Anda di halaman 1dari 12

BAB II PEMBAHASA 2.

1 Perkembangan Hubungan Negara dan Masyarakat dalam Bidang Ekonomi Masa Pendudukan Belanda Pada masa penjajahan indonesia menerapkan sistem perekonomian monopolis.dimana setiap kegiatan perekonomian dijalankan desuai penguasa perdaganngan Indonesia saat itu. VOC adalah lembaga yang menguasai perdagangan Indonesia saat itu. Pada masa VOC berkuasa mereka nerap kan peraturan dan strategi agar mereka tetep menguasai perekonomian Indonesia. Peraturanperaturan yang ditetapkan VOC seperti verplichte leverentie (kewajiban meyerahkan hasil bumi pada VOC ) dan contingenten (pajak hasil bumi) dirancang untuk mendukung monopoli itu. Disamping itu, VOC juga menjaga agar harga rempah-rempah tetap tinggi, antara lain dengan diadakannya pembatasan jumlah tanaman rempah-rempah yang boleh ditanam penduduk, pelayaran Hongi dan hak extirpatie (pemusnahan tanaman yang jumlahnya melebihi peraturan). Semua aturan itu pada umumnya hanya diterapkan di Maluku yang memang sudah diisolasi oleh VOC dari pola pelayaran niaga samudera Hindia. Dengan memonopoli rempah-rempah, diharapkan VOC akan menambah isi kas negri Belanda, dan dengan begitu akan meningkatkan pamor dan kekayaan Belanda. Disamping itu juga diterapkan Preangerstelstel, yaitu kewajiban menanam tanaman kopi bagi penduduk Priangan. Bahkan ekspor kopi di masa itu mencapai 85.300 metrik ton, melebihi ekspor cengkeh yang Cuma 1.050 metrik ton. Pada tahun 1795, VOC bubar karena dianggap gagal dalam mengeksplorasi kekayaan Hindia Belanda. Kegagalan itu nampak pada defisitnya kas VOC, yang antara lain disebabkan oleh : a.Peperangan yang terus-menerus dilakukan oleh VOC dan memakan biaya besar, terutama perang Diponegoro. b.Penggunaan tentara sewaan membutuhkan biaya besar. c.Korupsi yang dilakukan pegawai VOC sendiri. d.Pembagian dividen kepada para pemegang saham, walaupun kas defisit. Masa Pendudukan Inggris Inggris berusaha merubah pola pajak hasil bumi yang telah hampir dua abad diterapkan oleh Belanda, dengan menerapkan Landrent (pajak tanah). Sistem ini sudah berhasil di India, dan Thomas Stamford Raffles mengira sistem ini akan berhasil juga di Hindia Belanda. Selain itu, dengan landrent, maka penduduk pribumi akan memiliki uang untuk membeli barang produk Inggris atau yang diimpor dari India. Inilah imperialisme modern yang menjadikan tanah jajahan tidak sekedar untuk dieksplorasi kekayaan alamnya, tapi juga menjadi daerah pemasaran produk dari negara penjajah. Akan tetapi, perubahan yang cukup mendasar dalam perekonomian ini sulit dilakukan, dan bahkan mengalami kegagalan di akhir kekuasaan Inggris yang Cuma seumur jagung di Hindia Belanda. Sebab-sebabnya antara lain : a.Masyarakat Hindia Belanda pada umumnya buta huruf dan kurang mengenal uang, apalagi untuk menghitung luas tanah yang kena pajak. b.Pegawai pengukur tanah dari Inggris sendiri jumlahnya terlalu sedikit.

c.Kebijakan ini kurang didukung raja-raja dan para bangsawan, karena Inggris tak mau mengakui suksesi jabatan secara turun-temurun. Masa Cultuurstelsel Cultuurstelstel (sistem tanam paksa) mulai diberlakukan pada tahun 1836 atas inisiatif Van Den Bosch. Tujuannya adalah untuk memproduksi berbagai komoditi yang ada permintaannya di pasaran dunia. Sejak saat itu, diperintahkan pembudidayaan produk-produk selain kopi dan rempahrempah, yaitu gula, nila, tembakau, teh, kina, karet, kelapa sawit, dll. Sistem ini jelas menekan penduduk pribumi, tapi amat menguntungkan bagi Belanda, apalagi dipadukan dengan sistem konsinyasi (monopoli ekspor). Setelah penerapan kedua sistem ini, seluruh kerugian akibat perang dengan Napoleon di Belanda langsung tergantikan berkali lipat. Sistem ini merupakan pengganti sistem landrent dalam rangka memperkenalkan penggunaan uang pada masyarakat pribumi. Masyarakat diwajibkan menanam tanaman komoditas ekspor dan menjual hasilnya ke gudang-gudang pemerintah untuk kemudian dibayar dengan harga yang sudah ditentukan oleh pemerintah. Cultuurstelstel melibatkan para bangsawan dalam pengumpulannya, antara lain dengan memanfaatkan tatanan politik Mataramyaitu kewajiban rakyat untuk melakukan berbagai tugas dengan tidak mendapat imbalandan memotivasi para pejabat Belanda dengan cultuurprocenten (imbalan yang akan diterima sesuai dengan hasil produksi yang masuk gudang). Bagi masyarakat pribumi, sudah tentu cultuurstelstel amat memeras keringat dan darah mereka, apalagi aturan kerja rodi juga masih diberlakukan. Namun segi positifnya adalah, mereka mulai mengenal tata cara menanam tanaman komoditas ekspor yang pada umumnya bukan tanaman asli Indonesia, dan masuknya ekonomi uang di pedesaan yang memicu meningkatnya taraf hidup mereka. Bagi pemerintah Belanda, ini berarti bahwa masyarakat sudah bisa menyerap barangbarang impor yang mereka datangkan ke Hindia Belanda. Dan ini juga merubah cara hidup masyarakat pedesaan menjadi lebih komersial, tercermin dari meningkatnya jumlah penduduk yang melakukan kegiatan ekonomi nonagraris. Jelasnya, dengan menerapkan cultuurstelstel, pemerintah Belanda membuktikan teori sewa tanah dari mazhab klasik, yaitu bahwa sewa tanah timbul dari keterbatasan kesuburan tanah. Namun disini, pemerintah Belanda hanya menerima sewanya saja, tanpa perlu mengeluarkan biaya untuk menggarap tanah yang kian lama kian besar. Biaya yang kian besar itu meningkatkan penderitaan rakyat, sesuai teori nilai lebih (Karl Marx), bahwa nilai leih ini meningkatkan kesejahteraan Belanda sebagai kapitalis. Sistem Ekonomi Pintu Terbuka Adanya dorongan dari kaum humanis belanda yang menginginkan perubahan nasib warga pribumi ke arah yang lebih baik, mendorong pemerintah Hindia Belanda untuk mengubah kebijakan ekonominya. Dibuatlah peraturan-peraturan agraria yang baru, yang antara lain mengatur tentang penyewaan tanah pada pihak swasta untuk jangka 75 tahun, dan aturan tentang tanah yang boleh disewakan dan yang tidak boleh. Hal ini nampaknya juga masih tak lepas dari teori-teori mazhab klasik, antara lain terlihat pada : a.Keberadaan pemerintah Hindia Belanda sebagai tuan tanah, pihak swasta yang mengelola perkebunan swasta sebagai golongan kapitalis, dan masyarakat pribumi sebagai buruh penggarap tanah. b.Prinsip keuntungan absolut : Bila di suatu tempat harga barang berada diatas ongkos tenaga kerja yang dibutuhkan, maka pengusaha memperoleh laba yang besar dan mendorong mengalirnya faktor produksi ke tempat tersebut. c.Laissez faire laissez passer, perekonomian diserahkan pada pihak swasta, walau jelas, pemerintah Belanda masih memegang peran yang besar sebagai penjajah yang sesungguhnya. Pada akhirnya, sistem ini bukannya meningkatkan kesejahteraan masyarakat pribumi, tapi malah menambah penderitaan, terutama bagi para kuli kontrak yang pada umumnya tidak diperlakukan

