Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PRAKTIKUM ZOOLOGI AVERTEBRATA

Topik : ANNELIDA Oleh : Kelompok 8 Susi Munawaroh Anis Samrotul Lathifah Nur Indah Malita Putri 108341409786 108341409789 108341409799

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM JURUSAN BIOLOGI UNIVERSITAS NEGERI MALANG APRIL 2009 A. TUJUAN

Praktikum ini dilaksanakan pada tanggal 2 April 2009. Adapun tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui dan memahami dari masing-masing jenis Annelida khususnya cacing tanah. 2. Untuk mengetahui dan memahami morfologi Annelida khususnya cacing tanah. B. DASAR TEORI I. Annelida Pada Umumnya Annelida oleh ahli zoologi terdahulu dimasukkan dalam kelompok Vermes bersama dengan cacing-cacing lain, tapi kemudian dipisahkan oleh Cuvier pada tahun 1798 dari cacing-cacing tidak bersegmen. Nama Annelida untuk pertama kali digunakan oleh Lamarck pada tahun 1809 untuk cacing-cacing bersegmen banyak. Kata annelida berasal dari bahasa Latin annelus yang berarti cincin kecil atau bahasa Prancis anneler yang berarti tertata dalam bentuk cincin. Berbeda dengan Platyhelminthes dan Nemathelminthes, Annelida merupakan hewan tripoblastik yang sudah memiliki rongga tubuh sejati (hewan selomata). Namun Annelida merupakan hewan yang struktur tubuhnya paling sederhana (Jordan, 1983). Adapun ciri-ciri umum dari Annelida, yaitu: 1. 2. 3. Merupakan hewan triploblastik. Bilateral simetris, tubuh panjang, dan bersegmen-segmen. Mempunyai alat gerak yang berupa bulu-bulu kaku (setae) pada tiap segmen. Kelas Polychaeta dengan tentakel pada kepalanya dan setae pada bagian-bagian tubuh yang menonjol ke lateral, atau pada lobi lateralis yang disebut parapodia. 4. 5. Badan tertutup oleh kutikula yang licin yang terletak di atas epithelium yang bersifat glanduler. Dinding badan dan tractus digestivus dengan lapisan-lapisan otot sirkuler dan longitudinal, sudah mempunyai rongga badan (celom) dan umumnya terbagi oleh septa.

6. 7.

Tractus digestivus lengkap, tubuler, memanjang sesuai dengan sumbu badan. Sistem peredaran darah tertutup, pembuluh-pembuluh darah membujur, dengan cabang-cabang kecil (kapiler) pada tiap segmen (metamer), pasma darah mengandung hemoglobin.

8. 9.

Respirasi dengan kulit atau dengan branchia. Organ ekskresi terdiri atas nephridia pada tiap segmen. otak, yang berhubungan dengan berkas saraf medio-ventral yang memanjang sepanjang tubuh, dengan ganglia pada tiap segmen, terdapat juga sel-sel tangoreseptor dan fotoreseptor.

10. Sistem saraf terdiri atas sepasang ganglia serebrales pada ujung dorsa

11. Kebanyakan bersifat hemaphrodit. II. Klasifikasi Annelida Filum Annelida terdiri dari 3 kelas, yaitu : Kelas Oligochaeta Oligochaeta (dalam bahasa yunani, oligo = sedikit, chaeta = rambut kaku) yang merupakan annelida berambut sedikit. Oligochaeta tidak memiliki parapodia, namun memiliki seta pada tubuhnya yang bersegmen. Contoh Oligochaeta yang paling terkenal adalah cacing tanah.Jenis cacing tanah antara lain adalah cacing tanah Amerika (Lumbricus terrestris), cacing tanah Asia (Pheretima), cacing merah (Tubifex), dan cacing tanah raksasa Australia (Digaster longmani). Cacing ini memakan oarganisme hidup yang ada di dalam tanah dengan cara menggali tanah. Kemampuannya yang dapat menggali bermanfaat dalam menggemburkan tanah. Manfaat lain dari cacing ini adalah digunakan untuk bahan kosmetik, obat, dan campuran makan berprotein tinggi bagi hewan ternak. Di sini salah satu contohnya yaitu Lumbricus terrestris (cacing tanah). Cacing tanah hidup di dalam tanah lembab, subur, dan suhunya tidak terlalu dingin dengan membentuk lubang atau liang dalam tanah. Cacing ini keluar ke permukaan hanya pada saat-saat tertentu saja. Mereka keluar ke permukaan tanah pada malam hari dan pada siang hari mereka keluar

