Anda di halaman 1dari 20

Vol 2/I, edisi Juli 2009

Untaian Mutiara Hikmah, vol. 2/I, Edisi Juli 2009


Sekapur Sirih

‫ א
א א‬
Sesungguhnya segala puji bagi Allah, semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi kita
Muhammad b, keluarganya, para sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti mereka
hingga hari kiamat. Amma ba’du.

Para sahabat adalah sebaik-baik generasi teladan setelah


Rasulullah b. Dan yang berikutnya (tabi’in) dan yang beri-
kutnya (tabi’ut tabi’in) sebagaimana yang dipersaksikan Jazakumullah khair
oleh Rasulullah dalam sebuah hadits shahih. Dalam edisi kepada berbagai sumber
kali ini, kita akan dibawa untuk mendulang mutiara hikmah artikel di dalam bulletin
dari kisah pertikaian antara dua orang sahabat yang mulia, ini, baik yang tercantum
Abu Bakar As-Siddiq dan Rabi’ah bin Ka’ab Al-Aslamy c
maupun yang tidak ter-
yang berakhir mengharukan, sebagai pelajaran berharga
bagi generasi di masa kini bagaimana seharusnya menyi- cantum dalam artikel-
kapi sebuah perselisihan. artikel kami. Demikian
halnya dengan gambar
Dalam edisi ini, Sekuntum Bunga dari Taman Sunnah men- yang kami sertakan
jadi pilihan untuk mendulang mutiara hikmah dari kete-
ladanan para wanita muslimah dari generasi terdahulu.

Untaian Hikmah
Sedekah Pembawa Berkah (bag. I) 2 Cinta Sampai Mati 12

Membalas Keburukan dengan Kebaikan I 3 Kisah Hakimyang Bijak 13

Buah Dari Kesabaran 4 Sekuntum Bunga dari Taman Sunnah 14

Dua Golongan Penghuni Neraka 5 Berhato-Hatilah dalam Pergaulan 16

Aku Tidak Menangis Karena... 6 Sang Peminang Bidadari 16

Sedekah Pembawa Berkah (bag. II) 7 Harta yang Sesungguhnya 17

Hakikat Cinta Pertama 8 Jika Engkau Ingin bermaksiat …... 18

Membalas Kebaikan dengan Kebaikan II 9 Pewaris Para Nabi 19

Untaian Mutiara Hikmah, vol. 2/I, Edisi Juli 2009 1


Bagian I

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia


akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan
memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-
sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal
kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan
(keperluan)nya.” (QS Ath-Thalaq [65] : 2.3)

Dr. Saleh as-Saleh menuturkan kisah nyata berikut ini dalam salah satu kelasnya di
Understand Islam.Net:

B
ismillahir Rahmanir Rahim. Kisah ini terjadi sekitar seratus tahun yang lalu
dan juga disiarkan di stasiun radio. Ini mengenai seorang laki-laki yang
dipanggil Ibnu Jad’an. Ia berkata selama musim semi ia selalu pergi keluar. Ia
melihat unta-unta gemuk yang baik dan sehat dan ambingnya (tempat susu)
penuh hingga terlihat hendak pecah. Kapanpun anak unta mendekati induknya, susu
induknya mengalir karena berlimpahnya karunia, dan berlimpahnya kebaikan.

Maka aku (Ibnu Jad’an) melihat kepada salah satu unta betinanya dengan anak-anaknya
dan aku teringat tetanggaku yang miskin dan memiliki tujuh orang anak perempuan yang
masih belia. Maka aku berkata kepada diriku, Demi Allah aku akan memberikan unta ini
dan anaknya sebagai sedekah kepada tetanggaku – dan kemudian dia membaca ayat
dimana Allah berfirman:

 
            
“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu
menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai.” (QS Al-Imran [3] : 92)

Dan yang paling kucintai diantara binatang ternakku adalah unta betina ini. Maka aku
pun membawanya beserta anaknya dan mengetuk pintu rumah tetanggaku. Aku
mengatakan kepadanya untuk menerimanya sebagai hadiah dariku. Aku melihat wajahnya
berbinar penuh kebahagiaan dan ia tidak dapat mengatakan apapun sebagai jawabannya.

Maka ia pun mengambil manfaat dari susunya dan menggunakannyanya untuk memuat
kayu di atas punggungnya, menunggu anak-anak unta tumbuh besar agar dapat dijualnya.
Setelahnya ia mendapatkan banyak kebaikan dari unta ini.

Bersambung.....

Untaian Mutiara Hikmah, vol. 2/I, Edisi Juli 2009 2


Membalas Keburukan dengan Kebaikan—
Kebaikan—I

Oleh: Ustadz Abu Zubair al-Hawary, Lc.

K
isah ini diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim di Mus-
tadroknya, ia berkata, “Ini adalah hadits shohih menurut
syarat Muslim dan keduanya tidak mengeluarkannya”.
Dari Robi’ah bin Ka’ab Al-Aslamy g ia menuturkan,
Rasulullah y memberiku sebidang tanah, dan ia juga memberi
Abu Bakar sebidang tanah. Lalu kami berselisih pada sepokok
kurma. Ia (Robi’ah) berkata, “Maka datanglah dunia”.
Maka Abu Bakar berkata, “Ini termasuk dalam batas tanahku”. Aku
pun menyanggah, “Tidak .. akan tetapi ini termasuk dalam batas
tanahku”. Lantas Abu Bakar melontarkan kepadaku kata-kata yang
tidak aku sukai. Dan dia menyesali kata-katanya itu. Maka ia
berkata kepadaku, “Hai Robi’ah, ucapkanlah kepadaku seperti apa yang telah aku katakan
kepadamu sehingga menjadi qishosh”. Aku menjawab, “Tidak, demi Allah aku tidak akan
mengatakan kepadamu kecuali yang baik”. Abu Bakar kembali berkata, “Demi Allah, engkau
harus mengucapkan kepadaku seperti ucapanku kepadamu sehingga menjadi qishosh atau
aku akan mengadukanmu kepada Rasulullah b”.
Aku berkata, “Tidak, aku tidak akan mengatakan kepadamu kecuali yang baik”.
Maka Abu Bakar tidak menerima pembagian tanah tersebut, dan ia mendatangi Rasulullah
y. Sementara aku (Robi’ah) mengikuti di belakangnya.
Sekelompok orang dari suku Aslam (suku Robi’ah) berkata, “Semoga Allah merahmati Abu
Bakar. Dia yang telah melontarkan kata-kata itu kepadamu, kenapa dia yang mengadukanmu
kepada Rasulullah?”.
Aku berkata, “Tahukah kalian siapa ini? Ini adalah Abu Bakar .. teman Rasulullah y di
dalam gua. Orang yang dituakan oleh kaum muslimin. Jangan sampai ia menoleh dan
melihat kalian membelaku, sehingga dia marah lantas Rasulullah ikut marah karena
kemarahanya, maka Allah akan marah pula karena kemarahan keduanya. Jika sampai itu
terjadi celakalah Robi’ah. Pulanglah kalian!!”.
Robi’ah bergegas menyusul Abu Bakar.
Sesampai Abu Bakar di hadapan Nabi b, ia menceritakan apa yang terjadi antara dia dan
Robi’ah.
Rasulullah b berkata kepada Robi’ah, “Hai Robi’ah, ada apa antara kamu dengan Ash-
Shiddiq?”.
Robi’ah menceritakan apa yang terjadi dan apa yang diucapkan oleh Abu Bakar kepadanya.
Dan keengganannya membalas Abu Bakar dengan ucapan yang sama.
Rasulullah b berkata kepadanya, “Baiklah, jangan katakan kepadanya seperti yang
dikatakannya kepadamu, akan tetapi katakanlah ‘Semoga Allah mengampunimu hai Abu
Bakar”.
Maka Abu Bakar pergi meninggalkan majelis tersebut sambil menangis …[1]
Subhanallah!
Bersambung….