layak. Masa pendudukan Jepang Pemerintah militer Jepang menerapkan suatu kebijakan pengerahan sumber daya ekonomi mendukung gerak maju pasukan Jepang dalam perang Pasifik. Sebagai akibatnya, terjadi perombakan besar-besaran dalam struktur ekonomi masyarakat. Kesejahteraan rakyat merosot tajam dan terjadi bencana kekurangan pangan, karena produksi bahan makanan untuk memasok pasukan militer dan produksi minyak jarak untuk pelumas pesawat tempur menempati prioritas utama. Impor dan ekspor macet, sehingga terjadi kelangkaan tekstil yang sebelumnya didapat dengan jalan impor. Seperti ini lah sistem sosialis ala bala tentara Dai Nippon. Segala hal diatur oleh pusat guna mencapai kesejahteraan bersama yang diharapkan akan tercapai seusai memenangkan perang Pasifik. Perekonomian Indonesia Pada Masa Orde Lama Pada masa awal kemerdekaan perekonomian Indonesia amatlah buruk antara lain disebabkan oleh inflasi yang sangat tinggi karena pada saat itu indonesia menggunakan 4 mata uang, yaitu mata uang De Javasche Bank, mata uang pemerintah Hindia Belanda, dan mata uang pendudukan Jepang. Kemudian pada tanggal 6 Maret 1946, Panglima AFNEI (Allied Forces for Netherlands East Indies/pasukan sekutu) mengumumkan berlakunya uang NICA di daerah-daerah yang dikuasai sekutu. Pada bulan Oktober 1946, pemerintah RI juga mengeluarkan uang kertas baru, yaitu ORI (Oeang Republik Indonesia) sebagai pengganti uang Jepang. Berdasarkan teori moneter, banyaknya jumlah uang yang beredar mempengaruhi kenaikan tingkat hargapenyebab lain adalah adanya blokade ekonomi oleh Belanda sejak bulan November 1945 untuk menutup pintu perdagangan luar negri RI,kosongnyakas negara akibat penjajahan,eksploitasi besar-besaran di masa penjajahan. Perekonomian Indonesia Pada Masa Demokrasi Liberal Masa ini disebut masa liberal, karena dalam politik maupun sistem ekonominya menggunakan prinsip-prinsip liberal. Perekonomian diserahkan pada pasar sesuai teori-teori mazhab klasik yang menyatakan laissez faire laissez passer. Padahal pengusaha pribumi masih lemah dan belum bisa bersaing dengan pengusaha nonpribumi, terutama pengusaha Cina. Pada akhirnya sistem ini hanya memperburuk kondisi perekonomian Indonesia yang baru merdeka. Usaha-usaha yang dilakukan untuk mengatasi masalah ekonomi, antara lain : a)Gunting Syarifuddin, yaitu pemotongan nilai uang (sanering) 20 Maret 1950, untuk mengurangi jumlah uang yang beredar agar tingkat harga turun. b)Program Benteng (Kabinet Natsir), yaitu upaya menunbuhkan wiraswastawan pribumi dan mendorong importir nasional agar bisa bersaing dengan perusahaan impor asing dengan membatasi impor barang tertentu dan memberikan lisensi impornya hanya pada importir pribumi serta memberikan kredit pada perusahaan-perusahaan pribumi agar nantinya dapat berpartisipasi dalam perkembangan ekonomi nasional. Namun usaha ini gagal, karena sifat pengusaha pribumi yang cenderung konsumtif dan tak bisa bersaing dengan pengusaha non-pribumi. c)Nasionalisasi De Javasche Bank menjadi Bank Indonesia pada 15 Desember 1951 lewat UU no.24 th 1951 dengan fungsi sebagai bank sentral dan bank sirkulasi. d)Sistem ekonomi Ali-Baba (kabinet Ali Sastroamijoyo I) yang diprakarsai Mr Iskak Cokrohadisuryo, yaitu penggalangan kerjasama antara pengusaha cina dan pengusaha pribumi. Pengusaha non-pribumi diwajibkan memberikan latihan-latihan pada pengusaha pribumi, dan pemerintah menyediakan kredit dan lisensi bagi usaha-usaha swasta nasional. Program ini tidak berjalan dengan baik, karena pengusaha pribumi kurang berpengalaman, sehingga hanya dijadikan alat untuk mendapatkan bantuan kredit dari pemerintah. e)Pembatalan sepihak atas hasil-hasil KMB, termasuk pembubaran Uni Indonesia-Belanda.

