Anda di halaman 1dari 22

Pondasi Sarang Laba-Laba

Kondisi tanah yang memiliki daya dukung rendah atau kurang baik memerlukan perhatian lebih dalam hal konstruksinya, baik berupa bagunan gedung, bandara dan lain-lain. Baru-baru ini telah ditemukan suatu konstruksi yang masuk dalam katagori pondasi dangkal, konstruksi ini diyakini dan telah dibuktikan mampu bertahan pada kondisi tanah dengan daya dukung rendah dan ini adalah temuan anak negeri kita. Seperti apa konstruksi itu? Apa saja keuntungannya? Konstruksi yang diberi nama konstruksi sarang laba-laba (KSLL) ini ditemukan pada tahun 1976 oleh Ir. Ryantori dan Ir. Sutjipto dan didalam pengembangan, pemasaran dan pelaksanaannya dipegang oleh PT. KATAMA SURYABUMI yang telah mematenkannya pada Departemen Hukum dan Ham RI/ HAKI dengan sertifikat paten No.ID. 0 018808. KSSL yang merupakan karya putra bangsa memiliki teknologi pembangunan yang dirancang terdiri dari plat tipis yang diperkaku dengan rib-rib tipis dan tinggi yang saling berhubungan membentuk segitiga-segitiga yang diisi dengan perbaikan tanah sehingga menjadi satu kesatuan komposit konstruksi beton bertulang dan tanah yang kokoh atau kuat, kaku dan mampu menyebarkan semua gaya secara merata ke tanah pemikul serta mampu menerima gaya lateral akibat gempa. Pondasi ini memiliki kelebihan jika dibandingkan dengan pondasi konvensional yang lain diantaranya yaitu KSSL memiliki kekuatan lebih baik dengan penggunaan bahan bangunan yang hemat dibandingkan dengan pondasi rakit (full plate) lainnya, mampu memperkecil penurunan bangunan karena dapat membagi rata kekuatan pada seluruh pondasi dan mampu membuat tanah menjadi bagian dari struktur pondasi, berpotensi digunakan sebagai pondasi untuk tanah lunak dengan mempertimbangkan penurunan yang mungkin terjadi dan tanah dengan sifat kembang susut yang tinggi, menggunakan lebih sedikit alat-alat berat dan bersifat padat karya, waktu pelaksanaan yang relatif cepat dan dapat dilaksanakan secara industri (pracetak), lebih ekonomis karena terdiri dari 80% tanah dan 20% beton bertulang dan yang

paling penting adalah ramah lingkungan karena dalam pelaksanaan hanya menggunakan sedikit menggunakan kayu dan tidak menimbulkan kerusakan bangunan serta tidak menimbulkan kebisingan disekitarnya. Selain digunakan sebagai pondasi bangunan bertingkat tanggung (12 lantai), KSSL juga telah diaplikasikan untuk pembangunan infrastruktur seperti bandara khususnya untuk konstruksi Runway, Taxiway dan Apron, seperti yang saat ini sedang dikerjakan di bandara Juwata dan pembangunan Apron untuk pangkalan TNI AU di Tarakan, Kalimantan Timur. Penghargaan sebagai Pemenang Lomba Karya Konstruksi Tahun 2007 untuk Kategori Teknologi Konstruksi yang diselenggarakan oleh Departemen Pekerjaan Umum tahun lalu akan lebih memiliki arti lagi bila adanya kesadaran dari pihak praktisi bisnis di bidang konstruksi Indonesia untuk mengaplikasikannya sebagai wujud kebanggaan akan karya cipta Bangsa Indonesia dan juga berusaha untuk mensosialisasikannya di tingkat international untuk menjadikan Pondasi KSSL sebagai Prestasi Dunia Dari Indonesia, akan tetapi untuk mewujudkan itu semua memerlukan dukungan dari berbagai pihak khususnya dalam hal ini pemerintah.
http://ilustri.org/index.php?option=com_content&view=article&id=90:pondasisarang-laba-laba&catid=37:know-how&Itemid=2

Arsitektur dan Sarang Laba-laba


10 02 2009

Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?. Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk (QS. Al-Baqarah [2]:26) Seperti halnya nyamuk dan lalat , laba-laba seringkali dianggap sebagai makhluk yang tidak penting dan merugikan. Namun, di dalam ayat di atas Allah menyatakan bahwa Ia tiada segan membuat perumpamaan dengan binatang-binatang yang kita anggap remeh ini, karena bagi orang-orang beriman, mereka meyakini bahwa kebenaran adalah dari Allah SWT. Sebesar atau sekecil apapun kebenaran itu, tetaplah akan mengantarkan manusia kepada kesadaran akan kesempurnaan ciptaan Allah SWT. Di balik makhluk-makhluk kecil itu, terdapat pelajaran dan hikmah yang besar bagi manusia, agar menyadari dan menjalankan tujuan penciptaannya di muka bumi ini, yaitu sebagai khalifah sekaligus sebagai hamba Allah SWT. Dalam pembahasan mengenai sarang laba-laba ini, akan dijelaskan mengenai struktur jaring laba-laba, keunggulan desainnya dan penerapannya dalam dunia arsitektur saat ini. Pembahasan ini diharapkan dapat mengantarkan kita kepada pemahaman yang lebih dalam mengenai kesempurnaan arsitektur di alam semesta. Allah SWT menciptakan alam semesta dan segala isinya, tidak lain adalah sebagai petunjuk dan pelajaran bagi manusia yang berpikir. dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Laba-laba merupakan salah satu binatang yang diberi kemampuan oleh Allah SWT untuk membangun sarangnya dengan potensi yang ada di dalam tubuhnya sendiri. Tubuh laba-laba menghasilkan benang sutera dengan diameter kurang dari seperseribu milimeter. Dalam bukunya Keajaiban pada Laba-laba, Harun Yahya menginformasikan bahwa benang sutera ini memiliki kekuatan lima kali lebih besar daripada sehelai kabel baja dengan diameter yang sama. Selain itu, benang ini juga memiliki fleksibilitas yang sangat tinggi, yaitu dapat menahan regangan sampai empat kali panjang awalnya. Elastisitas yang demikian besar ini berguna untuk menahan mangsanya secara perlahan, sehingga terhindar dari bahaya putusnya jaring. Keistimewaan lainnya, dengan panjang sekitar 40.000 km (setara dengan panjang keliling bumi), sehelai benang sutera ini bahkan hanya memiliki berat sebesar 320 gram.