Untaian Mutiara Hikmah, vol. 2/I, Edisi Juli 2009 3


“Barangsiapa yang Meninggalkan Sesuatu Karena
Allah, Niscaya Allah akan Menggantikan dengan
sesuatu yang Lebih Baik Darinya.”

Oleh : Syaikh Ali Hasan Al-Halabi rumahnya.” Maka Syaikh Ibrahim pun beru-
saha bangkit dari tidurnya, mentaati perin-

G
uru dari guru kami[1] seorang ulama tah gurunya dan pergi bersama mereka. Dan
dan sejarawan besar Syaikh Mu- kemudian mereka membawanya persis ke
hammad Raghib At-Tabbakh rahi- rumah yang sama, rumah yang dimasukinya
mahullah, menyebutkan kisah ini di dan memasukkan sendok ke dalam
dalam bukunya I’lam an-Nubaala bi Taarikh makanannya.
Halaab Ash-Shuhaaba (7/231).
Setelah dia duduk, sang ayah lalu meni-
Syaikh Ibrahim Al-Hilali Al-Halabi – seorang kahkan dia dengan anak perempuannya dan
ulama yang shalih dan mulia, pergi ke Uni- kemudian makanan pun dibawa keluar. Itu
versita Al-Azhar untuk menuntut ilmu. Ketika adalah makanan yang sama yang dia masuk-
menuntut ilmu, dia menjadi sangat miskin kan sendok ke dalamnya sebelumnya,
dan biasa bergantung pada sedekah. Suatu makanan yang dia tinggalkan. Namun kini
ketika, beberapa hari telah berlalu dan dia ti- dia makan darinya: ”Saya menahan diri dari
dak menemukan sesuatu pun untuk dimakan, memakannya karena saya tidak mendapat-
yang membuatnya menjadi sangat lapar. kan izin, namun sekarang Allah telah mem-
berikan makanan ini dengan seizin
Maka ia keluar dari kamarnya di Al-Azhar un- pemilknya.”
tuk meminta sedikit makanan. Dia menemu-
kan sebuah pintu terbuka yang darinya keluar Inilah buah kesabaran, dan akibat dari
bau makanan sedap. Maka dia pun melewati ketakwaan, sebagaimana Allah berfirman:
pintu dan mendapati dirinya berada di sebuah
dapur yang kosong. Disana dia menemukan
makanan yang mengundang selera, lalu ia
    ! "  # $ % & '"   (   )& !  * 
mengambil sendok dan memasukkannya ke
dalam makanan, tetapi ketika ia mengangkat
+
 , 
& !  -
 '& &   . / & !" 012 &   345 & !
sendok tersebut ke mulutnya, dia terdiam se-
jenak karena kemudian dia menyadari bahwa “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah
dia tidak mendapatkan izin untuk memakan niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan
makanan tersebut. Maka dia pun meninggal- ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah
kannya kembali ke kamar asrama Al-Azhar, yang tiada disangka-sangkanya.” (QS Ath-
tetap merasa kelaparan. Thalaq :2-3)

Tidak sampai satu jam berlalu, salah seorang Namun bagi mereka yang tergesa-gesa –
gurunya, ditemani oleh seorang laki-laki, mereka yang tidak membedakan antara ke-
datang ke kamarnya. “Orang yang baik ini benaran dan kedustaan, mencari kehidupan
datang kepadaku untuk mencari penuntut dunia fana yang sia-sia- mereka tidak akan
ilmu yang shalih yang akan dinikahkan den- mendapatkan apa-apa kecuali kesedihan
gan puterinya, dan saya telah memilihmu un- dan penyesalan dalam hatinya, karena
tuknya. Bangkitlah dan ikutilah bersama kami mereka tidak akan pernah mendapatkan ke-
ke rumahnya dimana kita bisa melangsung- hidupan dunia, dan tidak juga mereka ber-
kan pernikahan antara kamu dengan puter- hasil dalam pencapaian agama.
inya, dan kamu dapat menjadi bagian dari

Untaian Mutiara Hikmah, vol. 2/I, Edisi Juli 2009 4


Buah dari kesabaran...

Hal ini karena mereka lupa – atau mungkin mengabaikan – firman Allah:

6 7 &8 :
9 ;(   <
 '&=
“Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya.” (QS Az Zumar : 36)

Bagi mereka yang bersabar dan istiqamah dan yang memiliki ketakwaan, mereka akan
menguasai kehidupan dunianya dan kemuliaan dan kehormatan bersama Tuhannya pada
hari pengadilan. Dan Allah berfirman:  !( >  @
? (" “Dan berikanlah berita gembira

kepada orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah : 155). Dan Dia berfirman: A !  B C
 !( >  @
? ( (9 ,  '&D ( EF 1& =  "( > “Sesungguhnya hanya orang-orang yang
bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS Az-Zumar : 10)

____________
Catatan kaki:
[1] Penulis merujuk kepada Syaikh Al-Albani, murid dari Syaikh Muhammad Raaghib At-Tabbaakh.

Sumber: Al-Ibaanah.Com

Untaian Mutiara Hikmah, vol. 2/I, Edisi Juli 2009 5


Aku Tidak Menangis Karena….

Sungguh, jika kita menghitung Allah memberitahukan, bahwa manusia


nikmat-nikmat Allah pada diri, maka tidak akan mampu menghitung berapa
takkan sanggup kita menghitungnya. banyak nikmat Allah, apalagi
mensyukurinya. Disebutkan dalam Shahih
Dan yang seringkali terjadi, kita Al-Bukhari bahwa Rasulullah shallallahu
melupakan nikmat-nikmat itu, dan alaihi wasallam bersabda:
baru terasa begitu berharga ketika
kita kehilangan nikmat tersebut. G " J
9 K L  G " M?  ;   '&N 7 &   O
  E P Q
( R  &8  


D
ikisahkan, seorang kakek berusia
70 tahun mengidap sebuah ”Ya Allah bagimu segala puji, pujian yang
penyakit; dia tidak dapat kencing. tidak mencukupi tidak mungkin
Dokter mengabarkan kepadanya ditinggal-kan dan selalu dibutuhkan,
kalau dia membutuhkan operasi untuk wahai Rabb kami.”
menyebuhkan penyakitnya. Dia setuju untuk
melakukan operasi karena penyakit itu telah Dan diriwayatkan dalam sebuah atsar
menimbulkan sakit yang luar biasa selama bahwa Nabi Dawud alaihis salam berkata:
berhari-hari. “Ya Rabb, bagaimana aku dapat bersyukur
kepada-Mu, sedangkan syukurku
Ketika operasi kepadamu itu adalah nikmat-Mu
selesai, dokter kepadaku?” Maka Allah berfirman:
memberikan ”Sekarang engkau telah bersyukur
tagihan pembayar- kepadaku wahai Dawud.” Maksudnya
an seluruh biaya (engkau telah bersyukur) ketika engkau
operasi. Kakek tua telah mengetahui bahwa engkau tidak
itu melihat pada dapat memenuhi syukur yang sepatutnya
kuitansi dan mulai kepada Pemberi nikmat.
menangis. Me-
ihatnya menangis ”Aku tidak menangis
dokter pun berkata kepadanya bila biayanya karena uang itu, tetapi
terlalu tinggi mereka dapat membuat aku menangis karena
pengaturan lain. Orang tua itu berkata, ”Aku Allah menjadikanku buang
tidak menangis karena uang itu, tetapi aku
menangis karena Allah menjadikanku buang
air (tanpa masalah)
air (tanpa masalah) selama 70 tahun dan Dia selama 70 tahun dan Dia
tidak pernah mengirimkan tagihan.” tidak pernah mengirimkan
tagihan.”
F>
&  G  H I
  4& B "74  C"
Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:
”Segala puji bagi Allah yang tidak dapat
” Dan jika kamu menghitung ni'mat Allah, dipenuhi syukur atas salah satu nikmat
tidaklah dapat kamu menghinggakannya.” yang telah diberikan-Nya itu, kecuali
(QS Ibrahim [14] : 34) dengan nikmat baru yang harus diyukuri
pula.” (tafsir Ibnu Katsir QS Ibrahim : 34)
Ibnu Katsir di dalam tafsirnya menjelaskan
mengenai ayat tersebut di atas:
Sumber: Anonim, A Learning Page

