Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN OBSERVASI GEOLOGI KARANGSAMBUNG KEBUMEN

Disusun oleh : Pradana Adi Wibowo 4211410001 Fisika S1

Guna memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Geologi Fisika

JURUSAN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

DAFTAR ISI Judul .............................................................................................................. i Kata pengantar ........................................................................................................ ii Daftar isi .............................................................................................................. iii BAB I PENDAHULUAN ........................................................................ 1.1 LATAR BELAKANG .......... 1.2 RUMUSAN MASALAH .......... 1.3 TUJUAN ............................................................................................... 1.4 MANFAAT ...........................................................................................

1 1 2 2 2

BAB II ISI ........................................................................ 3 2.1 GEOLOGI KARANGSAMBUNG....................................................... 3 2.1.1 2.1.2 2.1.3 MORFOLOGI DAERAH KARANG SAMBUNG ................. 6 STRATIGRAFI DAERAH KARANG SAMBUNG ............... 10 LITOLOGI DAERAH KARANG SAMBUNG ...................... 15

BAB III PENUTUP ........................................................................ 25 3.1 KESIMPULAN ..................................................................................... 25 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................. 26 LAMPIRAN

iii

KATA PENGANTAR Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat dan rahmat-Nya, akhirnya kami dapat menyelesaikan Laporan Kuliah Lapangan Pegantar Geologi Fisika. Laporan ini disusun guna memenuhi salah satu tugas dalam mata kuliah Pengantar Geologi Fisika bagi mahasiswa KBK Fisika Bumi Universita Negeri Semarang. Bagi Kami, selain ilmu fisika, juga ada ilmu lain yang harus dipelajari yaitu ilmu Geologi. Ilmu geologi sangat berguna bagi Kami mengingat masih lemahnya ilmu tentang Geologi. Ilmu Geologi ini banyak bermanfaat pada penginterpretasian data lapangan hasil metode Geofisika. Dalam penyusunan laporan ini penyusun mendapat bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak sehingga semuanya dapat berjalan lancar. Untuk itu kami mengucapkan terima kasih, kepada : 1. Bapak Dr. Sunyoto Eko Nugroho, M.Si. selaku dosen pengampu mata kuliah tersebut. 2. Kakak-kakak asisten Geologi yang telah banyak membantu selama berjalannya kuliah lapangan sampai penulisan laporan. 3. Rekan-rekan yang telah banyak membantu dalam kuliah lapangan ini. Penyusun menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penyusun mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan laporan ini. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi pembaca, khususnya mahasiswa Jurusan Fisika.

Semarang, Januari 2013

Penyusun

ii

Geologi Karangsambung |1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG Pada tahun 1999 IKIP Semarang ditingkatkan statusnya menjadi Universitas Negeri Semarang (UNNES), disertai dengan berubahnya nama Jurusan Pendidikan Fisika menjadi Jurusan Fisika dengan nama fakultasnya berubah dari Fakultas Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan Alam (FPMIPA) menjadi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA). Selanjutnya Jurusan Fisika mendapat perluasan mandat selain menyelenggarakan program kependidikan juga menyelenggarakan program nonkependidikan, sehingga Jurusan Fisika mengelola dua program studi yaitu Program studi Pendidikan Fisika dan Program Studi Fisika. Di dalam Program Studi Fisika terdapat kelompok bidang keilmuan (KBK) yaitu KBK Material, KBK Elektronika dan Instrumentasi, KBK Medik dan KBK Fisika Bumi. Masing-masing KBK mempunyai bidang sendiri-sendiri. KBK Fisika Bumi mempelajari tentang pengaplikasian hukum-hukum fisika dalam ilmu kebumian. Jadi, selain ilmu Fisika, dalam KBK Fisika Bumi juga perlu pengetahuan ilmu kebumian / Geologi. Bagi mahasiswa KBK Fisika Bumi, sebelum mengambil data di suatu wilayah, perlu adanya pengetahuan tentang geologi daerah tersebut seperti stratigrafi, litologi dan morfologi. Hasil dari data geologi dapat membantu dalam menginterpretasikan data yang diperoleh dari metode geofisika. Oleh sebab itulah ilmu geologi diperlukan bagi mahasiswa yang mengambil KBK Fisika Bumi agar lebih percaya dalam menginterpretasikan data geofisika. Untuk menunjang pengetahuan tentang ilmu Geologi, maka diadakanlah Kuliah Lapangan. Dengan adanya Kuliah Lapangan di daerah Karangsambung, dapat meningkatkan ilmu geologi bagi mahasiswa. Jadi selain ilmu fisika, ilmu yang perlu dipelajari bagi mahasiswa KBK Fisika Bumi adalah ilmu geologi. Ilmu geologi kurang berbobot bagi mahasiswa apabila hanya diisi dengan materi di dalam kelas perkuliahan. Kuliah lapangan ini dilakukan di daearah Karangsambung yang terkenal dengan berbagai jenis batuannya. Daerah Karangsambung merupakan daerah yang unik keadaan geologinya, mulai dari morfologinya, stratigafinya dan litologinya sehingga sering dijadikan sebagai objek pembelajaran geologi.

Geologi Karangsambung |2

1.2 RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang, penulis merumuskan masalah sebagai berikut 1. Bagaimana keadaan geologi daerah Karangsambung dilihat dari segi stratigrafi, litologi dan morfologi. 2. Batuan apa saja yang ada di daerah Karangsambung. 1.3 TUJUAN Tujuan dari kuliah lapangan ini adalah sebagai berikut 1. Untuk mengetahui keadaan geologi daerah Karangsambung dilihat dari segi morfologi, stratigrafi dan litologi. 2. Untuk mengidentifikasi batuan didaerah Karangsambung. 1.4 MANFAAT Manfaat yang diperoleh dari kuliah lapangan ini adalah sebagai berikut 1. Dapat mempelajari dan menambah ilmu geologi bagi mahasiswa KBK Fisika Bumi. 2. Dapat mengenali dan mengidentifikasi jenis-jenis batuan.

