Anda di halaman 1dari 21

ASUHAN KEPERAWATAN EPISPADIA

MAKALAH

oleh RISKI MELINDA REZA WAHYU YUDA DEWA EKA KIKI

JURUSAN ILMU KEPERAWATAN PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS JEMBER 2013

ASUHAN KEPERAWATAN EPISPADIA

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Klinik VB

oleh RISKI MELINDA REZA WAHYU YUDA DEWA EKA KIKI

JURUSAN ILMU KEPERAWATAN PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS JEMBER 2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan kasihNya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul ASUHAN KEPERAWATAN PADA EPISPADIA yang diajukan sebagai persyaratan tugas akhir mata kuliah Keperawatan Klinik VB. Dalam proses pembuatan makalah ini saya telah dibantu berbagai pihak, sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik. Pada kesempatan ini, saya mengucapkan terimakasih yang sebesarbesarnya kepada : 1. Yth. Ns.Lantin, M.Kep, selaku penanggung jawab mata kuliah

Keperawatan Klinik VB yang bersedia mendukung saya untuk menyelesaikan makalah ini dengan lancar. 2. Teman-teman tercinta, yang selalu bekerja sama dalam menyelesaikan dan

dukungan, sehingga makalah ini dapat selesai tepat waktu. Saya menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu, saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang dapat membangun dari pembaca agar makalah ini semakin sempurna.

DAFTAR ISI

Halaman HALAMAN SAMPUL ............................................................................... KATA PENGANTAR .............................................................................. DAFTAR ISI ............................................................................................... BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ....................................................................... 1.2 Rumusan Masalah ................................................................. 1.3 Tujuan ..................................................................................... BAB II. PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Epispadia .............................................................. 2.2 Patofisiologi dan Pencegahan Epispadia ............................. BAB III. ISI 3.1 Askep Epispadia ...................................................................... BAB IV. PENUTUP 4.1 Kesimpulan ............................................................................. 4.2 Saran ........................................................................................ DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 16 16 17 7 5 6 1 1 1 i ii iii

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Epispadia merupakan suatu kelainan bawaan pada bayi laki-laki, dimana lubang uretra terdapat di bagian punggung penis atau uretra tidak berbentuk tabung, tetapi terbuka. Bagi wanita, epispadia adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan uretra wanita yang bermuara ke atas menjadi klitoris bifida akibat kegagalan penggabungan normal dinding anterior sinus urogenital. Keadaan ini dapat disertai dengan ekstrofi kandung kemih dan defek dinding abdomen serta gelang pangggul. Penyebab dari epispadia ini bisa dari faktor genetik dan faktor nongenetik, Sehingga walaupun hormon eandrogen sendiri telah terbentuk cukup akan tetapi apabila reseptornya tidak ada tetap saja tidak akan memberikan suatu efek yang semestinya. Atau enzim yang berperan dalam sintesis hormone androgen tidak mencukupi pun akan berdampak sama. 1.2 Rumusan Masalah 1.1.1 1.1.2 1.1.3 1.1.4 apa pengertian dari kelainan Epispadia? Bagaimana epispadia bisa terjadi ? Bagaimana cara pencegahanya ? Bagaimana asuhan keperawatan pada epispadia.?

1.3 Tujuan Pembahasan 1.1.5 1.1.6 1.1.7 untuk mengetahui pengertian dari Epispadia untuk mengetahui bagaimana pencegahan pada penderita epispadia dan untuk mengetahui bagaimana asuhan keperawatan pada epispadia

BAB 2 PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Epispadias merupakan kelainan kongiental berupa tidak adanya dinding uretra bagian atas. Kelainan ini terjadi pada laki-laki maupun perempuan, tetapi lebih sering pada laki-laki. Ditandai dengan terdapat nya lubang uretra di suatu tempat pada permukaan dorsum penis (Dorland, 2011). Menurut Kamus Keperawatan halaman 217 dikutip oleh Nurhamsyah (2012), Epispadias merupakan malformasi congenital dimana uretra bermuara pada permukaan dorsal penis. Epispadia adalah suatu anomaly congiental yaitu terletak pada permukaan dorsal penis. Insiden epispadia yang lengkap sekitar 1 dalam 120.000 laki-laki. Keadaan ini biasanya tidak terjadi sendirian, tetapi juga disertai anomaly saluran kemih disepanjang batang penis. Epispadia merupakan suatu kelainan bawaan pada bayi laki-laki, dimana lubang uretra terdapat di bagian punggung penis atau uretra tidak berbentuk tabung tetapi terbuka. Epispadias adalah kelainan bawaan dari alat kelamin eksternal dan bawah saluran kemih akibat perkembangan yang tidak lengkap dari permukaan dorsal penis atau klitoris dan dinding atas dari uretra yang karena itu terbuka. Akibatnya, meatus uretra eksternal memiliki lokasi yang tidak biasa di titik variabel antara leher kandung kemih dan puncak kepala penis.