apabila hari sedang hujan karena liang tempat mereka hidup tergenang oleh air. Jika udara sangat dingin atau kering cacing akan masuk ke liang tanah dengan kedalaman mencapai 8 kaki ( 240 cm) dengan keadaan melingkar bersama cacing yang lainnya yang diatasnya terdapat lapisan tanah yang bercampur dengan lendirnya. Kelas Polychaeta Polychaeta (dalam bahasa yunani, poly = banyak, chaeta = rambut kaku) merupakan Annelida berambut banyak. Tubuh Polychaeta dibedakan menjadi daerah kepala (prostomium) dengan mata, antena, dan sensor palpus. Polychaeta memiliki sepasang struktur seperti dayung yang disebut parapodia (tunggal = parapodium) pada setiap segmen tubuhnya. Fungsi parapodia adalah sebagai alat gerak dan mengandung pembuluh darah halus sehingga dapat berfungsi juga seperti insang untuk bernapas. Setiap parapodium memiliki rambut kaku yang disebut seta yang tersusun dari kitin. Contoh Polychaeta yang sesil adalah cacing kipas (Sabellastarte indica) yang berwarna cerah. Sedangkan yang bergerak bebas adalah Nereis virens, Marphysa sanguinea, Eunice viridis (cacing palolo), dan Lysidice oele (cacing wawo). Di sini contohnya yaitu Neanthes (Nereis). Neanthes seringkali dinamakan cacing tanah yang hidup di laut. Neanthes hidup di dalam liang dalam pasir, atau berenang di dalam air laut. Cacing ini banyak terdapat di sepanjang pantai Atlantik di USA. Nereis adalah karnivora pemakan serangga kecil, mollusca dan cacing. Sangat aktif saat malam dan pasif sepanjang hari kecuali malam. Saat malam mereka keluar dari tempat persembunyiannya untuk mulai merangkak di pasir dan berenang dengan tubuhnya menepi bertujuan untuk makan dan reproduksi, tapi sepenjang hari mereka bersembunyi di lubang atau tempat persembunyiannya dengan sedikit menonjolkan kepalanya untuk makan. Kelas Hirudinea

Hirudinea merupakan kelas annelida yang jenisnya sedikit. Hewan ini tidak memiliki arapodium maupun seta pada segmen tubuhnya. Panjang Hirudinea bervariasi dari 1 - 30 cm. Tubuhnya pipih dengan ujung anterior dan posterior yang meruncing. Pada anterior dan posterior terdapat alat pengisap yang digunakan untuk menempel dan bergerak. Sebagian besar Hirudinea adalah hewan ektoparasit pada permukaan tubuh inangnya. Inangnya adalah vertebrata dan termasuk manusia. Hirudinea parasit hidup dengan mengisap darah inangnya, sedangkan Hirudinea bebas hidup dengan memangsa invertebrata kecil seperti siput. Contoh Hirudinea parasit adalah Haemadipsa (pacet) dan Hirudo (lintah). Saat merobek atau membuat lubang, lintah mengeluarkan zat anestetik (penghilang sakit), sehingga korbannya tidak akan menyadari adanya gigitan. Setelah ada lubang, lintah akan mengeluarkan zat anti pembekuan darah yaitu hirudin. Dengan zat tersebut lintah dapat mengisap darah sebanyak mungkin (Jordan, 1983). C. ALAT DAN BAHAN Alat-alat yang diperlukan: 1. 2. 3. Mikroskop cahaya (stereo) Lup Pinset

4. 2 buah cawan petri Bahan-bahan yang diperlukan: 1. 2. Cacing tanah yang diambil dari tiga tempat yang berbeda, yaitu : tanah kebun, tanah sawah, dan tanah lapangan. Spesimen basah dan kering Annelida yang diambil dari lemari spesimen.

D. CARA KERJA 1. 2. Mengambil satu cacing tanah yang diambil dari tanah di sawah, dan ditaruh di atas cawan petri. Membentangkan tubuh cacing dengan menggunakan tangan atau pinset.

3.

Menghitung jumlah segmen pada tubuh cacing sampai klitellum, untuk mengetahui letak klitellum pada segmen ke berapa, dan dilanjutkan menghitung jumlah segmen setelah klitellum.

4.

Mengulangi kegiatan 1 sampai 3 dengan menggunakan cacing tanah yang diambil dari tanah di lapangan dan dari tanah di kebun. Untuk cacing yang berukuran kecil, dapat diamatai dengan menggunakan mikroskop cahaya.

5.

Melakukan kegiatan penghitungan yang sama terhadap awetan basah dan kering dari cacing tanah.