Geologi Karangsambung |3

BAB II ISI
2.1 GEOLOGI KARANGSAMBUNG Daerah Karangsambung berada di Kabupaten Kebumen, Propinsi Jawa Tengah, Indonesia. Batas wilayah di sebelah utara daerah ini adalah dengan wilayah Banjarnegara, di timur berbatasan dengan wilayah Wadaslintang, di sebelah selatan berbatasan dengan wilayah Kebumen dan di sebelah barat berbatasan dengan daerah Gombong. Secara geografis, daerah Karangsambung mempunyai koordinat 109o 37 30 109o 45 00 BT dan 7o 30 00 - 7o 37 30 LS.

Gambar 1. Peta dan batas b wilayah cagar alam Karangsambung Daerah Karangsambung oleh para ahli geologi sering disebut sebagai lapangan terlengkap di dunia. Karangsambung merupakan jejak-jejak jeja tumbukan dua lempeng bumi yang terjadi 117 juta tahun 60 juta tahun. Ia juga merupakan pertemuan lempeng Asia dengan lempeng Hindia. Ia merupakan saksi dari peristiwa subduksi pada usia yang sangat tua yaitu pada zaman Pra-Tersier. Pra Tersier. Di daerah ini terjadi proses subduksi

Geologi Karangsambung |4

pada sekitar zaman Paleogene (Eocene; 57,8 - 36,6 juta tahun yang lalu). Oleh karena itu di sini terekam jejak-jejak proses paleosubduksi yang dipresentasikan oleh singkapan-singkapan (outcrop) batuan dengan usia tua dan merupakan karakteristik dari komponen lempeng samudera. Karangsambung adalah tempat singkapan terbesar batuan-batuan dari zaman Pre-Tersier yang disebut dengan Luk Ulo Melange Complex, suatu melange yang berhubungan dengan subduksi pada zaman Crateceous (145.5 4.0 hingga 65.5 0.3 juta tahunyang lalu). Luk Ulo Melange Complex merupakan lapisan Pra-Tersier tertua yang umurnya diperkirakan sudah 117 juta tahun. Daerah Karangsambung mempunyai ciri khas geologi yang sangat menarik. Kondisi geologi yang komplek pada karangsambung terbaentuk karena pada daerah Karangsambung merupakan zona meratus, yaitu daerah pertemuan antara lempeng (subduksi) yang terangkat. Berdasarkan teori tektonik lempeng, diketahui bahwa di Indonesia bagian tengah terjadi beberapa kali proses subduksi pada zaman yang berbeda-beda. Daerah Karangsambung merupakan daerah yang dilalui jalur subduksi ini dan merekam paling banyak petunjuk yang berhubungagan dengan proses ini berupa singkapan batuan berusia tua, batuan dari dasar samudera dan campuran berbagai jenis batuan dan endapan (melange) yang merupakan ciri khas utama proses subduksi. Oleh karena itu disini terdapat banyak jenis batuan dari sumber yang berbeda-beda dengan distribusi yang tidak beraturan sehingga sulit untuk dipetakan.

Gambar 2. Kompleks subduksi purba yang melewati Indonesia

Geologi Karangsambung |5

Pada gambar di atas terlihat bahwa jalur subduksi pada zaman Late Cretaceus melintasi Karangsambung dan singkapan batuan dari zaman Pre-Tersier terdapat di beberapa tempat seperti di Ciletuh, Karangsambung dan Bayah. Perkembangan tektonik didaerah ini diduga akibat tumbukan lempeng Hindia-Australia dengan lempeng Benua Asia sejak Late Cretaceus (Kapur Akhir ; 85 juta tahun ) atau Early Tertier (Tersier Awal ; 65,5 juta tahun), disusul kemudian oleh pelipatan dan pensesaran dasar samudera sehingga mengakibatkan terbentuknya suatu palung (Asikin, 1974). Bentukan palung inilah yang sering disebut dengan Prisma Akresi. Lempeng Hindia-Australia yang datang dari selatan ini kemungkinan merupakan bagian dari benua purba Gondwana sehingga membawa batuan yang berusia tua. Proses Subduksi ini berlangsung cukup lama sehingga tidak hanya melange yang yang merupakan endapan khas zona subduksi yang terdapat di Karangsambung, tetapi juga batuan-batuan dasr samudera dan batuan di sekitar Mid Ocean Ridge terseret sampai mendekati kontak kedua lempeng, bahkan kompleks oviolith telah terangkat kepermukaan dan menjadi bagian dari kerumitan distribusi batuan di daerah ini. Perkembangan struktur di daerah ini dipengaruhi oleh beberapa periode tektonik. Periode tektonik paling tua adalah deformasi dan proses penempatan batuan Pra-Tersier pada Kapur Akhir-Paleosen (85-57,8 juta tahun). Periode berikutnya yang mempengaruhi Formasi Karangsambung dan Totogan. Hal tersebut diperkirakan berlangsung antara Oligo-Miosen (36,6-5,3 juta tahun) sampai Miosen Awal (23,7 juta tahun). Perode tektonik pada Plio-Pleistosen (1,6-0,01 juta tahun) dianggap sebagai periode terkait yang mempengaruhi pembentukan struktur didaerah ini. Oleh karena hal tersebut, maka di Karangsambung ditemukan berbagai batuan yang sangat beragam jenisnya dan singkapan yang kompleks, berupa batuan sedimen, batuan beku, batuan alterasi, serta batuan metamorf yang berstruktur rumit. Pada daerah ini juga terdapat batuan yang sangat jarang ditemui didaerah lain, seperti batuan dari kompleks ofiolit (rijang, lavabantal, basalt, gabro, batuan ultra basa seperti dunite, amphibolit) yang merupakan kompleks batuan dari laut dalam, khususnya pada batuan ultra basa yang merupakan batuan yang berapa pada mantel bagian atas yang posisinya sangat jauh dari permukaan bumi. Pada daerah Karangsambung terdapat 2 jenis melange yaitu melange tektonik dan melange sedimen. Melange tektonik adalah melange yang dihasilkan secara langsung dari proses pembentukan prisma akresi. Sedangkan melange sedimen merupakan komponen melange yang berbentuk blok-blok yang tercampur didalam

