Anda di halaman 1dari 13

Teori Pasar Modal Portofolio Optimum

Oleh: Andhika Fajar Iskandar 1106305167

Fakultas Ekonomi Universitas Udayana 2013


i

Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Tuhan YME, yang telah senantiasa melimpahkan Rahmat dan Hidayah- NYA sehingga kita semua dalam keadaan sehat walafiat dalam menjalankan aktifitas sehari-hari. Penyusun juga panjatkan kehadiran Tuhan YME, karena hanya dengan keridoan-NYA Laporan Teori Pasar Modal mengenai Portofolio Optimum ini dapat terselesaikan. Penulis menyadari betul sepenuhnya bahwa tanpa bantuan dari berbagai pihak, laporan ini tidak akan terwujud dan masih jauh dari sempurna, oleh karena itu dengan segala kerendahan hati penulis berharap saran dan kritik demi perbaikan-perbaikan lebih lanjut. Akhirnya penulis berharap, semoga laporan ini dapat memberikan manfaat bagi yang membutuhkan.

Tabanan,20 Juni 2013 Penulis

ii

Daftar Isi

Halaman Cover ........................................................................................................................................ i Kata Pengantar ....................................................................................................................................... ii Daftar Isi ................................................................................................................................................ iii BAB I ANALISIS DAMPAK EKONOMI MAKRO GLOBAL TERHADAP PROSPEK EKONOMI NASIONAL DAN SEKTOR USAHA DI BURSA EFEK INDONESIA ................................................................................ 1 BAB II PEMILIHAN DUA SAHAM EMITEN TERBAIK DAN PROSPEKTIF .............................................. 5 BAB III PEMBENTUKAN PORTOFOLIO DUA SAHAM OPTIMUM ........................................................... 6 Asumsi yang Mendasari ...................................................................................................................... 6 Attainable Set dan Effesiensi Set ........................................................................................................ 6 Optimum Set Melalui Gambar ............................................................................................................ 8 Optimum Set by Add-Solver In............................................................................................................ 8 Daftar Referensi .................................................................................................................................. 10

iii

BAB I ANALISIS DAMPAK EKONOMI MAKRO GLOBAL TERHADAP PROSPEK EKONOMI NASIONAL DAN SEKTOR USAHA DI BURSA EFEK INDONESIA

Definisi dari ekonomi makro Indonesia adalah suatu sistem yang mempelajari tentang perubahan ekonomi di indonesia yang membawa pengaruh besar terhadap masyarakat, pasar, dan juga perusahaan. Dengan kata lain ekonomi makro indonesia adalah sistem yang melakukan analisa mengenai segala bentuk perubahaan kondisi ekonomi indonesia untuk mencapai hasil analisa terbaik. Bentuk perubahaan ekonomi yang dimaksud di sini meliputi tentang pertumbuhan ekonomi, tenaga kerja, dan kestabilitasan harga, serta tercapai atau tidaknya kesimbangan neraca yang dilakukan secara berkesinambungan. Namun perlu diketahui juga bahwa karakter ekonomi indonesia ini termasuk dalam kategori Small Open Economy yang berarti bahwa kondisi perekonomian indonesia dipengaruhi tidak hanya karena perekomian di dalam negeri namun juga dipengaruhi oleh perekonomian yang terjadi di negara-negara maju serta beberapa negara yang termasuk negara tujuan ekspor. Itu artinya Indonesia punya tantangan tersendiri untuk berusaha menyeimbangkan pasar keuangan internasional dengan pasar keuangan nasional. Di sini lain ada juga tiga variabel yang ada dalam ekonomi makro Indonesia yang pada kenyataannya memiliki cakupan lebih luas dalam perekonomian Indonesia. Tiga Variabel dalam Ekonomi Makro Indonesia : Nilai Tukar Rupiah Tingkat Suku Bunga Inflasi

Konsumsi privat, pengeluaran pemerintah, impor dan ekspor, serta investasi adalah dipengaruhi oleh ketiga variabel tersebut di dalam permintaan agregat. Semakin membaik atau tidaknya permintaan agregat itu tergantung semakin baik atau tidaknya varibel di atas. Dan supaya perekonomian indonesia dapat berkembang sesuai keinginan masyarakat dan pemerintah maka harus mendapat penanganan yang seimbang. Hal ini dikarenakan selain permintaan agregat ada juga penawaran agregat yang meliputi pasar tenaga kerja dan teknologi atau yang kita kenal dengan IPTEK.

