Anda di halaman 1dari 13

Konsep dasar penyakit TBC I.

PENGERTIAN TBC Tuberculosis (TBC) merupakan penyakit infeksi penyebab kematian dengan urutan atas atau angka kematian (mortalitas) tinggi, angka kejadian penyakit (morbiditas), diagnosis dan terapi yang cukup lama.Tuberculosis (TBC) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. TBC terutama menyerang paru-paru sebagai tempat infeksi primer. Selain itu, TBC dapat juga menyerang kulit, kelenjar limfe, tulang, dan selaput otak. TBC menular melalui droplet infeksius yang terinhalasi oleh orang sehat. Pada sedikit kasus, TBC juga ditularkan melalui susu. Pada keadaan yang terakhir ini, bakteri yang berperan adalah Mycobacterium bovis. II. PENYEBAB TBC Penyakit TBC adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mikobakterium tuberkulosa. Bakteri ini berbentuk batang dan bersifat tahan asam sehingga dikenal juga sebagai Batang Tahan Asam (BTA). Bakteri ini pertama kali ditemukan oleh Robert Koch pada tanggal 24 Maret 1882, sehingga untuk mengenang jasanya bakteri tersebut diberi nama baksil Koch. Bahkan, penyakit TBC pada paru-paru kadang disebut sebagai Koch Pulmonum (KP).

Bakteri Mikobakterium tuberkulosa Kuman ini berbentuk batang, mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada pewarnaan (Basil Tahan Asam). Kuman TB cepat mati dengan sinar matahari langsung tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam di tempat yang gelap dan lembek. Dalam jaringan tubuh, kuman ini dapat dorman selama beberapa tahun. Kuman dapat disebarkan dari penderita TB BTA positif kepada orang yang berada disekitarnya, terutama yang kontak erat. TBC merupakan penyakit yang sangat infeksius. Seorang penderita TBC dapat menularkan penyakit kepada 10 orang di sekitarnya. Menurut perkiraan WHO, 1/3 penduduk dunia saat ini telah terinfeksi M. tuberculosis. Kabar baiknya adalah orang yang terinfeksi M. tuberculosis tidak selalu menderita penyakit TBC. Dalam hal ini, imunitas tubuh sangat berperan untuk membatasi infeksi sehingga tidak bermanifestasi menjadi penyakit TBC. III. a. b. c. d. GEJALA DAN TANDA-TANDA TBC Demam Batuk/batuk berdahak Sesak nafas Nyeri dada

e. f. g. h. IV.

Nafsu makan menurun Berat badan menurun Berkeringat dimalam hari Lemah

CARA PENULARANNYA Sumber penularan adalah dahak penderita TBC yang mengandung kuman TBC. TBC menular melalui udara bila penderita batuk, bersin dan berbicara dan percikan dahaknya yang mengandung kuman TBC melayang-layang di udara dan terhirup oleh oranglain. Penyakit TBC biasanya menular melalui udara yang tercemar dengan bakteri Mikobakterium tuberkulosa yang dilepaskan pada saat penderita TBC batuk, dan pada anak-anak sumber infeksi umumnya berasal dari penderita TBC dewasa. Bakteri ini bila sering masuk dan terkumpul di dalam paru-paru akan berkembang biak menjadi banyak (terutama pada orang dengan daya tahan tubuh yang rendah), dan dapat menyebar melalui pembuluh darah atau kelenjar getah bening. Oleh sebab itulah infeksi TBC dapat menginfeksi hampir seluruh organ tubuh seperti: paru-paru, otak, ginjal, saluran pencernaan, tulang, kelenjar getah bening, dan lain-lain, meskipun demikian organ tubuh yang paling sering terkena yaitu paru-paru. V. CARA PENCEGAHAN Tips berikut berguna untuk mencegah Penularan penyakit TBC: 1. Menutup mulut pada waktu batuk dan bersin 2. Meludah hendaknya pada tempat tertentu yang sudah diberi desinfektan (air sabun) 3. Imunisasi BCG diberikan pada bayi berumur 3-14 bulan 4. Menghindari udara dingin 5. Mengusahakan sinar matahari dan udara segar masuk secukupnya ke dalam tempat tidur 6. Menjemur kasur, bantal,dan tempat tidur terutama pagi hari 7. Semua barang yang digunakan penderita harus terpisah begitu juga mencucinya dan tidak boleh digunakan oleh orang lain 8. Makanan harus tinggi karbohidrat dan tinggi protein Selain pencegahan TBC, menyelesaikan seluruh terapi obat sangat baik untuk melawan infeksi sehingga lebih cepat sembuh. Ini adalah langkah yang paling penting yang dapat diambil untuk melindungi diri sendiri dan orang lain dari tbc. Bila penderita menghentikan pengobatan dini atau melewatkan dosis, bakteri tbc memiliki kesempatan untuk mengembangkan mutasi yang memungkinkan mereka untuk bertahan hidup bahkan jika diberi obat tbc yang paling kuat sekalipun. Strain yang resistan terhadap obat yang dihasilkan jauh lebih mematikan dan sulit diobati.