Geologi Karangsambung |6

suatu matrik sedimen. Hal ini disebabkan oleh terjadinya suatu sedimentasi yang bersamaan dengan berlangsungnya proses subduksi ada cekungan palung yang dihasilkan dari proses subduksi tersebut. Satuan batuan di kompleks melange Luk Ulo, umur satuan batuan ini adalah Kapur Atas (85 juta tahun) hingga Paleosen namun yang menarik adalah formasi batuan setelah itu. Diatasnya secara tidak selaras diendapkan Formasi Karangsambung dan Formasi Totogan. Kedua formasi ini merupakan sebuah olistrotom dan mereka berumur Eosen Atas (36,6 juta tahun) dan Oligo Miosen (23,75,3 juta tahun). Lalu diatasnya diendapkan formasi Waturanda yang berumur Miosen Awal (23,7 juta tahun) yang tersiri dari Breksi vulkanik dan batupasir. Pada Miosen Tengah diendapkan Formasi Penosogan yang disusun oleh batu gampingan dan napal tufaan. Diatasnya diendapkan formasi Halang yang berumur Pliosen (5,3-1,6 juta tahun) dan disusun oleh perselingan batupasir dan napal (Asikin, 1974). Geologi Karangsambung mempunyai formasi yang khas jika dibandingkan dengan daerah lain. Hal ini terlihat dari Geomorfologi yang berbentuk lonjong-lonjong dan berbukit dengan batuan yang berbeda-beda. Statigrafi daerah ini sangat khas dan membentuk formasi yang beragam dan struktur geologi pada daerah ini terisi dari lipatan, sesar dan kekar. 2.1.1 MORFOLOGI DAERAH KARANG SAMBUNG Geomorfologi adalah studi mengenai bentuk-bentuk permukaan bumi dan semua proses yang menghasilkan bentuk-bentuk tersebut. Morfologi di daearah Karangsambung adalah perbukitan struktural dan daerah ini juga disebut sebagai kompleks melange. Tinggian yang berada di daerah ini antara lain adalah Gunung Waturanda, bukit Sipako, Gunung Paras, Gunung Brujul, bukit Jatibungkus. Penyajian melange di lapangan Karangsambung adalah dalam bentuk blok dengan skala ukuran dari puluhan meter hingga ratusan meter, selain itu juga terdapat melange yang membentuk sebuah rangkaian pegunungan.

Geologi Karangsambung |7

Gambar 3. Peta bentukan morfologi Karangsambung Selain itu juga terdapat morfologi aluvial di daerah Karangsambung. Salah satu mrfologi alufial yang berada di daerah Karangsambung adalah sungai Luk Ulo. Sungai ini termasuk sungai pendahulu, yaitu jenis sungai yang memotong struktur geologi utama dan termasuk ke dalam umur dewasa. Tingkat kedewasaan sungai ini terlihat dari bentuknya yang berkelok-kelok dan adanya keterdapatan meander padasisi kelokannya serta terbentuknya deposit pada teras sungai. Selain sungai utama, Karangsambung juga memiliki sungai lainnya seperti Kali Muncar, Kali Cacaban, Kali Mandala, Kali Brengkok dan Kali Jebug. Perbedaan kekerasan dan ketahana batuan pada daerah Karangsambung menghasilkan bentuk topografi dengan timbunan halus sampai kasar. Sebagian lembahnya sempit dan dalam berbentuk V dengan lereng yang terjal. Akibat perbedaan kekerasan batuan ada bukit yang seakan-akan mencuat terhadap sekitarnya, misalnya dekat bukit Jatibungkus, Bujil, dan Pesanggrahan. Pada daerah ini terdapat deretan pegunungan bukit Gunung Bulukuning, Dwilang, dan Prahu yang melengkung seperti busur terbuka ke arah barat. Ini