Untaian Mutiara Hikmah, vol. 2/I, Edisi Juli 2009 6


Tetangga tersebut mengatakan akan
mengadukan kepada ayah mereka. Maka
mereka pun memberitahukan kepadanya
bahwa ia (Ibnu Jad’an) telah wafat.
Tetangga tersebut bertanya bagaimana
dan dimana Ibnu Jad’an meninggal dan
Bagian II mengapa mereka tidak mengabarkan
kepadanya. Mereka kemudian
menjelaskan bagaimana Ibnu Jad’an

S
etelah musim semi berlalu, masuk ke dalam lubang bawah tanah di
musim panas datang dengan gurun dan tidak pernah keluar lagi.
(udara) keringnya, maka para
Badui mulai mencari air dan Tetangga itu berkata: “Demi Allah bawa
rumput. Kami mengumpulkan per- aku ke tempat itu dan ambil unta
bekalan kami dan pergi mencari air, dan betinamu dan lakukan apapun kalian
duhul atau lubang-lubang yang terdapat inginkan dengannya. Aku tidak
di dalam bumi terdapat di bawah tanah menginginkan untamu sebagai
menuju ke tempat air yang tertahan di balasannya!”
bawah tanah. Mulut (lubang) terdapat di
permukaan tanah, sebagaimana yang “Kamu sekali-kali tidak sampai
sangat dikenal oleh suku Badui.
kepada kebajikan (yang
Aku (Ibnu Jad’an) masuk ke dalam salah sempurna), sebelum kamu
satu dari lubang-lubang tersebut untuk menafkahkan sebahagian harta
mendapatkan air untuk minum. yang kamu cintai.”
(QS Al-Imran [3] : 92)
Dr. Saleh melanjutkan: “dan ketiga orang
anak Ibnu Jad’an menunggunya diatas Mereka pun mengatarnya dan ketika dia
lubang. Namun dia tidak kembali. Ketiga melihat tempat tersebut, dia pergi dan
anaknya menunggunya sehari, dua hari, membawa sebuah tali, menyalakan lilin,
dan tiga hari dan akhirnya merasa putus mengikatnya di luar lubang, dan
asa. kemudian mulai merangkak turun dengan
punggungnya hingga mencapai tempat
Mereka berkata mungkin ia telah digigit dimana dia dapat merangkak dan
oleh ular dan mati atau ia hilang berguling. Akhirnya aroma kelembaban
(terperosok) ke bawah bumi dan hancur. (tercium) semakin dekat dan tiba-tiba ia
Mereka, naudzubillah, menunggu mendengar suara seorang laki-laki di
kehancurannya. Mengapa? Karena dekat air mengerang dan merintih.
mereka serakah untuk segera
membagikan harta warisannya. Ia mendekat dan terus mendekat ke arah
suara tersebut dalam kegelapan, meraba-
Maka mereka pun kembali ke rumah dan raba dengan tangannya sampai
membagi apa yang Ibnu Jad’an menyentuh laki-laki tersebut. Ia mengecek
tinggalkan diantara mereka. Kemudian nafasnya, dan Ibnu Jad’an masih bernafas
mereka teringat bahwa ayah mereka setelah satu minggu (berada di bawah
memberikan unta betina kepada tetangga tanah)! Ia menarik Ibnu Jad’an keluar,
mereka yang miskin. Mereka mendatangi menutup matanya untuk melindungi dari
tetangga tersebut dan mengatakan cahaya matahari. Ia memberinya makan
kepadanya agar lebih baik dia dengan beberapa kurma, melembabkan-
mengembalikan lagi unta betina tersebut nya (terlebih dahulu) dengan air, dan
dan mengambil unta lain sebagai memberinya minum.
gantinya, atau mereka akan
mengambilnya secara paksa dan Bersambung...
meninggalkannya tanpa sesuatu pun.

Untaian Mutiara Hikmah, vol. 2/I, Edisi Juli 2009 7


Unta betina, sedekah….

Kemudian ia membawa Ibnu Jad’an kembali ke rumahnya dan perlahan-lahan Ibnu


Jad’an pulih sedangkan anak-anaknya tidak mengetahuinya. Ia kemudian bertanya
kepada Ibnu Jad’an: “Ceritakan kepadaku, Demi Allah, selama satu minggu engkau berada
di bawah tanah dan engkau tidak mati?!”
“Aku akan menceritakan sebuah kisah yang aneh.” Ibnu Jad’an menjelaskan. “Ketika aku
turun aku tersesat dan gelombang menyergapku dari segala arah dan aku berkata kepada
diriku lebih baik aku tetap tinggal di dekat air yang telah kujumpai. Dan aku pun mulai
minum dari air itu, namun rasa lapar tanpa ampun dan air tidak dapat menggantikannya.
Kemudian setelah tiga hari kelaparan semakin menjadi-jadi dan terasa di setiap bagian
(tubuh). Saat aku tengah berbaring di atas punggungnku, aku berserah diri kepada Allah
dan meletakkan segala urusanku di tangan-Nya dan seketika aku merasakan hangatnya
susu mengalir ke dalam mulutku. Lalu aku duduk di tengah kegelapan dan aku melihat
sebuah kendi mendekat ke mulutku. Aku minum darinya sampai merasa cukup dan kendi
itu pun menjauh. Hal ini terjadi tiga kali dalam sehari, namun dua hari terkahir ia
berhenti dan aku tidak tahu apa yang terjadi.”
Tetangganya pun kemudian mengabarkan kepadanya:
“Jika engkau mengetahui alasannya (mengapa kendi berisi susu itu tidak datang lagi –
pent.), engkau akan merasa takjub! Anak-anakmu mengira engkau telah mati dan mereka
datang kepadaku dan mengambil unta betina yang darinya Allah subhanahu wata’ala
memberikan susunya untukmu.”
Seorang Muslim berada di bawah naungan shadaqah-nya. Allah berfirman:

 ,
&   P A   8 3 *  ! " +
 ,
 
& !  -
 '& &   . / & !" 012
&    345
& !     ! "
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.
Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang
bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS Ath-
Thalaq [65] : 2.3)

Sumber: Transkrip Audio The Camel Given in Charity oleh Dr. Saleh as-Saleh.