Akibatnya banyak pengusaha Belanda yang menjual perusahaannya sedangkan pengusahapengusaha pribumi belum bisa mengambil alih perusahaan-perusahaan tersebut. Perekonomian Indonesia Pada Masa Demokrasi Terpimpin Sebagai akibat dari dekrit presiden 5 Juli 1959, maka Indonesia menjalankan sistem demokrasi terpimpin dan struktur ekonomi Indonesia menjurus pada sistem etatisme (segala-galanya diatur oleh pemerintah). Dengan sistem ini, diharapkan akan membawa pada kemakmuran bersama dan persamaan dalam sosial, politik,dan ekonomi (Mazhab Sosialisme). Akan tetapi, kebijakankebijakan ekonomi yang diambil pemerintah di masa ini belum mampu memperbaiki keadaan ekonomi Indonesia, antara lain : a)Devaluasi yang diumumkan pada 25 Agustus 1959 menurunkan nilai uang sebagai berikut :Uang kertas pecahan Rp 500 menjadi Rp 50, uang kertas pecahan Rp 1000 menjadi Rp 100, dan semua simpanan di bank yang melebihi 25.000 dibekukan. b)Pembentukan Deklarasi Ekonomi (Dekon) untuk mencapai tahap ekonomi sosialis Indonesia dengan cara terpimpin. Dalam pelaksanaannya justru mengakibatkan stagnasi bagi perekonomian Indonesia. Bahkan pada 1961-1962 harga barang-baranga naik 400%. c)Devaluasi yang dilakukan pada 13 Desember 1965 menjadikan uang senilai Rp 1000 menjadi Rp 1. Sehingga uang rupiah baru mestinya dihargai 1000 kali lipat uang rupiah lama, tapi di masyarakat uang rupiah baru hanya dihargai 10 kali lipat lebih tinggi. Maka tindakan pemerintah untuk menekan angka inflasi ini malah meningkatkan angka inflasi. Kegagalan-kegagalan dalam berbagai tindakan moneter itu diperparah karena pemerintah tidak menghemat pengeluaran-pengeluarannya. Pada masa ini banyak proyek-proyek mercusuar yang dilaksanakan pemerintah, dan juga sebagai akibat politik konfrontasi dengan Malaysia dan negaranegara Barat. Sekali lagi, ini juga salahsatu konsekuensi dari pilihan menggunakan sistem demokrasi terpimpin yang bisa diartikan bahwa Indonesia berkiblat ke Timur (sosialis) baik dalam politik, ekonomi, maupun bidang-bidang lain. Sehingga pada masa itu sistem yang dipergunakan masih belum cukup efektif untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia,malah memunculkan beberapa masalah baru. Perekonomian Indonesia Pada Masa Orde Baru Setelah jatuhnya masa pemerintahan presiden Soekarno dan digantikan oleh presiden Soeharto,banyak rencana untuk membangun Indonesia menjadi negara yang lebih maja dan mampu bersaing dengan negara lain. Pada masa ini perbaikan di bidang ekonomi dan politik adalah prioritas utama. Program pemerintahan saat itu berorientasi pada usaha mengontrol laju inflasai yang menjadi warisan dari pemerintahan sebelumnya,penyelamatan keuangan negara dan pengamanan kebutuhan pokok rakyat. Pengendalian inflasi mutlak dibutuhkan, karena pada awal 1966 tingkat inflasi kurang lebih 650 % per tahun. Setelah melihat pengalaman masa lalu, dimana dalam sistem ekonomi liberal ternyata pengusaha pribumi kalah bersaing dengan pengusaha nonpribumi dan sistem etatisme tidak memperbaiki keadaan, maka dipilihlah sistem ekonomi campuran dalam kerangka sistem ekonomi demokrasi pancasila. Ini merupakan praktek dari salahsatu teori Keynes tentang campur tangan pemerintah dalam perekonomian secara terbatas. Jadi, dalam kondisi-kondisi dan masalah-masalah tertentu, pasar tidak dibiarkan menentukan sendiri. Misalnya dalam penentuan UMR dan perluasan kesempatan kerja. Ini adalah awal era Keynes di Indonesia. Kebijakan-kebijakan pemerintah mulai berkiblat pada teori-teori Keynesian. Kebijakan ekonominya diarahkan pada pembangunan di segala bidang, tercermin dalam 8 jalur pemerataan : kebutuhan pokok, pendidikan dan kesehatan, pembagian pendapatan, kesempatan kerja, kesempatan berusaha, partisipasi wanita dan generasi muda, penyebaran pembangunan, dan peradilan. Semua itu dilakukan dengan pelaksanaan pola umum pembangunan jangka panjang (2530 tahun) secara periodik lima tahunan yang disebut Pelita (Pembangunan lima tahun).