Geologi Karangsambung |8

menunjukkan bahwa sebenarnya mengikuti bentuk antiklin Karangsambung yang sumbunya menunjam ketimur. Daerah Karangsambung umumnya bermorflogi oval atau elips atau mampat di ujung-ujungnya. Terdiri dari bukit-bukit dan pegunungan melingkar, dierosi oleh aliran Kali Luk Ulo yang telah membentuk pola meander serta lembah-lembah anak sungai Kali Luk Ulo. Morfologi perbukitan pada umumnya dibangun oleh batuan berumur Pra-Tersier, sedangkan morfologi punggungan di daerah ini disusun oleh endapan Tersier ( 65,5 juta tahun) yang cukup tebal. Satuan morfologi daerah Karangsambung dapat dibedakan menjadi empat bagian yaitu : 1. Satuan Daratan Satuan morforlogi ini terdapat pada daerah aliran sungai (DAS) Luk Ulo yang luasnya relatif datar dan merupakan daerah dataran banjir dengan material berukuran lempung krakal yang berasal dari sedimentasi peluapan banjir. Sungai Luk Ulo sebagai sungai utama. Anak sungai Luk Ulo antara lain Sungai Wealaran, Cacaban, Lokidang, Gebang, dan Medana. Kenampakan Sungai Luk Ulo yang berkelok kelok (meander) dijumpai kenampakan gosong pasir yang terbentuk dari endapan luapan banjir. Pada pandang pengamtan lainnya, terlihat lembah melebar dengan bekas-bekas meander yang telah ditinggalkan. Satuan daratan ini, umurnya ditafsirkan stadium dewasa. 2. Satuan Perbukitan Lipatan Satuan morfologi ini dibagi menjadi beberapa bagian yaitu: a) Di bagian selatan menunjukkan struktur sinklin pada puncak Gunung Paras . b) Di bagian timur sebelah barat memperlihatkan kenampakan lembah yang memanjang dan melingkar menyerupai tapal kuda membentuk amphiteatre.

Geologi Karangsambung |9

Gambar 4. Amphiteater (pembalikan topografi) c) Di bagian utara sampai selatan merupakan rangkaian pegunungan seperti Gunung Paras, Dliwang, Perahu, dan Waturondo. Setelah dilakukan interpretasi proses pembalikan topografi, secara detail, bentuk bentang alam dari Gunung Paras ke selatan sampai Gunung Waturondo, direkonstruksi awalnya merupakan antiklinin pada lembahnya, dengan memposisikan kelurusan puncaknya, dan Bukit Bujil sebagai pilarnya. Namun saat ini telah mejadi puncak Gunung paras dengan struktur sinkilin dan antikilinnya,tersusun oleh batuan Sedimentasi Breksi Volkanik. Selain itu juga, terdapat bukit- bukit seperti Bukit Pesanggrahan, Bukit Bujil, dan Bukit Jati Bungkus.Satuan daerah perbukitan ini, tampak bergelombang lemah dan terisolir pada pandang luas cekungan morfologi amphiteatre. Batuan yang mengisi satuan ini, menunjukkan Breksi Volkanik yang tersebar dari Gunung Paras sampai Gunung Waturondo dan sinklinnya yang terlihat pada puncak Gunung Paras ke arah timur.

G e o l o g i K a r a n g s a m b u n g | 10

Gambar 5. Antiklin 3. Satuan Perbukitan-Pegunungan Kompleks Melange(Campur Aduk Batuan) Satuan morfologi ini memperlihatkan bukit-bukit memanjang dengan DAS Sungai Gebong dan Sungi Cacaban yang membentuk rangkaian Gunung Wangirsambeng, Gunung Sigedag dan Bukit Sipako. Puncak Gunung wangirsambeng berupa bentukan panorama bukit memanjang dengan perbedaan ketinggian antara 100-300 M di atas permukaan laut. Di daerah ini juga, nampak bentang alam yang memperlihatkan bukit-bukit prismatic hasil proses tektonik. 4. Lajur Pegunungan Serayu Selatan Bagian utara kawasan geologi Karangsambung merupakan bagian dari Lajur Pegunungan Serayu Selatan. Pada umumnya daerah ini terdiri atas dataran rendah hingga perbukitan menggelombang dan perbukitan tak teratur yang mencapai ketinggian hingga 520 m. Musim hujan di daerah ini berlangsung dari Oktober hingga Maret, dan musim kemarau dari April hingga September. Masa transisi diantara kedua musim itu adalah pada Maret-April dan September-Oktober. Tumbuhan penutup atau hutan sudah agak berkurang, karena di beberapa tempat telah terjadi pembukaan hutan untuk berladang atau dijadikan hutan produksi (jati dan pinus). 2.1.2 STRATIGRAFI DAERAH KARANG SAMBUNG Stratigrafi yaitu suatu ilmu yang mempelajari tentang lapisan-lapisan batuan serta hubungan lapisan batuan itu dengan lapisan batuan yang lainnya yang bertujuan untuk mendapatkan pengetahuan tentang sejarah bumi.

G e o l o g i K a r a n g s a m b u n g | 11

Secara garis besar daerah Karangsambung diurutkan berdasarkan umur dari tua ke muda, yaitu : 1. Kompleks Melange Luk Ulo / Formasi Melange berumua Pra-tersier. 2. Formasi Karangsambung yang terdiri atas lempung hitam. 3. Formasi Totogan dengan batuan utamnya lepung bersisik / scaly clay. 4. Formasi Waturanda yang terdiri atas perlapisan batu pasir dan batuan breksi. 5. Formasi Penosogan yang terdiri atas perselingan lempung dan pasir karbonat.

Gambar 6. Kolom statigrafi wilayah Karangsambung (Asikin, 1974)

G e o l o g i K a r a n g s a m b u n g | 12

Gambar 7. Peta Geologi wilayah Karangsambung (Asikin et al., 1992)

