan dari proses perhitungan di excel. Untuk menentukannya dilakukan dengan bantuan software statext v15. Untuk proses hitungannya di lakukan langkah sebagai berikut : buka statext v15 kemudian pilih tabel lalu masukan nilai alpha yaitu 0.05, 0.1 dan 0.01. setelah itu masukan nilai rank dan Dof totalnya setelah itu klik ok, maka nilainya akan keluar. Nilai tersebut digunakan untuk uji statistik di

tabel excel yang telah di buat untuk di bandingkan dengan nilai Total. Apabila nilai T > F maka hasilnya tidak stabil, tapi sebaliknya bila nilai T < F maka nilai di anggap stabil.

2.6. Parameter Deformasi Deformasi dari suatu benda/materi dapat digambarkan secara penuh dalam bentuk tiga dimensi apabila diketahui 6 parameter regangan ( normal-shear) dan 3 parameter komponen rotasi. Parameter deformasi ini dapat dihitung apabila diketahui fungsi pergeseran dari benda tersebut persatuan waktu. Adapun Parameter - parameter deformasi meliputi : 1. Tegangan (Stress) Tegangan adalah gaya (F) per luas permukaan (A) yang diteruskan ke seluruh material melalui medan-medan gaya antar atom. Pada umumnya arah tegangan miring terhadap luas A tempatnya bekerja dan dapat diuraikan menjadi dua komponen, yaitu: a) Tegangan Normal (Normal Stress), tegak lurus terhadap luas A. b) Tegangan Geser (Shear Stress), bekerja pada bidang luas A.

Gambar 2.1. Komponen Tegangan

Keterangan: : tegangan normal searah sumbu Y. : tegangan geser tegak lurus sumbu Y sejajar sumbu Z. : tegangan geser tegak lurus sumbu Y sejajar sumbu X. 2. Regangan (Strain)

Perpindahan partikel suatu benda elastis selalu menimbulkan terjadinya perubahan bentuk benda tersebut. Perubahan bentuk suatu benda elastis dikaitkan dengan regangan, maka perubahan bentuk tersebut dipandang sebagai perubahan bentuk yang kecil. Dalam sistem koordinat kartesian tiga dimensi, perpindahan kecil partikel yang berubah bentuk diuraikan dalam komponen uX, uY dan uZ yang masingmasing sejajar terhadap sumbu koordinat kartesian X, Y dan Z.

Gambar 2.2. Elemen Kecil Benda Plastik dan Komponen Regangan (a) Komponen Regangan; (b) Elemen Kecil Benda Elastis

3. Rotasi
Rotasi merupakan perubahan posisi materi tanpa mengalami perubahan bentuk yang membentuk perubahan sudut terhadap koordinat acuan. Sebagai gambaran bentuk rotasi dapat dilihat pada gambar sebagai berikut:

Gambar 2.3. Komponen Rotasi

BAB III PELAKSANAAN PRAKTIKUM

3.1. Proses di Australis Dalam praktikum survei deformasi ini, proses untuk mendapatkan data titik dalam ruang tiga-dimensi pada tiap epoch (waktu) akan menggunakan proses fotogrametri. Secara umum, proses fotogrametri ini sangat sulit untuk diterapkan apabila dilakukan secara manual, sehingga pada proses praktikum ini akan digunakan sebuah perangkat lunak fotogrametri yaitu Australis 6.05. Adapun proses pengolahan data tiap epoch pada perangkat lunak Australis 6.05 akan dijelaskan sebagai berikut : 1. Siapkan sebuah folder kosong, kemudian masukan data foto yang akan diolah sebagai data awal proses fotogrametri. Hal ini sangat penting dilakukan, karena pada aplikasi ini akan secara otomatis menyimpan seluruh hasil proses fotogrametri dalam folder data tersebut.

2. Buka aplikasi Australis 6.05 dengan melakukan double-klik pada icon Australis 6.05 yang berada pada desktop. Sehingga, akan muncul sebuah tampilan awal aplikasi sebagai berikut.

Gambar 3.1. Tampilan Aplikasi Australis

3. Untuk memulai Project baru, klik

atau melalui menu File New. Kemudian

akan muncul sebuah jendela Define Project Units Cawang salah satu pilihan
9

OK untuk menentukan jenis satuan ukuran yang akan digunakan (meter, centimeter, milimeter, dsb).

