Anda di halaman 1dari 7

MURABAHAH 1. A. Konsep Murabahah Pengertiaan al-Murabahah diambil dari bahasa Arab dari kata ar-ribhu.

Al murobahah yang berarti kelebihan dan tambahan (keuntungan). Sedangkan dalam definisi para ulama terdahulu adalah jual belidengan modal ditambah keuntungan yang diketahui. Hakekatnya adalah menjual barang dengan harga (modal) nya yang diketahui kedua belah transaktor (penjual dan pembeli) dengankeuntungan yang diketahui keduanya.Sehingga penjual menyatakan modalnya adalah seratusribu rupiah dan saya jual kepada kamu dengan keuntungan sepuluh ribu rupiah.Murabahah adalah akad jual beli barang dengan harga jual sebesar biaya perolehan ditambahkeuntungan yang disepakati dan penjual harus mengungkapkan biaya perolehan barang tersebutkepada pembeli. Baial murabahah adalah jual-beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati. Dalam baial murabahah penjual harus memberitahu harga produk yang ia beli dan menentukan suatu tingkat keuntungan sebagai tambahannya.[1] Pada pasal 19 ayat (1) huruf d Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 menjelaskan bahwa: yang dimaksud dengan akad murabahah adalah akad pembiayaan suatu barang dengan menegaskan harga belinya kepada pembeli dan pembeli membayarnya dengan harga yang lebih sebagai keuntungan yang telah disepakati. Jadi, fitur dan mekanisme pembiayaan murabahah adalah penyediaan dana atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu untuk transaksi jual beli suatu barang sebesar harga pokok atau perolehan barang ditambah dengan margin keuntungan yang disepakati antara bank dan nasabah yang mewajibkan nasabah untuk melunasi utang atau membayar tagihan sesuai dengan akad, di mana sebelumnya penjual menginformasikan harga perolehan kepada pembeli.[2] Rukun dan Syarat Aqad Murabahah Dalam melaksanakan suatu perikatan, terdapat suatu rukun dan syarat yang harus dipenuhi. Secara bahasa, rukun adalah yang harus dipenuhi utnuk sahnya suatu pekerjaan , sedangkan syarat adalah ketentuan (peraturan, petunjuk) yang harus diindahkan dan dilakukan. Dalam syariat, rukun dan syarat sama-sama menentukan sah atau tidaknya suatu transaksi. Secara definisi, rukun adalah suatu unsur yang merupakan bagian tak terpisahkan dari suatu perbuatan atau lembaga yang menentukan sah atau tidaknya perbuatan tersebut dan atau tidaknya sesuatu itu . Definisi syarat adalah sesuatu yang tergantung padanya keberadaan hukum syari dan ia berada diluar hukum itu sendiri yang ketiadaannya menyebabkan hukum pun tidak ada. Perbadaan antara rukun dan syarat menurut ulama Ushul Fiqh bahwa rukun merupakan sifat yang kepadanya tergantung keberadaan hukum dan ia termasuk dalam hukum itu sendiri. Sedangkan syarat merupakan sifat yang kepadanya tergantung keberadaan hukum tapi ia berada diluar hukum itu sendiri. Mengenai rukun perikatan atau sering disebut juga dengan rukun aqad dalam Hukum Islam, terdapat beraneka ragam pendapat dikalangan para ahli fiqh. Dikalangan mazhab Hanafi bahwa rukun aqad hanya sighat al-aqad, yaitu ijab dan kabul. Sedangkan syarat aqad adalah alaqidain (subyek aqad) dan mahallul-aqd (obyek aqad). Alasannya adalah al-aqidanin dan mahallul aqd bukan merupakan bagian dari tasharruf aqad (perbuatan hukum aqad). Kedua hal tersebut berbeda diluar perbuatan aqad. Berbeda halnya dengan pendapa dari kalangan Syafii termasuk Imam Ghazali dan kalangan mazhab Maliki termasuk Syihab al-Karakhi, bahwa alaqidain dan mahallul aqd termasuk rukun aqad karena hal tersebut merupakan salah satu pilar