G e o l o g i K a r a n g s a m b u n g | 13

1. KOMPLEKS MELANGE LUK ULO / FORMASI LUK ULO Luk Ulo merupakan formasi tertua berupa melange yang sangat kompleks, berumur Pre-Tersier. Batuannya meliputi graywacke, lempung hitam, lavabantal yang berasosiasi dengan rijang dan gamping merah, tirbidit klastik, dan ofiolit yang tersisipkan diantara batuan metamorfose berfasies sekis. Batuan-batuan tersebut merupakan hasil dari pencampuran secara tektonik pada jalur penunjaman (zona subduksi) yang juga telah melibatkan batuan-batuan asal kerak samudra dan kerak benua. Kompleks ini dibagi menjadi 2 satuan berdasarkan dominasi fragmen pada masa dasrnya, yaitu satuan Jatisamit disebelah barat dan satuan Seboro di sebelah utara. Satuan Jatisamit merupakan batuan yang berumur paling tua. Satuan ini terdiri bongkah asing di dalam masa dasar lempung hitam. Bongkah yang ada adalah batuan beku basa, batupasir graywacke, serpentinit, rijang, batugamping merah dan sekis mika. Batuan tersebut membentuk morfologi yang tinggi seperti Gunung Sipako dan Gunung Bako. 2. FORMASI KARANGSAMBUNG Karakteristik litologi dari formasi Karangsambung yaitu terdiri dari batulempung abu-abu yang mengandung concression besi, batugamping numulites, konglomerat, dan batu pasir kuarsa polemik yang berlaminasi. Batupasir graywacke sampai tanah liat hitam menunjukkan struktur yang bersisik dengan irisan ke segala arah dan hampir merata di permukaan. Struktur tersebut diperkirakan sebagai hasil mekanisme pengendapan yang terjadi dibawah permukaan air dengan volume besar, estimasi ini didukung oleh gejala merosot yang dilihat pada inset batupasir. Umur Formasi Karangsambung ini adalah dari Eosen Tengah (45 juta tahun) sampai Eosen Akhir (36 juta tahun) dilihat dari adanya foraminifera plankton. 3. FORMASI TOTOGAN Formasi Totogan mempunyai karakteristik yang sama dengan Formasi Karangsambung. Ditandai dengan litologi berupa batulempung dengan warna coklat, dan kadang-kadang ungu dengan struktur scaly (menyerpih). Juga terdapat fragmen berupa batukarang yang terperangkap pada batulumpur, batupasir, batukapur fossil dan batuan beku. Umur dari formasi Totogan adalah

G e o l o g i K a r a n g s a m b u n g | 14

Oligosen (36-25 juta tahun), yang didasarkan pada keberadaan Globoquadrina praedehiscens dan Globigeriona binaensis. 4. FORMASI WATURANDA Usia formasi Waturanda ini hanya dapat ditentukan secara langsung berdasarkan posisi statigrafi kebawah diperkirakan sebagai usia Meocene (25,2-5,2 juta tahun) yang terdiri dari breksi vulkanik dan batupasir wacke dengan sisipan batu lempung dibagian atas. Masa dasar batupasir berwarna abu-abu dengan butir sedang hingga kasar, terdiri atas kepingan batuan beku dan obsidian. 5. FORMASI PENOSOGAN Formasi Penosogan diendapkan diatas Formasi Waturanda dengan litologi berupa perubahan secara berangsur dari satuan breksi kearah atas menjadi perselingan batupasir tufan dan batulempung merupakan ciri batas dari Formasi Penosogan yang terletak selaras di atasnya. Secara umum formasi terdiri dari perlapisan tipis sampai sedang batupasir, batulempung, sebagian gampingan, kalkanerit, napal-tufan dan tuf. Bagian bawah umumnya dicirikan oleh pelapisan batupasir dan batulempung, kearah atas kadar karbonatnya semakin tinggi. oleh batulempung tufan dan tuf. Bagian atas terdiri atas perlapisan batupasir gampingan, napal dan kalkanerit. Bagian atas didomonasi

G e o l o g i K a r a n g s a m b u n g | 15

Gambar 8. Cross-section penampang stratigrafi formasi Karangsambung 2.1.3 LITOLOGI DAERAH KARANG SAMBUNG Litologi adalah ilmu tentang batu-batuan yg berkenaan dengan sifat fisik, kimia, dan strukturnya. Pembentukan berbagai macam mineral di alam akan menghasilkan berbagai jenis batuan tertentu. Proses alamiah tersebut bisa berbeda-beda dan membentuk jenis batuan yang berbeda pula. Pembekuan magma akan membentuk berbagai jenis batuan beku. Batuan sedimen bisa terbentuk karena berbagai proses alamiah, seperti proses penghancuran atau disintegrasi batuan, pelapukan kimia, proses kimiawi dan organis serta proses penguapan / evaporasi. Letusan gunung api sendiri dapat menghasilkan batuan piroklastik. Batuan metamorf terbentuk dari berbagai jenis batuan yang telah terbentuk lebih dahulu kemudian mengalami peningkatan temperature atau tekanan yang cukup tinggi, namun peningkatan temperature itu sendiri maksimal di bawah temperature magma. Litologi di daerah Karangsambung dapat dijelaskan dalam tabel berikut.

G e o l o g i K a r a n g s a m b u n g | 16

Tabel 1. Litologi daerah Karangsambung No 1 Lokasi Kompleks Melange Umur Kapur Akhir (85-140 juta tahun yang lalu) Litologi Batuan Metamorf (Schist mica 117Ma) Batuan dalam) Batuan ofiolit 2 Formasi Karangsambung 3 Formasi Totogan 4 Formasi Waturanda Eocene-Oligocene (23,7 -57,6 juta tahun yang lalu) Oligocene-Miocene Awal (36,6-23,7 juta tahun yang lalu) Miocene Miocene yang lalu) 5 Formasi Panosogan Miocene Miocene yang lalu) Batuan beku, sedimen, dan metamorf di Karangsambung dengan variasi umur batuan mulai puluhan hingga ratusan juta tahun, merupakan singkapan batuan yang berasal dari benua maupun samudra, dari dasar laut hingga laut dangkal berfosil-fosil, tersebar pada hamparan yang tidak terlalu luas, dan dapat dijumpai di lapangan Karangsambung sebagai obyek studi dalam kegiatan penelitian. Lingkungan proses pembentukan dari ragam dan jenis batuan pada kawasan Karangsambung, adalah palung laut dalam, cekungan muka daratan dan jalur penunjaman. Pada palung laut dalam, dijumpai batuan sedimen berfosil Radiolaria yang terangkut dan mengendap setra mengisi pada batuan sedimen Awal Perselingan dan kalkarenit batupasir, Tengah batulempung, tufa, napal Awal Tengah Batulempung bersisik Olistolit (Konglomerat, Batugamping Nummulites) Breksi dengan komponen batulempung, batupasir dan batugamping Batupasir vulkanik dan breksi vulkanik sedimen pelagic laut (Rijang-endapan