Gambar 3.2. Tampilan Unit Project

4. Sebelum melakukan pengolahan foto, terlebih dahulu melakukan setting terhadap nilai parameter keluaran yang dibutuhkan dengan cara klik pada menu Project Preference Muncul jendela Australis Preference Tab Output. Berikan tanda cawang pada tiap pilihan Bundle Adjustment Output, seperti pada gambar dibawah ini, kemudian klik OK.

Gambar 3.3. Tampilan Reference Australis

5. Selanjutnya, klik-kanan pada Camera Database Add Camera Database. Sehingga akan muncul sebuah jendela Camera Input seperti di bawah ini.

10

Gambar 3.4. Tampilan Database Camera

Isi tiap kolom parameter dengan data Id Camera, ukuran sensor kamera, ukuran piksel, dan 10 parameter kalibrasi kamera berupa panjang fokus, principle point (x,y), 3 parameter distorsi radial, 2 parameter distorsi decentring, dan 2 parameter distorsi affinity. Klik OK untuk menyimpan data parameter kamera. 6. Untuk memulai proses pengolahan data foto pada Project, klik-tahan Camera Database arahkan / letakkan pada icon sehingga akan muncul icon Database. pada

(nama Project)

yang sama dengan Id Camera pada Camera

Gambar 3.5. Tampilan Memulai Proses dari database

7. Simpan Project untuk pertama kali, dan secara otomatis akan muncul jendela Save As seperti dibawah ini.

11

Gambar 3.6. Tampilan Menyimpan Project

Beri nama Project sesuai keinginan anda kemudian klik Save. Perlu di ingat File Project (*.aus) harus disimpan satu folder bersama dengan file foto yang akan diolah.

8. Setelah seluruh parameter kamera berada pada struktur Project.aus, langkah selanjutnya ialah melakukan input data foto dengan cara klik-kanan pada yang berada didalam Project.aus Set Image File Directory Open. Seluruh file foto akan secara otomatis masuk kedalam struktur Project.aus.

Gambar 3.7. Tampilan Memasukkan Foto Obyek

9. Apabila seluruh data foto yang akan diolah telah masuk ke dalam Project yang telah dibuat, proses selanjutnya ialah melakukan ekstraksi data koordinat foto

12

menggunakan metode centroid dengan cara : double-klik pada muncul sebuah jendela yang berisikan sebuah foto aktifkan icon

pada

toolbar kemudian arahkan pointer ke tengah-tengah sticker retro-target klik target muncul tanda silang dan nomor id titik yang menandakan target telah ditandai.

Gambar 3.8. Tampilan Measure pada target retro

Lakukan langkah di atas pada seluruh titik retro-target yang terlihat pada foto tersebut.

10. Selanjutnya

ialah

melakukan

proses

Relative

Orientation

untuk

mengorientasikan data foto lain terhadap data foto Image001. Proses ini dapat dilakukan dengan cara klik Adjust Relative Orientation sehingga akan muncul jedela relatif orientasi sebagai berikut :

Gambar 3.9. Tampilan Relatif Orientasi

Pada jendela Relative Orientation set Left Image dengan Image001 yang telah diproses pada point 9 set Right Image dengan data foto yang memiliki

13

basis pemotretan yang lebih besar terhadap Image001 ekstraksi data koordinat foto untuk data foto Right Image dengan cara yang sama sesuai dengan point 9 Compute RO apabila nilai Measured Points memiliki nilai kurang dari sama dengan 1.00 klik Accept jika tidak, ulangi dengan konfigurasi foto dan titik yang lain. Setelah proses ini dilakukan, maka akan secara otomatis muncul sebuah file ROArray pada folder 3D Data.

Gambar 3.10. Tampilan File ROArray di 3D DAta

11. Setelah proses Relative Orientasi sukses dilakukan, proses selanjutnya ialah proses Intersection. Adapun prosedur pelaksanaan proses intersection dapat dilakukan dengan cara klik Adjust Triangulate Intersect apabila nilai RMS of Residual kurang dari sama dengan 1.00 Accept jika tidak Reject.

Gambar 3.11. Tampilan Triangulate

Setelah proses ini dilakukan, maka akan secara otomatis muncul sebuah file Triangulate pada folder 3D Data.