Pindahkan hatimu kepada cinta


yang engkau kehendaki   

  

      
Karena cinta hanyalah untuk
kekasih yang pertama 
 
 !
"
 
#$%
& ''( )
Betapa banyak tempat di bumi yang
(pernah) ditempati oleh seseorang *+-,  . - ,/ 0 1

2   3
 4 0 5
6  7 8,
Namun selamanya kerinduannya
hanyalah untuk yang pertama 4 956  4 
:;''<=, .> 6> 6
 
Sumber: Kunci Kebahagiaan, Ibnu Qayyim, hal. 32

Untaian Mutiara Hikmah, vol. 2/I, Edisi Juli 2009 8


Membalas Keburukan dengan Kebaikan—
Kebaikan—II

K
isah menakjubkan yang dinukilkan Bakar melontarkan kepadaku kata-kata
oleh kutubussunah kepada kita. Di yang tidak aku sukai. Dan dia menyesali
dalamnya terkandung butir-butir kata-katanya itu). Tidak diceritakan apa
pelajaran berharga bagi setiap kalimat yang telah dilontarkan Abu Bakar
muslim yang ingin meneladani generasi kepada Robi’ah. Kita yakin tentu kalimat
emas umat ini. tersebut tak lebih dari sekedar ketidak
sengajaan yang segara di sadari Abu Bakar
Akar kisah ini adalah apa yang terjadi di dengan penyesalannya atas apa yang telah ia
antara dua orang sahabat yang mulia ini, ucapkan. Ini merupakan ‘ibroh yang luar
dan pandangan mereka yang berbeda biasa. Seorang yang berjiwa besar sekalipun
tentang sebatang korma yang menjadi ia dihormati jika keliru segera kembali
pemicu perselisihan kecil antara keduanya. kepada yang benar. Kemudian tidak adanya
Dalam kisah ini, Robi’ah menuturkan nukilan ucapan Abu Bakar tersebut
penyebab terjadinya perselisihan ini, ia mengisyaratkan kepada kita bahwasanya
mengatakan (Dan datanglah dunia …) Robi’ah sama sekali tidak memendam
maksudnya sebab utama adalah karena dendam. Ia ingin ucapan Abu Bakar tersebut
perhatian kepada dunia dan perhiasannya. dilupakan dan tidak diingat …
Seolah-olah Robi’ah g mengatakan Abu Bakar g meminta Robi’ah g
kepada kita bahwa dunia dan perhiasaannya membalas ucapannya sebagai qishosh atas
adalah penyebab banyak perselisihan di perbuatannya. Kedudukannya di sisi
antara sesama muslim. Seolah-olah ia Rasulullah y tidak membuatnya
mengatakan kepada kita, kenapa harus menghinakan dan merendahkan
berselisih, bertengkar, dan saling memutus seseorangpun dari kaum muslimin bahkan
hubungan persaudaraan hanya karena dia tidak ingin menyakiti seseorangpun
harta, tanah atau warisan dan urusan dunia sekalipun itu hanya dengan ucapan sepele.
lainnya?? Sampai kapan dunia ini menyi- Dengan sikap yang mulia ini Ash-Shiddiq
bukkan kita dari tujuan dan cita-cita mengajarkan kepada kita sifat adil, tawadhu
yang mulia? dan tidak sombong.
Dengarkan firman Robb kita , Di sisi lain juga tergambar jiwa
besar Robi’ah. Ia tidak ingin membalas
  6 L B&= T9  * 'B&7  U '
  3 V E& P  W
&  X& ") kalimat yang tidak disukainya dengan
kalimat yang semisal. Bahkan ia
0 '@F Y Z & [A \
 R& [ ]  B  ( ^ #& A T  ,
 menegaskan (Tidak ..demi Allah aku tidak
akan katakan kepadamu kecuali yang baik).
(0R7  T9 M& _ 3̀* 8    *" a  !?  6 "Rb  Ini peringatan bagi kita agar kita tidak
membalas keburukan dengan kebaikan.
“Dan berilah perumpamaan kepada mereka Jangan biarkan syetan mendapatkan celah
(manusia), kehidupan dunia sebagai air hu- untuk merusak mu’amalahmu bersama
jan yang Kami turunkan dari langit, maka saudara-saudara dan sahabat-sahabatmu.
menjadi subur karenanya tumbuh- Jangan ucapkan dengan lisanmu kecuali
tumbuhan di muka bumi, kemudian tum- yang ucapan yang baik.
buh-tumbuhan itu menjadi kering yang
diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, “Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan
Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (Al-Kahfi : yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa
45) yang mereka sifatkan”. (Al-Mukminun : 96)

Kemudian cobalah ulang lagi membaca dan Ini juga menjadi ‘ibroh yang berharga bagi
merenungi penuturan Robi’ah (Lantas Abu orang-orang yang menjadikan lisannya
laksana pedang untuk mencaci-maki,

Untaian Mutiara Hikmah, vol. 2/I, Edisi Juli 2009 9


Membalas Keburukan…..

mencela, mengolok-olok,
memakan bangkai saudaranya (ghibah), Ini adalah pelajaran berharga bagi kita
atau berdusta. semua bagaimana memposisikan orang lain
sesuai dengan kedudukannya. Semoga
Jangan .. jangan lakukan itu saudaraku!! Allah meridhoimu hai Robi’ah ketika
engkau mengetahui keutamaan orang yang
Kemudian ia memberikan kepada kita pela- memiliki kedudukan. Semoga Allah
jaran lain yaitu ’sabar’. Ia tidak membalas meridhoimu ketika engkau menghormati
ucapan Abu Bakar .. sama sekali tidak. Abu Bakar dan memuliakannya. Semoga
Bukankah ini pelajaran bagi kita semua, Allah meridoimu ketika engkau menimbang
agar kita mengendalikan nafsu dan emosi permasalahaan dengan timbangan syara’.
kita. Sangat disayangkan sebagian orang
membalas satu kata dengan dua kali lipat “Hai Robi’ah, ucapkanlah
atau bahkan berlebih-lebihan. Masalah kepadaku seperti apa yang
sepele saja memantik emosinya, sehingga
telah aku katakan
menggelegak lalu mencela, memaki dan
melaknat. Lupakah ia wasiat Qudwah-nya kepadamu sehingga
shollallahu ‘alaihi wa sallama ketika menjadi qishosh”. Aku
mewasiatkan salah seorang sahabatnya, menjawab, “Tidak, demi
“Jangan marah”.[2] Allah aku tidak akan
Kemudian Abu Bakar yang menyesali per- mengatakan kepadamu
kataannya, ketika Robi’ah tidak mau mem- kecuali yang baik”.
balasnya ia pergi menemui Rasulullah y
untuk meminta petunjuk dalam masalah- Lihatlah …Robi’ah mengetahui kedudukan
nya itu. Ini mengandung faedah yang agung Abu Bakar di sisi Rasulullah, maka dia
yaitu meminta bantuan orang yang lain takut kemarahannya karena dia khawatir
yang bisa dipercaya dan amanah untuk itu akan menyebabkan Rasulullah marah
menjadi penengah dan membantu men- lalu menyebabkan Allah juga marah. Ini
damaikan. yang tidak terpikirkan oleh kaumnya yang
menimbang masalah itu dengan emosi
Ketika Robi’ah mengikutinya. Di jalan be- mereka semata. Dalam masalah ini
berapa orang kaum Robi’ah berusaha pelajaran berharga bagi umat, bahwasanya
menghalanginya mengikuti Abu Bakar. Seo- emosi dan perasaan yang tidak dikontrol
lah-olah mereka mengatakan kepadanya dengan batasan-batasan syara’
(bukankah Abu Bakar yang salah menyebabkan hasil-hasil yang tidak terpuji.
kepadamu, dan engkau yang benar? Kenapa Lihatlah wahai saudaraku ..apa yang terjadi
engkau mengikutinya?) dengarkan jawaban ditengah umat islam. Munculnya
yang sangat dalam maknanya dari Robi’ah pemikiran-pemikiran dan perbuatan-
(Tahukah kalian siapa ini? Ini adalah Abu perbuatan yang digerakkan oleh emosi dan
Bakar, ini adalah teman (Rasulullah) di semangat yang tidak mengikuti rambu-
dalam gua .. orang yang dituakan oleh rambu syara’ ..sehingga menimbulkan
kaum muslimin!! Jangan sampai ia melihat kerusakan di muka bumi ..meledakkan,
kalian membelaku, lalu dia marah, lantas menghancurkan dan mengkafirkan.
Rasulullah marah karena kemarahannya
maka Allah pun marah karena kemarahan Saudaraku kaum muslimin … ilmu syar’I
keduanya sehingga binasalah Robi’ah). yang dibangun di atas pondasi yang shohih
Sungguh akhlak yang tinggi baik perkataan adalah satu-satunya jalan menggapai
maupun perbuatannya. Budi pekerti nan keselamatan umat dan kemenangannya.
luhur dalam bermu’amalah, menghormati Kita adalah umat yang memiliki manhaj
dan memuliakan. dan azas yang jelas. Pilar-pilarnya