(23,7- 13 juta tahun

(23,7- 13 juta tahun

G e o l o g i K a r a n g s a m b u n g | 17

rijang (Chert). Pada kondisi cekungan muka daratan, ditemukan batuan sedimen yang mengandung fosil biota laut berupa sedimen batu gamping (Lime Stone) kondisi laut dangkalm. Pada palung laut dalam, berupa batuan beku basalt dan batuan metamorfosa ubahan dari batuan periodotit, berupa serpentinit. Pada kuliah lapangan yang telah dilakukan, objek batuan yang di jadikan tempat observasi adalah batuan rijang, gamping merah, lempung bersisik, serpentinit, fillit dan diabas. Berikut adalah tabel batuan hasil observasi. Tabel 2. Lokasi dan Batuan hasil observasi LOKASI 1. Kali Muncar DESKRIPSI Terdapat batu rijang (sedimen ; endapan laut dalam) yang berselang-seling dengan batu gamping merah (sedimen). Batu rijang berwarna merah kecoklatan (merah hati). Sedangkan warna batu gampig merah adalah merah muda.

Diatas rijang-gamping merah terdapat batuan dari lava yang dikenal dengan lava bantal (basalt ; batuan beku)

G e o l o g i K a r a n g s a m b u n g | 18

Tidak jauh dari lokasi batu rijanggamping merah, terdapat singkapan batu lempung bersisik (sedimen).

2. Pucangan

Terdapat batu serpentinit (metamorf malihan) masif, berwarna memiliki hijau, kilap bertekstur .Strukturnya

slincken side, Nonfoliasi. Batuan asalnya merupakan batuan beku ultramafik yang telah mengalami proses methamorfosis yang berhubungan dengan air laut. Komposisi : serpentine

G e o l o g i K a r a n g s a m b u n g | 19

3. Tepian Kali Luk Ulo / Kaki bukit Sipako

Terdapat

singkapan

batuan

filit

(metamorf) yang berapa di tepi sungai Luk Ulo. Batu filit ini merupakan hancuran batu pasir dengan komponen greywacke temperature metamorfismenya berwarna hitam, lapidoblastik yang mengalami rendah. abu-abu, dari proses Derajat berekstur mineralmetamorfisme dengan tekanan tinggi dan Rendah-intermediet.

(terdiri

mineral tabular). Strukturnya Filitik, terlihat rekristalisasi yang lebih kasar dari slaty cleavage, sudah mulai terjadi pemisahan mineral granular (segresi) tetapi belum sempurna. Ukuran butirnya halus.

4. Gunung Parang

Terdapat batu Diabas (Beku intrusi) yang berwarna kandungan abu-abu mineral terang berupa dengan biotit,

G e o l o g i K a r a n g s a m b u n g | 20

plagioklas, zeolt dan piroksen

A. LOKASI 1 KALI MUNCAR 1. Batuan gamping merah dan rijang (Sediment) Batuan rijang termasuk batuan sedimen. Batuan ini merupakan batuan sedimen laut dalam ( 4000 meter dibawah permukaan laut). Batuan ini sangat keras dan kompak dan bersifat silikaan. Mengandung kristal kuarsa yang saling mengikaat sehingga nampak seperti dilapisi kaca (sernivitreous) dan mengandung amorphous silica (opal). Batuan ini terbentuk oleh proses pengendapan pada dasar samudera. Batuan ini kaya akan fosil renik Radiolaria yang berukuran kurang lebih 1/100 mm. Biasanya batuan ini berasosiasi dengan batugamping merah. Didaerah Karangsambung, fosil ini menunjukkan umur Kapur, yaitu sekitar 85 juta hingga 140 juta tahun yang lalu. Batugamping merah juga termasuk batuan sediment. Batuan ini termasuk kedalam batugamping klastik yang halus hasil dari transport oleh arus dengan energi lemah di laut dalam yang masih memungkinkan terbentuknya larutan karbonat. Warna merah merupakan hasil pengotoran mineral lain seperti minera hematit atau bisa juga akibat oksidasi besi. Batuan ini ralatif keras dan biasanya berasosiasi dengan sedimen laut dalam seperti rijang. Batuan gamping merah dan rijang secara teori merupakan batuan yang hanya bisa ditemui di Dasar lautan. Dan batuan ini terbentuk dari proses sedimentasi dari hasil pelapukan batuan yang kemudian mengalami transport ke laut. Sedimentasi dibedakan menjadi dua, yaitu: a) Sedimentasi di dasar laut dangkal. Contohnya Gamping.