Faktor eksternal yang akan mempengaruhi ekonomi makro Indonesia yaitu : Harga minyak mentah internasional relatif stabil Perekonomian global diperkirakan akan tumbuh pada level yang moderat Proses pemulihan terhadap perekonomian global.

Faktor internal yang akan mempengaruhi ekonomi makro Indonesia yaitu : Hutang terhadap PBB yang terus mengalami penurunan. Optimalisasi terhadap anggaran belanja negara. Meningkatkan kualitas pembangunan infrastruktur. Fiscal Sustainability tetap terdukung dengan terkendalinya konsolidasi fiskal. Terkendalinya penerapan target inflasi.

Sektor properti dan perbankan merupakan salah satu lokomotif pendorong pertumbuhan nasional, sehingga pemerintah layak menyatakan terimakasih terhadap seluruh stakeholder di kedua sektor tersebut karena telah ikut berperan dalam memajukan ekonomi Indonesia. Pemerintah siap dan terus berupaya memberi stimulus untuk kemajuan sektor properti dan perbankan termasuk memberikan insentif perizinan dan pajak. Beberapa kalangan meyakini pasar properti di tahun 2012 ini dapat tumbuh sekitar 1015%. Walau pertumbuhan itu diakui tidak secepat dan setinggi tahun 2011, namun pertumbuhan tersebut memberikan dampak positif terhadap industri properti. Pasar properti tahun 2012 lebih banyak dipengaruhi dari kebutuhan dari dalam negeri, baik untuk hunian dan komersial. Di lain pihak krisis Eropa dan Amerika membawa berkah, dimana fokus investor asing kini tertuju ke Asia Tenggara, dan salah satunya ke Indonesia akan memberi kontribusi positif terhadap pasar properti Indonesia. Hal ini didasarkan pada kestabilan suku bunga kredit selama Semester Pertama tahun 2012. Pertumbuhan sektor properti ini akan memperkuat perekonomian secara keseluruhan. Potensi pasar properti di dalam negeri sendiri masih sangat besar dengan terjadi backlog (kekurangan) terutama di sub sektor residensial yang diperkirakan mencapai 13,6 juta unit. Ada banyak faktor yang menyebabkan sektor properti di Indonesia seperti suku bunga, kondisi infrastruktur, dan gaya hidup. Diperlukan dukungan dari semua pihak untuk menjaga perkembangan ini. Kebutuhan akan papan merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Pada akhir 2007, kebutuhan perumahan di Indonesia sekitar 9 juta unit dan diperkirakan terus bertambah sekitar 11 juta unit pada akhir 2010. Dengan asumsi jumlah keluarga di Indonesia mencapai 55,9 juta (pada akhir 2006), maka kebutuhan itu adalah sebesar 16 persen dari total jumlah