Epidemiologi Menurut Nurhamsyah (2012), epispadia adalah suatu anomali kongenital yaitu meatus uretra terletak pada permukaan dorsal penis. Insiden epispadia yang lengkap sekitar 1 dalam 120.000 laki-laki. Keadaan ini biasanya tidak terjadi sendirian, tetapi juga disertai anomali saluran kemih. Inkontinensia urine timbul pada epispadia penopubis (95%) dan penis (75%) karena perkembangan yang salah dari spingter urinarius.

Etiologi Penyebab dari epispadia sebagai berikut: 1. Idiopatik, yakni penyebab masih belum diketahui jelas. 2. Dapat dihubungkan dengan faktor genetik, lingkungan atau pengaruh hormonal. 3. Maskulinisasi inkomplit dari genitalia karena involusi menyangkut prematur dari sel intertisial testis. Penyebab kelainan ini adalah maskulinisasi inkomplit dari genitalia karena involusi yang prematur dari sel interstisial testis selain itu etiologi dari penyakit ini dapat dihubungkan dengan faktor genetik, lingkungan, dan hormonal. Tanda dan gejala Tanda dan gejala dari epispadia adalah: 1. Uretra terbuka pada saat lahir, posisi dorsal 2. Terdapat penis yg melengkung ke arah dorsal, tampak jelas pada saat ereksi 3. Terdapat chordae 4. Terdapat lekukan pada ujung penis 5. Inkontinesia urin timbul pd epispadia penopubis (95%) dan penis (75%) karena perkembangan yang salah dari sfingter urinarius.

2.2 Patofisiologi Epispadia merupakan kelainan kongenital pada bayi laki-laki ataupun perempuan karena suatu kelainan bawaan pada bayi laki-laki, dimana lubang uretra terdapat di bagian punggung penis atau uretra tidak berbentuk tabung, tetapi terbuka. Gangguan dan ketidakseimbangan hormon juga memicu terjadinya epistasia dimana hormon androgen yang mengatur organogenesis kelamin (pria) atau karena reseptor hormon androgen sendiri di dalam tubuh yang kurang atau tidak ada. Sehingga walaupun hormon eandrogen sendiri telah terbentuk cukup akan tetapi apabila reseptornya tidak ada tetap saja tidak akan memberikan suatu efek yang semestinya. Atau enzim yang berperan dalam sintesis hormone androgen tidak mencukupi pun akan berdampak sama. Keadaan epispadia atau

letak lubang uretra kongenital ke sisi dorsal peniis menyebabkan kesulitan atau ketidakmampuan berkemih secara adekuat dengan posisi berdiri, (Corwin. Elisabeth J: 713).