G e o l o g i K a r a n g s a m b u n g | 21

b) Sedimentasi di dasar laut dalam (lebih dari 4000m). Contohnya Rijang (chert) Batuan dari samudra yang terbentuk 60-140 juta tahun yang lalu bisa ditemui di Karangsambung. Menurut ilmu geologi hal ini terjadi dikarenakan Karangsambung dahulunya merupakan daerah subduksi, yaitu zona pertemuan 2 lempeng, lempeng benua Eurasia dan lempeng samudra Hindia. Pertemuan lempeng samudera akan menunjam kebawah dikarenakan berat jenis yang lebih tinggi dibandingkan lempeng benua. Penunjaman terus berlangsung sampai ke perut bumi yang mempunyai suhu dan tekanan yang tinggi, sehingga batuan menjadi meleleh kemudian ada yang muncul keluar dari perut bumi. Singkapansingkapan batuan kuno yang ada di Karangsambung perlahan muncul di permukaan dikarenakan erosi tanah. Jadi bisa disimpulkan bahwa Karangsambung dahulunya merupakan batuan dasar lautan. Namun sekarang sudah berubah pertemuan lempeng yang terjadi adalah lempeng benua Australia dari selatan menuju utara ke lempeng Eurasia. Pertemuan 2 lempeng ini disinyalir sebagai penyebab munculnya rangkaian gunung-gunung api di Indonesia (Sumatra, jawa, bali , Lombok). Dengan adanya gunung-gunung api, maka akan terbentuk batuan-batuan beku dari magma. Batuan gamping merah dan rijang ini termasuk batuan sedimen, dimana ciri umumnya berlapis-lapis. Batuan sediment yang ditemui di Karangsambung lapisannya vertical, hal ini dikarenakan tekanan dari aktifitas tektonik selama berjuta-juta tahun. Untuk gamping merah materi penyusunnya sebagian besar dari kalsium yang terikat karbonat CaCO3. Sedangkan Rijang kebanyakan tersusun atas silica SiO2 dan besi. Dari segi warna gamping berwarna merah terang dan rijang merah gelap. Dari segi tekstur gamping lebih kasar dan berpori sedangkan rijang lebih halus. Untuk membedakan batuan gamping merah dengan rijang dilakukan pengujian dengan larutan asam (HCl aq). Dengan reaksi-reaksi sebagai berikut: Gamping merah CaCO3 + HCl CaCl2 +CO2 + H2O artinya Gamping merah bereaksi dengan asam. Ini terjadi karena komposisi kalsium menyebabkan gamping merah bersifat basa. Rijang SiO2 + HCl tidak bereaksi

G e o l o g i K a r a n g s a m b u n g | 22

artinya Rijang tidak bereaksi dengan asam Jadi, salah satu cara untuk membedakan antara batuan gamping merah dan rijanf adalah denga cara menetesi batuan tersebut dengan HCl 2. Batuan basalt (Beku) Batuan basalt termasuk pada jenis batuan beku yang berasal dari letusan gunung api. Namun gunung api disini merupakan gunung api dasar laut. Prosesnya berawal dari gerakan saling menjauh (pemekaran) dasar samudra, muncul gunung api kemudian memuntahkan lava yang selanjutnya membeku ketika terkena air laut. Prinsipnya seperti membuat cendol ketika masih panas seketika masuk kedalam air, kemudian membeku ditambah dengan adanya tekanan hidrostatis menyebabkan batuan berbentuk bulat. Bentuknya bulat lonjong sehingga sering disebut pillow lava. Batuan basalt biasanya berwarna hitam dan bersifat asam. 3. Batuan lempung bersisik (Sediment) Pada zona dasar subduksi akan akan ditemui massa dasar yaitu lempung hitam, warnanya hitam mengkilap. Hal ini disebabkan gesekan antar lempung (uplift), akan tetapi akibatnya batuan menjadi mudah rapuh. Bila dilihat dari strukturnya batuan lempung hitam termasuk pada boudinade sehingga bisa mengetahui arah gaya. Adanya tekanan membuat batuan menjadi memipih (foliasi) dan memanjang, melempung sehingga struktur menjadi bersisik (scaly clay / lempung bersisik). B. Lokasi 2 - Pucangan 1. Batuan serpentinite (Metamorf - Malihan) Batuan serpentinite termasuk pada batuan malihan. Berasal dari perut bumi di bawah lantai dasar samudera. Batu ini malihan dari batu ultra basa hasil pembekuan magma pada kerak samudra. Sedangkan batu ultrabasa sendiri batuan asalnya dari peridotite dan dunite, banyak mengandung mineral olivine yang menyebabkan berwarna hijau. Batu-batu ini berubah ketika bersentuhan dengan air laut . Kemudian batu ultrabasa bergerak bersama lempeng samudera, kemudian masuk zona subduksi, terjadi proses penunjaman disertai metamorfosa