Dari uraian di atas, terdapat tiga sifat utama yang dimiliki oleh sebuah jaring laba-laba, yaitu kuat, elastis dan ringan. Dari berbagai penelitian yang memakan waktu cukup lama, akhirnya para ahli menyimpulkan bahwa cara pembuatan jaring laba-laba memiliki tingkat kemiripan yang sangat tinggi dengan proses pembuatan serat-serat industri. Lebah mengeraskan benang-benang sutera yang dimilikinya dengan cara mengasamkannya. Serangkaian panjang proses terjadi di dalam tubuh laba-laba, melibatkan berbagai bahan baku dengan sifat yang beragam. Tubuh laba-laba itu sendiri adalah sebuah pabrik yang memproduksi berbagai jenis jaring, sesuai dengan kebutuhan. Di dasar perut laba-laba ditemukan kelenjarkelenjar sutera yang menghasilkan unsur yang berbeda. Kombinasi unsur-unsur ini pada akhirnya menghasilkan benang-benang sutera yang beragam pula. Selain itu, tubuh laba-laba dilengkapi pula dengan berbagai pompa dan sistem tekanan yang canggih. Dengan segala potensi yang terdapat di dalam tubuhnya itulah, laba-laba memproduksi bahan baku keratin menjadi serat yang dikeluarkan melalui cerat-cerat pemintal yang berfungsi sebagai keran. Tekanan semprotan benang dapat diatur dengan keran ini. Dengan cara inilah diameter, daya tahan dan elastisitas benang ditentukan. Jadi, karakteristik benang ditentukan oleh kecepatan dan tekanan saat dikeluarkan, tanpa mengubah susunan kimiawinya. Setidaknya terdapat tujuh macam benang sutera untuk keperluan yang berbeda-beda, yaitu sutera untuk membentuk jaring dan bingkai, sutera lengket untuk menangkap mangsa, sutera pelekat yang melapisi sutera spiral, serat tambahan untuk memperkuat bingkai, sutera kepompong, sutera pembungkus mangsa, dan sutera pelekat rangka ke struktur pondasi. Berbagai jenis benang yang dihasilkan ini menunjukkan tingkat kecanggihan dan kesempurnaan yang sangat tinggi pada arsitektur sarang laba-laba. Allah SWT yang Maha Mengetahui telah melengkapi laba-laba dengan segala potensi yang sangat sesuai dengan fungsi-fungsi yang dibutuhkannya. Dalam dunia arsitektur, segala sesuatu yang dirancang sesuai dengan fungsinya, akan terhindar dari kesia-siaan dan kemubaziran. Inilah keindahan yang sesungguhnya, keindahan yang menyatu dengan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan.

Dari segi struktural, jaring laba-laba terdiri dari serangkaian benang-benang bingkai penahan beban, benang-benang spiral penangkap dan benang-benang pengikat yang menyatukan semuanya. Untuk menangkap mangsa dan memerangkapnya, selain memiliki benang-benang spiral yang berlapiskan zat perekat, sarang laba-laba juga dilengkapi dengan tingkat elastisitas yang optimal. Elastisitas yang terlalu tinggi akan mengakibatkan jaring kehilangan bentuk ketika benang-benang menempel karena mangsa yang meronta, sedangkan elastisitas yang terlalu rendah mengakibatkan mangsa yang terbang dan menubruk jaring terpental balik. Selain itu, elastisitas jaring laba-laba juga disesuaikan dengan kecepatan angin dan gerakan-gerakan benda yang dijadikan tempat melengketkan jaring. Jaring laba-laba merupakan satu kesatuan sistem struktur yang masing-masing bagiannya saling mempengaruhi. Benang-benang pembentuk jaring merupakan benang-benang yang meregang, dan gaya yang bekerja pada struktur adalah gaya tarik. Pada keadaan normal, benangbenang yang teregang biasanya putus karena retakan yang terjadi pada permukaan akan membelah benang dengan cepat. Gaya-gaya yang bekerja di sepanjang serat terpusat pada retakan dan mengakibatkan sobekan ke dalam semakin cepat. Hal yang menarik, adalah pada sarang laba-laba, komposisi bahan yang terdiri dari rantai asam amino dan kristal mencegah peristiwa ini. Kristal-kristal yang tersusun secara teratur dalam benang menyebabkan sobekansobekan yang terjadi berbelok-belok dan melemah. Selain itu, laba-laba juga melumuri sebagian jaring yang digunakan menangkap mangsanya dengan cairan khusus. Cara ini kemudian digunakan pula pada kabel-kabel industri yang menahan beban berat, seperti pada jembatan layang dan high-rise building. Dalam dunia arsitektur, prinsip ini diterapkan dalam bangunan-bangunan yang menggunakan struktur kabel dan tenda. Kelemahan dari struktur yang hanya menahan gaya tarik ini, adalah kurang mampu menahan gaya tekan, terutama gaya tekan yang datang tiba-tiba dan melebihi ambang batas kekuatan bangunan. Karena itu, pada sebagian besar bangunan konvensional, penggunaan baja yang memiliki kekuatan dalam menahan gaya tarik dikombinasikan dengan penggunaan beton yang memiliki kekuatan menahan gaya tekan. Jaring laba-laba yang sangat kuat menahan gaya tarik itu , dapat dengan mudah rusak apabila mengalami tekanan yang besar atau tiba-tiba. Gangguan-gangguan binatang yang membuatnya tercerabut dari pondasinya membuat jaring kehilangan kemampuannya menahan regangan. Sebagai sebuah struktur, kerusakan pada salah satu bagian sarang laba-laba, misalnya putusnya salah satu benang, mengakibatkan bagian lainnya melemah dan berangsur-angsur putus pula. Hal ini dikarenakan, kemampuan menahan gaya tarik yang jauh berkurang pada keseluruhan struktur. Kelemahan lainnya adalah, bagian spiral untuk menangkap mangsa dapat dengan mudah rusak karena hujan, debu atau gerakan mangsa yang terperangkap. Karena itu, jaring laba-laba memerlukan pengurusan terus-menerus. Dalam waktu singkat, sebuah jaring laba-laba dapat