utama dalam tegaknya aqad. 1. Rukun dan Syarat Murabahah Dari segi hukumnya bertransaksi dengan menggunakan sistem murabahah adalah suatu hal yang dibenarkan dalam Islam. Keabsahannya juga bergantung pada syarat-syarat dan rukun yang telah ditetapkan. Adapun rukun jual beli murabahah yang disepakati oleh jumhur ulama adalah: 1) Penjual (bai), yaitu pihak yang memiliki barang untuk dijual atau pihak yang ingin menjual barangnya. Dalam transaksi pembiayaan murabahah di perbankan syariah merupakan pihak penjual. 2) Pembeli (musytari) yaitu pihak yang membutuhkan dan ingin membeli barang dari penjual, dalam pembiayaan murabahah nasabah merupakan pihak pembeli 3) Barang/objek (mabi) yaitu barang yang diperjual belikan. Barang tersebut harus sudah dimiliki oleh penjual sebelum dijual kepada pembeli, atau penjual menyanggupi untuk mengadakan barang yang diinginkan pembeli. 4) Harga (tsaman). Harga yang disepakati harus jelas jumlahnya dan jika dibayar secara hutang maka harus jelas waktu pembayaranya. 5) Ijab qabul (sighat) sebagai indikator saling ridha antara kedua pihak (penjual dan pembeli) untuk melakukan transaksi Dalam penentuan rukun jual beli, terdapat perbedaan pendapat ulama Hanafiah dengan jumhur ulama. Rukun jual beli menurut ulama Hanafiyah hanya satu, yaitu ijab (ungkapan membeli dari penjual) dan Kabul (ungkapan menjual dari penjual). Menurut mereka yang mejadi rukun jual beli hanyalah kerelaan kedua belah pihak melakukan transaksi jual beli. Akan tetapi, karena unsure kerelaan itu merupakan unsur hati yang sulit untuk diindera sehingga tidak kelihatan, maka diperlukan indikasi yang menunjukkan kerelaan kedua belah pihak yang melakukan transaksi jual beli, menurut mereka boleh tergambar dalam dan Kabul atau melalui cara saling memberikan barang dengan barang. Menurut ulama Hanafiyah, orang yang berakad barang yang dibeli dan nilai tukar barang, termasuk ke dalam syarat-syarat jual beli, bukan rukun jual beli. Sedangkan syarat untuk jual beli bai al- murabahah menurut SyafiI Antonio adalah sebagai berikut 1) Penjual member tahu biaya modal kepada nasabah. 2) Kontrak pertama harus sah sesuai dengan rukun yang ditetapkan. 3) Kontrak harus bebas dari riba 4) Penjual harus menjelaskan kepada pembeli bila terjadi cacat atas barang sesudah pembelian. 5) Penjual harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembeli, misalnya jika pembeli dilakukan secara utang. Secara prinsib, jika syarat dalam (1), (4), atau (5) tidak terpenuhi, pembeli memiliki pilihan. a. Melanjutkan pembelian seperti apa adanya. b. Kembali kepada penjual dan menyatakan ketidaksetujuan atas barang yang dijual.

c. Membatalkan kontrak. Jual beli secara murabahah di atas hanya untuk barang atau produk yang telah dikuasai atau dimiliki penjual pada waktu negosiasi dan berkontrak.

1. B.

Dasar Hukum

Al-quran %!$# tbq=2t (#4qth9$# w tbqBq)t w) $yJx. Pq)t %!$# m6ytFt `s9$# z`B byJ9$# 4 y79s NgRr (#q9$s% $yJR) t79$# @WB (#4qth9$# 3 @ymr&ur !$# yt79$# tPymur (#4qth9$# 4 `yJs nu!%y` psqtB `iB mn 4ygtFR$$s &s#s $tB y#n=y nBr&ur n<) !$# ( tBur y$t y7s9rs =ysr& $Z9$# ( Nd $pk cr$#yz Orang-orang yang Makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orangorang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya(Q.S : Al Baqarah:275). Al Hadits Dari Suhaib Ar Rumi r.a bahwa Rasulullah saw bersabda, tiga hal yang di dalamnya terdapat keberkatan: jual-beli secara tangguh, muqaradhah (mudharabah), dan mencampur gandum dengan tepung untuk keperluan rumah, bukan untuk dijual. (H.R Ibnu Majah)