E. HASIL PENGAMATAN Awetan Basah Nemathelminthes Nemathelminthes 6

GAMBAR 1. Betina

KETERANGAN Nama Spesies :

Ciri-ciri :

Keterangan:

2. Jantan

Nama Spesies :

Ciri-ciri :

Keterangan :

Nemathelminthes 12 Jantan Nama Spesies :

Ciri-ciri :

Keterangan:

Nemathelminthes 5 Nama Spesies :

Ciri-ciri :

Keterangan:

Nemathelminthes 13 Ventral Nama Spesies :

Ciri-ciri :

Keterangan:

Dorsal

Nama Spesies :

Ciri-ciri :

Keterangan :

Nemathelminthes 10

1. Jantan

Nama Spesies :

Ciri-ciri :

Keterangan:

2. Betina

Nama Spesies :

Ciri-ciri :

Keterangan :

Nemathelminthes 14

Nama Spesies :

Ciri-ciri :

Keterangan:

Nemathelminthes 11

Nama Spesies :

Ciri-ciri :

Keterangan:

Preparat Nemathelminthes Preparat Ascaris cs

Nama Spesies :

Ciri-ciri :

Keterangan:

Penampang Melintang Ascaris cs

Nama Spesies :

Ciri-ciri :

Keterangan:

Penampang Melintang Anterior Ascaris cs Nama Spesies :

Ciri-ciri :

Keterangan:

F. PEMBAHASAN Pada praktikum kali ini kami melakukan tiga macam pengamatan yaitu pengamatan pada awetan basah, awetan kering, dan spesimen segar yang diambil langsung oleh tiap kelompok dari lokasi yang berbeda.

I. Pengamatan terhadap spesimen segar 1. Cacing tanah pada sawah (Lumbricus sp) Berdasarkan pengamatan yang kami lakukan, bentuk tubuh dari cacing ini adalah panjang silindris dengan 2/3 bagian posteriornya sedikit memipih ke arah dorsoventral (Kastawi, 2005). Cacing ini mempunyai panjang tubuh 19,7 cm. Ukuran tubuh relatif besar. Bagian tubuh yang nampak adalah mulut, klitellum, anus, segmen tubuh, bagian anterior dan posterior. Mulut terdapat di ujung anterior pada bagian prostimium (bukan segmen sebenarnya). Cacing ini memiliki segmen tubuh yang berjumlah 198 segmen. Jumlah segmen dari peristomium sampai segmen sebelum bagian klitellum sebanyak 25 segmen. Sedangkan jumlah segmen pada klitellum adalah 5 segmen dan jumlah segmen setelah klitellum sampai ujung posterior atau ekor adalah 168 segmen. Karena jumlah segmen dari peristomium sampai segmen sebelum klitellum lebih dari 12 segmen, maka cacing ini termasuk dalam genus Lumbricus (Kastawi, 1994). Tubuh cacing ini berwarna coklat kehitaman dan klitellum berwarna coklat lebih muda dari pada bagian tubuh yang lain. Klitellum berfungsi untuk membungkus telur. Pada klitellum terdapat 3 pasang lubang, sehingga total keseluruhan terdapat 6 lubang. Lubang ini merupakan lubang genital. Lubang genital ini terletak pada segmen ke-27 dan ke-29. Menurut Kastawi (2003), lubang oviduk terletak pada segmen ke-14, sedangkan lubang muara keluar ductus spermaticus terletak pada segmen ke-15. Maka berdasarkan pengamatan kami, lubang pada segmen ke-27 adalah lubang muara oviduk dan lubang pada segmen ke-29 adalah lubang vas deferens. Terdapat nephridiophor, anus terletak pada segmen terakhir, bagian anterior dan pernafasan menggunakan kulitnya dengan cara difusi karena kulitnya bersifat lembab, tipis, dan banyak mengandung kapiler darah. 2. Cacing tanah dari kebun (Perettima sp)