kehilangan kemampuan untuk menangkap mangsanya. Jaring itu harus dibongkar dan dibangun kembali secara berkala. Cara yang digunakan oleh laba-laba, adalah dengan memakan dan mencerna kembali benang yang dibongkar, kemudian menggunakannya kembali setelah melalui proses pencernaan. Hal ini berlangsung dalam jangka waktu sekitar 24 jam. Sebagian laba-laba memakan jaringnya pada malam hari dan membangunnya kembali pada pagi hari, sebagian lagi membangun jaringnya pada malam hari dan telah memakannya kembali pagi harinya. Karena itulah, Al-Quran mengumpamakan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah SWT seperti laba-laba yang membangun rumahnya dan mengharapkan perlindungan di dalamnya, padahal sebenarnya merekalah yang terus-menerus melindungi rumah itu dari kerusakan. Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui. (QS. Al-Ankabuut [29]:41) Dalam Tafsir Al-Mishbah, M. Quraish Shihab memaparkan penjelasan Mustafa Mahmud, bahwa ayat di atas tidak menyatakan sesungguhnya serapuh-rapuh benang adalah benang labalaba, namun menyatakan rumah laba-laba sebagai rumah yang rapuh. Hal ini menunjukkan, bahwa yang dimaksudkan pada ayat di atas, adalah sarang laba-laba sebagai suatu kesatuan struktur. Seperti telah dijelaskan di atas, kerusakan pada salah satu bagian sarang laba-laba, mengakibatkan bagian lainnya melemah dan berangsur-angsur putus pula. Maha Suci Allah yang menciptakan kekuatan di balik kerapuhan dan menyembunyikan kerapuhan di balik kekuatan makhlukNya. Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu.. (QS. Al-Hijr [15]:21) Laba-laba dan Struktur Kabel

Salah satu pelajaran bagi dunia arsitektur yang dapat diperoleh dari laba-laba, ialah penerapan struktur kabel dalam bangunan-bangunan berbentang lebar. Selain itu, teknik covering sarang laba-laba juga digunakan untuk menutupi bangunan-bangunan dengan area tertutup yang luas. Laba-laba menutupi area yang cukup luas dengan jaringnya yang ringan dan mendistribusikan beban strukturnya secara merata ke seluruh

pondasi yang melekat pada benda lain. Dengan cara ini, area yang luas dapat ditutupi dengan sempurna, tanpa mengakibatkan bangunan terbebani oleh berat struktur (beban mati) yang besar, seperti jika bangunan dibangun dengan konstruksi konvensional. Metode-metode ini digunakan, selain karena kemampuannya untuk menutupi bangunanbangunan dengan skala yang besar, juga karena tingkat efektivitas yang cukup tinggi dari segi ekonomi bangunan. Lebih jauh, penerapan struktur kabel dapat menghasilkan desain dengan bentuk-bentuk lebih dinamis, fleksibel dan organik, serta menghasilkan bentuk-bentuk kurva yang menambah nilai estetika bangunan. Contoh penerapan struktur ini dalam bangunan, di antaranya adalah bandar udara Jeddah dan Stadion Olimpiade Munich.

Pada Akhirnya Dari paparan panjang di atas , dapat diraih sebuah pelajaran berharga bahwa kemajuan teknologi arsitektur yang telah berkembang pesat saat ini ternyata tidak terlepas dari karya-karya arsitektur di alam semesta sebagai sumber inspirasinya. Namun tentu tak sampai di situ saja pelajaran yang kita peroleh. Pelajaran yang hakiki sebenarnya akan kita dapatkan jika kita mampu meraih hikmah terbaik di balik segala ciptaan untuk mengarahkan kita kepada Allah swt yang Maha Menciptakan. Di alam, kita selalu dapat belajar bagaimana nilai-nilai kebenaran, kebaikan dan keindahan menyatu di dalam setiap ciptaanNya. Tidakkah hal ini cukup sebagai pelajaran terbaik bagi kita?
http://yuliaonarchitecture.wordpress.com/2009/02/10/arsitektur-dan-sarang-labalaba/

Scott Wilson Uji Konstruksi Sarang Laba-Laba


Selasa, 21 Juni 2011 14:50 WIB | Seputar Banten | Dibaca 284 kali

Oleh: Ganet

Tenaga Ahli Scott Wilson tengah melakukan pengarahan terkait dengan uji kekuatan apron dan taxiway yang menggunakan konstruksi sarang laba-laba di Bandara Udara Internasional Juata Tarakan Kalimantan Timur. (Foto: Ganet/ ANTARA)

Jakarta (ANTARA News) - Scott Wilson Sdn Bhd, perusahaan publik yang bergerak dibidang teknik dan konstruksi tengah melakukan serangkaian pengujian terhadap konstruksi sarang labalaba di Bandara Udara Internasional Juwata Tarakan Kalimantan Timur untuk menetapkan pavement clasification number (PCN). "PCN ini untuk menentukan jenis pesawat apa saja yang dapat mempergunakan konstruksi ini nantinya," kata anggota tim penguji, Harmein Rahman kepada wartawan, Selasa, saat ditanyakan mengenai tujuan pengujian terhadap konstruksi sarang laba-laba di Bandara Udara Juwata Tarakan. Bandara Juwata Tarakan sendiri mempergunakan konstruksi sarang laba-laba untuk bagian taxiway (tempat keluar dan masuk pesawat) dan apron (tempat parkir pesawat). Bandara tersebut saat ini telah melayani pendaratan pesawat Boing milik Lion dan Sriwijaya. Hasil uji PCN nantinya akan menjadi pedoman bagi maskapai penerbangan untuk menentukan jenis pesawat yang dapat mendarat di Bandara Udara Juwata Tarakan. Besaran PCN nantinya harus lebih besar dari aircraft clasification number (ACN) yang dimiliki maksapai penerbangan, jelas Harmein yang juga pengajar ITB. Menurutnya, uji PCN untuk mengetahui kekuatan konstruksi dalam menahan beban (pesawat) dengan cara dihantam dengan beban dengan kekuatan tertentu untuk kemudian direkam menggunakan peralatan yang dinamakan geophone yang terhubung dengan peralatan komputer. Harmein mengatakan, uji terhadap konstruksi sarang laba-laba yang termasuk konstruksi beton untuk mengetahui tingkat fleksibilitas, sehingga kalau terkena beban seberapa jauh dia kembali

