Anda di halaman 1dari 7

FRAKTUR MANDIBULA

1. Pengertian Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya (Brunner & Suddarth, 2001). Mandibula adalah tulang rahang bawah, tulang yang tidak teratur dan merupakan satu-satunya tulang kepala yang dapat bergerak (Watson, 2002). Fraktur mandibula adalah rusaknya kontinuitas tulang mandibula yang dapat disebabkan oleh trauma baik secara langsung atau tidak langsung. Fraktur mandibula secara umum sering terjadi pada korpus mandibula, angulus dan kondilus, sedangkan pada ramus dan prosesus koronoideus lebih jarang terjadi. Presentasi kemungkinan terjadinya fraktur adalah korpus 29%, kondilus 26%, angulus 25%, simfisis 17%, ramus 4% dan prosesus koronoid 1%.

2. Etiologi a. Trauma langsung: benturan pada tulang mengakibatkan fraktur ditempat tersebut. b. Trauma tidak langsung: tulang dapat mengalami fraktur pada tempat yang jauh dari area benturan. c. Fraktur patologis: fraktur yang disebabkan trauma yamg minimal atau tanpa trauma. Contoh fraktur patologis: Osteoporosis, penyakit metabolik, infeksi tulang dan tumor tulang (Corwin, 2009).

3. Patofisiologi Ketika patah tulang, akan terjadi kerusakan di korteks, pembuluh darah, sumsum tulang dan jaringan lunak. Akibat dari hal tersebut adalah terjadi perdarahan, kerusakan tulang dan jaringan sekitarnya. Keadaan ini menimbulkan hematom pada kanal medulla antara tepi tulang dibawah periostium dengan jaringan tulang yang mengatasi fraktur. Terjadinya respon inflamasi akibat sirkulasi jaringan nekrotik adalah ditandai dengan vasodilatasi dari plasma dan leukosit. Ketika terjadi kerusakan tulang, tubuh mulai melakukan proses penyembuhan untuk memperbaiki cidera, tahap ini menunjukkan tahap awal penyembuhan tulang. Hematom yang terbentuk bisa menyebabkan peningkatan tekanan

dalam sumsum tulang yang kemudian merangsang pembebasan lemak dan gumpalan lemak tersebut masuk kedalam pembuluh darah yang mensuplai organ-organ yang lain. Hematom menyebabkan dilatasi kapiler di otot, sehingga meningkatkan tekanan kapiler, kemudian menstimulasi histamin pada otot yang iskhemik dan menyebabkan protein plasma hilang dan masuk ke interstitial. Hal ini menyebabkan terjadinya edema, sehingga mengakibatkan pembuluh darah menyempit dan terjadi penurunan perfusi jaringan. 4. Tanda dan gejala a. Dislokasi, berupa perubahan posisi rahang yang menyebabkan

tidak berkontaknya rahang bawah dan rahang atas. b. Pergerakan rahang yang abnormal, dapat terlihat bila penderita menggerakkan rahangnya. c. Rasa sakit saat rahang digerakkan. d. Pembengkakan pada sisi fraktur sehingga dapat menentukan lokasi daerah fraktur. e. Krepitasi berupa suara pada saat pemeri ksaan akibat pergeseran dari ujung tulang yang fraktur bila rahang digerakkan. f. Laserasi yang terjadi pada daerah gusi, mukosa mulut dan daerah sekitar fraktur. g. Diskolorisasi perubahan warna pada daerah fraktur akibat pembengkakan. h. Disability, terjadi gangguan fungsional berupa penyempitan pembukaan mulut. i. Hipersalivasi dan Halitosis, akibat berkurangnya pergerakan normal mandibula dapat terjadi stagnasi makanan dan hilangnya efek self cleansing karena gangguan fungsi pengunyahan. j. Numbness, kelumpuhan dari bibir bawah, biasanya bila fraktur terjadi di bawah nervus alveolaris.

5. Pemeriksaan penunjang a. Pemeriksaan rontgen: Untuk menentukan lokasi, luas dan jenis fraktur b. Scan tulang, tomogram, CT-scan/ MRI: Memperlihatkan frakur dan mengidentifikasikan kerusakan jaringan lunak c. Pemeriksaan darah lengkap: Hb menurun terutama fraktur terbuka, peningkatan leukosit adalah respon stres normal setelah trauma.

6. Pengkajian primer a) Airway Kebersihan jalan napas, adanya sumbatan benda asing atau sputum, suara jalan napas, aliran udara, reflek batuk. b) Breathing Frekuensi napas, irama pernapasan, pengembangan paru, suara napas, kedalaman pernapasan, pernapasan cuping hidung, penggunaan otot-otot pernapasan, kaji adanya sesak napas. c) Circulation Kaji adanya perdarahan, tekanan darah, MAP, frekuensi nadi, irama jantung, bunyi jantung, warna kulit, kapiler refill, sianosis, suhu akral, gelisah, output urine. d) Disability Kaji tingkat kesadaran, GCS. e) Eksposure Suhu.