14

Gambar 3.12. Tampilan File Triangulate di 3D Data

12. Proses fotogrametri selanjutnya ialah proses Resection. Proses ini dilakukan untuk tiap data foto yang belum terorientasi. Prosedur pelaksanaannya ialah terlebih dahulu melakukan proses ekstraksi data koordinat foto sesuai dengan point 9 untuk seluruh titik yang terekam dalam foto. Selanjutnya apabila seluruh proses ekstraksi data foto telah selesai dilakukan untuk semua foto klik Adjust Resect All Project Images OK. Pastikan Nilai RMS lebih kecil sama dengan 1.00.

Gambar 3.13. Tampilan Nilai RMS pada semua Obyek

13. Ulangi proses pada point 11 untuk melakukan proses Intersection untuk seluruh data foto.

14. Proses terakhir meupakan proses Self Calibrating Bundle Adjustment yang mana proses ini merupakan proses perataan secara keseluruhan untuk seluruh parameter Kamera, Parameter Eksterior Orientasi, Parameter Koordinat Tigadimensi secara bersama-sama. Adapun prosesnya dapat dilakukan dengan cara klik Adjust Run Bundle Go apabila aplikasi menunjukkan tanda hijau maka klik Accept sebaliknya apabila tanda merah Reject.

15

Gambar 3.14. Tampilan Kalibrasi Bundle Adjustment

Setelah proses ini dilakukan, maka akan secara otomatis muncul sebuah file Bundle pada folder 3D Data.

Gambar 3.15. Tampilan File Bundle di 3D Data

15. Keseluruhan hasil proses fotogrametri ini tersimpan dalam 3 jenis file ekstensi. Ketiga ekstensi tersebut antara lain : a. Ekstensi *.txt yang diantaranya ialah : Bundle.txt Camera.txt Correlation.txt PointQxx.txt Resection.txt Triangulate.txt Residual.txt

16

b. Ekstensi *.xyz yang diantaranya : Bundle.xyz ROArray.xyz Triangulate.xyz

c. Ekstensi *.icf *Imagename.icf (* : nama file data foto).

16. Untuk proses pengolahan data epoch yang lain dilakukan sama seperti proses pada point 1-14. 17. Setelah seluruh data epoch telah diolah, selanjutnya ialah proses penyamaan system datum. Proses ini dapat dilakukan dengan cara transformasi tiga-dimensi. Dalam proses ini dibutuhkan titik kontrol yang dapat diambil dari salah satu epoch yaitu file Bundle yang berekstensi *xyz. dan disusun dalam sebuah notepad dengan format sebagai berikut.

Gambar 3.16. Tampilan data penyamaan sistem datum

Dan disimpan dalam ekstensi *.xyz. 18. Buka Project epoch 2 kemudian lakukan proses transformasi dengan cara klik-kanan pada Bundle Transform pilih file Controlpoint berekstensi *.xyz yang baru dibuat pada proses point 17 Open Go.

17


Gambar 3.17. Tampilan Tranformasi sistem datum

Apabila nilai Residual RMS dan Sigma0 dirasa cukup kecil maka klik Accept, jika tidak klik Reject dan ulangi proses tersebut dengan mengganti nilai titik konrol yang memiliki nilai akurasi yang cukup.

3.2. Proses Perhitungan Uji Statistik di Statext Adapun proses perhitungan uji statistik data pada aplikasi Statext akan dijelaskan sebagai berikut : 1. Buka aplikasi Statext V15 dengan melakukan double-klik pada icon Statext V15. Sehingga, akan muncul sebuah tampilan awal aplikasi sebagai berikut.

Gambar 3.18. Tampilan Aplikasi Statext V.15

2.

Setelah Aplikasi terbuka langkah selanjutnya adalah dengan klik menu Tables F-Distribution.

18

Gambar 3.19. Tampilan F-Distribusi di Statext V.15

3.

Maka akan muncul jendela F-Distribution, isi data dengan memasukkan nilai Rank pada V1 dan nilai DOF Total (Pada Perhitungan data) pada V2 dan pilih Alpha dari 0.1, 0.05, dan 0.01, dalam kasus ini nilai V1=3, V2=1610, Klik OK.

Gambar 3.20. Tampilan memasukkan data yang diuji statistik

4.