kepada posisi semula. Harmein mengatakan, dilibatkannya Scott Wilson dalam pengujian di Bandara Juwata Tarakan karena merupakan perusahaan yang independen dan profesional, uji semacam ini juga tengah dilakukan di Bandara Udara Kualanamu Medan Sumatra Utara. Uji kekuatan untuk konstruksi beton dilakukan melalui dua cara yakni melalui falling weight deflectometer (FWD) yakni beban yang dijatuhkan, serta melalui heavy weight deflectometer (HWD) melalui uji beban statis. Konstruksi Sarang Laba-Laba sendiri telah lolos untuk uji HWD beberapa waktu lalu, jelas Harmein. Menurut dia, secara logika struktur konstruksi sarang-laba yang merupakan karya anak bangsa merupakan konstruksi yang sangat kuat. "Rangkaian segitiga yang disusun menyerupai sarang laba-laba merupakan konstruksi yang sangat kuat, segitiga sendiri dalam dunia konstruksi merupakan bentuk yang diklaim kokoh dibandingkan bentuk lainnya," jelas dia. Harmein mengatakan, melalui uji PCN akan diketahui tugas dari masing-masing lapisan dalam menahan beban. Mengenai aplikasi konstruksi sarang laba-laba untuk bandara udara lainnya, Harmein mengatakan, dengan hasil ini diharapkan dapat memberikan kepercayaan kepada pemberi kerja terhadap kekuatan konstruksi ini, meskipun untuk membutuhkan waktu agar dapat dipakai kepada semua kalangan. Harmein mengatakan, konstruksi beton memiliki keunggulan lebih kuat terhadap air, namun untuk dipakai sebagai runway (landasan pesawat) ada sejumlah pertimbangan sejumlah pengelola Bandara yakni usia landing gear pesawat lebih singkat ketimbang yang menggunakan aspal. "Namun disejumlah negara seperti Amerika Serikat mereka lebih suka menggunakan beton sebagai landasan, berbeda dengan Eropa yang lebih memilih perkerasan aspal. Pilihan ini tergantung kepada keputusan masing-masing pengelola," kata Harmein. Sementara itu, tenaga ahli dari Scott Wilson, Farukh E Johri mengatakan, cara kerja geophone ini sama dengan seismograf hanya saja hasil yang didapat lebih rinci. Farukh mengatakan, perusahaannya selama ini menjadi mitra kerja Boeing untuk melakukan pemeriksaan runway, taxiway, dan apron di sejumlah Bandara Udara. Dia mengatakan, untuk Bandara Udara Internasional Tarakan beban tumbuk yang diberikan sebesar 500 kilogram pada bidang berdiameter 45 centi meter. Farukh sendiri mengatakan, dirinya telah memeriksa sejumlah bandara udara internasional seperti Changi Singapura, Swarabhumi Bangkok, Hongkong, Brunei, Kuala Lumpur, dan sebagainya untuk memastikan sesuai dengan standar organisasi penerbangan sipil internasional (international civil aviation organization/ ICAO).

Farukh mengatakan, perusahaan juga telah diminta pemerintah Singapura untuk memeriksa bandara udara yang layak didarati pesawat berbadan lebar Boeing 747 - 800 di Indonesia apabila terjadi kondisi darurat, hasil rekomendasinya Halim Perdanakusuma Jakarta dan Juanda Surabaya merupakan pilihan. Dia mengatakan, sangat takjub dengan kemampuan bangsa Indonesia menciptakan konstruksi sarang laba-laba yang berdasarkan pengamatannya memiliki kekuatan yang tidak kalah dengan teknologi beton lainnya. Bahkan selama pemeriksaan dia sempat bertanya-tanya kepada tenaga ahli PT Katama Suryabumi perusahaan pemilik lisensi konstruksi sarang laba-laba karena tidak menemukan sambungan sama sekali, serta tidak percaya bahwa tebal beton itu hanya 17 centimeter. "Saya takjub kalau tebal beton itu hanya 17 centimeter," ujar dia terheran-heran. Sarang Laba-Laba merupakan konstruksi beton berbentuk segitiga dalam satu rangkaian yang ditengah segitiga tersebut diisi dengan tanah yang dipadatkan, setelah itu baru dilapis beton. Pondasi Ramah Gempa KSLL merupakan teknologi inovasi karya anak bangsa, yang berhasil menyabet serangkaian penghargaan nasional, diantaranya penghargaan upakarti rintisan teknologi industri 2009 yang diserahkan langsung Presiden RI, penghargaan apresiasi produk asli Indonesia, penghargaan ristek 2008, penghargaan Indocement 2008, dan penghargaan konstruksi Indonesia 2007.
http://banten.antaranews.com/berita/15896/scott-wilson-uji-konstruksi-sarang-labalaba

Belajar Arsitektur dari Sarang Semut


24 06 2009

Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan). Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari; maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh. (QS. An-Naml [27]:17-19)

Salah satu makhluk mungil yang memberikan berjuta pelajaran, adalah makhluk yang sehari-hari sangat sering berinteraksi dengan kita. Karena mungilnya, semut barangkali merupakan makhluk yang paling sering diremehkan oleh manusia. Dijelaskan pada ayat di atas, perkataan seekor semut yang takut terinjak, karena manusia seringkali tidak menyadari keberadaan mereka. Hal yang menakjubkan, adalah bahwa semut-semut itu seolah-olah telah memahami dan tidak menyalahkan Nabi Sulaiman as. dan pasukannya, apabila mereka tanpa sengaja menginjak sarang, bahkan tubuh semut itu sendiri. Suatu kearifan besar yang dapat dipelajari dari makhluk yang kecil ini. Karenanya, pada pembahasan mengenai arsitektur sarang semut ini, kita akan menggali sebagian kecil dari keajaiban dan pelajaran yang sejak lama telah ditujukan kepada manusia, agar terhindar dari kesombongan diri, yang sebagian disebabkan oleh ketidaktahuan akan kebesaran Allah swt. Dalam Tafsir Al-Mishbah, M. Quraish Shihab menjelaskan, bahwa dari ayat di atas dapat dipahami bahwa semut merupakan makhluk yang hidup bermasyarakat dan berkelompok. Di antara keunikan yang dimiliki hewan ini, adalah ketajaman indra, sikap hati-hati dan etos kerja yang sangat tinggi. Mereka memiliki sistem kehidupan sosial yang sangat kompleks, dengan teknologi, sistem kerja, kedisiplinan, jaringan komunikasi dan pertahanan yang sangat sulit untuk diterapkan di dunia manusia, bahkan dalam suatu perusahaan internasional, ataupun dunia militer. Peradaban masyarakat semut yang kompleks terwujud pula dalam hasil-hasil