Hasilnya, pada tahun 1984 Indonesia berhasil swasembada beras, penurunan angka kemiskinan, perbaikan indikator kesejahteraan rakyat seperti angka partisipasi pendidikan dan penurunan angka kematian bayi, dan industrialisasi yang meningkat pesat. Pemerintah juga berhasil menggalakkan preventive checks untuk menekan jumlah kelahiran lewat KB dan pengaturan usia minimum orang yang akan menikah. Pada awal pemerintahannya usaha usaha yang dilakukan sangat berhasil untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.Namun dibalik itu dampak negatifnya adalah kerusakan serta pencemaran lingkungan hidup dan sumber-sumber daya alam, perbedaan ekonomi antar daerah, antar golongan pekerjaan dan antar kelompok dalam masyarakat terasa semakin tajam, serta penumpukan utang luar negeri. Disamping itu, pembangunan menimbulkan konglomerasi dan bisnis yang sarat korupsi, kolusi dan nepotisme. Pembangunan hanya mengutamakan pertumbuhan ekonomi tanpa diimbangi kehidupan politik, ekonomi, dan sosial yang adil. Sehingga meskipun berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi, tapi secara fundamental pembangunan nasional sangat rapuh. Akibatnya, ketika terjadi krisis yang merupakan imbas dari ekonomi global, Indonesia merasakan dampak yang paling buruk. Harga-harga meningkat secara drastis, nilai tukar rupiah melemah dengan cepat, dan menimbulkan berbagai kekacauan di segala bidang, terutama ekonomi. Perekonomian Indonesia Pada Masa Orde Reformasi Pemerintahan presiden BJ.Habibie yang mengawali masa reformasi belum melakukan manuvermanuver yang cukup tajam dalam bidang ekonomi. Kebijakan-kebijakannya diutamakan untuk mengendalikan stabilitas politik. Pada masa kepemimpinan presiden Abdurrahman Wahid pun, belum ada tindakan yang cukup berarti untuk menyelamatkan negara dari keterpurukan. Padahal, ada berbagai persoalan ekonomi yang diwariskan orde baru harus dihadapi, antara lain masalah KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme), pemulihan ekonomi, kinerja BUMN, pengendalian inflasi, dan mempertahankan kurs rupiah. Malah presiden terlibat skandal Bruneigate yang menjatuhkan kredibilitasnya di mata masyarakat. Akibatnya, kedudukannya digantikan oleh presiden Megawati. Masa kepemimpinan Megawati Soekarnoputri Masalah-masalah yang mendesak untuk dipecahkan adalah pemulihan ekonomi dan penegakan hukum. Kebijakan-kebijakan yang ditempuh untuk mengatasi persoalan-persoalan ekonomi antara lain : a)Meminta penundaan pembayaran utang sebesar US$ 5,8 milyar pada pertemuan Paris Club ke-3 dan mengalokasikan pembayaran utang luar negeri sebesar Rp 116.3 triliun. b)Kebijakan privatisasi BUMN. Privatisasi adalah menjual perusahaan negara di dalam periode krisis dengan tujuan melindungi perusahaan negara dari intervensi kekuatan-kekuatan politik dan mengurangi beban negara. Hasil penjualan itu berhasil menaikkan pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,1 %. Namun kebijakan ini memicu banyak kontroversi, karena BUMN yang diprivatisasi dijual ke perusahaan asing. Di masa ini juga direalisasikan berdirinya KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), tetapi belum ada gebrakan konkrit dalam pemberantasan korupsi. Padahal keberadaan korupsi membuat banyak investor berpikir dua kali untuk menanamkan modal di Indonesia, dan mengganggu jalannya pembangunan nasional. Masa Kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono Kebijakan kontroversial pertama presiden Yudhoyono adalah mengurangi subsidi BBM, atau dengan kata lain menaikkan harga BBM. Kebijakan ini dilatar belakangi oleh naiknya harga minyak dunia. Anggaran subsidi BBM dialihkan ke subsidi sektor pendidikan dan kesehatan, serta bidangbidang yang mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat. Kebijakan kontroversial pertama itu menimbulkan kebijakan kontroversial kedua, yakni Bantuan Langsung Tunai (BLT) bagi masyarakat miskin. Kebanyakan BLT tidak sampai ke tangan yang berhak, dan pembagiannya menimbulkan berbagai masalah sosial.

Kebijakan yang ditempuh untuk meningkatkan pendapatan perkapita adalah mengandalkan pembangunan infrastruktur massal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi serta mengundang investor asing dengan janji memperbaiki iklim investasi. Salah satunya adalah diadakannya Indonesian Infrastructure Summit pada bulan November 2006 lalu, yang mempertemukan para investor dengan kepala-kepala daerah. Menurut Keynes, investasi merupakan faktor utama untuk menentukan kesempatan kerja. Mungkin ini mendasari kebijakan pemerintah yang selalu ditujukan untuk memberi kemudahan bagi investor, terutama investor asing, yang salahsatunya adalah revisi undang-undang ketenagakerjaan. Jika semakin banyak investasi asing di Indonesia, diharapkan jumlah kesempatan kerja juga akan bertambah. Pada pertengahan bulan Oktober 2006 , Indonesia melunasi seluruh sisa utang pada IMF sebesar 3,2 miliar dolar AS. Dengan ini, maka diharapkan Indonesia tak lagi mengikuti agenda-agenda IMF dalam menentukan kebijakan dalam negri. Namun wacana untuk berhutang lagi pada luar negri kembali mencuat, setelah keluarnya laporan bahwa kesenjangan ekonomi antara penduduk kaya dan miskin menajam, dan jumlah penduduk miskin meningkat dari 35,10 jiwa di bulan Februari 2005 menjadi 39,05 juta jiwa pada bulan Maret 2006. Hal ini disebabkan karena beberapa hal, antara lain karena pengucuran kredit perbankan ke sector riil masih sangat kurang (perbankan lebih suka menyimpan dana di SBI), sehingga kinerja sector riil kurang dan berimbas pada turunnya investasi. Selain itu, birokrasi pemerintahan terlalu kental, sehingga menyebabkan kecilnya realisasi belanja Negara dan daya serap, karena inefisiensi pengelolaan anggaran. Jadi, di satu sisi pemerintah berupaya mengundang investor dari luar negri, tapi di lain pihak, kondisi dalam negri masih kurang kondusif Sistem ekonomi Indonesia sebagai sintesa kapitalisme dan sosialisme Menurut beberapa pengamat sistem perekonomian Indonesia merupakan percampuran antara sistem kapetalisme dan sosialisme,namun bukan berarti menyingkirkan aspek aspek lain yang membangun sistem perekonomian Indonesia. Dengan mengadopsi kebaikan kebaikan yang ada pd 2 sistem tersebut maka terbentuklah sistem perekonomian dindonesia yang disebut sistem ekonomi pancasila. Tentunya dalam pembentukannya ada bongkar-pasang untuk mendapatkan kesesuaian. Individualisme vs kolektivisme. Dengan memadukan dua unsur ini maka yang ada dalam sistem Indonesia adalah bukan individualisme dan bukan pula kolektivisme. Dalam perekonomian Indonesia ada individualisme, namun karena telah di batasi kolektivisme maka individualisme ini tidak segarang aslinya. Sentralisai dan swastanisai. Peran negara dalam sistem perekonomian Indonesia memang sentral, namun hal itu tidak menjadikannya seperti sentralisme yang ada di negara-negara sosialisme, lagi-lagi hal ini karena hasil sintesa antara individulisme dan kolektivisme. http://sidikaurora.wordpress.com/2011/02/16/perkembangan-sistem-perekonomian-indonesia-darimasa-ke-masa/