Komplikasi dan Prognosis Epispadia adalah kelainan letak lubang uretra kongenital ke sisi dorsal pedis, apabila lubang uretra di dorsal luas, dapat menimbulkan terjadinya ekstrofi (pemajanan melalui kulit) kandung kemih. Ekstrofi kandung kemih terjadi kirakira satu dalam 40.000 kelahiran. Hal ini lebih banyak ditemukan pada laki-laki daripada wanita. Berat-ringan berkisar dari suatu fistula kulit kecil didalam dinding perut atau epispadia sederhana sampai ekstrofi sempurna dari kloaka yang melibatkan pemaparan seluruh usus bagian belakang dan kandung kemih (Arwin. Benheman Kliegma: 1880). Pada laki-laki ada epispadia sempurna dengan skrotum yang lebar dan dangkal, testis yang tidak turun dan hernia inguinalis biasa terjadi. Pada wanita epispadia dengan duplikasi klitoris dan labia yang terpisah lebar, anus berpindah tempat ke arah anterior pada kedua jenis kelamin, dan mungkin terjadi prolaps rekti. Dapat terjadi komplikasi pseudohermatroditisme merupakan laki-laki sejati tetapi tidak mendapat cukup androgen atau memberi respon kurang baik terhadap apa yang diterimanya, sebagai akibat genitalia eksternal laki-lakinya tidak berkembang dengan sempurna, dan anak tumbuh seperti halnya anak wanita serta kesukaran saat berhubungan sexsual, bila tidak segera dioperasi saat dewasa (Hamilton. Persis: 260). Komplikasi yang dapat timbul dari epispadia, antara lain: 1. Pseudohematrodisme (keadaan yang ditandai dengan alat-alat kelamin dalam 1 jenis kelamin tetapi dengan satu beberapa cirri sexsual tertentu) 2. Psikis (malu) karena perubahan posisi BAK 3. Kesukaran saat berhubungan sexsual, bila tidak segera di operasi saat dewasa. Komplikasi paska operasi:

1. edema/ pembengkakan yang terjadi akibat reaksi jaringan besarnya dapat bervariasi, juga terbentuknya hematom/kumpulan darah dibawah kulit, yang biasanya dicegah dengan balut tekan selama 2 sampai 3 hari paska operasi. 2. striktur, pada proksimal anastomosis yang kemungkinan disebabkan oleh angulasi dari anastomosis rambut dalam uretra, yang dapat mengakibat infeksi saluran kencing berulang atau pembentukan batu saat pubertas 3. Fitula uretrokutan, merupakan komplikasi yang sering dan digunakan sebagai parameter untuk menilai keberhasilan operasi. Pada prosedur satu tahap saat ini angka kejadian yang dapat diterima adalah 5-10%. 4. residual chodee/rekuren chordee, akibat dari riliskorde yang tidak sempurna, dimana tidak melakukan ereksi artificial saat operasi atau pembentukan skar yang berlebihan di ventral penis walaupun sangat jarang. 5. Divertikulum, terjadi pada pembentukan neouretra yang terlalu lebar, atau adanya stenosis meatal yang mengakibatkan dilatasi yang lanjut. Pengobatan Pembedahan mungkin perlu dilakukan sebelum usia anak 1 atau 2 tahun. Sirkumsisi harus dihindari pada bayi baru lahir agar kulup dapat digunakan untuk perbaikan dimasa mendatang karena kulit depan penis akan digunakan untuk pembedahan. Pasca bedah saluran bagian atas bayi diamati dengan teliti untuk melihat kemungkinan berkembangnya hidronefrosis dan infeksi. Kebanyakan bayi seperti ini mengalami refluks vesikouretra dan harus mendapat antibiotika. Apabila anak berumur 1 dan 2 tahun, epispadia yang terjadi direparasi untuk menciptakan suatu uretra anterior dan memperbaiki malformasi penis. Penatalaksanaan bedah merekomendasikan penis menjadi lurus dengan meatus uretra ditempat yang normal sehingga aliran kencing arahnya ke depan dan dapat melakukan coitus dengan normal (Arwin. Benheman Kliegma: 1881). Penanganan inkontensia dengan rekonstruksi leher kandung kemih dicadangkan untuk anak yang tetap mengalami inkontinensis urin sesudah mereka mencapai pengendalian rektum (Arwin. Benheman Kliegma: 1881). Tujuan dari penatalaksanaan bedah dari epispadia adalah merekomendasikan penis menjadi lurus dengan meatus uretra di tempat yang normal atau dekat normal sehingga

