Anda di halaman 1dari 16

TOKSIKOLOGI SIANIDA

NAMA KELOMPOK :

DEWA AYU INTEN SEPTIA DEWI I NYOMAN PRIANANTA PERMANA NI PUTU PUSPITA DEWI NI PUTU SRIWEDARI PUTU EKA ARISTYA PUSPANTI PUTU EKA MERISA DEWI

( 09.131.0132 ) ( 09.131.0143 ) ( 09.131.0159 ) ( 09.131.0160 ) ( 09.131.0168 ) ( 09.131.0169 )

STIKES WIRA MEDIKA PPNI BALI 2010 / 2011

PENDAHULUAN
Kasus yang Pernah Terjadi

Enam Tewas Keracunan Asam Sianida Pada Tiwul


Selasa, 18 Januari 2011 | 11:38 WIB kesehatananda.com

TEMPO Interaktif, Jepara - Zat asam sianida menjadi penyebab kematian enam korban anak pasangan Jamhamid (45) dengan Siti Junaiyah (40), warga Desa Jebol, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

Asam sianida (HCN) itu meracuni makanan tiwul (makanan dari tepung singkong). Diduga kuat asam sianida ini penyebab kematian enam korban, Ajun Komisaris Besar Ruslan Ependi, Kapolres Jepara, membeberkan hasil Laboratorium Kesehatan Daerah Provinsi Jawa Tengah dan Laboratorium Foreksik Kepolisian Daerah Jawa Tengah, Selasa (18/1). Korban tewas adalah Lutfiana (24), Abdul Amin (3), Ahmad Kusriyanto (5), M. Hisyam Ali (13), Faridatun Sholeh (15) dan Saidatul Kusniah (8). Menurut penuturan Jamhamid, mereka meninggal gara- gara sarapan pagi dengan makan tiwul. Sedangkan Jamhamid dan istrinya Siti Juaniyah selamat, karena keduanya belum sempat menikmati makanan tiwulnya. Bermula pada Jumat (31/12), Siti Junaiyah menanak tepung singkong untuk dibuat tiwul, untuk srapan pagi. Seusai tiwul matang, pagi itu, Jamhamid, Siti Junaiyah dan Fikri (74), orangtua Junaiyah, berikut enam putranya menyantapnya. Tapi pada sorenya, dalam waktu yang hampir bersamaan, mereka mengalami pusing dan mual lalu disusul muntah- muntah. Kami menyangka, mereka sakit masuk angin, kata Jamhamid. Tidak berapa lama, ketika masih di rumah, Lutfiana kejang- kejang dan tewas. Melihat kondisi korban lainnya tampak serius, kemudian sore itu mereka dilarikan ke RS PKU Muhammadiyah Mayong, dan oleh pihak PKU merujuknya ke RSUD RA.Kartini

Jepara. Setelah tiga hari kemudian, dalam perawatan rumah sakit, mereka bergantian kemudian tewas. Sedangkan Fikri, kondisinya kritis, sekarang sudah membaik. Hasil otopsi yang dilakukan tim medis dari Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda Jateng di bawah pimpinan Komisaris Hestry terhadap dua sample, yakni Abdul Amin dan A.Kusriyanto, terdapat jamur jenis aspergillus sp, melinium sp,dan negli sp pada makanan tiwul, potongan singkong, tepung ubi dan muntahan korban. Pada jamur tersebut terdapat kuman jenis enterobackter cloacoe, providencia rettgeri, bacillus sp dan citrobacktercliversus. Hasilnya positif teracuni asam sinaida (HCN), ujar Inspektur Satu Rismanto, Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Jepara. (Bandelan Amarudin)