2.2 Perubahan Struktur Ekonomi 2.2.1 Perubahan Struktur Ekonomi Global 2.2.2 Perubahan Struktur Ekonomi Indonesia Berdasarkan tinjauan makro-sektoral perekonomian suatu negara dapat berstruktur agraris (agricultural), industri (industrial), niaga (commercial) hal ini tergantung pada sector apa/mana yang dapat menjadi tulang punggung perekonomian negara yang bersangkuatan. Pergeseran struktur ekonomi secara makro-sektoral senada dengan pergeserannya secara keuangan (spasial). Ditinjau dari sudut pandang keuangan (spasial), struktur perekonomian telah bergeser dari struktur pedesaan menjadi struktur perkotaan modern. Struktur perekonomian indoensia sejak awal orde baru hingga pertengahan dasa warsa 1980-an berstruktur etatis dimana pemerintah atau negara dengan BUMN dan BUMD sebagai perpanjangan tangannya merupakan pelaku utama perekonomian Indonesia. Baru mulai pertengahan dasa warsa 1990-an peran pemerintah dalam perekonomian berangsur-angsur dikurangi, yaitu sesudah secara eksplisit dituangkan melalui GBHN 1988/1989 mengundang kalangan swasta untuk berperan lebih besar dalam perekonomian nasional. Struktur ekonomi dapat pula dilihat berdasarkan tinjauan birokrasi pengambilan keputusan. Berdasarkan tinjauan birokrasi pengambilan keputusannya dapat dikatakan bahwa struktur perekonomian selama era pembangunan jangka panjang tahap pertama adalah sentralistis. Dalam struktur ekonomi yang sentralistik, pembuatan keputusan (decision-making) lebih banyak ditetapkan pemerintah pusat atau kalangan atas pemerintah (bottom-up). http://hanakarlina.blogspot.com/2012/06/pertumbuhan-dan-perubahan-struktur.html

2.3 Kelas-Kelas Sosial Globalisasi sebagai sebuah fenomena yang memicu banyak pro dan kontra, kembali menerima penolakan yang berujung pada gerakan revolusioner dan gerakan nasional. Contoh paling nyata adalah munculnya gerakan Zapatista pada tanggal 1 Januari 1994 bertepatan dengan penandatangan perjanjian NAFTA, sebuah kesepakatan perdagangan bebas Amerika Utara yang ditandatangani tahun 1994 antara Meksiko, AS, dan Kanada untuk arus bebas barang, jasa, dan investasi di kawasan tersebut. Selain itu Zapatista juga pernah melakukan aksi dengan berbaris sepanjang pusat pemerintahan di Meksiko City pada Januari 2001 yang merupakan bentuk pemberontakan sipil atas nama adat masyarakat sebagai gerakan revitalisasi gagasan tradisional yang terbengkalai (Lane, 2003:135). Zapatista merupakan salah satu gerakan yang menuntut adanya revolusi untuk menghilangkan dominasi neoliberal. John Walton (2003) dalam artikelnya menyempitkan lingkup pembahasan globalisasi dengan mengasumsikan globalisasi sebagai a new global political economy yang terjadi pada sekitar tahun 1980an. Globalisasi yang dimaksudkan oleh Walton adalah globalisasi neoliberal, yang sebagaimana diketahui banyak ditanamkan Amerika Serikat pada negara dunia ketiga. Neoliberalisme yang banyak ditanamkan di negara berkembang paska krisis, membuat negara berkembang memiliki karakteristik yaitu kapitalis dan bergantung terhadap perdagangan dan