Untaian Mutiara Hikmah, vol. 2/I, Edisi Juli 2009 10


Membalas Keburukan…..

jelas ..takkan ada yang menggoyahkan baik bahkan beliau berkata kepadanya, “Katakan
hawa yang diikuti atau emosi yg tak kepadanya (semoga Allah mengampunimu
terkendali atau semangat yg kosong dari hai Abu Bakar)”.
ilmu syar’I, selama kita berpegang teguh
dengan dasar-dasar yang shohih tadi. Robi’ah pun mengucapkannya ..namun jiwa
besar Abu Bakar g yang takut kepada
Inilah yang terjadi di antara dua orang Allah tidak sanggup menerimanya sehingga
sahabat sebelum keduanya sampai kepada air matanya mendahului kata-katanya. Dan
Rasulullah b. Adapun yang terjadi ia pun pergi dengan menangis semoga Allah
dihadapan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa meridhoinya.
sallama. Keduanya bertemu dihadapan
Rasulullah. Dan beliau mendengarkan dari Ya Allah .. Alangkah indah dan mengagum-
keduanya dengan seksama. Beginilah kannya kisah ini, penuh dengan akhlak yang
Rasulullah dengan para sahabatnya mulia, budi pekerti nan tinggi, saling me-
rodhiyallahu anhum; mendengarkan maafkan dan berlapang dada. Allah Ta’ala
mereka, duduk bersama mereka. Mereka berfirman,
meminta pendapatnya lalu beliau
memberikan petunjuk dan saran. Mereka  :‫) ارى‬   8 6  1& [A Y Z
& =" 8 &  A
bertanya beliau menjawab. ( 40‫ا‬
Dalam kisah ini, Rasulullah y “Maka barang siapa memaafkan dan
mendengarkan penuturan keduanya. Dia berbuat baik maka pahalanya atas
tidak hanya mendengarkan sepihak. Ini (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak
bentuk keadilan beliau. Setelah beliau menyukai orang-orang yang zalim”.
mendengar keduanya dan setelah jelas
semua permasalahan, ia menunjukkan Semoga Allah memberikan kekuatan dan
kepada Robi’ah yang lebih baik dari keteguhan kepada kita untuk meneladani
membalas ucapan Abu Bakar, dan beliau Salafush Sholeh .. Amin.
mendukungnya untuk tidak membalas
________________
[1] Kisah ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad
(4/58-59) dan Ath-Thobroni di Al-Mu’jamul Kabir
(5/52-530 dan Ibnu Asakir di At-Tarikh (9/583) dan
isnadnya dihasankan oleh Syeikh Al-Albany di As-
Silsilah Ash-Shohihah (no. 3145).
[2] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abu Hurairah
rodhiyallahu ‘anhu.

Doakanlah Saudaramu ketika


Dia tidak Mengetahuinya

Rasulullah b bersabda,

 d =R 7 &8 fe ( 5,


&  +  '&D   P& g ( '#ih E ,
&   T &   U  8& K
39 V  ( O
 " j
  k  ( 3 *    O    l . 9 '&2
 (  '#ih 8K  * 3e *   O m 
“Do’a seorang muslim kepada saudaranya ketika saudaranya tidak mengeta-
huinya adalah do’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisinya ada malaikat
(yang memiliki tugas mengaminkan do’anya kepada saudarany, pen). Ketika
dia berdo’a kebaikan kepada saudaranya, malaikat tersebut berkata : Amin,
engkau akan mendapatkan yang sama dengannya.” (HR. Muslim no. 2733)

Untaian Mutiara Hikmah, vol. 2/I, Edisi Juli 2009 11


Oleh: Ustadz Abu Zubair al-Hawary, Lc. dengan benang[1]. Maka salah satu dari
keduanya tidak membenci pasangannya

H
adits berikut ini adalah hadits sampai mati”.
menakjubkan, jarang ditam-
pilkan padahal sangat dibu- Di hadits ini, setelah Rasulullah sholllahu
tuhkan khususnya para suami. ‘alaihi wa sallama mewasiatkan untuk
memperlakukan wanita dengan baik. Beliau
Hadits ini mewasiatkan kaum pria untuk menceritakan tentang akhlak seorang suami
berbuat baik kepada wanita, memperlaku- yang bersabar dalam menghadapi istrinya
kan mereka dengan lembut, bersabar terha- yang masih muda dan kasar terhadapnya.
dap kekurangan mereka bahkan hadits ini Akhlak istrinya yang buruk tersebut tidak
mendorong untuk tidak mentalak mereka membuatnya menalaknya. bahkan Ia tetap
serta tetap menjaga ikatan suami istri bersabar sampai ia mati.
hingga mati.
Ibnul Atsir[2] menukilkan dari Al-Harby ia
Aduhai .. alangkah indahnya cinta suami- mengatakan, “Karena usia wanita itu yang
istri jika meneladani rumah-tangga Rasulul- masih kecil dan sifatnya yang kurang
lah shollallahu ‘alaihi wa sallama. lembut. Maka laki-laki itu bersabar
menghadapinya sampai mati. Maksudnya,
Sungguh akan menjadi kisah cinta paling beliau shollallahu ‘alaihi wa sallama
indah!! memotivasi para sahabatnya untuk
memperlakukan wanita dengan baik,
Imam Ath-Thobroni meriwayatkan di Al- bersabar menghadapi mereka. Dan
Mu’jamul Kabir (20/374, no.648) dari (maksudnya) Ahli Kitab melakukan itu
hadits Al-Miqdam bin Ma’di Karb terhadap wanita-wanita mereka”.
rodhiyallahu ‘anhu dengan isnad shohih,
bahwasanya Rasulullah shollallahu ‘alaihi Maka hendaklah orang-orang yang tidak
wasallama berdiri di hadapan manusia. baik mu’amalahnya dengan wanita, bersikap
Maka ia memuji dan menyanjung Allah, keras dan kasar kepada mereka, membuka
kemudian bersabda, hati sebelum membuka mata dan telinganya
E;'Z! n C 0o# T , ( E;'Z! n C terhadap hadits ini!!

Sungguh di hadits yang mulia ini terdapat


E; G #" p E; (" p E; P= qrA 0o# T , ( ‘ibroh bagi orang-orang yang tidak menjaga
4! " U=s t"L! W ; 3F=  31 C hak-hak wanita. Juga bagi orang-orang yang
tertipu dengan propaganda barat yang
 Z 8 P 7" +N! A u ^'v F7! mengatas namakan hak-hak
wanita..ketahuilah ! tidak akan mulia wanita
0F ]w x kecuali di bawah naungan islam.