Pengertian
Sianida adalah zat beracun yang sangat mematikan. Sianida telah digunakan sejak ribuan tahun yang lalu. Sianida juga banyak digunakan pada saat perang dunia pertama. Efek dari sianida ini sangat cepat dan dapat mengakibatkan kematian dalam jangka waktu beberapa menit. Hidrogen sianida disebut juga formonitrile, sedang dalam bentuk cairan dikenal sebagai asam prussit dan asam hidrosianik. Hidrogen sianida adalah cairan tidak berwarna atau dapat juga berwarna biru pucat pada suhu kamar. Bersifat volatile dan mudah terbakar. Hidrogen sianida dapat berdifusi baik dengan udara dan bahan peledak.Hidrogen sianida sangat mudah bercampur dengan air sehingga sering digunakan. Bentuk lain ialah sodium sianida dan potassium sianida yang berbentuk serbuk dan berwarna putih. Sianida dalam dosis rendah dapat ditemukan di alam dan ada pada setiap produk yang biasa kita makan atau gunakan. Sianida dapat diproduksi oleh bakteri, jamur dan ganggan. Sianida juga ditemukan pada rokok, asap kendaraan bermotor, dan makanan seperti bayam, bambu, kacang, tepung tapioka dan singkong. Selain itu juga dapat ditemukan pada beberapa produk sintetik. Sianida banyak digunakan pada industri terutama dalam pembuatan garam seperti

natrium, kalium atau kalsium sianida. Sianida yang digunakan oleh militer NATO (North American Treaty Organization) adalah yang jenis cair yaitu asam hidrosianik (HCN). Asam sianida adalah bersifat asam lemah, garam sianida baik KCN maupun NaCN dalam ruangan yang berkelembapan tinggi mudah bereaksi dan membentuk gas HCN : KCN + H2O

HCN + KOH

Bila kita membuka botol wadah yang berisi KCNdi dalam laboratorium kita akan membau gas HCN dengan contoh reaksi seperti di atas tersebut. Adanya air disekitar ruangan tidak cepat membentuk HCN, kecuali bila kita menghirup udara di sekitar ruangan tersebut, sehingga reaksi pembentukan gas HCN akan terjadi. Hubungan antara Konsentrasi HCN di Udara dengan Efek Bila Seseorang Menghirup Gas Tersebut Konsentrasi (mg/) 300 200 150 120 150 50 60 Efek Kematian dengan cepat Mati dalam waktu10 menit Mati setelah 30 menit Sangat berbahaya (fatal) setelh 30-60 menit. Dapat bertahan selama 20 menit 1 jam tanpa pengaruh. 20 40 Gejala ringan setelah beberapa jam

Sifat Fisika dan Kimia

Natrium sianida dan kalium sianida berbentuk bubuk putih dengan bau yang menyerupai almond. Adanya hidrolisis dari KCN dan NaCN, HCN dapat terbentuk dengan reaksi sebagai berikut: NaCN + H2O HCN + NaOH KCN + H2O HCN + KOH Natrium sianida dengan rumus kimia NaCN, merupakan padatan berbentuk kristal yang bersifat racun, dengan titik leleh dan titik didih masingmasing 5630oC dan 1490oC. Daya uap 1.1 x 106 mg/m3 pada 25 C 2.6 x 106 mg/m3
pada 12.9 C. Daya larut dalam air dan dalam bahan pelarut yang lain komplit pada suhu 250 C. Dapat dicampur sempurna pada bahan pelarut organik lainnya 6.9 g/100 mL pada 20 C. Bisa dicampur dengan bahan organik lainnya tapi campurannya tidak stabil. Dekontaminasi pada kulit bila terkena Dengan air atau dengan air sabun.

REAKSI SPESIFIK Reaksi spesifik sianida adalah dengan melakukan uji biru Prusia. Ini merupakan uji yang sulit dan dilakukan sebagai berikut: Larutan sianida tsb dijadikan basa dengan larutan natrium hidroksida. Kemudian ditambahkan dengan larutan besi (II) sulfat dan campuran di didihkan. Diasamkan lagi dengan menambahkan asam klorida( untuk menetralkan setiap alkali bebas yang mungkin ada). Yang dilanjutkan dengan penambahan besi (III) sulfat lagi. Sehingga diperoleh endapan biru Prusia. Reaksi Kimia: KCN + NaOH NaCN + KOH 6NaCN + 3FeSO4 3[Fe(CN)6]4- + 3Na2SO4 [Fe(CN)6]4- + 2HCl + FeSO4 biru Fe4[FeCN6]3 + 2H2SO4 + 2Cl-