bantuan dari negara-negara industri Barat. Dependensi tersebut kemudian menyebabkan ketidakseimbangan dalam penerapan investasi publik terhadap kesehatan, pendidikan, infrastruktur, arsitektur dan perusahaan yang cenderung berpusat di kota-kota besar dan memarjinalkan wilayahwilayah yang jauh dari pusat pemerintahan. Hal ini kemudian memunculkan upaya memperjuangkan keadilan dari kaum termarjinal sehingga kontur resistensi sosial berubah. Jika kembali mengambil Zapatista sebagai contoh, maka memang telah terjadi perubahan resistensi sosial. Awalnya gerakan Zapatista terbentuk tahun 1910 untuk melawan rezim otoriter pada masa itu yang dianggap terlalu kejam dan tidak memihak rakyat kecil. Gerakan Zapatista yang ada hingga saat ini terbentuk ketika beberapa aktivis dari Forces of National Liberation mulai mengorganisir anakronistik kekuatan gerilya dalam komunitas pengunungan di Chiapas (Bartra, 2008: 194). Zapatista yang ada saat ini lebih berfokus pada perlawanan terhadap neoliberalisme dan berbagai bawaannya yang mulai hadir di Meksiko tahun 1980an karena dianggap hanya menguntungkan negara maju dan mengeksploitasi kekayaan alam negara berkembang. Bahkan disebut-sebut Zapatista merupakan upaya resistensi terhadap dominasi neoliberal di negara-negara berkembang. Sehingga dapat dikatakan bahwa saat ini juga terjadi perjuangan ideologi, terutama terhadap neoliberalisme, seperti yang dilakukan Zapatista. Walton dalam artikelnya juga menjelaskan, bahwa globalisasi merupakan persaingan yang memunculkan winners dan losers. Bankir internasional, eksportir, jasa keuangan elektronik, dapat disebut sebagai winners. Sedangkan losers adalah welfare states, pekerja-pekerja negara eksportir yang lemah, kepentingan lingkungan, perusahaan nasional dalam kelas menengah, dan masyarakat perkotaan miskin yang bekerja di perusahaan negara berkembang (Walton, 2003: 222). Meskipun Bhagwati (2004) pernah menyebutkan bahwa globalisasi sebagai sebuah arena kesempatan (opportunity), namun yang sebenarnya menang adalah yang berhasil merekayasa kesempatan. Kemudian muncul perjuangan atau perlawanan menentang rekayasa tersebut dan menuntut keadilan. Maka yang terjadi bukanlah globalisasi membuat usang setiap kemungkinan revolusi, namun justru globalisasi menciptakan keadaan yang memungkinkan kemunculan revolusi. Revolusi sendiri didefinisikan sebagai fenomena yang akan selalu berubah secara historisis ketika negaranegara berkembang tengah mengalami masa transisi dari masa developmentalisme menuju ke arah globalisasi (Walton, 2003: 217). Menurut penulis, gerakan-gerakan revolusioner melawan neoliberalisasi merupakan salah satu bentuk solidaritas. Meskipun globalisasi juga membuat setiap individu semakin egois, namun semakin banyaknya kemunculan pihak termarjinal juga memunculkan sikap solidaritas dari kaum termarjinal tersebut. Kembali mengambil contoh dari gerakan Zapatista. Zapatista muncul dari kawasan Chiapas, wilayah paling miskin di pinggiran Meksiko. Neoliberalisme yang datang di Meksiko pada tahun 1980an untuk menyelesaikan krisis justru dianggap semakin menenggelamkan wilayah tersebut dalam kemiskinan. Karena itu Zapatista berusaha menolak segala bentuk neoliberalisasi, dan juga mulai meluaskan jaringannya untuk menyelamatkan negara-negara berkembang dari jeratan neoliberalisme. Kekhawatiran Zapatista akan neoliberalisme yang menjerat Meksiko menjadi kenyataan. NAFTA misalna, ternyata menjadi masalah karena ekspor utama terkonsentrasi pada maquiladoras, yang hanya membeli 3 persen dari keseluruhan komponennya di pasar domestik dan beberapa industri besar hampir semuanya adalah milik asing (Bartra, 2008: 192). Jika sebelumnya industri-industri tersebut memenuhi komponen industri 90 % dari sumber domestik, pasca perjanjian NAFTA, 73% pemenuhan komponen di impor dari luar. Produk-produk domestik kemudian kalah saing, dan tidak heran jika setelah NAFTA ditandatangani, pertumbuhan ekonomi Meksiko hanya tumbuh kurang dari 1 persen pertahun dan tenaga kerja disektor manufaktur berkurang 10 persen. Dapat disimpulkan, bahwa globalisasi memang selalu memunculkan perdebatan, bahkan hingga menimbulkan gerakan sosial yang menuntut revolusi. Jika dulu revolusi dilakukan untuk melawan rezim otoriter atau penjajah dari bangsa lain, maka saat ini revolusi dilakukan untuk melawan ideologi neoliberalisme yang dapat disebut sebgai imperialism bentuk baru. Perlawanan tersebut

juga merupakan sebuah bentuk solidaritas terhadap kaum atau kelompoknya yang termarjinal dan keinginan untuk membawanya keluar dari ketidakadilan tersebut. Globalisasi memang menbuat individu semakin egois dan ingin menang sendiri. Namun dalam keadaan terdesak, globalisasi juga meningkatkan sikap solidaritas untuk bekerja sama dalam mencapai tujuan. Referensi: Bartra, A. 2008, Mexico, yearnings and utopias: the left in the third milennium, in Barret P., et al (eds.), The new latin American left: utopia reborn, Pluto Press, London, Chapter 7. Lane, Jill, 2003. Digital Zapatistas. In The Drama Review 47, 2 (T178), Summer 2003. Pg.129144. Walton, John. 2003. Globalization and Popular Movement. pp. 217-225. http://sonia-d-a-fisip11.web.unair.ac.id/artikel_detail-79615-Globalisasi%20dan%20Strategi-On %20Resistance%20and%20Solidarity%20Melawan%20Globalisasi:%20Neoliberalisme%20dan %20Solidaritas.html

Oleh : Giovanni Dessy Austriningrum (071012011) Potret ekonomi politik internasional telah mengalami evolusi yang panjang, berkaitan dengan struktur dan tatanan intrinsik yang membentuknya. Dinamika fenomena ekonomi politik internasional tersebut tentunya tak lepas dari the ways which market forces and external factors affect one another (Gilpin, 1987:65), yang merupakan esensi kajian Ekonomi Politik Internasional (EPI) itu sendiri. Tulisan di bawah ini akan menjelaskan secara lebih lanjut mengenai struktur, tatanan, serta pihak-pihak yang berkuasa (in charge) dalam realita ekonomi politik internasional dewasa ini dengan mengacu pada artikel The Dynamics of International Political Economy karya Robert Gilpin (1987). Namun, perspektif yang berbeda tentu akan menghasilkan pemahaman yang berbeda terhadap satu figur yang sama. Ketika teori Dual Ekonomi liberalisme memandang evolusi pasar sebagai respon dalam rangka mencapai efisiensi dan maksimalisasi kesejahteraan, teori Modern World System (MWS) yang dipengaruhi oleh Marxisme melihat hal tersebut sebagai bentuk eksploitasi negara-negara berkembang oleh aktor-aktor kapitalis. Sementara teori Stabilitas Hegemoni memahami ekonomi politik internasional sebagai dominasi power aktor-aktor liberal melalui pembentukan suatu rezim. Dinamika ekonomi politik internasional dipahami dalam bingkai interaksi pasar dan negara dalam konteks historis kedua forces. Dengan pendekatan eklektik terhadap tiga teori di atas, Gilpin (1987) dalam artikelnya mengemukakan bahwa dalam ekonomi politik internasional terdapat struktur yang terdiri atas lima unsur, yakni (1) institusi sosial, (2) distribusi property rights, (3) division of labor dan lokasi aktivitas ekonomi, (4) organisasi pasar-pasar tertentu, dan (5) rezim yang mengelola perekonomian. Perubahan struktural dapat terjadi apabila terdapat perubahan fundamental dalam relasi antara elemen-elemen tersebut (Gilpin, 1987:81). Setiap teori memberikan donasi distingtif dalam memahami tatanan dan struktur ekonomi politik internasional. Teori Dual Ekonomi liberal menyatakan bahwa dalam rangka maksimalisasi keuntungan global, diperlukan adanya transformasi, inkorporasi, serta modernisasi sektor-sektor tradisionalbaik sektor politik, ekonomi, maupun sosial. Teori ini beranggapan bahwa realita ekonomi politik internasional berjalan sesuai dengan mekanisme pasar dimana perubahan harga relatif serta inovasiinovasi dalam segala bidang, khususnya teknologi, akan menimbulkan respon-respon dan