aliran kencing arahnya ke depan dan dapat melakukan coitus dengan normal. Ada beberapa tahap pembedahan yang dialakukan untuk penatalaksanaan epispadia : a. One stage Uretroplasty Adalah teknik operasi sederhana yang sering digunakan, terutama untuk hipospadia dan epispadia tipe distal. Tipe distal ini meatusnya letak anterior atau yang middle. Meskipun sering hasilnya kurang begitu bagus untuk kelainan yang berat. Sehingga banyak dokter lebih memilih untuk melakukan 2 tahap. b. Operasi epispadia 2 tahap Tahap pertama operasi pelepasan chordee dan tunneling dilakukan untuk meluruskan penis supaya posisi meatus (lubang tempat keluar kencing) nantinya letaknya lebih proksimal (lebih mendekati letak yang normal), memobilisasi kulit dan preputium untuk menutup bagian ventral/bawah penis. Tahap selanjutnya (tahap kedua) dilakukan uretroplasty (pembuatan saluran kencing buatan/.uretra) sesudah 6 bulan. Dokter akan menentukan tekhnik operasi yang terbaik. Satu tahap maupun dua tahap dapat dilakukan sesuai dengan kelainan yang dialami oleh pasien. Pencegahan Pencegahan epispadia dapat dilakukan dengan mencegah adannya pemaparan lingkugan yang buruk, polusi, karsinogen, trauma fisik dan trauma psikis saat wanita dalam keadaan hamil. Karena mengingat etiologi dari epispadia yang merupakan kelainan congenital berkaitan dengan sekresi hormone, genetic dan lingkungan yang menyebabkan pembentukan meatus uretra pada janin abnormal.

BAB III. ISI 3.1 Askep Epispadia A. Identitas Klien 1. Nama/Nama panggilan : nama lengkap/ nama panggilan tidak selalu sama dengan nama asli 2. Tempat tgl lahir/usia : anak dengan epispadia biasanya ditemukan sejak awal kelahiran 3. Jenis kelamin 4. A g a m a : paling sering pada anak laki-laki. : agama dapat berpengaruh terhadap kemampuan orang tua terhadap respon koping selama kehamilan yang dapat berdampak pada respon hormon selama kehamilan 5. Pendidikan : seberapa besar pengetahuan keluarga pasien dtengtang masalah kesehatan yang di alami anak. Pendidikan juga dapat menjadi penyebab seperti pengetahuan ibu tentang obat-obat yang dikonsumsi selama kehamilan 6. Alamat : adanya pemaparan lingkugan yang buruk, polusi, karsinogen, trauma fisik dan trauma wanita dalam keadaan hamil 7. Tgl masuk 8. Tgl pengkajian 9. Diagnosa medik 10. Rencana terapi : saat masuk ke pelayanan kesehatat : saat masuk ke pelayanan kesehatat : Epispadia : operasi dan terapi analgetik untuk mengurangi nyeri B. Identitas Orang tua Pengkajian identitas pada orang tua pasien dilakukan pada ayah dan ibu pasien, yaitu: nama, usia, pendidikan, pekerjaan, agama, dan alamat. psikis saat

C. Identitas Saudara Kandung

Identitas saudara kandung diperlukan untuk mengetahui apakan ada saudara yang pernah mengalami epispadia, karena penyebeb epispadia lebih condong kepada faktor genetik atau keturunan

Riwayat Kesehatan A. Riwayat Kesehatan Sekarang : :

Keluhan Utama

Alasan utama mengapa ia datang ke rumah sakit. Keluhan utama yang sering muncul adalah orang tua pasien datang karena mengeluh BAK keluar dari atas. Riwayat Keluhan Utama : Pengkajian pada sejak kapan keluhan utama itu muncul dan kapan saja keluhan itu muncul. Keluhan Pada Saat Pengkajian : Adanya rasa nyeri: kaji lokas ( orang tua mengeluh sejak lahir lubang penis berada di di atas, bila pasien BAK pancaran urin tidak keluar dari ujung penis melainkan dari atas), karakter, durasi, dan hubungannya dengan urinasi; faktor-faktor yang memicu rasa nyeri dan yang meringankannya. Adanya gejala panas atau menggigil, sering lelah, perubahan berat badan, perubahan nafsu makan, sering haus, retensi cairan, sakit kepala, pruritus, dan penglihatan kabur. Orang tua mengeluh sejak lahir lubang penis berada di di atas, bila pasien BAK pancaran urin tidak keluar dari ujung penis melainkan dari atas, saat BAK pasien tidak memnangis, warna urin kuning jernih tidak ada darah dan tidak ada demam. B. Riwayat Kesehatan Lalu (khusus untuk anak usia 0 5 tahun) 1. Prenatal care Selama sebelum kehamilan sampai proses kehamilan apakah ibu ada riwayat terkena radiasi, memeriksakan kehamilannya setiap minggu di pelayana kersehatan, riwayat berat badan selama, riwayat Imunisasi, golongan darah ibu , dan golongan darah ayah. 2. Natal

Hal yang perlu di kaji yaitu: tempat melahirkan, jenis persalinan, dan penolong persalinan. 3. Post natal Kondisi bayi : epispadia biasanya dapat diketahui saat kelahiran bayi.

