Anda di halaman 1dari 31

RTRW Provinsi Papua Barat

BAB 3
PROFIL WILAYAH PROVINSI PAPUA BARAT

3.1

ASPEK FISIK DASAR

3.1.1 Batas Administrasi dan Geografi Provinsi Papua Barat secara definitif dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 1999 yang secara administratif terdiri dari 8 (delapan) kabupaten, 1 (satu) kota, 103 distrik, 48 kelurahan, dan 1.172 kampung (BP3D Provinsi Papua, 2007) dengan luas wilayah secara keseluruhan sebesar 115.363,50 km. Provinsi Papua Barat secara geografis terletak pada 124 -132 Bujur Timur dan 0 -4 Lintang Selatan, tepat berada di bawah garis khatulistiwa dengan ketinggian 0-100 meter dari permukaan laut.

Laporan Fakta Analisis

3-1

RTRW Provinsi Papua Barat

Gambar 3.1 Batas Wilayah Administratif Provinsi Papua Barat

Laporan Fakta Analisis

3-2

RTRW Provinsi Papua Barat

Batas geografis Provinsi Papua Barat adalah: Sebelah Utara Sebelah Selatan Sebelah Barat Sebelah Timur : Samudera Pasifik. : Laut Banda (Provinsi Maluku). : Laut Seram (Provinsi Maluku). : Provinsi Papua.

Wilayah Provinsi Papua Barat memiliki 9 wilayah pemerintahan daerah yang terdiri dari 8 kabupaten dan 1 kota dengan luas dan perbandingan persentase luas wilayah kota kabupaten di Provinsi Papua Barat disajikan pada tabel berikut ini: Tabel 3.1 Luas Wilayah dan Persentase Menurut Kabupaten/Kota
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kabupaten/Kota Kabupaten Manokwari Kabupaten Fak-Fak Kabupaten Sorong Kota Sorong Kabupaten Sorong Selatan Kabupaten Raja Ampat Kabupaten Teluk Bintuni Kabupaten Teluk Wondama Kabupaten Kaimana Total Luas Planemetrik (Ha) 1.209.441,68 868.545,06 1.665.656,42 31.735,68 1.164.732,37 504.725,10 2.086.732,12 503.667,92 1.829.984,80 9.865.221,15 Persentase (%) 13 12 16 1 12 10 16 4 16 100

9. Kota Provinsi Papua Barat 8. Raja Ampat 10% 7. Sorong 16% Sorong 1% 1. Fak-Fak 12% 2. Kaimana 16%

6. Sorong Selatan

3. Teluk Wondama 4%

Sumber: Irian Jaya Barat Dalam Angka Tahun 2006, Hasil Analisis, 2008. Gambar 3.2 Persentase Luas Wilayah Provinsi Papua Barat Menurut Kabupaten/Kota

Laporan Fakta Analisis

3-3

RTRW Provinsi Papua Barat

3.1.2 Klimatologi Provinsi Papua Barat terletak tepat di sebelah Selatan garis khatulistiwa sehingga termasuk dalam wilayah tropika humida. Karena daerahnya yang bergunung-gunung, maka iklim di Provinsi Papua Barat sangat bervariasi melebihi daerah Indonesia lainnya. Pola umum iklim dan cuaca sangat dipengaruhi oleh topografinya yang kasar. Suhu sangat bergantung dari ketinggian, sedangkan ketinggian dan kejajaran barisan pegunungan mempengaruhi pola angin dan presipitasi dalam setiap daerah.

Iklim di Provinsi Papua Barat memiliki 3 (tiga) pola yaitu pola tunggal (A dan D), pola berfluktuasi (B), dan pola ganda (C). Pola tunggal A atau pola sederhana (simple wave) memiliki curah hujan terendah pada bulan Juli/Agustus. Pola tunggal D memiliki curah hujan tertinggi pada bulan Juli/Agustus. Pola A dan D menunjukkan adanya perbedaan yang jelas antara jumlah curah hujan pada musim hujan dan musim kemarau. Pada pola B, perbedaan antara jumlah curahan pada musim hujan dan musim kemarau tidak jelas. Pada pola ini biasanya curah hujan bulanan tidak teratur atau hampir merata sepanjang tahun. Pada pola C, dalam setahun terjadi dua kali puncak curahan tertinggi atau dua kali puncak curahan terendah.

A.

Curah Hujan

Musim di Papua Barat dicirikan oleh angin Tenggara yang bertiup sekitar pertengahan April hingga September dan Muson Barat Laut yang dimulai dalam Bulan Oktober hingga Maret. Angin Tenggara dan Muson Barat Laut biasanya panas dan mengandung uap air yang diangkut ketika melewati samudera. Jumlah hujan yang jatuh di setiap tempat di Papua secara khusus dikendalikan oleh topografi. Musim hujan di setiap daerah tergantung dari waktu di mana musim ini terpaparkan pada satu atau kedua sistem angin tersebut. Pada umumnya pegunungan di Kepala Burung, Pantai Utara dan di sebelah Utara Kordirela mendapatkan hujan terbanyak dari angin Barat Laut dalam Bulan Oktober hingga Maret, sedangkan dataran rendah di Selatan Kepala Burung dan Jazirah Onin dan Bomberai serta dataran rendah di Selatan Kordirela mendapatkan hujan terbanyak antara Bulan April dan September ketika angin bertiup dari arah Tenggara. Pola umum ini menjadi rumit oleh topografi dan pola angin.

Laporan Fakta Analisis

3-4

RTRW Provinsi Papua Barat

Tabel 3.2 Banyaknya Curah Hujan di Provinsi Papua Barat Tahun 2003-2006 (mm) Kabupaten/Kota Kab. Fak-Fak Kab. Kaimana Kab. Teluk Wondama Kab. Teluk Bintuni Kab. Manokwari Kab. Sorong Selatan Kab. Sorong Kab. Raja Ampat Kota Sorong 2003 3,091 2,313 1,470 2.836 2,836 2,836 2,836 2004 3,586 2,133 1,323 2.048 2,048 2.048 2,047 2005 3,209 2,127 2,600 2,357 2,357 2.537 2,043 2006 3,689 2,319 2,351 2,171 Rataan 3,394 2,191 1,928 2,414 2,398 2,474 2,274

Sumber: Provinsi Papua Barat dalam Angka Tahun 2007.

Laporan Fakta Analisis

3-5

RTRW Provinsi Papua Barat

Laporan Fakta Analisis

3-6

Gambar 3.3 Peta Kemiringan Lereng

RTRW Provinsi Papua Barat

Berdasarkan jumlah curah hujannya, wilayah Papua Barat memiliki tiga kelas curah hujan, yaitu kelas III dengan curah hujan antara 2000 s.d. 3000 mm/tahun; kelas IV dengan curah hujan antara 3000 s.d. 4000 mm/tahun; dan kelas V dengan curah hujan antara 4000 s.d. 5000 mm/tahun. Hampir seluruh wilayah Papua Barat memiliki kelas curah hujan tipe III pola C, dengan curah hujan sekitar 2000 s.d. 3000 mm/tahun dan rata-rata jumlah hari hujan sekitar 180 s.d. 230 hari hujan. Iklim ini meliputi daerahdaerah yang berkelerengan cukup tinggi mencakup wilayah Kabupaten Sorong, Kabupaten Manokwari, Kabupaten Teluk Bintuni, Kabupaten Fak-Fak, sebagian Kaimana, Raja Ampat, dan Kabupaten Teluk Wondama.
130 0 132 134 0

PETA DISTRIBUSI CURAH HUJAN PROPINSI PAPUA BARAT


N

Waisai
#

RAJA AMPAT

Sorong SORONG

Manokwari

30

30

60

Kilometer MANOKWARI SORONG SELATAN Teminabuan


#

(1 : 2.200.000)

KETERANGAN
#

Ibukota kabupaten Batas kabupaten

TELUK BINTUNI

Curah hujan tahunan (mm)


1000

Bintuni TELUK WONDAMA Rasiei


#

1500 2500 3500 5000

Fak-Fak
#

FAK-FAK

KAIMANA

Sumber:
Hart (1966;1971) dan Haantjens et.al., (1967)

Kaimana Kota
4

Laboratorium GIS Tanah Fapertek Universitas Negeri Papua 130 132 134

Gambar 3.4 Distribusi Curah Hujan di Provinsi Papua Barat

Kabupaten Kaimana memiliki kategori iklim pada tipe III B, III C, IV D dengan curah hujan antara 2000 s.d. 4000 mm/tahun. Curah hujan tertinggi terjadi pada kisaran Bulan Juli dan Agustus. Sedangkan wilayah Kabupaten Sorong Selatan memiliki dominasi iklim tipe V D dengan curah hujan sangat tinggi di atas 5000 mm/tahun.