Ijtihad Permasalahan jual belia murabahah KPP ini sebenarnya bukanlah perkara kontemporer dan baru (Nawaazil) namun telah dijelaskan para ulama terdahulu. Berikut ini sebagian pernyataan mereka: Imam As-Syafii menyatakan: Apabila seorang menunjukkan kepada orang lain satu barang seraya berkata: Belilah itu dan saya akan berikan keuntungan padamu sekian. Lalu ia membelinya maka jual belinya boleh dan yang menyatakan: Saya akan memberikan keuntungan kepadamu memiliki hak pilih (khiyaar), apabila ia ingin maka ia akan melakukan jual-beli dan bila tidak maka ia akan tinggalkan. Demikian juga jika ia berkata: Belilah untukku barang tersebut. Lalu ia mensifatkan jenis barangnya atau barang jenis apa saja yang kamu sukai dan saya akan memberika keuntungan kepadamu, semua ini sama. Diperbolehkan pada yang pertama dan dalam semua yang diberikan ada hak pilih (khiyaar). Sama juga dalam hal ini yang disifatkan apabila menyatakan: Belilah dan aku akan membelinya darimu dengan kontan atau tempo. Jual beli pertamam diperbolehkan dan harus ada hak memilih pada jual beli yang kedua. Apabila keduanya memperbaharui (akadnya) maka boleh dan bila berjual beli dengan itu dengan ketentuan adanya keduanya mengikat diri (dalam jual beli tersebut) maka ia termasuk dalam dua hal:

1. Berjual beli sebelum penjual memilikinya. 2. Berada dalam spekulasi (Mukhathorah). Imam ad-Dardier dalam kitab asy-Syarhu ash-Shaghir 3/129 menyatakan: al-Inah adalah jual beli orang yang diminta darinya satu barang untuk dibeli dan (barang tersebut) tidak ada padanya untuk (dijual) kepada orang yang memintanya setelah ia membelinya adalah boleh kecuali yang minta menyatakan: Belilah dengan sepuluh secara kontan dan saya akan ambil dari kamu dengan dua belas secara tempo. Maka ia dilarang padanya karena tuduhan (hutang yang menghasilkan manfaat), karena seakan-akan ia meminjam darinya senilai barang tersebut untuk mengambil darinya setelah jatuh tempo dua belas. Jelaslah dari sebagian pernyataan ulama fikih terdahulu ini bahwa mereka menyatakan pemesan tidak boleh diikat untuk memenuhi kewajiban membeli barang yang telah dipesan. Demikian juga the Islamic Fiqih Academy (Majma al-Fiqih al-Islami ) menegaskan bahwa jual beli muwaadaah yang ada dari dua pihak dibolehkan dalam jual beli murabahah dengan syarat al-Khiyaar untuk kedua transaktor seluruhnya atau salah satunya. Apa bila tidak ada hak alKhiyaar di sana maka tidak boleh, karena al-Muwaaadah yang mengikat (al-Mulzamah) dalam jual beli al-Murabahah menyerupai jual beli itu sendiri, dimana disyaratkan pada waktu itu penjual telah memiliki barang tersebut hingga tidak ada pelanggaran terhadap larangan nabi shallallahu alaihi wa sallam tentang seorang menjual yang tidak dimilikinya. Syeikh Abdul Aziz bin Baaz ketika ditanya tentang jual beli ini menjawab: Apabila barang tidak ada di pemilikan orang yang menghutangkannya atau dalam kepemilikannya namun tidak mampu menyerahkannya maka ia tidak boleh menyempurnakan akad transaksi jual belinya bersama pembeli. Keduanya hanya boleh bersepakat atas harga dan tidak sempurna jual beli diantara keduanya hingga barang tersebut dikepemilikan penjual. Fatwa DSN-MUI Dikatakan bahwa: pertama, dalam jual beli murabahat dikenal dengan adanya uang muka;[3] dan kedua, terdapat ketentuan-ketentuan murabahat yang bersifat umum, ketentuan untuk nasabah, jaminan, hutang dalam murabahat, penundaan pembayaran, dan bangkrut. Ketentuan-ketentuan murabahat yang bersifat umum adalah: 1)Bank dan nasabah melakukan akad murabahat yang bebas riba; 2)Barang yang diperjual belikan tidak dilarang oleh syariat Islam; 3)Bank membiayai sebagian atau seluruh harga pembelian barang yang telah disepakati kualifikasinya; 4)Bank membeli barang yang diperlukan nasabah atas nama bank sendiri, dan pembelian ini sah dan bebas riba; 5)Bank menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian, misalnya jika pembelian dilakukan secara hutang 6)Bank menjual barang tersebut kepada nasabah (pemesan) dengan harga jual senilai harga beli plus keuntungannya. Bank memberitahu nasabah secara jujur mengenai harga pokok barang berikut biaya yang diperlukan 7)Nasabah membayar harga barang yang telah disepakati tersebut pada jangka waktu tertentu yang telah disepakati 8)Pihak bank dapat mengadakan perjanjian khusus dengan nasabah untuk mencegah