Setelah klik OK, maka akan muncul data Result seperti pada gambar. Ambil nilai datanya yaitu 2,09.

19

Gambar 3.21. Tampilan Result data Statext V.15

BAB IV ANALISA HASIL

4.1. Data Titik Tiap Epoch Berikut adalah hasil data koordinat pada epoch 1 dan epoch 2 : Sample data epoch 1 :

20

Sample data epoch 2 hasil dari proses transformasi :

Dari data sample di atas koordinat pada epoch 1 dengan epoch 2 sudah sama dengan selisih standar error yang kecil dan data hasil transformasi epoch 1 sudah bisa di jadikan sebagai data koordinat epoch 2.

Data Bundle Adjustment Epoch 1

21

Dari tabel data Bundle Adjustment di atas dapat dianalisa bahwa nilai RMS-nya memenuhi kriteria untuk melakukan proses Bundle sebab nilai RMS-nya di bawah 0.xxx. dan dari tabel di atas nilai DoF dan So juga dapat di gunakan untuk analisa perhitungan dalam excel.

Data Bundle Adjustment Epoch 2

Dari tabel data Bundle Adjustment epoch 2 di atas dapat dianalisa bahwa nilai RMS-nya memenuhi kriteria untuk melakukan proses Bundle sebab nilai RMSnya di bawah 0.xxx. dan dari tabel di atas nilai DoF dan So juga dapat di gunakan untuk analisa perhitungan dalam excel.

Data Perataan Jaringan ( Data Trans ) dari Epoch 1 ke Epoch 2

Dari data parameter diatas dapat dianalisis bahwa standard error dari data tersebut sudah bagus karena nilainya dibawah 0.xxx. sehingga hasil dari transformasi data Bundle epoch satu dapat di jadikan sebagai data koordinat pada epoch 2 untuk menyamakan koordinat titik-titik yang di foto pada epoch 1. (hasilnya dapat dilihat pada sampel data di atas).

22

4.2. Data Uji Statistik


STATISTIC TEST (F) 90% 95% 99% a = 0.1 a = 0.05 a = 0.01 2.09 2.09 2.09 2.09 2.09 2.61 2.61 2.61 2.61 2.61 3.79 3.79 3.79 3.79 3.79 ANALISYS T>F T<F stabil stabil stabil stabil stabil T>F T<F stabil stabil stabil stabil stabil T>F T<F stabil stabil stabil stabil stabil

T 0.002 4 0.001 6 0.001 7 0.002 1 0.000 2

Dari data uji statistik di atas telah jelas bahwa data tersebut sudah stabil. Terlihat di atas analisis T terhadap F memenuhi standar kestabilan.

4.3. Data Deformasi Titik

Dari data di atas dapat dianalisa kesalahan ellipsoid untuk tiap titik yaitu sangat kecil, karena terlihat koordinat horisontal suatu titik relatif terhadap titik yang lainnya.

BAB V PENUTUP 5.1. Kesimpulan

23

Dari praktikum survei deformasi struktur ini dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : Mahasiswa setelah melaksanakan praktikum survei deformasi struktur dapat mengerti tentang deformasi dan dapat mengoprasikan atau menggunakan software untuk aplikasi survei deformasi seperti software Australis, software statext dan software yang lainya. Mahasiswa dapat melakukan proses Bundle Adjustment dengan menggunakan software untuk aplikasi deformasi seperti software Australis dan software untuk aplikasi deformasi yang lainya. Mahasiswa dapat melakukan proses relative orientation, intersection, Bundle Adjustment dengan menggunakan software Australis untuk mencari nilai koordinat pada epoch 1. Mahasiswa juga dapat melakukan transformasi koordinat dari data epoch 1 untuk dijadikan data koordinat pada epoch 2. Mahasiwa dapat melakukan proses uji statistik terhadap nilai total pada perhitungan yang dilakukan pada excel.

5.2. Saran Diperlukan banyak latihan dan pengalaman dalam menggunakan software untuk aplikasi deformasi seperti software Australis dan software untuk aplikasi deformasi yang lainya, sehingga mahasiswa dapat dengan mudah dan cepat dalam mengoprasikan software tersebut. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih, sebaiknya diberikan waktu yang cukup untuk belajar software tentang aplikasi deformasi.

24