“Sesungguhnya Allah mewasiatkan kepada Dah berhagialah engkau wahai saudariku


kalian agar memperlakukan wanita dengan muslimah serta bersyukurlah atas hidayah
baik. Sesungguhnya Allah mewasiatkan dan taufik Allah kepadamu untuk menjadi
kalian agar memperlakukan wanita dengan wanita muslimah.
baik. Sesungguhnya mereka adalah ibu- ___________
ibukalian, putrid-putri kalian dan bibi-bibi [1] maksudnya …ia tidak pernah menyakitinya. bentuk
kinayah untuk mengungkapkan kesabarannya terha-
kalian. Sesungguhnya ada seorang dari Ahli dap istrinya
Kitab yang menikahi seorang wanita , dan ia [2] An-Nihayah [3/284]
tidak pernah mengikat tangan wanita itu
Sumber: Telaga Hati Online (Abuzubair.Net)

Untaian Mutiara Hikmah, vol. 2/I, Edisi Juli 2009 12


P
ada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, Iyas bin Mu’awiyah al-
Muzanni diangkat menjadi Qadhi (hakim) di Bashrah. Beliau terkenal sebagai
hakim yang cerdas.

Alkisah tersebarlah berita tentang kecerdasan Iyas, sehingga orang-orang berdatangan


kepadanya dari berbagai penjuru untuk bertanya tentang ilmu dan agama. Sebagian
iingin belajar, sebagian lagi ada yang ingin menguji dan ada pula yang hendak berdebat
kusir.

Diantara mereka ada Duhqan (seperti jabatan lurah di kalangan Persia dahulu) yang
datang ke majelisnya dan bertanya:

Duhqan: “Wahai Abu Wa’ilah, bagaimana pendapatmu tentang minuman yang me-
mabukkan?”

Iyas: “Haram!”

Duhqan: “Dari sisi mana dikatakan haram, sedangkan ia tak lebih dari buah dan air yang
diolah, sedangkan keduanya sama-sama halal.”

Iyas: ”Apakah engkau sudah selesai bicara, wahai Duhqan, ataukah masih ada yang
hendak kau utarakan?”

Duhqan: ” Sudah, silahkan bicara!”

Iyas: ”Seandainya kuambil air dan kusiramkan ke mukamu, apakah engkau merasa
sakit?”

Duhqan: ”Tidak!”

Iyas: ”Jika kuambil segenggam pasir lalu kulempar kepadamu, apakah terasa sakit?”

Duhqan: ”Tidak!”

Iyas: ”Jika aku mengambil segenggam semen dan kulemparkan kepadamu, apakah terasa
sakit?”

Duhqan: ”Tidak!”

Iyas: ”Sekarang, jika kuambil pasir, lalu kucampur dengan segenggam semen, lalu aku
tuangkan air diatasnya dan kuaduk, lalu kujemur hingga kering, lalu kupukulkan ke
kepalamu, apakah engkau merasa sakit?”

Duhqan: ”Benar, bahkan bisa membunuhku!”

Iyas: ”Begitulah halnya dengan khamr. Disaat kau kumpulkan bagian-bagiannya lalu kau
olah menjadi minuman yang memabukkan, maka dia menjadi haram.”

Sumer: Mereka adalah Tabi’in, oleh: Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya, hal. 70-71

Untaian Mutiara Hikmah, vol. 2/I, Edisi Juli 2009 13


tentara Romawi - melihatnya sebelum
melihat kedatangan Khalid dan berkata,
”Dia menyerang seperti Khalid, tetapi jelas
dia bukan Khalid.” (Waqidi, hal. 27)
Kemudian Khalid bergabung dengan Rafi.

Khalid langsung menggambungkan


kelompok Rafi dan pasukan berkuda yang
Kisah Khaula binti Azwar dibawanya dan menyebarkannya dalam
kombinasi kekuatan untuk berperang.
Duhai engkau sang pejuang Sementara itu penunggang bercadar
Layaknya sekuntum bunga menunjukkan aksi berkuda dan penyerangan
di liarnya padang ilalang dengan tombaknya yang mendebarkan kaum
Amarah dan kesedihan mengobarkan Muslimin. Dia terus maju menyerang
semangatmu barisan depan pasukan Romawi dan
membunuh seorang prajurit, lalu dia
Engkau berkuda bak pejuang sejati berkuda lagi kebagian depan yang lain dan
Memimpin kaummu ikut menyerbu menyerang prajurit di barisan depan, dan
Berbanggalah ibu yang melahirkanmu seterusnya. Beberapa orang prajurit Romawi
Menjadi seorang wanita mujahidah maju untuk menghadangnya namun berhasil
dijatuhkan dengan permainan tombaknya
yang dashsyat. Kagum terhadap

D
ikisahkan ketika Khalid bin pemandangan yang menakjubkan tersebut,
Al-Walid mendekati medan pasukan Muslimin masih belum dapat
perang dalam salah satu melihat siapa gerangan pejuang itu, kecuali
pertemumpuran di Ajnadin bahwa dia adalah postur seorang anak muda
menghadapi bangsa Rowami dalam dan sepasang mata yang tajam bercahaya di
episode penaklukkan Damaskus, tiba-tiba atas cadarnya. Sang penunggang kuda
ia melihat seorang prajurit penunggang tampaknya hendak bunuh diri karena
kuda melesat melewatinya dari belakang dengan pakaian dan tombak yang
dan berkuda menuju pasukan Romawi. berlumuran darah dia kembali menyerang
Sebelum Khalid sempat menahannya, ia prajurit Romawi. Keberanian sang pejuang
telah menghilang, Bertubuh langsing dan memberikan keberanian baru bagi kelompok
berpakaian hitam, penunggang kuda itu Rafi (yang semula hampir kewalahan
mengenakan pelindung di dadanya, sebelum kedatangan pasukan Khalid bin al-
bersenjatakan pedang dan tombak. Khalid Walid), yang melupakan kelelahan mereka
melihat ia mengenakan sorban hijau dan dan menyerbu ke medan perang dengan
selendang yang menutupi wajahnya semangat baru yang tinggi ketika Khalid
sebagai cadar dan hanya matanya saja memerintahkan untuk menyerang.
yang terlihat. Khalid tiba di medan perang
bersamaan dia melihat penunggang kuda Penunggang bercadar, yang kini diikuti oleh
itu melemparkan dirinya kedalam prajurit lainnya, melanjutkan pertempuran-
pasukan Romawi dengan penuh nya dengan prajurit Romawi ketika seluruh
kemarahan yang membuat semua yang pasukan kaum Muslimin menyerbu. Segera
hadir mengira bahwa ia dan kudanya gila. setelah serbuan umum itu, Khalid mendekat
Rafi – pemimpin pasukan yang waktu itu kepada sang penunggang dan bertanya,
menggantikan Dhirar yang ditawan oleh ”Wahai pejuang, tunjukkanlah wajahmu!”

Untaian Mutiara Hikmah, vol. 2/I, Edisi Juli 2009 14


Kisah Khaulah….

Sepasang mata hitam berkilat menatap Khalid sebelum berbalik dan kembali menyerang
tentara Romawi. Kemudian beberapa orang tentara Khalid menyusulnya dan berkata
kepadanya. ”Wahai pejuang yang mulia, komandanmu memanggilmu dan engkau pergi
darinya! Tunjukkan kepada kami wajahmu dan sebutkan namamu agar engkau mendapat
penghormatan selayaknya.” Sang penunggang kuda kembali berbalik pergi seolah dengan
sengaja merahasiakan identitas dirinya.

Ketika sang penunggang kuda kembali dari serangannya, dia melewati Khalid, yang
menyuruhnya dengan tegas untuk berhenti. Dia menarik kudanya berhenti, Khalid
melanjutkan: ”Engkau telah berbuat banyak yang memenuhi hati kami dengan
kekaguman. Siapakah anda?”