Pola Iklim IV B dengan curah hujan 3000 s.d. 4000 mm/tahun dan berfluktuasi terjadi di wilayah ibu kota Kabupaten Manokwari. Sedangkan di Kabupaten Raja Ampat cukup bervariasi, terdapat kategori iklim II B, III C dan IV D. Semua kategori curah hujan rendah, sedang sampai tinggi menyebar di Kabupaten Raja Ampat ini.

Laporan Fakta Analisis

3-7

RTRW Provinsi Papua Barat

Tabel 3.3 Banyaknya Hari Hujan di Provinsi Papua Barat Tahun 2003-2005 (hari)
Kabupaten/Kota Kab. Fak-Fak Kab. Kaimana Kab. Teluk Wondama Kab. Teluk Bintuni Kab. Manokwari Kab. Sorong Selatan Kab. Sorong Kab. Raja Ampat Kota Sorong 2003 210 214 187 185 185 185 2004 210 218 178 218 218 2005 232 208 203 230 230 2006 228 150 156 156 Rataan 220 213 179 197 185 197

Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTh 2006.

B.

Suhu dan Kelembaban

Suhu dan kelembaban merupakan komponen iklim paling konstan di Pulau Papua. Di dataran rendah, suhu harian biasanya antara 29 oC sampai 32 oC, sementara di daerah pegunungan pada 1500-2000 mdpl, 5-10 derajat lebih dingin. Pada malam hari, suhu di sepanjang pantai 5-8 derajat lebih dingin daripada siang hari, sedangkan di daerah pegunungan kisarannya lebih lebar. Karakteristik suhu di Pulau Papua tidak menunjukkan fluktuasi tahunan yang nyata. Tabel 3.4 Suhu Udara Rata-Rata Menurut Lokasi Stasiun di Provinsi Papua Barat Tahun 1999-2005 ( C) Kabupaten/Kota 2003 2004 2005 2006 Kab. Fak-Fak Kab. Kaimana Kab. Teluk Wondama Kab. Teluk Bintuni Kab. Manokwari Kab. Sorong Selatan Kab. Sorong Kab. Raja Ampat Kota Sorong 28,05 27,2 27,26 27,6 27,6 27,6 23,0 27,47 27,28 27,6 27,6 25,7 27,48 27,38 27,7 27,7 25,6 27,08 27,3 27,6

Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTh 2006

Laporan Fakta Analisis

3-8

RTRW Provinsi Papua Barat

Suhu udara rata-rata di wilayah Provinsi Papua Barat berkisar 20,7-28,25 C dengan suhu maksimal sebesar 28,25 C terjadi di wilayah Kabupaten Sorong dan Kota Sorong, dan suhu minimal sebesar 20,7 C berada di Kabupaten Manokwari (data hasil pencatatan suhu udara pada beberapa stasiun yang berada di kabupaten/kota seProvinsi Papua Tahun 2005).

Kelembaban nisbi tinggi dan konstan, berkisar dari 75-80%, dimana daerah dataran rendah cenderung lebih lembab. Kelembaban udara rata-rata di wilayah Provinsi Papua Barat berkisar antara 83,6% s.d. 85,2%, kelembaban udara terendah terdapat di Kota Sorong sedangkan kelembaban tertinggi terdapat di Kabupaten Fak-Fak.

Tutupan awan merupakan unsur penting yang mempengaruhi arus suhu. Papua merupakan salah satu tempat paling berawan di dunia, terutama di daerah pegunungan di mana awan cumulus hampir selalu meningkat ke tengah hari. Keadaan ini merupakan gangguan utama bagi transportasi udara dengan pesawat kecil. Karena berada di khatulistiwa, waktu siang hari (sekitar 12 jam) adalah konstan dengan variasi tahunan sekitar 30 menit antara hari terpanjang dan terpendek.

Tabel 3.5 Kelembaban Udara Rata-Rata di Provinsi Papua Barat Tahun 2003-2006 (%)
Kabupaten/Kota Kab. Fak-Fak Kab. Kaimana Kab. Teluk Wondama Kab. Teluk Bintuni Kab. Manokwari Kab. Sorong Selatan Kab. Sorong Kab. Raja Ampat Kota Sorong 83,00 84,00 83,00 83,00 84,00 83 83,00 84,00 83 83,50 83,33 83,67 84,17 2003 84,9 85,0 2004 85,3 83,92 2005 85,3 84,08 2006 85,3

Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTh 2007.

Penyinaran matahari rata-rata di wilayah Provinsi Papua Barat berkisar antara 52,36% s.d. 128,81%, penyinaran matahari terendah terdapat di Kabupaten Kaimana sedangkan lama penyinaran tertinggi terdapat di Kabupaten Fak-Fak. Dengan kondisi seperti ini di

Laporan Fakta Analisis

3-9

RTRW Provinsi Papua Barat

wilayah Papua Barat memiliki potensi bagi pengembangan komoditi-komoditi pertanian terutama dikaitkan dengan persentase lama penyinaran.

Berdasarkan uraian karakteristik iklm tersebut, Provinsi Papua Barat yang memiliki keragaman suhu udara, kelembaban udara yang relatif konstan, penyinaran matahari yang hampir terus menerus sepanjang tahun, dan curah hujan yang cukup tinggi menjadi potensi besar bagi pengembangan budidaya tanaman pertanian dan perkebunan terutama untuk wilayah Kabupaten Manokwari, Kota Sorong, Teluk Bintuni, dan Kabupaten Sorong Selatan yang mendapatkan potensi tersebut. 3.1.3 Morfologi 3.1.3.1 Ketinggian

Kondisi topografi Provinsi Papua Barat sangat bervariasi membentang mulai dari dataran rendah, rawa sampai dataran tinggi, dengan tipe tutupan lahan berupa hutan hujan tropis, padang rumput dan padang alang-alang. Ketinggian wilayah di Provinsi Papua Barat bervariasi dari 0 s.d > 1000 m, dengan sebaran sebagai berikut:

Tabel 3.6 Penyinaran Matahari Rata-Rata di Provinsi Papua Barat Tahun 2003-2006 (%)
Kabupaten/Kota Kab. Fak-Fak Kab. Kaimana Kab. Teluk Wondama Kab. Teluk Bintuni Kab. Manokwari Kab. Sorong Selatan Kab. Sorong Kab. Raja Ampat Kota Sorong 61,00 61,00 61,00 62,00 68,90 58 62,00 68,90 63,30 59,70 49,00 54,58 2003 126,9 45,83 2004 115,05 58,08 2005 147,37 53,17 2006 125,92

Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2007.

Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa kondisi topografi antar wilayah di Provinsi Papua Barat cukup bervariasi. Kondisi ini merupakan salah satu elemen yang menjadi barrier transportasi antar wilayah, terutama transportasi darat, serta dasar bagi kebijakan pemanfaatan lahan.

Laporan Fakta Analisis

3-10

RTRW Provinsi Papua Barat

Tabel 3.7 Luas Wilayah Menurut Ketinggian dari Permukaan Laut dan Kabupaten/Kota (Ha)
Wilayah Pengembangan WP MANOKWARI WP SORONG WP FAK-FAK 0-100m 1.413.366 2.046.200 1.192.132 Kelas ketinggian >100-500m 1.257.691 1.015.250 328.109 >500-1000 377.847 288.050 284.301 >1000m 741.196 518.900 250.058 3.790.100 3.868.400 2.054.600 Jumlah

Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2007.