kebudayaan mereka, yaitu sarang yang memiliki tingkat perencanaan setara dengan perencanaan kota bagi manusia, bahkan jauh lebih teratur dan sistematis. Sebagian koloni semut membangun sarangnya meliputi daerah yang sangat luas. Pada zaman nabi Sulaiman as., mereka tinggal di suatu daerah yang disebut oleh Al-Quran sebagai lembah semut, dikarenakan luasnya daerah cakupan sarang-sarang mereka. Harun Yahya, dalam bukunya Keajaiban pada Semut, mengumpamakan sarang semut sebagai markas tentara yang sangat sistematis dan ideal. Seluruh ruang yang terdapat di dalamnya dirancang agar setiap prajurit dapat menjalankan fungsinya masing-masing dengan tingkat kesesuaian yang sempurna. Ruang yang memerlukan energi matahari, walaupun berada di bawah tanah, memperoleh sinar matahari dengan sudut seoptimal mungkin. Ruang-ruang yang membutuhkan akses yang cepat dan senantiasa berhubungan dibangun berdekatan. Gudanggudang penyimpanan bahan makanan mudah dicapai dan terhindar dari kelembaban yang berlebihan. Sebagai pusatnya, terdapat ruang yang cukup luas, yang berfungsi sebagai tempat berkumpul dan pengikat ruang-ruang lainnya. Sistem ventilasi atau penghawaan dalam sarang semut pun merupakan bukti dari keajaiban makhluk ciptaan Allah SWT ini. Di dalam buku Keajaiban pada Semut, dipaparkan bahwa bagian-bagian ruang yang dekat dengan permukaan tanah dipenuhi oleh kebun jamur. Sementara itu, ruang-ruang yang lebih luas dan terletak lebih dalam menampung sisa-sisa tumbuhan yang membusuk. Uniknya, beberapa ruang mengandung tanah lebih banyak daripada bahan organik. Hal ini disebabkan, tanah diperlukan sebagai penutup untuk limbah-limbah berbahaya. Udara panas hasil pembakaran keluar dari ruang pembuangan ini, sehingga udara yang sejuk dan kaya oksigen terserap ke dalam sarang. Semut dan Cara Pengenalan Ruang Dari surat An-Naml ayat 18 yang telah disebutkan, kita juga dapat mengetahui, bahwa di dalam komunitas semut terdapat suatu sistem komunikasi yang menghubungkan seekor semut dengan semut-semut lain dalam jangka waktu relatif cepat. Penelitian ilmiah menyebutkan, bahwa semut memiliki beberapa cara dalam berkomunikasi, yaitu dengan isyarat kimiawi, bau, sentuhan dan isyarat bunyi. Harun Yahya menyatakan, dengan beberapa metode komunikasi ini, semut ibarat manusia yang menguasai tiga sampai empat bahasa sekaligus. Proses komunikasi pada hewan-hewan sejenis semut yang hidup berkelompok, digolongkan dalam beberapa kategori, di antaranya mengambil posisi siaga, bertemu, membersihkan, bertukar makanan cair, mengelompok, mengenali dan mendeteksi kasta. Dalam proses mengenali ruangan di dalam sarangnya, semut tidak pernah mengalami kesalahan dalam mendeteksi jenis ruang dan kemana ia harus menuju. Semut-semut berjalan sesuai dengan tugasnya masing-masing. Seekor semut pekerja tidak akan pernah salah membawa bahan makanan ke ruang pemeliharaan larva. Metode yang digunakan oleh semut-semut ini untuk mengenali ruang, ialah dengan isyarat bau, sentuhan dan bunyi. Seperti telah dijelaskan pada bab terdahulu, upaya eksplorasi ruang dalam arsitektur juga mengenal beberapa metode yang ditemui pada saat semut mengidentifikasikan ruang-ruang di dalam sarangnya. Selain dengan penglihatan, ternyata ruang juga dapat dieksplorasi dengan isyarat bau, sentuhan dan bunyi. Sebuah ruang dapat dikenali luasannya dari kemampuannya