keluarga. Angka itu terlihat besar karena keterbatasan daya beli rumah rakyat Indonesia. Daya beli itu mengalami penurunan, terutama pada periode inflasi tinggi, yang diikuti kenaikan suku bunga. Ini dapat dilihat pada 2005- 2006 di mana tingginya suku bunga menyebabkan turunnya daya beli masyarakat, seperti tercermin pada penyaluran kredit perumahan yang hanya tumbuh 24,4 persen pada periode tersebut. Namun, ada satu fenomena yang patut dicermati, yaitu permintaan akan perumahan tetap tumbuhmeskipun dalam tingkat yang menurunpada saat- saat pelik seperti itu. Hal ini semakin menguatkan opini di masyarakat bahwa terdapat kebutuhan perumahan nasional yang tinggi dan menumpuk (backlog) sehingga animo pembelian papan, yang seharusnya peka, menjadi kurang peka terhadap pergerakan suku bunga. Meskipun inflasi pada saat ini cenderung tinggi, tetapi jika dibandingkan dengan kondisi dua tahun yang lalu, inflasi pada saat ini sudah mengalami penurunan. Kondisi ini mendorong sektor perumahan untuk bergerak maju. Ada dua jenis permintaan perumahan (tergantung dari gaya hidup si pembeli), yaitu untuk rumah dan apartemen. Rumah tinggal masih merupakan sesuatu yang umum untuk masyarakat Indonesia, tidak terkecuali Jakarta. Tingkat perekonomian Jakarta yang tinggi merupakan daya tarik bagi para pendatang. Permintaan perumahan pun melebihi jumlah suplai tanah yang terbatas sehingga harga tanah di dalam kota pun naik. Hasilnya, calon pembeli mulai melirik daerah di pinggiran Jakarta seperti Tangerang, Bogor, Depok, dan Bekasi. Daerah-daerah ini umumnya menarik karena harga rumah yang ditawarkan cukup murah. Para pengembang membeli tanah sekian tahun yang lalu, bahkan ada yang sebelum krisis. Dengan demikian, tanah dibeli dengan harga yang cukup murah sehingga dengan harga jual yang rendah pun masih menghasilkan laba yang memuaskan. Harga tanah yang murah juga memungkinkan para pengembang untuk membeli dalam jumlah yang cukup besar. Lahan perumahan yang luas selain memberikan keleluasaan bagi para pengembang dalam menentukan ukuran bangunan juga memungkinkan mereka untuk menyediakan berbagai macam fasilitas penunjang untuk para penghuni. Kelengkapan fasilitas ini merupakan salah satu faktor penentu bagi calon pembeli. Ini disebabkan letak mereka yang jauh dari tengah kota. Selain itu, faktor yang paling menentukan bagi para pembeli adalah lokasi. Faktor lokasi tidak saja meliputi kedekatan jarak antara perumahan dan Kota Jakarta, tetapi juga dalam hal akses yang tersedia. Dengan demikian, daerah-daerah yang mempunyai akses dan infrastruktur yang baik mempunyai daya tarik yang tinggi. Ini terlihat dari peningkatan harga tanah yang pesat di daerah-daerah di mana dilakukan pembukaan akses atau sarana infrastruktur baru, seperti akses langsung ke daerah perumahan dari jalan tol atau ruas jalan