Berdasarkan pengamatan yang kami lakukan, spesies ini memiliki panjang tubuh 12,8 cm. Tubuh cacing ini relatif kecil. Morfologi dari cacing ini yang berhasil kami amati adalah mulut, klitellum, segmen tubuh, anus, bagian anterior dan posterior. Mulut berbentuk bulan sabit yang terletak pada ujung anterior pada bagian prostomium. Bagian ventral mulut dibatasi oleh prostomium yang merupakan segmen pertama. Mulut berwarna coklat kekuningan. Jumlah total segmen tubuh cacing ini adalah 107 segmen. Jumlah segmen dari prostomium sampai segmen sebelum klitellum adalah 11 segmen. Jumlah segmen setelah klitellum sampai ekor adalah 90 segmen. Pada segmen ke-12 sampai15 terdapat penebalan kulit dengan warna yang berbeda dari bagian tubuh yang lain, disebut klitellum. Berwarna coklat muda. Sedangkan warna tubuhnya adalah coklat kehitaman. Menurut Kastawi (1994) bagian klitellum terletak pada segmen ke-13, 19, dan 15. fungsi klitellum adalah untuk menghasilkan cocon (Jasin, 1984). Lubang anus terletak di segmen terakhir. Bagian anterior nampak lebih runcing dari pada bagian posterior. Menurut Kastawi (2003) sepasang nefridiofor yang merupakan lubang muara ekskresi terdapat pada tiap segmen kecuali segmen ke-3, segmen pertama dan segmen terakhir. Dalam pengamatan kami, kami belum menemukan lubang genital, namun menurut referensi, lubang vas deferens yang berjumlah sepasang berupa tonjolan yang terletak pada bagian ventral dari segmen ke-17 atau 18. Jumlah lubang ini tidak menentu, kadang lebih dari satu pasang, tetapi yang berkembang sempurna adalah hanya sepasang yang nampaknya lebih besar. Lubang oviduk satu pasang pada bagian ventral segmen ke-13. Sementara lubang reseptakulum seminalis berpasangan terletak pada segmen ke-4 dan 5, 5 dan 6, 6 dan 7, 7 dan 8. Vesikula seminalis terletak pada segmen 16, 17, 18, 19 yang berwarna kekuningan. Sementara testis terletak di dalam vesikula

seminalis (Kastawi, 1994). Berdasarkan ciri-ciri tersebut, kami simpulkan bahwa cacing ini adalah dari spesies Prettima sp. Dalam pengamatan yang kami lakukan, kami belum dapat menemukan seta pada cacing ini. Seharusnya seta terdapat pada bagian ventro lateral. Seta berfungsi sebagai alat gerak. Pada tiap-tiap segmen terdapat 4 pasang seta, kecuali segmen pertama dan terakhir, 2 pasang di lateral dan 2 pasang di ventro lateral (Kastawi, 2003). 3. Cacing tanah pada lapangan (Parettima sp) Berdasarkan pengamatan yang kami lakukan, tubuh spesies ini nampak lebih besar dari cacing tanah kebun dan lebih kecil dari cacing tanah sawah. Morfologi yang dapat kami amati adalah mulut, segmen tubuh, klitellum, anus, bagian anterior dan posterior. Jumlah total segmen adalah 106 segmen. Jumlah segmen dari prostomium sampai segmen sebelum klitellum adalah 12 segmen. Jumlah segmen dari segmen setelah klitellum sampai ekor adalah 91 segmen. Jumlah segmen pada klitellum adalah 3 segmen. Karena total segmen sebelum klitellum adalah 12 segmen, maka cacing ini termasuk dalam genus Parettima. Cacing ini berwarna coklat tua pada bagian dorsal dan agak pucat pada bagian ventral. Sementara warna klitellum adalah coklat muda. Dalam pengamatan kami, kami belum menemukan lubang genital, namun menurut referensi, lubang vas deferens yang berjumlah sepasang berupa tonjolan yang terletak pada bagian ventral dari segmen ke-17 atau 18. Jumlah lubang ini tidak menentu, kadang lebih dari satu pasang, tetapi yang berkembang sempurna adalah hanya sepasang yang nampaknya lebih besar. Lubang oviduk satu pasang pada bagian ventral segmen ke-13. Sementara lubang reseptakulum seminalis berpasangan terletak pada segmen ke-4 dan 5, 5 dan 6, 6 dan 7, 7 dan 8. Vesikula seminalis terletak pada segmen 16, 17, 18, 19 yang berwarna kekuningan. Sementara testis terletak di dalam vesikula