memantulkan bunyi, atau efek audio yang dihasilkannya. Dengan sentuhan, seorang tuna grahita dapat membedakan ruang dari perbedaan permukaan dinding dan lantai. Begitu pula dengan bau yang dimiliki oleh setiap ruang. Di dalam sebuah rumah tinggal yang sederhana, misalnya, kita dapat membedakan ruang dapur, kamar mandi atau kamar tidur dari bau yang tercium di dalamnya. Aspek eksplorasi ruang ini menjadi sangat penting, terutama apabila kita merancang suatu bangunan yang diperuntukkan bagi orang-orang yang memiliki keterbatasan dalam penglihatan. Antara Sarang Semut dan Rumah Sakit Dari aspek tata ruang dan sirkulasi, pengaturan zona pada sebuah sarang semut dapat dikatakan mirip dengan penataan sirkulasi rumah sakit. Zona-zona ruang pada sarang semut dapat dikatakan jauh lebih teratur, karena tidak terdapat perpotongan-perpotongan sirkulasi yang tidak diperlukan. Ruang-ruang pengeraman dan perawatan larva serta ruang tempat ratu semut bertelur terletak di area privat dengan jalur yang buntu, sehingga tidak dilalui oleh semut-semut lain yang tidak bertugas di area itu. Dalam proses perancangan rumah sakit, sistem pengaturan semacam ini juga telah dikenal. Terdapat semacam jalur-jalur cul de sac (jalur buntu) untuk menempatkan ruang-ruang yang membutuhkan ketenangan dan privasi tinggi, misalnya ruang bedah, ruang bersalin dan ruang rawat intensif (ICU). Dengan cara ini, diharapkan pengunjung rumah sakit yang tidak berkepentingan tidak melewati ruang-ruang tersebut. Satu hal yang menyebabkan pengaturan ruang-ruang dalam sebuah rumah sakit menjadi rumit, adalah adanya kebutuhan untuk memisahkan jenis-jenis ruang tertentu, namun menjadikannya tetap dekat satu sama lain. Selain itu, kebutuhan akan pemisahan sirkulasi juga merupakan hal yang sangat penting. Jalur sirkulasi medis sebaiknya diletakkan terpisah dari jalur sirkulasi pengunjung. Walaupun demikian, karena keterbatasan lahan dan biaya, biasanya jalur sirkulasi ini sebagian besar digabung. Hanya jalurjalur sirkulasi khusus, misalnya jalur sirkulasi anesthesia dan ruang bedah yang benar-benar terpisah. Hal yang sering terjadi, ialah pasien yang masih setengah sadar dibawa menuju ruang rawat inap dengan melewati jalur pengunjung, sehingga ketenangan dan privasi pasien kurang diperhatikan. Demikian pula dengan tingkat sterilitas (bebas hama) jalur sirkulasi pengunjung yang jauh di bawah standar tingkat sterilitas jalur sirkulasi medis. Membawa pasien pascaoperasi melewati jalur ini sedikit banyak dapat mengakibatkan pasien terkontaminasi bakteri dan sejenisnya. Belajar dari arsitektur sarang semut, tampak dari skema perletakan ruang, terdapat tiga zona besar dengan hirarki dan pemisahan jalur sirkulasi yang jelas di dalamnya. Zona pertama adalah zona publik. Di area ini terdapat pintu masuk, ruang penjaga, dan ruang besar sebagai pengikat jalur-jalur sirkulasi dari segala arah. Dipisahkan dengan suatu jalur sirkulasi mendatar, di bawah area publik ini terdapat zona penyimpanan. Zona penyimpanan gandum dan daging dipisahkan dengan sebuah koridor, masing-masing terdapat di jalur cul de sac. Zona terakhir dan terdalam, adalah zona reproduksi yang terdiri dari ruang perawatan larva, ruang pengeraman telur, ruang pemanas sentral dan ruang bangsawan. Di antara zona penyimpanan dan zona reproduksi terdapat ruang besar yang digunakan sebagai tempat semut-semut berhibernasi dan melewatkan musim dingin di ruangan ini. Dari uraian di atas, dapat kita simpulkan, bahwa terdapat area-area perantara yang memisahkan sekaligus menghubungkan dua zona yang berbeda. Perantara ini dapat berupa jalur sirkulasi maupun ruang-ruang semacam aula.

Keistimewaan lain dari sarang semut ini, adalah meskipun sarang ini meliputi area yang sangat luas, dengan kedalaman yang berbeda dari permukaan tanah, suhu di dalam setiap ruang tetap konstan dan seragam sepanjang hari. Sistem pengaturan suhu yang sangat canggih ini mengingatkan kita kepada perancangan ruang-ruang dalam sebuah rumah sakit. Ruang-ruang tertentu di dalam sebuah rumah sakit, misalnya ruang bedah, ruang rawat intensif (ICU), ruang recovery dan ruang penyimpanan obat membutuhkan pengaturan suhu, kondisi kelembaban dan tingkat sterilisasi tertentu, agar kondisi pasien dapat terjaga. Pada sebagian rumah sakit, kebutuhan ini terkadang tidak dapat dipenuhi secara optimal, dikarenakan beberapa kendala, di antaranya biaya, tata ruang dan struktur bangunan yang kurang mendukung. Sebaliknya, perancangan tata ruang, struktur, sirkulasi dan persyaratan ruang dalam setiap sarang semut selalu sesuai dengan kebutuhan koloni itu. Terdapat sebuah ruang pemanas sentral, tempat semut-semut mencampur potongan daun dan ranting yang menghasilkan panas tertentu dan menjaga suhu sarang antara 20 sampai 30 derajat. Selain itu, terdapat pula sekat luar yang terdiri dari potongan cabang dan ranting yang selalu diawasi oleh semut pekerja. Sekat luar ini sangat efektif dalam melindungi sarang dari hujan, angin dan panas yang berlebihan. Dari uraian panjang di atas, tampaklah bahwa kesempurnaan arsitektur sarang semut salah satunya dikarenakan tata ruang, struktur dan sirkulasi yang benar-benar sesuai dengan fungsi dan kebutuhan koloni semut itu. Keindahan yang muncul darinya pun adalah karena perancangan yang benar, indah karena benar. Tiadalah seekor semut yang kecil dengan kapasitas otak yang sangat terbatas mampu merancang sarang yang serumit dan sesempurna ini, apabila tidak ada suatu grand design dari Allah swt. yang Maha Kuasa yang diilhamkan kepada mereka. Hal ini merupakan suatu pelajaran yang penting pula bagi manusia, karena seluruh pengetahuan dan kepintaran yang dimiliki saat ini, semuanya berasal dari Allah swt. dan hanya dengan izin-Nya lah manusia dapat memperoleh pengetahuan itu.
http://yuliaonarchitecture.wordpress.com/2009/06/24/belajar-arsitektur-dari-sarangsemut/

4 Fakta Ilmiah Mengapa Sarang Lebah Berbentuk Segi Enam


October 16th, 2010 by Arif

Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah, Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohonpohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia, kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. (QS. An-Nahl: 68-69) Hampir semua orang tahu bahwa madu adalah sumber makanan penting bagi tubuh manusia, tetapi sedikit sekali manusia yang menyedari sifat-sifat luar biasa dari penghasilnya, iaitu lebah madu. Sebagaimana kita ketahui, sumber makanan lebah adalah nektar, yang tidak dijumpai pada musim dingin. Oleh kerana itulah, lebah mencampur nektar yang mereka kumpulkan pada musim panas dengan cairan khusus yang dikeluarkan tubuh mereka. Campuran ini menghasilkan zat bergizi yang baru-iaitu madu dan menyimpannya untuk musim dingin yang akan datang. Sungguh menarik untuk diketahui bahawa lebah menyimpan madu jauh lebih banyak dari yang sebenarnya. Pertanyaan pertama yang muncul pada benak kita adalah: mengapa lebah tidak menghentikan produksi berlebih ini, yang tampaknya hanya membuang-buang waktu dan energi? Jawaban untuk pertanyaan ini tersembunyi dalam kata wahyu yang telah diberikan kepada lebah, seperti disebutkan dalam ayat tadi. Lebah memproduksi madu bukan untuk diri mereka sendiri, melainkan juga untuk manusia. Sebagaimana makhluk lain di alam, lebah juga mengabdikan diri untuk melayani manusia; sama seperti ayam yang bertelur setidaknya sebutir setiap hari kendatipun tidak membutuhkannya dan sapi yang memproduksi susu jauh melebihi kebutuhan anak-anaknya.