3.1.3.2

Kelerengan

Tinjauan atas morfologi wilayah didasarkan pada kondisi kelerengan atau kemiringan. Sebagian besar wilayah Provinsi Papua Barat memiliki kelas lereng > 40% dengan bentuk wilayah berupa perbukitan. Kondisi tersebut menjadi kendala utama bagi pemanfaatan lahan baik untuk pengembangan sarana dan prasarana fisik, sistem transportasi darat maupun bagi pengembangan budidaya pertanian terutama untuk tanaman pangan. Sehingga, dominasi pemanfaatan lahan diarahkan pada hutan konservasi disamping untuk mencegah terjadinya bahaya erosi dan longsor.

Gambar 3.5 Kenampakan Elevasi di Provinsi Papua Barat

Laporan Fakta Analisis

3-11

RTRW Provinsi Papua Barat

Tabel 3.8 Luas Wilayah Menurut Kelas Lereng/Kemiringan dan Wilayah Pengembangan
Wilayah Pengembangan WP MANOKWARI WP SORONG WP FAK-FAK 0-15% 984.998 105.310 1.434.636 Kelas lereng >15-40% 19.700 158.582 57.500 >40% 448.502 49.108 2.297.964 1.453.200 313.000 3.790.100 Jumlah

Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTh 2007

3.1.4 Kondisi Geologi 3.1.4.1 Evolusi Tektonik Pulau Papua

Pembentukan Pulau Papua atau Pulau New Guinea telah didiskusikan oleh berbagai ahli dan diringkas oleh Petocz (1984). Konsep lempeng tektonik yang telah diterima umum mengganggap, bahwa kerak bumi terbagi dalam tujuh lempeng sangat besar dan sejumlah lempeng lithosfer kecil lainnya. Setiap lempeng terdiri atas bagian kerak benua (kontinental) dan kerak samudera (oseanik), yang kesemuanya bergerak relatif terhadap sesamanya. Bagian Selatan Pulau Papua merupakan tepi Utara dari benua super kuno, Gondwanaland, yang juga termasuk di dalamnya adalah Antartika, Australia, India, Amerika Selatan, Selandia Baru dan Kaledonia Baru. Awal terpisahkan benua ini dari posisi Selatannya terjadi pada masa Kretasius Tengah (kurang lebih 100 juta tahun lalu). Lempeng Benua India-Australia (atau biasa disebut Lempeng Australia) bergerak ke arah Utara keluar dari posisi kutubnya dan bertubrukkan dengan Lempeng Samudra Pasifik yang bergerak ke arah Barat. Pulau Papua merupakan produk pertumbuhan benua yang dihasilkan dari tubrukan kedua lempeng tersebut, di mana lempeng Pasifik mengalami subduksi atau tertindih di bawah lempeng Australia. Pada saat dimulainya gerakan ke Utara dan rotasi dari benua super ini, seluruh Papua dan Australia bagian Utara berada di bawah permukaan laut. Bagian daratan paling Utara pada Lempeng India-Australia antara 90-100 juta tahun lalu berada pada 480 Lintang Selatan yang merupakan titik pertemuan Lempeng India-Australia dan Pasifik. Ketika Lempeng India-Australia dan Lempeng Pasifik bertemu di sekitar 40 juta tahun lalu, Pulau Papua mulai muncul di permukaan laut pada sekitar 35 Lintang Selatan. Proses ini berlanjut selama masa Pleistosen hingga Pulau Papua terbentuk seperti di saat ini.
0

Dari evolusi tektonik menunjukkan, bahwa geologi Papua sangat kompleks karena melibatkan interaksi antara dua lempeng tektonik, yaitu Lempeng Australia dan Lempeng Pasifik. Menurut Sapiie (2000), pada umumnya geologi Papua dapat dibagi ke dalam tiga provinsi geologi besar, yaitu Provinsi Kontinental, Oseanik, dan Transisi. Setiap provinsi geologi memiliki karakteristiknya sendiri dalam sejarah stratigrafik, magmatik dan tektonik. Provinsi Kontinental terdiri atas sedimen yang terpisah dari kraton Australia.

Laporan Fakta Analisis

3-12

RTRW Provinsi Papua Barat

Provinsi Oseanik terdiri atas batuan ofiolit (ophiolite rock) dan kompleks volkanik busurkepulauan (island-arc volcanics complex) sebagai bagian dari lempeng Pasifik. Provinsi Transisi adalah suatu zona yang terdiri atas deformasi tinggi dan batuan metamorfik regional sebagai produk dari interaksi antara kedua lempeng.

Menurut Dow et al. (2005), ciri dominan dari perkembangan geologi Papua merupakan dikotomi antara sejarah tektonik dari batuan mantap kraton Australia dan Lempeng Pasifik di satu sisi, dan periode tektonik intens dari zona deformasi di sisi lainnya (New Guinea Mobile Belt). Dari paparan di sepanjang tepi Utara dan dari eksplorasi permukaan bawah (sub-surface) di sebelah Selatan, serta pencatatan lengkap sejarah geologi hingga saat ini menunjukkan, bahwa batuan dari kraton Australia pada sebagian besar wilayah ini dicirikan oleh sedimentasi palung (shelf sedimentation). Hanya sebagian kecil yang dipengaruhi oleh proses tektonik dari zaman Paleozoik Awal hingga Tersier Akhir. Batuan Lempeng Pasifik yang terpaparkan di Papua berumur lebih muda. Terlepas dari batuan mantel sesar naik yang kemungkinan berumur Mesozoik dan beberapa kerak Samudera Jurasik, Lempeng Pasifik ini terdiri atas volkanik busur kepulauan dan subordinat kerak samudera berumur Palaeogen. Batuan lempeng Pasifik pada umumnya letak datar terpatah hanya oleh beberapa patahan.

Laporan Fakta Analisis

3-13

RTRW Provinsi Papua Barat

Gambar 3.6 Setting Tektonik Papua


Setting Tektonik Papua. MTFB = Mamberamo Thrust & Fold Belt; WO = Weyland Overthrust; WT = Waipona Trough; TAFZ = Tarera-Aiduna Fault Zone; RFZ = Ransiki Fault Zone; LFB = Lengguru Fault Belt; SFZ = Sorong Fault Zone; YFZ = Yapen Fault Zone; MO = Misool-Onin High. Tanda panah menunjukkan gerakan relatif antara Lempeng Pasifik dan Australia.

Zona deformasi yang berada di sebelah Timur adalah bagian dari New Guinea Mobile Belt (Sabuk Mobil New Guinea) dan merupakan campuran dari batuan kraton Australia dan Lempeng Pasifik. Walaupun pencatatannya terpisah-pisah, terdapat bukti bahwa batuannya berasal dari tektonik utama pada episode Paleozoik Pertengahan dan Oligosen maupun episode beku dalam Paleozoik Pertengahan, Triasik, Kretasius, dan Miosen Pertengahan. Akan tetapi, sebaran paling luas dari aktivitas tektonik dan volkanik dimulai pada Miosen Akhir dan berlanjut hingga sekarang; ini disebut Melanesian Orogeny (Dow and Sukamto, 1984).

Laporan Fakta Analisis

3-14

RTRW Provinsi Papua Barat

Wilayah Papua Barat sangat berpotensi terhadap gempa tektonik dan kemungkinan diikuti oleh tsunami. Terdapat sejumlah lipatan dan sesar naik sebagai akibat dari interaksi (tubrukan) antara kedua lempeng tektonik, seperti Sesar Sorong (SFZ), Sesar Ransiki (RFZ), Sesar Lungguru (LFZ) dan Sesar Tarera-Aiduna (TAFZ). Kenyataan menunjukkan pula, bahwa pada tahun 2004 telah terjadi beberapa kali gempa.

3.1.4.2

Stratigrafi

Dari berbagai publikasi yang dikompilasi Sapiie (2000), menunjukkan bahwa stratigrafi wilayah Papua Barat terdiri atas: (1). Paleozoic Basement; (2). Sedimentasi Mesozoik hingga Senosoik; (3). Sedimentasi Senosoil Akhir; (4). Stratigrafi Lempeng Pasifik; dan (5). Stratigrafi Zone Transisi.