7. Pengkajian sekunder a. Keluhan utama Biasanya klien merasakan rasa nyeri yang hebat. b. Riwayat kesehatan sekarang c. Riwayat penyakit dahulu d. Riwayat kesehatan keluarga e. Pemeriksaan head to toe 1) Kepala : kaji bentuk kepala, adanya benjolan, adanya lesi. 2) Mata : kaji adanya ikterik, anemis, bentuk pupil, besar pupil, respon pupil terhadap cahaya. 3) Hidung : kaji adanya perdarahan, luka, polip. 4) Mulut : kaji adanya luka, mukosa mulut, keutuhan dan keadaan gigi. 5) Leher : kaji adanya benjolan, pembesaran kelenjar tyroid. 6) Dada

Paru-paru : I : kaji pengembangan dada, adanya jejas

Pa : kaji adanya benjolan, kaji adanya nyeri tekan Au : kaji bunyi pernapasan Per : kaji bunyi paru-paru Jantung : I : kaji letus cordis tampak atau tidak

Pa : letus cordis teraba atau tidak Au : bunyi jantung Per : kaji konfigurasi jantung 7) Abdomen I : kaji bentuk abdomen, adanya luka

Au : kaji bising usus Pal : kaji adanya benjolan, nyeri tekan Pel : kaji bunyi abdomen 8) Ekstremitas Kaji adanya oedeme, kapiler refill, sianosis, akral dingin. 9) Lokasi fraktur Kaji adanya perdarahan, nyeri, deformitas, krepitasi, luka.

8. Diagnosa keperawatan yang mungkin timbul a. Gangguan rasa nyaman: nyeri b.d pergeseran fragmen tulang terhadap jaringan lunak. b. Hambatan komunikasi verbal berhubungan dengan hambatan fisik c. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan gangguan musculoskeletal.

9. Intervensi keperawatan a. Gangguan rasa nyaman: nyeri b.d pergeseran fragmen tulang terhadap jaringan lunak Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam nyeri dapat berkurang atau terkontrol. Kriteria hasil : 1) Nyeri berkurang atau hilang 2) Skala nyeri 1 3) Klien tenang dan tidak gelisah Intervensi Kaji lokasi nyeri, intensitas dan tipe nyeri Pertahankan imobilisasi fraktur Rasional Mempengaruhi pilihan keefektifan intervensi posisi yang tepat dan

wajah Mempertahankan

dengan alat yang tepat

mencegah stres yang tak diperlukan pada dukungan otot

Ajarkan dan dorong tehnik relaksasi napas Dengan tehnik relaksasi dapat mengurangi dalam nyeri

Berikan waktu untuk ekspresikan perasaan, Ekspresikan masalah/ rasa takut menurunkan dalam tingkat kemampuan berkomunikasi Kolaborasi Pemberian analgetik Analgetik memblok lintasan nyeri, sehingga nyeri akan berkurang. ansietas/ siklus nyeri

b. Hambatan komunikasi verbal berhubungan dengan hambatan fisik Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam klien dapat berkomunikasi dengan baik Kriteria hasil : pasien akan menetapkan metode komunikasi dimana kebutuhan dapat diekspresikan

Intervensi

Rasional

1. Tentukan luasnya ketidakmampuan 1. Tipe cedera/ situasi individual akan menentukan untuk berkomunikasi kebuthan yang memerlukan bantuan pasien untuk

2. Berikan pilihan cara komunkasi 2. Memampukan menggunakan alat

mengkomunikasikan kebutuhan atau masalah

3. Validasi arti upaya komunikasi: 3. Batasi frustasi dan kelelahan yang dapat terjadi gunakan ya atau tidak 4. Antisipasi kebutuhan pasien pada percakapan lama 4. Menurunkan berdaya ansietas dan perasaan tidak

c. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan gangguan musculoskeletal. Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam resiko inefektif bersihan jalan nafas tidak terjadi Kriteria hasil: 1) Pola nafas normal 2) Bunyi nafas jelas dan tidak bising Intervensi a. Tinggikan tempat tidur 30 derajat b. Observasi frekuensi/ irama pernafasan. Rasional a. Meningkatkan drainase sekresi dan

menurunkan terjadinya edema

Perhatikan penggunaan otot aksesori, b. Dapat mengindikasikan terjadinya gagal pernafasan cuping hidung, stridor, serak pernafasan

c. Periksa mulut terhadap pembengkakan, c. Pemeriksaan hati-hati diperlukan karena perubahan warna, akumulasi sekret mungkin adanya perdarahan

mulut atau darah d. Perhatikan keluhan pasien akan d. Mengindikasikan pembengkakan jaringan lunak pada faring posterior

peningkatan disfagia, batuk nada tinggi, mengi e. Awasi TTV dan perubahan mental

e. Takikardi/

peningkatan

gelisah

dapat

mengindikasikan terjadinya hipoksia f. Kaji warna dasar kuku f. Menentukan keadekuatan oksigenasi

Kolaborasi Berikan antiemetik sesuai indikasi Mencegah terjadinya muntah dan aspirasi

10. Kepustakaan Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC. Doenges, M. A., Moorhouse, M. F.,& Geissler, A.C. 1999. Rencana asuhan keperawatan: pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Jakarta: EGC. Smeltzer, Z. C,& Brenda, G. B. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8, vol 3. Jakarta: EGC. Rerves, C. J., Roux, G.,& Lockhart, R. 2001. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: Salemba Medika. Watson, R. 2002. Anatomi dan fisiologi: untuk perawat. Jakarta: EGC.