(Untuk semua Usia) a. Riwayat infeksi traktur urinarius 1) Terapi atau perawatan rumah sakit yang pernah dialami untuk menanggani infeksi traktus urinarius, berapa lama dirawat. 2) Adanya gejala panas atau menggigil. 3) Sistoskopi sebelumnya, riwayat penggunaan kateter urine dan hasil-hasil pemeriksaan diagnostik renal atau urinarius. (pasien tidak pernah mengalami riwayat mondok, alergi ataupun trauma) b. Riwayat keadaan berikut ini: 1) Hematuria, perubahan warna, atau volume urin. 2) Nokturia dan sejak kapan dimulainya. 3) Penyakit pada usia kanak-kanak (strep throat, impetigo, sindrom nefrotik). 4) Batu ginjal (kalkuli renal), ekskresi batu kemih ke dalam urin. 5) Kelainan yang mempengaruhi fungsi ginjal atau traktus urinarius (diabetes mellitus, hipertensi, trauma abdomen, cedera medula spinalis, kelainan neurologi lain, lupus eritematosus sistemik, scleroderma, infeksi streptococcus pada kulit dan saluran napas atas, tuberculosis, hepatitis virus,

gangguan kongenital, kanker, dan hyperplasia prostate jinak). (pasien tidak memiliki riwayat penyakit keluarga serupa atau riwayat alergi obat dan makanan)

c.

Untuk pasien wanita : kaji jumlah dan tipe persalinan (persalinan

pervaginan, sectio caesarea); persalinan dengan forseps; infeksi vagina, keputihan atau iritasi; penggunaan kontrasepsi. d. e. f. g. Adanya atau riwayat lesi genital atau penyakit menular seksual. Pernahkah mengalami pembedahan; pelvis atau saluran perkemihan. Pernahkah menjalani terapi radiasi atau kemoterapi. Kaji riwayat merokok. Merokok dapat mengakibatkan risiko kanker

kandung kemih. Angka kejadian tumor kandung kemih empat kali lebih tinggi pada perokok daripada bukan perokok.

C. Riwayat Kesehatan Keluarga a. Kaji adanya riwayat penyakit ginjal atau kandung kemih dalam keluarga (polisistik renal, abnormalitas kongenital saluran kemih, sindrom Alports / nephritis herediter). b. Kaji adanya masalah eliminasi yang dikaitkan dengan kebiasaan keluarga. (Keluarga tidak memiliki riwayat penyakit serupa atau riwayat alergi obat dan makanan) Riwayat Tumbuh Kembang A. Pertumbuhan Fisik 1. Berat badan : saat lahir-pengkajian 2. Tinggi badan : saat lahir-pengkajian B. Perkembangan Tiap tahap Tumbuh kembang pada anak juga harus diperhatikan, untuk mengetahui apakah ada keterlambatan tumbh kembang akaibat adanya epispadia. Riwayat Nutrisi A. Pemberian ASI Selama sakit sebaiknya ibu tetap memberikan asupan ASI. B. Pemberian susu formula

Jika pasien di beri susu formula, hal yang perlu dikaji adalah alasan pemberian, jumlah pemberian, dan cara pemberian. Riwayat Psikososial Hal-hal yang perlu dikaji antara lain: anak tinggal orang tua, lingkungan, hubungan antar anggota dan Pengasuh anak. Riwayat Spiritual Hal-hal yang perlu dikaji adalah support sistem dalam keluarga dan kegiatan keagamaan di dalam keluarga. Reaksi Hospitalisasi Pengkajian hospitalisasi untuk mengetahui respon anak terhadap