Gambar 3.7 Stratigrafi Pulau Papua (Sapiie, 2000) 1. Paleozoic Basement Blok terluas dari strata Paleozoik berada di Timur Laut Papua Barat yang dikenal dengan Kemum High atau formasi Kemoem yang terdiri atas sabak, (slate), filitik (phylliic) dan sedikit kuartzit (quartzite). Formasi ini tercampur oleh granit-biotit karboniferus (Melaiurna Granite). Formasi Kemoem ditutupi oleh kelompok Aifam. Kelompok Aifam digunakan untuk mendeskripsikan batuan sedimen paparan airdangkal. Formasi ini diketahui berada di tepi Utara Papua Barat dan terdiri atas tiga formasi, yaitu formasi Aimau, batu lumpur Aifat dan formasi Ainim. Di daerah Papua Barat, kelompok ini tidak mengalami metamofosa, namun di Leher Burung terjadi

Laporan Fakta Analisis

3-15

RTRW Provinsi Papua Barat

deformasi kuat dan termetamorfosa. Di daerah Teluk Bintuni, formasi Tipuma ditutupi oleh kelompok Aifam.

2. Sedimentasi Mesizoik hingga Senosoik a. Formasi Tipuma Formasi Tipuma tersebar luas di Papua, mulai dari Papua Barat hingga dekat perbatasan di sebelah Timur. Formasi ini dicirikan oleh batuan berwarna merah terang dengan sedikit bercak hijau muda. b. Formasi Kelompok Kembelangan Kelompok ini diketahui terbentang mulai dari Papua Barat hingga Arafura Platform. Bagian atas dari kelompok ini disebut formasi Jass. Kelompok Kembelangan terdiri atas antar lapis batu debu dan batu lumpur karboniferus pada lapisan bawah batu pasir kuarsa glaukonitik butiran-halus serta sedikit shale pada lapisan atas. Kelompok ini berhubungan dengan formasi Waripi dari kelompok Batuan Gamping New Guinea atau New Guinea Limestone Group (NGLG). c. Formasi Batu Gamping New Guinea Selama masa Cenozoik, kurang lebih pada batas Cretaceous dan Cenozoik, Pulau New Guinea dicirikan oleh pengendapan (deposisi) karbonat yang dikenal sebagai Kelompok Batu Gamping New Guinea (NGLG). Kelompok ini berada di atas Kelompok Kembelangan dan terdiri atas empat formasi, yaitu (1). Formasi Waripi Paleosen hingga Eosen; (2). Formasi Fumai Eosen; (3) Formasi Sirga Eosin Awal; (3). Formasi Imskin; dan (4). Formasi Kais Miosen Pertengahan hingga Oligosen.

3. Sedimentasi Senosoik Akhir Sedimentasi Senosoik Akhir dalam basement kontinental Australia dicirikan oleh sekuensi silisiklastik yang tebalnya berkilometer, berada di atas strata karbonat Miosen Pertengahan. Di Papua dikenal 3 (tiga) formasi utama, dua di antaranya dijumpai di Papua Barat, yaitu formasi Klasaman dan Steenkool. Formasi Klasaman dan Steenkool berturut-turut dijumpai di Cekungan Salawati dan Bintuni.

4. Stratigrafi Lempeng Pasifik Pada umumnya batuan Lempeng Pasifik terdiri atas batuan asal penutup (mantle derived rock), volkanis pulau-arc (island-arc volcanis) dan sedimen laut-dangkal. Di Papua, batuan asal penutup banyak dijumpai luas sepanjang sabuk Ophiolite Papua, Pegunungan Cycloop, Pulau Waigeo, Utara Pegunungan Gauttier dan sepanjang

Laporan Fakta Analisis

3-16

RTRW Provinsi Papua Barat

zona sesar Sorong dan Yapen pada umumnya terbentuk oleh batuan ultramafik, plutonil basik, dan mutu-tinggi metamorfik. Sedimen dalam Lempeng Pasifik dicirikan pula oleh karbonat laut-dangkal yang berasal dari pulau-arc. Satuan ini disebut Formasi Hollandia dan tersebar luas di Waigeo, Biak, Pulau Yapen dan Pegunungan Cycloop. Umur kelompok ini berkisar dari Miosen Awal hingga Pliosen.

5. Stratigrafi Zone Transisi Konvergensi antara lempeng Australia dan Pasifik menghasilkan batuan dalam zona deformasi. Kelompok batuan ini diklasifikasikan sebagai zona transisi atau peralihan, yang terutama terdiri atas batuan metamorfik. Batuan metamorfik ini membentuk sabuk kontinyu (>1000 km) dari Papua hingga Papua New Guinea. Wilayah Papua secara umum terdiri dari dua dataran yaitu Dataran Grime dan Dataran Sekoli. Kedua dataran ini menyatu sebagai suatu dataran luas yang membujur ke arah Barat Daya Danau Sentani. Dataran ini memanjang dari Timur ke arah Barat dengan lebar bentangan yang hampir sama. Di ujung sebelah Barat, dataran ini membentuk daerah rawa hingga ke arah pantai.

Wentholt (1939), membagi Dataran Grime ke dalam 6 teras utama. Teras pertama dimulai dari dataran terendah dan termuda. Daerah teras ini melandai ke arah Barat Laut dan kemudian ke arah Utara. Di sebelah Tenggara teras terendah ini berakhir dan berlanjut dengan teras ke-2 yang berada kurang lebih 10 m lebih tinggi. Juga di sini bentang lahannya tampak seluruhnya datar. Teras ke-3 dan ke-4 menempati sisa dataran di sebelah Barat Kampung Janim Besar. Teras-teras ini berumur tua dan berada lebih tinggi serta tampak datar, kedua teras ini melandai ke arah Utara hingga ke arah Barat Laut, berbatasan dengan teras ke-4, di sebelah Timur Sungai Grime terletak teras ke-5. Teras ke-5 ini mencakup dari arah Timur hingga arah garis Utara-Selatan melandai ke arah Utara, dan bergelombang lemah. Teras ke-6, merupakan daerah tertinggi dan tertua yang mengakhiri teras ke-4 dan ke-5 di sebelah Selatan.

Di batas Utara dari teras ke-5, terdapat Dataran Sekori yang besar. Di Dataran Sekori ini juga terbentuk teras, namun tidak jelas perkembangannya. Menurut Schroo (1963), Dataran Grime dan Dataran Sekori merupakan lembah sedimentasi peninggalan zaman tersier yang terdiri atas sedimen laut (marin) dan kemudian oleh bahan fluviatil. Wentholt (1939), menyatakan bahwa dataran ini terbentuk pada zaman kwarter. Lebih lanjut Schroo (1961), menyatakan bahwa adanya ketinggian (elevasi) yang berselang-seling di seluruh daerah tersebut menyebabkan sungai-sungai memotong sedimen ini. Selama periode ini dataran banjir terbentuk pada berbagai tingkat, dimana sisa-sisa daripadanya

Laporan Fakta Analisis

3-17

RTRW Provinsi Papua Barat

masih ditemukan sekarang dalam bentuk teras-teras yang luas sebagaimana dijelaskan sebelumnya.

Zwierzichi (1921) dalam Schroo (1963), menunjukkan bahwa tanah di Dataran Grime dan Dataran Sekori berasal dari hancuran batuan fluviatil sedimen kwarterner, terumbu koral terangkat pleistosin, dan sedimen marin neogen. Menurut Wentholt (1939), seluruh lahan yang berada di sebelah Barat Yanim Besar (Braso) dibentuk oleh Sungai Grime dan cabang-cabang sungainya, kecuali daerah yang paling Barat oleh Sungai Sarmoai. Kedua sungai tersebut membawa bahan-bahan yang sama. Sumbangan cabang-cabang sungai yang berasal dari pinggiran pegunungan Utara relatif kecil, namun setempatsetempat saja. Lahan yang berada di sebelah Timur Yanim Besar seluruhnya terbentuk dari material yang berasal dari pinggiran Utara daerah pegunungan Selatan.