DAFTAR PUSTAKA :

Doenges, Marilyn E.1999. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta: EGC. Mansjoer, Arif. 2005. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius. Sacharin, Rosa M. 1996. Prinsip Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC. Smeltzer, Suzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner and Suddarth vol.2. Jakarta: EGC. Soedeman. 1995. Patofisiologi. Jakarta: Hipokrates

Konsep Dasar TB Paru Konsep Dasar TB Paru 2.3.1 Pengertian TB Paru TB Paru adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculose dengan gejala yang sangat bervariasi (Mansjoer, 2000) Tuberculosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium Tuberculose. Sebagian besar kuman TBC menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya (Depkes RI, 1997). 2.3.2 Etiologi Penyebab TB Paru adalah Mycobacterium Tuberculose, sejenis kuman berbentuk batang dengan ukuran panjang 1-4/Um dan tebal 0,3-0,6/Um (Mansjoer, 2001) 2.3.3 Manifestasi Klinis Keluhan yang dirasakan penderita TB Paru dapat bermacam-macam dan bisa tanpa keluhan sama sekali. Keluhan yang terbanyak adalah: 1. Demam Biasanya sub febris menyerupai demam influenza. Kadang-kadang panas badan mencapai 40-41oC. Serangan demam pertama dapat sembuh kembali, begitu seterusnya sehingga penderita merasa tidak pernah terbebas dari serangan influenza. 2. Batuk Gejala ini banyak ditemukan. Batuk terjadi karena adanya iritasi pada bronkus. Batuk ini diperlukan untuk membuang produk-produk radang keluar, mungkin saja batuk baru ada setelah penyakit berkembang dalam jaringan paru yakni setelah berminggu-minggu atau berbulan-bulan peradangan bermula. Sifat batuk dimulai dari batuk kering (non produktif) kemudian setelah timbul peradangan menjadi produktif (menghasilkan sputum). Keadaan yang lanjut adalah berupa batuk darah (haemoptoe) karena terdapat pembuluh darah yang pecah. 3. Sesak nafas Pada penyakit ringan (baru tumbuh) belum dirasakan sesak nafas, sesak nafas akan ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut, dimana infiltrasinya sudah setengah bagian paru-paru. 4. Nyeri dada Gejala ini jarang ditemukan. Nyeri dada timbul bila infiltrasi radang sudah sampai ke pleura sehingga menimbulkan pleuritis. 5. Malaise Penyakit TB paru bersifat radang yang menahun. Gejala malaise sering ditemukan berupa: anoreksia, tidak nafsu makan, badan makin kurus (BB menurun), sakit kepala, meriang, nyeri otot, keringat malam, dll. (Mansjoer, 2000). 2.3.4 Patogenesis dan Penularan TB Paru pada manusia dapat dijumpai dalam 2 bentuk, yaitu: 1. Tuberculosis primer Bila penyakit terjadi infeksi pertama kali. Umumnya TBC primer dapat sembuh tanpa meninggalkan cacat dan ada juga sembuh dengan sedikit bekas berupa garis-garis fibrotik tetapi ada kemungkinan dikemudian hari dapat mengalami kekambuhan. 2. Tuberculosis pasca-primer Bila penyakit timbul setelah beberapa waktu seseorang terkena infeksi primer menyembuh dan sering didapatkan kuman dalam sputum merupakan sumber penularan.