G e o l o g i K a r a n g s a m b u n g | 23

kedua menjadi batu serpentinite, dan terakhir muncul ke luar perut bumi disertai retak-retak dikarenakan tekanan. Jadi, singkatnya magma (peridotite, dunite)-batu ultrabasa-serpentinite. Serpentinite sering digunakan sebagai sumber mineral, contohnya pembuatan asbes, talc, dll. Batuan ini bersifat rapuh (kekar). Serpentinite juga mempunyai sifat magnetis (nonfoliasi) C. Lokasi 3 - Tepian Kali Luk Ulo / Kaki bukit Sipako 1. Batuan filit (Metamorf) Batuan filit (warna hitam) berasal dari lempung hitam yang sudah kaya akan karbon (C). Bertekstur Lepidoblastik (Terdiri dari mineral mineral yang tabular). Prosesnya berawal dari daerah palung , kemudian masuklah mineralmineral organic terutama karbon, kemudian lempeng samudera masuk zona subduksi, kemudian menerima panas dan tekanan, kemudian berubah menjadi filit. Batuan ini memiliki microfault (sesar minor) yaitu adanya garis lekukanlekukan pada batuan berukuran kecil. D. Lokasi 4 Gunung Parang 1. Batuan Diabas (Beku) Berdasarkan Peta Geologi Daerah Karangsambung dan Penampang litostratigrafinya (Asikin, 1974), diperkirakan bahwa Gunung Parang merupakan hasil intrusi magmatis yang diduga merupakan kelanjutan dari jalur magmatis selatan Pulau Jawa dan Sumatera. Batuan Diabas di Gunung Parang merupakan batuan beku basa yang terbentuk akibat tumbukan antara lempeng benua dengan lempeng samudera yang kemungkinan terjadi pada kala Miosen. Tumbukan tersebut menyebabkan terjadinya partial melting batuan menjadi magma yang bersifat basaltik (magma yang komposisinya kaya Fe dan bersifat relatif encer). Magma basaltik ini kemudian mengalami alih tempat menuju kerak benua bagian bawah, kemudian mengalami fraksinasi dan diferensiasi sehingga membentuk magma diabas yang selanjutnya tersingkap di permukaan bumi sebagai Gunung Parangan dengan menerobos Formasi Karangsambung. Diabas Gunung Parang merupakan tubuh intrusi sill. Hal tersebut berdasarkan adanya bidang kontak antara lempung Formasi Karangsambung

G e o l o g i K a r a n g s a m b u n g | 24

dengan diabas di sekitar Kali Jebug dan kenampakan struktur lava bantal di Watutumpang. Secara petrografis batuan diabas menunjukan struktur diabasic atau ophitic dan tersusun oleh mineral plagioklas (labradorit, bytownit), piroksen (augit, hypersten, enstantit dan diopsid), magnetit, sedikit klorit, serisit serta mineral karbonat. Batuan diabas termasuk langka terutama di Indonesia karena untuk membentuk batuan jenis ini diperlukan kondisi tertentu, apalagi Indonesia merupakan wilayah yang termasuk dalam deret busur gunungapi memiliki tipe gunungapi kerucut sehingga magma yang dihasilkan secara umum adalah magma andesitik.

G e o l o g i K a r a n g s a m b u n g | 25

BAB III PENUTUP


3.1 KESIMPULAN A. Satuan morfologi daerah Karangsambung adalah 1) Satuan Daratan Satuan morforlogi ini terdapat pada daerah aliran sungai (DAS) Luk Ulo. 2) Satuan Perbukitan Lipatan Di bagian selatan menunjukkan struktur sinklin pada puncak Gunung Paras . Di bagian timur sebelah barat memperlihatkan kenampakan lembah yang memanjang dan melingkar menyerupai tapal kuda membentuk amphiteatre. Di bagian utara sampai selatan merupakan rangkaian pegunungan. 3) Satuan Perbukitan-Pegunungan Kompleks Melange (Campur Aduk Batuan) 4) Lajur Pegunungan Serayu Selatan B. Stratigrafi daerah Karangsambung Diurutkan berdasarkan umur dari tua ke muda, yaitu : 1) Kompleks Melange Luk Ulo / Formasi Melange berumua Pra-tersier. 2) Formasi Karangsambung yang terdiri atas lempung hitam. 3) Formasi Totogan dengan batuan utamnya lepung bersisik / scaly clay. 4) Formasi Waturanda yang terdiri atas perlapisan batu pasir dan batuan breksi. 5) Formasi Penosogan yang terdiri atas perselingan lempung dan pasir karbonat. C. Litologi daerah Karangsambung Daerah Karangsambung mempunyai berbagai jenis batuan, mulai dari batuan beku, batuan sedimen dan batuan metamorf. D. Dari hasil observasi, dapat diperoleh identifikasi batuan sebagai berikut : 1) Batuan beku : Diabas dan basalt (lava bantal). 2) Batuan metamort : Serpentinit dan fillit. 3) Batuan sedimen : Rijang, gamping merah dan lempung bersisik.

G e o l o g i K a r a n g s a m b u n g | 26

DAFTAR PUSTAKA Nur Mustofa, Arief.2011.Kajian Geologi Lingkungan pada Lokasi Penambangan Batuan Diabas Gunung Parang dalam Rangka Konservasi Batuan di Cagar Alam Geologi Karangsambung.Kebumen:BIKK Karangsambung LIPI Jodi, Fajar.dkk.2012.Obsevasi Geologi Karangsambung. Bandung : ITB Hastria, Defry. Geologi Karangsambung.Kebumen:Balai Informasi dan Konservasi Kebumen Karangsambbung LIPI Ansori, Chusni.Batuan Beku.Kebumen:Balai Informasi dan Konservasi Kebumen Karangsambbung LIPI Ansori, Chusni.Batuan Sedimen.Kebumen:Balai Informasi dan Konservasi Kebumen Karangsambbung LIPI Ansori, Chusni.Batuan Metamorf.Kebumen:Balai Informasi dan Konservasi Kebumen Karangsambbung LIPI Ansori, Chusni.Mineral dan Batuan.Kebumen:Balai Informasi dan Konservasi Kebumen Karangsambbung LIPI Dwi Raharjo, Puguh.dkk.2011.Aplikasi Sistem Informasi Geografis dalam Identifikasi Kerentanan Bencana Alam di Kawasan Cagar Alam Geologi Karangsambung. Kebumen:SIG BIKK Karangsambung LIPI Yogi. Pemetaan Kuliah Lapangan Daerah Cantel Karangsambung.

G e o l o g i K a r a n g s a m b u n g | 27

LAMPIRAN
Lokasi Kali Muncar

Lokasi Pucangan

Lokasi Kali Luk Ulo / Bukit Sipako

Lokasi Gunung Parang