perubahan tertentu dalam struktur dan konfigurasi ekonomi politik internasional. Contoh kasus empirik mengenai pernyataan tersebut adalah perubahan harga minyak pada tahun 1970an yang mempengaruhi dinamika ekonomi politik internasional dan berkontribusi dalam menurunnya hegemoni Amerika Serikat (Larson&Skidmore : 1993) , serta revolusi informasi pada tahun 1990an yang menciptakan konteks baru dalam percaturan ekonomi politik internasional. Stabilitas internasional dapat terjaga apabila ekuilibrium pasar tercapai, dan karenanya peranan negara dalam intervensi pasar harus diminimalisir. Hal ini seringkali dikritik karena teori ini menafikan konteks politik dan sosial, dan seperti dikutip Gilpin (1987), history is never about equilibrium (Hartwell, 1982). Kontras dengan Dual Ekonomi Liberal, teori MWS beranggapan bahwa struktur ekonomi politik internasional bersifat hierarkis, dengan negara-negara core, semiperiphery, dan periphery. Berangkat dari asumsi-asumsi Marxisme, Immanuel Wallerstein memahami struktur kapitalisme modern yang berawal dari abad-16 sebagai international division of labor dimana negara core menjalankan spesialisasi dalam bidang manufaktur ketika spesialisasi negara periphery adalah penyediaan bahan mentah (semiperiphery berada di antaranya). Dengan demikian, akumulasi kapital terkonsentrasi di negara-negara core, sementara negara-negara sisanya tereksploitasi. Namun, Gilpin (1987) menyebutkan bahwa teori MWS kurang relevan dalam menjelaskan kasus pertumbuhan ekonomi di India, Cina, dan negara-negara Amerika Latin yang merupakan new emerging forces. Sistem negara-bangsa dengan logika kompetisi kepentingan dan power juga tak dapat direduksi ke level ekonomi begitu saja. Artikel Gilpin (1987) senada dengan tulisan Larson dan Skidmore (1993) yang menekankan teori Stabilitas Hegemoni dalam struktur dan tatanan ekonomi politik internasional sejak abad 16 hingga abad 20 yang didominasi oleh liberalism. Seperti dikutip Gilpin, Kindleberger (1981) menyatakan bahwa open liberal economy memerlukan hegemon sebagai pemimpin maupun stabilisator. Keohane (1984) menulis bahwa hegemon menawarkanbukan memaksakansebuah rezim dan mempertahankan prinsip-prinsip, norma-norma, serta aturan-aturan yang tekandung dalam rezim tersebut. Rezim tersebut akan menjadi jawaban atas realitas ekonomi politik internasional yang penuh ketidakpastianseperti yang digambarkan dalam prisoners dilemma. Dalam rezim tersebut, aktor-aktor partisipan melakukan koordinasi, kolaborasi, dan tawar menawar dalam rangka pemenuhan kepentingan masing-masing serta pencapaian collective goods. Menurut teori ini, ketiadaan hegemon akan berujung pada instabilitas tatanan ekonomi politik internasional. Teori Stabilitas Hegemoni dengan demikian relevan dalam menjelaskan hegemoni Pax Britannica sejak akhir Perang Napoleon hingga akhir Perang Dunia I serta hegemoni Amerika Serikat sejak 19381973 dalam tatanan ekonomi politik liberal (Larson&Skidmore, 1993). Dalam poin-poin deklinasi hegemon, dapat dilihat bahwa struktur dan tatanan rezim ekonomi politik yang berlaku pun mengalami krisiskrisis pasca perang dan Great Depression yang menggeser hegemoni Inggris, serta krisis domestik, perang Vietnam, dan krisis minyak 1973 yang menandai menurunnya hegemoni Amerika Serikat. Dewasa ini, pasca deklinasi hegemoni Amerika Serikat, ekonomi politik diwarnai oleh sejumlah tantangan baru. Postur ekonomi politik internasional cenderung bersifat multipolar dengan Uni Eropa, Jepang, Cina, India, dan negara-negara Amerika Latin yang menjadi kutub-kutub baru pertumbuhan ekonomi dunia. Kompetisi yang meruncing antara kekuatan peripheral yang tengah bangkit dengan kekuatan core yang menurun mengancam stabilitas sistem liberal kapitalis. Sistem ekonomi liberal menjadi dipertanyakan kontinuitasnya karena beberapa hal. Kapitalisme telah membawa dunia dalam disparitas ekonomi yang besar, sehingga tidak meratanya kesejahteraan menjadi titik kelemahan sistem ini. David Harvey (2007) juga mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomiyang menurut kaum liberalis tercapai dalam dunia yang makin interdependen seperti sekarangtidak sama dengan akumulasi kapital oleh pihak-pihak tertentu yang sesungguhnya tengah terjadi. Gilpin (1987) menulis bahwa proses-proses perubahan struktural yang terjadi dalam tatanan ekonomi politik internasional ditandai dengan kooperasi dan (seringkali) konflik dalam skala global. Dan karenanya, dalam rangka mencapai stabilitas, hegemon memerlukan basis baru