Dikenal dua golongan TBC pasca-primer yaitu TBC sekunder dan tertier. TBC sekunder berjalan akut manifestasi alergi lebih berat, sedangkan TBC tertier berjalan kronik dan produktif. Penularan TB Paru terjadi karena kuman dibatukkan atau dibersinkan keluar menjadi droplet nuclei dalam udara (airborne), partikel infeksi ini dapat menetap dalam udara bebas selama satu-dua jam, tergantung pada ada tidaknya sinar ultraviolet, ventilasi yang baik dan kelembaban. Dalam udara suasana lembab dan gelap kuman dapat bertahan berhari-hari sampai berbulan-bulan. Bila partikel infeksi ini terhisap oleh orang sehat, ia akan menempel pada jalan nafas atau paru-paru, setelah mengalami berbagai hambatan sepanjang saluran nafas bagian atas dan bawah. Implantasi kuman terjadi pada Respiratory Bronchial atau Alveoli 2.3.5 Klasifikasi TB Paru Klasifikasi TBC sampai saat ini belum ada kesepakatan diantara para klinikus, ahli radiologi, ahli patologi, dan ahli kesehatan masyarakat tentang keseragaman klasifikasi TBC. Dari sistem lama diketahui beberapa klasifikasi, seperti: 1. Pembagian secara patologis - Tuberculosis primer (Childhood Tuberculosis) - Tuberculosis post-primer (Adult Tuberculosis) 2. Pembagian secara aktivitas radiologis - Tuberculosis paru (Koch Pulmonum) aktif - Tuberculosis paru (Koch Pulmonum) non aktif - Quiescent (bentuk aktif yang mulai menyembuh) 3. Pembagian secara radiologis (luas lesi) - Tuberculosis minimal - Moderrately advanced tuberculosis - Far advanced tuberculosis Menurut WHO, 1991 berdasarkan terapi membagi TB dalam 3 kategori, yaitu: 1. Kategori I, ditujukan terhadap: - Kasus baru dengan sputum positif - Kasus baru dengan bentuk TB berat 2. Kategori II, ditujukan terhadap: - Kasus kambuh - Kasus gagal dengan sputum BTA positif 3. Kategori III, ditujukan terhadap: - Kasus BTA negatif dengan kelainan paru yang tidak luas - Kasus TBC ekstra paru selain dari yang disebut dalam kategori I (Mansjoer, 2000) 2.3.6 Pemeriksaan TB Paru 2.3.6.1 Pemeriksaan Fisik Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan tanda-tanda: 1. Infiltran (redup, bronchial, ronchi berat, dll) 2. Penarikan paru, diafragma, dan mediastinum 3. Sekret di saluran nafas dan ronchi. 4. Suara nafas amforik karena adanya kavitas yang berhubungan langsung

dengan bronkus. 2.3.6.2 Pemeriksaan Radiologis Pada saat ini pemeriksaanradiologi dada merupakan cara praktis untuk menentukan lesi tuberculosis, beberapa karakteristik radiologik pada TB Paru : 1. Lokasi lesi TBC umumnya di daerah apeks paru (segmen apical lobus atas atau segmen apical bawah) 2. Berupa bercak-bercak seperti awan dengan batas tegas 3. Pada kavitas bayangannya berupa cincin 4. Pada kavitas bayangannya tampak seperti bercak-bercak padat densitas tinggi. 5. Pada atelektasis terlihat seperti fibrosis yang luas disertai penciutan yang dapat terjadi sebagian atau satu lobus maupun pada satu paru. Pada salah satu foto dada sering didapatkan bermacam-macam bayangan sekaligus (pada TBC yang sudah lanjut) seperti infiltrat + garis-garis fibrotik + kalsifikasi + kavitas (nonsklerotik/sklerotik) maupun atelektasis dan emfisema. 2.3.6.3 Pemeriksaan Laboratorium 1. Darah Pada saat TBC baru mulai aktif akan didapatkan jumlah leukosit yang sedikit meninggi, LED meningkat. 2. Sputum Pemeriksaan sputum adalah penting karena dengan ditemukannya kuman BTA diagnosis TBC sudah dapat dipastikan, juga dapat memberikan evaluasi terhadap pengobatan yang sudah diberikan. Kriteria sputum BTA positif adalah bila sekurang-kurangnya ditemukan tiga batang kuman BTA pada satu sediaan. Dengan kata lain diperlukan 5.000 kuman dalam satu sputum. Media biakan sering dipakai adalah Zeihl Neilson dan ATS. 3. Tes Tuberculin uji untuk menunjukkan adanya reaksi imunitas seluler yang timbul setelah 4-6 minggu infeksi pertama dengan basil tuberculosa. Banyak cara dipakai tapi yang paling sering adalah cara mantoux. Hasil tes mantoux ini dibagi dalam: - Indurasi 0-5 mm (diameternya) : mantoux negatif = golongan non sensivity. Disini peran antibody humeral paling menonjol. - Indurasi 6-9 mm : hasil meragukan, golongan low grade sensivity. Disini peran antibody humoral masih lebih menonjol. - Indurasi 10-15 mm : mantoux positif = golongan normal sensivity. Disini peran antibody seimbang. - Indurasi lebih dari 16 mm : mantoux positif kuat = golongan hyper sensivity. Disini peran antibody seluler paling menonjol. 2.3.7 Konsep Dasar Pengobatan TB Paru Sebenarnya pengobatan terhadap penderita-penderita TB Paru paling baik jika dilakukan di Rumah Sakit atau Sanatorium, meskipun jenis tertentu dapat dirawat di rumah penderita sendiri, salah satu masalah dalam pengobatan TB Paru adalah lamanya jangka pemberian obat yang mengurangi kepatuhan penderita dalam melakukan pengobatan secara teratur dan terus menerus. 2.3.7.1 Obat Anti TB (OAT) OAT harus diberikan dalam kombinasi sedikitnya dua obat yang bersifat bakterisid dengan atau tanpa obat ketiga. Tujuan pemberian OAT antara lain:

- Membuat konversi sputum BTA positif menjadi negatif secepat mungkin melalui kegiatan bakterisid - Mencegah kekambuhan dalam tahun pertama setelah pengobatan dengan kegiatan sterilisasi - Menghilangkan atau mengurangi gejala dan lesi melalui perbaikan daya tahan imunologis. Maka pengobatan TB Paru dilakukan melalui dua fase, yaitu: - Fase awal intensif, dengan kegiatan bakterisid untuk memusnahkan populasi kuman yang membelah dengan cepat. - Fase lanjutan, melalui kegiatan sterilisasi kuman pada pengobatan jangka pendek atau kegiatan bakteri statik pada pengobatan konvensional. OAT yang biasa digunakan antar lain Isoniazid (INH), Rimfapisin (R), Pirazinamid (Z), dan Streptomizin (S) yang bersifat bakterisid dan embutol (E) yang bersifat bakteriastatik. Di Indonesia sejak tahun 2005 program pengobatan TB paru menggunakan paduan obat FIXED DOSE COMBINATION (FDC). Fixed Dose Combination adalah kombinasi obat tersebut di atas dengan berpedoman pada berat badan. Keuntungan penggunaan program Fixed Dose Combination, adalah: a. Mudah pemberiannya. b. Mudah untuk penderita c. Mudah menyesuaikan dosis obat Jenis FDC di Indonesia: a. Tablet 4 FDC Digunakan untuk tahap intensif dan sisipan. Mengandung 4 macam obat, yaitu: 75mg INH 150mg Rifampisisn 400mg Pirazinamid 275mg Ethambutol b. Tablet 2 FDC Digunakan untuk tahap lanjutan. Mengandung 2 macam obat, yaitu: 150mg INH 150mg Rifampisin c. Pelengkap paduan kategori-2. Tablet ethambutol @ 400mg. Streptomisin injeksi, vial @ 750mg. Aquabidest 2.3.7.2 Dosis Pengobatan a. Kategori 1 (2HRZE/4H3R3) Berat Badan Tahap Intensif Tiap hari selama 2 bulan (8 minggu) Tahap Lanjutan 3 kali seminggu selama 4 bulan (16 minggu) 30-37 Kg 2 tablet 4 FDC 2 tablet 2 FDC 38-54 Kg 3 tablet 4 FDC 3 tablet 2 FDC

55-70 Kg 4 tablet 4 FDC 4 tablet 2 FDC > 70 Kg 5 tablet 4 FDC 5 tablet 2 FDC b. Kategori 2 (2HRZES/HRZE/5H3R3E3) Berat Badan Tahap Intensif Selama 3 bulan Tahap Lanjutan 3 kali seminggu selama 5 bulan (20 minggu) Tiap hari selama 2 bulan (8 minggu) Tiap hari selama 1 bulan (4 minggu) 30-37 Kg 2 tablet 4 FDC + 500mg strept inj 2 tablet 4 FDC 2 tablet 2 FDC + 2 Tablet Ethambutol 38-54 Kg 3 tablet 4 FDC + 750mg strept inj 3 tablet 4 FDC 3 tablet 2 FDC + 3 Tablet Ethambutol 55-70 Kg 4 tablet 4 FDC + 1g strept inj 4 tablet 4 FDC 4 tablet 2 FDC + 4 Tablet Ethambutol > 70 Kg 5 tablet 4 FDC + 1g strept inj* 5 tablet 4 FDC 5 tablet 2 FDC + 5 Tablet Ethambutol * 750mg untuk penderita umur > 60 tahun 2.3.7.3 Panduan Obat Anti TB (OAT) Untuk mencegah terjadinya resisten, terapi TBC dilakukan dengan memakai paduan obat, sedikitnya diberikan 2 macam obat yang bersifat bakterisid. Jenis obat yang dipakai: 1. Obat Primer: - Isoniazid - Rimfapisin - Pirazinamid - Etambutol - Streptomizin 2. Obat Sekunder: - Etionamid - Protionamid - Sikloserin