Berikut Fakta Mengapa Sarang Lebah Berbentuk Segi Enam yakni: Fakta Pertama Sarang lebah berbentuk heksagonal atau segi enam yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan madu. Setelah melalui penelitian panjang, para ahli matematika menyimpulkan bentuk inilah yang paling optimal sebagai tempat penyimpanan madu, dilihat dari segi efektivitas ruang yang terbentuk dan bahan yang digunakan untuk membuatnya. Bentuk heksagonal yang simetris, jika digabungkan akan menghasilkan kombinasi ruang guna yang sempurna, yaitu tidak menghasilkan ruang-ruang sisa yang tak berguna, seperti jika ruangruang yang berpenampang lingkaran atau segilima. Lebih jauh, bentuk ruang dengan penampang segitiga atau segiempat bisa jadi juga menghasilkan kombinasi yang optimal. Walaupun demikian, bahan baku yang dibutuhkan untuk membuat bentuk-bentuk ini ternyata lebih banyak daripada yang dibutuhkan untuk membuat bentuk ruang dengan penampang heksagonal. Ruang penyimpanan berbentuk heksagonal, ternyata membutuhkan bahan baku lilin paling sedikit, dengan daya tampung terbesar. Lebah membangun sarangnya dengan menyusun dari sudut-sudut yang berbeda, biasanya dari empat titik yang berbeda dan bertemu di tengah. Dalam tingkat kesalahannya sangat kecil bahkan tanpa kesalahan sedikitpun. Sarang berbentuk segi enam merupakan bentuk yang terbaik karena dalam hal ini lebah menyimpan madu dalam jumlah besar. Penggunaan bahan baku lilin pun sedikit. Dalam rongga sarang yang dibuat lebah antara satu dengan yang lainnya dibelakang selalu dibuat dengan kemiringan 13 derajat dengan posisi miring keatas. Dengan maksud agar madu yang telah disimpan tidak tumpah dalam masa penyimpanan.

Sarang yang dibangun lebah dapat menampung 80 ribu lebah yang hidup dan bekerja bersamasama, dengan menggunakan sedikit bagian dari lilin lebah. Sarang tersebut tersusun atas sarang madu berdinding lilin lebah, dengan ratusan sel-sel kecil pada kedua permukaannya. Semua sel sarang madu berukuran sama persis. Keajaiban teknik ini dicapai melalui kerja kolektif ribuan lebah. Lebah menggunakan sel-sel ini untuk menyimpan makanan dan memelihara lebah muda. Selama jutaan tahun, lebah telah menggunakan struktur segi enam untuk membangun sarangnya. (Sebuah fosil lebah yang berusia 100 juta tahun telah ditemukan). Sungguh menakjubkan bahwa mereka memilih struktur segi enam, bukan segi delapan atau segi lima. Ahli matematik memberikan alasannya: struktur segi enam adalah bentuk geometris yang paling sesuai untuk memanfaatkan setiap bahagian unit secara maksimum. Jika sel-sel sarang madu dibangun dengan bentuk lain, akan terdapat bahagian yang tidak terpakai, sehingga lebih sedikit madu yang bisa disimpan dan lebih sedikit lebah yang mendapatkan manfaatnya. Pada kedalaman yang sama, bentuk sel segi tiga atau segi empat dapat menampung jumlah madu yang sama dengan sel segi enam. Akan tetapi, dari semua bentuk geometris tersebut, segi enam memiliki keliling yang paling pendek. Kesimpulannya: sel berbentuk segi enam memerlukan jumlah lilin paling sedikit dalam pembangunannya, dan menyimpan madu paling banyak. Lebah tentu tidak akan mampu menghitung ini, yang hanya dapat dilakukan manusia dengan perhitungan geometris yang rumit. Hewan kecil ini menggunakan bentuk segi enam secara fitrah, hanya karena mereka diajari atau diilhami oleh Tuhan mereka. Dilihat dari aspek ekonomi bangunan, lebah telah memberi contoh kepada manusia tentang optimalisasi biaya tanpa mengurangi nilai estetika bangunan. Suatu pelajaran yang sangat patut dikagumi dari makhluk mungil ini, yang membangun sarangnya. Fakta kedua yang juga menakjubkan dari sarang lebah, adalah keteraturan sudut yang sangat akurat. Setiap rongga dibangun dengan kemiringan tiga belas derajat, dengan bagian yang lebih rendah berada di dalam. Sudut-sudut ini selalu berulang dengan tingkat akurasi yang sempurna. Dengan demikian, madu yang disimpan tidak akan mengalir ke luar. Dari segi kekuatan, sarang lebah yang menggantung dan tampak rentan terhadap kerusakan ini, sebenarnya memiliki kekuatan yang besar. Hal ini ditunjukkan oleh kemampuan sarang itu untuk menahan beban beratus-ratus lebah, sekaligus menampung madu di dalam setiap rongganya. Dengan demikian, sistem perekatan yang digunakan untuk menggantung sarang di tempattempat yang tinggi pun memiliki tingkat kekokohan yang tinggi. Lebih jauh, kita dapat menemukan hal yang menakjubkan dari teknik lebah dalam bekerja sama membangun sarangnya. Lebah-lebah itu memulai membangun sarang dari beberapa titik yang berbeda. Mereka membentuk kelompok kerja yang bekerja dari tempat-tempat yang berbeda,