Khalid hampir terjatuh dari kudanya ketika dia mendengarkan jawaban dari penunggang
kuda bercadar, karena yang didengarnya adalah suara seorang gadis. ”Wahai komandan,
bukannya aku enggan menjawab pertanyaan anda, hanya saja aku merasa malu, sebab
anda seorang pemimpin yang agung, sedangkan aku adalah gadis pingitan. Sesungguhnya
tiada lain yang mendorongku untuk melakukan hal seperti itu melainkan karena hatiku
terbakar dan aku sangat sedih.”

Khalid dibuat kagum kepada orang tua itu, Al-Azwar, yang menjadi ayah pejuang-pejuang
pemberani, laki-laki dan perempuan (yakni Dhirar dan Khaula-pent). ”Kalau begitu
bergabunglah bersama kami.” (Waqidi, hal. 28)

Dialah Khaulah binti Al-Azwar, seorang gadis pemberani, yang membuat kagum pasukan
Muslimin dengan sepak terjangnya menyerang tentara Romawi. Kesedihan dan
kemarahan akan berita ditawannya saudaranya tercinta, Dhirar bin al-Azwar,
membuatnya tampil ke medan perang sebagai pejuang, dan tidak lagi berada di barisan
belakang sebagai perawat prajurit yang terluka dan mengurus perbekalan sebagaimana
yang dilakukan sebelumnya bersama para wanita yang ikut dalam peperangan.

Dikisahkan dalam perang Yarmuk, Khaulah, isteri Zubair, Ummu Hakim dan kaum
wanita lainnya ikut terlibat di dalam peperangan. Dengan bersenjatakan pedang, tombak
dan tiang-tiang tenda, mereka melawan setiap tentara musuh yang mendekat, dan
membawakan air bagi pasukan muslimin yang terluka dan kehausan. Ia berteriak kepada
kaumnya: ”Sebagian kalian jangan sampai terpisah dari lainnya. Jadilah seakan-akan satu
lingkaran dan jangan berpencar karena itu akan menyebabkan kalian mudah dikuasai lalu
akan terjadi perpecahan diantara kalian. Hancurkan tombak-tombak mereka, patahkan
pedang-pedang mereka!”

Dia berperang dengan seorang tentara Romawi, namun lawannya adalah pemain pedang
yang lebih baik dan berhasil memukul kepala Khaulah dengan pedangnya, dan akibatnya
ia terjatuh dengan darah yang bersimbah membasahi kepalanya. Ketika pasukan Romawi
dipukul mundur, dan wanita lainnya melihat tubuhnya tidak bergerak, ia menangis sedih
dan bergegas mencari Dhirar untuk mengabarkan bahwa saudarinya tercinta telah tiada.
Namun Dhirar tidak dapat ditemukan hingga malam tiba. Ketika ia akhirnya tiba di
tempat saudarinya, Khaulah duduk dan tersenyum. Dia sungguh baik-baik saja!

Maraji:
1. “Dzatul Himmah” (Setinggi Cita Wanita Perindu Surga) oleh Isham bin Muhammad Asy-Syarif.
(Dalam buku ini, Dhirar bin Al-Azwar disebutkan sebagai Shirar bin Al-Azur)
2. "The Sword of Allah: Khalid bin Al-Waleed, His Life and Campaigns" oleh mantan Lieutenant-General
A.I. Akram of the Pakistan Army, in October 1969.

Untaian Mutiara Hikmah, vol. 2/I, Edisi Juli 2009 15


Berhati-Hatilah dalam Pergaulan

Ibnu al-Jauzy berkata:

Salah satu kesalahan fatal adalah terlalu percaya kepada manusia dan
membukakan seluruh rahasia kepada teman-teman dekat. Ketahuilah,
musuh yang paling berbahaya adalah kawan yang berbalik menjadi musuh,
karena ia telah tahu seluk-beluk temannya temannya tersebut. Seorang
penyair berkata:

Berhati-hatilah terhadap musuhmu sekali

Namun berhati-hatilah terhadap kawanmu seribu kali

Kaena mungkin temanmu berbalik

Maka ia tahu dari mana harus menukik

Sumber: Shaidul Khatir (edisi Indonesia) oleh Ibnu al-Jauzy

Sang Peminang Biadadari

S
unaid bin Daud mengatakan bahwa sepupunya Juwairiyah bin As-
maa’ bercerita kepadanya,

Ketika kami berada di kota Ubadan, datang seorang pemuda ahli


ibadah penduduk kota Kufah. Lalu pemuda itu meninggal pada hari yang
sangat panas. Aku menyarankan kepada teman-teman agar kami mengurus
jenazah itu setelah derajat panas akak berkurang. Maka kami beranjak untuk
mempersiapkan jenazah. Tidak lama setelah itu aku tertidur dan bermimpi
seakan berada di sebuah pemakaman, dan tiba-tiba aku berada di sebuah
kubah dengan indahnya kilauan mutiara. Aku terus memperhatikannya, dan
tiba-tiba kubah itu terbelah, lalu muncullah seorang pelayan wanita yang
tidak pernah aku lihat padanan kecantikannya. Dia bergerak mendekati ke
arahku seraya berkata:

“Demi Allah, janganlah engkau tahan pemuda itu dari kami sampai waktu
Dzuhur.” Aku pun terperanjat bangun, lalu aku segera mempersiapkan
kembali jenazah itu, dan aku pun menggali tanah untuk kuburannya di
tempat yang sama dengan kubah yang aku lihat dalam mimpiku. Akhirnya
aku menguburkan jenazahnya di tanah itu.

Dikisahkan oleh Ibnu Abid Dunya dalam Al-Manaamat sebagaimana dinkil dalam Al-
Huur al-Ain wa Manaamatu ash-Shalihin (edisi Indonesia) oleh Syaikh Ihsan
Hasanain hal. 178-179.

Untaian Mutiara Hikmah, vol. 2/I, Edisi Juli 2009 16


”Saudaraku, yang aku temukan adalah
Malik bin Dinar. Aku ingin mencuri
darinya namun akhirnya dialah yang telah
mencuri hatiku...”

P
ada suatu malam, seorang pencuri semalaman penuh di rumah Malik bin
memanjat dinding rumah Malik Dinar. Dia terus melakukan shalat sampai
bin Dinar dan masuk ke dalam pagi. Lalu Malik berkata, ”Sekarang pergilah
rumah dengan mudah. Akan dan jadilah orang yang baik.”
tetapi pencuri itu kecewa karena mendapati
tidak ada sesuatu pun yang berharga yang Tetapi bukannya pergi pencuri itu berkata,
pantas dicuri. Sang pemilik rumah saat itu ”Apakah kamu keberatan jika aku tinggal
sedang berada di dalam rumah mengerjakan bersamamu hari ini, karena aku sudah
shalat. Menyadari bahwa dia tidak berniat untuk berpuasa pada hari ini.”
sendirian, Malik bin Dinar segera
”Tinggallah selama yang kamu inginkan.”
mengakhiri shalatnya dan berbalik
Kata Malik.
menghadapi si pencuri. Tanpa terlihat
terkejut atau takut, dengan tenang Malik Akhirnya Pencuri itu tinggal selama
memberi salam kepada sang pencuri dan beberapa hari di rumah Malik, shalat di
berkata, ”Saudaraku, semoga Allah setiap bagian akhir malam dan puasa setiap
mengampunimu. Engkau sudah memasuki hari. Ketika akhirnya dia memutuskan
rumah dan tidak menemukan sesuatu pun untuk pergi, pencuri itu berkata, ”Wahai
yang berharga untuk diambil, akan tetapi Malik, aku telah membuat keputusan untuk
aku tidak ingin membiarkanmu pergi tanpa bertaubat dari dosa-dosa dan jalan hidupku
mengambil manfaat apapun. sebelumnya.”
Lalu dia berdiri dan masuk ke ruangan Malik berkata, ”Sungguh, semuanya berada
lainnya, dan kembali lagi dengan seember di tangan Allah.”
air. Dia menatap mata pencuri dan berkata,
”Berwudhulah dan lakukanlah shalat dua Laki-laki itu sungguh-sungguh memperbaiki
raka’at, karena jika kamu melakukannya, hidupnya dan mulai menjalani kehidupan
kamu akan meninggalkan rumahku dengan yang shaleh dan taat keapda Allah. Suatu
harta yang besar yang engkau cari ketika ketika ia bertemu dengan pencuri lain yang
memasuki rumahku.” dikenalnya. Orang itu berkata kepadanya:
”Apakah kamu sudah menemukan harta
Tergerak oleh sikap dan kata-kata Malik, karunmu?”
pencuri itu berkata, ”Baiklah, itu sungguh
tawaran yang baik.” Dia berkata, ”Saudaraku, yang aku temukan
adalah Malik bin Dinar. Aku ingin mencuri
Setelah berwudhu dan melakukan shalat darinya namun akhirnya dialah yang telah
dua raka’at, pencuri itu berkata, ”Wahai mencuri hatiku. Aku telah bertaubat kepada
Malik, apakah kamu keberatan jika aku Allah, dan akan tetap berada di depan pintu
tinggal lebih lama, karena aku ingin (taubat) sampai aku meraih apa yang telah
melakukan shalat dua raka’at lagi.” diraih oleh hamba-hamba-Nya yang taat
dan dicinta-Nya.”
Malik berkata, ”Tinggallah untuk berapa
raka’at pun yang Allah tetapkan untukmu Sumber: Al-Mawa’idh wal Majalis : 85 dalam Sto-
melaksanakannya.” ries of Repentance oleh Muhammad Abduh
Pencuri itu akhirnya menghabiskan Maghawiri