- Kanamisin - P.A.S - Tiasetazon - Viomisin 2.3.7.4 Sebab-sebab Kegagalan Pengobatan 1. Obat - Paduan obat tidak cukup - Dosis obat tidak cukup - Minum obat tidak teratur atau tidak sesuai petunjuk - Jangka waktu pengobatan tidak sesuai dengan semestinya. - Terjadi resisten obat 2. Drop Out - Kekurangan biaya pengobatan - Merasa sudah sembuh atau hilangnya gejala - Malas berobat atau kurang motivasi. 3. Penyakit - Lesi sakit terlalu meluas atau sakit berat - Penyakit lain yang menyertai Tuberculosis, seperti Diabetes Melitus. - Adanya gangguan imunologis. 2.3.8 Pencegahan TB Paru 1. Apabila kontak langsung dengan penderita TB Paru digunakan masker 2. Bersihkan rumah setiap hari 3. jangan menggunakan alat makan dan minum jadi satu 4. Usahakan sinar matahari dan udara segar masuk ke ruangan rumah dan juga kamar tidur anda 5. Bila timbul gejala sampingan mintalah nasehat kepada petugas kesehatan atau datanglah ke Puskesmas untuk mendapat pengobatan. 6. Imunisasi BCG pada balita untuk mencegah penyakit TBC. (Depkes RI, 1994) http://arulsmt.blogspot.com/2009/11/konsep-dasar-tb-paru.html

KONSEP DASAR TUBERKULOSIS PARU KONSEP DASAR TUBERKULOSIS PARU A. Pengertian Tuberkulosis paru adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh mycobacterium tuberculosis dengan gejala yang sangat bervariasi, kebanyakan menyerang stryktur alveolar paru. B. Penyebab Mycobacterium yang bersifat tahan asam ada dua jenis yaitu : 1. Mycobacterium tuberkulosis hominis, merupakan sebagian besar kasus TB. 2. Mycobacterium tuberkulosis bovis, TB orofaring dan intestinum. C. Tanda dan Gejala 1. Batuk lebih dari 4 minggu. 2. Batuk berdahak, kadang-kadang bercampur darah. 3. Sakit kepala. 4. Nafsu makan menurun. 5. Berkeringat malam hari walaupun tanpa kegiatan. 6. Demam. 7. Berat badan menurun. 8. Gejala flu seperti demam, malaise kadang sesak napas. 9. Nyeri dada. D. Klasifikasi Diagnostik 1. TB Paru a. BTA mikroskopik langsung (+) atau biakan (+), kelainan foto toraks menyokong TB dan gejala klinis sesuai TB. b. BTA (-) tapi kelainan foto thoraks dan klinis sesuai TB dan memberikan perbaikan pada pengobatan awal anti TB. Pasien ini memerlukan pengobatan adekuat. 2. TB Paru Tersangka BTA (-), kelainan klinis dan rontgen sesuai TB paru,pengobatan dengan anti TB sudah bisa dimulai. 3. Bekas TB (tidak sakit) Ada riwayat TB paru pada masa lalu dengan atau tanpa pengobatan. Foto thoraks normal atau abnormal, BTA (-). E. Pemeriksaan Fisik 1. Inspeksi Bentuk dada normal / tidak, postur tubuh (klavikula terangkat). Pergerakan dinding dada simetris / tidak. Penggunaan otot bantu pernafasan. Ritme, sifat, frekuensi dan pola pernafasan. 2. Palpasi