terjadinya penyalahgunaan atau kerusakan akad tersebut; dan 9)Jika bank hendak mewakilkan kepada nasabah untuk membeli barang, akad jual beli murabahat dilakukan setelah barang-secara prinsipmenjadi milik bank.[4] Ketentuan-ketentuan murabahat bagi nasabah adalah: 1)Nasabah mengajukan permohonan dan perjanjian pembelian suatu barang atau aset kepada bank 2)setelah menerima permohonan, bank membeli terlebih dahulu aset yang dipesannya secara sah dengan pedagang 3)Bank menawarkan aset tersebut kepada nasabah dan nasabah harus membelinya sesuai dengan perjanjian yang telah disepakatinya, karena secara hukum perjanjian tersebut mengikat; kemudian kedua belah pihak membuat kontrak jual beli 4)Bank dibolehkan meminta nasabah untuk membayar uang muka saat menandatangani kesepakatan awal pemesanan 5)Jika nasabah menolak membeli barang tersebut, biaya riil bank harus dibayar dari uang muka tersebut 6)Jika nilai uang muka kurang dari kerugian yang ditanggung oleh bank, bank dapat meminta kembali sisa kerugiannya kepada nasabah 7)Jika uang muka memakai kontrak urbun sebagai alternatif dari uang muka, maka (a) jika nasabah memutuskan untuk membeli barang tersebut, ia tinggal membayar sisa harga; dan (b) jika nasabah batal membeli, uang muka menjadi milik bank, maksimal sebesar kerugian yang ditanggung oleh pihak bank akibat pembatalan tersebut; dan jika uang muka tidak mencukupi, nasabah wajib melunasi kekurangannya. Ketentuan mengenai jaminan dalam murabahah adalah: 1) adanya jaminan dibolehkan, agar nasabah serius dengan pesanannya; dan 2) bank dapat meminta nasabah untuk menyediakan jaminan yang dapat dipegang. Ketentuan mengenai hutang dalam murabahah adalah : 1) secara prinsip, menyelesaikan hutang nasabah dalam transaksi murabahah tidak ada kaitannya dengan transaksi lain yang dilakukan nasabah dengan pihak ketiga atas barang tersebut. Jika nasabah menjual kembali barang tersebut dengan keuntungan atau kerugian, ia tetap berkwajiban untuk menyelesaikan hutangnya kepada bank 2) jika nasabah menjual barang tersebut sebelum masa angsuran berakhir, ia tidak wajib segera melunasi seluruh angsurannya; dan 3) jika penjualan barang tersebut menyebabkan kerugian, nasabah tetap menyelesaikan hutangnya sesuai kesepakatan awal. Ia tidak boleh memperlambat pembayaran angsuran atau meminta kerugian itu diperhitungkan. Ketentuan mengenai penundaan pembayaran dalam murabahah adalah : 1) nasabah yang memiliki kemampuan tidak dibenarkan menunda penyelesaian hutangnya; dan 2) jika nasabah menunda-nunda pembayaran dengan sengaja, atau jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya, penyelesaian hal ini dilakukan melalui Badan Arbitrase Syariah