REAKSI PENEGASAN Reaksi penegasan sangat banyak diantaranya adalah: Larutan Sianida ditambahkan dengan AgNO3 akan terbentuk endapan putih yang tidak larut dalam asam nitrat tapi larut AgNO3 dalam berlebih, NH3, Na2S2O3 KCN + AgNO3 AgCN putih + KNO3. Larutan Sianida ditambahkan dengan Pb(CH3COO)2 akan terbentuk endapan berwarna putih dan tidak larut dalam penambahan HNO3. 2KCN + Pb(CH3COO)2 Pb(CN)2 putih + CH3COOK. Larutan sianida ditambahkan dengan larutan CuSO4akan terbentuk endapan hijau. 2KCN + CuSO4 Cu(CN)2 hijau + K2SO4. Larutan sianida ditambahkan dengan larutan HgNO3 akan terbentuk endapan abu-abu merkurium logam. KCN + HgNO3 HgCN abu-abu + KNO3. Larutan sianida ditambahkan dengan larutan H2SO4 pekat akan dilepaskan karbon monoksida, yang dapat dinyalakan dan terbakar dengan nyala biru. 2KCN + 2H2SO4 + 2H2O 2CO + K2SO4 + (NH)2SO4. Larutan sianida ditambahkan dengan larutan HCl encer akan menimbulkan asam sianida yang berbau seperti amandel pahit, dilepaskan dalam keadaan dingin. KCN + HCL HCN + KCl

Gejala Keracunan
Efek utama dari racun sianida adalah timbulnya hipoksia jaringan yang timbul secara progresif. Gejala dan tanda fisik yang ditemukan sangat tergantung dari; Dosis sianida Banyaknya paparan Jenis paparan Tipe komponen dari sianida Sianida dapat menimbulkan banyak gejala pada tubuh, termasuk pada tekanan darah, penglihatan, paru, saraf pusat, jantung, sistem endokrin, sistem otonom dan sistem metabolisme. Biasanya penderita akan mengeluh timbul rasa pedih dimata karena iritasi dan kesulitan bernafas karena mengiritasi mukosa saluran pernafasan. Gas sianida sangat berbahaya apabila terpapar dalam konsentrasi tinggi. Hanya dalam jangka waktu 15 detik tubuh akan merespon dengan hiperpnea, 15 detik setelah itu sesorang akan kehilangan kesadarannya. 3 menit kemudian akan mengalami apnea yang dalam jangka waktu 5-8 menit akan mengakibatkan aktifitas otot jantung terhambat karena hipoksia dan berakhir dengan kematian. Dalam konsentrasi rendah, efek dari sianida baru muncul sekitar 15-30 menit kemudian, sehingga masih bisa diselamatkan dengan pemberian antidotum. Tanda awal dari keracunan sianida adalah : Hiperpnea sementara, Nyeri kepala, Dispnea

Kecemasan Perubahan perilaku seperti agitasi dan gelisah, Berkeringat banyak, warna kulit kemerahan, tubuh terasa lemah dan vertigo juga dapat muncul.

Hubungan Antara kandungan Sianida dalam Darah dan Gejala Khas yang Timbul. Kandungan CN (mg/L) 0,5 1,0 Derajat keracunan Ringan Gejala Denyut nadi cepat Sakit kepala Lemah 1,0 2,5 Moderat Stupor tetapi ada reaksi Takikardia Takipnea 2,5 - lebih Parah Koma, tak ada reaksi hipertensi respirasi lambat pupil dilatasi sianosis Kematian jika tak tertolong

Tanda akhir sebagai ciri adanya penekanan terhadap CNS adalah koma dan dilatasi pupil, tremor, aritmia, kejang-kejang, koma penekanan pada pusat pernafasan, gagal nafas sampai henti jantung, tetapi gejala ini tidak spesifik bagi mereka yang keracunan sianida sehingga menyulitkan penyelidikan apabila penderita tidak mempunyai riwayat terpapar sianida. Karena efek racun dari sianida adalah memblok pengambilan dan penggunaan dari oksigen, maka akan didapatkan rendahnya kadar oksigen dalam jaringan. Pada pemeriksaan funduskopi akan terlihat warna merah terang pada arteri dan vena retina karena rendahnya penghantaran oksigen untuk jaringan.