Keadaan kulit dada, nyeri tekan (+ / -). Tactil fremitus (+ / -). 3. Perkusi Tanda infiltrat (redup). 4. Auskultasi Bunyi bronchial dan ronchi basah. F. Penatalaksanaan 1. Obat Anti TB (OAT) Pengobatan melalui 2 fase, yaitu ; Fase awal untuk memusnahkan populasi kuman yang membelah dengan cepat. Fase lanjutan, melalui kegiatan sterilisasi kuman pada jangka pengobatan pendek atau kegiatan bakteriostatik pada pengobatan konvensial. OAT yang biasa digunakan : Isoniazid (INH), Ripamfisin (R), Pyrazinamide (Z), Streptomicin (S), Ethanbutol (E). Panduan Obat Anti Tuberkulosis (WHO 1993) Panduan OAT Klasifikasi dan Tipe Pasien Fase Awal Fase lanjutan Kategori 1 BTA (+) baru. Sakit berat BTA (-) luar paru. Tiap hari selama 2 bulan (HRZSE). Tiap hari selama 2 bulan (HRZSE). Tiap hari selama 4 bulan (RH). 3 x 1 minggu selama 4 bulan (RH). Kategori 2 Pengobatan ulang. Kambuh BTA (+). Gagal. Tiap hari selama 2 / 1 bulan (RHZES). Tiap hari selama2 / 1 bulan (RHZES). Tiap hari selama 5 bulan (RHE). 3 x 1 minggu selama 5 bulan (RHE). Kategori 3 TB paru BTA (-). TB luar paru. Tiap hari selama 2 bulan (RHZ). Tiap hari selama 2 / 3 x 1 minggu (RHZ). Tiap hari selama 4 bulan (RH). 3 x 1 minggu selama 4 bulan (RH). 2. Diet TKTP 3. Perhatikan lingkungan (Ventilasi, k/p isolasi). G. Data Penunjang 1. Pemeriksaan Laboratorium Darah rutin (LED normal atau meningkat, limfositosis). Sputum BTA (+ / -). 2. Pemeriksaan Radiologi Foto thoraks PA dan lateral. Gambaran foto thoraks yang menunjang: Bayangan lesi di lapangan atas paru atau segmen apikal lobus bawah. Bayangan berawan (patchy) atau bebercak (noduler). Adanya kavitas, tunggal atau ganda.

Kalainan bilateral terutama dilapisan atas paru. Adanya kalsifikasi. Bayanganmenetap. Bayangan milier. 3. Tes mantoux / tuberkulin

DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL 1. Ketidakefektifan pola pernapasan sehubungan dengan adanya sekret kental atau seket darah atau kurangnya batuk efektif Intervensi : Kaji fungsi pernapasan (bunyi napas ,kecepatan ,irama kedalaman dan penggunaan otot-otot aksesori) Atur posisi pasien (semi fowler dan fowler ) Bersihkan sekret dari trakea, mulut (pengisapan ) Pertahankan masukan cairan Ajarkan batuk efektif Tujuan : Mempertahankan pola pernapasan pasien yang efektif. 2. Gangguan rasa nyaman sehubungan dengan tindakan pemeriksaan seperti pengambilan tindakan-tindakan pemeriksaan seperti pengambilan cairan lambung, tes tuberkulin pemeriksaan darah dan lain lainnya. Intervensi ; Beri penjelasan kepada klien dan keluarga terhadap penyakitnya serta tindakan sekarang. Setiap melakukan tindakan beri tahu klien. Hindari trauma pada klien terhadap tindakan medis atau para medis Beri dorongan klien untuk kooperatif terhadap tindakan Hindari beban penderitaan klien terhadap tindakan yang dilakukan. Tujuan : Klien merasa aman terhadap tindakan yang dilakukan. 3. Kurang pengetahuan mengenai penyakit sehubungan dengan kurang informasi tentang perawatan dan proses penyakit Intervensi : Kaji tingkat pengetahuan klien Jelaskan sifat sakit dan tujuan pengobatan Jelaskan pentingnya personal hygiene Pentingnya diet tinggi TKTP Jelaskan pentingnya isolasi pernapasan bagi lingkungan berdasarkan proses penyakitnya Jelaskan untuk menghindari kontak langsung dengan orang lain

Jelaskan pentingnya rawat jalan dan rawat inap Tujuan : Klien memperlihatkan peningkatan pengetahuan tentang penyakit anakanya dan tindakan pertama yang harus dilakukan.

Daftar pustaka: 1. Mansjoer, Aref .Et el, 2000. Kapita Selekta Kedokteran .Edisi III. Jilid 2 .Penerbit: Media Aesculapius .FK UI .Jakarta. 2. Doengoes, Marilynn E. Et al. 1999, Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC Diposkan oleh UKM sosial kemasyarakatan STIKES Mb di 21.03

Anda mungkin juga menyukai