seminalis (Kastawi, 1994). Berdasarkan ciri-ciri tersebut, kami simpulkan bahwa cacing ini adalah dari spesies Prettima sp. Dalam pengamatan yang kami lakukan, kami belum dapat menemukan seta pada cacing ini. Seharusnya seta terdapat pada bagian ventro lateral. Seta berfungsi sebagai alat gerak. Pada tiap-tiap segmen terdapat 4 pasang seta, kecuali segmen pertama dan terakhir, 2 pasang di lateral dan 2 pasang di ventro lateral (Kastawi, 2003) II. Pengamatan pada awetan kering 1. Lumbricus sp Berdasarkan pengamatan yang kami lakukan, tubuhnya nampak simetri bilateral dan jelas bersegmen. Warna tubuhnya adalah coklat tua, dan warna klitellumnya adalah coklat muda. Morfologi yang berhasil kami amati adalah mulut, anus, klitellum, segmen tubuh, lubang genital, bagian anterior dan posterior. Jumlah total segmen adalah 142 segmen. Jumlah segmen sebelum klitellum adalah 30 segmen, setelah klitellum adalah 105 segmen, dan jumlah segmen pada klitellum adalah 7 segmen. Karena jumlah segmen sebelum klitellum adalah lebih dari 12 segmen, maka cacing ini termasuk dalam genus Lumbricus. Terdapat sepasang lubang genital pada bagian ventral, sepasang pada bagian dorsoventral. Lubang genital terletak pada segmen ke-32 dan 35. Lubang di segmen ke-32 dimungkinkan adalah lubang oviduk sedangkan lubang pada segmen ke-35 adalah lubang vas deferens. Lubang vesikula seminalis tidak nampak dalam pengamatan kami. Terdapat nephridiophor, anus terletak pada segmen terakhir, bagian anterior dan pernafasan menggunakan kulitnya dengan cara difusi karena kulitnya bersifat lembab, tipis, dan banyak mengandung kapiler darah. III. Pengamatan pada awetan basah 1. Lumbricus sp

Berdasarkan pengamatan yang kami lakukan, tubuhnya berwarna coklat muda dan bagian klitellum berwarna coklat kemerahan. Namun, dari referensi dikatakan tubuh cacing ini pada permukaan atas (facies dorsalis) adalah berwarna merah sampai biru kehijauan. Sedangkan bagian bawah (facies ventralis) berwarna lebih pucat, umumnya merah jambu atau bahkan putih. Morfologi yang berhasil kami amati adalah mulut, segmen tubuh, klitellum, anus, lubang genital, bagian anterior dan posterior. Jumlah total segmen tubuhnya adalah 91 segmen. Jumlah segmen sebelum klitellum adalah 14, setelah klitellum adalah 73, dan jumlah segmen pada klitellum adalah 4 segmen. Sehingga dapat disimpulkan bahwa cacing ini termasuk dalam genus Lumbricus. Lubang genital pada cacing ini ada 6 buah atau 3 pasang. Letaknya di segmen ke-19, 20, dan 21. Lubang muara oviduk pada segmen ke20 dan lubang vas deferens terletak di segmen ke-21. Pada segmen ke19 dimungkinkan adalah lubang reseptakulum seminalis. Namun, menurut referensi lubang oviduk terletak di segmen ke-14, lubang vas deferens pada segmen ke-15, dan reseptakulum seminalis pada segmen ke-9 dan 10 atau ke-10 dan 11. Namun reseptakulum merupakan bagian yang tidak tampak. Sepasang nefridiofor terletak pada segmen terakhir dan pada 3 segmen pertama (Kastawi, 2003). Pernafasan menggunakan kulitnya dengan cara difusi karena kulitnya bersifat lembab, tipis, dan banyak mengandung kapiler darah. 2. Parettima sp Berdasarkan pengamatan yang kami lakukan, warna tubuh cacing ini adalah coklat muda dan ada penebalan yaitu bagian klitellum yang berwarna coklat kemerahan. Namun menurut referensi, bagian ubuh berwarna coklat kehitaman dan klitellum berwarna coklat muda. Morfologi yang dapat kami amati adalah mulut, segmen tubuh, klitellum, lubang genital, anus, bagian anterior dan posterior.

Jumlah otal segmen adalah 105 segmen. Sebelum klitellum adalah 12 segmen, sesudah klitellum adalah 90 segmen, dan pada klitellum adalah 3 segmen. Sehingga dapat disimpulkan cacing ini termasuk dalam genus Parettima. Lubang genital terletak pada segmen ke-13 yaitu lubang oviduk. Habitat cacing ini adalah di tanah tang lembab dan mengandung banyak zat organik (Kastawi, 1994).

G. KESIMPULAN Dari pengamatan yang kami lakukan dapat disimpulkan sebagai berikut, yaitu:

H. DAFTAR RUJUKAN Jasin. 1984. Sistematika Hewan. Surabaya : Sinar Wijaya Jordan, E.L dan Verma, P.S. 1983. Invertebrate Zoology. New Delhi:S. Chand & Company, Ltd. Kastawi, Yusuf. dkk. 1994. Keanekaragaman Hewan Tingkat Rendah (Avertebrata) Jilid II. Malang: UM Press Kastawi, Yusuf. dkk. 2003. Zoologi Avertebrata. Malang: JICA Kastawi, Yusuf. dkk. 2005. Zoologi Avertebrata. Malang: UM Press