Peningkatan kadar oksigen pada pembuluh darah vena akan mengakibatkan timbulnya warna kulit seperti cherry-red, tetapi tanda ini tidak selalu ada.

Daya Kerja
Mekanisme Toksisitas Sianida Sianida menjadi toksik bila berikatan dengan trivalen ferric (Fe+++). Tubuh yang mempunyai lebih dari 40 sistem enzim dilaporkan menjadi inaktif oleh cyanida. Yang paling nyata dari hal tersebut ialah non aktif dari dari sistem enzim cytochrom oksidase yang terdiri dari cytochrom a-a3 komplek dan sistem transport elektron. Bilamana cyanida mengikat enzim komplek tersebut, transport elektron akan terhambat yaitu transport elektron dari cytochrom a3 ke molekul oksigen di blok. Sebagai akibatnya akan menurunkan penggunaan oksigen oleh sel dan mengikut racun PO2. Sianida dapat menimbulkan gangguan fisiologik yang sama dengan kekurangan oksigen dari semua kofaktor dalam cytochrom dalam siklus respirasi. Sebagai akibat tidak terbentuknya kembali ATP selama proses itu masih bergantung pada cytochrom oksidase yang merupakan tahap akhir dari proses phoporilasi oksidatif. Selama siklus metabolisme masih bergantung pada sistem transport elektron, sel tidak mampu menggunakan oksigen sehingga menyebabkan penurunan respirasi serobik dari sel. Hal tersebut menyebabkan histotoksik seluler hipoksia. Bila hal ini terjadi jumlah oksigen yang mencapai jaringan normal tetapi sel tidak mampu menggunakannya. Hal ini berbeda dengan keracunan CO dimana terjadinya jarinngan hipoksia karena kekurangan jumlah oksigen yang masuk. Jadi kesimpulannya adalah penderita keracunan cyanida disebabkan oleh ketidak mampuan jaringan menggunakan oksigen tersebut.

Efek Terhadap Kesehatan


Inhalasi Sisa pembakaran produk sintesis yang mengandung karbon dan nitrogen seperti plastik akan melepaskan sianida. Rokok juga mengandung sianida, pada perokok pasif dapat ditemukan sekitar 0.06g/mL sianida dalam darahnya, sementara pada perokok aktif ditemukan sekitar 0.17 g/mL sianida dalam darahnya. Hidrogen sianida sangat mudah diabsorbsi oleh paru, gejala keracunan dapat timbul dalam hitungan detik sampai menit. Ambang batas g/ml tetapi angkaminimal hydrogen sianida di udara adalah 0,02-0,20 ini belum dapat memastikan konsentrasi sianida yang berbahaya bagi orang disekitarnya. Selain itu, gangguan dari saraf-saraf sensoris pernafasan juga sangat terganggu. Berat jenis hidrogen sianida lebih ringan dari udara sehingga lebih cepat terbang ke angkasa. Anak-anak yang terpapar hidrogen sianida dengan tingkat yang sama pada orang dewasa akan terpapar hidrogen sianida yang jauh lebih tinggi Mata dan Kulit Paparan hidrogen sianida dapat menimbulkan iritasi pada mata dan kulit. Muncul segera setelah paparan atau paling lambat 30 sampai 60 menit. Kebanyakan kasus disebabkan kecelakaan pada saat bekerja sehingga cairan sianida kontak dengan kulit dan meninggalkan luka bakar. Saluran Pencernaan ( ingested ) Tertelan dari hidrogen sianida sangat fatal. Karena sianida sangat mudah masuk ke dalam saluran pencernaan. Tidak perlu melakukan atau merangsang korban untuk muntah, karena sianida sangat cepat berdifusi dengan jaringan dalam saluran pencernaan.