Berdasarkan stratigrafi ini dapat disimpulkan bahwa wilayah Papua Barat terdiri dari empat ragam formasi batuan utama yaitu batu gamping atau dolomit, batuan beku atau malihan, batuan sedimen lepas (kerikil, pasir lanau), dan batuan sedimen padu (tak terbedakan). Hal ini dapat dipahami karena secara regional, wilayah Papua Barat terdiri dari dua lempeng, yaitu Lempeng Benua Australia di bagian Selatan dan Lempeng Samudera Pasifik di bagian Utara. Sedangkan diantara kedua lempeng adalah Lajur Sesar Anjak dan Lipatan Pegunungan Tengah atau New Guinea Mobile Belt (Dow, 1977). Lempeng Benua Australia tersusun oleh batuan sedimen klastik, yang berumur Mesozoikum yang disebut sebagai Kelompok Kembelangan; Batu Gamping yang berumur eosin-Miosen Tengah, yang disebut sebagai Kelompok Batu Gamping New Guinea; dan Batuan Sedimen Klastik Plio-plistosen.

Lempeng Samudera Pasifik terdiri dari batuan ultramafik dan batuan busur gunung api Paleogen, sedangkan di Pegunungan Tengah terdiri dari beberapa batuan, yaitu: 1) di bagian Selatan terdiri dari batuan sedimen yang berumur Mesozoikum sampai tersier yang tersesarkan dan terlipatkan; dan 2) di bagian Utara terdiri dari Batuan Malihan Darewo yang berumur Oligosen (Dow, 1977), Batuan Ultrabasa disebut sebagai ofiolit, yang berumur Mesozoikum (Dow drr.,1984).

Tektonik Papua Barat diawali pada Permo-Trias, yang disebut sebagai Orogenesa Tasman. Pada saat itu Papua-Papua New Guinea mulai melepaskan diri dari Benua Australia, bergerak ke arah Utara, kemudian berbenturan dengan Lempeng Samudera Pasifik pada Orogenesa Melanisia yang mengakibatkan sesar anjak miring ke Utara dan terbentuknya Pegunungan Tengah, sedangkan pada Plistosin terjadi pensesaran anjak miring ke Selatan di bagian Utara.

Laporan Fakta Analisis

3-18

RTRW Provinsi Papua Barat

3.1.5 Karakteristik Tanah Pada umumnya, tanah bertekstur berat, yaitu berkisar dari lempung liat berdebu hingga liat berdebu. Kadar liat yang tinggi dapat menyebabkan akar tanaman sulit berkembang. Selain itu, berdampak pula terhadap rendahnya kapasitas infiltrasi (perembesan) tanah sehingga menyebabkan penggenangan air di permukaan tanah terutama di musim penghujan. Hal ini sudah barang tentu akan mengganggu pertumbuhan tanaman.

Jenis Tanah Pada umumnya terdapat lima faktor yang mempengaruhi pembentuan tanah, yaitu faktor Iklim, relief atau topografi, organisme atau vegetasi, bahan induk, dan waktu. Pengaruh secara simultan dari kelima faktor pembentukan tanah tersebut menghasilkan jenis-jenis tanah dan penyebarannya, seperti terlihat pada Peta 2.3 (Petocz, 1984) Terdapat tujuh Satuan Peta Tanah (SPT) yang dimodifikasikan Petocz (1984) dari Brookfield dan Hart (1971). 1. Litosol dan Regosol (Entisol) Asosiasi jenis tanah ini dijumpai di daerah pegunungan tinggi yang kasar topografinya (2000-4500 mdpl) pada kordirela Tengah (pegunungan tengah) dan Kepala Burung hingga Leher Burung sebelah Utara. Profil tanah pada umumnya dangkal karena ketidakstabilan lereng, walaupun dijumpai pula tanah-tanah bersolum dalam yang relatif stabil dan berdrainase baik pada puncak-puncak bukit dan lereng bagian atas. Tanah Regosol biasanya mengandung liat dan fragmen batuan lapuk, terutama pada lereng tidak stabil, sedangkan tanah Litosol berada pada lerenglereng batuan terjal. Berdasarkan klasifikasi tanah dari Pusat Penelitian Tanah Bogor (PPT)(1978/1982) dan FAO/UNESCO (1974), kedua tanah ini diklasifikasikan sebagai Litosol, sedangkan menurut sistem klasifikasi USDA Soil Taxonomy (1975/1998), Litosol dan Regosol sepadan dengan Entisol (Lithic Subgroup).

2. Tanah Podzolik (Ultisol) Jenis tanah ini berkembang dari bahan induk masam di lereng pegunungan pada elevasi tinggi. Tanah ini dijumpai sedikit di wilayah pegunungan Kepala Burung dan terutama di Selatan Kordirela (Pegunungan Tengah). Sedangkan jenis tanah Podzolik dataran rendah, pada umumnya adalah hidro-podzolik yang berkembang pada kondisi drainase buruk pada dataran dan kipas aluvial Pleistosen. Jenis tanah ini dijumpai di Jazirah Bomberai, Selatan Kepala Burung dan di Utara depresi Meer Vlakte (Lakes-Plain). Tanah ini biasanya berasosiasi dengan tanah Podzol (Spodosol) yang dicirikan oleh horison spodik. Horison permukaan mengalami pelindian hebat yang menghasilkan horison pencucian yang miskin hara dan (Petocz, 1984) berpasir, sedangkan horison penimbunan kaya akan besi dan humus yang

Laporan Fakta Analisis

3-19

RTRW Provinsi Papua Barat

disebut horison spodik. Menurut klasifikasi PPT (1978/1982) Podzolik sepadan dengan Podsolik atau Kambisol (Podsolik Coklat), sedangkan menurut FAO/UNESCO (1974), sama dengan Podsolik. Berdasarkan klasifikasi USDA Soil Taxonomy (19975/1998), tanah Podzolik sepadan dengan Ultisol.

3. Tanah Brown Forest (Inceptisol) Tanah ini berada pada perbukitan dan lereng pegunungan rendah pada sabuk Utara Papua dari bahan induk basik dan batuan kalkareus (kapur) dengan curah hujan sedang. Di Papua Barat, tanah ini dijumpai di Pegunungan Wondiwoi, Arfak dan Tamrau. Pada altitut tinggi dimana curah hujannya tinggi, tanah ini menjadi meningkat kemasamannya. Sering pula dijumpai berasosiasi dengan Regosol. Menurut klasifikasi PPT (1978/1982) dan FAO/UNESCO (1974), tanah Brown Forest sama dengan Kambisol, sedangkan menurut Soil Taxonomy (19975/1998), sepadan dengan Inceptisol.

4. Latosol (Ultisol) dan Lateritik (Oksisol) Latosol adalah tanah yang mengalami pelapukan sangat tinggi, terutama di daerah dengan ketinggian rendah dimana dijumpai pula berasosiasi kelompok Lateritik. Lateritik berkembang pada kondisi yang sama dengan Latosol, namun dengan pengaruh hidromorfik karena berasosiasi dengan fluktuasi permukaan air tanah. Selain dijumpai luas di daerah Selatan Papua, Latosol juga dijumpai tersebar di Selatan Kepala Burung hingga ke Leher Burung sebelah Utara dan Selatan serta di Kepulauan Raja Ampat. Latosol sepadan dengan Kambisol, Latosol, Lateritik (PPT, 1978/1982), Cambisol, Nitosol, Ferrasol (UNESCO, 1974) dan Iceptisol, Ultisol, oxisol (USDA Soil Taxonomy, 1975/1998).

5. Rendzina (Molisol) Pembentukan tanah ini dikendalikan kuat oleh bahan induk. Rendzina berbatu dangkal terdapat pada perbukitan batu gamping dan di sepanjang daerah pantai pada platform koral terangkat yang umumnya bercirikan karst. Tanah ini berkembang baik pada perbukitan antara Teluk Etna dan Arguni, Pegunungan Kumawa dan Arfak dan di Barat Daya Pegunungan Tamrau. Rendzina dijumpai pula pada terumbu koral terangkat barusan muda. Rendzina dicirikan oleh horison permukaan lembab coklat tua, berada di atas bahan berpasir coklat kelabu tua yang berangsur ke dalam bahan koral. Rendzina sepadan dengan Rendzina (PPT, 1978/1982), Rendzina (UNESCO, 1974) dan Rendoll (USDA Soil Taxonomy, 1975/1998).