setelah tercapai kesepakatan melalui musyawarah. Ketentuan mengenai bangkrut dalam murabahah adalah jika nasabah telah dinyatakan pailit dan gagal menyelesaikan hutangnya, bank harus menunda tagihan hutang sampai ia sanggup kembali membayarnya, atau berdasarkan kesepakatan. Dalam fatwa MUI tentang murabahah terlihat jelas bahwa jual-beli murabahah dapat dilakukan dengan penundaan (angsuran) pembayaran. Ini adalah modifikasi dari fikih dalam kitab kuningnya yang menyatakan bahwa murabahah adalah jual-beli yang dilakukan dengan cara tunai. Oleh karena itu, ketentuannya pun menjadi berkembang, seperti ketentuan mengenai jaminan, penundaan pembayaran utang, dan bangkrut.[5] Muhammad Syafii Antonio menjelaskan bahwa tahap-tahap transaksi sebagai berikut: pertama, nasabah dan bank melakukan pendekatan yang saling memerlukan, nasabah memerlukan benda dan bank memerlukan nasabah sebagai bagian dari kegiatan bank; kedua, setelah terjadi titik temu dan kesepakatan, dua pihak melakukan akad jual-beli murabahah; ketiga, bank membeli benda yang diperlukan oleh nasabah ke penjual; keempat, penjual atas nama bank mengirim barang ke nasabah; kelima, nasabah menerima barang dan dokumen ; dan keenam, nasabah membayar ke bank.[6] Berdasarkan informasi lisan dari beberapa orang ahli dan praktisi, bank memberikan uang kepada nasabah untuk membelikan barang. Apabila hal ini benar-benar terjadi , penyimpangan sudah mulai dilakukan oleh bank-bank syariah, sebab akad murabahah mengharuskan bahwa yang diterima oleh nasabah adalah benda (barang), bukan uang. Hal ini terjadi karena pada umumnya, umat islam di Indonesia baik sebagai pengelola bank maupun sebagai nasabah sering mengambil jalan pintas sehingga mengabaikan aturan yang sudah disusun. Hal tersebut sebenarnya dapat diatasi dengan melakukan akad tambahan, yaitu akad mukalat;yang dimaksud akad mukalat adalah bahwa bank memberikan surat kuasa kepada nasabah untuk membelikan benda;; sehingga nasabah membeli benda atas nama bank. Dengan cara wakalat, keinginan ganda umat Islam dalam bermuamalah tercapai, yaitu keinginan untuk pemenuhan kebutuhan dan keinginan untuk mendapatkan ridha dari Allah SWT. 1. C. APLIKASI Aplikasi murabahah dalam perbankan Murabahah KPP umumnya dapat diterapkan pada produk pembiayaan untuk pembelian barangbarang investasi, baik domistik maupun luar negeri, seperti melalui letter of credit (L/C). Skema ini paling banyak digunakan karena sederhana dan tidak terlalu asing bagi yang sudah biasa bertransaksi dengan dunia perbankan pada umumnya. Kalangan perbankan syariah di Indonesia banyak menggunakan al murabahah secara berkelanjutan (roll over/evergreen). Seperti untuk modal kerja. Padahal, sebenarnya al murabahah adalah kontrak jangka pendek dengan sekali akad (one short deal). Al murabahah tidak tepat diterapkan untuk skema modal kerja. Akad mudharabah lebih sesuai untuk skema Aplikasi Akad Murabahah Pada Multifinance Akad murabahah mulai banyak yang menggunakannya karena hampir mirip dengan yang berlaku pada sektor konvensional. Sebagai faktanya, 99% pembiayaan yang diberlakukan pada multifinance syariah berdasarkan akad murabahah karena hal tersebut disesuaikan dengan hukum yang berlaku sesuai syariah Beberapa opini, seperti yang dikeluarkan oleh corporate secretary Mandala Finance, mengatakan bahwa seluruh pembiayaan multifinance menggunakan akad murabahah karena lebih aplikatif dan banyak digunakan oleh kalangan perbankan.

Prinsip murabahah itu mengacu pada Peraturan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) Departemen Keuangan Nomor: Per-04/Bl/ 2007 tentang akad-akad yang digunakan dalam kegiatan perusahaan pembiayaan berdasarkan prinsip syariah Aplikasi pada Federal International Finance (FIF) disebutkan bahwa perusahaan tersebut menggunakan murabahah untuk kegiatan pembiayaan syariah. Kontribusi pembiayaan syariah berkisar 15% dari total pembiayaan sebuah perusahaan. Pengertian murabahah sendiri adalah sebuah akad pembiayaan yang digunakan untuk pengadaan barang melalui penegasan harga beli kepada para pembeli dan kemudian pembeli membayarkannya melalui sistem angsuran dengan harga yang lebih tinggi yang akan dipergunakan sebagai laba. Secara lebih jelasnya skema murabahah adalah skema pembiayaan yang dilakukan baik oleh institusi keuangan maupun sebagai klien. Hal tersebut berdasarkan fatwa Dewan Syariah Nasional dan Regulasi bank Indonesia No. 7/46/PBI/2005 (Peraturan Bank Indonesia No: 7/46/PBI/2005 tentang Akad Penghimpunan dan Penyaluran Dana bagi Bank yang melaksanakan Kegiatan Usaha Berdasarkan Prinsip Syariah). [1] Lihat M.Syafii Antonio, bank syariah suatu pengenalan umum, h.145 [2] Lihat Rachmadi Usman, produk dan akad perbankan syariah di indonesia, h.176 [3] Fatwa DSN-MUI Nomor 13/DSN-MUI/IX/2000 [4] Fatwa DSN-MUI Nomor 04/DSN-MUI/IX/2000 [5] Modifikasi konsep al-murabahat ini merupakan perkembangan pemikiran yang dilakukan oleh ulama. Salah satu rujukan modifikasi konsep tersebut dapat dilihat dalam kitab fikih. Antara lain lihat Fayadh Abd al-Munim Hasanin, bay Al-murabahah, h. 21 [6] Muhammad syafii antonio, Bank Syaiah, h. 152 http://hbs06.wordpress.com/2013/03/03/murabahah/