Untaian Mutiara Hikmah, vol. 2/I, Edisi Juli 2009 17


D
ikisahkan bahwa seorang laki- sementara engkau bermaksiat kepada-Nya?”
laki pernah mendatangi Ibrahim
bin Adam dan berkata, ”Wahai ”Tidak.” Kata laki-laki itu. ”Apa syarat yang
Abu Ishaq, aku terus-menerus kedua?”
mencelakai diriku, dan aku berpaling dari
segala sesuatu yang mengajakku untuk ”Jika engkau ingin bermaksiat kepada Allah,
memperbaiki hidupku.” maka janganlah hidup di atas tanah-Nya.”
Kata Ibrahim.
Ibrahim berkata: ”Jika engkau memenuhi
lima syarat, perbuatan dosa tidak akan ”Ini bahkan lebih buruk dari yang pertama.
pernah membahayakanmu dan engkau dapat Semua yang membentang di Barat dan di
memenuhi hawa nafsumu sebanyak yang kau Timur adalah milik-Nya. Lalu dimana aku
inginkan.” akan tinggal?”

”Beritahukan kepadaku syarat-syarat itu,” ”Dengar, ” Ibrahim berkata, ”Jika engkau


kata laki-laki itu. terus-menerus durhaka kepada-Nya dan
makan dari rizki-Nya dan tinggal di tanah-
”Yang pertama, jika engkau ingin bermaksiat Nya, setidaknya carilah tempat dimana Dia
kepada Allah, maka janganlah makan dari tidak dapat melihatmu, dan bermaksiatlah
rizki (yang diberikan)-Nya.” kata Ibrahim. kepada-Nya disana.”

”Lalu apa yang dapat kumakan, karena ”Wahai Ibrahim!” laki-laki itu berseru,
semua yang ada di di bumi adalah rizki dari- ”Bagaimana aku dapat melakukannya,
Nya?” kata laki-laki itu. sedangkan Dia Maha Mengetahui bahkan
rahasia terdalam yang ada dalam dada
”Dengar,” Ibrahim berkata, ”Apakah masuk manusia? Apa syarat keempat?” Dia
akal ketika engkau makan dari rizki-Nya bertanya dengan nada putus asa.

”Bila malaikat maut datang selamat?” tanya Ibrahim.


untuk mengambil nyawamu,
maka katakan kepadanya: ”Katakan kepadaku syarat ”Hentikan, hentikan! Itu
”beri aku tangguh, agar aku yang kelima,” kata laki-laki cukup bagiku, ” kata laki-laki
dapat melakukan taubat itu. itu. ”Aku memohon ampun
nasuha dan melakukan amal kepada Allah dan aku
kebaikan.” ”Bila malaikat penjaga sungguh bertaubat kepada-
ner ak a d at ang u nt u k Nya.”
”Bila waktunya tiba, malaikat membawamu pergi pada hari
tak akan mengabulkan Kiamat, jang an perg i Sejak hari itu, laki-laki itu
permohonanku.” kata laki- bersamanya.” kemudian menghabiskan
laki itu. hidupnya untuk beribadah
”Mereka tidak akan kepada Allah.
”Dengar,” Ibrahim berkata, melepaskanku, ” seru laki-
”Jika engkau tidak dapat laki itu.
menunda kematian untuk
bertaubat, lalu bagaimana ”Lalu bagaimana engkau Sumber: Story of Repentance
oleh: Muhammad Abduh
engkau berharap akan berharap akan selamat?” Maghawiri

Untaian Mutiara Hikmah, vol. 2/I, Edisi Juli 2009 18


D
alam sabda Rasulullah . bahwa para ulama adalah pewaris para nabi,
menunjukkan perintah bagi umat untuk mentaati, menghormati, meninggi-
kan, dan memuliakan mereka, karena mereka juga adalah pewaris beberapa
hak para nabi atas umat. Karena mencintai para nabi adalah bagian dari tun-
tunan agama dan membenci mereka bertentangan dengan agama, demikian juga terhadap
para pewaris mereka. Ali berkata, "Mencintai ulama merupakan tuntunan agama yang ha-
rus dilaksanakan." Allah  berfirman dalam sebuah hadits Qudsi,

"Barangsiapa yang menentang wali-Ku, maka dia telah menantang Aku untuk ber-
perang."{HR Bukhari dan Abu Nu'aim)

Jadi para pewaris nabi adalah para wali Allah .


Dalam sabda Nabi . bahwa para ulama adalah pewaris para nabi, terdapat isyarat mereka
untuk mengikuti petunjuk para nabi dalam menyampaikan agama.Yaitu, dengan penuh ke-
sabaran, membalas kejahatan manusia dengan kebaikan, lemah lembut dan mengajak manu-
sia kepada jalam Allah dengan cara yang terbaik, serta selalu berusaha memberikan nase-
hat kepada manusia untuk menunaikan kebajikan. Dengan itulah mereka memperoleh
bagian dari warisan para nabi yang sangat berharga dan mulia nilainya.

Sumber: Mukhtasar Miftahud Daar As-Sa’ada (Kunci Kebahagiaan) oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah)

Untaian Mutiara Hikmah Kepada para pembaca dan pemerhati Maktabah


Raudhah al-Muhibbin yang ingin menyumbangkan
Disusun oleh: eBook, ataupun artikel, yang sejalan dengan misi
Maktabah, dapat mengirimkan kepada kami melalui
eMail berikut:
redaksi@raudhatulmuhibbin.org
Atau bagi yang ingin berbagi materi pendidikan anak
dapat mengirimkannya ke:
bam@raudhatulmuhibbin.org.
Maktabah Raudhah al-Muhibbin
taman baca pencinta ilmu Dukung kegiatan Maktabah dengan menyebarluas-
http://www.raudhatulmuhibbin.org kan manfaatnya kepada orang-orang disekitar antum

Untaian Mutiara Hikmah, vol. 2/I, Edisi Juli 2009 19