tol baru. Daerah-daerah perumahan di pinggiran Jakarta pun berkembang. Saat ini terdapat sekitar 700.000 keluarga yang bertempat tinggal di daerah tersebut. Jalanan menjadi lebih sesak di hari kerja karena pertumbuhan lalu lintas tidak diiringi dengan pertumbuhan infrastruktur yang memadai. Berdasarkan data dari 2001- 2005, jumlah lalu lintas rata-rata bertumbuh 22,5 persen per tahun, sementara panjang jalan hanya rata-rata bertumbuh 1,1 persen per tahun. Lemahnya infrastruktur Jakarta telah berusaha ditanggulangi oleh Pemerintah Provinsi DKI dengan tujuan menciptakan sistem transportasi yang terintegrasi pada 2015. Namun, kemajuan proyek ini sangat lamban sehingga kemacetan pun tak dapat terhindari. Dengan demikian, terbentuklah kelompok masyarakat yang lebih mementingkan kedekatan dengan pusat kota dan ingin meminimasi waktu tempuh dalam kemacetan setiap hari. Mereka bersedia untuk tinggal di dalam kota sehingga mendorong pertumbuhan permintaan apartemen karena harga rumah tinggal sudah terlalu mahal. Penawaran kredit perumahan yang memanfaatkan momentum suku bunga yang rendah juga menjadi faktor pendorong. Selain itu, bank-bank berlomba-lomba menawarkan kemudahan bagi para pembeli rumah, seperti tenor kredit yang lebih panjang dan suku bunga tetap untuk beberapa tahun pertama. Rendahnya tingkat suku bunga kredit mendorong pertumbuhan kredit. Kredit properti tetap tumbuh signifikan di tengah perlambatan ekonomi. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), Kredit Pemilikan Rumah (KPR) tipe di atas 70 meter persegi pertumbuhannya meningkat dari 39,8 persen di bulan Maret menjadi 45,1 persen di bulan April. Sementara Kredit Pemilikan Apartemen (KPA) untuk flat tipe 22 sampai 70 meter persegi pertumbuhannya naik dari 79,6 persen di bulan Maret menjadi 83,8 persen di bulan April. Pertumbuhan kredit untuk flat di atas 70 meter persegi naik dari 70,4 persen di bulan Maret menjadi 71,4 persen di bulan April.

BAB II PEMILIHAN DUA SAHAM EMITEN TERBAIK DAN PROSPEKTIF Berdasarkan pembahasan sebelumnya, saya telah memilih dua sektor yang saat ini terbaik di Indonesia, yaitu sektor properti dan sektor finance. Setelah menentukan dua sektor yang terbaik, langkah selanjutnya adalah memilih 2 emiten terbaik dari 2 sektor yang sudah saya tentukan sebelumnya. Disini 2 emiten yang saya pilih adalah PT. Alam Sutera Realty Tbk. Dari sektor Properti dan PT. Lippo General Isurance Tbk. Dari sektor Finance. Disini yang menjadi pertimbangan saya memilih 2 emiten tersebut adalah: Besarnya kepemilikan publik terhadap perusahaan, Banyaknya jumlah komite audit di dalam perusahaan, Laba per Lembar Saham (EPS), PER, PBV

Berdasarkan pertimbangan tersebut, saya dapatkan untuk masing-masing emiten sebagai berikut: PT. Alam Sutera Realty Tbk. Besarnya kepemilikan publik terhadap perusahaan Banyaknya jumlah komite audit di dalam perusahaan Laba per Lembar Saham (EPS) PER PBV : 44,39% : 3 Orang : Rp. 61,89 : 18.26 : 4.38

PT. Lippo General Isurance Tbk. Besarnya kepemilikan publik terhadap perusahaan Banyaknya jumlah komite audit di dalam perusahaan Laba per Lembar Saham (EPS) PER PBV : 58,87% : 3 Orang : Rp. 2,223.78 : 0,89 : 0,47

BAB III PEMBENTUKAN PORTOFOLIO DUA SAHAM OPTIMUM 1. Asumsi yang Mendasari Asumsi yang mendasari pembentukan portofolio dua saham yang optimum adalah: Karakteristik Saham dimana kita sebagai calon investor melakukan pengamatan terhadap laporan keuangan emiten yang menjadi pilihan Saya adalah seorang mahasiswa Fakultas Ekonomi sebuah PTN di Indonesia. Disini saya berasumsi saya adalah seorang calon investor yang menyukai resiko. Saya melakukan investasi untuk bertujuan mencari keuntungan, dimana nantinya keuntungan saya itu nantinya akan saya gunakan untuk tabungan dimasa yang akan datang. Besarnya modal awal yang saya miliki adalah sebesar Rp. 5.000.000 yang berasal dari tabungan saya selama satu tahun. Menghitung kovarian berdasarkan Attainable Set dan Efesiensi Set yang telah dihitung dengan bantuan program Ms. Excel.