Laporan Fakta Analisis

3-20

RTRW Provinsi Papua Barat

6. Aluvial dan Gambut Pada umumnya jenis tanah ini dijumpai pada semua ketinggian, baik di daerah kering maupun basah. Di daerah kering, dengan tekstur tanahnya kasar dan berdrainase baik dijumpai di dataran landai, dataran banjir mapan, dan kipas aluvial, sedangkan, di daerah basah dengan drainase jelek dijumpai di dataran banjir atau rawa dari aluvium atau gambut. Tanah dengan tekstur halus dan gleisasi kuat akibat drainase jelek selama musim hujan cenderung bereaksi sangat alkalin, berada di dekat pantai dan sungai yang dipengaruhi pasang surut, namun semakin menjauhi pantai semakin meningkat kemasaman tanahnya. Tanah gambut dataran rendah dijumpai luas di Utara dan Selatan Teluk Bintuni, serta gambut pegunungan dalam luasan yang kecil berada di sekitar Danau Anggi Gita dan Anggi Giji. Tanah Aluvial sepadan dengan tanah Aluvial (PPT, 1978/1982), Fluvisol (UNESCO,1974) dan Entisol, Inseptisol (USDA Soil Taxonomy, 1975/1998). Tanah gambut menurut USDA Soil Taxonomy (1975/1998), sepadan dengan Histosol.

7. Tanah Salin Tanah salin atau tanah garaman (salty soils) biasanya bertekstur halus, berdrainase jelek karena dipengaruhi pasang surutnya air laut, serta bahan liat marin termasuk di dalamnya. Vegetasi khas dari tanah ini adalah mangrove dan nipah. Tanah salin berkembang baik di sepanjang Pantai Selatan mulai dari Pulau Kimaam hingga Teluk Etna dan di Selatan Kepala Burung dan Teluk Bintuni. Tanah ini menunjang pertumbuhan habitat mangrove terluas di Indonesia. Tanah Saline menurut USDA Soil Taxonomy (1975/1998), sepadan dengan Entisol (Sulfaquent) dan Inseptisol (sulfaquept). Persebaran jenis-jenis tanah di Provinsi Papua Barat dapat dilihat di bawah ini: A. Tekstur Tanah

Pada umumnya, tanah bertekstur berat, yaitu berkisar dari lempung liat berdebu hingga liat berdebu. Kadar liat yang tinggi dapat menyebabkan akar tanaman sulit berkembang. Selain itu, berdampak pula terhadap rendahnya kapasitas infiltrasi (perembesan) tanah sehingga menyebabkan penggenangan air di permukaan tanah terutama di musim penghujanan. Hal ini sudah barang tentu akan mengganggu pertumbuhan tanaman.

Untuk tujuan penanaman kakao, maka drainase permukaan maupun drainase internal sangat perlu diperhatikan, jika ingin memperoleh pertumbuhan dan produksi kakao yang baik. Untuk menanggulangi drainase yang jelek, maka perlu dibuatkan selokan-selokan drainase berukuran kecil hingga sedang serta cukup dalam agar kelebihan air dapat dikeluarkan, sehingga tanahnya selalu dalam keadaan kering (lembab) dan tidak jenuh

Laporan Fakta Analisis

3-21

RTRW Provinsi Papua Barat

air. Selain itu, agar pertumbuhan akar tanaman kakao tidak terhalang oleh lapisan liat yang kompak, maka perlu digali lubang tanaman yang cukup besar dan dalam.

130 0

132

134 0

PETA JENIS - JENIS TANAH DI PROPINSI PAPUA BARAT


N

Waisai
#

RAJA AMPAT Sorong


#

Manokwari # SORONG MANOKWARI SORONG SELATAN Teminabuan


#

30

30

60

Kilometer

(1 : 2.200.000)

KETERANGAN
#

Ibukota kabupaten batas kabupaten

TELUK BINTUNI

Jenis-jenis tanah
Aluvial dan Gambut

Bintuni TELUK WONDAMA Rasiei


#

Brown Forest (Inceptisol) Latosol (Ultisol) dan Lateritik (Oksisol) Litosol dan Regosol (Entisol) Podzolik (Ultisol) Rendzina (Molisol)

Fak-Fak
#

FAK-FAK

Tanah Salin

KAIMANA

Sumber:
Petocz (1984) dari Brookfield dan Hart (1971)

Kaimana Kota

130

132

134

Laboratorium GIS Tanah Fapertek Universitas Negeri Papua

Gambar 3.8 Jenis-Jenis Tanah dan Penyebarannya B. Reaksi Tanah

Pada umumnya, tanah bereaksi alkali hingga sangat alkali dengan kisaran pH rata-rata 7,0-7,8. Semakin dalam tanahnya semakin tinggi reaksi tanah, bahkan tidak jarang mencapai pH=8,0 atau lebih. Tingginya pH tanah ini disebabkan karena tingginya kadar kalsium tanah (kapur) yang terbawa bersama bahan endapan sungai yang berasal dari pegunungan dan perbukitan kapur di sekitarnya. Reaksi tanah demikian menyebabkan sebagian besar unsur-unsur hara makro (N, P, K) dan mikro (Fe, Zn, Mn, B, Cu) berada dalam keadaan tidak tersedia bagi tanaman. Apabila reaksi tanah mencapai pH=8,0 atau lebih akan menyebabkan tanaman sulit menyerap fosfat dan unsur-unsur mikro.

Pada saat penelitian dijumpai pertanaman kacang tanah milik masyarakat di Kampung Pobaim yang menunjukkan gejala kekuningan pada daun-daun muda. Gejala kekuningan ini diduga kuat karena kahat akan beberapa unsur mikro. Gejala klorosis ini diistilahkan sebagai Klorosis Terimbaskan Kapur (Lime Induced-Chlorosis), suatu gejala kekahatan hara yang biasanya muncul di tanah-tanah berkapur.

Laporan Fakta Analisis

3-22

RTRW Provinsi Papua Barat

C.

Kation-Kation Tersedia

Kation tersedia yang diukur adalah Kalsium (Ca), Magnesium (Mg) dan Kalium (K). Kadar Ca dan Mg tersedia pada umumnya sedang hingga sangat tinggi. Hal ini mengisyaratkan bahwa kebutuhan tanaman akan Ca dan Mg cukup memadai sehingga tidak perlu diberi pupuk dengan kedua unsur tersebut. Pada kadar Ca yang sangat tinggi seperti dijumpai di beberapa tempat justru mengganggu pertumbuhan tanaman. Sebaliknya, K tersedia tergolong rendah hingga sangat rendah sehingga pemupukan K sangat diperlukan agar mendapatkan produksi tanaman yang baik. Dalam hal tanaman tahunan seperti kakao, maka pemupukan kalium setidaknya dilakukan setiap tahun. Hasil analisis mineral tanah juga mencerminkan rendahnya kadar K tanah. Mineral tanah penyumbang kalium dari jenis kalium-veldspat yang telah hancur menunjukkan status kalium tanah yang jelek. D. Fosfor Tanah

Kadar fosfat tersedia tergolong agak tinggi hingga sangat tinggi. Hampir semua contoh tanah menunjukkan adanya mineral primer apatit penyumbang fosfat yang tergolong sporadis (<1%) hingga beberapa persen saja. Dari pengalaman membuktikan bahwa walaupun jumlahnya sangat sedikit atau sporadis (<1%), nilai fosfat tersedia biasanya tinggi. Dengan demikian unsur hara fosfor dianggap cukup bagi kebutuhan tanaman, sehingga pemupukan P tidak diperlukan selama beberapa waktu tanam. E. Fosfat dan Kalium Total

Kadar fosfat dan kalium total mencerminkan cadangan hara tersebut dalam tanah. Pada umumnya, kadar fosfat total berkisar dari sedang hingga tinggi sehingga tidak mengkhawatirkan. Tampaknya kandungan fosfat total dan fosfat tersedia berkorelasi positif sehingga memperkuat dugaan bahwa kadar fosfat cukup bagi kebutuhan tanaman. Kadar kalium total berkisar dari agak rendah hingga sedang. Ini berarti bahwa cadangan kalium tanah tidak memadai bagi suatu usaha pertanian, sehingga diperlukan pemupukan untuk mempertahankan kadar kalium tanah. F. Bahan Organik Tanah

Kadar karbon (C) organik tanah mencerminkan kadar bahan organik tanah. Bahan organik sangat penting karena berpengaruh terhadap perbaikan sifat fisika dan kimia tanah. Bahan organik membantu granulasi dan penstabilan agregat tanah sehingga memperbaiki retensi air tanah, meningkatkan laju infiltrasi dan kapasitas memegang air. Selain itu, bahan organik meningkatkan Kapasitas Tukar Kation (KTK), yang berarti pula meningkatkan kemampuan menyerap kation unsur hara makro dan mikro sebagai sumber hara. Tidak kalah pentingnya adalah dengan adanya bahan organik akan sangat berdaya terhadap biologi tanah.