pengalaman dan pemahamannya terhadap perawatan tan pengobatan. Aktivitas sehari-hari A. Nutrisi 1) Kaji jumlah dan jenis cairan yang biasa diminum ibu pasien : kopi, alkohol, minuman berkarbonat. Minuman tersebut sering memperburuk keadaan inflamasi system perkemihan. 2) Kaji adanya dehidrasi ; dapat berkontribusi terjadinya infeksi saluran kemih, pembentukkan batu ginjal, dan gagal ginjal. 3) Kaji jenis makanan yang sering dikonsumsi ibu pasien. Ibu Pasien biasanya sering mengkonsumsi makanan yang mengandung tinggi protein seperti ikan dan daging dengan rasa yang pedas. Makanan yang mengandung tinggi protein dapat menyebabkan pembentukkan batu saluran kemih. Makanan pedas memperburuk keadaan inflamasi system perkemihan. 4) Kaji adanya anoreksia, mual, dan muntah. Keadaan tersebut dapat mempengaruhi status cairan. 5) Kaji kebiasaan mengkonsumsi suplemen vitamin, mineral, dan terapi herbal.

B. Eliminasi 1) Kaji frekuensi 10 kali sehari, urgensi, dan jumlah urine output gelas belimbing. 2) Kaji perubahan warna urin. Warna kuning jernih 3) Kaji adanya darah dalam urin. Tidak ada darah 4) Disuria; kapan keluhan ini terjadi : pada saat urinasi, pada awal urinasi, atau akhir urinasi. 5) Hesitancy; mengejan : nyeri selama atau sesudah urinasi. 6) Inkontinensia (stress inkontinensia; urge incontinence; overflow incontinence; inkontinensia fungsional). Adanya inkontinensia fekal menunjukkan tanda neurologik yang disebabkan oleh gangguan kandungkemih. 7) Konstipasi dapat menyumbat sebagian urethra, menyebabkan tidak adekuatnya pengosongan kandung kemih. C. Istirahat tidur Hal yang dikaji yaitu jam tidur, pola tidur, dan kebiasaan tidur. Pada anak epispadia, pola istirahat dan tidur tergantung dari tingkat keparahan dari epispadia. D. Personal Hygiene Personal hygiene lebih difokuskan pada kebersihan genetalia dan anus, untuk menghindari timbulnya infeksi. E. Aktifitas/Mobilitas Fisik Kondisi yang sakit menyebabkan anak lebih sering berada di dalam rumah. F. Kognitif dan Perseptual Apakah gangguan eliminasi urin mempengaruhi perasaan dan kehidupan normal pasien. G. Pola Persepsi Diri H. Pola Seksual dan Reproduksi I. Pola Peran dan Hubungan J. Pola Manajemen Koping-Stress

K. Sistem Nilai dan Keyakinan Pemeriksaan Fisik 1. Keadaan Umum Keadaan Umum Derajat kesadaran Derajat gizi 2. Tanda-tanda Vital Heart Rate Frekuensi Pernafasan Suhu : 131x/menit : 47 x/ menit, tipe toracoabdominal. : 37,00C : baik : compos mentis : kesan gizi cukup

a. Kulit Kulit putih kecoklatan, kering, wujud kelainan kulit (-), hiperpigmentasi (-) b. Kepala Bentuk mesosefal, rambut kering (-), rambut warna hitam, sukar dicabut. c. Wajah Odema (-), wajah orang tua (-) d. Mata Cekung (-/-), Oedema palpebra (-/-), Odema periorbita (-/-), konjungtiva anemis (-/-),sklera ikterik (-/-), refleks cahaya (+/+), pupil isokor (2mm/2mm) e. Hidung Napas cuping hidung (-), sekret (-/-), darah (-/-), deviasi(-/-), low nasal bridge(+) f. Mulut Mukosa basah (+), sianosis (-), pucat (-), kering (-) g. Telinga Daun telinga dalam batas normal, sekret (-) h. Tenggorok Uvula di tengah, mukosa pharing hiperemis (-), tonsil T1 - T1

i. Leher Bentuk normocolli, limfonodi tidak membesar, glandula thyroid

tidak membesar, kaku kuduk (-), gerak bebas, deviasi trakhea (-) j. Toraks Bentuk : normochest, retraksi (-), gerakan dinding dada simetris