2. Attainable dan Efficient Set Langkah awal yang diperlukan untuk menggambarkan attainable dan efficient set adalah menghitung varian dari masing masing emiten sebagai berikut ini:
Tahun 2012 2011 2010 ASRI -0.81% 0.04% 0.77% LPGI -6.10% 9.51% 10.78%

0.049403% 0.003476% 0.083356% 0.0013624 0.00045412 0.0016914 0.27

Risiko Kovarian

ASRI 6.3%

GMTD 2.7%

Disini untuk menggambarkan attainable set diperlukan perhitungan Risiko dan Return ekspektasian dengan menggunakan bantuan program Ms. Excel seperti berikut ini

WASRI 0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9 1

WLPGI 1 0.9 0.8 0.7 0.6 0.5 0.4 0.3 0.2 0.1 0

Risk 0.0045 0.0037 0.0029 0.0022 0.0016 0.0011 0.0007 0.0004 0.0002 0.0001 0.0001

E( R) p 0.106 0.0984 0.0908 0.0832 0.0756 0.068 0.0604 0.0528 0.0452 0.0376 0.03

Setelah melakukan langkah perhitungan seperti diatas, bisa kita mendapatkan grafik dengan bentuk sebagai berikut:

E( R) p
0.12 0.1 0.08 0.06 0.04 0.02 0 00,000

00,000

00,000

00,000

00,000

00,000 E( R) p

00,000

00,000

00,000

00,000

00,000

3. Optimum Set melalui Gambar

E( R) p
0.12 0.1 0.08 0.06 0.04 0.02 0 00,000

00,000

00,000 E( R) p

00,000

00,000

00,000

Disini saya adalah seorang calon investor yang menyukai resiko. Disini saya memilih kombinasi 20% saham ASRI dan 80% saham LPGI. Dimana hal ini menurut saya adalah kombinasi terbaik yang mungkin akan saya dapatkan dari portofolio saham saya. 4. Optimum Set by Solver-Add In
Input Risk-Free Rate Saham ASRI Saham LPGI Return 5.5% 3.1% 10.6% Std Dev 0.0% 6.3% 16.4%

Outputs Total Perolehan Dua Saham Proporsi Saham ASRI Proporsi Saham LPGI Risiko Portofolio Optimal Return Portofolio Optimal Sharpe Ratio

Nilai 100% 20% 80% 0.0181 0.09 1.98189

Korelasi Saham ASRI dan Saham LPGI

0.27

Dari data diatas dapat kita mengetahui proporsi saham yang harus saya miliki untuk membuat portofolio saya bagus adalah 20% untuk saham PT. Alam Sutera Realty Tbk. (ASRI) dan 80% untuk saham PT. Lippo General Isurance Tbk. (LPGI). Selain itu juga dapat kita ketahui korelasi antar dua saham tersebut adalah 0.27 dengan risk free rate 5.5. Dengan demikian jumlah lot yang harus saya beli dengan jumlah modal awal sebesar Rp. 5.000.000 adalah sebagai berikut ini:
Saham ASRI Saham LPGI Proporsi 20% 80% Harga Per Lembar (Rp) 800 3000 Jumlah Lot yang Dibeli 3 3 Nilai Rp 1,000,000 Rp 4,000,000

Dari data diatas dapat kita mengetahui jumlah yang saya perlukan untuk memenuhi portofolio yang saya miliki agar optimum adalah 3 Lot saham PT. Alam Sutera Realty Tbk. (ASRI) seharga Rp. 1.000.000 dan 3 Lot saham PT. Lippo General Isurance Tbk. (LPGI) seharga Rp. 4.000.000.

Daftar Referensi Hartono, Prof. Dr Jogiyanto, M.B.A., Ak.Teori Portofolio dan Analisis Investasi.2010. Yogyakarta: BPFE. Cuplikan Draft Buku Investasi Saham PUTU AGUS ARDIANA www.kompas.com www.finance.yahoo.com www.detik.com id.wikipedia.org

10