Terapi
Prinsip pertama dari terapi ini adalah mengeliminasi sumber-sumber yang terus-menerus mengeluarkan racun sianida. Pertolongan terhadap korban keracunan sianida sangat tergantung dari tingkat dan jumlah paparan dengan lamanya waktu paparan. Segera menjauh dari tempat atau sumber paparan. Jika korban berada di dalam ruangan maka segera keluar dari ruangan. Jika tempat yang menjadi sumber, maka sebaiknya tetap berada di dalam ruangan. Tutup pintu dan jendela, matikan pendingin ruangan, kipas maupun pemanas ruangan sampai bantuan datang. Cepat buka dan jauhkan semua pakaian yang mungkin telah terkontaminasi oleh sianida. Letakkan pakaian itu di dalam kantong plastik, ikat dengan kuat dan rapat. Jauhkan ke tempat aman yang jauh dari manusia, terutama anakanak. Segera cuci sisa sianida yang masih melekat pada kulit dengan sabun dan air yang banyak. Jangan gunakan pemutih untuk menghilangkan sianida. Tindakan pertama adalah segera cari udara segar. Jika berada di dekat balai pengobatan tertentu maka dapat diberikan oksigen murni. Berikan antidotum seperti sodium nitrite dan sodium thiosulfat untuk mencegah keracunan yang lebih serius. Bila korban dalam keadaan tidak sadar maka harus segera ditatalaksana di rumah sakit karena bila terlambat dapat berakibat kematian. Penggunaan oksigen hiperbarik untuk mereka yang keracunan sianida masih sering dipakai. Penambahan tingkat ventilasi oksigen ini akan meningkatkan efek dari antidotum. Asidosis laktat yang berasal dari metabolisme anaerobik dapat diterapi dengan memberikan sodium bikarbonat secara intravena dan bila pendertia gelisah dapat diberikan obat-obat antikonvulsan seperti diazepam. Perbaikan perfusi jaringan dan oksigenisasi adalah tujuan utama dari terapi ini. Selain itu juga, perfusi jaringan dan tingkat oksigenisasi sangat

mempengaruhi tingkat keberhasilan pemberian antidotum. Obat vasopressor seperti epinefrin bila timbul hipotensi yang tidak memberi respon setelah diberikan terapi cairan. Berikan obat anti aritmia bila terjadi gangguan pada detak jantung. Setelah itu berikan sodium bikarbonat untuk mengoreksi asidosis yang timbul. Cara kerja obat-obatan diatas adalah dengan menghambat pembentukan ikatan sianida pada sitokrom oksidase dengan bantuan methemoglobin. Methemoglobin akan mengikat sianida dan membuangnya dari dalam sel maupun cairan ekstra seluler. Salah satu keterbatasan mengenai antidotum ini adalah hanya berdasar dari eksperimen menggunakan hewan. Karena itu cukup sulit untuk menilai keberhasilannya pada manusia. Selain itu juga, penelitian ini tidak dibuat bila sedang berada dalam situasi yang besifat emergensi.

Tahap Analisa
Penyediaan Sampel Sampel yang akan di analisa berupa limbah cair. Sampel tersebut diambil langsung dari perusahaan. Sampel diambil dengan cara memasukkan botol aqua kedalam air limbah sampai botol tersebut terisi penuh kemudian botoldiangkat ditutup dengan rapat. Setelahsampel diambil, langsung dianalisa di laboratorium dan batas penyimpanan sampel 14 hari. Persiapan Reagen Reagent yang dipakai pada penentuan kadar amoniak dalam bentuk baku yaitu sachet yang langsung di beli oleh laboratorium. Penentuan Kadar Sianida Tekan power pada alat spektrofotometer DR/2010. Tekan nomor program 160 enter, layar akan menunjukkan dial pada 612 nm.

Putar panjang gelombang hingga pada layar menuntjukkan 612 nm. Tekan enter, layar akan menunjukan mg/L CN. Dimasukkan Cell Riser kedalam spektrofotometer DR/2010 untuk ukuran kuvet 10 ml. Pipet 10 ml sampel yang akan dianalisa ke dalam kuvet. Pipet 10 ml aquadest kedalam kuvet ( sebagai blanko ). Ditambahkan 1 sachet Cyanifer 3 Cyanide Reagent Power Pillow kedalam sampel dan blanko. Ditutup kuvet, kemudian diaduk selama30 detik hinggahomogen. Diaduk selama 30 detik. Ditambahkan 1 sachet Cyanifer 4 Cyanide Reagent Powder Pillow kedalam sampel dan blanko. Ditutup kuvet, kemudian diaduk selama 10 detik hingga homogen. Ditambahkan 1 sachet Cyanifer 5 Cyanide Reagent Powder Pillow kedalam sampel dan blanko. Ditutup kuvet, diaduk hingga homogen Tekan SHIFT TIMER, 30 menit masa reaksi akan dimulai. Setelah waktu tercapai, masukkan kuvet yang berisi blanko kedalam spektrofotometer DR/2010, kemudian tutup. Tekan ZERO, layar akan menampilkan 0.00 mg/L CN.