Cor : Inspeksi : iktus kordis tidak tampak Palpasi : iktus kordis tidak kuat angkat Perkusi : batas jantung kesan tidak melebar Auskultasi : BJ III intensitas normal, reguler, bising (-) Pulmo : Inspeksi : Pengembangan dada kanan = kiri Palpasi : Fremitus raba dada kanan = kiri Perkusi : Sonor di seluruh lapang paru Auskultasi : Suara dasar vesikuler (+/+) Suara tambahan : (-/-) k. Abdomen Inspeksi : dinding perut = dinding dada Auskultasi : bising usus (+) normal Perkusi : tympani Palpasi : supel, hepar dan lien tidak teraba l. Genitalia dan Anus : Saat diinspeksi tidak terdapat tumor, terdapat

kelainan lubang penis yang berada di dorsal penis. m. Rektum : Saat diinspeksi tidak ada tanda-tanda hemoroid,

tidak tampak tanda-tanda tumor.

Diagnosa Keperawatan

1. Gangguan pola eliminasi urin berhubungan dengan inkontinensia urin(pre-op) 2. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan cacat fisik (meatus terletak di bagian atas penis) (pre-op) 3. Ansietas berhubungan dengan proses pembedahan (pre-op) 4. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan pembedahan (Post op) 5. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan penyembuhan luka tidak sempurna (Post op). Evaluasi Keperawatan Evaluasi dilakukan pada setiap diagnosa dengan menggunakan metode SOAP, yaitu: S: kondisi pasien secara subyektif setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan, data dapat didapatkan melalui kata-kata dari respon pasien O: kondisi pasien secara obyektif setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan, data dapat didapatkan melalui kondisi fisik pasien. Pasien dengan epispadia: Suhu kembali normal, Berat badan meningkat, Perfusi jaringan normal, tidak mengalami dispnea dan sianosis, Tidak terjadi infeksi nosokomial. A: analisis data, apakah tindakan asuhan keperawatan yang diberikan sudah berhasil secara keseluruhan, hanya sebagaian, atau gagal total P: rencana yang akan dilakukan selanjutnya. Apakah rencana akan dilanjutkan, dihentikan, atau dimodifikasi

BAB IV. PENUTUP

1.1 Kesimpulan Epispadia merupakan suatu kelainan bawaan pada bayi laki-laki, dimana lubang uretra terdapat di bagian punggung penis atau uretra tidak berbentuk tabung, tetapi terbuka. Bagi wanita, epispadia adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan uretra wanita yang bermuara ke atas menjadi klitoris bifida akibat kegagalan penggabungan normal dinding anterior sinus urogenital. Keadaan ini dapat disertai dengan ekstrofi kandung kemih dan defek dinding abdomen serta gelang pangggul. Penyebab dari epispadia ini bisa dari faktor genetik dan faktor nongenetik. Untuk penatalaksanaan pasien dengan epispadia, pembedahan mungkin perlu dilakukan sebelum usia anak 1 atau 2 tahun. Sirkumsisi harus dihindari pada bayi baru lahir agar kulup dapat digunakan untuk perbaikan dimasa mendatang karena kulit depan penis akan digunakan untuk pembedahan. Penatalaksanaan bedah merekomendasikan penis menjadi lurus dengan meatus uretra ditempat yang normal sehingga aliran kencing arahnya ke depan dan dapat melakukan coitus dengan normal.

1.2 Saran Perawat hendaknya senantiasa mengembangkan diri dan menambah pengetahuan dalam memberikan asuhan keperawatan khususnya pada klien dengan epispadia terutama tentang perjalanan penyakit dan penatalaksanaannya. Penderita epispadia memerlukan perawatan yang baik untuk meningkatkan kesembuhan dan mencegah komplikasi. Keterlibatan keluarga dalam intervensi hendaknya ditingkatkan sehingga tujuan yang ingin dicapai klien juga ikut benarbenar berperan dan berusaha mencapai tujuan yang direncanakan.

DAFTAR PUSTAKA Gibson, John. 2002. Patofisiologi Modern untuk Perawat. Ed 2. Jakarta: EGC. Pearce, Evelyn C. 2009. Kumpulan penyakit untuk Paramedis. Jakarta: PT. Gramedia). Syaifuddin. 2006. Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan. Ed 3. Jakarta: EGC) Bloom B, Cohen RA.. National Center forHealth Statistics. Vital Health Stat. 2009;10(239):1-88.