bukan hanya pertumbuhan ekonomi. Kesimpulan Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa teori Dual Ekonomi Liberal, MWS, dan Stabilitas Hegemoni memberikan kontribusi dalam pemahaman akan struktur dan tatanan yang berlaku dalam ekonomi politik internasional. Gilpin (1987) melakukan pendekatan eklektik akan ketiga teori dengan penekanan pada teori Stabilitas Hegemoni dalam menjelaskan hal tersebut. Menurutnya, teori MWS telah memberikan kontribusi besar dalam konteks historis ekonomi politik internasional yang berawal seiring dengan lahirnya modernitas. Teori Dual Ekonomi liberal juga menunjukkan bahwa tatanan ekonomi liberal yang berlaku selama berabad-abad telah membuat dunia makin interdependen dan terintegrasi. Sedangkan Stabilitas Hegemoni menjelaskan bahwa tatanan dan struktur ekonomi politik liberal tersebut dapat terwujud karena tiga hal, yakni (1) hegemon, (2) common interest, dan (3) consensus ideologis dalam suatu rezim. Namun penulis mempertanyakan konsepsi collective goods yang disampaikan dalam teori Stabilitas Hegemoni. Penulis mendasarkan argumen tersebut pada tulisan Susan Strange (1986) yang menyatakan bahwa rezim yang dibentuk oleh Amerika tak lebih dari instrumen yang digunakan oleh negara tersebut untuk melegitimasi dominasi dan kontinuitas hegemoninya dalam dunia internasional. Hal tersebut nampak paling jelas pada tahun 1980-1990 ketika Amerika menuntut permintaan yang sangat besar atas kapital internasional untuk membiayai defisit anggaran federalnya. Hal inilah yang disebut Gilpin (1987) sebagai predatory hegemon. Dan seiring dengan deklinasi Amerika Serikat, multipolaritas serta krisis Uni Eropa yang terjadi dewasa ini tengah menguji stabilitas ekonomi politik internasional dan sistem kapitalisme liberal. Referensi Gilpin, Robert. 1987. The Dynamics of International Political Economy, dalam The Political Economy of International Relations. Princeton : Princeton University Press, pp. 65-117. Harvey, David. 2007. Neoliberalism on Trial, dalam A Brief History of Neoliberalism, Oxford : Oxford University Press, pp. 152-182. Keohane, Robert O. 1984. After Hegemony : Cooperation and Discord in The World Political Economy. New Jersey : Princeton University Press. Larson, Thomas D. dan Skidmore, D. 1993. The Political Economy of American hegemony : 1938-1973, dalam International Political Economy : The Struggle for Power and Wealth. Orlando : Harcourt Brace College Publisher, pp. 63-94. Strange, Susan. 1986. Casino Capitalism. New York : Basil Blackwell. http://giovanni-d-a-fisip10.web.unair.ac.id/artikel_detail-46465-Umum-Struktur%20dan %20Tatanan%20dalam%20Ekonomi%20Politik%20Internasional.html

Empat Reformasi Struktural Indonesia dalam Menghadapi Tantangan Ekonomi Global

WE.CO.ID, Jakarta Saat ini ada empat reformasi struktural yang telah dan sedang dilakukan oleh Indonesia sehingga bisa bertahan di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia.

Kunci dari kemampuan Indonesia untuk terus meningkatkan fundamental ekonomi sekaligus meningkatkan daya tahan (resilient) terhadap goncangan ekonomi global adalah reformasi struktural yang terus dilakukan sejak beberapa tahun terakhir, kata Prof. Firmanzah PhD, Staf Khusus Presiden Indonesia bidang Ekonomi dan Pembangunan, dalam perbincangan di Jakarta, Senin (9/9/2013) pagi. Pertama, pasca krisis ekonomi 1998, Indonesia menjalankan kebijakan baik fiskal maupun moneter yang mengedepankan macroprudential. Defisit APBN terhadap PDB di jaga dalam rentan yang aman yaitu di bawah 3 persen. Selain itu, proporsi hutang/PDB juga terus diturunkan dari 56,6 persen pada tahun 2004, menjadi 28,4 persen pada 2009. Saat ini proporsi ini dapat terus ditekan dalam kisaran 24 persen, papar Firmanzah. Reformasi struktural kedua, menurut Firmanzah, adalah diimplementasikan strategi keep-buying policies yang dilakukan sejak 2004. Strategi ini telah memperkuat struktur pasar domestik. Ketersediaan permintaan dari sisi pasar yang memadai menjadi stimulus bagi bergeraknya dunia usaha di Indonesia. Pelaku dunia usaha di Indonesia menikmati excess-demand yang sangat besar. Hal ini mempercepat pemulihan kinerja usaha baik BUMN, swasta nasional, koperasi dan sektor UMKM di Indonesia, jelas Firmazah sembari menambahkan, saat ini kita memiliki aktor ekonomi yang jauh lebih kuat dibandingkan dengan paska krisis 1998. Reformasi struktural ketiga, kata Firmanzah, dilakukan melalui percepatan pembangunan infrastruktur di Indonesia. Ia menyebutkan, melalui Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang diluncurkan pada 2011 menandai orientasi Indonesia untuk lebih menyeimbangkan sisi produksi (supply-side). Percepatan pembangunan infrastruktur energi, transportasi, fasilitas produksi, serta sarana dan prasarana lainnya telah menjadikan Indonesia sebagai negara berorientasi investasi (investmentoriented country), kata Firmanzah sembari menambahkan, mobilisasi partisipasi baik melalui anggaran APBN, BUMN serta Swasta dilakukan untuk bersama-sama mengakselerasi pembangunan di enam koridor ekonomi. Reformasi struktural keempat, lanjut Firmanzah, adalah upaya terus menerus untuk melakukan perbaikan dari sisi doing-business di Indonesia. Upaya ini dilakukan melalui penataan sistem dan budaya kerja baik di tingkat pusat maupun daerah untuk terus mengurangi ekonomi biaya tinggi (high cost economy) melalui serangkaian program nasional dari mulai reformasi birokrasi, konsistensi dalam pemberantasan korupsi, perbaikan dan penyederhanaan regulasi-prosedur investasi, program Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP), sampai dengan otomatisasi pelayanan publik. Keempat reformasi struktural yang secara konsisten kita lakukan selama ini meskipun belum sepenuhnya tuntas, namun telah membuahkan hasil positif, jelas Firmanzah. Ia menyebutkan, di tengah gejolak keuangan dunia yang terjadi akhir-akhir ini tidak menyurutkan investasi di Indonesia. Misalnya, BKPM mencatat realisasi investasi semester I-2013 meningkat lebih dari 30 persen dibandingkan periode sebelumnya. http://wartaekonomi.co.id/berita16367/empat-reformasi-struktural-indonesia-dalam-menghadapitantangan-ekonomi-global.html