Laporan Fakta Analisis

3-23

RTRW Provinsi Papua Barat

Pada umumnya kadar C organik tanah tergolong rendah. Hal ini mengisyaratkan bahwa peningkatan dan perlindungan bahan organik tanah sangat penting dilakukan. Untuk menanggulangi kekurangan bahan organik dapat dilakukan dengan pemberian pupuk kandang, kompos, dan menanam penutup tanah (seperti pueraria javanica atau calopogonium mucunoides) terutama pada pertanaman kakao. 3.1.6 Hidrologi Wilayah Provinsi Papua Barat dilewati beberapa sungai yang tersebar di beberapa wilayah kabupaten/kota. Dari sungai besar di Papua Barat sebagian besar mengalir di Wilayah Pengembangan Sorong. Sungai-sungai tersebut menjadi sebuah sistem daerah aliran sungai yang mengalir sepanjang tahun. Potensi sumberdaya sungai terbesar di Papua Barat disajikan dalam tabel berikut ini. Tabel 3.9 Nama, Panjang, Lebar, dan Kecepatan Arus Sungai Menurut Kabupaten/Kota
Wilayah Pengembangan WP MANOKWARI WP SORONG Nama Sungai Panjang (Km) 163 360 200 184 425 174 230 225 17 267 229 280 246 320 428 Lebar (m) 80-350 60-700 80-2.700 80-350 140-1200 40--250 40-1300 40-2.200 30-40 50-125 45-1250 20-25 50-570 40-700 200-800 Kecepatan (Km/jam) 1,26 2,95 3,06 1,26 2,7 2,88 2,88 0,9 0,9 2,52 3,06 0,9 0,9 1,62 2,7

Laore Beraur Kaibus Kais Kamundan Aifat Karaora Minika Remu Sebak Seramuk

WP FAK-FAK

Umbawa Uta Warsamsan Muturi

Sumber: Provinsi Papua Barat dalam AngkaTahun 2007.

Sungai-sungai besar hingga kecil yang berasal dari wilayah pegunungan di bagian tengah Kepala Burung yang mengalir ke arah dataran rendah (berawa) dan bermuara di Teluk Bintuni. Selain itu, terdapat pula sejumlah sungai yang mengalir ke arah Selatan dan bermuara di Pantai Selatan dan Pantai Utara. Beberapa sungai besar yang bermuara di Teluk Bintuni adalah Sungai Arandai, Wiryagar, Kalitami, Seganoi, Kais,

Laporan Fakta Analisis

3-24

RTRW Provinsi Papua Barat

Kamundan, Teminabuan, Sermuk, Maambar, Woronggei dan Sanindar. Selain sungai juga dijumpai danau di daerah pegunungan, yaitu Danau Anggi Giji dan Anggi Gita serta Danau Ayamaru.

Di Provinsi Papua Barat terdapat beberapa sungai yang membentuk beberapa Daerah Aliran Sungai (DAS). Sebagian besar Daerah Aliran Sungai yang terbentuk adalah pada kabupaten-kabupaten di Wilayah Pengembangan Sorong. Sungai-sungai yang termasuk dalam kategori terpanjang adalah Sungai Kamundan (425 km), Sungai Beraur (360 km), dan Sungai Warsamsan (320 km), sedangkan sungai-sungai yang termasuk kategori terlebar adalah Sungai Kaibus (80-2700 m), Sungai Minika (40-2200 m), Sungai Karabra (40-1300 m), Sungai Seramuk (45-1250 m), dan Sungai Kamundan (140-1200 m). Sungai-sungai ini sebagian besar terletak di kabupaten-kabupaten di Wilayah Pengembangan Sorong.

Berdasarkan data-data pada tabel di atas, beberapa sungai yang memiliki kecepatan arus paling deras antara lain adalah Sungai Seramuk (3,06 km/jam), Sungai Kaibus (3,06 km/jam), Sungai Beraur (2,95 km/jam), Sungai Aifat (2,88 km/jam), dan Sungai Karabra (2,88 km/jam). Sungai-sungai tersebut juga terletak pada Wilayah Pengembangan Sorong.

Laporan Fakta Analisis

3-25

RTRW Provinsi Papua Barat

Laporan Fakta Analisis

3-26

Gambar 3.9 Peta Hidrologi

RTRW Provinsi Papua Barat

3.1.7 Karakteristik Hidro-Oseanografi A. Aspek Fisik Perairan

Naik turunnya muka laut dapat terjadi sekali sehari (pasut tunggal atau diurnal tide) atau dua kali sehari (pasut ganda atau semi diurnal tide), sedangkan pasut yang berperilaku di antara keduanya disebut sebagai pasut campuran. Kisaran pasang surut (tidal range) adalah perbedaan tinggi muka air pada saat pasang maksimum dengan tinggi muka air pada saat surut minimum yang juga dipengaruhi oleh geometrik wilayah yang bersangkutan. Kisaran pasang surut di perairan Papua mencapai 3-6 meter, dengan tipe pasut ganda campuran.

Gelombang laut terbentuk karena adanya proses alih energi dari angin ke permukaan laut, atau pada saat-saat tertentu disebabkan oleh gempa di dasar laut. Gelombang ini merambat ke segala arah dengan membawa energi yang kemudian dilepaskan ke pantai dalam bentuk hempasan ombak.

Pengamatan gelombang di perairan Papua relatif masih belum banyak dilakukan. Namun demikian sesungguhnya terdapat hubungan antara angin musim dan pola gerakan gelombang. Hasil penelitian Pusat Riset Teknologi Kelautan, Badan Riset Kelautan dan Perikanan, Departemen Kelautan dan Perikanan pada tanggal 30 Juni-6 Juli 2005 menunjukkan bahwa tinggi gelombang di wilayah kajian berkisar antara 0,2-1,2 m.

Gelombang yang datang menuju pantai dapat menimbulkan arus pantai (nearshore current) yang berpengaruh terhadap proses sedimentasi ataupun abrasi di pantai. Pola arus pantai ini terutama ditentukan oleh besarnya sudut yang dibentuk antara gelombang yang datang dengan garis pantai. Jika sudut datang cukup besar, maka akan terbentuk arus menyusur pantai (longshore current) yang disebabkan oleh perbedaan tekanan hidrostatik. Selain gelombang, pasang surut juga merupakan parameter oseanografi lain yang penting sebagai pembangkit arus di pantai. Arus yang disebabkan oleh pasut ini dipengaruhi oleh dasar perairan. Arus pasang surut yang terkuat akan ditemui di dekat permukaan dan akan menurun kecepatannya semakin mendekati dasar perairan.