sampai akhirnya kantung-kantung heksagonal yang terbentuk bertemu di tengah-tengah, dengan tingkat ketepatan yang sempurna. Pada sarang lebah kita juga dapat menemui penerapan dari berbagai prinsip estetika atau keindahan. Simetrisitas yang terdapat dalam pengaturan komposisi geometris pada sarang lebah memberikan kesan keseimbangan yang sangat kuat secara keseluruhan. Penggunaan bentukbentuk heksagonal yang berapit secara sempurna menghasilkan kesatuan desain yang diperoleh melalui perulangan-perulangan yang teratur. Di balik bentuknya yang sederhana, kita dapat melihat kerumitan yang terdapat dalam setiap detail pembuatannya, berupa presisi ukuran yang sangat sempurna, keteraturan perletakan dan ketepatan pemilihan bentuk dan komposisi. Fakta Ketiga adalah Pengaturan kelembapan dan ventilasi: Kelembapan sarang, yang membuat madu memiliki kualitas perlindungan tinggi, harus dijaga pada batas-batas tertentu. Pada kelembapan di atas atau di bawah batas ini, madu akan rusak serta kehilangan kualitas perlindungan dan gizinya. Begitu juga, suhu sarang harus 35 C selama sepuluh bulan pada tahun tersebut. Untuk menjaga suhu dan kelembapan sarang ini pada batas tertentu, ada kelompok khusus yang bertugas menjaga ventilasi. Jika hari panas, terlihat lebah sedang mengatur ventilasi sarang. Jalan masuk sarang dipenuhi lebah. Sambil menempel pada struktur kayu, mereka mengipasi sarang dengan sayap. Dalam sarang standar, udara yang masuk dari satu sisi terdorong keluar pada sisi yang lain. Lebah ventilator yang lain bekerja di dalam sarang, mendorong udara ke semua sudut sarang. Sistem ventilasi ini juga bermanfaat melindungi sarang dari asap dan pencemaran udara. Fakta Keempat adalah Sistem kesehatan: Lebah menjaga kualitas madu tidak terbatas hanya pada pengaturan kelembapan dan panas. Di dalam sarang terdapat sistem pemeliharaan kesehatan yang sempurna untuk mengendalikan segala peristiwa yang mungkin menimbulkan bakteria. Tujuan utama sistem ini adalah menghilangkan zat-zat yang mungkin menimbulkan bakteria. Prinsipnya adalah mencegah zat-zat asing memasuki sarang. Untuk itu, dua penjaga selalu ditempatkan pada pintu sarang. Jika suatu zat asing atau serangga memasuki sarang walau sudah ada tindakan pencegahan ini, semua lebah berusaha untuk mengusirnya dari sarang. Sudah jelas lebah tidak memiliki pengetahuan apa pun tentang ini, apalagi laboratorium. Lebah hanyalah seekor serangga yang panjangnya 1-2 cm dan ia melakukan ini semua dengan apa yang telah diilhamkan Tuhannya. Diolah dari berbagai sumber
http://madu.sumbawanews.com/4-fakta-ilmiah-mengapa-sarang-lebah-berbentuksegi-enam.html

Struktur rumah semut

Keterangan Gambar 1. Sistem pertahanan udara : Saat musuh terbesar semut, yakni burung, mendekati sarang, sebagian prajurit mengarahkan perut mereka ke atas di lubang sarang dan menyemprotkan asam ke arah burung. 2. Rumah kaca : Dalam ruangan yang menghadap ke

selatan ini, telur dari semut ratu matang. Suhu ruangan ini tetap pada 38 C. 3. Pintu masuk dan pintu samping : Pintu-pintu masuk ini dijaga semut penjaga pintu. Pada saat bahaya, mereka menutup pintu dengan kepala mereka yang rata. Kalau ingin masuk melalui pintu, penghuni lain koloni mengetuk kepala semut penjaga pintu dengan antena dalam irama khusus, dan semut penjaga pintu pun membuka pintu. Jika mereka lupa irama ini, penjaga langsung membunuh mereka. 4. Ruang siap pakai : Jika menemukan sarang lama saat membangun sarang, semut juga meng-gunakan ruangan sarang tua yang masih bertahan bentuknya. Jadi, mereka menghemat banyak waktu dalam merampungkan struktur sarang. 5. Makam penyimpanan : Dalam ruangan ini semut menaruh bangkai semut dan gabah tak ter-makan yang mereka kumpulkan. 6. Ruang penjaga : Semut prajurit berada di sini dalam keadaan siaga sepanjang hari. Kalau merasakan bahaya sedikit saja, mereka segera bertindak. 7. Sekat luar : Sekat ini, terbuat dari potongan cabang dan ranting, melindungi sarang melawan panas, dingin, dan hujan. Berkurang atau tidaknya lapisan sekat ini senantiasa diawasi semut pekerja.

8. Ruang perawatan : Semut perawat menghasilkan cairan manis dari perutnya. Semut pengasuh menusuk perutnya dengan antena dan memanfaatkan cairan ini. 9. Gudang daging : Serangga, lalat, jangkrik, dan semut musuh disimpan dalam gudang ini setelah dibunuh. 10. Gudang gandum : Semut penggiling membawa butir besar gandum dalam bentuk tablet kecil ke sini, dan memanfaatkannya sebagai roti di musim dingin. 11. Perawatan larva : Semut perawat menggunakan air liurnya, yang bersifat antibiotik, untuk melin-dungi semut bayi dari penyakit. 12. Ruang musim dingin : Semut yang sedang hibernasi, mulai awal No-vember dan bangun pada bulan Mei, melewatkan musim dingin panjang di sini. Saat bangun, tugas pertama mereka adalah membersihkan ruangan ini. 13. Departemen pemanas sentral : Mencampur potongan daun dan ranting di sini menghasilkan panas tertentu. Ini menjaga suhu sarang antara 20 c dan 30 C. 14. Ruang pengeraman : Telur ibu ratu disimpan di ruangan ini sesuai dengan urutan ditelurkan. Lalu, jika tiba saatnya, telur diambil dari sini dan dibawa ke rumah kaca. 15. Ruang bangsawan : Ibu ratu menelurkan telurnya di sini.
sumber : pencarian dari google

Sumber : Semua Tentang Semut | Dunia Hewan http://alamhewan.blogspot.com/2010/10/tentang-semut.html#ixzz1f9e6cwoX