Setelah itu masukkan kuvet yang berisi sampel kedalam Spektrofotometer DR/2010, kemudian tutup. Tekan READ, catat hasil analisa yang akan ditunjuk pada layar.

d. Pemeriksaan Laboratorium
Dari pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya penurunan tekanan partial oksigen (PO2) dengan adanya asidosis laktat. Pemeriksaan darah dan urin sangat penting pada mereka yang sering terpapar agen ini. Selain itu juga, pemeriksaan ini akan menentukan pemberian jenis terapi. Konsentrasi sianida dalam darah sangat berhubungan dengan gejala klinis yang akan ditimbulkannya. Karena sel darah merah banyak mengandung sianida di dalam darahnya, maka pemeriksaan seluruh komposisi darah sangat diperlukan. Hal ini cukup sulit dilakukan karena waktu paruh sianida yang pendek sehingga kandungan sianida dalam darah dengan cepat dapat berkurang. Oleh sebab itu, faktor waktu dan kondisi tempat penyimpanan sangat penting dalam menentukan hasil pemeriksaan.1,5

KESIMPULAN Sianida adalah zat beracun yang sangat mematikan. Hidrogen sianida adalah cairan tidak berwarna atau dapat juga berwarna biru pucat pada suhu kamar. Bersifat volatile dan mudah terbakar. Sianida ditemukan pada rokok, asap kendaraan bermotor, dan makanan seperti bayam, bambu, kacang, tepung tapioka dan singkong. Selain itu juga dapat ditemukan pada beberapa produk sintetik. Gejala yang ditimbulkan oleh zat kimia sianida ini bermacam-macam : mulai dari rasa nyeri pada kepala, mual muntah, sesak nafas, dada berdebar, selalu berkeringat sampai korban tidak sadar. Sianida termasuk dalam kelas A yaitu Anion yang melepaskan gas saat ditambahkan dengan asam klorida. Uji spesifik Sianida yaitu dengan menggunakan uji Biru Prussia, yang nantinya akan menghasilkan endapan biru. Dalam pengujian terhadap Sianida sebaiknya berhati-hati

karena sinida ini sendiri sangat beracun bila melepaskan gas maka sebaiknya dilakukan di lemari asam.

DAFTAR PUSTAKA Baskin SI, Brewer TG. Cyanide Poisoning. Chapter. Pharmacology Division. Army Medical Research Institute of Chemical Defense, Aberdeen Proving Ground, Maryland. USA. Available from: www.bordeninstitute.army.mil/cwbw/Ch10.pdf. Access on: Nov 29, 2006. Anonymus. Hydrogen Cyanide (HCN).UN. available from :

www.atsdr.cdc.gov/mhmi/mmg8.pdf. Access on: November 29, 2006 Centers for Disease Control and Prevention. The Facts About Cyanides. New York State Department Of Health. New York. 2004. Available from: www.health.state.ny.us/nysdoh/bt/chemical_terrorism/docs/cyanide_general.pdf. Access on: November 29, 2006. Anonymus. Fact About Cyanide.C. Departement Of Health and Human Service. Center for 2006. Agency for Toxic Substances and Disease Registry. Cyanide. Division of Toxicology and Environmental Medicine. Atlanta. 2006. Available from: www.atsdr.cdc.gov/tfacts8.pdf. Access on: November 29, 2006 http://klikharry.wordpress.com/2006/12/14/keracunan-sianida/ http://en.wikipedia.org/wiki/Cyanide http://emergency.cdc.gov/agent/cyanide/basics/facts.asp http://www.atsdr.cdc.gov/toxprofiles/tp8.pdf Disease Control and Prevention. 2003. Available from: www.bt.cdc.gov/agent/cyanide/basics/pdf/cyanide-facts.pdf. Access on: November 29,