Arus adalah gerakan air yang mengakibatkan perpindahan horisontal dan vertikal masa air oleh perbedaan enerji potensial. Keadaan arus laut umumnya terjadi akibat pengaruh beberapa gaya yang bersamaan yang terdiri dari arus tetap, arus periodik, (pasut) dan arus angin. Bishop (1984) menyatakan bahwa gaya yang berperan dalam sirkulasi masa air adalah gaya gradient tekanan, gaya coriolis, gaya gravitasi, gaya gesekan, dan gaya

Laporan Fakta Analisis

3-27

RTRW Provinsi Papua Barat

sentrifugal. Pola arus perairan Papua menurut P30-LIPI Ambon tahun 1992 bahwa pola arus dipengaruhi oleh pasang surut, dimana kecepatan arus rata-rata pada waktu pasang dan surut 7-8 cm/det di daerah pesisirnya, dan waktu pasang 11 cm/det. Keadaan ini dipengaruhi oleh keadaan rataan dan sedimentasi di pesisir pantai.

Upwelling adalah menaiknya massa air laut dari lapisan bawah permukaan (dari kedalaman (150-250 m) karena proses fisik perairan. Karena massa air bawah permukaan pada umumnya lebih kaya zat hara dibandingkan dengan lapisan permukaannya, maka menaiknya massa air tersebut akan menyuburkan kawasan permukaannya. Di perairan Papua, upwelling terjadi di Laut Arafura (Wyrtki, 1958). Air naik di laut tersebut terjadi pada Musim Timur, dimulai sekitar Bulan Mei sampai kira-kira Bulan September. Karena pada saat tersebut angin Musim Timur mendorong keluar air permukaan Laut Arafuru dengan laju yang lebih besar daripada yang dapat diimbangi oleh air permukaan sekitarnya, akibatnya air yang berada di lapisan bawahnya terangkat naik untuk mengisi kekosongan tersebut. Air yang naik ini bersumber dari kedalaman sekitar 125-300 m yang menyusup dari Lautan Pasifik. Kecepatan naiknya tampaknya kecil, diperkirakan 0,0006 cm/detik. Tetapi ini mempunyai arti besar, karena dengan adanya volume air yang terangkat di daerah ini bisa mencapai 2 juta m /detik. Akibat dari naiknya massa air ini adalah suhu permukaan menjadi lebih rendah, yaitu C lebih rendah dari Musim Barat, sedangkan salinitas lebih tinggi 1 per mil. Demikian pula kandungan fosfat dan nitrat masing-masing naik dua kali lipat.
3

Gambar 3.10 Ketinggian Gelombang Laut

Laporan Fakta Analisis

3-28

RTRW Provinsi Papua Barat

B.

Aspek Kimia Perairan

Perairan di Papua sangat dipengaruhi oleh dua musim, yaitu: (a) Musim Barat, dan (b) Musim Timur. Musim Barat puncaknya terjadi pada Bulan Februari, sedangkan Musim Timur puncaknya terjadi pada Bulan Agustus. Sifat fisik, kimia, dan biologi perairan pada kedua musim tersebut penyebaran kisaran nilainya disajikan dalam tabel 2.1. Dari tabel aspek fisik dan kimia adalah suatu proses yang dinamis dan sangat tergantung pada musim. Pada saat Musim Barat suhu permukaan laut cenderung lebih panas bila dibanding dengan pada Musim Timur. Dinginnya suhu permukaan di Musim Timur tersebut cenderung membuat perairan cenderung lebih subur yaitu dengan adanya peningkatan fitoplankton dan zooplankton.

Wilayah perairan Selatan Papua merupakan perairan yang memiliki karakteristik massa air yang agak berbeda dengan perairan wilayah Indonesia lain. Hal ini disebabkan oleh letak geografis perairan tersebut yang berdekatan dan lebih terbuka dengan Laut Banda, Laut Timor dan Samudera Hindia. Pada Musim Timur kondisi oseanografis perairan ini banyak dipengaruhi oleh massa air dari Laut Banda (Wyrtki, 1961; Tchernia, 1980). Hal ini berpengaruh besar terhadap sebaran klorofil-a dan nutruen serta ikan-ikan pelagis di wilayah tersebut sehingga perairan ini juga dikenal sebagai salah satu daerah penangkapan ikan dan udang, terutama ikan-ikan pelagis. Sedangkan kadar oksigen terlarut (DO) di Perairan Utara dan Selatan berkisar antara 2,12-4.51 ml/l dengan ratarata 3.17 ml/l, kandungan konsentrasi fosfat berkisar antara 0.02-3.39 g-A/l dengan rata-rata 1.53 g-A/l. Kadar konsentrasi nitrat berkisar antara 0.19 g-A/l sampai 40,94 g-A/ serta kadar konsentrasi silikat yang terukur berkisar antara 0.83 - 91.34 g-A/l. Tabel 3.10 Kisaran Nilai Kondisi Fisik, Kimia, dan Biologi Perairan Papua
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Suhu ( C) Salinitas (ppm) Oksigen (cm /cm ) Fosfat (m) Nitrat (m) Silikat (m) Klorofil a (mg/m ) Gb Fito Plankton (cell/dm ) Zoo Plankton (cm /cm ) Larva Krustasea (Jumlah/m )
2 3 2 3 3 3 2 o

Parameter

Musim Barat (Februari) 28,8-30,0 31,0-34,0 3,5-4,5 0,1-0,5 0,5-1,5 2,5-7,5 0,5-2,0 200-1.800 5-10 500-1.000

Musim Timur (Agustus) 26,0-26,8 30,0-34,0 4,0-4,25 0,1-0,5 1,0-1,5 2,5-7,5 0,5-2,0 200-3.000 10-40 500-1.000

Sumber: Netherlands Journal of Sea Research 25 (4): 431-447 (1990), Hasil Interpretasi ETM7, dan Hasil Analisis.

Laporan Fakta Analisis

3-29

RTRW Provinsi Papua Barat

3.1.8 Ketersediaan Lahan Ketersediaan tanah atau lahan yang telah ditetapkan dalam Rencana Tata Guna Lahan sebagai suatu rencana dasar memberikan gambaran potensi lahan dan arahan bagi kawasan yang dapat dikembangkan/dibudidayakan atau karena limitasinya tidak dapat dikembangkan sama sekali berdasarkan faktor-faktor fisik dasar. Penggunaan lahan sekarang (eksisting) memberi gambaran sejauh mana jenis dan tingkat pemanfaatan lahan yang telah dilakukan baik yang bersifat budidaya maupun bukan budidaya.

Ketersediaan tanah pada dasarnya tidak dilepaskan dengan status atau penguasaannya sekarang. Status tanah sekarang pada dasarnya sangat menentukan mudah dan dapat tidaknya suatu bidang tanah dikuasai atau dialihkan penguasaannya oleh pihak ketiga untuk kegiatan tertentu. Dalam hal ini, di wilayah Papua Barat perlu diperhatikan adanya berbagai jenis status (penguasaan) tanah sebagai berikut: a. Tanah negara bebas. b. Tanah negara yang dibebani, di dalamnya termasuk: c. Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dan HPHH. Hutan Perlindungan dan Pelestarian Alam (PPA). Hutan Suaka Alam (HSA). Hutan Lindung. Hutan Produksi. Kontrak Karya. Kuasa Pertambangan.

Tanah negara yang telah diperuntukkan.

d. Tanah negara yang dikuasai penduduk. e. Tanah negara yang dikuasai instansi. f. Hak Milik Adat.

g. Hak Guna Usaha. h. Hak Pakai. i. j. k. Hak Pengelolaan. Hak Guna Bangunan. Hak Milik.

Permasalahan yang mencolok adalah sering terjadi ketidaksesuaian antara arahan rencana tata ruang pada suatu lokasi dengan status atau penguasaan tanahnya sekarang terutama untuk tanah negara yang dibebani, yang pada umumnya mencakup areal yang sangat luas seperti HPH, konsesi, kuasa pertambangan, kontrak karya. Misalnya, pada kasus TGHK yang tumpang tindih dengan kuasa pertambangan atau Hak

Laporan Fakta Analisis

3-30

RTRW Provinsi Papua Barat

Penguasaan Hutan (HPH). Hal ini dapat menjadi masalah jika dikaitkan dengan fungsi kawasan yang ingin dipertahankan (misalnya fungsi hidro orologis).

Laporan Fakta Analisis

3-31